Jumat, 04 Mei 2018

Judul buku          : The Women in the Castle
Penulis                : Jessica Shattuck
Alih bahasa         : Endang Sulistyowati
Editor                  : Nina Siti Aminingsih
Penerbit              : PT Elex Media Komputindo
Tahun terbit        : 2018, cetakan pertama
ISBN                   : 978-602-04-5866-3
Tebal buku         : 441 hlm.

BLURB:
    Di tengah jatuhnya kekuasaan Jerman Nazi, Marianne von Lingenfels kembali ke puri keluarga suaminya yang dahulu kala berdiri tegak sebagai benteng kukuh tapi kini telah rusak seiring dengan berlangsungnya Perang Dunia Kedua.

    Sebagai janda dari anggota perlawanan yang dieksekusi setelah gagal melancarkan rencana pembunuhan Adolf Hitler pada tanggal 20 Juli 1940, Marianne bertekad untuk menepati janjinya kepada para anggota lainnya yang telah berjuang dengan gagah berani: mencari dan melindungi istri-istri mereka, sesama janda perjuangan perlawanan.

    Marianne yakin bahwa penderitaan dan nasib yang sama akan mempersatukan mereka sebagai satu keluarga. Namun dia segera menyadari bahwa kehidupan seusai perang nyatanya lebih rumit dan penuh dengan rahasia-rahasia gelap yang dapat mencerai-beraikan mereka...

SINOPSIS:
    “Pembunuhan adalah perbuatan iblis. Itu tak terbantahkan. Tapi jika itu bisa mengakhiri perang dan mencegah pembunuhan ribuan orang? Bahkan jutaan orang?” (hlm. 89)

    Pada tahun 1938, di tengah kemeriahan pesta di Burg Lingenfels, sekelompok pria dari berbagai latar belakang—yang kemudian menyebut diri gerakan perlawanan—diam-diam sedang membahas segala tindak tanduk Hitler kala itu. Mereka semua nyaris serempak setuju bahwa Hitler di balik karismanya adalah sesosok monster dengan ambisi kekuasaan yang mengorbankan sangat banyak nyawa tak bersalah. Namun apakah lantas membunuh diktator tersebut—dengan segala konsekuensinya—adalah satu-satunya jalan keluar demi mencegah perang dan tertumpahnya lebih banyak darah masih diperdebatkan. Hingga sebuah fakta mengerikan yang terbukti kebenarannya membulatkan kesepakatan kelompok ini untuk melancarkan aksi pembunuhan demi menggulingkan Hitler dari tampuk kekuasaan. Marianne von Lingenfels yang berada di satu tempat yang sama dengan diskusi dan tak sengaja terlibat perdebatan pun lantas mengikrarkan janji untuk menjadi ‘komandan istri dan anak’ dari para anggota gerakan perlawanan. Sebuah ikrar tanda dukungan penuh dan kesetiaan.

    Ketika rencana pembunuhan atas Hitler tersebut ternyata menemui kegagalan, para anggota gerakan perlawanan dieksekusi. Para janda mereka telantar dan mengalami masa kehidupan yang teramat sulit. Demikian halnya dengan Marianne von Lingenfels dan ketiga anaknya. Namun nasib Marianne terbilang masih jauh lebih beruntung ketimbang janda lain berkat nama baik sang suami—Albrecht yang memiliki jabatan dan latar belakang kebangsawanan yang terpandang. Ketika perang usai, di tahun 1945 sesudah usaha pencarian panjang, Marianne berhasil menemukan (sayangnya) hanya dua janda. Mereka adalah Benita Fledermann dan Ania Grabarek beserta anak-anak lelaki mereka yang ditemukan di beberapa tempat berbeda yang sama-sama mengenaskan. Benita jauh lebih muda dari Marianne dan pernah dikenalkan oleh mendiang suaminya, Connie, yang juga merupakan sahabat baik Marianne semenjak kecil. Janda Fledermann ini sosok perempuan yang cantik dari kota kecil Fruhlinghausen tapi rapuh dan sakit-sakitan ketika dibawa ke puri oleh Marianne. Sedangkan Ania terasa asing dan pembawaannya yang pendiam dan tertutup menambah jarak bagi Marianne. Namun, Marianne yang optimistis dan pembawaannya percaya diri layaknya seorang pemimpin telah bertekad bahwa mereka akan hidup sebagai satu keluarga di Burg Lingenfels—yang meski tak megah lagi tapi masih kukuh berdiri pascaperang.

    Masa-masa sulit lantas dijalani keluarga baru ini. Keterbatasan pasokan pangan dan kelayakan sarana tak menjadi halangan. Hingga seorang tawanan perang yang merupakan mantan Nazi bernama Franz Muller diperbantukan di puri seminggu sekali atas rekomendasi seorang kenalan perwira Amerika. Kehadiran Herr Muller disambut baik-baik saja oleh anak-anak lelaki, begitu juga Benita yang diam-diam menyukai keberadaannya. Tapi tidak demikian halnya dengan Marianne yang sangat enggan dengan riwayat keterlibatan Muller dengan Nazi. Bukan itu saja; suatu hari sekonyong-konyong sepeleton tentara Rusia yang kelaparan dan kelelahan singgah di puri demi meminta makanan. Berkat ketegaran Marianne yang didampingi Ania, momen menakutkan dan menegangkan ini mampu dilalui. Tapi satu tindakan ceroboh Benita menimbulkan tragedi yang melibatkan Franz Muller dan lantas ditutup-tutupi. 

    Kebersamaan tiga wanita beda generasi dan karakter ini berlanjut, hingga di tahun 1950 dikisahkan bahwa mereka tak lagi menetap di puri. Marianne dan Benita pindah ke sebuah flat di Tollingen bersama anak-anak mereka. Sedangkan Ania menikah dengan Carsten Kellerman setelah beberapa waktu menjadi penyewa di tanah milik duda tua tersebut. Marianne turut berbahagia karena menurutnya Carsten adalah pria baik dan telah dikenal sebagai tetangga puri selama bertahun-tahun. Kebahagiaan Ania usai menikah sayangnya tak berlangsung lama, karena seorang pria dari masa lalunya mendadak muncul dan menuntut sesuatu. Rahasia kelam kehidupan Ania ini tak pernah diungkapkannya kepada Marianne maupun Benita. Dan kini pun dia memilih menyembunyikannya, termasuk dari suami barunya. Tapi sebuah kejadian membuat Marianne mengetahui hal tersebut dan merasa sangat kecewa. Dari sinilah hubungan Marianne-Ania merenggang dan berubah. Di lain pihak, Benita juga mengejutkan Marianne dengan mengutarakan maksud untuk menikah dengan Franz Muller. Ternyata selama ini mereka menjalin kontak secara rutin di belakang semua orang. Marianne jelas-jelas menentang dan bahkan menemui Muller secara langsung. Satu tindakan yang lantas memicu konflik dengan Benita.

    Di sisi lain, situasi Jerman yang mulai membaik pascaperang, turut mendukung pendidikan anak-anak. Martin, anak tunggal Benita kemudian bersekolah di sekolah asrama terbaik pilihan Marianne, menyusul Fritz, Elizabeth, dan Katarina—anak-anak Marianne. Pascakepergian Martin, Benita merasa kehilangan tujuan hidup dan memutuskan pulang ke kota asalnya yang sebenarnya dibencinya. Sedangkan Ania melanjutkan hidup dengan menanggung beban rahasia dan dosa dari masa lalu. Waktu pun bergulir dan kisah berlanjut ke masa modern, jauh sesudah Perang Dunia Kedua. Di sini diungkapkan penutup kisah Marianne, Ania, Benita, dan anak-anak mereka.

REVIEW:
    “Terkadang lebih mudah untuk melihat lebih jelas dari kejauhan. Dan yang terlihat di depan mata... lebih sulit dipahami. Ada banyak sekali area abu-abu di antara hitam dan putih... dan di sanalah sebagian besar kita hidup, mencoba, tapi sering kali gagal, untuk berbelok ke arah cahaya.” (hlm. 425)

    Novel dengan seting utama Jerman—di sejumlah kotanya ini dikisahkan dengan alur campuran. Diberi keterangan kota dan penanda waktu yang jelas, ada kalanya kisah berjalan maju, lantas kilas balik menceritakan peristiwa-peristiwa yang dialami para tokohnya—juga Jerman pada umumnya. Secara umum, novel dibagi menjadi tiga bab, yang di dalamnya terdiri dari sejumlah ‘chapter’ kisah. Sudut pandang yang dipilih penulis adalah POV orang ketiga—dengan ‘taste’ seperti POV orang pertama. Saya rasa ini pilihan tepat, mengingat cukup banyaknya tokoh. Eksekusinya juga memuaskan. Saya merasa ‘terhubung’ dengan masing-masing karakter.

    Awalnya saya sempat salah mengira bahwa kisah ini hanya seputar masa Perang Dunia Kedua. Nyatanya, rentang waktu kisahnya panjang, antara tahun 1938 hingga tahun 1991. Dan fokus cerita bukanlah semata kekejaman perang yang juga memicu gerakan perlawanan, tapi justru masa transisi dan jauh sesudahnya. Shattuck ingin menekankan bagaimana dampak perang yang traumatis bisa mengubah segala aspek kehidupan, baik secara global maupun personal. Secara personal, dititikberatkan pada gambaran kisah hidup Marianne, Benita, Ania, anak-anak mereka, dan beberapa orang yang terkait dengan mereka.

    Narasi dan deskripsi Shattuck sendiri menurut saya cerdas, penuh sindiran, dan ada kalanya menyihir dengan perumpamaan yang indah tapi suram. Riset dan proses penulisan novel selama bertahun-tahun pun terbukti mendukung hasil terbaik. Konflik demi konflik terjalin rapi menyusun plot yang membuat saya betah ingin membaca hingga halaman terakhir.

    Konflik dalam novel ini kompleks; tak hanya tercipta dari situasi perang yang pelik dan mengerikan, tapi juga berasal dari pertentangan kepentingan dan perbedaan karakter sejumlah tokohnya. Terkait dengan ini, menurut saya penulis sukses menyajikan penokohan yang kuat. Saya diajak menelusuri dan memahami jalan pikiran masing-masing tokoh, pergolakan batin, hingga rahasia demi rahasia kehidupan mereka. Tiga tokoh utama wanitanya memikat hati saya. Marianne yang cerdas, berasal dari keluarga berpendidikan, bersuamikan pria bangsawan terhormat, berpembawaan optimis dan percaya diri, dan pola pikirnya terbentuk dari moralitas serta batas jelas antara benar dengan salah. Karakter Marianne ini lantas bertentangan dengan sosok Benita yang cenderung pemimpi, mengikuti kata hati ketimbang moral dan apa pandangan orang. Demikian pula dengan Ania yang pendiam dan tertutup, dan menyimpan misteri kelam yang setelah terbongkar bertentangan dengan ‘kompas moral’ Marianne. Ania—berbeda dengan Benita, bukanlah sosok wanita yang mengagung-agungkan cinta. Tapi Ania sama cerdasnya dengan Marianne, juga paling cekatan dalam urusan rumah tangga. Masih ada pula anak-anak mereka yang tak kalah menarik setiap karakternya meskipun tak menjadi fokus utama cerita. Menarik sekali mengikuti interaksi antartokoh yang jauh berbeda dengan pola interaksi antarwanita di masa modern. Membuka wawasan saya mengenai perbedaan budaya juga. 

    Sungguh sebuah pengalaman membaca yang luar biasa. Saya begidik ngeri, ikut melaknat, menitikkan air mata dan tersayat hati, sekaligus haru dan simpatik selama membaca novel ini. Kisah yang benar-benar ‘mempermainkan’ emosi. Saya salut dengan moralitas dan keteguhan Marianne, juga jatuh iba dan simpati pada Benita yang—meminjam istilah Marianne—tertawan oleh kecantikannya sendiri. Namun saya paling kagum pada sosok Ania. Kisah hidupnya begitu rumit, membawa saya pada pemahaman tentang wilayah abu-abu, berbagai pilihan dalam hidup, di mana tak selamanya orang bisa berjalan mudah menuju ‘cahaya’. Lewat Ania saya belajar tentang ketegaran menjadi wanita sekaligus ibu. Dan tokoh satu ini juga yang paling menguji kesabaran membaca, karena rahasianya diungkap hingga tuntas paling akhir dan menciptakan plot twist yang mencengangkan—saya gagal menangkap ‘clue’ yang sebenarnya sudah ada sejak awal. Ending yang disuguhkan Shattuck memuaskan, tuntas tak menyisakan tanya. Bagi para pencinta bacaan tentang sejarah dunia, historical novel terjemahan Elex Media terbaru ini wajib sekali dibaca!
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube