Kamis, 01 Maret 2018

Salt to the Sea: Tragedi Terlupakan dan Korban Perang yang Terbungkam

Posted by Melani Ivi | 12:23:00 PM Categories:
Judul buku           : Salt to the Sea
Penulis                 : Ruta Sepetys
Alih bahasa          : Putri Septiana Kurniawati
Editor                  : Fidyastria Saspida
Penerbit              : PT Elex Media Komputindo
Cetakan              : pertama, 2018
Tebal buku          : 369 hlm.

BLURB:   
    Tahun 1945. Perang Dunia II merambah Prusia Timur. Jutaan pengungsi pergi mencari tempat aman. Di antara mereka terdapat empat orang dengan kisah dan rahasia yang berbeda.

    Takdir mempertemukan keempatnya di Wilhelm Gustloff, kapal megah yang menjadi tempat mereka menggantungkan harapan bersama lebih dari sepuluh ribu penumpang lainnya.

    Tapi sebelum kebebasan sempat diraih, tragedi besar pun terjadi. Tak peduli dari negara mana mereka berasal dan status apa yang mereka sandang, ribuan penumpang kapal harus berjuang keras melakukan satu hal: bertahan hidup.

SINOPSIS:
    “Kami para penyintas, bukanlah saksi yang sesungguhnya. Para saksi sesungguhnya, yang tahu kebenaran yang tak terungkapkan, adalah orang-orang yang tenggelam, mati, dan menghilang.”
--Primo Levi

    “Jerman menginvasi Rusia tahun 1941. Selama empat tahun terakhir, kedua negara itu sudah melakukan kekejaman yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, tidak hanya ke satu sama lain, tapi juga ke penduduk sipil tak bersalah yang menghalangi jalan mereka.”
(hlm. 21)

    “Kecemasan semakin meningkat di pelabuhan seiring setiap menit yang berlalu. Ada rumor yang beredar bahwa garis depan Jerman sudah tumbang dua minggu lalu... Komando Tertinggi Jerman segera mengatur evakuasi besar-besaran lewat jalur perairan. Mereka menyebutnya Operasi Hannibal... “ (hlm. 61)

    Berlatar tahun 1945 di masa Perang Dunia II berkecamuk. Joana, seorang perawat muda berkebangsaan Lituania yang pernah menjalani pelatihan medis di Insterburg berada dalam perjalanan pengungsian, mencari tempat aman dari serangan militer Rusia. Dia tak sendirian. Bersama rombongan kecil yang di dalamnya ada seorang gadis buta bernama Ingrid, seorang bocah lelaki yang dijuluki pengembara kecil bernama Klaus, wanita bertubuh raksasa yang gemar berkata-kata kasar tapi diikuti kata ‘maaf’, dan Pak Tua Heinz si pujangga sepatu. Ketika sedang berlindung di sebuah lumbung, rombongan ini dipertemukan dengan dua pengelana asing; seorang pemuda misterius berpakaian sipil memegang pistol dan seorang gadis berambut pirang dan bertopi rajut merah muda. Pemuda itu adalah Florian, yang terlibat satu rahasia besar negara, merupakan murid restorasi sang direktur museum Konigsberg, Dr. Lange, dan mengenal petinggi Nazi, Erich Koch beserta harta berharga Ruang Amber. Dia tak mau jujur tentang identitasnya kepada siapa pun, sehingga mengundang curiga, terutama Eva yang menuduhnya seorang pembelot dan Ingrid yang menyebutnya pencuri. Sedangkan Emilia adalah warga Lwow, Polandia, yang sempat mengungsi ke Nemmersdorf dan sebatang kara. Sudah diketahui umum bahwa Hitler sangat merendahkan bangsa Polandia bahkan membantai mereka. Oleh karenanya, kehadiran Emilia tak diinginkan dalam rombongan.

    Walaupun Joana sudah membantu mengobati luka seriusnya, Florian tetap bertekad pergi memisahkan diri dari rombongan. Emilia yang semenjak diselamatkan dari tentara Rusia oleh Florian menganggapnya kesatria penyelamat, tak mau ditinggalkan dan membuntuti. Namun takdir ternyata mempertemukan keduanya kembali dengan Joana dan rombongannya. Joana dan Florian bahkan dikejutkan oleh fakta baru yang terungkap mengenai kehamilan Emilia yang ditutup-tutupi. Emilia sempat menyebut-nyebut nama August, yang diduga kekasihnya oleh anggota rombongan. Sesudah bermalam di sebuah estat terbengkalai, rombongan ini melanjutkan perjalanan menuju laguna es. Mereka harus melewati pos pemeriksaan desa terdekat sebelum menyeberangi laguna, bersama jutaan pengungsi lain yang mulai berdatangan pasca dikeluarkannya perintah evakuasi Operasi Hannibal. Emilia yang tak memiliki berkas, diminta menyamarkan diri sebagai wanita Latvia dengan identitas yang ditemukan Joana. Florian pun menyiapkan berkas rahasia penting agar lolos dari pemeriksaan. Hal ini membuat anggota rombongan semakin penasaran akan siapa sebenarnya Florian.

    Di laguna es, tragedi terjadi. Pesawat-pesawat tempur Rusia membombardir sehingga ada bagian es yang retak, bahkan menewaskan pengungsi yang sedang menyeberang. Tak ada waktu berduka. Mereka harus terus berjalan demi bertahan hidup. Dan ketika Florian berhasil mendapatkan perahu untuk menuju Gotenhafen, Joana dan rombongan menguntit dan menuntut ikut. Sesampainya di pelabuhan, jutaan pengungsi berdesakan, berebut tempat di kapal-kapal yang disiapkan untuk mengangkut mereka. Rombongan kecil Joana bertekad tak akan terpisahkan. Florian yang merasakan ketakutan tersendiri akan identitasnya yang bisa terbongkar dengan penjagaan yang lebih ketat, memanfaatkan Alfred, seorang pelaut muda yang tampak ambisius mendapatkan pengakuan tapi bodoh. Lewat bantuan Alfred dan beberapa orang lainnya, Florian berhasil menaiki Wilhelm Gustloff menggunakan karcis kapal palsu. Seorang prajurit berwenang sempat mencurigainya tapi dia berhasil lolos dari interogasi. Di atas kapal pun, Florian memilih bersembunyi di tempat yang tak umum, bukan bergabung dengan penumpang lain. Joana mendapatkan kemudahan akses berkat keahlian medisnya yang dibutuhkan dokter yang bertugas.

    Di atas kapal, Emilia secara tak diduga menjalani persalinan dini dan melahirkan seorang bayi perempuan. Di saat inilah rahasia tentang apa yang dialaminya di Nemmersdorf terungkap. Di lain sisi, Joana marah atas kebohongan Florian kepada prajurit berwenang yang melibatkan namanya. Meski demikian, dia memutuskan percaya bahwa Florian bukan pria jahat, apalagi setelah menyaksikan kebaikannya pada Emilia dan bayinya. Ketika gelagat buruk menunjukkan kehadirannya telah terendus Koch, Florian mempersiapkan diri lebih baik. Namun, kapal tiba-tiba oleng, lampu darurat menyala, alarm berdering, menyusul suara bum hebat. Florian dan yang lain segera tahu bahwa Wilhelm Gustloff akan karam, membawa serta lebih dari sepuluh ribu penumpangnya. Jerit kepanikan dan huru-hara pun terjadi. Para pengungsi berlomba-lomba menuju sekoci penyelamat demi hidup masing-masing. Tapi tak semua orang beruntung dengan nyawanya.

REVIEW:
     “Selama berminggu-minggu dalam pelarian, aku membayangkan semua kemungkinan. Aku sudah memperhitungkan bermacam cara aku akan mati... Tapi aku tidak pernah membayangkan kejadian ini. Bagaimana bisa kita melawan penderitaan berkepanjangan yang begitu menyiksa dengan mengetahui bahwa kita akan menyerah pada lautan?” (hlm. 337)

    Seingat saya, ini adalah kali pertama saya membaca novel fiksi sejarah karya penulis luar, apalagi dengan tokoh utama berusia belasan hingga awal dua puluhan tahun. Gaya berceritanya pun terbilang menarik. Dikisahkan secara naratif menggunakan sudut pandang orang pertama secara bergantian dari empat tokoh utama yang berbeda bangsa dan status: Joana, Florian, Emilia, dan Alfred. Tidak ada pembagian memakai bab, melainkan per tokoh bergiliran, terbagi dalam beberapa fragmen pendek yang dalam edisi terjemahan ini hanya menghabiskan satu hingga dua halaman. Semua adegan dan sisipan fakta-fakta sejarah yang terjadi selama Perang Dunia II digambarkan oleh masing-masing tokoh, melibatkan emosi yang mereka rasakan. Ruta Sepetys ingin pembaca melihat perang dari mata anak-anak muda dari negara yang berbeda, yang dipaksa meninggalkan semua yang dicintai. Saya sangat menghargai pilihan ini. Meski  demikian, pilihan ini juga mengandung risiko. Sebagai contoh utama adalah ketika konflik mencapai klimaks, yakni detik-detik tatkala Wilhelm Gustloff karam dan ribuan penumpangnya berjuang melawan kematian, saya kurang bisa merasakan aura mencekam secara klimaks. Bukan karena deskripsi dan diksinya kurang bagus, tapi menurut saya ini disebabkan narasi yang digunakan lewat empat orang berbeda secara bergantian, secuil-secuil. Ibarat ketika menonton film, kamera beralih-alih sorotan, dari Joana, ke Florian, ke Emilia, lantas ke Alfred dalam jangka waktu singkat. Ketika saya sedang siap terhanyut oleh emosi satu orang, tiba-tiba sudah harus berpindah emosi ke orang lainnya yang tentu saja berbeda auranya. Ini memang cukup memengaruhi emosi saya saat membaca.

    Deskripsi seting secara keseluruhan mendetail, tak perlu diragukan keotentikannya, terutama riset yang dilakukan Sepetys untuk novel ini tidak main-main. Butuh waktu bertahun-tahun dengan mengunjungi langsung kota-kota dan tempat-tempat kejadian, juga menemui dan mewawancarai narasumber yang menjadi saksi hidup sejarah. Salut dengan dedikasi ini. Dan, menurut penilaian saya setelah membaca catatan penulis di akhir, keempat tokoh utama dan beberapa tokoh lain dalam cerita sebenarnya terinspirasi dari tokoh-tokoh nyata yang sempat mengalami sendiri maupun diceritakan saksi sejarah yang masih hidup.

    Jika ditanya siapa tokoh favorit, saya sedari awal sudah bersimpati kepada Emilia. Meskipun seorang diri, ketakutan, masih sangat muda, dan menanggung beban berat, meminjam julukan Florian, Emilia memang sosok pejuang hingga akhir. Selain itu, kehadiran sosok kanak-kanak, Klaus si pengembara kecil juga mengaduk-aduk emosi. Tokoh seperti Heinz si pujangga sepatu pun sangat berkesan, walaupun dia tidak menjadi sorotan utama. Secara keseluruhan, Sepetys berhasil menciptakan masing-masing tokoh beserta rahasia yang diungkapkan perlahan, menjaga keingintahuan pembaca hingga akhir. Bahkan Alfred yang kurang saya sukai sejak awal karena tidak jelas perannya, menyuguhkan kejutan tak terduga, terutama mengenai sosok Hannelore yang kerap disebutnya. Keempat pemuda ini mewakili sosok-sosok manusia biasa yang putus asa akan masa depan tapi diam-diam menyimpan sisa-sisa harapan akan kehidupan yang lebih baik usai perang. Rasa kehilangan mereka akan tanah air dan orang-orang terkasih pun terasa. Yang meleset dari tebakan awal saya justru kisah mereka di atas kapal yang saya kira akan lebih panjang durasinya dibandingkan kisah selama perjalanan darat, juga nasib misi rahasia Florian terkait Ruang Amber.

    Ini merupakan pengalaman membaca yang berkesan dan menginspirasi. Dengan membaca fiksi sejarah, apalagi yang mengangkat sejarah dunia semacam ini, pembaca diajak bersatu dalam bermacam kisah, pembelajaran, dan kenangan dari berbagai belahan dunia yang mungkin terlupakan. Saya juga jadi belajar dari masa lalu, mengenai bagaimana perang dan dampaknya secara luas. Terjemahan bahasa Indonesianya pun memuaskan dan terdapat 'bonus' peta di dalam buku. Truly recommended.

    “Saat para penyintas telah tiada, kita tidak boleh membiarkan kebenaran menghilang bersama mereka.”
    --Ruta Sepetys


 
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube