Selasa, 06 Mei 2014

[motivasi diri] Menulislah dan Jadilah Abadi

Posted by Menukil Aksara | 5:05:00 PM Categories:


“Manusia bukanlah makhluk abadi; suatu saat pasti mati. Jangan biarkan bumi mengenangmu dalam sebaris nama tiada arti. Biarlah tulisanmu membekaskan berjuta kisah yang kelak tersampai ke kehidupan kedua nan abadi.”

“Pena yang lincah dan aksara bertuah makna bahkan bisa lebih tajam dari sebilah pedang. Pentaskanlah kisah pergulatan kebaikan dan keburukan. Buatlah jiwa-jiwa dahaga menenggak segarnya tetesan hikmah dan bersua cerlang hidayah.”

“Menulislah beserta kejujuran. Aksara yang dirangkai dari kelindan rasa dan asa yang jujur akan mampu memetik dawai makna dan menggubah notasi jiwa sang pembaca.”

“Jadilah penulis kreatif dan inspiratif; jangan jadi pengekor dan plagiator. Tiap pribadi itu unik, terangkai dari kepingan-kepingan puzzle peristiwa yang terekam dalam ceruk jiwanya. Bacalah buku bergizi dan telisiklah inspirasi dari drama kehidupan yang manusiawi.”

“Tetapkanlah visi dan misi, lalu bebaskan pena meliuk berirama. Tak usah hirau cemooh para komentator. Kala kau putuskan berproses tiada jeda, mereka akan menelan hinaan di masa depan.”


Di atas adalah kata-kata mutiara motivasi diri untuk terus menulis yang diikutsertakan dalam 

Lomba Menulis Kata Mutiara FAM Berhadiah Novel “Rinai Kabut Singgalang” dan Novel “Lukisan Cahaya di Batas Kota Galuh”
oleh: FAM grup

Senin, 05 Mei 2014

[latihan deskripsi] Foto Pelipur Rindu

Posted by Menukil Aksara | 2:22:00 PM Categories:


         Aku menatap layar ponsel sembari jari-jariku menekan-nekan serampangan. Tiada kabar. Ketika aku bersiap meletakkannya kembali, sekonyong-konyong ia  menyenandungkan sepotong irama tanpa getar. Aku selalu benci getar suara ponsel. Sebuah pesan berlambang telepon masuk.
            “Sebelum pulang, jalan-jalan dan mampir ke sini dulu nih,” tulis si dia.
            Sejenak kemudian beberapa foto kuterima. Dengan segenap rasa ingin tahu, kubuka foto-foto itu. Kuperbesar salah satu foto dengan sekali tekan sehingga kedua mataku mampu melihat lebih jelas. Terpampang sebuah gambar bangunan didominasi cat merah menyala, berpadu padan dengan cat merah muda, putih, hijau, dan keemasan berdiri megah di sana. Agaknya bangunan itu bertingkat, dengan jendela-jendela berlengkung bernuansa klasik. Di puncak bangunan utama, sebuah kubah bermodel sederhana dengan warna hijau cerah menunjukkan identitas bangunan itu. Di kanan-kiri bangunan utama, masing-masing menjulang perkasa sebuah menara berwarna merah menyala. Lima atap melengkung tersusun berjeda di menara itu. Atap melengkung bernuansa keemasan dihiasi warna merah di tepi juga mempercantik sebuah gapura di pintu masuk utama bangunan. Gapura itu disangga dua pilar merah menyala dengan ornamen cincin putih di bagian tengah dan ujung atasnya. Di tengah kedua pilar, melengkung sebidang hijau bertuliskan nama bangunan. Dengan latar hitam, tulisan berabjad China dan Latin itu seakan saling menerjemahkan. “Masjid Muhammad Cheng Hoo”, bunyi tulisan berwarna keemasan itu.
            “Ah, pantas saja bangunan itu kental dengan nuansa China,” gumamku kemudian.
            Pernah sekali waktu, si pengirim foto ini mengatakan padaku bahwa Cheng Ho adalah seorang Muslim bersuku Hui. Ia adalah seorang kasim Muslim yang menjadi orang kepercayaan kaisar ketiga Dinasti Ming. Cheng Ho termahsyur berkat ekspedisi pelayarannya hingga ke Malaka pada abad ke-15. Sebuah pengetahuan baru yang kudapat sepintas lalu saat aku dan si dia berbincang ringan.
            “Wah, asyik banget bisa mampir ke sana!” seruku dalam balasan pesan.
            “Iyalah. Ini ‘kan satu dari beberapa masjid Cheng Hoo di Indonesia,” balasnya.
            “Lho, masjid ini tidak hanya satu?” tanyaku bingung.
            “Masih ada lagi di Surabaya, Pasuruan, dan Purbalingga,” jelasnya.
            Aku membulatkan bibir. Dari sekian masjid itu, kau berada di Palembang, yang paling jauh dari sini, kesalku dalam hati. Bibirku kini mengerucut.
Kupandangi lagi foto lainnya. Sewujud rindu menggapai-gapai, ingin menarik  pulang sosok lelaki berkaos biru muda yang sedang berpose di depan pagar masjid dalam foto.
“Argh, bukannya mengobati kangen, fotonya justru membuat ingin terbang ke sana!” protesku kemudian.
Sebuah emoticon masuk dengan sebentuk wajah yang menyeringai disertai kata maaf.



[latihan deskripsi] Di Kafe Mie

Posted by Menukil Aksara | 2:19:00 PM Categories:


Malam itu kami putuskan melanjutkan wisata kuliner di kota Jember. Dinginnya hawa malam menusuk kulit, dibalut pula oleh hujan deras yang mengguyur kota semenjak siang. Mendung masih menggantung ketika kami keluar hotel. Halaman hotel masih basah, udara lembab. Kami menaiki sepeda motor sambil merapatkan jaket. Kehidupan malam di kota ini tak mati hanya karena air turun dari langit. Kendaraan padat berlalu lalang; pertokoan dan tempat karaoke bersahut-sahutan meriuhkan suasana malam. Lampu-lampu saling berkedip; warna-warninya memantul di kelopak mata. Setelah lima belas menit menyusuri jalanan kota, kami tiba di sebuah rumah makan. Kiri kanan jalan dipadati oleh warung internet, persewaan komputer, dan aneka warung makan. Pelataran sempit rumah makan tujuan kami disesaki kendaraan pengunjung. Empat gadis berkerudung, berpakaian kasual, tengah asyik mengobrol sambil menyantap menu pesanan mereka. Kami memilih meja kosong di dekat pintu masuk. Aku melihat cermin besar menggantung di dinding sebelah kanan. Warna merah bata dinding dan lampu-lampu menggantung ala lampion di atasku, menggelitikku untuk berfoto. Tak lama kemudian kami memesan makanan ke meja pelayanan sekaligus melirik daftar menu yang terpajang di dinding belakang meja. Nama-nama menunya unik dan harganya ramah di kantong. Pandanganku tercuri oleh sesosok pelayan. Ia berseragam sama dengan yang lainnya. Yang membuatku meliriknya tak lain karena dandanannya yang cukup menor dan gayanya yang gemulai. Ah, apakah menjadi pelayan rumah makan ala mahasiswa seperti ini harus mengubahnya menjadi lelaki gemulai sepeti itu? Aku akhirnya hanya tersenyum kecil.



Sabtu, 03 Mei 2014

Tips Mengikuti Lomba Blog

Posted by Menukil Aksara | 8:49:00 PM Categories:
Para blogger tentulah tak asing lagi dengan aneka lomba blog yang diadakan berbagai pihak. Bagi sebagian blogger yang telah malang melintang di belantara per-blog-an, tak sulit memenangkan ajang kompetisi tersebut. Namun bagi blogger pemula--seperti saya--hal itu masih terasa gamang. Berikut deretan tips mengikuti lomba blog yang saya copas dari akun twitter para emak blogger yang kece punya.



1.      Yg utama adl tema. Meski paham bidang yg dilombakan, jangan melebar. Panjang & keren kalau tak sesuai tema sayang banget
2.      Juri dipilih krn keahliannya. Jangan beresiko memasukkan istilah/logika dari internet tapi tak kita pahami, kelihatan
3.      Bbrp lomba mensyaratkan pengalaman pribadi peserta. Tetap perhatikan keamanan. Pengunjung blog tak bisa dikontrol
4.      Baca dg teliti syarat & ketentuan, terutama jumlah kata/karakter & sumber yg diperbolehkan
5.      Jangan pernah copas tanpa link ke sumber. Sekali ketahuan, orang akan terus mengingatmu dilomba manapun
6.      Copas tanpa link /menghapus watermark nggak akan ketauan? Well, internet itu nggak luas2 amat kok, seringnya sih ketauan
7.      Perhatikan unsur penilaian. Jika ada popularitas, segera bikin spy sempat dishare sebanyak-banyaknya via socmed
8.      Jika ada penilaian interaksi, segera bikin spy kolom komentar sempat terisi & jangan males reply
9.      Penilaian originalitas adl peluang utk berkreasi maksimal dg karakter masing2. Tak perlu terprovokasi dg postingan lainnya
10.  Pembaca internet adl pembaca cepat, usahakan tiap paragraf tidak berisi terlalu banyak kata spy tidak bosan/siwer
11.  Keunikan blog adl penyampaian yg lbh bebas, tp jangan berlebihan. Misal, terlalu banyak kata yg dicoret
12.  Visualisasi sangat membantu memberi kesan, baik berupa gambar, grafik, flowchart, skema, foto dll
13.  Nggak mau foto diri tersebar di internet? Nggak harus, meski bisa menambah nilai, kecuali disyaratkan.
14.  Foto dokumentasi pribadi bisa menambah nilai, meski diperbolehkan mengambil dari website2 penyedia foto gratis
15.  Gambar buatan sendiri akan unik & menarik daripada mengambil dari website penyedia gambar gratis
16.  Audio yg tidak berhubungan lomba dimatikan dulu. Beruntung jika juri suka, tapi sebaiknya jangan ambil resiko

Sumber: https://twitter.com/Emak2Blogger

Well, semoga sederetan tips tadi dapat mengantarkan kita--eh saya--menuju tangga juara :)

Kamis, 01 Mei 2014

[Resensi] Pendakian Panjang Menempuh Kesabaran dan Menjumpai Ketundukan*

Posted by Menukil Aksara | 7:40:00 PM Categories:



Judul Buku          : Altitude 3676 – Takhta Mahameru
Penulis                : Azzura Dayana
Penyunting          : Mastris Radyamas
Penerbit               : Indiva, 2013

Allah telah menghamparkan bumi dengan langit sebagai atapnya dan gunung sebagai tiang pasaknya. Mendaki puncak tertinggi gunung merupakan sebuah perjalanan penuh hikmah bagi mereka yang berfikir. Pernahkah Anda mendaki gunung hingga puncak? Apa yang Anda rasakan ketika telah berada di atas? Atau Anda pernah menjelajah bumi nusantara hanya dengan berbekal ransel dan persiapan seadanya? Novel ini melatarbelakangi kisahnya dengan petualangan alam dan budaya. Tidak hanya itu, novel ini menyuguhkan pula kisah kehidupan anak manusia yang dramatis dan akan membuat Anda jatuh hati dengannya.

Ranu Pane, desa tertinggi di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, adalah titik akhir perjalanan sebelum memulai pendakian ke Gunung Semeru. Di desa inilah dua tokoh utama cerita pertama kali bertemu. Faras, seorang gadis penduduk asli desa Ranu Pane, memiliki hati yang tulus, ramah, dan gemar menyitir pernyataan Kahlil Gibran. Ia hanya seorang gadis tamatan SMA, namun pemikirannya yang bijak dan tutur bahasanya yang apik mengesankan latar belakang pendidikan yang tinggi. Lain halnya dengan Raja Ikhsan. Pemuda sinis yang mencintai gunung ini menjuluki dirinya “Monster”. Julukan yang sebenarnya disematkan oleh ibu tiri dan saudara-saudara tirinya. Kehidupannya yang rumit dan sulit akibat posisi sang ibu sebagai istri kedua seorang pengusaha kaya, meletupkan bara dendam dalam dadanya. Perjumpaan Ikhsan dan Faras yang hanya beberapa kali rupanya menjejakkan kenangan tersendiri bagi keduanya. Faras menyebutnya sebagai sebuah jalinan pertemanan yang tak biasa. Perjumpaan terakhir mereka menyisakan sesal yang membelit hati Faras. Kala itu, Ikhsan menyiratkan kekalutan hatinya atas kematian sang ibu yang tragis, yang dipicu oleh rongrongan sang ibu tiri. Berbekal pesan-pesan dan foto-foto dalam e-mail yang dikirimkan Ikhsan, Faras bertekad menemukan keberadaan Ikhsan demi menenangkan hatinya. Dalam pencarian inilah, tak sengaja Faras bertemu dengan Mareta—adik tiri Ikhsan—dan menjumpai berbagai fakta baru mengenai Ikhsan yang membuatnya terperangah.

“Kamu bisa buktikan? Siapa yang bertakhta di Mahameru,” katanya (hal.68). 

Kamu bisa jelaskan padaku sebelas alasan kenapa aku harus shalat?” “Kenapa aku meminta sebelas, Faras?” tanyanya. “Karena aku bisa menjawab sepuluh alasan kenapa aku naik gunung dan sepuluh alasan kenapa aku ingin membunuh ayahku. Jadi, kalau kamu mengharuskanku shalat, kamu setidaknya harus punya lebih dari sepuluh alasan yang masuk akal dan berguna.” (hal.58). 

Kutipan pertanyaan-pertanyaan dari Raja Ikhsan yang menyentil di atas adalah salah satu daya tarik dari novel ini. Karakter Ikhsan tergambar apik di sini. Begitu selesai membaca novel ini, karakter Ikhsan masih melekat kuat dalam benak saya. Saat ia menjumpai hidayah untuk shalat di penjara, atau saat ia dihantam rasa bersalah atas kematian sang sahabat, adalah momen-momen menghanyutkan dalam novel ini. Daya tarik lain dari novel ini tentulah setting-nya. Mulai dari Ranu Pane, Semeru, Borobudur, hingga Tanjung Bira. Kita akan diajak menyelami filosofi adat istiadat di beberapa daerah di tanah air. Oleh sang penulis—Azzura Dayana—yang juga seorang pecinta petualangan sejati, kita seakan dipancing untuk turut berpetualang ala backpackers sejati.

Selain kesalahan cetak dan ejaan yang nyaris nihil, saya sulit menemukan kekurangan dari novel ini. Bahkan akhir ceritanya dieksekusi dengan sempurna. Mengambil lokasi di ketinggian 3676 meter di atas permukaan laut dan taddabur atas surat Al-A’raf (Tempat Tertinggi), seorang “Monster” Raja Ikhsan menjumpai makna ketundukan. Penggunaan sudut pandang orang pertama secara bergantian (aku melalui mata Faras, Ikhsan, dan Mareta) dan alur maju mundur, menjadi petualangan bagi pembaca.

Novel ini dapat dibaca oleh kalangan usia remaja hingga dewasa, dengan tutur bahasanya yang mudah dipahami dan kisah menginspirasi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.