Rabu, 18 April 2018

Strings Attached: Ketika Benci Jadi Cinta dan Cinta Menuai Petaka

Posted by Melani Ivi | 7:42:00 AM Categories:
Judul buku              : Strings Attached
Penulis                    : Yoana Dianika
Editor                      : Yuliono
Proofreader             : Christian Simamora
Penerbit                  : Roro Raya Sejahtera (imprint Twigora)
Cetakan                  : cetakan pertama, 2017
Tebal buku              : iv + 308 hlm; 14 x 20 cm
ISBN                       : 978-602-61138-5-6

BLURB:
‘Let me tell you, I’ll make you mine, I’ll hug you tight. Stay beside me, stay beside me... ‘ [“I Want You So Bad” by I ROCK YOU]

    Arletta sangat bangga dengan talenta musiknya. Cewek itu mengawali dari nol: meng-cover lagu-lagu populer di Youtube hingga akhirnya bisa mengawali debutnya di dunia hiburan. Sayang, reaksi pasar nggak seperti harapannya. Album perdananya jeblok di pasaran. Kalau Arletta ingin kariernya mendapat kesempatan kedua, dia harus mendapat gebrakan besar. Arletta tentu saja setuju dengan usulan kakaknya itu... sampai dia mengetahui kalau gebrakan yang dimaksud adalah berduet dengan band rock yang musiknya cadas banget.

    Kazuki, lead vocalist I Rock You, terlihat intimidatif di kali pertama bertemu dengan Arletta. Penampilan seenaknya, lengan bertato, bersikap dingin—bahkan kasar, adalah peringatan yang lebih dari cukup bagi Arletta supaya menjaga jarak. Tapi kakaknya bilang, proyek duet untuk soundtrack film itu adalah kesempatan yang belum tentu akan datang dua kali. Arletta pun belajar menoleransi Kazuki. Berusaha meminimalisir konflik dengan cowok itu.

    Masalahnya, begitu dia menerima Kazuki masuk ke hidupnya, cowok itu seperti ada di mana-mana. Arletta stuck dengan Kazuki dan tak ada yang bisa dia lakukan untuk mengubahnya. Dan perlahan-lahan, meskipun ini tak sudi diakuinya ke siapa pun, Arletta sedikit berharap situasi ini terjadi sedikit lebih lama daripada seharusnya.

    Karena Arletta sudah terbiasa dengan kehadiran Kazuki. Yah, mungkin lebih dari sekadar ‘terbiasa’...



SINOPSIS:
‘Kau isi hatiku penuh cinta yang penuh kebohongan maya. Kau coba melambungkanku tinggi dan kau remukkan hati ini’ [“First Time I Saw You”—I Rock You]

“Nengok masa lalu orang tuh sama kayak gagak, makan sesuatu yang sudah kedaluwarsa dan jadi bangkai. Kasihan kalau orangnya sudah niat berubah, sementara bangkai yang dia coba buang malah dikais-kais sama orang lain.” (hlm. 64)

Arletta tidak pernah suka dengan genre musik rock, apalagi hard rock atau alternative rock. Perasaannya yang halus dan karakternya yang ceria, didukung pilihan penampilannya yang mirip china doll bahkan boneka barbie, lebih cocok dengan genre musik pop. Imej Letta di mata fans juga angelic, bak malaikat tanpa cela. Suaranya pun merdu. Sayangnya, hal ini tak serta-merta sejalan dengan kesuksesan penjualan mini albumnya via ITunes. Selain eksis sebagai penyanyi Youtube, Letta juga berprofesi sebagai guru seni di sebuah sekolah dan mengajar vokal di sekolah musik yang dikelola kakaknya. Kakak laki-lakinya, Jonathan atau Jo, berkebalikan dengan Letta. Jo sangat menggemari musik rock semenjak remaja. Bahkan dia pernah aktif tergabung dalam sebuah band rock meskipun hanya sejauh tampil sebagai band pembuka di konser-konser penyanyi ternama. Jo kini lebih sibuk mengelola sekaligus mengajar musik di sekolah musik yang didirikannya: Rising Star Musica.

Suatu hari, Jo memberikan tawaran yang sulit ditolak Letta: terlibat dalam sebuah proyek dengan label rekaman dan Production House (PH) ternama. Mereka ingin menggaet Letta dalam penggarapan album soundtrack sebuah film bertema kehidupan Presiden pertama RI bersama istri berdarah Jepangnya. Tawaran yang menggiurkan ini diterima Letta, walaupun ternyata merupakan proyek kolaborasi dengan sebuah band rock fenomenal. Bukan hanya genre musik rekan duetnya yang awalnya memberatkan Letta, tapi juga imej sang lead vocalist yang negatif, kerapkali tersandung skandal. Pertemuan pertama Letta dan Jo dengan Kazuki dan band rock-nya, I Rock You, di pelataran parkir Rumah Gitar Hear Me Label pun tak menyenangkan. Disusul aksi saling sindir di ruang pertemuan, di hadapan para petinggi label rekaman dan PH yang tak kalah sengit. Walaupun begitu, Letta berusaha optimis dan bertekad akan bersikap profesional menghadapi Kazuki yang intimidatif dan terkenal bermulut silet. Apalagi, Sasha sahabat baiknya sekaligus sesama penyanyi Youtube juga mendukung. Kekasih dari Dean, salah satu artis asuhan Hear Me Label ini menyatakan bahwa Letta harus bangga karena sudah terpilih dalam sebuah proyek berdana besar yang sudah pasti juga diincar artis lain.

Seiring berjalannya kerjasama, tak disangka Letta ada momen-momen tertentu manakala Kazuki menampilkan sisi baik meskipun tetap dibentengi sikap angkuh. Sayangnya, dalam proses rekaman, sebuah teknik bernyanyi yang sempat diusulkan Jo demi membantu fokus Letta justru menjadi sumber kemarahan Kazuki. Merasa diremehkan dan terganggu, Kazuki sempat mengonfrontasi Letta perihal teknik menyanyinya. Insiden ini diam-diam diabadikan kamera oleh oknum dan disebarluaskan di media sosial sekaligus memicu twitwar spekulasi terkait proyek kolaborasi yang sebenarnya masih dirahasiakan. Disusul lagi insiden Kazuki yang memanfaatkan Letta ketika terjebak serbuan fans di tempat umum. Demi menghindar sementara, Kazuki menginap di rumah Letta. Saat itulah mereka saling bertukar cerita tanpa direncana dan perlahan mengubah pandangan Letta mengenai Kazuki, demikian juga sebaliknya. Tapi tanpa sepengetahuan siapa pun, Kazuki mendapat ancaman dan pemerasan dari oknum semenjak saat itu.

Kedekatan Letta dengan I Rock You makin terjalin, seiring proses kolaborasi berjalan. Mereka sempat mengambil jeda dengan berpiknik sekaligus survei lokasi syuting video klip di Pulau Tidung. Di sini seorang jurnalis portal berita daring sekaligus seseorang dari masa lalu Kazuki mendadak muncul. Helena, demikian disapa, seolah berusaha mengintimidasi dan mengorek skandal antara Letta dan Kazuki. Sayangnya niat itu tak terkabul berkat kekompakan anggota band lainnya—Nath, Ardian, Rafa, dan manajer mereka Erlangga. Namun, sewaktu berlangsung pemotretan cover album sebuah insiden mengerikan terjadi. Ini mengakibatkan Kazuki terluka parah hingga harus menjalani operasi dan perawatan intensif. Tak hanya itu, alih-alih mengabarkan kebenaran, akun haters I Rock You justru memutarbalikkan fakta hingga menuduh Kazuki sebagai pihak bersalah, demikian juga sebuah tabloid dunia hiburan ternama. Mau tak mau Erlangga harus bertindak. Belum lagi usai masalah, beberapa selang waktu kemudian Letta dirundung bencana. Dia mengalami kecelakaan serius setelah sebelumnya menghadiri sebuah pesta. Tak hanya itu, Letta dituduh mengonsumsi narkoba berkat bukti yang menyudutkan. Ada pihak yang jelas-jelas menjebaknya.

Sesudah serangkaian penyelidikan independen, pihak manajemen, label, dan PH melangsungkan konferensi pers untuk mengumumkan ketidakbersalahan Letta dan Kazuki atas skandal yang menimpa mereka. Dalam momen tersebut juga diungkap siapa sesungguhnya dalang di balik tragedi yang terjadi. Di saat inilah, Letta yang tak tahu menahu sangat syok mengetahui fakta yang terungkap.

REVIEW:
    “... hanya orang dangkal yang terlalu peduli omongan orang di ‘dunia maya’. Kalau lo nggak ngefilter omongan orang yang masuk ke telinga, lo bisa sakit mental. Semua orang pengin kita perfect dan tanpa cela.” (hlm. 180)

    “Media saat ini menilai orang semau mereka. Kalau pengin orang jahat, mereka bisa dengan mudah bikin orang jadi jahat. Cara media ngehakimin orang lain bahkan lebih mahir dan lebih sadis daripada para hakim itu.” (hlm. 282)

    Sebuah novel bernuansa musik dan mengangkat tema hiruk-pikuk dunia hiburan di tanah air yang langsung menarik perhatian saya. Desain kover, konsep pembatas buku, pilihan judul, hingga layout dengan berbagai detail di dalam buku kesemuanya menarik dan sangat mewakili alur cerita. Pembaca bahkan dimanjakan dengan berbagai kutipan lirik lagu, baik dari band rock dunia kenamaan maupun dari lagu yang khusus diciptakan demi mendukung cerita. Keren! Nuansa musik langsung terasa. Selain itu, deskripsi seting, karakter para tokoh, proses rekaman dengan berbagai istilah musik dan vokal, dan pernak-pernik dunia band rock dengan fans fanatiknya juga memuaskan. Saya dibuat ternganga membaca penggambaran kenekatan aksi fans fanatik maupun reaksi tak bersahabat Kazuki pada mereka.

    Seting pendukung lain, seperti detail bangunan Rumah Gitar Hear Me Label beserta ruang latihan dan ruang rekaman, lokasi pemotretan dan syuting video klip juga apik. Detail momen blue hour di pantai Pulau Tidung dan momen kebersamaan di greenhouse pribadi Kazuki pun menjadi nilai tambah. Riset penulis terbukti tak main-main dan kejeliannya membuahkan hasil. Pembaca akan menemukan beberapa catatan kaki, menjelaskan beberapa istilah penting, antara lain istilah di bidang musik, kedokteran dan kepolisian yang terkait dengan alur cerita.

    Sudut pandang yang dipilih adalah orang ketiga, sehingga penulis leluasa menyoroti tokoh. Bagian menebak kira-kira siapa dalang di balik kasus Kazuki dan Arletta pun jadi seru. Saya turut menerka-nerka berdasarkan penggambaran para tokoh dan salah satunya tepat, meskipun ternyata tak sesederhana yang saya pikir. Ada plot twist yang sukses mengejutkan saya, tentunya.

    Alurnya maju. Diawali adegan ketika Arletta dan Jo masih remaja dan berburu CD musik di sebuah toko dan berlanjut beberapa tahun kemudian di sebuah konser musik. Ternyata dua momen ini menjadi elemen penting dan akan terkuak di akhir cerita. Jalinan cerita, konflik, penokohan, menjadi plot yang rapi. Karena mengusung topik ‘drama’ yang terjadi di dunia hiburan tanah air, maka nggak mengherankan jika pada akhirnya konflik rumit cerita terkesan ‘drama’ banget. Tapi, saya tetap suka dan menilainya logis. Tentu saja, ini tak terlepas dari kepiawaian penulis dan proses editing yang rapi.

    Mengenai penokohan, saya langsung jatuh suka dengan karakter Kazuki. Tipikal bad boy yang karismatik dan di akhir kisah mendapat tambahan kata ‘manis’ dari saya, hehe... latar belakang kehidupan pribadinya yang disembunyikan rapat-rapat dari orang lain pun mendukung karakternya. Perkembangan karakter Kazuki pun terasa sepanjang cerita. Bersama kehadiran sosok Arletta, karakter Kazuki memang mendapat ‘lawan main’ yang klop. Pasangan yang manis dan chemistry yang tercipta di antara mereka sangat terasa. Adegan favorit saya salah satunya adalah ketika Kazuki salah tingkah dan tersinggung dengan teknik menyanyi Letta selama proses rekaman. Itu lucu banget. Tokoh favorit saya yang lain adalah ketiga teman Kazuki sekaligus member band I Rock You. Saya suka Nath yang easy going, Rafa yang gondrong dan terkesan sangar tapi ternyata ramah, dan Ardian yang kaku dan kutu buku tapi baik. Menghibur sekali keberadaan mereka dalam cerita. Sosok Erlangga yang mengayomi dan tegas, juga Jo sebagai kakak yang penyayang dan sangat mendukung dengan rahasia kecil pribadinya juga menarik perhatian saya. Tokoh-tokoh antagonis pun ditampilkan dalam porsi yang pas, dengan penjelasan yang cukup dan logis sehingga tidak terkesan dipaksakan. Akhir kisah sangat memuaskan bagi saya.

 Pesan moral sendiri tersampaikan dengan baik. Tentang peran media, terutama media sosial dan portal berita digital dalam memengaruhi masa depan karier artis di masa sekarang. Juga pesan tentang cinta dan kebencian yang kerap menghancurkan seseorang jika tak bijak menyikapi. Ada tema keluarga dan persahabatan juga dalam kisah ini.

Kalau kamu mencari bacaan fiksi yang beda, menghibur sekaligus menginspirasikan kebaikan, saya merekomendasikan novel karya Yoana Dianika ini. Kisah romansanya manis, menyentuh sekaligus mengundang tawa.

    “Ada sesuatu pada diri lo yang bikin gue ngerasa klik. Lo pasti paham, bagaimana perasaan lo ketika nemu chord buat lirik nggak bernada yang lo tulis... Rasa nyaman yang nggak bisa lo jelasin dengan kata-kata karena nemu sesuatu yang sudah lama lo cari-cari.” (hlm. 216)
   


Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube