Minggu, 25 Februari 2018

Honestly Hurt: Emang Enak Kena Friend Zone?

Posted by Melani Ivi | 12:04:00 PM Categories:
Judul buku                  : Honestly Hurt
Penulis                        : Elsa Puspita
Penyunting                  : Hutami Suryaningtyas & Dila Maretihaqsari
Penerbit                      : Bentang Belia (Penerbit Bentang Pustaka)
Tebal buku                  : x + 238 hlm.; 20.8 cm
Cetakan                      : pertama, Desember 2017

BLURB:
    Velya kesal! Dua sahabatnya, Gusti dan Chiko, sibuk dengan gebetannya masing-masing. Ia merasa terlupakan, terbuang, nggak lagi jadi pusat perhatian. Velya nggak suka kedua bodyguard-nya itu direbut paksa secara bersamaan. Ia jadi sering merecoki kehidupan Gusti-Chiko dengan cewek-ceweknya.

    Gusti dan Chiko tentu saja nggak kalah kesal. Siapa yang nggak bete jika tiap aksi PDKT-nya kepada cewek selalu dihancurkan? Jadi, Gusti dan Chiko sepakat ingin mencarikan Velya pacar, agar cewek itu mengerti indahnya letup-letup asmara.

    Akan tetapi, apakah semudah itu skenario bisa berjalan dengan lancar? Mereka nggak tahu, bahwa hati sulit diprediksi. Jika rasa cinta salah sasaran, persahabatan mereka sepertinya akan terancam.

SINOPSIS:
      “Sahabat itu ibaratnya tong sampah tanpa filter. Kita bisa bahas apa pun, ngomongin semuanya, tanpa mikir dia bakal ilfil sama kita atau nggak. Tapi, ke pacarnggak bisa gitu.” (hal. 164)

    Velyanata alias Velya, Gustiranda atau Gusti, dan Federico yang akrab disapa Chiko sudah saling kenal, bertetangga dan bersahabat semenjak kanak-kanak. Persahabatan mereka sudah selayaknya saudara. Gusti berperan sebagai sulung yang kalem dan kerap terkesan dewasa, Chiko sebagai si tengah yang easy going dan jail, dan Velya si bungsu yang manja, suka merajuk, dan seenaknya. Dilatarbelakangi riwayat keluarga yang berbeda pula. Gusti dengan orangtua lengkap yang harmonis, Velya bersama mamanya seorang sepeninggal sang papa, dan Chiko yang berorangtua lengkap tapi supersibuk dan nggak akrab satu sama lain.

    Persahabatan itu selalu kompak meskipun adakalanya diwarnai pertengkaran kecil. Hingga ketika masa remaja mulai memengaruhi sikap Gusti dan Chiko, terutama dalam hal ketertarikan terhadap lawan jenis. Kedua remaja lelaki itu mulai rajin melancarkan aksi pedekate terhadap cewek-cewek yang mereka taksir. Tapi Velya yang terbiasa memiliki sahabat sekaligus bodyguard yang selalu siap sedia setiap saat tak menyukai perubahan kondisi ini. Berbagai sikap jail dan merajuk dia tunjukkan seakan sebagai aksi protes. Awalnya Chiko melaksanakan ide mencomblangi Velya dengan Evan, teman sekelasnya yang pintar dan culun. Tapi agaknya Velya tak tertarik pada Evan. Perselisihan serius mulai terjadi ketika Gusti dan Chiko tertarik pada satu gadis yang sama. Sheryl, teman sekolah yang baru kembali selepas menjalani program pertukaran pelajar selama setahun di Amerika, sosok yang dipandang pintar sekaligus cantik oleh Gusti maupun Chiko. Chiko yang merasa lebih menarik dan ‘berpengalaman’ soal pedekate merasa yakin akan menang. Sedangkan Gusti, cowok pintar berkacamata yang sebelumnya tak pernah mau bersaing masalah cewek dengan Chiko juga nggak mau kalah sebelum berusaha. Mereka berdua akhirnya menyepakati akan bersaing secara sportif, dan siapa pun yang kalah harus bersedia menjadi ‘bodyguard abadi’ Velya sampai sahabat mereka itu menemukan cowok yang disukai. Siapa sangka ternyata itu jadi bumerang. Velya yang menyaksikan Sheryl akrab dengan Gusti dan Chiko justru menuduh Sheryl mempermainkan kedua sahabatnya dan mengonfrontasi langsung. Situasi antara Velya dan Gusti sempat menegang, dan berujung pada keputusan Chiko untuk mundur dan memilih menemani Velya setiap saat.

    Tapi mereka tak pernah menduga bahwa hati tidak bisa diprediksi. Perubahan situasi menjadikan Velya dan Chiko seolah memiliki dunia sendiri, sedangkan Gusti merasa terasing. Hingga Velya mulai merasakan suka pada Chiko tapi tak berani bercerita pada siapa pun, justru memilih menjaga jarak. Gusti yang mencium gelagat aneh ini pun akhirnya mengetahui rahasia hati Velya. Di sisi lain, terjadi konflik serius dalam keluarga Chiko. Hal yang sempat membuat Chiko syok, marah, dan nyaris kehilangan arah. Di saat inilah, dia yang mengetahui perasaan Velya mendadak meminta Velya menjadi pacar. Ternyata tak mudah mengubah hubungan sahabat menjadi kekasih. Terasa sekali kecanggungan, apalagi Chiko belum sepenuhnya jujur mengenai masalah yang sedang dihadapi. Pertengkaran demi pertengkaran terjadi dan mengubah segalanya. Chiko pun dihadapkan pada dilema hati terkait rencana masa depan bersama orangtuanya maupun hubungannya dengan Velya, terutama di penghujung masa sekolah dan persiapan menuju bangku kuliah. Di sinilah persahabatan mereka diuji. Akankah pertemuan terakhir mereka selepas SMA menyisakan kenangan menyakitkan ataukah mampu bertahan dan menjadi kenangan membahagiakan.

REVIEW:
    “... dari patah hati itu kita banyak belajar. Belajar ngelepasin, mencoba buat sembuh. Akhirnya bikin kita lebih kuat. Itu juga bisa jadi semacam ujian yang harus kita lewatin sebelum ketemu orang yang benar-benar tepat.” (hal. 202)

    “Kita mungkin nggak bisa milih mau suka atau naksir sama siapa. Tapi, menurut gue, kita masih bisa ngatur porsi perasaan yang ada itu. Mau dibiarin terus tumbuh, atau pelan-pelan dikendaliin.” (hal. 206)

    “Kita nggak pernah tahu kapan pertemuan terakhir sama orang yang kita sayang. Makanya, sebisa mungkin, di tiap pertemuan yang mungkin jadi terakhir itu, kita jadiin kenangan yang indah, jangan yang nggak enak.” (hal. 211)

    Kutipan-kutipannya bikin baper, kan? Tema persahabatan, cinta pertama, dan keluarga yang diangkat memang bisa dibilang sukses mengaduk-aduk perasaan pembaca. Ketiga tokoh utama remajanya bisa mewakili remaja masa sekarang, lengkap dengan warna-warni dunia mereka beserta masalah yang relevan. Contohnya Chiko, anak tunggal dengan papa yang berdarah Prancis dan sibuk dengan dunia kerjanya sendiri, bisa mewakili sosok remaja kesepian, haus kasih sayang orangtua, sekaligus contoh keluarga dengan perbedaan kultur. Persahabatannya dengan Gusti dan Velya memberikan pengaruh positif sehingga menghindarkannya dari pergaulan yang salah atau perkembangan karakter yang buruk. Saya pun suka nuansa kehangatan keluarga yang digambarkan keluarga Gusti dan mama dari Velya. Mereka memberikan secercah harapan bagi anak-anak korban perselisihan dan perpecahan keluarga, bahwa masih ada harapan dan kehangatan kasih sayang di luar sana.

    Diceritakan dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga, pembaca jadi bebas menyaksikan dan mengulik setiap adegan, isi pikiran dan hati masig-masing tokoh. Interaksi antara Chiko, Gusti, dan Velya pun sangat terasa, bisa jadi bikin iri karena tak semua orang beruntung memiliki sahabat-sahabat baik seperti mereka. Saya juga bisa memahami dan merasakan dilema yang dihadapi Chiko dan Velya terkait perubahan perasaan, dari sahabat menjadi seseorang istimewa yang disukai. Dalam kasus seperti ini, memilih menyatakan suka dan mengubah status sahabat jadi pacar memang selalu berisiko. Jika gagal, sudah pasti akan mengubah banyak hal, termasuk mempertaruhkan hubungan baik yang sudah dibangun. Dan ya, kisah Chiko-Velya ini saya yakin mewakili kisah banyak orang di luar sana.

    Selain dilema sahabat jadi pacar, kisah ini juga membawa kita kepada masa remaja, masa di mana gejolak masa pubertas sangat memengaruhi perkembangan karakter. Salah satunya rasa suka pada lawan jenis yang pertama kali dirasakan. Kisah cinta pertama selalu menyenangkan dibaca, bukan?

    Saya sendiri sempat gemas dan kesal pada Chiko, tahu bagaimana rasanya perasaan suka bertepuk sebelah tangan seperti yang dialami Evan, atau turut senyum-senyum dengan euforia kebahagiaan saat rasa suka bersambut seperti yang dialami Gusti. Masa remaja yang menyenangkan sekaligus jadi titik awal perjalanan menuju kedewasaan. Dan itu semua tetap tak melupakan pesan tentang pentingnya arti keluarga dan orangtua. Bahwa tak ada keluarga sempurna, tapi kita tetap tak bisa memilih dari orangtua mana kita terlahir. Yang bisa dilakukan adalah mengambil pilihan terbaik dan tetap berusaha berada di sisi orang-orang yang kita sayangi.

    Novel remaja yang merupakan salah satu judul seri Belia Writing Marathon ini layak dibaca oleh para pembaca remaja. Menginspirasi, menghibur, dengan ketebalan buku yang pas. Penulis juga menghadiahi pembaca dengan twist dan ending yang logis dan memuaskan, sehingga pesan moral tersampaikan dengan baik. Saya menghargai pilihan penulis, meskipun saya pribadi lebih suka open ending (tak perlu epilog seperti yang ‘dibonuskan’ di buku). Tapi ini hanya masalah selera, sih. Dan satu hal kecil yang saya sedikit kurang sependapat lainnya adalah terkait pilihan jenis huruf untuk judul. Terlalu kecil, kurang menonjol. Sedangkan ilustrasi gambar manis dan menggambarkan cerita.

Anyway, kalau kamu ketemu buku berkover pink kalem ini di toko buku, boleh banget,dong, dibawa ke kasir, hehe.
   
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube