Previous Next
  • Kacamata Sukses Ibu: Bahagia dengan Konsep Ikhlas

    “... jalan bahagia dapat kita wujudkan tanpa harus menjadi supermom yang tanpa cela, ... cukup menjadi original mom lengkap dengan segala kekurangan namun kita percaya dengan kekuatan super milik Allah ....”

  • Finally ( I Choose) You

    Ternyata bukan tentang waktu. Bukan juga tentang masa lalu. Ini tentang menemukan orang yang paling tepat untuk hidupmu. ...

  • Ibu Sang Matahari Kami

    Ibu. Satu kata panggilan yang pasti sangat akrab di telinga anak manusia mana pun di dunia. Siapa yang terlahir ke muka bumi tentulah beribu, memiliki sesosok wanita yang mengantarkan kehadiran ke dunia fana. Rahim seorang ibulah yang dititipi Sang Khaliq sebagai tempat berdiam, berlindung, sebelum siap menyongsong kehidupan yang rentan akan ujian ...

  • Baik Atau Sholihah

    Menikah adalah pilihan sadar setiap laki-laki dan perempuan dalam islam. Sebelum terjadinya akad nikah, pilihan masih terbuka lebar, akan tetapi setelah adanya akad nikah, adalah sebuah pengkhianatan terhadap makna akad itu sendiri apabila satu pihak senantiasa mencari-cari keburukan dan kesalahan pasangan dengan merasa benar sendiri ...

Sabtu, 15 September 2018

Blogtour dan Giveaway Perfect Scenario

Posted by Melani Ivi | 5:33:00 AM Categories:
Kamu sudah menyimak sesi review teenlit “Perfect Scenario” karya Kak Kezia Evi Wiadji ini, kan? Kalau belum, coba cek postingan sebelum ini [Blogtour – Review] di blog saya dan jangan lupa tinggalkan komentar kamu di sana sebagai poin plus untuk mengikuti giveaway. Atau boleh juga simak review hariannya di Instagram saya (@wordsnpages_melani3).

    Nah, bagi kamu yang ingin mendapatkan novel ini secara gratis, simak yuk ketentuannya berikut ini:

1.    Berdomisili di Indonesia

2.    Silakan pilih salah satu opsi wajib ini: ikuti/follow akun Instagram @keziaeviwiadji & @wordsnpages_melani3 ATAU akun Twitter @keziaeviwiadji & @LaniVitri ATAU Page Facebook Kezia Evi Wiadji

3.    Bagikan/share/repost info giveaway ini di salah satu akun medsosmu (boleh di Instagram/Twitter/Facebook). Jangan lupa sertakan tagar #BlogtourGiveawayPerfectScenario #PerfectScenario

4.    Akun medsosmu jangan digembok/diprivat, ya, untuk memudahkan pengecekan

5.    Jika terpilih nantinya bersedia berbagi/share kesan-kesan usai membaca novel ini di akun medsosmu

6.    Di kolom komentar postingan ini (di blog), daftarkan keikutsertaanmu dengan format: NAMA – DOMISILI – AKUN IG/TWITTER/FACEBOOK – LINK SHARE – JAWABAN PERTANYAAN

7.    Pertanyaannya: “Sebutkan satu hal paling menarik yang membuatmu ingin membaca Perfect Scenario ini, disertai penjelasan singkat!”

8.    Giveaway berlangsung tanggal 15 – 18 September 2018 (23.59 WIB) dan pengumuman pemenang selambatnya dua hari sejak giveaway ditutup di postingan blog ini. Nantinya akan dipilih dua (2) orang beruntung untuk mendapatkan novel ini gratis plus suvenir yang dikirim oleh penulis langsung.


Tunggu apa lagi? Yuk, ramaikan dan ajak teman-temanmu. Semoga kamu beruntung. Psst... jangan lupa baca baik-baik ketentuannya, ya.

[Blogtour – Review] Perfect Scenario: Musuh Bebuyutan Versus Gebetan

Posted by Melani Ivi | 5:26:00 AM Categories:
Judul buku         : Perfect Scenario
Penulis               : Kezia Evi Wiadji
Cover                 : Orkha Creative
Penerbit             : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan             : kedua, Agustus 2018
Tebal buku         : 280 hlm.; 20 cm
ISBN                  : 978-602-03208-8-5
ISBN DIGITAL    : 978-602-03840-9-2

BLURB:
    “Dengar ya, kita harus pacaran!”

    “HAH?”

    “Mulai detik ini, lo pacar gue. Dan selama itu, lo nggak boleh jalan dengan cowok lain!”

    “Eh, kamu kesurupan ya, tiba-tiba ngomong aneh begitu?!”

    “Gue sadar seratus persen. Jadi dengar—“

    “Sori, aku nggak mau!”

    “Heh! Jangan ge-er dulu. Gue sebenarnya juga nggak mau pacaran sama lo. Tapi kali ini, mau nggak mau, kita harus!”

    Ajakan kencan itu membahagiakan Finda, seandainya ia menyukai Farel. Seandainya Farel bukan duri dalam dagingnya. Seandainya Finda tidak menyukai Niko (teman baik Farel). Dan seandainya Farel tidak sedang berkencan dengan Novi. Tetapi, ajakan kencan jauh dari romantis yang disodorkan Farel ini harus diterima Finda karena mereka mempunyai tujuan yang sama, yaitu membatalkan pernikahan orangtua mereka! Ini merupakan skenario mereka.

SINOPSIS:
    “Buat gue, berantem sama Finda itu kesenangan tersendiri. Sensasinya berbeda.” (hlm. 43)

    “Jika ingin segera mengakhiri sinetron ini, ia harus bersikap baik meskipun Farel menyebalkan.”
(hlm. 89)

Finda dan Farel bertetangga semenjak kecil. Bahkan kedua mama mereka berteman baik. Semasa hidupnya, Mama Farel kerap bertandang ke rumah Mama Finda dan mengajak Farel. Sayangnya, tak demikian halnya dengan Farel dan Finda yang hubungannya lebih cocok disebut musuh bebuyutan atau bagai Tom dan Jerry. Sejak kecil, Farel senang sekali mengganggu dan membuat Finda marah. Mereka pun sering kali beradu mulut, baik di lingkungan rumah maupun sekolah. Hal ini berlanjut hingga keduanya remaja dan bersekolah di sekolah yang sama.

    Suatu hari, tiba-tiba Farel menyatakan bahwa dia dan Finda harus berpacaran. Tentu saja Finda sangat kaget dan tak menganggap serius karena bisa jadi itu salah satu kejailan Farel saja. Tapi agaknya ada alasan kuat di balik ajakan sepihak itu. Papa Farel dan Mama Finda ternyata sedang merencanakan pernikahan. Beralasan tak sudi bersaudara dengan Finda, Farel pun sukses membujuk Finda agar menyetujui keinginannya. Finda mengiakan demi harga dirinya. Mulailah skenario dirancang agar rencana pernikahan tadi dibatalkan. Skenario itu juga diketahui oleh Olly sahabat Finda, Novi pacar Farel, dan Niko sahabat Farel yang sekaligus merupakan cowok yang sudah lama ditaksir Finda.

    Tapi, tak selalu rencana yang disusun berjalan sesuai yang dikehendaki. Bagi Finda, perjanjian yang dibuat bersama Farel untuk berpura-pura pacaran dan tidak berkencan dengan cowok lain membuatnya serbasalah, apa lagi ketika Niko mulai melancarkan aksi pedekate. Di sisi Farel, Novi yang tak sudi diberi status ‘break’ pun bertingkah dan melakukan segala cara demi menghancurkan skenario tersebut. Sedangkan di pihak Mama Finda merasa senang saja karena Farel sering berkunjung dan terlihat berusaha mengakrabkan diri dengan Finda sebagai calon saudara. Dan di sisi lain ada Niko yang menunjukkan ketertarikan pada putrinya.

Hingga sebuah liburan singkat di Lembang yang awalnya direncanakan Papa Farel dan Mama Finda untuk mengakrabkan dua keluarga mengubah banyak hal. Finda dan Farel memang makin akrab, tapi juga terjadi sebuah kecelakaan dan terungkap kebenaran terkait masalah keluarga keduanya.   
Sekembalinya dari Lembang, Novi makin nekat melancarkan berbagai aksi untuk merusak sandiwara Farel dan Finda. Puncaknya, terjadi percekcokan yang mengakibatkan Finda mengundurkan diri dari skenario Farel. Hubungan Finda, Farel, dan Niko pun menjadi renggang dan rumit. Pada akhirnya mereka harus memutuskan yang terbaik demi keluarga, persahabatan dan orang-orang yang disayangi.

REVIEW:
    “Kok bingung sih? Hanya memilih    : suka, nggak suka. Mau, nggak mau. Malu, tapi mau. Cinta, tapi bingung.” Olly mengedip (hlm. 191-192)

    “Cinta membuat orang buruk menjadi baik, juga sebaliknya, membuat orang baik menjadi buruk. Semua tergantung pada tujuan kita mencintai.” (hlm. 263)

    Premis teenlit ini menarik. Yang kerap saya temukan adalah cerita dua sahabat yang berubah cinta, tapi ini justru dua musuh bebuyutan yang terpaksa menjalani peran pura-pura sebagai sepasang kekasih demi membatalkan rencana pernikahan orangtua. Tentu saja di awal baca saya langsung penasaran, akan berhasilkah skenario tak masuk akal ini dan bagaimana kisah ini akan bergulir?
    Diceritakan menggunakan sudut pandang orang ketiga dan alur dominan maju (dengan campuran kilas balik di awal dan akhir), novel ini nyaman diikuti. Gaya bahasa yang ringan khas novel remaja juga menambah keasyikan baca. Meski Farel selalu menggunakan sapaan ‘lo-gue’, tapi secara keseluruhan dialog tetap dominan menggunakan bahasa baku, jadi cocok untuk pembaca yang tak terlalu suka dengan gaya bahasa tak baku atau gaul ala anak muda. Selain itu, Finda sendiri selalu menggunakan sapaan ‘aku-kamu’, sekaligus membedakan karakternya dengan Farel.

    Dari segi penokohan, tokoh yang paling bikin gemas tapi juga ‘ngangenin’ itu tentu saja Farel. Dia ini sosok cowok yang meskipun pada dasarnya baik, ganteng, pintar, populer, tapi juga punya sisi-sisi menyebalkan, jail, dan kadang arogan. Bahkan kehadiran Novi, pacarnya yang ambekan dan kekanak-kanakan menambah gereget cerita. Wajar juga jika awalnya Farel yang punya segudang kelebihan itu memilih bersama Novi karena tertarik dengan kecantikan dan sikapnya yang manis, Tapi sejalan dengan bergulirnya cerita, saya dapat merasakan perkembangan karakter Farel dan Novi. Kedua tokoh ini juga yang paling mencolok perubahannya. Dan bagusnya, Kak Evi memberikan latar belakang yang logis dan dapat saya terima.

    Untuk tokoh Finda, saya suka sosoknya yang digambarkan mungil, manis, menyenangkan, pandai, tapi bukan cewek populer yang ditaksir cowok-cowok di sekolah. Finda tumbuh dewasa tanpa sosok ayah, juga mengidap asma sehingga saya merasa ‘related’ sama tokoh satu ini. Tipikal gadis remaja pada umumnya yang bisa kita temui di sekitar. Hubungan dekatnya dengan sang mama dan sahabat juga membuat kisah lebih hidup dan hangat. Dan yang paling saya sukai dari Finda adalah sikapnya yang berani dan enggak mau kalah setiap kali berseteru dengan Farel. Tapi tanda disadari, dia justru bisa menjadi diri sendiri ketika berinteraksi dengan Farel. Chemistry antara Finda dan Farel ini kuat, bisa bikin saya tertawa, senyum, tapi juga bisa sedih.

    Tokoh-tokoh pendukung semacam Olly dan Niko pun mendukung sekali cerita. Terutama Niko yang secara karakter sebenarnya lebih manis dan kalem dibanding Farel. Juga Olly yang gembul, ceriwis, tapi setiakawan. Bagi kamu yang penasaran sama mereka, ada juga loh novel khususnya, berjudul “Perfect Gift” hehe... sedangkan Tante Mira alias Mama Finda, Om Tonny alias Papa Farel dan mendiang Tante Sinta alias Mama Farel punya porsi penting meski tak jadi sorotan utama cerita.

    Plot terjalin rapi, dengan seting utama kota Jakarta, diselipi adegan-adegan manis perkemahan di Lembang, Festival Foodtruck dan Festival Lampion membuat kisah ini manis, tak hanya berisi konflik keluarga dan remaja. Deskripsinya cukup memuaskan, termasuk suasana sekolah dan kegiatan belajar para siswa senior. Kak Evi juga pandai memainkan dinamika cerita, sehingga saya merasa terlibat secara emosi dengan tiap adegan, baik ketika Finda dan Farel akur, galau, maupun sedang berantem, hehe... Ending yang disajikan juga memuaskan.

    Bagi yang sudah melewati masa SMA, baca teenlit ini akan memancing kerinduan kembali akan masa remaja yang penuh impian, juga sensasi rasa saat menyukai teman sekolah. Mengenang masa muda yang indah sekaligus mengingatkan kembali akan pentingnya makna keluarga. Bagi adik-adik remaja, kisah Finda dan Farel ini sangat bisa menjadi pilihan bacaan yang tak hanya mengasyikkan tapi juga sarat pesan kebaikan.

Jumat, 14 September 2018

Judul buku       : Dearest
Penulis             : Dacytta Peach
Editor              : Diah
Penerbit           : Grass Media
Tebal buku       : 322 hlm.; 14 x 20 cm
Cetakan           : pertama, Juli 2018
ISBN                : 978-602-51253-8-6

BLURB:
    Hidup Kay Natsuki terasa terhenti tatkala lahir dengan membawa kutukan. Menjadi seseorang yang berbeda dan menyendiri seumur hidupnya. Kesabaran yang ia punya tidaklah cukup menampilkan sisi baik dirinya, ia tetaplah menjadi sosok yang berbeda untuk rakyat-rakyatnya.

    Harumi Kirei, gadis yang terpilih itu harus beradu dengan nasibnya sendiri. Bersanding bersama pria dengan segala kutukannya, menjadi saksi atas keserakahan sang pengkhianat di negerinya.

    Sanggupkah Harumi menjalani hidupnya menjadi istri seorang boneka?

SINOPSIS:
    Harumi Kirei telah menjalani masa pingitan semenjak kanak-kanak. Tanpa penjelasan, Harumi dilarang keluar dari rumah dan bergaul dengan teman seusianya sehingga mendatangkan frustasi dan kekecewaan terhadap orangtuanya. Ketika masa pingitan itu berakhir di usianya yang ketujuh belas tahun, Harumi harus menjalani kenyataan pahit lain; menikah dengan pria asing dan tinggal jauh dari orangtuanya. Dijemput dengan kemewahan ala bangsawan, Harumi tak menyangka bahwa benar yang dikatakan ibunya, dia akan dipersunting sang Raja Mutlak Kerajaan Awan Kay Natsuki. Namun alangkah kecewa dan terheran-heran Harumi ketika upacara pernikahannya tidak dihadiri secara langsung oleh suaminya, justru diwakilkan pada sang Raja Bayangan Tashiro Kana Natsuki, yang sekaligus merupakan kakak beda ibu dari Kay Natsuki. Ketika Harumi mendapat kesempatan menemui Kay di kediamannya dalam ruang bawah tanah, dia sangat terkejut menyaksikan rupa sang suami yang dijuluki ‘pria boneka’. Sadarlah Harumi bahwa sang suami berbeda dan dinyatakan membawa kutukan sehingga memilih menyembunyikan diri.

    Dalam keseharian, Harumi harus menjalani tugasnya sebagai Ratu Kerajaan Awan mendampingi Tashiro. Hal ini perlahan menciptakan riak konflik. Kecantikan Harumi dan sikapnya yang kerap blak-blakan menerbitkan rasa ingin memiliki pada diri Tashiro. Raja Bayangan ini bahkan tak segan bersikap lancang. Lambat-laun hal ini diketahui oleh Kay Natsuki dan membuatnya murka. Gesekan demi gesekan pun terjadi antara Kay dan Tashiro. Hal ini diperkeruh dengan keterlibatan ibunda dari Tashiro, Selir Midori, dan kemunculan sosok Aiko Kinchan yang disebut-sebut merupakan tunangan Tashiro. Hingga kematian Aiko yang misterius disusul petaka-petaka lain terjadi di istana, dengan puncaknya pemberontakan yang disulut oleh Tashiro memaksa Kay bertindak tegas dan berani dalam memperjuangkan haknya. Di sisi lain, Harumi yang mulai mencintai suaminya juga diuji kesetiaannya. Penyelidikan yang dilakukan oleh Kay, Harumi, dan Panglima Miura pun lantas menguak pengkhianatan dan kejahatan besar yang sebenarnya terjadi sejak bertahun-tahun lalu.

REVIEW:
    “Terkadang kekecewaan dan kesepian mampu membangkitkan sisi gelap seseorang...sisi yang baik akan menghilang tertelan dalam kegelapan, tergantikan sosok tak berwujud bak monster yang akan terus mengamuk dan menggila.” (Dearest, hlm. 263)

    Apakah kamu suka membaca novel bergenre romance-fantasy? Atau kamu suka kisah dongeng fantasi ala kerajaan bernuansa budaya Jepang? Maka novel yang pernah tayang di Wattpad ini menawarkan hal-hal tersebut. Sejak awal saya disuguhi world building ala dunia dongeng fantasi dengan pernak-pernik budaya Jepang dan kehidupan istana. Deskripsinya cukup baik dengan menampilkan nuansa magis dan mistis. Menurut saya, sebenarnya masih luas ruang eksplorasi untuk penulis bisa menghidupkan deskripsi Kerajaan Awan, tapi sepertinya fokus utama memang lebih ditujukan pada kisah cinta Kay-Harumi-Tashiro. Sedangkan Ilustrasi tokoh di halaman awal dan akhir mempercantik cerita.

    Penokohannya menarik dengan menonjolkan sosok Kay Natsuki dengan kutukan yang dibawanya dan perkembangan karakternya di sepanjang cerita. Kay yang sempat bikin saya geregetan di awal-awal cerita karena sikapnya yang terlihat lemah tapi juga menampilkan sisi bijak, perlahan mulai membuka diri dan berubah lebih berani dan tegas tanpa melupakan kebijaksanaan—salah satunya berkat dorongan Harumi. Sosok Harumi sendiri meskipun cerdas dan selalu berani mengemukakan pendapat, kadang juga bikin kesal karena ceroboh dan emosional. Tapi di sisi lain saya memahami bahwa ini logis, mengingat Harumi masih berusia belia dan tak terbiasa berinteraksi dengan banyak orang di masa pingitannya, demikian juga Kay yang terbiasa menyendiri. Kontras dengan karakter keduanya, ada Tashiro yang menampilkan sosok yang ambisius, pendengki, tapi diam-diam kesepian dan merindukan kasih sayang tulus. Chemistry antartokoh utama cukup baik terbangun. Karena rate novel ini untuk 21+ maka wajar jika ada adegan dewasa, tapi masih wajar dan sejalan dengan plot cerita.

    POV yang digunakan adalah orang ketiga. Plot dengan alur cerita dominan maju—dengan sedikit kilas balik—terjalin dari konflik batin para tokoh utama maupun konflik kepentingan antartokoh. Ada kisah cinta, yang agaknya memperebutkan cinta dari seorang Harumi Kirei, kisah ibu-anak dari hubungan antara Tashiro dan Midori, dan intrik perebutan kekuasaan antara Kay sebagai pewaris tahta sah dengan Tashiro yang selama kurun waktu cukup panjang telah bertindak sebagai Raja. Menurut saya, khusus untuk intrik perebutan kekuasaan dan sejumlah kejahatan besar dalam istana masih bisa digali lebih dalam dengan menyelipkan tokoh-tokoh pejabat istana dan keberpihakan mereka secara mendetail sehingga cerita bisa lebih ‘gereget’. Tapi memang sepertinya penulis lebih memilih memfokuskan cerita pada perkembangan hubungan Kay-Harumi-Tashiro.

    Selain kisah Kay Natsuki dan Harumi Kirei, penulis juga ‘membonusi’ pembaca dengan novela Fujio yang menghadirkan kisah Fujio Natsuki, sang putra mahkota yang tak lain adalah putra Kay dengan Harumi. Kisah saat Fujio telah menginjak remaja ini nuansanya lebih ceria dan manis, tak disisipi intrik-intrik keji seperti kisah masa muda ayahnya. Di sini digambarkan Fujio yang meskipun masih muda tapi telah dianugerahi kemampuan mengenali kebaikan dan ketulusan orang lain. Tindakannya menolong seorang gadis yang disiksa dan dituduh tanpa keadilan lantas mengantarkannya pada fakta lain yang mengejutkan tentang Yuuri Chan, sang gadis yang ditolongnya. Bagi pengagum Kay dan Harumi, lewat novela ini kedua tokoh tersebut ditampilkan kembali meski dalam porsi sedikit dan cukup mengobati keingintahuan pembaca akan bagaimana kisah mereka di masa depan.

Overall, novel Dearest dan novela Fujio ini sarat pesan moral bahwa kebaikan akan menang atas kejahatan dan bahwa nilai diri kita tak semata ditentukan oleh tampilan fisik namun juga kebaikan hati. Saya menantikan karya-karya selanjutnya dari Kak Dacytta Peach dengan ide segar dan gaya penulisan yang lebih keren lagi.


“Aku tidak menginginkanmu menjadi pandai. Aku juga tidak menginginkanmu memiliki tubuh indah. Aku hanya ingin kau menjadikan dirimu lebih berharga.” (Fujio)

Senin, 30 Juli 2018

Kirana and Happy Little World: Sahabat Kecil yang Berbagi Cinta

Posted by Melani Ivi | 11:54:00 AM Categories:
Judul buku      : Kirana & Happy Little World
Cerita             : Retno Hening Palupi
Ilustrator dan desain sampul : Isnina Aryani Hasanah
Editor             : Tesara Rafiantika
Penerbit          : GagasMedia
Cetakan          : pertama, 2018
Tebal buku      : iv + 172 hlm; 13 x 19 cm
ISBN               : 978-979-780-916

BLURB:
    Dari sekian banyak tingkah ajaib anak, pasti akan selalu ada yang terkenang di hati. Entah terlalu jenaka atau mengurut dada. Namun, kita sering kali lupa bahwa dari mereka jugalah banyak pelajaran hidup yang bisa kita dapatkan.

    Kirana & Happy Little World bukan hanya potongan adegan kehidupan seorang anak jenaka, tetapi juga “sahabat kecil” semua orang yang sedang belajar mensyukuri hidup dan berbagi dengan orang lain. “Sahabat Kecil” yang bercerita bagaimana orangtua dan anak tumbuh bersama dalam cinta.

SINOPSIS dan REVIEW:
    “Kelak ketika Kirana dewasa, Kirana akan tahu banyak hal tentang berbagi. Berbagi cerita atau kabar baik kepada orang-orang yang menyayangi Kirana, misalnya. Sampai saai itu tiba, biar kita nikmati keindahan berbagi dari hal-hal sederhana... “

    Buku kedua dari Ibuk Retno Hening ini masih mengambil tema pengasuhan anak, lewat berbagi kisah keseharian bersama sang putri, Kirana. Tapi alih-alih berbentuk buku dengan narasi seperti di buku pertama, kali ini cerita berwujud komik lengkap dengan ilustrasi berwarna-warni. Berisi sejumlah judul cerita, ada berbagai sisi kehidupan sehari-hari Kirana dan Ibuk yang seru diceritakan, meskipun terkesan sederhana dan tak beda dengan keseharian keluarga lain.

    Ada kisah kebersamaan Ibuk dan Kirana di dapur ketika menyiapkan masakan dan membuat kue. Dikisahkan bagaimana Ibuk tetap bisa menyelesaikan tugas rumah tangga tanpa melupakan pengawasan terhadap Kirana, dengan cara melibatkan si cilik dalam aktivitas—meski hanya tugas ringan—lantas memberikan kesibukan positif lain yang tetap dapat dipantau. Ibuk juga mengajarkan lewat tindakan nyata mengenai pentingnya berbagi, meskipun hanya sepotong kue atau sekotak jus. Alhasil, Kirana lebih peka terhadap orang sekitar. Teladan menyayangi sesama juga tampak lewat pergaulan baik Kirana dengan teman-teman sebaya, juga rasa sayang terhadap binatang peliharaan. Kirana bahkan paham tentang pentingnya menjaga kebersihan, tak hanya di rumah tapi juga di tempat umum. Juga mengenal adab bersepatu dan berdoa menjelang tidur. Tapi sebagai anak-anak, tetap terkadang tak lepas dari tingkah ‘ajaib’ yang butuh perhatian lebih Ibuk, terlebih lagi menjelang kehadiran adik baru. Sisi kekanakan juga ditunjukkan dalam kisah bersama teman yang awalnya sedikit cekcok tapi dengan mudah berubah ceria kembali.

    Maka memang benarlah bahwa anak adalah sosok manusia paling naif, paling jujur, dan paling tulus. Dalam dunia anak, rasanya sungguh sederhana memandang berbagai hal, sehingga tak ada waktu untuk berlama-lama meratapi ketidakberuntungan atau menyimpan amarah. Dunia yang masih menyenangkan seperti sedang bermain. Karena itulah, Ibuk memberi contoh nyata bahwa mengasuh dan mendidik anak, meskipun tidaklah mudah tapi tetap bisa dibawa ‘fun’. Yang paling penting dalam pendidikan anak adalah keteladanan. Agar anak tumbuh menjadi pribadi yang baik, maka orangtua wajib memberi contoh nyata kebaikan dalam segala hal, tak melulu perkataan. Teori parenting memang penting, tapi aplikasinya jauh lebih utama. Kurang lebih itu yang dapat saya ambil dari kisah-kisah dalam buku ini.

    Buku yang menarik, pun tetap mengandung sederet pesan kebaikan, baik untuk anak, orangtua, maupun yang belum menjadi orangtua. Benar-benar ‘sahabat kecil’ yang berbagi cinta dan kebaikan bersama. Recommended. 

    “Ibu, kadang kita sulit menemukan waktu untuk melakukan hal yang kita senangi. Kadang jenuh dengan rutinitas sehari-hari. Namun, jalanilah semuanya dengan sabar dan ikhlas. Bersyukurlah Allah menitipkan kepada kita sebidang pahala bernama keluarga.” 


   



Happy Little Soul: Belajar Memahami Anak dengan Penuh Cinta

Posted by Melani Ivi | 11:51:00 AM Categories:
Judul buku     : Happy Little Soul
Penulis          : Retno Hening Palupi
Editor           : Tesara Rafiantika
Ilustrasi isi    : Isnina Aryani Hasanah dan Alzaena Ulya Rusdimi
Desainer dan ilustrasi sampul : Isnina Aryani Hasanah
Penerbit        : GagasMedia
Cetakan        : keenam, 2017
Tebal buku    : xiv + 202 hlm; 13 x 19 cm
ISBN              : 978-979-780-886-0

BLURB:     
    “Ndak apa-apa, itu namanya be-la-jar.” Atau, “Sorry... ,” seru Kirana sambil tersenyum dengan tatapan mata teduhnya yang siapa pun pasti tak bisa menolaknya.

    Please... sorry... thank you... adalah kata-kata tulus nan menggemaskan yang kerap disampaikan oleh Kirana ketika bermain. Baginya, belajar dari kesalahan is okay. Dan bagi Ibuk, dia justru banyak belajar tentang sabar dari sang anak, Mayesa Hafsah Kirana.

    Life is an adventure. Cerita petualangan Ibuk dan Kirana di Happy Little Soul ini mengajak kita semua—kakak, adik, orangtua, calon ayah atau ibu, dan sebagai apa pun perannya—untuk belajar hal-hal sederhana mengenai kasih sayang dan bersama mewarnai kehidupan dengan lebih baik.

SINOPSIS dan REVIEW:
    “Your children will become who you are, so be who you want them to be.” – David Bly

    Buku ini memang merupakan buku parenting, namun konsep yang ditawarkan bukan ‘how to...’ yang kaku seperti buku-buku nonfiksi biasanya. Penulis yang menyatakan diri ‘hanya’ ibu rumah tangga biasa yang masih harus banyak belajar lagi ini lebih menggunakan pendekatan ‘sharing’ ketimbang ‘menggurui’.

    Disajikan dalam bab-bab yang runut, diawali dengan kisah selama masa kehamilan, melahirkan, menyambut sang bayi mungil, hingga menjalani keseharian hingga usia Kirana menginjak tiga tahun. Disisipi juga beberapa foto, surat tulisan tangan penulis, corat-coret hasil kreativitas Kirana, dan ilustrasi khusus dari tim ilustrator yang berwarna dan menggemaskan di sepanjang buku. Selain itu, kertas buku berwarna-warni sehingga tampilan lebih menarik. Ada tip berupa poin-poin dalam beberapa babnya, tapi tetap dengan gaya bahasa bercerita yang ringan. Bahkan ada resep makanan favorit dan cara membuat mainan kreasi sendiri yang mudah. Diceritakan juga perjuangan Ibuk merawat Kirana yang istimewa dengan dermatitis atopi-nya, yang selalu menjadi perhatian orang-orang terdekat dan bagaimana Ibuk menyikapi.

    Buku ini mungkin memang tidak setebal dan sedetail buku parenting lain dalam memerinci referensi dan informasi pengasuhan anak, tapi tetap saja saya mendapatkan banyak pelajaran, hikmah, dan pesan yang bagus darinya. Karena didasarkan pengalaman nyata seorang ibu muda yang belajar mengasuh dan mendidik anaknya dari nol, saya bisa turut merasakan suka-dukanya dan merasa lebih terkoneksi. Mempersiapkan kehadiran seorang anak nyatanya tak semata perkara kesiapan materi, namun yang lebih utama dan ‘berat’ justru perkara kesiapan mental dan ilmu. Setiap langkah dan usaha harus senantiasa dibarengi dengan niat ikhlas dan doa. Setiap anak pun unik, sehingga tak mungkin apa yang dialami setiap ibu akan sama persis. Oleh sebab itu, kesabaran tiada batas harus selalu ditanamkan dan dipahamkan, baik pada sang ibu maupun ayah. Kerja sama tim ‘ayah-ibu’ dalam pengasuhan juga tidak kalah penting. Sebagai pasangan, harus memiliki kesadaran untuk saling membantu memikul tanggung jawab bersama. Dan dari yang saya ketahui, bantuan sekecil apa pun dan dukungan dari pasangan berdampak besar bagi kebahagiaan seorang ibu. Dan tentu saja jika ibunya bahagia, anaknya pun bisa merasakan dan tumbuh dengan bahagia juga. Poin penting lain yang saya catat dari buku ini adalah dalam hal membangun komunikasi aktif antara ibu dan anak. Ibuk Retno membiasakan diri selalu mengajak Kirana berbicara, bahkan semenjak si kecil belum paham dan atau belum bisa menanggapi balik. Nyatanya, upaya konsisten ini menunjukkan hasil positif di kemudian hari. Selain tumbuh sebagai anak yang cepat perkembangan bahasanya, Kirana juga pintar merespon emosi dan tumbuh menjadi pribadi yang empatik.

    Secara keseluruhan, buku parenting yang satu ini sangat direkomendasikan bagi para ibu muda, calon ibu maupun ayah, dan pembaca umum yang membutuhkan ‘sahabat’ dalam mencari ilmu tentang pola pengasuhan anak. Gaya bahasanya yang ringan mudah dipahami dan tidak membosankan. Mungkin ilustrasi hanya perlu diperjelas lagi di bagian resep dan tip, selebihnya tidak masalah. Saya juga sangat suka dengan cover dan bookmark-nya.

    “Berbahagialah, Ibu. Anak yang bahagia pasti dibesarkan oleh seorang ibu yang tidak lupa berusaha membahagiakan dirinya juga.” (hlm.194)


Selasa, 24 Juli 2018

Aku Bukan Dia: Jika Cinta Mengucap dan Takdir Berkata

Posted by Melani Ivi | 7:17:00 AM Categories:
Judul buku     : Aku Bukan Dia
Penulis           : Arleen A.
Editor             : Mutiara Arum & Herlina P Dewi
Penerbit         : Stiletto Book
Cetakan         : pertama, Mei 2018
ISBN              : 978-602-6648-52-5
Tebal buku     : 274 hlm

BLURB:
Andy
Tahu bahwa tidak ada jalan hidup manusia yang sempurna, yang ada hanya satu guci abu yang tak juga dapat ditaburnya ke laut lepas.

Linda
Tahu bahwa tidak ada jaminan atas kata-kata selamanya, yang ada hanya janji serapuh tisu yang dengan mudah dapat dikoyak.

Berdua
Tahu bahwa tidak ada hubungan yang sempurna, yang ada hanya sebuah pertemuan kebetulan.

Berdua
Tahu bahwa tidak ada jalan yang bebas dari kerikil, yang ada justru dinding-dinding yang muncul entah dari mana.

Tapi jika cinta mengucap dan takdir berkata, apakah hati justru akan jadi penghalang?

SINOPSIS:
    “Mungkin setiap orang punya definisi berbeda tentang kata “terbaik”. Atau mungkin orang yang sama punya definisi berbeda pada waktu yang berbeda.” (hlm. 262)

Andy Charleston adalah seorang profesor muda dan dosen pengajar di Santa Clara University (SCU). Duda beranak satu ini telah ditinggalkan istrinya, yang meninggal setelah melahirkan putri mereka, Chloe. Meski sudah lewat beberapa tahun, Andy belum mampu melupakan Lina, mendiang istrinya, apalagi terpikir untuk menikah lagi. Oleh karena itu, sang mama berusaha mengenalkannya pada beberapa wanita, termasuk pada Rebecca, anak dari teman baiknya. Andy tak kuasa menolak dan mencoba dekat dengan Rebecca. Hingga suatu hari, Andy bertemu seorang mahasiswi di kampusnya yang berparas mirip dengan Lina. Namun mahasiswi yang sempat disangkanya foreign student tersebut jelas memiliki karakter yang berbeda jauh. Linda, demikian namanya, tak dimungkiri mulai merebut perhatian Andy.

    Linda Dirgajaya, gadis sembilan belas tahun yang berketurunan Indonesia merupakan mahasiswi baru di SCU. Ia pernah tak sengaja bertemu Andy di kampus dan tak menyangka bahwa pria tersebut adalah dosen pengajar di salah satu mata kuliah yang diambilnya. Kekaguman pada paras Andy dan cara mengajarnya lantas berubah menjadi rasa suka yang disimpan diam-diam. Usia mereka jelas terpaut jauh dan status sebagai mahasiswi tentu tak membolehkannya berandai-andai menjalin kedekatan dengan sang profesor.

    Di sisi lain, Robert teman sekampus Linda gencar melancarkan pendekatan. Perlahan usahanya membuahkan hasil karena Linda mulai akrab dengannya. Ada pula Jack, mantan kekasih Linda semasa sekolah yang awalnya memutuskan hubungan dengan alasan yang tak Linda pahami yang kemudian hadir lagi. Agaknya Jack ingin kembali pada Linda.

    Ketika Andy dan Linda sama-sama telah memahami kejelasan perasaan masing-masing, takdir seolah memihak pada mereka. Andy berkesempatan mengajak Linda menghabiskan waktu bersama dengan putrinya. Berawal dari sinilah, mereka semakin akrab dan saling mengungkapkan perasaan. Namun hubungan beda usia jauh ini masih harus melewati berbagai rintangan. Baik restu dari masing-masing orangtua, gangguan pihak ketiga, hingga yang terbesar adalah rahasia yang masih disembunyikan Andy dari Linda terkait mendiang istrinya.

REVIEW:
    “Bahwa kau menyayangiku, itu saja sudah cukup bagiku.” (hlm. 270)
    “Ada begitu banyak kebetulan... Tapi bukankah memang tidak ada kebetulan di dalam hidup ini?” (hlm. 273)

    Bagaimana rasanya merasa dicintai semata karena kemiripan fisik dengan seseorang yang lain yang pernah dekat dengan orang yang kita cintai? Tentu saja manusiawi jika lantas kita meragukan cinta itu sendiri. Dan apakah mungkin dua orang berbeda yang bahkan tak saling kenal memiliki paras yang mirip? Novel romansa ini mengangkat kisah cinta yang dibalut topik ‘kebetulan-kebetulan’ dalam hidup dan kesempatan kedua. Apa definisi dari mencintai dan dicintai. Bukan tema baru memang, tapi penulis menyelipkan detail selain romansa dan mengemas dengan baik sehingga kisah ini tetap menyenangkan untuk dibaca.

    Penggunaan POV orang ketiga secara bergantian—Andy dan Linda—cukup menarik. Sebagai pembaca, saya cukup dimudahkan dengan gaya ini. Karakter Andy dan Linda yang sama-sama kalem dan manis membuat pembaca mudah jatuh suka dengan mereka. Kehadiran Chloe, gadis cilik yang manis dan santun juga menambah daya tarik. Pengalaman pribadi Mbak Arleen sebagai seorang ibu maupun penulis buku anak menurut saya berperan besar dalam mengeksplorasi interaksi antara Chloe dengan Andy maupun Linda. Adegan-adegan manis yang melibatkan Chloe juga menjadi nilai plus dan membuat saya jatuh cinta dengan kisah ini. Sedangkan tokoh-tokoh pendukung lain memiliki porsi yang pas tanpa terkesan terlalu ‘drama’. Nuansa keluarga besar Andy dan Linda cukup kental juga dalam cerita ini.

    Terkait plot, novel ini memang bisa dibilang minim konflik rumit. Kisah hubungan Andy dan Linda mengalir, digambarkan manis dan romantis. Konflik utama meruncing di bagian akhir, eksekusi penyelesaiannya logis tak terkesan dipaksakan, disertai twist ending yang cukup mengejutkan. Meskipun minim konflik, saya tetap menikmati karena seperti yang saya sebutkan tadi, ada poin plus yang melibatkan hubungan ayah-anak-ibu di sini. Ada momen-momen yang menyentuh, juga pesan-pesan moral yang diselipkan dengan apik.

    Berseting di Amerika Serikat dengan para tokoh warga setempat memang seakan menjadi salah satu ciri khas tulisan Mbak Arleen. Secara keseluruhan penggambaran keseharian dan gaya hidup warga Amerika sudah bagus. Hanya ada satu hal yang agak mengganjal. Mengenai sapaan yang digunakan, sepertinya penulis masih mencampuradukkan gaya sapaan kultur timur dengan barat, seperti pemakaian sapaan ‘Tante’ dan ‘Nak’ untuk yang lebih tua dan yang lebih muda tapi tak memiliki hubungan darah (kekerabatan). Padahal setahu saya, di kultur barat cukup memanggil nama depan jika bukan kerabat tapi sudah akrab. Menurut saya lebih baik sepenuhnya mengadaptasi kultur barat sesuai seting dan penokohan, tidak masalah jika akhirnya feel terasa seperti novel luar atau terjemahan. Typo sangat minim, seingat saya hanya sedikit kesalahan POV di halaman tertentu.

    Overall, kamu pencinta novel romance tak hanya akan jatuh cinta dengan kisah manis Andy dan Linda tapi juga dengan si cilik Chloe. Gadis kecil ini justru tokoh paling favorit saya di sini. Baca novel ini bikin kita merasakan lagi jatuh cinta, juga memaknai kembali kata ‘mencintai’. What a sweet story!

“Terkadang cinta terlalu cepat pergi. Tapi bukankah selalu ada kesempatan kedua untuk segalanya... bahkan untuk cinta juga?”

Parade Para Monster: There’s a Monster inside Me

Posted by Melani Ivi | 7:10:00 AM Categories:
Judul buku  : Parade Para Moster
Penulis        : Eva Sri Rahayu
Editor         : Vivekananda Gitandjali TD
Ilustrasi      : Grace Djiauw
Penerbit      : M&C (Penerbit Clover)
Cetakan      : pertama, 2017
Tebal buku  : 309 hlm

BLURB:
    Semenjak kekuatan misterius dalam dirinya bangkit, Weena jadi sangat terobsesi pada Festival Halloween yang diadakan di Greenwich Village di Manhattan. Bagi Weena yang dianggap monster, tidak ada tempat yang lebh cocok selain Festival Halloween: paradenya para monster!

    Bersama dengan sahabatnya, Jack, Weena mendaftar sebagai volunteer di Festival itu. Sayangnya, pengajuan mereka ditolak. Tapi tiba-tiba, muncul undangan misterius untuk datang ke Festival Halloween “yang lain”.

    Sebuah undangan yang membuka pintu ke dunia para monster... yang akan membahayakan nyawa mereka berdua!

    “I’m never afraid, never sad, and never cry. I will destroy those who hurt me. I am a monster.”

SINOPSIS:
    “Kekuatan yang kau miliki bisa menjadi anugerah dan kutukan. Kaulah yang harus memilih, pada sisi mana kau berdiri.” (hlm. 211)

    Weena menyadari kekuatan misterius dalam dirinya di usia belia. Reaksi ketakutan yang diperlihatkan teman-temannya diiringi julukan monster yang ditujukan padanya membuat Weena membenci diri sendiri. Dia pun tumbuh menjadi remaja penyendiri. Satu-satunya teman baik yang Weena miliki adalah Jack. Mereka memiliki kesamaan minat, terutama menyangkut obsesi terhadap segala hal terkait Halloween. Ketika berturut-turut pengajuan diri mereka sebagai volunteer dalam Festival Halloween Manhattan ditolak, datang undangan misterius lain. Meskipun sempat ragu, Weena dan Jack tetap tak ingin menyia-nyiakan kesempatan langka menghadiri Festival Halloween, apalagi jika ditilik dari lokasi yang disertakan ternyata tidak jauh dari Festival yang awalnya hendak mereka kunjungi.

    Meskipun sempat nyaris tak mendapat izin mamanya, Jack akhirnya bisa pergi bersama Weena. Ternyata obsesinya mengunjungi Festival tersebut ada kaitannya dengan papa kandungnya yang disebut-sebut menghilang bertahun-tahun lalu. Setibanya di Manhattan, Weena dan Jack sempat kebingungan menemukan lokasi yang ditunjukkan undangan, yang anehnya lagi disertai petunjuk dan mantera. Hingga mereka bertemu gadis setempat bernama Anne yang lantas mengenalkan mereka kepada Dyllan dan Frank yang ternyata juga diundang ke Festival misterius. Selain itu, ada juga Pieter, teman baik Anne yang ramah namun terkadang tampak misterius. Berkat kejelian, akhirnya Weena, Jack, Anne, Dyllan, dan Frank berhasil menemukan lokasi lalu masuk ke sebuah tempat ajaib bernama Far-Far Away, sesuai yang diarahkan undangan.

    Di Far-Far Away, kelimanya disambut penduduk yang misterius dan ajaib. Ada keluarga Drakula, para Dwarf, Mr. Edward, Miss Fairy, para Zombie, Mr. Merlin, hingga Mr. Maple yang misterius. Segala hal dalam Far-Far Away benar-benar bagaikan dongeng fantasi. Melalui sebuah upacara penyambutan disertai sumpah, kelima undangan memulai petualangan. Tak disangka, mereka juga diajak berpartisipasi dan berbaur dengan parade Festival Halloween di Green Village. Namun, menjelang parade mulai muncul kejadian-kejadian aneh, dan puncaknya teror mengerikan yang terjadi di malam parade.

    Weena bahkan mencurigai teman-temannya sendiri. Hingga dia diharuskan menggunakan kekuatan demi menyelamatkan nyawanya dan menguak misteri akan dalang di balik teror. Di sini pulalah dia dihadapkan pada pilihan apakah akan menjadi monster mengerikan ataukah berdiri di sisi kebaikan.

REVIEW:
    “Tidak masalah menjadi monster atau pahlawan, itu hanyalah sebutan. Tapi yang penting adalah bagaimana menerima diri apa adanya.” (hlm. 304)

    Mengangkat tema Halloween, novel fantasi dengan aura misteri dan thriller yang kental ini berseting Amerika Serikat dan Indonesia. Deskripsi seting cukup mendetail, terutama bagaimana membangun dunia fantasi Far-Far Away dan situasi Festival Halloween. Di dalam buku juga disertakan ilustrasi di beberapa halaman yang mendukung deskripsi dan memudahkan saya membayangkan cerita.

Tokoh-tokoh utamanya remaja yang memiliki kekuatan dan bakat unik yang membuat mereka berbeda dan dalam keseharian dijauhi teman-teman sebaya. Menggunakan POV orang pertama—aku sebagai Weena, novel ini ingin membuat pembaca merasakan bagaimana menjadi remaja yang dicap sebagai monster ‘hanya’ karena berbeda. Dan menurut saya hal ini cukup berhasil. Saya bisa merasakan konflik batin Weena terkait jati diri dan peran keluarga serta teman baiknya dalam mendorongnya membuat keputusan di saat-saat kritis. Karakter Weena sendiri meskipun terkadang masih terkesan labil dan gamang dengan jati diri, tapi tetap mempunyai sisi-sisi positif, semisal kesetiakawanan, kasih sayang, kecerdasan, dan keberanian. Demikian juga dengan sosok Jack yang sering tampak acuh tapi sebenarnya perhatian dan pemberani. Tokoh-tokoh remaja lain juga memiliki kekuatan karakter masing-masing. Penokohan secara keseluruhan kuat, juga tetap logis dan manusiawi.

    Alurnya dominan maju dan plotnya terbilang rapi. Petunjuk demi petunjuk yang mengarahkan pembaca pada rahasia masa lalu serta mengerucut pada konflik utama disuguhkan dengan apik. Saya diajak menebak apa kekuatan dari masing-masing tokoh dan kaitannya dengan teror, siapa yang baik atau jahat. Sisipan wawasan terkait Halloween dan teori psikologis untuk menunjang cerita dan penokohan pun disuguhkan dengan cukup luwes. Saya sebagai pembaca merasa mendapat asupan informasi yang relevan dengan cerita. Twist dan ending-nya pun logis dan dapat saya terima. Memuaskan, dengan pesan moral yang jelas. Meskipun terpancing untuk ikut menerka-nerka teka-teki teror, saya tetap dapat menikmati keseluruhan cerita.

    Bagi pembaca remaja, novel ini layak sekali dibaca. Gaya bahasanya yang ringan akan membuat nyaman meskipun ini merupakan novel remaja bertema fantasi. Saya menantikan karya penulis selanjutnya, tentunya dengan ide baru lainnya.

Sabtu, 30 Juni 2018

Kilovegram: Cinta Bukan Soal Ukuran Tapi Soal Perasaan

Posted by Melani Ivi | 8:07:00 AM Categories:
Judul                : Kilovegram
Penulis             : Mega Shofani
Desain sampul  : Orkha Creative
Penerbit           : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit     : 2018, cetakan pertama
Tebal buku       : 272 hlm; 20 cm
ISBN                : 978-602-03-7915

BLURB:
    Kata orang, Aruna itu sebenarnya cantik, tapi... gendut.

    Iya, Aruna tahu ia gemuk. Ia pun kenyang dan tidak mempan lagi diejek. Habisnya bagaimana? Ia paling sulit menolak makanan, apalagi yang enak. Masakan Mama, misalnya. Atau traktiran Raka, sahabatnya.

    Tetapi sikap cuek Aruna mulai berubah setelah Nada, sepupunya yang cantik dan serbabisa, masuk ke SMA yang sama dengannya. Bukan itu saja, Raka terang-terangan memuja dan mendekati Nada sehingga membuat Aruna merasa tersisih dan minder. Apa yang harus ia lakukan agar bisa seperti Nada?

    Aruna pun memutuskan mulai berdiet. Bagaimanapun caranya, ia harus langsing , langsing, langsing! Ia tidak akan kalah dengan cewek-cewek lain di sekolah dan akan mendapatkan kembali perhatian Raka.

    Diet dimulai dari... sekarang!

SINOPSIS:
    “Gimana mau punya cowok kalo badan aja pipi semua? Gimana mau ada yang naksir, betis aja kayak tabung gas begini? Jatuh cinta sih jatuh cinta... Yang nangkep cintanya ada nggak?” (hlm. 21)

    Aruna Mega yang akrab disapa Runa memasuki sekolah baru, SMA Angkasa Jakarta. Di SMA ini ada sahabat baiknya semenjak kecil, Raka Gheoputra alias Raka yang sudah jadi siswa senior. Sebagai pengurus OSIS, Raka terlibat dalam kepanitiaan masa orientasi siswa baru. Dan pagi itu, Raka sedang berlagak serius menghukum Runa melakukan push-up. Awalnya hukuman berjalan semestinya dengan diselingi adu mulut setengah bercanda di antara Raka dan Runa, tapi mendadak terhenti karena Runa jatuh pingsan. Ternyata pagi itu Runa melewatkan sarapan karena kesiangan bangun. Di rumah kemudian, Mama mengabarkan bahwa sepupu Runa yang bernama Nada Aurelia atau Nada akan pindah sekolah ke Jakarta dari Tasikmalaya. Tak hanya itu, Nada memilih bersekolah di SMA yang sama dan tinggal serumah dengan Runa. Tentu saja Runa antusias karena selama ini dia hanya tinggal berdua dengan mamanya sepeninggal sang papa. Dan lebih senang lagi ketika mengetahui bahwa Nada sekelas bahkan sebangku dengannya.

    Secara fisik dan karakter, Runa dan Nada sangat jauh berbeda. Aruna gemuk, doyan makan, cuek, dan tidak punya sahabat selain Raka. Sedangkan Nada selain cantik alami nan langsing, juga berprestasi di luar mata pelajaran, supel, dan modis meskipun tidak berlebihan. Di hari pertama Nada masuk sekolah, nyaris seluruh siswa terpukau dan tak menyadari bahwa dia dan Aruna adalah sepupu. Demikian pula dengan Raka yang ikut terpikat dan tak menyangka bahwa Runa memiliki sepupu secantik Nada. Dimulailah aksi pendekatan Raka terhadap Nada. Apalagi dalam waktu dekat akan diadakan pentas seni sekolah, dengan menggelar aneka lomba. Nada yang ikut serta dalam lomba puisi diiringi petikan gitar akustik dan rajin berlatih di ruang musik kerap disambangi Raka. Perlahan Raka seolah tak punya waktu lagi untuk Runa. Hal ini membuat Runa merasa tersisih. Selain itu, teman-teman di sekolah pun menyanjung Nada sehingga sontak membuat Runa membanding-bandingkan dirinya dengan sang sepupu hingga terbitlah rasa minder. Di lain pihak, dua teman perempuan Runa sejak SD, Diana dan Imey yang terkenal suka bergosip juga bersekolah di SMA Angkasa. Mereka berdua semenjak dulu gemar mengganggu Runa. Dua cewek itu bahkan punya nama sapaan khusus untuk Aruna: Arundut. Walaupun sebagian besar waktu Runa tak menanggapi cemoohan mereka, tapi sesekali dia juga membela diri dengan melontarkan balik perkataan pedas.

Ketika tawaran Raka agar Runa mendaftar di ajang lomba pagelaran busana datang, Runa akhirnya menerima. Runa bertekad ingin menunjukkan pada semua orang bahwa dia pun berani berekspresi dan tidak akan kalah dengan cewek-cewek lain di sekolah. Sayangnya, ketika hari diadakannya pagelaran busana datang, Raka yang menyaksikan penampilan Runa yang berubah drastis justru menertawakan dan mengolok-olok di depan teman-teman mereka. Ditambah lagi, gaun yang dikenakan Runa kembaran dengan Nada. Tapi Raka tak menyadari kesalahannya dan menganggap itu sekadar candaan antarsahabat. Walaupun sempat jatuh mental, Runa pada akhirnya memilih tetap maju ke perlombaan. Dia tak sudi menyerah. Dan tak dinyana, justru dalam perlombaan tersebut Runa menyabet dua gelar juara sekaligus. Momen ini memacu semangat Runa untuk berubah. Selain itu, dia juga ingin merebut kembali perhatian Raka. Maka Runa memutuskan mengonsumsi obat pelangsing yang dijual bebas di pasaran lewat toko daring. Dia juga ngotot mengurangi porsi makan dan rajin berolahraga sendiri.

    Selama proses mencapai bobot tubuh ideal tersebut, hubungan persahabatan Runa dan Raka makin merenggang. Bahkan, sebuah insiden kesalahpahaman yang diwarnai adu mulut dan emosi yang memuncak membuat hubungan dua sahabat ini memburuk. Suatu hari, ketika seorang senior laki-laki bernama Valen mengganggu Runa tepat di depan mata Raka, ia bahkan tak membela bahkan pura-pura tak mengenal Runa. Tapi Runa tak gentar dan justru menunjukkan sikap perlawanan dengan kata-kata menohok yang membuat Valen dan yang menyaksikan tercengang. Di lain sisi, efek ‘program’ diet ketat yang dijalani Runa diam-diam mulai menampakkan hasil. Banyak teman sekolah yang nyaris tak mengenali lagi Runa dengan ‘penampilan’ barunya dan tak sedikit yang memuji. Termasuk Raka, yang pada sebuah kesempatan acara makan malam bersama keluarga, tak menyangka akan menyaksikan Runa yang cantik dalam balutan gaun yang terasa familier. Namun kecanggungan di antara mereka belum reda, apalagi Runa teringat bahwa Raka semakin dekat dengan Nada akhir-akhir ini.

Hingga suatu waktu, Mama mendorong Runa untuk berpartisipasi dalam sebuah lomba pagelaran busana berskala lebih besar daripada yang diselenggarakan di sekolah. Runa pun mengiakan saran sang mama. Yang mengejutkan, ketika berada di area kompetisi, Runa bertemu dengan Diana. Rupanya Diana juga ikut berkompetisi. Sesudah diselingi adu mulut, dua gadis ini bersaing di panggung. Dan betapa tercengangnya Diana ketika di momen pengumuman, gelar juara yang direbutnya masih kalah level dibanding yang berhasil diraih Runa. Dilontarkanlah pernyataan menusuk kepada Runa sebagai aksi pelampiasan atas kekesalannya.

Selang beberapa waktu kemudian, ketika Runa bersiap meninggalkan area sekolah di sore hari, tak sengaja dia memergoki seorang cowok tak dikenal hendak berbuat tak senonoh terhadap Diana. Beruntunglah Runa berhasil membuat cowok itu pergi berkat keberaniannya. Diana yang merasa berterima kasih lantas mengenalkan Runa pada kakak laki-lakinya, yang ternyata adalah Valen. Semenjak itulah hubungan Runa, Diana, dan Valen berubah baik. Ketika suatu hari Runa dirawat di rumah sakit, Diana dan Valen bahkan juga datang membesuk. Raka yang pada saat itu juga berada di ruangan yang sama, merasa terkejut dengan kedekatan mereka. Diam-diam, tebersit rasa cemburu. Ditambah lagi, di hari-hari selanjutnya, Valen kerap bersikap manis pada Runa. Puncaknya, Raka mengultimatum Valen agar menjaga jarak dengan Runa yang berubah menjadi petaka. Tak lama kemudian Raka mengumumkan bahwa dia dan Nada telah resmi berpacaran. Runa yang tak bisa membohongi diri sendiri, berkeluh kesah dan menceritakan isi hatinya pada Diana. Diana menyarankan agar Runa mengakui perasaaannya secara langsung pada Raka.

Apakah Raka lebih memilih sahabat yang ternyata berubah suka padanya, atau sepupu sahabatnya yang nyaris sempurna dan juga menyukainya?

REVIEW:
    “... cinta bukan sekadar mementingkan fisik. Melainkan melibatkan lebih dari itu... perasaan. Dan kelak akan ada saatnya seseorang yang mebuktikan semua itu.” (hlm. 118)

    “Ketika keadaan menekan seseorang, dia dituntut berubah agar bisa keluar dari tekanan. Itu yang gue lakukan.” (hlm. 151)

    Tema yang diangkat oleh teenlit satu ini memang tidak asing lagi di kalangan remaja. Tentang penilaian seseorang berdasarkan penampilan fisik semata serta konflik bullying yang mengiringi, juga kisah persahabatan yang berubah cinta. Tapi penulis menurut saya sukses mengeksekusi tema tersebut menjadi kisah segar yang menarik dan tetap relevan. Penggunaan POV orang ketiganya pas, membuat saya tetap merasa ‘dekat’ dengan masing-masing tokoh. Walaupun Aruna menjadi tokoh sentral, POV ini menjadikan tokoh lain terasa sama penting dan berperannya dalam keseluruhan kisah. Seting Jakarta, terutama di sebuah SMA, dengan segala pernik kehidupan siswa menjadikan novel ini tak kehilangan nuansa kehidupan remaja. Ditambah lagi kisah persaingan dalam kompetisi luar sekolah, masalah kenakalan remaja yang ada kaitannya dengan keluarga, menjadi ‘bumbu’ yang membuat kisah lebih menarik sekaligus tak kehilangan arah. Alur maju yang mendominasi juga nyaman untuk diikuti.

    Tentang penokohan, selain Aruna sebagai tokoh sentral, kehadiran Raka dan Nada cukup menyita perhatian. Meskipun tidak memfavoritkan Raka (yang dengan segala ucapan pedas, keegoisan dan sikap plinplannya bikin saya geregetan setengah mati), saya tetap mengapresiasi perannya yang secara tidak langsung memicu semangat Runa untuk berani berekspresi dan mengusahakan perubahan. Nada pun menjadi tokoh penengah yang terkesan netral, walaupun tetap disisipkan sifat manusiawi di mana dia juga senang diperhatikan dan ingin memiliki seseorang yang disukai. Selain itu, Diana, Imey, dan Valen yang pada dasarnya menjadi antagonis, menambah keseruan cerita. Saya paling suka adegan ketika Runa berkonfrontasi dengan Diana dan Valen sebelum mereka berubah menjadi teman baik. Emosinya sangat terasa. Juga disisipkan kata khas ala Runa yang membuat saya senyum-senyum. Yang sedikit saya sayangkan adalah sosok Vio, seorang senior baik hati yang perannya terasa hanya secuil. Padahal sosok ini cukup menarik dan membuat saya penasaran dengan latar belakangnya. Sedangkan mama dari Aruna berperan cukup penting sebagai sosok dewasa pengayom dan panutan para tokoh remaja di sini.

    Mengenai deskripsi, nuansa kehidupan sekolah dan remaja pada umumnya cukup sukses digambarkan. Hanya sedikit catatan mengenai fashion style para tokoh dalam beberapa kesempatan. Terutama momen ketika Runa, Nada, dan Diana terlibat kompetisi pagelaran busana. Saya merasakan detail pemaparan penulis tentang istilah-istilah khusus jenis busana dan aksesoris yang dikenakan masih kurang terperinci. Seharusnya riset bisa lebih mendalam lagi agar terasa ‘feel’ kompetisinya. Detail ini juga bisa mempertajam karakter tiap tokoh tersebut.

    Secara keseluruhan, saya suka sekali dengan teenlit ini. Kovernya 'remaja banget', dengan paduan warna yang menarik, juga ilustrasi tokoh Aruna yang kece sekaligus menggambarkan isi buku. Emosi saya campur-aduk selama membaca. Ada kalanya tertawa dan senyum geli, gemas, kesal, dan tersentuh. Salut dengan sikap pantang menyerah Runa, dengan keberaniannya, dengan sikapnya yang terkesan cuek tapi baik hati dan mudah memaafkan, serta sikap hormatnya pada yang lebih tua. Runa mewakili pesan cerita tentang menjadi sosok remaja yang berkarakter, tidak mudah terpengaruh efek buruk pergaulan masa kini. Novel yang menghibur sekaligus patut dibaca oleh para pembaca belia masa kini, terutama yang sedang gamang mencari jati diri.
   

Senin, 21 Mei 2018

Arterio: Sebab Cinta Sejati Mengalir Sampai ke Jantung

Posted by Melani Ivi | 11:15:00 AM Categories:
Judul buku             : Arterio
Penulis                   : Sangaji  Munkian
Editor                    : Auliya Milatina Fajwah
Penerbit                 : BITREAD Publishing
Tahun terbit           : 2018
Tebal buku             : XII + 410 hlm.
ISBN                      : 978–602–5634–1-6

BLURB:
    Seseorang yang menekuni bidang medis umumnya berperangai ramah, penyabar, dan punya kepedulian yang tinggi untuk menolong mereka yang terluka, tetapi itu tidak berlaku bagi Zag Waringga, dia tipikal pemarah, emosian, juga pendendam. Alih-alih menciptakan ramuan yang dapat menyembuhkan, Zag justru menciptakan racun paling mematikan. Lain halnya dengan Nawacita, dia adalah sosok yang begitu perhatian, penuh belas kasihan, tetapi terlampau naif, padahal dia memiliki potensi istimewa yang selangka bintang jatuh, yakni merasakan detak jantung beserta aliran darah secara terperinci.

    Arteri(o) akan mendenyutkan sebuah kisah yang berangkat dari pertanyaan: apakah tempat yang kini kau tempati sudah tepat? Bagaimana jika itu tidak sesuai dengan karakter dan tujuan hidupmu? Apakah petuah di mana pun kau ditempatkan Tuhan selalu punya alasan, perlu direvisi?

    Arteri(o) sebagai pembuluh yang mengalirkan darah dari jantung ke seluruh bagian tubuh, akan mengajakmu ke dunia yang lain dari pada yang lain, kisah yang meletupkan fantasi, aksi, konspirasi, dan tentu saja romansa yang tepat menghujam jantungmu.

    Aku ingin menjadi arteri sang pembuluh, yang bersama degup terjujurmu mengarungi setiap ruas jaringan tanpa sekalipun berpikir melewatkannya.
SINOPSIS:
    “Kita tidak dianjurkan berambisi melewati batas kuota.” (hlm. 35)

    “... tiap manusia diberi kemampuan tersendiri oleh Tuhan, kemampuan yang istimewa dan jarang ada pada yang lainnya.” (hlm. 35)

    Di sebuah negara bernama Kartanaraya di mana sistem pendidikannya unik, terdapat Akademi yang membagi siswa-siswanya ke dalam lima jurusan. Tiap siswa yang telah melewati masa inisiasi akan menjalani pendidikan di salah satu jurusan tersebut, yang juga akan menjadi status sosial permanen yang melekat pada dirinya. Hanya kejadian luar biasa yang memungkinkan siswa berpindah jurusan. Kelima jurusan tersebut adalah Lazuar, Vitaera, Pragma, Arterio, dan Zewira. Lazuar adalah mereka yang mencintai ilmu hayati. Vitaera adalah mereka yang mendalami ilmu tentang manusia, seluk beluk terkait sejarah, bahasa, perilaku, dan seluruh budaya. Arterio adalah mereka yang menggandrungi ilmu tentang kesehatan dan penyembuhan. Pragma adalah mereka yang menekuni ilmu praktis yang dapat dilihat, dihitung, dan dilakukan secara teknis. Sedangkan Zewira adalah mereka yang memaknai tentang kedalaman pikiran, kekuatan, struktur pemerintahan, perjuangan, dan ketertiban. Zewira acapkali dipandang spesial. Letak gedung jurusan dan asrama pun terpisah dari yang lain.

    Zag Waringga adalah Arterio strata muda berusia 18 tahun. Tak seperti murid lainnya, Zag tidak bisa menerima jurusannya. Dia sesungguhnya berharap masuk Zewira. Bukanlah tanpa alasan, hal ini ada kaitannya dengan dendam atas kematian ayahnya oleh pimpinan pasukan musuh Jaharu bertahun-tahun silam. Menjadi Arterio dianggap Zag tak mendukung rencana balas dendamnya. Oleh sebab itu, alih-alih bersemangat mempelajari ramuan penyembuhan, Zag justru diam-diam belajar meracik racun mematikan, bahkan yang sangat sulit. Dia kerap menyambangi Laboratorium Tumbuhan Kuno dan Racun tanpa izin demi mendapatkan catatan rahasia terkait racun yang diincarnya. Bahkan di malam Soir atau semacam pesta dansa, Zag lebih memilih menghabiskan waktu di Laboratorium tersebut. Di masa kunjungan tak berizinnya inilah Zag berjumpa salah seorang anggota keluarga Nayef. Anak bungsu keluarga bangsawan tersebut yang bernama Kiastra justru membantunya secara tak langsung dalam meracik racun. Tapi kemudian Kiastra menggunakan ‘bakatnya’ demi membuat Zag lupa akan identitas dirinya dan pertemuan mereka.

    Di lain pihak, ada Nawacita Lumie, gadis penyayang yang mencintai Zag. Cita satu angkatan dan satu jurusan dengan Zag. Bertiga bersama Datroit, mereka adalah kawan karib. Cita dan Datroit mengetahui ambisi Zag dan tak bosan mengingatkan bahwa Zag seharusnya menerima penempatannya di Arterio. Hingga suatu hari, diumumkan sebuah kabar menggemparkan tentang penyerangan Jaharu ke kota Purwa. Di ibukota Karta, Anggota Dewan dan keluarga Nayef membuat kebijakan dengan membentuk Laskar Patriot, di mana para pemuda bisa mengajukan diri untuk menjadi bagiannya. Zag tak melewatkan peluang ini. Ketika diumumkan siapa saja yang lolos seleksi, Zag sangat kecewa mengetahui bahwa dia lolos tapi ditempatkan di pasukan cadangan paling belakang, itu pun bersama para Arterio muda, termasuk Cita dan Datroit.

    Namun tak diduga semua orang, pasukan cadangan paling bontot ini justru menjadi sasaran empuk pasukan Jaharu. Mereka disekap di kota bawah tanah, ironisnya bersama sepasukan Zewira yang sudah babak belur. Hingga di sebuah momen krusial, Zag berhasil menantang Jou Ozlem sang pemimpin untuk berduel satu lawan satu. Berkat latihan fisik bersama sahabat Zewiranya bernama Lankurt, Zag mampu mengimbangi adu fisik. Selain itu, siasat liciknya menggunakan ramuan racun mematikan yang sudah dipersiapkan berhasil menewaskan Jou Ozlem. Cita lantas membantu di saat kritis menggunakan ‘bakatnya’. Dia melumpuhkan pasukan Jaharu tanpa kendala hanya dengan menguasai detak jantung dan aliran darah mereka. Arterio dan Zewira yang disekap pun berhasil lolos. Atas jasa mereka, Zag, Datroit, dan Cita mendapat penghargaan. Khusus untuk Cita, tak hanya penghargaan dan hadiah, keluarga Nayef melalui Madame menawarinya pindah jurusan ke Zewira. Permintaan yang sesungguhnya disertai ancaman dan perintah ini pun lantas membuat Cita terpojok. Demi memudahkan perpisahan, dia berbohong pada Zag di pertemuan terakhir. Zag yang belum lama menyatakan perasaan pada Cita pun sontak terkejut dan sangat kecewa. Zag juga telah mampu menerima keberadaannya di Arterio, tapi kabar dari Cita menyulut amarahnya.

    Cita kemudian memulai hari-harinya di asrama Zewira. Ternyata tak sendirian, ada tiga murid lain yang pindah ke Zewira bersamanya, masing-masing memiliki ‘bakat’ yang unik. Di asrama, Cita juga berkawan baik dengan Lanina. Masa adaptasi yang berat, disertai pola pendidikan yang jauh lebih keras daripada di Arterio, memaksa Cita fokus dan melupakan perpisahandengan keluarga dan Zag. Selain itu, seorang senior bernama Rafidan kerap menyusahkannya. Rafidan seolah membenci dan sengaja memplonconya. Namun, suatu hari sikap Rafidan melunak dan puncaknya beberapa waktu kemudian bahkan mengajak Cita berkencan. Rafidan bahkan berani menyatakan cinta. Cita tentu saja terkejut dan gamang, apakah dia juga mulai memiliki perasaan pada Rafidan.

    Beberapa waktu kemudian, di acara simbolisasi pembangunan kembali Kota Purwa, sebuah tragedi penyerangan Jaharu kembali terjadi. Cita yang hadir bersama para Zewira turut melakukan perlawanan dan penyelamatan. Di momen inilah kedok Rafidan terkuak. Fakta ini jelas mengejutkan Cita. Di saat kritis, datanglah teman-teman Zewiranya, juga Zag dan Datroit. Bersama-sama mereka lantas berupaya menggagalkan rencana besar busuk Jaharu dan menyelamatkan bangsa.

REVIEW:
    “Aku sadar bahwa balas dendam dan keadilan adalah hal yang berbeda.” (hlm. 384)

    “... balada yang paling menyedihkan adalah dia yang mengetahui sesungguhnya dia memperoleh cinta dengan teramat, tetapi ia terlambat menyadarinya.” (hlm. 391)

    Novel bergenre fantasi karya penulis Indonesia ini mengusung tema menarik tentang impian, cinta, dan pencarian jati diri. Premisnya juga menjanjikan. Tak ada mythical creatures dan penyihir ala fantasi umumnya. Seting negara Kartanaraya tidak dijelaskan detail, di bagian dunia mana tepatnya. Meskipun demikian, sempat terselip keterangan musim semi dan dari gaya hidup maupun penampilan rakyatnya, seolah menyiratkan era di masa lampau. Saya cukup puas dengan detail seting dan pembelajaran di jurusan Arterio maupun Zewira yang lebih disorot di buku ini ketimbang jurusan lain. Juga dengan ide dan penjabaran aneka ‘bakat’ beberapa tokohnya. Ide yang segar dan cerdas. Alurnya campuran, tapi tetap didominasi alur maju.

Gaya bahasa menggunakan diksi yang dijalin indah dan berima. Taste-nya jadi berbeda dengan novel kontemporer atau novel fantasi terjemahan dan novel fantasi Indonesia lain yang pernah saya baca. Salut dengan kepiawaian penulis bermain diksi. Sayangnya ini kurang klop dengan selera saya sehingga cukup mempengaruhi feel baca. Tambahan lagi, beberapa kali saya menemukan paragraf narasi yang agak bertele-tele, yang menurut saya kalaupun dibuang tak akan mempengaruhi jalan cerita. Sejumlah typo juga masih dijumpai. Diantaranya ada yang terulang: bias (:bisa), dating (:datang), lancer (:lancar). Juga kata-kata yang hilang sehingga saya harus mengira-ngira apa yang coba disampaikan penulis. Penggunaan tanda baca koma juga kerap tak tepat. Kalimat jadi terlalu panjang, yang seharusnya bisa dipenggal dengan titik.

Pemilihan POV orang pertama bergantian Zag dan Cita pun menarik. Saya suka karakter Zag yang sinis, blakblakan, tangguh, dan cerdas, meskipun dia sempat terbelenggu ambisi balas dendam. Kisah dalam sudut pandang Zag jadi lebih menarik bagi saya. Berbeda dengan ketika kisah berganti sudut pandang Cita. Saya merasa cukup bosan apalagi saya kurang suka dengan karakter Cita. Dia terlampau naif dan kerap kali terkesan lemah dan plinplan, walaupun penuh belas kasih. Chemistry dan romansa antara Zag dan Cita pun kurang bisa saya rasakan. Paling mengherankan ketika Zag tak menunjukkan rasa cinta sama sekali kepada Cita tapi lantas mengakui perasaan, tak lama usai tragedi penyekapan di Kota Purwa. Saya merasa ini terlalu dipaksakan dan tiba-tiba. Demikian juga dengan Cita yang terkesan terlalu mudah melupakan Zag dan menerima Rafidan—meskipun ada pengungkapan fakta alasan di balik ini. Padahal dikisahkan sebelumnya bahwa Cita sangat mencintai Zag, bahkan ketika cintanya masih bertepuk sebelah tangan. Keganjilan lain adalah perihal fakta ramuan cinta Kaias yang digunakan Rafidan. Padahal Rafidan bukan murid Arterio sedangkan bahkan murid Arterio pun sering kali gagal meracik karena syarat yang pelik. Penjelasan tentang perjanjian gelap pertukaran jiwa pun kurang. Interaksi antara Rafidan, Cita, dan Zag juga belum mampu menggugah saya. Sepanjang cerita bisa dibilang saya hanya mengikuti saja sampai tamat tanpa benar-benar merasakan teraduk-aduk emosi. Sesungguhnya plot, twist, dan ending cukup bagus. Hanya saja eksekusi di beberapa bagian masih kurang mulus.

Selain Zag, cukup suka kehadiran tokoh-tokoh pendukung:Datroit, Lankurt, Lanina, Parame, Oktavio, dan Bara. Mereka memberi kontribusi peran yang cukup penting. Sedangkan tokoh yang paling memantik rasa ingin tahu adalah Kiastra. Di buku ini kesan misteriusnya sangat kental. Selain itu dia punya andil dalam peran Zag di masa kecamuk. Jika benar penulis berencana menyoroti keluarga Nayef lebih jauh di buku kedua, saya berharap teka-teki Kiastra digali mendalam. Overall, novel yang rencananya akan menjadi saga ini menjanjikan dan bisa jadi pilihan bacaan para penikmat novel fantasi bercita rasa Indonesia. Ditunggu kelanjutannya.



Senin, 14 Mei 2018

False Beat: Hubungan Persaudaraan yang Terputus oleh Ego

Posted by Melani Ivi | 10:17:00 AM Categories:
Judul buku             : False Beat
Penulis                   : Vieasano
Editor                    : Kavi Aldrich
Desain sampul       : Orkha Creative
Penerbit                 : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit           : 2018, cetakan pertama
Tebal buku             : 296 hlm; 20 cm
ISBN                      : 978-602-03-8226-5

BLURB:
“Nggak usah lihat-lihat. Gawat kalau lo nanti suka sama gue.”

Gara-gara terlilit utang dengan om-nya, Aya harus rela menjadi manajer Keanu & the Squad. Sebenarnya pekerjaan itu tak seburuk yang dia bayangkan, kalau saja bukan Keanu yang harus dihadapinya. Vokalis sekaligus pentolan band itu mungkin punya banyak fans. Dan harus dicatat, Keanu tuh punya wajah ganteng, bibir seksi, penampilannya keren, dan suara yang bagus banget. Tapi, Keanu punya segudang kelakuan ajaib yang membuat Aya tak bisa berkutik, juga membuat jadwal roadshow band itu berantakan!

Aya pun mencari cara untuk mengendalikan Keanu agar roadshow berjalan lancar. Baru saja merasa menemukan jawaban, Aya malah terjerumus dalam masalah baru: mengetahui rahasia besar Keanu yang membuatnya terperangkap dalam drama tak berujung.

SINOPSIS:
    “Eh, lo tahu kan istilah ‘benci jadi cinta’? Atau teori ‘batas benci dan cinta hanya setipis kertas’? Nah, maksud gue, lo harus bersyukur paling nggak Keanu keren... Jadi kalau lo sama dia akhirnya saling tertarik, paling nggak lo nggak zonk-zonk banget deh!” (hlm. 67)

    Kanaya Talitha atau yang biasa disapa Aya belum lama menyudahi masa kerja magangnya di Jepang. Belum lagi dia mampu menemukan pekerjaan tetap di Bandung, om-nya ‘menjebak’ dengan mengatasnamakan pelunasan utang dan menjadikan Aya manajer band yang berada di bawah naungan manajemen artisnya. Keanu & the Squad, demikian nama band tersebut, yang sedang berada di puncak popularitas dan digadang-gadang akan makin sukses di masa mendatang oleh Om Putra. Aya yang tak memiliki pengalaman maupun latar belakang profesi sebagai manajer mengajukan keberatan. Selain itu, dia merasa tak akan cocok dengan Keanu sang vokalis sekaligus pentolan band tersebut, setelah menyaksikan kelakuan lelaki itu di layar kaca. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Aya tak hanya gagal membujuk Om Putra, bahkan ‘terjebak’ kontrak perjanjian untuk kali kedua.

    Nahas bagi Aya, ketika bertemu secara langsung dengan Keanu untuk pertama kalinya, dia justru langsung dicap mesum akibat kecerobohannya sendiri. Insiden memalukan itu juga sempat disaksikan oleh Randy, Jonas, Adrian, dan Regan, yang merupakan personel band. Meskipun sudah diklarifikasi dibantu oleh om-nya, Keanu tetap menunjukkan sikap tak bersahabat dan ketidaksetujuan atas posisi Aya sebagai road manager sekaligus personal manager-nya.

Maka neraka yang sesungguhnya pun dimulai. Band yang memiliki fanbase kuat tersebut dijadwalkan menjalani roadshow keliling Indonesia dalam rangka hari jadi band yang ketiga. Selama roadshow, seperti yang dibayangkan Aya sebelumnya, Keanu kerap berkelakuan ajaib alias tak disiplin dengan jadwal tur dan promo. Vokalis ini kerap menghilang tanpa pemberitahuan, pulang ke Bandung di tengah-tengah jadwal syuting promo, dan amat jarang berperjalanan bersama personel band-nya dalam sleeper bus. Jelas saja Aya dibuat pusing dan terkena dampaknya. Banyak pihak yang dikecewakan dan berimbas permohonan maaf yang harus dilontarkan Aya sebagai manajer. Menuruti saran Audy sahabatnya, Aya berinisiatif mengajak Keanu bicara empat mata baik-baik. Tapi lagi-lagi, pemilihan waktu yang tidak tepat dan nada bicara yang gampang tersulut emosi membuat rencana ini gagal dan menambah aura permusuhan antara keduanya.

Tak sanggup lagi, Aya pun mengeluhkan penderitaannya kepada Audy, Fauzan, dan Bobby, sahabat-sahabatnya semenjak SMA. Ketika sesi curhat masih berlangsung, mereka menyaksikan konferensi pers di televisi mengenai sebuah kasus hukum yang melibatkan seorang figur publik. Betapa terkejutnya Aya dan para sahabatnya ketika melihat sosok pengacara yang menangani kasus tersebut yang sangat mirip dengan Keanu. Usut punya usut, ternyata pengacara muda tersebut merupakan saudara kembar Keanu. Kevin Ekaputra Pradipta, demikian nama kakak kembar Keanu tersebut, sontak menarik perhatian dan menerbitkan ide sebagai jalan keluar persoalan Aya. Bermaksud meminta dukungan dan bantuan Kevin untuk ‘mendisiplinkan’ adiknya, Aya berangkat ke kantor Pradipta & Assosiates untuk menemui langsung Kevin. Di sana Aya juga bertemu dengan seorang wanita muda yang disapa Key. Wanita yang langsung mengundang kekaguman Aya berkat kecantikan dan keanggunannya. Dan betapa kecewa Aya ketika pada akhirnya menyadari kedatangannya ke sana sia-sia. Kevin tak hanya menolak mentah-mentah permohonan bantuan dari Aya tapi juga bersikap menyebalkan sehingga memicu amarah Aya.

Di lain pihak, dalam sebuah promo dan wawancara live radio, Keanu bersikap tak sopan ketika sang penyiar meminta komentarnya terkait Kevin. Agaknya rumor mengenai hubungan mereka yang tak harmonis benar adanya, demikian asumsi Aya. Karena itulah dia lantas tak mempersoalkan lebih jauh. Apalagi selama beberapa waktu ke depan, Keanu bersikap lebih disiplin daripada biasanya. Hingga suatu hari, ketika sedang menengok keadaan mamanya yang masuk rumah sakit, Aya tak sengaja melihat sesosok pria mirip Keanu. Merasa penasaran, dia pun menguntit hingga terkuaklah sebuah rahasia besar yang mengubah segalanya. Mau tak mau, Aya kemudian terlibat dalam drama pelik keluarga Keanu. Tak hanya itu, kasus yang sempat menjadi skandal Keanu di masa lalu yang melibatkan mantan manajernya belum benar-benar usai. Aya pun terjebak di tengah labirin kehidupan Keanu dan mulai melibatkan perasaannya. Ketika mantan bosnya menawarkan kesempatan langka di Jepang, Aya merasakan dilema. Haruskah dia memperpanjang kontrak perjanjian sebagai manajer band dengan Om Putra atau menerima tawaran menjanjikan di Jepang.

REVIEW:
    “Sebuah hubungan darah tidak seharusnya terputus oleh ego. Hubungan antara orangtua dan anak, hubungan antarsaudara, tidak seharusnya terputus oleh apa pun.” (hlm. 271)

    Tidak umum dijumpai novel metropop yang mengambil latar musik, apalagi kehidupan anak band. Dan saya cukup berekspektasi dengan latar musik ini. Ternyata nuansa musiknya dipersempit menjadi seting tur konser ke berbagai daerah di Indonesia, sehingga memang tak akan ditemui adegan proses rekaman lagu atau syuting video musik, seperti yang sempat saya sangkakan. Meski demikian, tetap ada selipan proses kreatif sang vokalis dalam menciptakan lagu dan proses aransemen awal bersama personel band di sela-sela perjalanan tur. Selain itu, deskripsi kemegahan konser, atraksi panggung, lengkap dengan ritual unik jelang tampil cukup memuaskan. Penulis sendiri sempat menyebutkan dua band rock Jepang: One Ok Rock dan My First Story sebagai sumber inspirasi, sehingga mudah bagi saya membayangkan gambaran adegan selama Keanu & the Squad beraksi di atas panggung. Di jelang akhir, saya bahkan sempat ‘merinding’ dan emosional membaca sebuah adegan yang menggambarkan salah satu ritual sebelum manggung Keanu, yang ternyata berhubungan erat dengan konflik utama cerita. Seting di beberapa kota juga cukup berkesan, walaupun kebanyakan hanya sekilas, mengikuti alur dan plot cerita.

    Penulis menggunakan POV orang ketiga tapi tetap mampu membuat saya merasa dekat dengan para tokoh—terutama tokoh utama. Penokohannya menarik, mengambil sosok dua saudara kembar beda profesi dan beda karakter, serta tokoh perempuan yang unik. Keanu yang menganggap musik sebagai hidupnya, luwes bergaul, easy going, dan cenderung mudah disukai sangat berkebalikan dengan Kevin. Selain itu, bagaimana Kevin diposisikan sebagai anak tertua—meskipun mereka kembar, kisah masa kecil dan remaja, dan gambaran konflik batin mereka, pada akhirnya memperkuat simpati saya pada keduanya ketika inti konflik terkuak. Bagi saya, penulis piawai membuat pembaca terlibat secara emosional dengan kedua tokoh ini. Di klimaksnya, saya turut merasakan penderitaan tokoh yang dilatarbelakangi kondisi psikologis yang pelik. Di lain sisi, kehadiran Aya sebagai sosok lucu (tapi tak pernah merasa melucu) dengan sikapnya yang ekspresif, gampang terpancing, agak lemot tapi punya sisi baik, membuat saya gemas sekaligus kangen dengan tingkah konyolnya. Humornya pas untuk saya, mengingatkan akan tokoh wanita dalam drama komedi romantis Korea. Sosok satu ini juga cocok menjadi ‘penengah’ konflik dan membantu tokoh pria menemukan solusi. Chemistry antara Aya dan sang tokoh pria terasa; walaupun tak dibumbui adegan dewasa yang biasa dihadirkan dalam novel metropop, kisah romansa mereka tetap manis dan mengharukan. Sedangkan Key atau Keyzia mendapat porsi yang lumayan besar, terkait kedekatannya dengan Keanu dan Kevin yang cukup pelik. Alih-alih menonjolkan peran orangtua, penulis lebih mengeksplorasi peran Key, yang mana menurut saya sudah cukup tepat. Meskipun saya sebenarnya tetap mengharapkan orangtua si kembar sedikit lebih ditampilkan agar emosi makin gereget. Selain itu, Om Putra juga ternyata menjadi tokoh kunci dalam teka-teki alasan di balik peran Aya sebagai manajer, menyuguhkan twist ending yang lengkap. Yang cukup saya sayangkan terkait penokohan adalah kehadiran personel band yang tak berkesan. Kecuali Randy dan Jonas (saya suka dengan Jonas), saya nyaris melupakan sosok Adrian dan Regan. Bisa jadi dikarenakan format band yang ‘tak biasa’ (bisa diketahui mendetail jika kamu membaca sendiri), sehingga poros tetap pada Keanu. Tapi tetap saja, walaupun mereka hanya tokoh pendukung, seharusnya penulis bisa menciptakan keunikan, gimmick, atau adegan khusus sehingga pembaca tetap ‘ingat’ akan sosok keduanya usai membaca.

Alur dominan maju, dengan sedikit sisipan kilas balik. Plotnya rapi dan sempat membuat saya ikut menebak ke mana arah cerita dan apa konflik utama kedua tokohnya: Keanu dan Kevin. Meskipun ada yang sesuai, namun tetap ada bagian mendasar yang meleset dari perkiraan saya sehingga sukses membuat saya tercengang. Salut dengan ide penulis yang berani! Pada akhirnya, bisa dibilang cukup sulit mengulas novel ini tanpa membocorkan twist yang hendak digulirkan, tapi secara keseluruhan saya puas dengan eksekusi twist dan ending.

Sebuah novel yang ternyata tak sekadar mengangkat nuansa musik dibumbui kisah benci jadi cinta. Pesan moralnya mendalam. Memaknai arti penting keluarga, juga mengajak pembaca untuk lebih mencintai diri sendiri. Yakinlah bahwa tiap orang itu unik dan menarik dengan cara masing-masing sehingga seharusnya kita lebih bersyukur atas hidup dan cinta dari orang-orang terdekat. Terlepas dari sejumlah typo yang masih terselip, saya tetap merekomendasikan novel ini. Baca, deh dan rasakan sensasi terhanyut dengan kisah Keanu dan Kevin. Kamu akan dibuat tertawa lantas menitikkan air mata tak lama kemudian, atau bahkan di waktu bersamaaan.

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube