Jumat, 13 Oktober 2017

Judul Buku  : Jodoh Untuk Mira
Penulis         : Alnira
Penyunting  : Suci Amanda
Penerbit       : Penerbit Ikon
Cetakan       : pertama, September 2017
Tebal           : 269 hlm

BLURB:
  
 Almira—gadis yang bercita-cita menjadi dokter, lalu banting setir menjadi guru bimbingan konseling—pernah merasakan cinta monyet pada usia empat belas tahun. Namun kala itu, Mira harus patah hati karena pujaannya hanya menganggapnya adik. Kesedihan Mira bertambah saat Akradani Lawardi, cinta pertamanya, menghilang tanpa jejak sehari setelah ulang tahunnya yang ketujuh belas.

    Tujuh tahun sesudah itu, Mira berusaha untuk melupakan perasaannya pada Akradani. Namun, di saat tekadnya sudah bulat, Akradani kembali hadir. Dan, kali ini, pria itu tidak datang seorang diri, tetapi membawa anak kecil, yang memanggil Akradani dengan sapaan ‘Ayah’.

SINOPSIS:

    “Seseorang pernah berkata, lebih baik dicintai lebih dulu daripada mencintai.” (hal. 24)
    “A real man trusts you and advises you. He doesn’t try to invade your personal space or inquire you about everything you do.” (hal. 70)
    “Pria gentle itu tidak banyak bicara, apalagi membicarakan hal yang tidak penting. Honesty is his middle name and he will make it obvious through his actions.” (hal. 71)

    Bagaimana rasanya jika cinta pertamamu adalah pria yang sekaligus teman akrab dan rekan kerja kakak laki-lakimu? Lebih parah lagi jika cinta itu tak berbalas dan dia menghilang tanpa mengucap perpisahan. Itulah yang dialami Almira Wiratama. Mencintai Akradani Lawardi sejak usianya masih belia, merasakan penolakan, lalu kehilangan jejak selama bertahun-tahun. Tujuh tahun kemudian, ketika Almira atau Mira telah dewasa, Akradani mendadak muncul. Namun, pria yang berprofesi sebagai polisi itu kini menggandeng seorang gadis cilik cantik yang dinamai Almira Kania Azzahra dan menyapanya ‘Ayah’. Mira tentu syok dan berspekulasi bahwa sang cinta pertama yang diam-diam masih diharapkannya itu telah menikah dan bahagia. Namun, setelah tak kunjung bertemu istri Akradani, bahkan tak menjumpai sepucuk pun potret pernikahan, Mira mulai bertanya-tanya. Rasa penasaran itu pun terjawab ketika dalam sebuah kunjungan, ibu dari Akradani sendiri yang menjelaskan bahwa Akradani belum menikah dan Kania bukan anak kandungnya. Mira jelas lega, meskipun lantas bermunculan pertanyaan-pertanyaan lain terkait Kania dan keluarga Akradani.

    Setelah pertemuan demi pertemuan kembali mendekatkan Mira dengan Dani, Mira tak lagi mampu memendam perasaan. Dia memilih berterus terang tentang cinta yang masih disimpannya untuk Dani. Sesuai karakternya yang tak banyak bicara, Dani lebih memilih menunjukkan perasaan lewat tindakan. Kedekatan mereka ini lantas diketahui oleh kakak laki-laki Mira, Bang Andra. Dari gelagat yang ditunjukkan, Mira merasa ada rahasia besar yang masih ditutup-tutupi oleh Dani dan Bang Andra. Mira tak ingin mendesak, tapi dia menunggu saat Dani sendiri yang mengungkapkannya. Ketika saat itu tiba, Mira diberi pilihan, apakah akan tetap bertahan pada cintanya atau mundur setelah mengetahui sisi gelap seorang Akradani dan konflik keluarganya di masa lalu. Tak hanya itu, agaknya Dani masih tak mampu memaafkan atas apa yang terjadi di masa lalu. Di lain sisi, Mira sudah bisa membangun kedekatan dengan Kania.  Akankah Dani mampu berdamai dengan masa lalu dan membangun masa depan bahagia bersama Mira dan Kania?

REVIEW:

    “Aku nggak nyari pasangan yang sempurna. Menikah bukan Cuma buat seneng-seneng aja, kan?” (hal. 170)
    “Kita nggak akan pernah bisa memilih lahir dari orang tua seperti apa, tapi kita bisa memilih untuk menjadi orang tua seperti apa.” (hal. 251)
    “Menikah bukan hanya tentang cinta, tapi juga tentang saling memahami dan berbagi.” (hal. 268)

    Kisah tentang cinta pertama dan jodoh memang sangat populer dan disukai ketika diangkat dalam sebuah novel romance. Demikian pula dengan kisah cinta Almira dan Akradani ini. Yang menjadi daya tarik lain dari novel ini adalah profesi para tokoh utama yang terbilang jarang diangkat dalam novel romance. Mira yang seorang guru bimbingan konseling dan Akradani yang seorang polisi sekaligus penyidik di BNN. Dilan Andra Wiratama, kakak laki-laki Almira, beserta teman-temannya: Wira, Tora, dan Roy juga anggota kepolisian. Kisah masing-masing tokoh tersebut bersama pasangan masing-masing yang nggak jarang dibumbui kelucuandan keseruan juga menambah daya pikat novel ini. Saya juga salut dengan kepiawaian Kak Alnira dalam menulis alur dan plot sehingga dua profesi yang sekilas jauh bertentangan ini menjumpai keterkaitan dalam keseharian para tokoh tanpa ada kesan dipaksakan.

    Karakter Almira yang sedikit tomboi dengan kemampuan bela dirinya namun perlahan berproses menjadi lebih feminin, plus sifat perhatian dan cerewetnya juga kuat dan konsisten dari awal hingga akhir cerita. Sedangkan Akradani yang secara tabiat sedikit bicara, agak terkesan misterius, namun penyayang dan perhatian pada orang-orang terdekat, digambarkan tetap menyisakan ketidaksempurnaan lewat insiden masa lalu. Saya suka penggambaran karakter-karakter yang manusiawi dan dekat dengan kehidupan nyata seperti ini. Kita jadi bisa bercermin dari mereka. Almira dan Akradani pun menjadi saling melengkapi dan chemistry yang terbangun antara keduanya sangat terasa.

Cerita yang dikisahkan menggunakan sudut pandang orang pertama—Almira—ini memiliki alur yang relatif cepat. Penulis juga menyisipkan nuansa lokalitas berupa kuliner dan adat budaya Jambi dan Palembang. Hal ini sesuai penggambaran kedua tokoh utama yang meskipun tinggal di Jakarta tapi berasal dari daerah. Banyak dialog dan adegan romantis sekaligus lucu sehingga saya tak kuasa menahan diri untuk tertawa mengikuti kisah Mira dan Dani. Selain mengundang tawa dan baper dengan keromantisan Mira-Dani, saya juga merasakan kesedihan dan kekecewaan ketika sampai pada konflik keluarga Akradani. Mengingatkan kita akan makna sebuah keluarga dan berdamai dengan takdir dan masa lalu. Pada akhirnya, tak ada manusia yang sempurna, pun dalam mencari pasangan hidup tak mungkin mencari kesempurnaan. Semua berproses, termasuk dalam sebuah pernikahan. Adanya saling memahami dan melengkapilah yang kemudian menjadikan pernikahan bahagia dan cinta yang dibangunlah yang sempurna. Sebuah novel yang sarat pesan kehidupan dan cinta, disampaikan dengan cara yang manis, ringan, dan menghibur. Surely recommended.
 
“Hidup tanpamu itu bagaikan burung yang kehilangan satu sayapnya, bisa hidup tapi tak bisa terbang.”

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube