Minggu, 30 November 2014

[resensi] Ragam Sifat dan Perilaku Manusia dari Sudut Pandang Unik

Posted by Melani Ika Savitri | 10:25:00 PM Categories:


Judul Novel        : Black Beauty
Penulis               : Anna Sewell
Penerjemah       : Nadiah Abidin
Penyunting        : Azzura Dayana
Desain Sampul : Windu Tampan
Penata Letak    : Nurhasanah
Pemeriksa Aksara: Erdyant
Penerbit           : Orange Books
Cetakan           : Pertama, April 2010
Jumlah Halaman: 388 hlm; 20,5 cm
ISBN                : 978-602-8436-84-7

    Black Beauty bukanlah seekor kuda biasa. Ia berasal dari keturunan terbaik dan sejak kecil diajarkan ibunya untuk mengabdi kepada sang majikan. Sejak masih anak-anak hingga dewasa, ia berpindah tangan dari satu tuan ke tuan yang lain. Dari yang menyayangi hingga yang kerap bersikap kejam. Ia pun berganti-ganti tugas, mulai dari kuda tunggangan, kuda pedati, hingga kuda taksi.   

Sinopsis:

    Novel ini terbagi menjadi empat bagian, yang masing-masingnya menggambarkan fase kehidupan dari tokoh utama, Black Beauty. Kisah diawali dengan fase kelahiran hingga tumbuh kembang Black Beauty bersama sang ibu di peternakan seorang petani yang baik hati. Diceritakan pula nama awal yang diberikan sang tuan, yaitu Darkie karena kulitnya yang hitam legam indah. Nama Black Beauty justru didapat dari tuan keduanya Hakim Gordon yang tinggal di Birtwick. Di rumah kedua inilah Black Beauty mengalami fase kehidupan paling manis dan menyenangkan.

    Selaiknya sebuah fase hidup yang dipergilirkan, rumah kedua ternyata bukanlah rumah terakhir. Sebuah tragedi menyedihkan mengantarkan Black Beauty ke rumah dan tuan baru. Di sinilah petualangan hidup yang sesungguhnya dimulai. Dia harus merasakan pedihnya berpisah dengan kawan-kawan sepermainan, diperlakukan kasar dan kejam, mengalami berbagai luka fisik, dijual ke pasar, berganti-ganti tugas yang tidak melulu ringan, hingga berakhir di rumah seorang kenalan dari tuan terbaiknya.

Ulasan Novel:

    Bercerita dari sudut pandang ‘aku’ sebagai seekor kuda jantan yang sabar dan baik hati, Black Beauty ini tercatat sebagai salah satu novel klasik paling menawan. Anda pun tak perlu menyukai kuda atau mengerti seluk-beluk kehidupan kuda untuk menikmati kisah, karena pada sadarnya novel ini berkisah tentang aneka tabiat manusia . Bahkan sangat mungkin Anda akan jatuh hati dengan taburan filosofi kehidupan di dalamnya.

    Anna Sewell sendiri adalah novelis yang hanya menerbitkan satu novel sepanjang hayatnya. Latar belakang orangtuanya yang merupakan penulis anak sukses; kecelakaan yang mengharuskannya akrab dengan kereta kuda menjadi alasan kepiawaiannya menuturkan kisah indah ini.

    Dalam sebuah novel dengan kuda sebagai tokoh utama, wajar jika kita akan menjumpai banyak istilah asing terkait kehidupan kuda, terutama pada masa dahulu di mana kuda masih menjadi alat transportasi utama. Kita akan mengetahui apa itu breaking in, ban leher, crupper, breeching, chaise, bit, blinkers dari penjelasan sang penulis dengan bahasa yang mudah dipahami. Penjelasan tersebut jangan dibayangkan mirip gaya penjelasan buku nonfiksi, karena penulis melibatkan emosi, menggali bagaimana perasaan para kuda ketika ‘dipaksa’ mengalami proses breaking in, misalnya, atau betapa tidak nyamannya mengenakan berbagai perlengkapan itu. Perlakuan sang tuan akan sangat berdampak pada keberhasilan proses adaptasi tersebut. (halaman 15-28)

    Keberadaan tokoh kuda lain dan tokoh-tokoh manusia yang dideskripsikan oleh Black Beauty menjadi penyempurna keindahan kisah. Simak saja tokoh Ginger, seekor kuda betina yang punya kebiasaan buruk menggigit dan menendang orang. Usut punya usut, tabiatnya ini akibat pengasuhan buruk dari sang tuan di masa-masa belianya. Atau tokoh Jerry Barker, pria sopir taksi yang ramah, baik, ceria, dengan emosi yang terjaga, yang menjadi salah satu tuan Black Beauty yang mengesankan.

    Konflik pun tak lepas dari kisah apik ini. sebagian besar konflik tercipta dari interaksi Black Beauty dengan manusia di sekitarnya. Ada kalanya muncul tokoh-tokoh antagonis semacam Reuben Smith yang pemabuk, atau Filcher yang culas. Pengolahan konflik yang baik pun dijamin akan menghanyutkan emosi pembaca sepanjang cerita.

    Banyak pula kutipan filosofi hidup dan untaian kebajikan yang disampaikan penulis, baik dalam dialog (tokoh hewan maupun manusia) dan narasi. Diantaranya:

    “Apa kau tahu kenapa dunia kita buruk seperti sekarang ini?”
    “Tidak,” jawab temannya.
    “Biar kuberitahu. Itu karena orang-orang hanya memikirkan urusannya sendiri, tidak mau bersusah payah membela yang lemah atau menyadarkan orang-orang yang bertindak salah. Aku tak bisa melihat ada satu kejahatan terjadi tanpa turun tangan dan sejauh ini banyak pemilik kuda berterima kasih padaku karena telah memberitahu mereka tentang seberapa buruk kuda diperlakukan.”
(halaman 289)

    “Prinsipku adalah ketika kita melihat ada sesuatu yang salah atau tindak kejahatan yang dilakukan dan seharusnya bisa kita cegah, namun kita biarkan saja, itu berarti kita ikut bersalah atas kejadian itu.” (halaman 290)

     Saya acungkan jempol untuk novel lawas yang masih dibaca sampai sekarang ini. Kesederhanaan gaya penuturannya tidak mengurangi pesona, berkat pesan kuat yang disampaikan. Sudut pandang tokoh yang diambil pun tak biasa. Novel ini patut direkomendasikan sebagai bacaan segala umur.
   
   

Reaksi:

10 komentar:

  1. Hmmm...sepertinya ini cerita ayng menarik. Lumayan tebal juga bukunya ya mbak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, tebel. tapi isinya bagus, penuh perenungan dan kita dibawa ke emosi yang menghanyutkan lewat seekor kuda :)

      Hapus
  2. Melaniiiii...ku juga mau bikin review buku cantik ini..
    Huhu kangen Darkie dan Ginger.
    Suka banget dengan gaya berceritnya..mungkin aku udah nyaman dengan style classic books...Thanks to Kak Shabrina yang udah mengenalkanku dgn buku cantik ini.

    Breaking ice!!!.. Huhu istilah yang cantik tapi seperti latihan berat prajurit di medan perang..kasihan banget kudanya kalo latihannya dilakukan tidak manusiawi dan jg btp mengerikan akibat dari ketidktahuan/ tidak ahli dibidangnya)..inget bagian Black Beuty yg sakit.

    Kak Ekky kudu baca..keren.
    Hmmm pokoknya keren..reviewnya jg keren.

    Makasih Melani...

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihi... ayuk, Mbak Yun, diresensi juga :)

      Black Beauty yang manis.. berandai-andai dulu punya kuda kayak dia :))

      Hapus
  3. Aku pernah baca tapi yg versi komiknya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. lah, baru tahu malah, Mbak, kalau ada komiknya :))

      Hapus
  4. novel lawas selalu punya kekuatan dlm kesederhanannya ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, dan saya masih jauuhh untuk koleksi bacaan klasik...

      Hapus
  5. Ah, saya pecinta karya klasik. Sebab selalu sarat muatan moral di dalamnya. Hiks..belum bunya novel Black Beauty ini. Jadi semakin ingin memilikinya

    BalasHapus

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube