Previous Next
  • Kacamata Sukses Ibu: Bahagia dengan Konsep Ikhlas

    “... jalan bahagia dapat kita wujudkan tanpa harus menjadi supermom yang tanpa cela, ... cukup menjadi original mom lengkap dengan segala kekurangan namun kita percaya dengan kekuatan super milik Allah ....”

  • Finally ( I Choose) You

    Ternyata bukan tentang waktu. Bukan juga tentang masa lalu. Ini tentang menemukan orang yang paling tepat untuk hidupmu. ...

  • Ibu Sang Matahari Kami

    Ibu. Satu kata panggilan yang pasti sangat akrab di telinga anak manusia mana pun di dunia. Siapa yang terlahir ke muka bumi tentulah beribu, memiliki sesosok wanita yang mengantarkan kehadiran ke dunia fana. Rahim seorang ibulah yang dititipi Sang Khaliq sebagai tempat berdiam, berlindung, sebelum siap menyongsong kehidupan yang rentan akan ujian ...

  • Baik Atau Sholihah

    Menikah adalah pilihan sadar setiap laki-laki dan perempuan dalam islam. Sebelum terjadinya akad nikah, pilihan masih terbuka lebar, akan tetapi setelah adanya akad nikah, adalah sebuah pengkhianatan terhadap makna akad itu sendiri apabila satu pihak senantiasa mencari-cari keburukan dan kesalahan pasangan dengan merasa benar sendiri ...

Selasa, 06 November 2018

Judul buku       : Tujuh Puisi Cinta Sebelum Perpisahan
Penulis             : Maya Lestari GF
Penyunting       : Nurul Amanah & Moemoe
Proofreader      : Hetty Dimayanti
Desain sampul  : Kulniya Sally
Penerbit           : Pastel Books
Cetakan           : I, 2018
Tebal buku       : 324 hlm.; 20,5cm
ISBN                : 978-602-6716-31-6
Genre              : novel/fiksi Indonesia/drama/family/romance

BLURB:
Kinandari menerima Evan karena dia memercayai keajaiban cinta. Ayah dan ibunya melalui petualangan menakjubkan berdua. Begitu pun akhir kisah-kisah putri Disney selalu bahagia selama-lamanya. Jadi, Kinandari mantap menerima cinta itu. Selain karena dia menghormati kesucian cinta, dia juga mencintai Evan dari dasar hatinya.

Pertemuan itu diawali dari pameran lukisan Evan di Taman Budaya Sumatra Barat. Kinandari menyampaikan apa yang dilihat matanya tentang lukisan yang berpendar dalam cahaya dan dibintangi anak perempuan murung yang rapuh. Tampaknya, Evan dan Kinandari saling jatuh cinta sejak itu. 

Sayangnya, harus berakhir tak lama sejak pertemuan manis itu. Semua tak berjalan seperti dugaan Kinandari. Cinta tidak semenakjubkan harapannya. Pun tidak semembahagiakan putri-putri Disney. Lukisan kerapuhan yang mempertemukan mereka berdua justru menjadi kenyataan pada akhir hubungan singkat itu. Ketika Evan meminta mengakhiri, dan Kinandari mengiakan, perempuan itu hanya bisa mengajukan permohonan terakhir: Tolong bacakan tujuh puisi yang pernah kau buat untukku, setelahnya peluklah aku. Maka aku akan pergi selamanya dari hidupmu.

SINOPSIS:
“Apa yang lebih menyakitkan dari mengucapkan selamat tinggal kepada orang yang kau cintai?” (hlm. 11)

Kinandari berteman baik sekaligus tinggal di rumah kos yang sama dengan Esa. Bersama beberapa teman lain, kedua gadis ini juga kerap menghabiskan waktu bersama di luar kegiatan kampus dan pekerjaan. Suatu hari, Esa mengajak Kinan menghadiri pameran seni lukis kakak laki-lakinya di Galeri Seni Taman Budaya Sumatra Barat. Meskipun sesungguhnya tak terlalu paham tentang seni lukis, Kinan tetap menyanggupi. Asumsinya bahwa seniman selalu berpenampilan nyentrik dan selengekan terbantahkan ketika dia akhirnya bertemu Evan Muhammad, kakak Esa. Evan yang hangat dan berpenampilan rapi mencuri perhatian Kinan. Kinan yang cerdas dan berpendidikan tinggi pun memesona Evan dari pendapatnya yang lugas dan tepat sasaran mengenai makna lukisan karya Evan. Pertemuan tersebut memberi kesan mendalam pada keduanya. Disusul perjumpaan-perjumpaan berikutnya, Evan dan Kinan pun saling jatuh cinta dan tak butuh waktu lama untuk memutuskan menikah.

Tak lama selepas pernikahan, Evan memboyong Kinan dari Padang ke sebuah rumah megah yang terletak di Padangpanjang, di kaki Gunung Singgalang yang memukau. Kinan berhenti dari profesinya sebagai guru dan menjadi ibu rumahtangga. Rumah mereka menyatu dengan studio lukis dan galeri milik Evan. Di rumah galeri tersebut juga tinggal keluarga kecil yang terdiri atas Elok Fatma, Udo, dan anak perempuan mereka Aida. Mereka adalah kerabat dekat Evan. Elok Fatma membantu mengurusi pekerjaan rumahtangga, sedangkan Udo membantu di galeri seni. Esa pun kerap bertandang. Evan dan Esa tak lagi memiliki orangtua. Awalnya pernikahan Evan dan Kinan demikian indah dan harmonis, namun keharmonisan tersebut sayangnya tak berjalan lama. Setahun sesudah menikah, Kinan mulai merasakan perubahan sikap Evan. Pria yang dulunya hangat, berubah menjadi dingin dan kelam. Dan sebuah percekcokan yang menyakitkan memperuncing masalah hingga mereka tak lagi bicara, bahkan seolah hidup terpisah. Evan lebih memilih mendekam di studio lukisnya ketimbang memperbaiki hubungan dengan istrinya. Sedangkan Kinan yang letih dan kecewa memilih menyerah. Maka ketika Evan menyodorkan permintaan cerai, Kinan mengiakan. Kinan hanya punya permintaan terakhir agar Evan membacakan tujuh puisi cinta yang pernah dibuatnya untuk Kinan lantas memberi pelukan, sebelum perceraian mereka resmi diajukan.

Selama pembacaan tujuh puisi inilah, tanpa mereka duga banyak hal yang terjadi. Mulai dari pihak keluarga Kinan yang bersikeras membujuk dan menemui Kinan dan Evan demi membatalkan rencana perceraian, hingga kunjungan kolega sekaligus wanita yang pernah dekat dengan Evan ke rumah galeri. Elok Fatma pun akhirnya mengetahui rencana perceraian itu dan membeberkan kisah masa lalu keluarga Evan agar Kinan mempertimbangkan kembali keputusannya. Nasihat demi nasihat juga bergulir dari ayah dan ibunda Kinan, Bram sang kakak dan Sheila sang kakak ipar. Sayangnya situasi bukannya membaik, justru memburuk seiring waktu kebersamaan Kinan-Evan yang kian menipis. Di sinilah kedewasaan dan ketulusan cinta dari pasangan muda ini diuji; apakah mereka memilih akhir bahagia atau menyerah.

REVIEW:
“Matematika itu imajinatif... hanya saja, sifat imajinasinya berbeda. Tidak seperti yang dipahami para seniman... Tuhan mencintai matematika, karena itulah alam ini tercipta.” (hlm. 86)

“Kesedihan membuat orang belajar tentang makna, tentang hakikat. Membuat dia meninjau kembali semua hal yang selama ini luput darinya.” (hlm. 153)

“Saat kita menikahi seseorang, sebenarnya kita juga menikahi seluruh pengalaman hidupnya... “ (hlm. 236)

“Segitiga sama sisi! Suami-istri-Tuhan. Ketika suami dan istri menjadikan Tuhan sebagai pegangan, maka segalanya akan terasa mudah. Suatu saat Tuhan akan membukakan jalan.” (hlm. 308)

Beberapa kutipan di atas sangat bernas dan menyentuh hati, bukan? Maka di dalam novel ini kamu akan jumpai banyak kutipan semacam itu. Bukan sembarang nasihat kehidupan dan pernikahan, melainkan uniknya ada yang disarikan dari sudut pandang ilmiah, lewat pemahaman akan semesta dan prinsip matematika dasar. 

Benar sekali. Kelebihan sekaligus daya tarik lain dari novel ini adalah adanya sejumlah pemaparan menarik terkait prinsip Matematika dasar yang merupakan draft buku panduan matematika yang sedang disusun tokoh utama, Kinan. Diberi judul Rahasia Matematika yang Kamu Tidak Tahu, bagian ini selalu saya nantikan dalam novel—selain bagian dongeng. Selanjutnya kemahiran Kinan menciptakan sekaligus mendongengkan kisah-kisah fantasi penuh hikmah menjadi kekuatan dalam penokohan. Seorang guru matematika yang nyastra, kurang lebih demikian. Kehadiran tujuh puisi cinta sebagai perpisahan juga sangat mendukung plot cerita. Tak sekadar mempermanis kisah, tapi juga mengajak pembaca menyusuri perjalanan cinta Kinan-Evan. Puisi-puisinya tak pelik, cukup mudah dipahami karena disesuaikan dengan karakter Evan yang pelukis bukannya penyair. Alih-alih, puisi-puisi tersebut lebih mengutamakan dampak emosional terhadap pembaca.

Berseting Padangpanjang, penulis yang notabene memang asli Minang berhasil menuturkan keindahan sekaligus sejarah beberapa seting tanpa melenceng dari plot cerita. Muatan kearifan lokalnya sangat terasa. Ditambah lagi kehadiran sejumlah tokoh yang mencerminkan budaya kekeluargaan dan ketimuran. Deskripsi mengenai lukisan dan maknanya lewat sosok Evan juga memuaskan. Meskipun saya awam terhadap seni lukis aliran surealis, tapi penjelasan lewat dialog antartokoh di sini sangat membantu. Selain itu, novel ini juga membuat saya tertarik mencari tahu sedikit mengenai aliran seni lukis.

Karakter Evan yang pendiam, dingin dan kelam—seperti lukisan-lukisannya, ditambah latar belakang keluarga dan masa kecilnya menjadi poin penting dari konflik. Karakter ini bertolak belakang sekali dengan Kinan yang pada dasarnya periang dan blakblakan. Komunikasi mereka yang tidak sehat sangat emosional. Dan fokus atas akar masalah inilah yang saya sukai dari kisah ini. Bukan tipikal cerita konflik pernikahan yang terlalu ‘drama’, yang biasanya melibatkan perselingkuhan, cekcok dengan keluarga besar, dan semacamnya. Kehadiran keluarga Kinan pun sesuai porsi, hanya sebagai pihak luar yang netral dan memberi nasihat. Demikian juga Elok Fatma dan keluarganya.

Alur campuran yang digunakan jelas, tak membuat saya bingung atau bosan selama membaca. Catatan pernikahan ayah Kinan yang diberikan sebagai nasihat, awalnya terkesan datar dan sederhana, tapi ternyata menyimpan hikmah besar yang diungkapkan di akhir cerita. Maka bisa dikatakan tak ada satu pun elemen yang sia-sia atau sekadar tempelan di sini.

Benar-benar sebuah kisah cinta yang sarat hikmah dan mengaduk-aduk emosi, juga menguji kesabaran saya yang sangat penasaran dengan akhir yang dipilih penulis. Novel yang tanpa ragu akan saya rekomendasikan bagi siapa pun yang mencintai budaya Indonesia dan terutama yang sedang gamang dengan pasangan—seperti yang dikatakan sang editor. Pernikahan enggak cukup dengan cinta. Komunikasi yang baik, komitmen, dan kedekatan dengan Tuhan pun wajib dimiliki pasangan mana pun. Dan ngomong-ngomong, jangan terkecoh dengan kavernya yang merah muda kalem, karena ceritanya kelam mematahkan hati. Tapi tetap saja, layak sekali kamu menikmati ‘kelamnya’ karena ada keindahan dalam perjalanannya.


Selasa, 30 Oktober 2018

[BLOGTOUR – GIVEAWAY] Giveaway Novel Song for Alice

Posted by Melani Ivi | 8:24:00 AM Categories:

[UPDATE] PENGUMUMAN PEMENANG

Dan satu orang yang beruntung mendapatkan novel Song For Alice di Blogtour & Giveaway sesi ini adalah...

Selamat kepada Rezza Dwi / Instagram: @wireawi

Silakan konfirmasi nama, alamat lengkap plus kodepos, dan nomor telepon untuk pengiriman hadiah. Konfirmasi via DM Instagram saya.

Terima kasih kepada teman-teman pembaca yang sudah berpartisipasi dalam giveaway ini. Masih berlangsung Blogtour & Giveaway sesuai jadwal di banner, ya. Silakan meramaikan dan coba lagi kesempatan untuk mendapatkan novel Kak Windry ini.

Terima kasih juga sudah meramaikan sesi blogtour di blog saya. Sampai jumpa di lain waktu ☺

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Halo pembaca, jumpa lagi! Masih setia menyimak Blogtour & Giveaway Song for Alice? Sekarang tiba saatnya mengumumkan giveaway beserta ketentuannya. Giveaway ini terbuka bagi siapa saja yang ingin membaca novel terbaru Kak Windry Ramadhina ini. Siap? Yuk, disimak ketentuan berikut:

1. Berdomisili dan beralamat kirim di Indonesia

2. Wajib follow/ikuti Twitter: @TWIGORA @windryramadhina @LaniVitri ATAU Instagram: @TWIGORA @beingfaye @wordsnpages_melani3

3. Simak dua postingan sebelum ini yang merupakan sesi WAWANCARA dengan Kak Windry dan REVIEW novel Song for Alice. Tinggalkan komentar kamu di kedua blogposts tersebut. Usahakan komentar sesuai dengan topik pembahasan, ya

4. Bagikan info giveaway ini di Twitter kamu dan mention saya. Boleh juga repost di feed Instagram atau share via story kamu. Untuk story Instagram, biarkan 24 jam dan pastikan tag saya. Sertakan hashtag #GASongForAliceXMelani #NovelSongForAlice, baik di Twitter maupun Instagram

5. Di kolom komentar postingan ini, tuliskan: NAMA – AKUN TWITTER/INSTAGRAM KAMU – LINK SHARE INFO GIVEAWAY. Bagi yang share via story Instagram, cukup isi LINK SHARE dengan kata ‘DONE STORY’ 

6. Akun medsos kamu tidak digembok/tidak diprivat untuk memudahkan pengecekan

7. Giveaway berlangsung sejak tanggal 30 Oktober hingga 4 November 2018. Pengumuman pemenang pada tanggal 6 November 2018 di blogpost ini, Twitter, dan Instagram saya

8. Satu orang pemenang yang beruntung akan mendapatkan 1 (satu) eksemplar novel Song For Alice yang akan dikirimkan langsung oleh penerbit. Pertimbangan pemenang salah satunya lewat feedback kamu di komentar WAWANCARA dan REVIEW. Keputusan pemenang tidak dapat diganggu gugat.


Mudah,kan? Siapa pun bisa menang, jadi yuk jangan dilewatkan kesempatan ini. 


FYI, Blogtour & Giveaway Song For Alice ini masih akan berlangsung bersama hosts lain. Silakan meramaikan juga rangkaian Blogtour di blog mereka berikut ini:

20 – 22 OKTOBER 2018 2018: ORINTHIA LEE

23 – 25 OKTOBER 2018:  LUCKTY GIYAN SUKARNO

26 – 28 OKTOBER 2018: PUTU RINI CIPTA RAHAYU

29 – 31 OKTOBER 2018 : MELANI I. S

1 – 3 NOVEMBER 2018: AINI EKA

4 – 6 NOVEMBER 2018 2018: ILMI FADILLAH

7 – 9 NOVEMBER 2018 2018: KHAIRISA RAMADHANI PRIMAWESTRI


Silakan daftarkan keikutsertaanmu dalam giveaway di kolom komentar di bawah ini, ya. Baca ketentuannya baik-baik. Banyak-banyak berdoa dan semoga beruntung! Terima kasih ☺❤




Senin, 29 Oktober 2018

Judul novel   : Song for Alice
Penulis        : Windry Ramadhina
Editor          : Rinandi Dinanta
Proofreader : Christian Simamora
Tebal buku  : 328 halaman, SC; 14 x 20 cm
Bookpaper  : 55 gr
ISBN           : 978-602-51290-7-0
Harga          : Rp  85,000
Genre          : Romance, music

TAGLINE:
Mencintaimu adalah penantian yang panjang.

BLURB:
SEPERTI APA CINTA MENINGGALKANMU
ADALAH SESUATU YANG TERAMAT SULIT KAU LUPAKAN.

Bagi Arsen, pulang berarti kembali pada Alice—perempuan pertama yang mencuri hatinya dua belas tahun lalu. Sore itu adalah pertemuan pertama mereka setelah lama tak bertemu. Arsen menarik Alice ke dalam pelukannya, berusaha mengingatkan perempuan itu pada sejarah mereka dulu. Namun yang membersit di benak Alice hanya sakit hati... ditinggal pergi Arsen di saat dia benar-benar jatuh cinta.

Memang benar, Alice selalu merindukan Arsen. Ketertarikan di antara mereka masih memercik api seperti dulu. Namun masa lalu adalah pelajaran yang teramat berharga bagi perempuan itu. Arsen adalah orang yang membuat Alice merasa paling bahagia di muka bumi, juga yang bertanggung jawab membuatnya menangis tersedu-sedu.

Sekuat tenaga Alice mencoba menerima kembali kehadiran Arsen dalam hidupnya. Membiasakan diri dengan senyumnya, tawanya, gerak-gerik saat berada di ruang tengah; bahkan harus meredam gejolak perasaan atas kecupan hangat Arsen di suatu malam. Terlepas dari kenyataan Arsen membuat Alice jatuh cinta sekali lagi, ada pertanyaan besar yang hingga kini belum terjawab: pantaskah laki-laki itu diberi kesempatan kedua?


SINOPSIS:
“Namanya Alice Lila... Alice dari Alice Cooper. Lila seperti ‘Lyla’ Oasis.” (hlm. 255)
“Panggung besar. Cahaya. Ribuan orang memanggil-manggil namaku. Semua itu membuatku... lupa. Aku seperti kehilangan... aku yang dulu.” (hlm. 184)
Arsen Rengga, musisi rock yang karirnya sedang menanjak dan dipuja oleh banyak penggemar wanita mendapat kritikan pedas atas album terakhirnya yang dinilai dangkal. Dia juga mendapat sorotan atas gaya hidupnya, hobinya melewatkan malam bersenang-senang di pub. Arsen tak ambil pusing dengan kritikan tersebut, meskipun manajer dan produsernya berpendapat serupa. Hingga suatu hari, sebuah kecelakaan menyentakkan kesadarannya. Arsen yang diberikan waktu cuti memanfaatkan kesempatan tersebut untuk pulang. Pulang ke rumah di mana ada seseorang yang dianggapnya keluarga namun telah lama dicampakkannya.

Alice Lila, gadis yang mengelola sekolah musik bernama Lilt, warisan dari mendiang Kakeknya—Kakek Lur, sedang dipusingkan oleh kondisi Lilt yang terancam gulung tikar. Resesi dan persaingan membuat Lilt tak lagi seramai dulu. Bahkan satu-satunya pengajar yang bertahan akhirnya memilih hengkang. Di tengah situasi tak menyenangkan ini, Arsen kembali. Pemuda yang pernah menjadi bagian dari keluarga, sepeninggal mamanya—Tante Rae, yang juga pernah mengajar di Lilt. Empat tahun lalu, Arsen memilih meninggalkan Alice, Kakek Lur, bahkan band Looking For Charlotte yang dia bentuk bersama Len, Rik, dan O, demi tawaran rekaman dari label besar. Sebuah keputusan yang egois.

Kepulangan Arsen tak begitu saja disambut hangat oleh Alice. Perasaan kecewa masih menguasai Alice. Dan kelakuan Arsen di awal kepulangan kian melemahkan kepercayaan Alice pada Arsen. Walaupun demikian, Arsen tetap berupaya keras membuktikan kesungguhan dan menebus kesalahannya. Setelah berhasil membujuk dan meyakinkan Len, Rik, dan O untuk membantu mengajar di Lilt, di sela-sela kesibukan mereka masing-masing, Arsen juga perlahan mendapatkan kembali kepercayaan Alice. Berkat popularitas Arsen, Lilt bahkan mendapatkan promosi yang bagus. Mar sang manajer juga banyak membantu. Kebersamaan dengan Alice dan ketiga teman lamanya, juga Sal kakak Len yang juga menganggapnya keluarga, membuat Arsen berubah lebih baik. Bahkan Arsen menyatakan cinta pada Alice dan berhasil menyelesaikan lagu yang terinspirasi dari Alice. Kebahagiaan mereka terasa kian lengkap dari hari ke hari. Tapi, benarkah ada kebahagiaan dan kisah yang benar-benar sempurna dan berlangsung selamanya?


REVIEW:
“Aku pulang untuk mendapatkannya kembali.” (hlm. 177)
“Sekarang, saya mendapat kesempatan kedua. Saya ingin melakukannya dengan benar kali ini. hidup seharusnya dipergunakan untuk menjaga hal-hal yang penting bagi kita.” (hlm. 311)

Mengambil seting Jakarta dan latar dunia musik, kisah Alice dan Arsen juga didominasi kisah keluarga dan persahabatan, tak melulu romansa antara dua tokoh utamanya. Poin-poin tersebutlah yang menjadi alasan utama saya menyukai novel ini. Saya selalu lebih mudah jatuh cinta pada kisah semacam ini.

Menggunakan sudut pandang POV orang ketiga, tak membuat saya kesulitan merasa terhubung dengan karakter para tokoh dan emosi yang mereka rasakan. Bahkan pemilihan POV ini cukup adil mengingat banyak tokoh pendukung yang menarik untuk disorot juga. Sebut saja Mar dan Len, dua tokoh pendukung yang paling menarik perhatian dan simpati saya. Mar yang cerewet tapi sebenarnya baik. Dia ini menggambarkan sosok manajer yang profesional, sangat membantu segala aktivitas berkarir Arsen tapi juga tak segan menunjukkan dukungan lewat tindakan nyata di luar urusan bermusik, Sebagai wanita, Mar nggak cukup feminin dan lemah lembut, lebih seperti sosok wanita karir yang tangguh. Dan saya suka itu. Sedangkan Len yang kalem adalah karakter calon dokter yang mudah disukai, juga sahabat yang suportif dengan caranya. Kehadiran Len ini semacam pelengkap dan penyeimbang kelakuan egois dan bengal Arsen. Apalagi Len punya Sal, sosok kakak perempuan yang penyayang. Sesuailah dengan karakter Len yang dewasa. Dalam beberapa aspek, Len lebih saya sukai ketimbang Arsen. Ini bukan kali pertama saya jatuh cinta pada second lead character.

Untuk Arsen dan Alice, mereka memesona dengan karakter mereka masing-masing yang unik. Arsen yang bisa dikatakan mencerminkan sosok bad boy, ditunjang latar belakangnya sebagai musisi rock yang masih muda—usia yang rentan dengan glamornya dunia hiburan. Sosok yang egois dan berengsek—seperti yang diakuinya sendiri. Dan keegoisannya ini memang menjengkelkan. Sempat, saking kesalnya, saya mempertanyakan apakah cowok egois begini layak mendapatkan kesempatan kedua dari Alice yang notabene sudah cukup menderita? Hehe... Tapi kisah masa kecil Arsen juga bikin bersimpati dan meskipun saya tidak merasakan kehilangan orangtua karena kematian, saya bisa turut merasakan kehilangan itu dengan cara saya. Selain itu, Arsen juga memiliki sisi-sisi manis dan karisma yang membuat saya paham mengapa Alice mencintainya. Bagaimanapun, Arsen adalah tokoh yang paling terlihat perkembangan karakternya sepanjang cerita. Alice sendiri juga yatim piatu, sehingga kesamaan nasib inilah yang menyatukan mereka, di samping perbedaan karakter yang menarik. Alice yang lebih suka musik klasik dan tidak menyukai rock, misalnya. Chemistry Alice-Arsen pun terasa. Selain itu, detail-detail deskripsi karakter mereka, seperti kebiasaan-kebiasaan kecil Alice memperkuat penokohan dan chemistry.

Deskripsi mengenai sekolah musik Lilt dan berbagai detail terkait musik juga mengesankan dan menghangatkan hati. Saya jatuh cinta dengan penggambaran Lilt, dengan suasana ramai oleh anak-anak yang belajar musik. Sampai saya berandai-andai, jika saja semasa kecil saya juga berkesempatan merasakan atau seenggaknya jika memiliki anak kelak akan ada kesempatan untuk bersekolah seperti di Lilt. Dan tak heran karena ternyata Kak Windry tak sekadar riset, tapi menuangkan pengalaman pribadi selama menemani putrinya bersekolah musik. Feel-nya sangat terasa. 

Hal favorit lain dari novel ini adalah pemilihan nama untuk setiap tempat dan tokoh. Uniknya, para tokoh memiliki nama panggilan yang hanya terdiri atas tiga huruf bahkan kurang. Al, Sen, dan terutama Len, Mar, Rik, Sal, Lur (Kakek), dan O. Juga nama Lilt, Fat Sal, dan Looking for Charlotte. Semua terasa pas dengan makna yang nggak asal comot, sekaligus indah didengar.

Dan meskipun tak banyak menyisipkan istilah dan penjelasan bidang kedokteran, Kak Windry berkonsultasi dan melakukan riset yang memadai untuk mendukung plot. Baca sendiri novel agar kamu paham, ya. Hehe...

Alurnya dominan alur maju, namun ada beberapa bagian yang merupakan kilas balik. Untuk novel yang tak terlalu tebal, alur ceritanya pas, tak terlalu lambat tapi juga tak terkesan terburu-buru. Plotnya rapi. Cukup banyak adegan yang menguras emosi yang mana membuktikan kesuksesan Kak Windry melibatkan saya sebagai pembaca dengan cerita. Salah satu adegan favorit saya adalah jelang akhir, di bagian konser. Bikin emosi saya campur aduk.

Benar-benar pengalaman membaca yang berkesan. Sebuah novel tentang kesempatan kedua dan berdamai dengan luka. Saya terngiang-ngiang dengan beberapa kutipan di dalamnya. Dan jika kamu tipikal pembaca yang mudah terhanyut dengan cerita, dijamin akan merasa emosional bahkan meneteskan air mata selama membaca. Bagi penggemar musik rock terutama band Inggris, juga akan merasa terhubung dengan karya ini. 

Satu lagi karya Kak Windry yang tidak boleh kamu lewatkan. Wajib dibaca dan dimiliki bukunya. It’s beautifully written. Kavernya juga cantik, bukan?


Tentang Penulis:
WINDRY RAMADHINA lahir dan tinggal di Jakarta; percaya atau tidak, mampu mendengarkan berbagai bentuk rock, yang paling keras sekalipun. Dia menulis fiksi sejak 2007. Buku-bukunya banyak bercerita tentang cinta, kehidupan, impian, dan harapan. Song for Alice adalah bukunya yang kesebelas.

Windry suka membaca surat dan menjawab pertanyaan. Dia bisa dihubungi lewat e-mail windry.ramadhina@gmail.com, Instagram @beingfaye, atau blog www.windryramadhina.com


P.S. Untuk photo challenge kali ini adalah dengan berfoto bersama novel Song For Alice. So, here we go, guys. Maafkan gaya saya yang seadanya ini hehe... ☺


Jangan lupa, masih akan ada giveaway bagi kamu yang ingin membaca dan memiliki novel ini gratis. Nantikan ketentuan lengkapnya di postingan blog selanjutnya dan ajak teman-temanmu juga. Sampai jumpa.




[BLOGTOUR – WAWANCARA] Ask the Author: Windry Ramadhina

Posted by Melani Ivi | 5:25:00 AM Categories:
Hai, pembaca. Bagi kamu pencinta novel Indonesia, terutama karya Kak Windry Ramadhina, mulai hari ini akan diselenggarakan rangkaian sesi blogtour Song for Alice di blog saya ini. Jangan lewatkan kesempatan mendapatkan satu eksemplar novel Song for Alice dengan mengikuti giveaway di akhir sesi blogtour ini.

Selengkapnya, blogtour akan diadakan selama 21 hari dengan jadwal sebagai berikut:

20 – 22 OKTOBER 2018 2018: ORINTHIA LEE

23 – 25 OKTOBER 2018:  LUCKTY GIYAN SUKARNO

26 – 28 OKTOBER 2018: PUTU RINI CIPTA RAHAYU

29 – 31 OKTOBER 2018 : MELANI I. S

1 – 3 NOVEMBER 2018: AINI EKA

4 – 6 NOVEMBER 2018 2018: ILMI FADILLAH

7 – 9 NOVEMBER 2018 2018: KHAIRISA RAMADHANI PRIMAWESTRI
Url.Blog: http://krprimawestri.blogspot.co.id/

Catat tanggalnya, ya. Silakan memperbesar peluang keberuntungan kamu dengan mengikuti giveaway sesuai jadwal masing-masing.


Judul novel   : Song for Alice
Penulis        : Windry Ramadhina
Editor         : Rinandi Dinanta
Proofreader : Christian Simamora
Tebal buku  : 328 halaman, SC; 14 x 20 cm
Bookpaper   : 55 gr 
ISBN            : 978-602-51290-7-0
Harga          : Rp  85,000
Genre          : Romance, music

TAGLINE:
Mencintaimu adalah penantian yang panjang.

BLURB:
SEPERTI APA CINTA MENINGGALKANMU
ADALAH SESUATU YANG TERAMAT SULIT KAU LUPAKAN.

Bagi Arsen, pulang berarti kembali pada Alice—perempuan pertama yang mencuri hatinya dua belas tahun lalu. Sore itu adalah pertemuan pertama mereka setelah lama tak bertemu. Arsen menarik Alice ke dalam pelukannya, berusaha mengingatkan perempuan itu pada sejarah mereka dulu. Namun yang membersit di benak Alice hanya sakit hati... ditinggal pergi Arsen di saat dia benar-benar jatuh cinta.

Memang benar, Alice selalu merindukan Arsen. Ketertarikan di antara mereka masih memercik api seperti dulu. Namun masa lalu adalah pelajaran yang teramat berharga bagi perempuan itu. Arsen adalah orang yang membuat Alice merasa paling bahagia di muka bumi, juga yang bertanggung jawab membuatnya menangis tersedu-sedu.

Sekuat tenaga Alice mencoba menerima kembali kehadiran Arsen dalam hidupnya. Membiasakan diri dengan senyumnya, tawanya, gerak-gerik saat berada di ruang tengah; bahkan harus meredam gejolak perasaan atas kecupan hangat Arsen di suatu malam. Terlepas dari kenyataan Arsen membuat Alice jatuh cinta sekali lagi, ada pertanyaan besar yang hingga kini belum terjawab: pantaskah laki-laki itu diberi kesempatan kedua?



Nah, di kesempatan kali ini silakan disimak sederetan pertanyaan yang saya ajukan kepada Kak Windry, lengkap dengan jawabannya. Tak kenal maka tak sayang, kan. Oleh sebab itu, kamu wajib tahu beberapa hal terkait novel terbaru Kak Windry ini yang dijamin akan makin membuatmu penasaran dan tertarik untuk membacanya.

Siap? Let’s meet Kak Windry Ramadhina 😊


Q: Saya suka bagaimana Kak Windry memilihkan nama-nama tokoh dan tempat dalam cerita, yang enggak sekadar indah, akrab, berkesan, tapi juga memiliki makna/latar belakang. Seperti Alice Lila dan Lilt. Bagaimana proses pemilihan nama-nama tersebut? Apakah memakan waktu?
.


A: Biasanya saya memberi nama tokoh/tempat dalam novel sesuai dengan tema dan nuansa cerita. Song for Alice bernuansa musik (terutama rock dan klasik). Karena itu, saya sengaja mencari nama musisi rock atau nama yang diasosiasikan dengan musik rock. Alice, misalnya, diambil dari Alice Cooper. Nama-nama lain pun berhubungan dengan rock. Arsen, Len (Lennon), Rik (Erik), O (Otis), Sal (Sally), dan Mar. Sementara itu, untuk nama sekolah musik milik Alice, saya mencari istilah musik klasik yang memiliki arti pas dengan filosofi kakek Alice, yaitu Lilt.
Mencari nama selalu memakan waktu bagi saya. Tetapi, saya tidak keberatan. Itu elemen yang saya anggap penting. Saya tidak ingin nama-nama tersebut hanya sekadar panggilan. Saya ingin mereka memiliki arti (paling tidak bagi saya) dan ikut memberi jiwa ke cerita.
.
Q: Kisah novel ini mengandung pesan kehilangan yang pekat. Bagaimana Kak Windry mengeksplorasi emosi sehingga bisa melibatkan pembaca untuk ikut merasakan? Apakah dengan menggali memori kehilangan dari pengalaman pribadi atau ada cara lain?
A: Setiap orang pernah kehilangan. Tetapi, masing-masing memiliki cara sendiri dalam menghadapi hal tersebut. Menyamakan kehilangan Alice dengan kehilangan saya pribadi belum tentu tepat. Maka, saya berusaha menempatkan diri sebagai Alice. Bagaimana kehilangan mempengaruhinya, apa yang paling dia rasakan, dan seperti apa dia bereaksi. Sebelum itu, saya harus memahami kepribadian Alice, baru bisa berempati kepadanya. Ini berkaitan erat dengan proses pengembangan karakter yang dilakukan jauh sebelum saya memulai proses penulisan. Selama proses penulisan, juga dalam penyuntingan naskah Song for Alice, saya berkali-kali menangis. Lalu, saya berusaha membagi empati yang saya rasakan kepada pembaca.
.
.
Q: Selain Arsen dan Alice, siapakah tokoh dalam cerita ini yang sangat berkesan atau disayang oleh Kak Windry? Mengapa?

A: Saya memiliki ketertarikan khusus kepada Len, salah satu teman lama Arsen sekaligus personel Looking for Charlotte. Sepertinya, sebagian pembaca Song for Alice pun demikian. Tetapi, dia memang tipe yang mudah untuk disukai. Dewasa, bertanggung jawab, tenang, mampu membaca situasi dengan baik, dan perhatian kepada orang-orang di sekitarnya. Dan, sebagai tokoh pendukung, dia punya kedalaman karakter.








Q: Ide tentang seting sekolah musik itu sangat berkesan bagi saya. Adakah Kak Windry punya pengalaman pribadi/kenangan terkait sekolah/kursus musik?
A: Lilt terinspirasi dari sekolah musik yang saya datangi setiap Sabtu pagi bersama anak saya. Selama lima tahun, dia mengambil kelas piano di sana dan saya selalu menemani. Saya biasa menunggu di luar kelas dan melihat anak-anak kecil berlarian sambil membawa buku musik atau mengintip ke dalam kelas lewat lubang kaca di pintu. Sejak lama saya ingin menceritakan tempat itu lewat novel.
.
.

Q: Apa definisi ending (akhir kisah) yang sempurna bagi Kak Windry sebagai penulis?
A: Saya selalu berusaha melihat akhir cerita lebih dari sekadar sedih atau bahagia. Kehidupan tidak hitam dan putih. Di kehidupan, seringnya kita menemukan kesedihan dan kebahagiaan berdampingan.
Yang terpenting, di akhir kisah, pembaca menyadari sesuatu yang berharga yang barangkali selama ini terlewat olehnya. Pada saat yang bersamaan, saya ingin pembaca merasakan harapan. Dunia ini tidak sempurna, kita punya banyak masalah, kita kehilangan sesuatu atau seseorang, kita belum berhasil mewujudkan impian. Tetapi, kita harus percaya, kita akan baik-baik saja.
.
.
.

Nah, bagaimana? Menarik sekali, kan. Saya pribadi merasa sangat senang karena beberapa pertanyaan yang saya anggap penting dijawab tuntas oleh Kak Windry. Sekaligus bikin saya makin menghargai proses kreatif kepenulisan maupun karya yang dihasilkan. Terima kasih atas kesempatannya dan sukses selalu untuk Kak Windry, ya... 😊


Tentang Penulis:

WINDRY RAMADHINA lahir dan tinggal di Jakarta; percaya atau tidak, mampu mendengarkan berbagai bentuk rock, yang paling keras sekalipun. Dia menulis fiksi sejak 2007. Buku-bukunya banyak bercerita tentang cinta, kehidupan, impian, dan harapan. Song for Alice adalah bukunya yang kesebelas.

Windry suka membaca surat dan menjawab pertanyaan. Dia bisa dihubungi lewat e-mail windry.ramadhina@gmail.com, Instagram @beingfaye, atau blog www.windryramadhina.com   
.

P.S. Foto Kak Windry diambil dari Instagram pribadi @beingfaye


Sampai jumpa di blogpost selanjutnya, masih dalam rangkaian BLOGTOUR&GIVEAWAY SONG FOR ALICE  😘

Selasa, 23 Oktober 2018

Judul buku   : Three Amazing Things About You (Hal-Hal Mengagumkan Tentangmu)
Penulis        : Jill Mansell
Penerbit      : ElexMedia Komputindo
Alih bahasa : Ine Milasari Hidajat
Editor         : Sofi Sugiharti & Dion Rahman
Cetakan      : pertama, 2017
Tebal buku  : 506 hlm.
ISBN           : 978-602-04-7772-5
Genre         : contemporary romance (18+)

BLURB:
    Hallie mempunyai rahasia. Dia sedang jatuh cinta. Lelaki itu sempurna untuknya dalam segala hal, tapi sosoknya benar-benar di luar batas. Dan teman-temannya tidak akan membantunya karena mereka mengetahui bahwa Hallie tidak memiliki waktu lama untuk hidup. waktunya hampir habis...

    Flo mengalami dilema. Dia sangat menyukai Zander. Tapi kakak perempuan Zander yang menakutkan tidak akan sedikit pun merasa senang melihat mereka berteman—apalagi lebih dari itu.

    Tasha punya masalah. Pacar barunya adalah tipe petualang. Dan dia takut salah satu petualangannya akan menjadi sangat buruk.

    Three Amazing Things About You dimulai saat Hallie melakukan perjalanan. Seorang donor telah ditemukan dan dia akan diberi paru-paru baru. Tapi siapa?

SINOPSIS:
    “... saat orang memiliki permasalahan dalam kehidupan, maka permasalahan itu menjadi luar biasa penting bagi mereka dan semua orang harus menghormatinya. Mereka jelas tidak boleh merasa seolah tidak mampu bersaing dengan orang yang memberikan nasihat.” (Hallie, hlm. 7)

    “Bisa saja aku tinggal di rumah dan tidak keluar dari tempat tidur sepanjang hari. Itu akan lebih aman. Tapi bukan begitu caranya menjalani kehidupan, kan?”
(Rory, hlm. 171)

    “Apakah hubungan mereka menjadi lebih mendebarkan karena kenyataan bahwa itu adalah sebuah rahasia? Seperti berselingkuh, tapi tanpa perlu menikah?” (Flo, hlm. 222)

    Hallie yang tinggal di Carranford mengelola sebuah laman dengan nama samaran Rose, dikenal sebagai pribadi bijak yang selalu memiliki solusi untuk tiap permasalahan yang disodorkan pengunjung website. Padahal tak ada dari mereka yang tahu bahwa sesungguhnya Hallie hanyalah gadis biasa berkebutuhan khusus karena mengidap penyakit serius yang membatasi geraknya. Hallie bahkan tak berani mengungkapkan perasaan cintanya pada seseorang karena sadar bahwa hidupnya mungkin tak akan lama. Meski demikian, masih ada harapan akan donasi organ yang memberinya peluang kesembuhan tinggi. Tapi kapankah kesempatan itu tiba dan dari siapakah Hallie akan mendapatkan donasi organ?

Sedangkan di Bristol ada Flo, seorang gadis lajang mandiri, bekerja di sebuah rumah jompo. Selain itu, dia pernah dipekerjakan sebagai perawat seorang wanita tua kaya di sebuah flat besar. Sepeninggal wanita tersebut, Flo menghadapi konflik akan amanat untuk tetap merawat Jeremy, kucing kesayangan mendiang wanita tersebut dan tinggal di flat besarnya. Sebuah wasiat yang dtentang keras oleh Lena, cucu perempuan sang pemilik flat. Lena pun memusuhi Flo. Di sisi lain, seiring berjalannya waktu, Flo justru saling suka dengan Zander, adik laki-laki Lena yang karakternya jauh berbeda dengan sang kakak.

Di London, Tasha seorang make-up artist profesional, secara kebetulan berkenalan dengan Rory berkat sebuah insiden memalukan. Keduanya pun lantas menjalin hubungan serius. Semua berjalan lancar, termasuk penerimaan oleh kedua sahabat baik mereka, Joe dan Carmel. Hanya saja, hobi berpetualang di alam bebas dan melakukan berbagai olahraga ekstrim yang digandrungi Rory dan Joe membuat Tasha sering kali waswas.

REVIEW:
Kisah romansa yang pada garis besarnya beralur maju ini berseting di Inggris, di tiga kota berbeda. Tiga tokoh utama wanitanya memiliki konflik masing-masing. Menggunakan POV orang ketiga dengan gaya bahasa yang ringan membuat saya betah mengikuti kisah Hallie, Tasha, dan Flo. Masing-masing kisah memiliki daya tarik berbeda.

Dalam kisah Hallie, saya selalu menantikan Rose membalas surat pengunjung website dan menyenangkan juga mengetahui berbagai permasalahan yang kadang umum dialami oleh wanita tapi ada juga yang unik. Selain itu, kisah cinta diam-diam Hallie bikin gemas dan menunggu-nunggu dalam momen seperti apakah cinta itu terungkap. Selain itu, kehadiran tokoh dokter muda Luke, mantan kekasihnya Christina yang cantik, dan Bea sahabat Hallie yang baik tapi sering tidak peka menambah keseruan cerita. Sedangkan Flo yang harus sabar menghadapi kebencian Lena yang berkarakter arogan, bossy, dan keras kepala sedikit mengingatkan saya akan drama Cinderella dengan ibu tirinya (di sini bisa dikatakan ibarat menghadapi kakak tiri). Yang seru adalah kelakuan para sahabat ‘senior’ Flo dari rumah jompo yang tidak jarang konyol dan norak tapi bermaksud baik. Salah satu tokoh pendukung yang menonjol adalah Margot dan keponakannya Patrick. Juga si kucing Jeremy yang suka jaim dan bikin saya senyum-senyum dengan kelakuannya yang kadang mirip manusia. Sedangkan Zander, karakternya mudah disukai, karena selain tampan dia juga menyenangkan dan lebih dewasa dari kakak perempuannya. Dan kisah paling seru dan dipenuhi adegan lucu adalah kisah Tasha, Rory, bersama kedua sahabat mereka. Karakter yang cukup bertolak belakang dari pasangan Tasha-Rory justru jadi daya tarik. Ditambah lagi Joe yang sangat suka menjaili mereka, humoris, sekaligus sangat setiakawan. Saya suka setiap kali Joe muncul, plus interaksi tarik-ulurnya dengan Carmel yang menggemaskan.

Ketiga kisah diceritakan bergantian, tapi plotnya rapi sehingga saya tidak bosan atau bingung selama peralihan cerita. Jill Mansell juga menyisipkan detail yang menarik tentang profesi para tokoh dan hobi yang memperkuat penokohan. Membaca kisah kehidupan tiga karakter wanita berbeda ini, saya diajak terlibat secara emosi, kadang bersimpati, kesal, tertawa, dan klimaksnya ada perasaan haru. Tipikal novel yang meskipun tebal tapi tanpa terasa sudah membawa saya pada ujung kisah.

Yang sedikit kurang menurut saya hanyalah momen klimaks ke antiklimaks yang terasa agak terlalu cepat. Saya belum sepenuhnya ikut merasakan kesedihan mendalam maupun keterkejutan ketika penulis sudah menyuguhkan solusi. Tapi secara keseluruhan ending memuaskan dan pesan kemanusiaan terkait donasi organ tersampaikan dengan baik. Jika kamu pencinta contemporary romance, novel ini sangat layak dibaca. Tak melulu menyajikan kisah cinta manis, tapi juga membawa pesan kebaikan besar yang sesuai realita sekarang. Kaver edisi Indonesia ini juga menarik. Simpel tapi tetap mewakili isi cerita, dibarengi kualitas terjemahan yang cukup baik.



The Fourth Monkey: Psikopat atau Hakim Jalanan?

Posted by Melani Ivi | 10:34:00 AM Categories:
Judul buku      : The Fourth Monkey
Penulis           : J.D. Barker
Alih bahasa     : Endang Sulistyowati
Penyunting      : Ani Nuraini Syahara
Redesain         : Yanyan Wijaya
Tebal buku      : 568 hlm.
Penerbit          : Bhuana Sastra (Bhuana Ilmu Populer)
Tahun terbit    : 2018
ISBN               : 978-602-455-574-0
Kategori         : Novels/Adult U17+ / crime-suspense-thriller

BLURB:
    Tewasnya seorang pria yang tertabrak—entah murni kecelakaan atau sengaja menabrakkan diri—menyisakan tanda tanya besar. Pasalnya, ia membawa sebuah kotak berisi potongan telinga.

Disinyalir, ia adalah Pembunuh Empat Monyet, buron polisi selama hampir lima tahun. Dengan dalih filosofi Tiga Monyet Bijak, ia selalu memotong telinga, lidah, dan mencongkel mata korban-korbannya sebelum membunuhnya.

    Polisi dan detektif pun berusaha menguak kebenarannya lewat barang bukti yang tertinggal, termasuk buku harian tentang masa kecil sang pembunuh.

    Sementara itu, di satu tempat entah di mana, seorang gadis sedang berusaha bertahan hidup dengan satu telinga...

SINOPSIS:
    “Ada monyet keempat, tapi tidak ada seorang pun yang benar-benar mengetahuinya.”
    “Cemerlang. Rumit. Psikopat. Karakternya benar-benar memukau.”
–Marc Webb, sutradara

    Detektif Porter dari Chicago Metro telah bertahun-tahun menyelidiki sebuah kasus pembunuhan berantai namun tak berhasil mengungkap siapa si pembunuh, apalagi menangkapnya. Hingga suatu hari dia dikejutkan oleh kabar dari rekannya, Detektif Nash, tentang sebuah kecelakaan yang menewaskan seorang pria. Diduga kuat pria yang entah tertabrak bus ataukah menabrakkan diri tersebut adalah si pembunuh yang selama ini dicari, yang kemudian dijuluki Pembunuh Empat Monyet (P4M). Julukan tersebut berdasarkan filosofi Empat Monyet—berasal dari ukiran di kuil Tosho-gu di Nikko, Jepang—yang digunakan si pembunuh untuk memilih korban-korbannya. Dari sejumlah barang bukti yang dibawa si pria ketika tewas, Porter bersama Nash memulai penyelidikan. Petunjuk pertama mengarahkan mereka pada seorang konglomerat bernama Arthur Talbot. Porter dan Nash berhasil mengendus jejak petunjuk hingga mendapatkan titik terang tentang korban yang kemungkinan besar masih hidup dengan satu telinga sekarang. Misi mereka adalah menyelamatkan si gadis putri konglomerat Talbot dan menangkap si P4M.

    Selain bersama Nash, Porter juga dibantu beberapa rekan yang tergabung dalam sebuah tim penyelidikan. Mereka adalah Clair Norton, Edwin Klozowski, Tom Eisley, dan seorang petugas TKP muda yang baru dikenal Porter bernama Paul Watson. Selain beberapa petunjuk yang masih belum jelas, P4M juga meninggalkan sebuah buku catatan kecil yang ternyata berisi kisah hidupnya semasa kecil yang ditulis mirip buku harian. Walaupun tak memuat petunjuk langsung terkait penyelidikan korbannya yang sekarang, Porter mau tak mau membacanya demi memahami motif dan karakter si P4M. Penyelidikan mereka berpacu dengan waktu demi menyelamatkan sebuah nyawa, mungkin bahkan lebih dan tak sesederhana yang terlihat. Berbagai hal tak terduga, termasuk kasus-kasus lain pun terungkap, seolah si P4M dengan lihai mengarahkan para detektif untuk mengikuti permainannya.

REVIEW:
    “Tiga monyet pertama menggambarkan perbuatan yang seharusnya kita terapkan dalam hidup, tapi monyet yang keempatlah yang membawa pesan paling penting. Namanya Shizaru. Yang berarti tidak melakukan perbuatan tidak baik.” (hlm. 230)

    “Pion harus dikorbankan agar raja bisa dijatuhkan....cara terbaik untuk menghukum para ayah atas dosa mereka adalah dengan membuatnya merasakan sakit anaknya.” (hlm. 455)

    Pertama, ide dan premis novel ini sangat menarik. Pembunuh genius yang mengendalikan ‘permainan’, menggunakan filosofi yang sebenarnya berisi ajaran kebaikan sebagai motif untuk ‘menghukum’ para korban yang dipilih atas kesalahan keluarganya. Kedua, teka-teki si pembunuh misterius pun makin rumit sekaligus menarik dengan adanya dua alur cerita berbeda. Di masa kini lewat jalannya penyelidikan oleh Porter dan kawan-kawan, dan di masa lalu lewat cerita hidup P4M yang tak kalah menegangkan dan mencengangkan. Pembagian bab dengan menyoroti satu tokoh cerita secara khusus, tapi kesemuanya menggunakan POV orang ketiga, mudah dipahami dan diikuti, tidak membingungkan. Pilihan yang cerdas dan tepat.

Gaya bahasa—termasuk terjemahan dari Bhuana Sastra—nyaman dan membuat saya betah, meskipun ada kalanya muncul istilah-istilah kriminal, forensik, dan hukum. Deskripsinya mendetail tapi tak membosankan, sesuai porsinya dengan plot cerita. Barker juga sukses menggambarkan kengerian, kesadisan, dan gangguan kejiwaan sejumlah tokoh yang rumit. Saya pun merasakan kesakitan para korban dan konflik jiwa sang pembunuh sendiri sesudah mengikuti kisah masa kecilnya. Sejumlah seting ikut memancarkan aura kelam yang menakutkan, sekaligus mengajak pembaca berpikir kaitannya dengan kasus.

Barker pun merangkai plot yang rapi, piawai menjaga tempo sehingga tidak terlalu lambat tapi juga tidak terkesan terburu-buru. Sebagai buku pembuka dari cerita berseri yang direncanakan, kisah ini sempurna di mata saya dan tak memiliki plot hole. Setiap petunjuk saling berkaitan, tak ada yang tempelan atau hanya untuk mengecoh. Menyenangkan rasanya turut mencoba merangkai kepingan demi kepingan petunjuk untuk mendapatkan gambaran utuh kasus. Twists dan ending pun memuaskan, makin menambah rasa ingin tahu saya akan kelanjutan cerita dan sepak terjang P4M selanjutnya.

Penokohannya sangat kuat. Saya suka semua tokoh di sini. Baik yang protagonis, antagonis, bahkan villain si P4M sendiri. Chemistry antara Porter dan Nash sebagai partner pun bagus. Karakter mereka saling melengkapi. Porter yang cerdas, serius, teliti, dengan Nash yang suka melucu dan kadang ceroboh. Interaksi saling meledek antara Nash dan Porter, juga dengan rekan tim lain itu menyegarkan suasana. Tokoh P4M sendiri meskipun pembunuh berdarah dingin, tapi brilian dan latar belakang kehidupannya menggelitik saya untuk bersimpati. Tokoh-tokoh pendukung lain tak kalah menarik dengan karakter khas masing-masing.

Secara keseluruhan, novel thriller-crime ini sangat saya sukai dan nantikan sekuelnya. Kaver versi Indonesia ini pun menurut saya pas dan paling bagus dibanding kaver versi luar lainnya. Novel yang wajib kamu baca jika ingin merasakan paket lengkap asah otak, uji nyali, sekaligus emosi yang campur-aduk.

Sabtu, 15 September 2018

Blogtour dan Giveaway Perfect Scenario

Posted by Melani Ivi | 5:33:00 AM Categories:
 [PENGUMUMAN PEMENANG GIVEAWAY]

Halo, semua! Sudah menantikan siapa dua orang beruntung yang berhak mendapatkan novel "Perfect Scenario" plus suvenir dari penulis langsung?
Tanpa berlama-lama, inilah dua orang tersebut:
.
.
Selamat kepada:
.
Helen Dianawati
.
dan
.
Desita Wahyuningtias
.
Silakan langsung menghubungi saya via DM di salah satu akun medsos saya untuk konfirmasi pengiriman hadiah, ya. Ditunggu secepatnya.
.
Terima kasih atas kebersamaan kalian selama sesi #BlogtourGiveawayPerfectScenario ini dan juga atas partisipasi kalian. Bagi yang belum beruntung, jangan terlalu kecewa. Kamu bisa mencoba kesempatan lagi di sesi host blogtour selanjutnya. Update jadwal blogtour serta banner giveaway bisa disimak di akun medsos hosts dan Kak Kezia Evi Wiadji.
Sampai jumpa di event lainnya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Kamu sudah menyimak sesi review teenlit “Perfect Scenario” karya Kak Kezia Evi Wiadji ini, kan? Kalau belum, coba cek postingan sebelum ini [Blogtour – Review] di blog saya dan jangan lupa tinggalkan komentar kamu di sana sebagai poin plus untuk mengikuti giveaway. Atau boleh juga simak review hariannya di Instagram saya (@wordsnpages_melani3).

    Nah, bagi kamu yang ingin mendapatkan novel ini secara gratis, simak yuk ketentuannya berikut ini:

1.    Berdomisili di Indonesia

2.    Silakan pilih salah satu opsi wajib ini: ikuti/follow akun Instagram @keziaeviwiadji & @wordsnpages_melani3 ATAU akun Twitter @keziaeviwiadji & @LaniVitri ATAU Page Facebook Kezia Evi Wiadji

3.    Bagikan/share/repost info giveaway ini di salah satu akun medsosmu (boleh di Instagram/Twitter/Facebook). Jangan lupa sertakan tagar #BlogtourGiveawayPerfectScenario #PerfectScenario

4.    Akun medsosmu jangan digembok/diprivat, ya, untuk memudahkan pengecekan

5.    Jika terpilih nantinya bersedia berbagi/share kesan-kesan usai membaca novel ini di akun medsosmu

6.    Di kolom komentar postingan ini (di blog), daftarkan keikutsertaanmu dengan format: NAMA – DOMISILI – AKUN IG/TWITTER/FACEBOOK – LINK SHARE – JAWABAN PERTANYAAN

7.    Pertanyaannya: “Sebutkan satu hal paling menarik yang membuatmu ingin membaca Perfect Scenario ini, disertai penjelasan singkat!”

8.    Giveaway berlangsung tanggal 15 – 18 September 2018 (23.59 WIB) dan pengumuman pemenang selambatnya dua hari sejak giveaway ditutup di postingan blog ini. Nantinya akan dipilih dua (2) orang beruntung untuk mendapatkan novel ini gratis plus suvenir yang dikirim oleh penulis langsung.


Tunggu apa lagi? Yuk, ramaikan dan ajak teman-temanmu. Semoga kamu beruntung. Psst... jangan lupa baca baik-baik ketentuannya, ya.

[Blogtour – Review] Perfect Scenario: Musuh Bebuyutan Versus Gebetan

Posted by Melani Ivi | 5:26:00 AM Categories:
Judul buku         : Perfect Scenario
Penulis               : Kezia Evi Wiadji
Cover                 : Orkha Creative
Penerbit             : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan             : kedua, Agustus 2018
Tebal buku         : 280 hlm.; 20 cm
ISBN                  : 978-602-03208-8-5
ISBN DIGITAL    : 978-602-03840-9-2

BLURB:
    “Dengar ya, kita harus pacaran!”

    “HAH?”

    “Mulai detik ini, lo pacar gue. Dan selama itu, lo nggak boleh jalan dengan cowok lain!”

    “Eh, kamu kesurupan ya, tiba-tiba ngomong aneh begitu?!”

    “Gue sadar seratus persen. Jadi dengar—“

    “Sori, aku nggak mau!”

    “Heh! Jangan ge-er dulu. Gue sebenarnya juga nggak mau pacaran sama lo. Tapi kali ini, mau nggak mau, kita harus!”

    Ajakan kencan itu membahagiakan Finda, seandainya ia menyukai Farel. Seandainya Farel bukan duri dalam dagingnya. Seandainya Finda tidak menyukai Niko (teman baik Farel). Dan seandainya Farel tidak sedang berkencan dengan Novi. Tetapi, ajakan kencan jauh dari romantis yang disodorkan Farel ini harus diterima Finda karena mereka mempunyai tujuan yang sama, yaitu membatalkan pernikahan orangtua mereka! Ini merupakan skenario mereka.

SINOPSIS:
    “Buat gue, berantem sama Finda itu kesenangan tersendiri. Sensasinya berbeda.” (hlm. 43)

    “Jika ingin segera mengakhiri sinetron ini, ia harus bersikap baik meskipun Farel menyebalkan.”
(hlm. 89)

Finda dan Farel bertetangga semenjak kecil. Bahkan kedua mama mereka berteman baik. Semasa hidupnya, Mama Farel kerap bertandang ke rumah Mama Finda dan mengajak Farel. Sayangnya, tak demikian halnya dengan Farel dan Finda yang hubungannya lebih cocok disebut musuh bebuyutan atau bagai Tom dan Jerry. Sejak kecil, Farel senang sekali mengganggu dan membuat Finda marah. Mereka pun sering kali beradu mulut, baik di lingkungan rumah maupun sekolah. Hal ini berlanjut hingga keduanya remaja dan bersekolah di sekolah yang sama.

    Suatu hari, tiba-tiba Farel menyatakan bahwa dia dan Finda harus berpacaran. Tentu saja Finda sangat kaget dan tak menganggap serius karena bisa jadi itu salah satu kejailan Farel saja. Tapi agaknya ada alasan kuat di balik ajakan sepihak itu. Papa Farel dan Mama Finda ternyata sedang merencanakan pernikahan. Beralasan tak sudi bersaudara dengan Finda, Farel pun sukses membujuk Finda agar menyetujui keinginannya. Finda mengiakan demi harga dirinya. Mulailah skenario dirancang agar rencana pernikahan tadi dibatalkan. Skenario itu juga diketahui oleh Olly sahabat Finda, Novi pacar Farel, dan Niko sahabat Farel yang sekaligus merupakan cowok yang sudah lama ditaksir Finda.

    Tapi, tak selalu rencana yang disusun berjalan sesuai yang dikehendaki. Bagi Finda, perjanjian yang dibuat bersama Farel untuk berpura-pura pacaran dan tidak berkencan dengan cowok lain membuatnya serbasalah, apa lagi ketika Niko mulai melancarkan aksi pedekate. Di sisi Farel, Novi yang tak sudi diberi status ‘break’ pun bertingkah dan melakukan segala cara demi menghancurkan skenario tersebut. Sedangkan di pihak Mama Finda merasa senang saja karena Farel sering berkunjung dan terlihat berusaha mengakrabkan diri dengan Finda sebagai calon saudara. Dan di sisi lain ada Niko yang menunjukkan ketertarikan pada putrinya.

Hingga sebuah liburan singkat di Lembang yang awalnya direncanakan Papa Farel dan Mama Finda untuk mengakrabkan dua keluarga mengubah banyak hal. Finda dan Farel memang makin akrab, tapi juga terjadi sebuah kecelakaan dan terungkap kebenaran terkait masalah keluarga keduanya.   
Sekembalinya dari Lembang, Novi makin nekat melancarkan berbagai aksi untuk merusak sandiwara Farel dan Finda. Puncaknya, terjadi percekcokan yang mengakibatkan Finda mengundurkan diri dari skenario Farel. Hubungan Finda, Farel, dan Niko pun menjadi renggang dan rumit. Pada akhirnya mereka harus memutuskan yang terbaik demi keluarga, persahabatan dan orang-orang yang disayangi.

REVIEW:
    “Kok bingung sih? Hanya memilih    : suka, nggak suka. Mau, nggak mau. Malu, tapi mau. Cinta, tapi bingung.” Olly mengedip (hlm. 191-192)

    “Cinta membuat orang buruk menjadi baik, juga sebaliknya, membuat orang baik menjadi buruk. Semua tergantung pada tujuan kita mencintai.” (hlm. 263)

    Premis teenlit ini menarik. Yang kerap saya temukan adalah cerita dua sahabat yang berubah cinta, tapi ini justru dua musuh bebuyutan yang terpaksa menjalani peran pura-pura sebagai sepasang kekasih demi membatalkan rencana pernikahan orangtua. Tentu saja di awal baca saya langsung penasaran, akan berhasilkah skenario tak masuk akal ini dan bagaimana kisah ini akan bergulir?
    Diceritakan menggunakan sudut pandang orang ketiga dan alur dominan maju (dengan campuran kilas balik di awal dan akhir), novel ini nyaman diikuti. Gaya bahasa yang ringan khas novel remaja juga menambah keasyikan baca. Meski Farel selalu menggunakan sapaan ‘lo-gue’, tapi secara keseluruhan dialog tetap dominan menggunakan bahasa baku, jadi cocok untuk pembaca yang tak terlalu suka dengan gaya bahasa tak baku atau gaul ala anak muda. Selain itu, Finda sendiri selalu menggunakan sapaan ‘aku-kamu’, sekaligus membedakan karakternya dengan Farel.

    Dari segi penokohan, tokoh yang paling bikin gemas tapi juga ‘ngangenin’ itu tentu saja Farel. Dia ini sosok cowok yang meskipun pada dasarnya baik, ganteng, pintar, populer, tapi juga punya sisi-sisi menyebalkan, jail, dan kadang arogan. Bahkan kehadiran Novi, pacarnya yang ambekan dan kekanak-kanakan menambah gereget cerita. Wajar juga jika awalnya Farel yang punya segudang kelebihan itu memilih bersama Novi karena tertarik dengan kecantikan dan sikapnya yang manis, Tapi sejalan dengan bergulirnya cerita, saya dapat merasakan perkembangan karakter Farel dan Novi. Kedua tokoh ini juga yang paling mencolok perubahannya. Dan bagusnya, Kak Evi memberikan latar belakang yang logis dan dapat saya terima.

    Untuk tokoh Finda, saya suka sosoknya yang digambarkan mungil, manis, menyenangkan, pandai, tapi bukan cewek populer yang ditaksir cowok-cowok di sekolah. Finda tumbuh dewasa tanpa sosok ayah, juga mengidap asma sehingga saya merasa ‘related’ sama tokoh satu ini. Tipikal gadis remaja pada umumnya yang bisa kita temui di sekitar. Hubungan dekatnya dengan sang mama dan sahabat juga membuat kisah lebih hidup dan hangat. Dan yang paling saya sukai dari Finda adalah sikapnya yang berani dan enggak mau kalah setiap kali berseteru dengan Farel. Tapi tanda disadari, dia justru bisa menjadi diri sendiri ketika berinteraksi dengan Farel. Chemistry antara Finda dan Farel ini kuat, bisa bikin saya tertawa, senyum, tapi juga bisa sedih.

    Tokoh-tokoh pendukung semacam Olly dan Niko pun mendukung sekali cerita. Terutama Niko yang secara karakter sebenarnya lebih manis dan kalem dibanding Farel. Juga Olly yang gembul, ceriwis, tapi setiakawan. Bagi kamu yang penasaran sama mereka, ada juga loh novel khususnya, berjudul “Perfect Gift” hehe... sedangkan Tante Mira alias Mama Finda, Om Tonny alias Papa Farel dan mendiang Tante Sinta alias Mama Farel punya porsi penting meski tak jadi sorotan utama cerita.

    Plot terjalin rapi, dengan seting utama kota Jakarta, diselipi adegan-adegan manis perkemahan di Lembang, Festival Foodtruck dan Festival Lampion membuat kisah ini manis, tak hanya berisi konflik keluarga dan remaja. Deskripsinya cukup memuaskan, termasuk suasana sekolah dan kegiatan belajar para siswa senior. Kak Evi juga pandai memainkan dinamika cerita, sehingga saya merasa terlibat secara emosi dengan tiap adegan, baik ketika Finda dan Farel akur, galau, maupun sedang berantem, hehe... Ending yang disajikan juga memuaskan.

    Bagi yang sudah melewati masa SMA, baca teenlit ini akan memancing kerinduan kembali akan masa remaja yang penuh impian, juga sensasi rasa saat menyukai teman sekolah. Mengenang masa muda yang indah sekaligus mengingatkan kembali akan pentingnya makna keluarga. Bagi adik-adik remaja, kisah Finda dan Farel ini sangat bisa menjadi pilihan bacaan yang tak hanya mengasyikkan tapi juga sarat pesan kebaikan.

Jumat, 14 September 2018

Judul buku       : Dearest
Penulis             : Dacytta Peach
Editor              : Diah
Penerbit           : Grass Media
Tebal buku       : 322 hlm.; 14 x 20 cm
Cetakan           : pertama, Juli 2018
ISBN                : 978-602-51253-8-6

BLURB:
    Hidup Kay Natsuki terasa terhenti tatkala lahir dengan membawa kutukan. Menjadi seseorang yang berbeda dan menyendiri seumur hidupnya. Kesabaran yang ia punya tidaklah cukup menampilkan sisi baik dirinya, ia tetaplah menjadi sosok yang berbeda untuk rakyat-rakyatnya.

    Harumi Kirei, gadis yang terpilih itu harus beradu dengan nasibnya sendiri. Bersanding bersama pria dengan segala kutukannya, menjadi saksi atas keserakahan sang pengkhianat di negerinya.

    Sanggupkah Harumi menjalani hidupnya menjadi istri seorang boneka?

SINOPSIS:
    Harumi Kirei telah menjalani masa pingitan semenjak kanak-kanak. Tanpa penjelasan, Harumi dilarang keluar dari rumah dan bergaul dengan teman seusianya sehingga mendatangkan frustasi dan kekecewaan terhadap orangtuanya. Ketika masa pingitan itu berakhir di usianya yang ketujuh belas tahun, Harumi harus menjalani kenyataan pahit lain; menikah dengan pria asing dan tinggal jauh dari orangtuanya. Dijemput dengan kemewahan ala bangsawan, Harumi tak menyangka bahwa benar yang dikatakan ibunya, dia akan dipersunting sang Raja Mutlak Kerajaan Awan Kay Natsuki. Namun alangkah kecewa dan terheran-heran Harumi ketika upacara pernikahannya tidak dihadiri secara langsung oleh suaminya, justru diwakilkan pada sang Raja Bayangan Tashiro Kana Natsuki, yang sekaligus merupakan kakak beda ibu dari Kay Natsuki. Ketika Harumi mendapat kesempatan menemui Kay di kediamannya dalam ruang bawah tanah, dia sangat terkejut menyaksikan rupa sang suami yang dijuluki ‘pria boneka’. Sadarlah Harumi bahwa sang suami berbeda dan dinyatakan membawa kutukan sehingga memilih menyembunyikan diri.

    Dalam keseharian, Harumi harus menjalani tugasnya sebagai Ratu Kerajaan Awan mendampingi Tashiro. Hal ini perlahan menciptakan riak konflik. Kecantikan Harumi dan sikapnya yang kerap blak-blakan menerbitkan rasa ingin memiliki pada diri Tashiro. Raja Bayangan ini bahkan tak segan bersikap lancang. Lambat-laun hal ini diketahui oleh Kay Natsuki dan membuatnya murka. Gesekan demi gesekan pun terjadi antara Kay dan Tashiro. Hal ini diperkeruh dengan keterlibatan ibunda dari Tashiro, Selir Midori, dan kemunculan sosok Aiko Kinchan yang disebut-sebut merupakan tunangan Tashiro. Hingga kematian Aiko yang misterius disusul petaka-petaka lain terjadi di istana, dengan puncaknya pemberontakan yang disulut oleh Tashiro memaksa Kay bertindak tegas dan berani dalam memperjuangkan haknya. Di sisi lain, Harumi yang mulai mencintai suaminya juga diuji kesetiaannya. Penyelidikan yang dilakukan oleh Kay, Harumi, dan Panglima Miura pun lantas menguak pengkhianatan dan kejahatan besar yang sebenarnya terjadi sejak bertahun-tahun lalu.

REVIEW:
    “Terkadang kekecewaan dan kesepian mampu membangkitkan sisi gelap seseorang...sisi yang baik akan menghilang tertelan dalam kegelapan, tergantikan sosok tak berwujud bak monster yang akan terus mengamuk dan menggila.” (Dearest, hlm. 263)

    Apakah kamu suka membaca novel bergenre romance-fantasy? Atau kamu suka kisah dongeng fantasi ala kerajaan bernuansa budaya Jepang? Maka novel yang pernah tayang di Wattpad ini menawarkan hal-hal tersebut. Sejak awal saya disuguhi world building ala dunia dongeng fantasi dengan pernak-pernik budaya Jepang dan kehidupan istana. Deskripsinya cukup baik dengan menampilkan nuansa magis dan mistis. Menurut saya, sebenarnya masih luas ruang eksplorasi untuk penulis bisa menghidupkan deskripsi Kerajaan Awan, tapi sepertinya fokus utama memang lebih ditujukan pada kisah cinta Kay-Harumi-Tashiro. Sedangkan Ilustrasi tokoh di halaman awal dan akhir mempercantik cerita.

    Penokohannya menarik dengan menonjolkan sosok Kay Natsuki dengan kutukan yang dibawanya dan perkembangan karakternya di sepanjang cerita. Kay yang sempat bikin saya geregetan di awal-awal cerita karena sikapnya yang terlihat lemah tapi juga menampilkan sisi bijak, perlahan mulai membuka diri dan berubah lebih berani dan tegas tanpa melupakan kebijaksanaan—salah satunya berkat dorongan Harumi. Sosok Harumi sendiri meskipun cerdas dan selalu berani mengemukakan pendapat, kadang juga bikin kesal karena ceroboh dan emosional. Tapi di sisi lain saya memahami bahwa ini logis, mengingat Harumi masih berusia belia dan tak terbiasa berinteraksi dengan banyak orang di masa pingitannya, demikian juga Kay yang terbiasa menyendiri. Kontras dengan karakter keduanya, ada Tashiro yang menampilkan sosok yang ambisius, pendengki, tapi diam-diam kesepian dan merindukan kasih sayang tulus. Chemistry antartokoh utama cukup baik terbangun. Karena rate novel ini untuk 21+ maka wajar jika ada adegan dewasa, tapi masih wajar dan sejalan dengan plot cerita.

    POV yang digunakan adalah orang ketiga. Plot dengan alur cerita dominan maju—dengan sedikit kilas balik—terjalin dari konflik batin para tokoh utama maupun konflik kepentingan antartokoh. Ada kisah cinta, yang agaknya memperebutkan cinta dari seorang Harumi Kirei, kisah ibu-anak dari hubungan antara Tashiro dan Midori, dan intrik perebutan kekuasaan antara Kay sebagai pewaris tahta sah dengan Tashiro yang selama kurun waktu cukup panjang telah bertindak sebagai Raja. Menurut saya, khusus untuk intrik perebutan kekuasaan dan sejumlah kejahatan besar dalam istana masih bisa digali lebih dalam dengan menyelipkan tokoh-tokoh pejabat istana dan keberpihakan mereka secara mendetail sehingga cerita bisa lebih ‘gereget’. Tapi memang sepertinya penulis lebih memilih memfokuskan cerita pada perkembangan hubungan Kay-Harumi-Tashiro.

    Selain kisah Kay Natsuki dan Harumi Kirei, penulis juga ‘membonusi’ pembaca dengan novela Fujio yang menghadirkan kisah Fujio Natsuki, sang putra mahkota yang tak lain adalah putra Kay dengan Harumi. Kisah saat Fujio telah menginjak remaja ini nuansanya lebih ceria dan manis, tak disisipi intrik-intrik keji seperti kisah masa muda ayahnya. Di sini digambarkan Fujio yang meskipun masih muda tapi telah dianugerahi kemampuan mengenali kebaikan dan ketulusan orang lain. Tindakannya menolong seorang gadis yang disiksa dan dituduh tanpa keadilan lantas mengantarkannya pada fakta lain yang mengejutkan tentang Yuuri Chan, sang gadis yang ditolongnya. Bagi pengagum Kay dan Harumi, lewat novela ini kedua tokoh tersebut ditampilkan kembali meski dalam porsi sedikit dan cukup mengobati keingintahuan pembaca akan bagaimana kisah mereka di masa depan.

Overall, novel Dearest dan novela Fujio ini sarat pesan moral bahwa kebaikan akan menang atas kejahatan dan bahwa nilai diri kita tak semata ditentukan oleh tampilan fisik namun juga kebaikan hati. Saya menantikan karya-karya selanjutnya dari Kak Dacytta Peach dengan ide segar dan gaya penulisan yang lebih keren lagi.


“Aku tidak menginginkanmu menjadi pandai. Aku juga tidak menginginkanmu memiliki tubuh indah. Aku hanya ingin kau menjadikan dirimu lebih berharga.” (Fujio)

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube