Jumat, 31 Oktober 2014

[Resensi Novel Rindu] Sebuah Kisah Perjalanan Panjang Tentang Kerinduan

Posted by Melani Ika Savitri | 8:48:00 PM Categories:



Judul Novel : Rindu
Penulis     : Tere Liye
Editor      : Andriyati
Cover       : EMTE
Lay out     : Alfian
Penerbit    : Republika Penerbit, 2014
Halaman     : ii + 544 hal; 13.5x20.5 cm
ISBN        : 978-602-8997-90-4



Blurb

    “Apalah arti memiliki, ketika diri kami sendiri bukanlah milik kami?
Apalah arti kehilangan, ketika kami sebenarnya menemukan banyak saat kehilangan, dan sebaliknya, kehilangan banyak pula saat menemukan?
Apalah arti cinta, ketika kami menangis terluka atas perasaan yang seharusnya indah? Bagaimana mungkin, kami terduduk patah hati atas sesuatu yang seharusnya suci dan tidak menuntut apa pun?
Wahai, bukankah banyak kerinduan saat kami hendak melupakan? Dan tidak terbilang keinginan melupakan saat kami dalam rindu? Hingga rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja.”


Sinopsis


Ini adalah kisah tentang perjalanan, dibumbui dengan pertanyaan-pertanyaan besar yang dilontarkan para tokohnya, konflik yang mengiringi, serta solusi yang ditawarkan. Sebuah novel yang merangkum lima kisah besar tokoh-tokohnya dalam sebuah perjalanan panjang kerinduan. Ini adalah kisah tentang masa lalu yang memilukan. Tentang kebencian kepada seseorang yang seharusnya disayangi. Tentang kehilangan kekasih hati. Tentang cinta sejati. Tentang kemunafikan.


Cerita ini bermula di suatu pagi di pengujung tahun 1938, tepatnya 1 Desember 1938. Perlu diketahui, tahun 1938 adalah salah satu tahun bersejarah. Bagi Indonesia—yang kala itu masih bernama Hindia Belanda—itu merupakan tahun keikutsertaan dalam Piala Dunia di Perancis pertama kali dan sekali=sekalinya. Selain itu, berarti masih tujuh tahun lagi dari tahun kemerdekaan 1945. Di Eropa, Hitler menyerang Austria, yang menjadi benih-benih Perang Dunia II. Di kawasan Asia Pasifik, Jepang dan China terlibat perang besar memperebutkan Kanton dan Shanghai.  Setting ini diperjelas oleh penulis sendiri sebagai wacana pendukung kelogisan alur-plot dan karakter-karakter yang dimunculkan dalam cerita. 


Sebuah kapal uap penumpang raksasa bernama BLITAR HOLLAND berlabuh di Pelabuhan Makassar untuk mengangkut calon jama’ah haji dari Indonesia (Hindia Belanda), sepekan sesudah hari raya idul Fitri. Perjalanan yang pada masa sekarang bisa ditempuh dalam hitungan jam menggunakan pesawat terbang, pada masa itu harus ditempuh selama beberapa bulan lewat jalur laut. Di Makassar inilah empat tokoh utama dalam cerita naik. Mereka adalah Gurutta Ahmad Karaeng, Daeng Andipati, Ambo Uleng, dan Bonda Upe. Dapat dikatakan, perhentian di Makassar merupakan titik tolak kisah dalam novel ini.


Gurutta yang merupakan tokoh ulama terkemuka dari Makassar, dari garis keturunan terpuji para ulama Nusantara memerankan tokoh sentral yang disegani oleh para penumpang sekaligus nahkoda kapal, Kapten Phillips. Permasalahan justru timbul dari Sergeant Lucas yang memiliki prasangka buruk terhadap Gurutta semenjak awal. Kemahsyuran nama Gurutta sebagai ulama yang disegani, dengan pengajian rutin yang senantiasa diminati masyarakat, membawa pesan agama yang kuat, menjadi alasan yang tepat bagi serdadu Belanda tersebut untuk menaruh curiga. Kecurigaan akan rencana untuk menghasut para penumpang agar memberikan perlawanan atas penjajahan Belanda.


Ulama yang bijak ini memilih mengesampingkan perlakuan penuh intimidasi dan kesewenangan Sergeant Lucas padanya dan fokus menebarkan kebaikan, bahkan selama dalam perjalanan panjang menuju Tanah Suci. Berkat kepemimpinan Gurutta dan inisiatif bijaknya, berbagai program pengajian, pembelajaran di kapal bagi para penumpang digiatkan. Tak terkecuali bagi penumpang kanak-kanak yang cukup banyak jumlahnya. Meski sempat mengalami penolakan di awalnya, berbagai program tersebut dapat berjalan baik sebagaimana mestinya berkat bantuan Daeng Andipati, Kapten Phillips, Bapak Guru Soerjaningrat, dan Bapak Guru Mangoenkoesoemo—kedua guru ini penumpang yang naik dari pelabuhan Surabaya.


Di Pelabuhan Semarang, naiklah pasangan penumpang lanjut usia, Mbah Kakung Slamet dan istrinya yang sangat mesra. Pasangan yang telah menikah berpuluh tahun itu hendak menunaikan ibadah haji ditemani sang putri sulung. Kisah hidup dan pernikahan mereka menjadi salah satu topik perbincangan yang dinikmati di kapal. Dari pasangan ini pula para penumpang belajar banyak hal tentang kasih sayang dengan pasangan hidup.


Ambo Uleng, pemuda pelaut yang profesi terakhirnya adalah juru mudi kapal Pinisi menjadi salah seorang karakter yang misterius. Kemunculannya di kapal lewat pengajuan diri sebagai awak kapal bahkan telah menarik rasa ingin tahu Kapten Phillips. Pembawaaannya yang pelit bicara, kaku, nyaris tidak pernah tersenyum menambah kemisteriusan tersebut. Namun berkat kebijaksanaan dan rasa ibanya, Kapten Phillips memutuskan menerima meskipun Ambo tak memiliki pengalaman berkaitan dengan pengoperasian kapal uap. Jadilah Ambo diterima sebagai kelasi bagian dapur, dan sekamar dengan Ruben Boatswain.


Tokoh misterius lain adalah Bonda Upe, perempuan bernama asli Ling Ling keturunan Tionghoa yang menyimpan kelamnya masa lalu. Bonda Upe ini tertutup, nyaris tak mau berinteraksi dengan penumpang lain—kecuali dalam rangka mengajar mengaji anak-anak. Di dalam perjalanan ini nantinya misteri masa lalu yang tragis itu terkuak, akibat sebuah insiden tak terduga ketika mereka turun berjalan-jalan sejenak di Batavia.


Daeng Andipati, seorang pedagang sukses Makasar yang naik beserta dua putri dan istrinya juga menjadi tokoh sentral dengan rahasia pribadi. Sebuah insiden mematikan di atas kapallah yang akhirnya menguak tabir rahasia itu. Dari dua insiden besar di atas kapal dan satu insiden di luar kapal, Ambo Uleng berperan besar sebagai penyelamat. Dari sinilah hubungan itu terjalin antar tokohnya. Gurutta sebagai tempat bertanya dan mencari petuah atau solusi, dengan tokoh-tokoh lain yang hendak mempertanyakan dilema hati mereka. Hanya saja, ada satu hal yang tidak diketahui para penumpang lain, terkait masalah Gurutta sendiri, yang baginya terbilang pelik dan mendesak untuk dipecahkan.


Kapal haji ini menaikkan penumpang dari sejumlah pelabuhan, sehingga tokoh-tokoh baru bermunculan dari tiap pelabuhan ini.
Kisah perjalanan kapal uap besar ini, dengan kehidupan ‘kecil’ yang berlangsung di dalamnya, konflik yang timbul satu per satu, dan akhir yang sedemikian rupalah yang dituturkan oleh novelis Tere Liye di sini. Lantas, bagaimana akhirnya aneka permasalahan besar maupun kecil itu dituntaskan? Apa klimaks cerita yang disuguhkan? Anda dapat menyimak lengkapnya dengan membaca kisah Rindu ini.

Review Novel


    Novel yang terbilang tebal—terutama dibandingkan novel-novel Tere Liye sebelumnya—ini berdesain sampul sederhana namun dalam maknanya. Simbol ‘R’ yang artistik melambangkan kerinduan itu sendiri, dengan latar belakang warna putih yang jika diamati secara cermat merupakan sehelai kertas surat dengan tulisan tangan kumal yang nyaris luntur. Surat ini merupakan bagian dari kisah seorang tokoh dalam novel. Blurb yang disajikan di bagian belakang sampul juga amat ‘menggiurkan’, cukup kuat menarik tangan pembaca untuk mengambil novel lantas membelinya ketika melihat di rak toko buku.


Nama besar Tere Liye sendiri yang telah melahirkan banyak karya novel yang berkualitas dan telah menempati ruang tersendiri di hati pembaca setianya menjadi salah satu pemikat dan ‘jaminan’ akan keindahan dan kedalaman jalinan cerita Rindu ini. Bahkan, saya pernah iseng melakukan survei di akun sosial media mengenai kepopuleran Tere Liye dan pendapat para pembaca setia novel karya penulis Indonesia, dan hasilnya sangat menarik. Nyaris tidak ada yang mengeluh dengan karya-karya novelis yang beberapa novelnya sudah difilmkan ini. Setiap novel meninggalkan kesan tersendiri yang unik di hati pembaca. Seorang CEO sebuah penerbit mayor pun pernah memuji terang-terangan dengan mensejajarkan karya-karya Tere Liye dengan penulis sekelas Paulo Coelho. Dikatakan bahwa Tere Liye mampu melawan arus tren genre novel, yang acapkali saling membebek satu sama lain. Kalaupun Tere Liye menulis tentang cinta, romansa, taste-nya akan berbeda dan lebih kaya. Bagi saya pribadi, gaya bahasa Tere Liye bukanlah gaya bahasa yang mengedepankan diksi puitis, sulit dimengerti, atau penuh kosakata yang jarang dipakai. Diksi pilihannya relatif sederhana, namun dengan sudut pandang pemikiran yang matang, sehingga apa pun tema dan konflik yang diciptakan akan terasa berjiwa dan membekas di hati.


Menggunakan sudut pandang penceritaan orang ketiga, ‘yang mahatahu segala” dan alur maju, di novel terbarunya ini, Tere Liye kembali mengangkat romansa percintaan dan kehidupan, dengan level yang lebih tinggi. Ini bukan lagi kisah sederhana sepasang kekasih dengan cinta terlarangnya dan akhir yang bahagia. Kali ini sang novelis piawai menggabungkan setting unik, kapal uap raksasa di zaman penjajahan Belanda, lebih spesifik lagi di masa keberangkatan jamaah haji. Bisa kita bayangkan betapa rumit detail setting dan penokohan yang harus dikaji dan dipersiapkan melalui riset oleh Tere Liye demi kematangan konsep cerita dan eksekusi yang sempurna. Mengutip perkataan salah seorang tokoh cerita, Gurutta Ahmad Karaeng, “Jika kau ingin menulis satu paragraf yang baik, kau harus membaca satu buku. Maka jika di dalam tulisan itu ada beratus-ratus paragraf, sebanyak itulah buku yang harus kau baca.” (halaman 196-197). Agaknya cuplikan dialog dalam novel ini cukup menjelaskan opini sang novelis sendiri mengenai sebuah karya yang baik dan ditulis dengan totalitas.


Potongan-potongan percakapan atau narasi beraroma sejarah nasional maupun internasional di masa perjuangan dapat dibaca di banyak halaman. Penulis dengan piawai menyelipkannya lewat narasi deskripsi maupun dialog antar karakter. Sebagai contoh:


•    “Pemuda ini memang gagal membendung tentara Kompeni berkuasa di Tanah Bugis. Tapi sejarah mencatat, dialah panglima perang paling mahsyur di wilayah timur. Kompeni menjulukinya De Haav van de Oesten, Ayam Jantan dari Timur. Yang kokok suaranya membangunkan seluruh rakyat untuk bersatu melawan penjajah. Yang kokok suaranya mampu menggetarkan serdadu Belanda hingga Eropa sana. Pemuda itu adalah Sultan Hasanuddin. Makamnya ada di Karangka, di dekat masjidku.” (halaman 101—percakapan Gurutta dengan Ambo Uleng dan Ruben Boatswain)
•    “Bergeser lagi ke selatan, terdapat bangunan paling indah di masa itu (sekarang dikenal dengan nama Lawang Sewu yang berarti seribu pintu). Bangunan ini merupakan kantor pusat perusahaan kereta api Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM). Sesuai namanya, bangunan itu memiliki lebih banyak pintu dan jendela dibandingkan lima puluh rumah dijadikan satu.” (halaman 171—deskripsi kota Semarang saat kapal berlabuh)

Terkait setting perjalanan selama di atas kapal uap dan mengarungi selat, teluk, dan samudera, Tere Liye memang menekankan kelogisan dengan deskripsi yang barangkali bagi pembaca penyuka setting alam yang dinamis akan merasa bosan. Simak saja kutipan deskripsi berikut:


•    ”Senja pertama di atas kapal. Langit bersih tanpa awan membuat pemandangan saat matahari bundar merah perlahan masuk ke dalam permukaan laut di kaki langit barat nampak menakjubkan.” (halaman 47)
•    “Pukul tujuh tepat, peluit kapal berbunyi nyaring dua kali. Tanda jadwal sarapan telah tiba. Penumpang beranjak keluar dari kabin masing-masing. Memenuhi lorong-lorong kapal, sambil bercakap santai menuju kantin.” (halaman 73)
•    “Pagi itu cerah. Langit biru sejauh mata memandang. Cerobong tinggi kapal mengepul. Bendera di tiang-tiang layar berkelepakan. Satu-dua burung camar terbang rendah. Suara mereka melengking nyaring.” (halaman 103)


Deskripsi ini beberapa kali berulang dengan detail yang agak mirip. Rutinitas yang dilakoni awak kapal dan penumpang yang nyaris sama. Pemandangan sekitar lautan dan langitnya yang bersiklus tak jauh beda. Namun itulah logisnya perjalanan di sebuah kapal besar dalam waktu berminggu-minggu. Namun pembaca tetap dapat menjumpai dinamika di saat-saat kapal berlabuh cukup lama di beberapa pelabuhan dan beberapa penumpang memutuskan rehat berplesiran sejenak. Seperti ketika di Surabaya atau di Batavia.


“Daeng Andipati segera tahu apa yang sedang terjadi. Itu suara granat...” (halaman 129—adegan ketika Daeng Andipati dan dua putri kecilnya turun untuk berbelanja di Surabaya).


“Rombongan turun dari kereta. Daeng Andipati berpesan ke saisnya, agar mereka menunggu. Anna sudah loncat sejak tadi, mendongak menatap papan nama, “Kedai Soto Betawi”...” (halaman 217—adegan plesir di Batavia)


    Selain itu, dinamika cerita didapatkan dari suspense yang ditata apik sepanjang alur-plot kisah. Untuk hal ini, Tere Liye—seperti yang biasa dilakukan di novel-novelnya yang lain—menyisipkan semacam trik. Di beberapa pergantian bab (akhir bab atau awal bab), penulis ini sengaja menyuguhkan sebuah kalimat beraroma teka-teki, petunjuk yang mengundang rasa penasaran tentang konflik menarik apa yang bakal terjadi selanjutnya. Coba simak sekelumit contoh penggalan berikut:


•    “Sayangnya, bukan pengalaman naik trem yang paling diingat oleh Anna hari itu. Juga bukan saat mereka belanja pakaian baru.” (halaman 127—awal bab empat belas)
•    “Di tengah ramai percakapan pagi itu, orang-orang lalai memerhatikan kalau wajah Bonda Upe cemas. Ia beberapa kali memegang lengan suaminya, berbisik sesuatu. Suaminya balas berbisik, samar terdengar tentang, “Tidak akan ada yang tahu tentang Batavia, Bou. Tidak ada.” (halaman 186) dan masih sederet kutipan menantang serupa.


Kemahiran menciptakan suspense sehingga pembaca tak ingin menjeda bacaan, ingin terus membalik lembar demi lembar buku, memang penting dalam sebuah karya fiksi.


    Kepiawaian Tere Liye dalam menciptakan koneksi, rasa saling terhubung, antara pembaca dengan karakter-karakter dalam cerita novel Rindu ini juga terbilang sukses. Aneka adegan yang menyulut senyum, tawa, kesedihan, kekhawatiran, ketakutan, bahkan amarah antar tokohnya sangat terasa bagi saya selama pengalaman membaca seluruh halamannya. Sebagai contoh, adegan-adegan berikut:


•    “Tanpa berpikir dua kali, ketika Anna terguling jatuh di jalan, Ambo bagai seekor induk singa, langsung lompat, memeluknya erat-erat. Membiarkan tubuhnya menjadi tameng. Kaki-kaki orang ramai menghantam tubuhnya. Tidak hanya sekali, berkali-kali punggungnya terinjak, betisnya ditendang, bahkan tengkuknya terkena sepatu. Ambo Uleng menggigit bibir, menahan sakit. Tapi demi mendengar Anna yang ada dalam pelukannya menangis terisak, ketakutan, Ambo Uleng bersumpah ia tidak akan menyerah. Ia tidak akan menghindar. Ia tetap memeluk Anna.” (halaman 134)
•    “Nah, yang satu ini siapa namanya?” “Elsa, Mbah Kakung.” Elsa berseru kencang. “Oh, Entah. Mbah Kakung seolah yakin sekali dengan pendengarannya, “Namamu kenapa aneh begitu, Nak?” (hal. 181)
•    “Seumur-umur menjadi koki, aku tidak pernah bisa mengandalkan kalian. Lebih baik mengandalkan wajan dan kuali. Mereka tidak pernah terlambat saat dibutuhkan. Tidak pernah mengeluh meski dibakar di nyala api. Dan tidak pernah mengecewakan. Tahan banting itu wajan. Sementara kalian? Kelasi tidak berguna!...”Ambo Uleng menunduk semakin dalam. Beruntung Kepala Koki itu bekerja di dapur, jadi meski mulutnya tajam, perumpamaaan yang ia pakai hanya sayur-mayur, kuali, wajan, dan sejenisnya. Celaka sekali kalau ia bekerja di kebun binatang, kosa kata makiannya bisa mengerikan. (halaman 167-168)


Dialog-dialog dalam kisah Rindu ini pun bernas, kaya hikmah kehidupan. Petuah-petuah, filosofi hidup, sindiran halus bertebaran di sepanjang halaman, dan meski mayoritas dituturkan lewat sosok Gurutta yang memang digambarkan berilmu agama paling tinggi, usia matang, dan bijaksana, namun tak sedikit pula yang terlontar dari bibir tokoh seperti Ambo Uleng yang bahkan baru mulai kembali belajar shalat dan mengaji di atas kapal BLITAR HOLLAND, atau dari bibir mungil Anna. Simak saja:


•    “Anna tidak banyak cakap lagi, mengambil handuk. Orang dewasa itu kenapa rumit sekali, pikirnya. Kenapa mereka mencemaskan banyak hal. Gurutta senang, kok, mereka menghabiskan sore di kabinnya. Malah ia dipinjami buku.” (halaman 199)
•    “Bagaimana ia menulis sebuah buku yang membuat jutaan pembaca tergerak hatinya, jika ia sendiri tidak tergerak? Bagaimana ia bicara tentang perlawanan, tapi ia sendiri adalah pelaku paling pengecut? Saat pikiran-pikiran itu melintas, Gurutta gemetar meletakkan pena.” (hal. 232)
•    “Pahami tiga hal itu, Nak, semoga hati kau menjadi lebih tenang. Berhenti lari dari kenyataan hidupmu. Berhenti cemas atas penilaian orang lain, dan mulailah berbuat baik sebanyak mungkin.” (hal. 315)
•    “Takdir tidak pernah bertanya apa perasaan kita... Takdir bahkan basa-basi menyapa pun tidak. Nah, kabar baiknya, karena kita tidak bisa mengendalikannya, bukan berarti kita jadi makhluk tidak berdaya. Kita tetap bisa mengendalikan diri sendiri bagaimana menyikapinya.” (hal. 471)
•    “Ilmu agamaku masih dangkal, Gurutta. Tapi malam ini, kita tidak bisa melawan kemungkaran dengan benci di dalam hati atau lisan. Kita tidak bisa menasihati perompak itu dengan ucapan-ucapan lembut. Kita tidak bisa membebaskan Anna, Elsa, Bonda Upe, Bapak Soerjaningrat, dan seluruh penumpang dengan benci di dalam hati. Malam ini kita harus menebaskan pedang.” (halaman 533)
Masih ada sejumlah kutipan-kutipan dialog bernas lain, namun kutipan-kutipan di atas termasuk mewakili menurut saya.


    Novel ini juga cukup kompleks merangkum gambaran kehidupan, pemahaman yang ingin disampaikan penulis. Sebagaimana dikatakan lewat sebuah penuturan di dalamnya, “Menulis adalah salah satu cara terbaik menyebarkan pemahaman, Ruben.” (hal. 501), maka dalam novel panjang ini Tere Liye benar-benar menghidangkan menu komplit itu. Di dalam kisah ini terdapat romansa cinta anak muda, kisah sejati pasangan lanjut usia, berdamai dengan masa lalu, memaafkan, dan dakwah yang sejati. Jika diibaratkan sebuah film, kisahnya menampilkan adegan drama, komedi, keceriaan kanak-kanak, petualangan, hingga aksi laga. Bukankah kehidupan kita juga bagai dalam bahtera (kapal), yang acapkali terombang-ambing badai, dengan konflik penumpang (masyarakat) di dalamnya, yang pastinya berasal dari latar belakang yang variatif (suku, pendidikan, keluarga, dan sebagainya)? Bukankah bahtera itu pada akhirnya berlabuh di tujuan akhir (akhirat)? dan bahwasanya setiap manusia itu pasti punya cela, tak ada yang sempurna, selaiknya gambaran tokoh-tokoh di dalam kisah ini.


Tere Liye tak lupa juga menyisipkan pentingnya dakwah dan pendidikan semenjak usia belia. Tergambar dari sejumlah besar adegan belajar-mengajar di kelas Anna dan Elsa di atas kapal, dengan metode pengajaran yang fleksibel, bahkan dipuji oleh sang kapten kapal. “Terus terang, jika guru-guru di sekolah kalian seperti Anda, besok lusa bangsa kalian akan menjadi bangsa yang besar dan kuat.” (hal. 348). Kehadiran dua tokoh utama anak-anak di dalam novel ini pun disengaja untuk melukiskan betapa menimba ilmu itu bisa dilakukan di mana saja, kapan saja, dan dengan cara apa saja. Kehadiran dua gadis cilik tersebut juga sekaligus memberikan teguran-teguran halus bagi tokoh-tokoh dewasa melalui celoteh polos mereka.


Bahkan, menurut saya, penciptaan setiap karakter dalam kisah ini memang sedemikian apiknya, sehingga masing-masing tokoh memegang peran penting, dan menciptakan keharmonisan, kesatuan cerita yang indah dan sempurna. Anda akan memahami maksud saya jika telah membaca kisah apik ini. Dan yang paling mengesankan bagi saya, sekaligus mengangkat nama Tere Liye lebih tinggi di mata saya adalah keberaniannya menampilkan sisi perjuangan melawan kezaliman, penjajahan, dengan jalan perbuatan nyata yang di zaman sekarang kerap disalahartikan atau dikonotasikan dengan terorisme, ekstrimisme. Sehingga makna 'Rindu' sebagai judul novel tak sedangkal kelihatannya. kerinduan sejati akan pertemuan dengan Sang Mahapemilik rindu. Salut atas karya brilian ini.

Penutup


Tiap karya penulis—tak terlepas dari kelemahan sebagai manusia—selalu memiliki celah kekurangan atau kekhilafan. Demikian pula novel ini, yang sayangnya ‘membiarkan’ masih adanya typo, seperti kesalahan pengetikan, kesalahan pemisahan imbuhan menjadi kata sambung, yang bagi penulis sekelas Tere Liye barangkali cukup aneh masih bisa juga terjadi. Namun ‘kesalahan’ kecil ini masih bisa diperbaiki di cetakan selanjutnya—yang saya yakin akan hadir. Secara keseluruhan, novel ini adalah salah satu novel terbaik yang pernah saya baca, dan bahkan layak difilmkan dengan tidak menambah atau mengurangi keaslian versi novelnya.
Saya berikan pujian 4,5 bintang dari 5 bintang untuk novel dahsyat ini. [*]
Reaksi:

10 komentar:

  1. setuju... pasti bagus klo dbikin filmnya :)

    BalasHapus
  2. Resensinya mantap...panjang dan laaamaaaa, hehehehe..
    Semoga menang ya, kudoain :) 👍

    BalasHapus
  3. Keren badaaaai, Kak Mel... ane semakin mupeng sama bukunya, semoga menang resensinya Kak, bagus dan lengkap gini... ;) ;) aamiin 4,9 bintang dari 5 ;)

    BalasHapus
  4. makasih nih resensinya, masalahnya di cirebon belum ada buku ini, kemarin sudah nyari . nanti kalau sudah ada pasti tak beli

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga lekas nangkring di toko buku Cirebon Bu Hastira :)

      Hapus
  5. Terima kasih teman-teman, sudah menyempatkan berkunjung ke sini :)

    BalasHapus
  6. bagus resensinya dan semoga sukses mbak mel

    BalasHapus
  7. hm..reviewnya cukup lengkap. Saya lagi baca bukunya. Nanti kita diskusikan ya, Mbak (^_^)9

    BalasHapus

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube