Selasa, 06 Maret 2018

Judul buku          : Berjalan Jauh
Penulis                : Fauzan Mukrim
Editor                 : Windy Ariestanty & Gita Romadhona
Penerbit              : Penerbit KataDepan
Tahun terbit         : Januari 2018, cetakan pertama
Tebal buku          : vi + 244 hlm; 13 x 19 cm

BLURB:
    “... Yang terpenting sebenarnya bukan seberapa jauh kau pergi, atau seberapa berbahaya tempat yang kau datangi itu, melainkan seberapa dalam kau bisa menemukan dirimu di mana pun kau berada.”

    Dalam Berjalan Jauh, kau akan menemukan banyak sisi cerita. Bisa jadi, sebenarnya kau sudah mengakrabinya, meski ketergesaan membuatmu gampang lupa.

    Berjalan Jauh
adalah rasa rindu yang disimpan dalam catatan-catatan hangat sekaligus doa yang panjang tentang masa depan yang masih dalam angan.

    Berjalan Jauh
berisi banyak cinta yang bisa kau gunakan dalam segala cuaca.

Sinopsis & Review:
    “Itulah mengapa aku menulis ini, Nak. Untuk mengenang kebaikan-kebaikan kecil orang lain yang mudah sekali terlupakan.” (hlm. 6)

    “Mel Gibson, bintang film Hollywood yang badannya besar itu pernah berfatwa, “Bila engkau ingin mengetahui titik lemah seseorang, biarkan saja dia berbicara sebanyak-banyaknya, sementara kau mendengarkan saja.” Dan, inilah aku melantur dan membual sepanjang ini, dengan tujuan yang sama: agar kau tahu kelemahanku.” (hlm. 55)

    Berisi lima puluh satu (51) judul, buku nonfiksi ini menyuguhkan bermacam sisi cerita. Disajikan ringkas, bahkan ada yang hanya dalam satu-dua halaman. Pemilihan judul ada kalanya sederhana tapi tetap menarik, dan ada juga yang unik. Meskipun menggunakan format seorang ayah yang bertutur kepada anak laki-lakinya yang masih kecil dalam catatan-catatan, ada kalanya penulis berusaha memandang suatu kisah dan mengambil hikmah atasnya dari sudut pandang orang lain. Sebuah usaha untuk berempati seraya menularkan pemahaman itu pada sang anak. Ada kalanya cerita yang dituturkan sederhana, dekat sekali dengan keseharian kita, tapi penulis mahir mengemasnya dalam gaya bercerita yang menarik, perumpamaan yang tepat, sekaligus menyisipkan pesan moral yang jelas dan mendalam. Mengingatkan kita akan kelalaian untuk mengambil ibrah atau tak sadar melupakan begitu saja berbagai hal di sekitar. Terkadang penulis lihai melibatkan kejadian yang sudah familier atau pernah kita baca dan dengar di media massa, tapi tak jarang juga mengangkat peristiwa bersejarah atau pengetahuan yang terlupakan atau kurang dikenal. Lantas, saya juga kerap dibikin terkaget-kaget dengan ‘twist’ alias kejutan di bagian akhir yang selintas tak terpikirkan di awal cerita.

    Penulis juga menuangkan kenangan berkesan masa silamnya baik yang membahagiakan maupun yang menyedihkan. Ibarat rasa rindu yang ingin dibagi dengan anaknya maupun pembaca. Juga harapan-harapan akan masa depan, lewat peristiwa-peristiwa yang dialami di masa kini. Tentu saja, dengan hikmah yang diselipkan. Beberapa hikmah disarikan juga dari ajaran agama.

    Membaca Berjalan Jauh, saya dibikin tertawa dan tersenyum lebar oleh cerita yang terkesan konyol, perumpamaan yang menggelikan tapi cerdas, sekaligus terenyuh hingga menitikkan airmata. Bahkan merasa tersentil juga dengan sindiran-sindiran tak langsungnya. Hampir semua cerita awalnya terkesan melantur dan melebar ke mana-mana, diselipi detail-detai yang terkesan tak berkaitan dengan pesan yang ingin disampaikan, tetapi saya menilai penulis sengaja melakukannya agar sang anak mengenalnya sedemikian rupa, hingga menemukan kelemahan, kelebihan, apa yang disukai dan tidak disukai.

    Saya suka semua ceritanya, tapi tetap ada yang lebih favorit dari yang lain. Sebut saja cerita berjudul “Hari yang Berat”, yang mengenalkan sosok berempati tinggi, meski kebaikannya terkesan sepele, yakni bersikap santun pada orang asing, yang bahkan tak bertatap muka dengannya secara langsung. Serupa dengan cerita “Suaka bagi Hal-Hal Baik”, tentang orang yang tanpa sadar telah melestarikan hal-hal baik dalam dirinya, di kala kebaikan itu mulai menjadi hal langka di negeri ini. Juga cerita “Dua Ayah yang Tidak Mengobrol Bola” yang tak saya duga mengangkat topik tentang hubungan ayah-anak yang diwarnai kekecewaan akan pola pengasuhan yang salah. Menyentuh, membuat siapa pun berkaca akan hubungannya dengan orangtua sendiri, disertai hikmah mendalam yang tak terpikirkan. Dan cerita “Ikut Jumatan”, yang sangat singkat tapi langsung membuat saya tersentil dan teringat akan ibu saya. 

    Sebelum membaca hingga tuntas, saya tak berekspektasi tinggi terhadap buku ini. Tapi ternyata menjadi pengalaman membaca yang menyenangkan sekaligus menginspirasi. Blurb dan tagline-nya sesuai isi , yang banyak pula mengandung unsur parenting yang mendidik tanpa kesan menggurui. Membacanya bisa jadi tak bisa dalam sekali duduk dan pesannya membuat kita berpikir lama sesudah menamatkan. Saya juga yakin akan rela membaca ulang entah berapa kali lagi di masa yang akan datang. Fauzan Mukrim seems to be a good storyteller. Mungkin ada pengaruh juga dari profesinya sebagai jurnalis. Sekadar masukan, jika buku ini ada kelanjutannya, akan lebih menarik jika disertai koleksi foto pribadi atau ilustrasi keseharian ayah-anak.

Kutipan-Kutipan Favorit:
    Selain menghibur, Berjalan Jauh juga memuat pernyataan-pernyataan inspiratif, baik dari penulis sendiri, berkaitan dengan cerita yang dituturkan, maupun pernyataan orang lain termasuk dari tokoh-tokoh terkenal. Berikut adalah beberapa yang saya suka.

    “Kita kaktus, Nak. Itu artinya kita akan bertahan, tanpa harus mengabaikan atau menganggap yang lain tak penting.” (hlm. 21)

    “... sesuatu yang terlihat tidak efisien, memperlambat atau menyiksa, sering kali diperlukan untuk melatih diri kita sehingga terhindar dari kutukan zona nyaman. Zona yang ujung-ujungnya hanya akan membawa kerusakan dan silang sengkarut.” (hlm. 59)

    “... betapa sering kita memelihara rubah dalam diri kita. Ketika kita kehilangan kuasa pada sesuatu, kita menyalahkannya. Atau setidaknya merendahkannya bahwa dia memang sama sekali tak berarti untuk kita. “ (hlm. 75)

    “Pagliacci dalam diri kita lalu pergi menemui dokter, atau siapa pun yang kita anggap pintar, yang justru menyarankan kita untuk bertemu dengan diri kita sendiri. Itulah jalan kebahagiaan. Kita tahu arahnya. Kita hanya sering kali lupa. Sering kali merasa teralienasi.” (hlm. 101)

    “Sayangi ibumu selalu. Untukmu, dia telah menyediakan dua tempat terbaik. Sembilan bulan dalam perutnya dan seumur hidup dalam doanya.” (hlm. 115)

    “Keberanian adalah ketakutan yang sudah berdamai.” (hlm. 133)

    “Untuk meraih impianmu, cukup dengan menempatkan kedua kakimu bergantian di depan.” (hlm. 150)

    “Kata film Korea, kau tak akan pernah tahu kesedihan seorang ayah, karena airmatanya hanya akan menetes di gelas kopinya.” (hlm. 221)

    “Berkotor-kotor berkeringat untuk memenuhi piring nasi orang yang dicintai dengan makanan yang halal, adalah sebenar-benar panggilan jiwa.” (hlm. 232)
   

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube