Rabu, 18 Oktober 2017

[RESENSI] Peony’s World: Tempat Teraman, Sekaligus Paling Tak Aman

Posted by Melani Ivi | 7:13:00 AM Categories:
Judul Buku         : Peony’s World
Penulis               : Kezia Evi Wiadji
Ilustrasi              : Sierra Aine
Penyunting        : Jia Effendi
Penerbit             : Bhuana Ilmu Populer
Cetakan             : pertama, 2017
Tebal                  : 236 hlm

BLURB:

    Sejak kecil, Peony memiliki ‘bakat istimewa’ yang membuatnya mampu menginjak di dua dunia, dunia nyata dan dunia ciptaannya. Bakat istimewa yang awalnya menimbulkan kesulitan ini, lambat laun membuat hidup Peony lebih berwarna.

    Jovan, laki-laki yang membuat hidup Peony bukan hanya berwarna, tetapi terasa sempurna. Hingga sebuah kecelakaan maut merenggut Jovan dari sisinya.

    Secara mengejutkan, Jovan muncul di dunia ciptaan Peony. Sejak saat itu, hidup Peony tak lagi sama. Keberadaan Jovan di dunia ciptaannya menuntun Peony ke sebuah buku tua, kisah keramat, dan sosok mengerikan yang mengincar nyawanya. Mengetahui hal itu, Jovan mati-matian melindungi, bahkan rela terpenjara di dunia ciptaan Peony hanya untuk menyelamatkan gadis itu.

SINOPSIS:
    “Aku pikir bakat istimewamu itu seperti Zafrina, si vampir Amazon di novel Breaking Dawn.” (hal. 16)
    “Roh itu mendekatimu melalui mimpi dan sewaktu kamu menciptakan dunia ciptaanmu ini, roh itu tahu dan ikut masuk.” (hal. 104)

    Peony atau yang akrab disapa Ony, memiliki bakat istimewa semenjak kecil. Dia mampu menciptakan dunia ciptaan lantas berpindah tempat ke dunia tersebut hanya dengan berkonsentrasi, bahkan mampu mengajak serta orang yang dikehendakinya. Kemampuan tersebut berkembang seiring bertambahnya usia. Papa, mama, tante, dan sahabatnya Lola mengetahui hal tersebut. meskipun awalnya menyulitkan, Ony yang kini sudah duduk di bangku SMA menikmati hari-harinya. Terlebih lagi ketika Jovan hadir. Cowok baik yang kemudian diberitahu mengenai rahasianya itu. Hingga suatu hari, dalam sebuah perjalanan bersama Jovan, Lola, dan Justin pacar Lola, sebuah kecelakaan maut terjadi dan merenggut Jovan dari sisi Ony.

Merasa bersalah dan kehilangan, Ony sempat terpuruk dan mengurung diri. Hingga kerinduan pada Jovan membangkitkan keinginan untuk menciptakan dunia khusus untuk mengenang Jovan. Tak disangka, ketika Ony memasuki dunia ciptaan itu, ia bertemu sosok Jovan. Anehnya, Jovan terlihat baik-baik saja. Merahasiakan hal tersebut dari sang mama dan Lola, Ony kerap menemui Jovan di dunia ciptaannya diam-diam. Namun, suatu hari, karena penasaran dan tak sanggup menahan rindu, Ony nekat menjumpai Jovan di jam-jam yang sudah dilarang Jovan. Betapa terkejutnya Ony ketika di dalam dunia ciptaannya kali itu tak hanya Jovan yang dijumpai, tapi juga sesosok bertudung hitam yang mengerikan. Beruntung, Jovan berhasil mendorongnya keluar dari dunia ciptaan. Semenjak itu, Ony tak bisa lagi menyimpan rahasia pertemuan dengan Jovan dari mamanya. Demikian pula mamanya, Sandra, yang juga mengungkapkan rahasia keluarga mereka. Dari Jovan, Ony dan Sandra menyadari bahwa sosok misterius bertudung itu mengincar nyawa Ony. Sandra lantas memutuskan melindungi putrinya dengan berbagai cara, terutama dengan menelusuri ingatan akan peristiwa di masa lalunya. Suatu hari, Ony menemukan sebuah benda yang biasa disebut dreamcatcher, yang lantas disadari mirip dengan tanda lahir miliknya. Dari sinilah, Sandra menelusuri petunjuk yang dianggap bisa membantu yang kemudian membawanya pada sebuah buku tua dan kisah keramat di dalamnya.

Bersama-sama, Ony, Sandra, Lola, dibantu Jovan dan Justin, memecahkan teka-teki tentang buku tua dan kisahnya. Mereka kemudian berhasil menemukan fakta tentang dua gadis kembar, Lisafera dan Lucifera dari masa lalu dan apa yang sebenarnya terjadi. Rencana demi rencana dan upaya dilakukan demi mengusir sosok roh mengerikan bertudung hitam dari dunia ciptaan Ony, atau Jovan akan terpenjara selamanya di sana, tak bisa berada di tempat yang semestinya.

REVIEW:
    “Aku nggak percaya ada orang yang dilahirkan menjadi si baik dan si jahat. Menjadi baik atau jahat adalah pilihan orang itu sendiri.” (hal. 189)
    “Mimpi buruk akan tertahan dan hilang seiring munculnya sinar fajar pertama. Sedangkan mimpi baik akan lolos melalui lubang di tengah-tengah lingkaran.” (hal. 226)

    Mengangkat genre fantasi dan misteri dengan nuansa magis, novel remaja ini menawarkan sesuatu yang berbeda. Apa lagi, baru kali ini memang saya membaca novel karya penulis Indonesia yang berani mengusung tema kemampuan ‘berpindah tempat’ dan kaitannya dengan dreamcatcher. Di halaman awal, terdapat ilustrasi cantik yang mengajak saya berkenalan dengan keempat tokoh utama: Peony, Jovan, Lola, dan Justin. Menggunakan POV orang ketiga dan alur maju yang sesekali dipadukan alur mundur lewat kilas balik kenangan yang ditandai dengan huruf yang dicetak miring, saya diajak bertualang ke dunia Peony yang magis namun tetap dekat dengan dunia remaja pada umumnya. Alurnya relatif cepat, gaya bahasanya ringan dengan pemilihan bahasa yang tergolong baku alih-alih bahasa gaul dengan gue-elu. Plotnya logis, dengan penyajian teka-teki, rahasia, dan petunjuk yang diungkap satu demi satu sehingga saya betah membaca hingga akhir.

    Berbicara tentang penokohan, karakter Peony sebagai pusat kisah cukup kuat. Dia digambarkan tak berbeda dari gadis remaja pada umumnya dalam keseharian, dengan sahabat dan kekasih yang menyayanginya dengan tulus. Secara fisik, saya suka penggambaran ciri khas Peony dengan sejumput rambut peach-nya. Demikian juga dengan sosok Jovan, remaja laki-laki cerdas, baik, dan bersikap melindungi. Mereka berdua ini pasangan yang serasi dan kompak. Lola di lain pihak, ceria, selalu ingin tahu. Setia kawan dan suportif, meskipun di cukup banyak kesempatan dia bisa menjengkelkan juga dengan sikap sok pemberani dan keras kepalanya yang merepotkan dan ‘merusak’ suasana. Justin kekasih Lola menjadi penyeimbang, apa lagi dia adalah yang tertua dari empat sekawan ini. Sikap Justin walaupun kadang jail, lebih dewasa dan menjadi pendukung yang selalu ada saat dibutuhkan. Saya suka dengan kisah persahabatan dan kekompakan mereka, juga fakta bahwa meskipun tak dikaruniai bakat istimewa, Lola, Justin, dan Jovan diberikan peran penting dalam alur cerita. Sosok Sandra sebagai mama yang penyayang sekaligus misterius dengan rahasia keluarganya juga berhasil menyedot perhatian saya.

    Hal lain yang saya sukai dari novel ini adalah momen-momen kemunculan sang sosok bertudung hitam dalam dunia ciptaan Peony, yang meskipun tak banyak ‘drama’ tapi entah mengapa selalu sukses membuat saya merinding. Kak Kezia berhasil menciptakan aura mencekam dalam setiap kemunculan sosok ini. Dan bagian jelang akhir yang menegangkan, bersamaan dengan dibukanya petunjuk demi petunjuk menjadi bagian paling favorit saya. Saya juga puas dengan akhir yang disuguhkan, meskipun tidak menampik bahwa saya ingin ada kelanjutan kisah, dengan petualangan baru dari Peony dan kawan-kawannya. Saya rasa, kisah ini masih dapat dikembangkan lagi menjadi jauh lebih menarik dan menantang, terutama dengan kehadiran satu tokoh baru. Apakah kira-kira Kak Kezia bersedia mempertimbangkan hal ini? 

Bagi pembaca remaja, novel ini menawarkan pengalaman membaca yang baru dan seru dengan pesan moral yang disisipkan dengan apik. Very recommended.

“Perbuatan adalah cerminan isi hati. Perasaan iri dan mementingkan diri sendiri, menyebabkan kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.”






Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube