Sabtu, 19 Juli 2014

[review buku] Raih Surga dan Kemuliaan Berkat Lansia yang Hidup Bersama Kita

Posted by Menukil Aksara | 1:37:00 PM Categories:

Judul Buku              : Cinta dan Harapan di Masa Tua – Tips dan Panduan
                                  Untuk Anak yang Tinggal Serumah dengan Orang Tua/
                                   Mertua Agar Menyenangkan dan Penuh Berkah
Penulis                    : Indah I.P., Haya Aliya Zaki, dkk
Editor                      : Naqiyyah Syam
Editor Penerbit         : Muhammad Ilyasa
Desain Sampul         : msfstudio7
Desain Isi                : Muhsinul Fajri
Penerbit                  : Jendela-Lini Zikrul Hakim, Juli 2013

    Masa bayi, kanak-kanak, remaja, dewasa, lalu tua. Itulah fase kehidupan yang harus dilalui setiap anak manusia yang terlahir ke dunia. Menjadi tua adalah sebuah keniscayaan. Mungkin kelak—atau sekarang pun sudah—kita akan menghadapi hidup bersama ayah-ibu, mertua, kakek-nenek, atau saudara yang telah beranjak lansia. Ini menjadi tantangan tersendiri yang lantas mengantarkan kita pada dua pilihan: membuka pintu surga atau menguak keburukan pada sifat dan sikap kita. Suka duka yang selalu menghampiri ketika hidup bersama para lansia terpampang lewat kisah-kisah nyata yang dituturkan oleh para penulis dalam buku ini.

Sinopsis
    Dunia lansia (lanjut usia) adalah dunia yang unik. Di dalamnya penuh tantangan yang menguji kesabaran, keharuan, keikhlasan, bahkan kelucuan yang menggelikan. Semuanya disebabkan perilaku lansia yang tak jarang kembali seperti anak kecil. Kondisi fisik pun telah jauh menurun sehingga menghambat gerak bebas lansia. Bagi mereka yang dekat dengan Allah, lansia bisa menjadi ladang amal yang tak pernah kering demi menggapai ridho Allah. Sebaliknya, bagi mereka yang kurang kuat kesabarannya, lansia bisa menjadi pintu pembuka keburukan diri. Kekurangpahaman atas dunia lansia pun dapat menjadi penyebab lain terkuaknya tabir kelemahan diri. Buku yang ditulis oleh 20 penulis wanita ini berisi pengalaman-pengalaman pribadi penulis maupun orang lain yang dituturkan lewat goresan pena penulis. Kisah-kisahnya mencoba menyingkap tabir dunia lansia, dengan harapan, kita tak salah bersikap dan tak berujung pada gagalnya meraih surga dan ridho-Nya.

Kisah-kisah Inspiratif dalam Buku
    “Sebelum meninggal di Mekah dulu, Opa berpesan, ‘Andaikata aku sudah tidak ada lagi, Bu, pergi dan tinggallah bersama anak kita, Tuti. Karena dia orang yang penyabar dan penyayang.’ Oma menatap saya sambil tersenyum lalu melanjutkan, “Kata-kata itu selalu Oma ingat. Sekarang terbukti benar. Hanya Mama kamu yang paling bisa merawat Oma dengan sabar dan penuh kasih sayang. Di sini hati Oma tenang dan bahagia.” (hal. 9)
    Cuplikan dialog di atas merupakan bagian dari sebuah kisah mengharukan yang dituturkan oleh Indah I.P., salah seorang tim penulis buku ini.  Kisah berjudul Mencintaimu Sepanjang Usiaku ini mengangkat tokoh seorang anak perempuan yang begitu sabar dan telatennya mengurus sang ibu yang telah renta. Sang ibu yang semasa mudanya adalah sosok yang aktif dan berprestasi, berubah menjadi sosok lemah di usianya yang menginjak 82 tahun. Dia menggantungkan setiap jengkal aktivitasnya pada bantuan sang anak perempuan. Berbekal keikhlasan dan kasih sayang tiada batas pada ibunya, sang anak perempuan mengatur jadwal kegiatan ibunya sedemikian rupa sehingga sang ibu selalu tampak segar, sehat dan bahagia. Kelelahan fisik yang mendera karena ketiadaan asisten, sempat membayangi. Namun berkat kesabaran dan kerja sama yang baik dengan anggota keluarga lainnya, rintangan itu berhasil ditepis.
    “Hari-Hari Senja Ayahku” merupakan tulisan di lembar-lembar akhir buku yang ditulis oleh Wylvera W. Tulisan ini menarik, mengambil kisah sosok seorang ayah yang sempat kecanduan rokok sehingga berdampak buruk pada kesehatannya di masa tua. “Kalau kalian bilang, gara-gara rokok umur seseorang lebih pendek dari yang tidak merokok, kelirulah itu! Lihat, teman-teman Papa yang tak pernah menghisap rokok. Mereka malah terjangkit macam-macam penyakit. Sementara Papa? Alhamdulillah sampai setua ini masih sehat-sehat saja.” (hal. 201)
    Sikap keras kepala yang digambarkan lewat penggalan dialog di atas menyiratkan sulitnya menangani sang ayah yang berupaya dijaga kesehatannya oleh anak-anaknya. Pada saat penyakit paru-paru benar-benar mendera, barulah kesadaran yang terlambat itu menghampiri. Hari-hari yang kemudian dijalani menjadi lebih berat, dihantui rasa pesimis dari sang ayah. Berbagai suntikan kalimat penyemangat, pendampingan, pengobatan, diupayakan demi kesembuhan sang ayah.
    Satu kisah terakhir yang ingin saya nukilkan di sini adalah kisah seorang Mbah Suli yang terlantar. Kisah memiriskan hati ini dituturkan oleh Nunik Utami. Kisah ini mengambil sudut pandang orang luar, tetangga dekat Mbah Suli. Mbah Suli mendapat perlakuan kasar dan sewenang-wenang dari sang anak perempuan. Perlakuan tak manusiawi ini dilatarbelakangi himpitan ekonomi dari sang anak yang tak lagi bekerja, hanya mengandalkan uang bulanan suami yang tak seberapa dan anggapan bahwa usianya yang telah senja menjadi beban bagi hidup sang anak. Yang menyedihkan adalah ketika Mbah Suli tidak bersedia pindah ke rumah anaknya yang lain yang notabene jauh di luar kota, semata karena keengganannya berpisah dengan kampung halaman. Mbah Suli menghembuskan nafas terakhirnya di sebuah gubuk tak layak huni setelah diusir dari rumah anak perempuannya.

    Keunggulan Buku
    Perwajahan buku ini memang tak glamor, lebih kepada kesan sederhana dengan balutan warna hijau pupus dan putih pada sampulnya. Gambar kursi roda menjadi simbol kelemahan lansia, namun diimbangi dengan gambar dan tulisan cinta di sampingnya. Buku ini adalah buku sarat hikmah yang jauh dari kesan menggurui. Kisah-kisahnya ditulis dengan hati, mencurahkan segenap cinta pada orang-orang terkasih ataupun empati pada para lansia di seputaran hidup penulisnya. Gaya penuturan yang tak seragam, kisah yang berwarna-warni, menjadi kekayaan yang dapat digali dari buku inspiratif ini. Selain itu, poin plus juga disajikan lewat tips-tips sederhana dan aplikatif yang dirangkum di bagian akhir buku. Tips-tips ini berisi aneka panduan seputar pendampingan dan perawatan para lansia. Terlepas dari aneka teknik perawatan yang disarankan, inti dari semuanya tetaplah terletak pada keikhlasan dan kesabaran tiada bertepi. Karena semua yang datang dari hati yang tulus akan menciptakan detak-detak kasih sayang yang mampu tertangkap oleh hati si penerima. Saya memberikan 4,5/5 bintang untuk buku ini, terlepas dari setitik kesalahan ejaan yang sudah lumrah ada di buku manapun. Buku istimewa ini tak mudah dijumpai mengingat topik yang diangkat dan gaya penuturan yang khas.



Kamis, 17 Juli 2014

Aku Bangga Dengan Namaku

Posted by Menukil Aksara | 11:05:00 PM Categories:


    Sepasang mata bening itu menatap layar televisi di depannya nyaris tanpa kedip. Beberapa jenak kemudian mengerjap-ngerjap. Pemilik sepasang mata itu bahkan tak menyadari kehadiran sang mama.
    “Kak Abdullah asyik sekali menontonnya,” tegur sang mama.
    “Ssst... jangan kencang-kencang, Ma,” bisik Abdullah sembari menunjuk sesosok hafidz cilik di layar kaca.
    Sang mama tersenyum geli. Ia lantas menjajari duduk anak sulungnya itu.
    “Wah, hebat! Lancar!” pekik Abdullah.
    “Kakak juga bisa lho seperti adik kecil di televisi itu,” celetuk sang mama.
    Abdullah sontak memalingkan wajah ke arah mamanya. “Iya, Ma. Abdullah ingin seperti dia. Abdullah malu. Kan Abdullah lebih besar darinya.”
***
    Semenjak hari itu, Abdullah benar-benar menunaikan janjinya untuk setekun sang bocah lelaki penghafal Al-Qur’an di acara televisi. Syaamil Qur’an kesayangannya menjadi peneman kesehariannya.
    “Kak, tolong temani adik bermain sebentar, ya! Mama harus menyiapkan menu berbuka,” pinta sang mama pada Abdullah yang sedang khusyu’ bertilawah di dalam kamar.
    Abdullah bersungut-sungut meski badannya bangkit keluar kamar. “Ah, Mama. Nggak bisa lihat aku sedang menyelesaikan bacaan!”
    Sang adik, Ahmad, yang masih balita tampak berlarian di ruang tengah.
    Keesokan harinya, Abdullah kembali mendengus kesal tatkala diingatkan sang mama untuk membereskan kamar dan mengerjakan tugas sekolah.
    “Mama perhatikan, Kakak kok sering cemberut dan bersungut-sungut tiap kali Mama menyuruh melakukan sesuatu. Kenapa?”
    “Karena Mama mengganggu tilawah Kakak!”
    Mama terhenyak kemudian menggeleng-gelengkan kepala. Beberapa saat kemudian Mama berujar, “Kakak tahu kan mengapa Mama memberi nama Kakak Abdullah?”
    “Iya. Karena Abdullah adalah nama yang dicintai Allah.”
    “Sekarang Mama akan berkisah tentang salah seorang sahabat Nabi yang bernama Abdullah bin Amr bin Ash.”
    Abdullah memicingkan mata. Ia lantas menatap lekat mamanya.
    “Sahabat ini sangat mencintai ibadah. Bahkan saking cintanya, ia terus-menerus berpuasa, shalat, bertilawah, tanpa mempedulikan keluarganya. Suatu hari, Nabi menemuinya.”
    Mama memberi jeda pada kisahnya.
“Nabi bertanya apakah Abdullah bin Amr bin Ash bertilawah sepanjang malam tanpa tidur. Abdullah membenarkan. Lalu Nabi menyarankan agar Abdullah bertilawah sampai khatam dalam satu bulan. Kalau bisa lebih cepat, khatam dalam sepuluh hari. Kalau bisa lebih cepat lagi, dalam tiga hari.”
    Abdullah masih menyimak kisah mamanya, ketika sang mama melanjutkan,”Nabi pun bersabda bahwa sesungguhnya Nabi juga istirahat dan memberi hak pada keluarganya.”
    Abdullah tercenung. Tampaknya ia sedang berupaya memahami perkataan Nabi dalam kisah itu. Sesudah cukup lama terdiam, Abdullah berkata, “Kalau begitu Abdullah juga salah, ya, Ma. Maafkan Abdullah, ya, Ma.” Abdullah teringat sikapnya beberapa hari ini setiap Mama meminta tolong atau mengingatkan.
    Mama tersenyum. “Iya, sayang, Mama maafkan. Kakak tetap harus rajin membaca Qur’an, tapi jangan lalai dengan kewajiban lainnya.”
    “Dan sebagai hadiah atas ketekunan Kakak, Ayah menghadiahkan My First Al-Qur’an ini,” ucap Ayah yang ternyata telah berdiri di belakang Abdullah.
    Abdullah terpana menerima sepaket Al-Qur’an lengkap dari ayahnya. Ia tersenyum sumringah dan berucap terima kasih seraya berkata, “Abdullah berjanji akan mencontoh sahabat Abdullah bin Amr bin Ash. Aku bangga memiliki nama Abdullah!” ucap lantang Abdullah diiringi senyum lebarnya.


*jumlah kata 466
*diikutsertakan dalam Lomba Menulis Cerita Anak #AyoNgajiTiapHari Syaamil Qur'an

Judul Novel             : Jasmine – Cinta yang menyembuhkan luka
Penulis                    : Riawani Elyta
Penyunting              : Mastris Radyamas
Penata Letak           : Puji Lestari
Desain Sampul        : Andhi Rasydan
Penerbit                   : Indiva, April 2013

ODHA—Orang Dengan HIV/AIDS—kerapkali dikucilkan dan dicibir, bahkan dicap sebagai sampah masyarakat. Bukan semata akibat salah kaprah, namun juga karena sebagian besar pengidapnya adalah orang-orang yang menyimpang perilaku sosial dan seksnya. Di lain pihak, ada pula fenomena cyber crime yang disutradarai oleh para crackers yang cenderung meresahkan. Dua topik besar ini belum terlampau banyak diangkat ke dalam novel fiksi, apalagi fiksi yang menginspirasi. Riawani Elyta, seorang novelis yang telah menulis sederet novel dan karya lain bersama dengan prestasi-prestasinya, mencoba menuangkan ide besarnya dalam novel yang juga memenangkan penghargaan di ajang lomba menulis novel inspiratif Indiva ini.

Sinopsis
Jasmine, ibarat sekuntum melati yang tercampakkan. Dalam gersangnya kehidupan, kasih sayang yang nihil dirasakannya dari seorang terkasih bergelar ibu, ia terhempas dalam lubang kelam human trafficking dan prostitusi belia. Namun keindahan parasnya pulalah yang lantas menawan hati seorang pemuda tampan putra seorang konglomerat yang sekaligus dedengkot jaringan Cream Crackers, Dean Pramudya -The Prince. Di tengah liku pelariannya, Jasmine bersua sosok Malika, yang mengantarkan secercah hidayah. Ada pula Rowena, wanita yang menelusuri keberadaan putri sulungnya dan sempat menyangka Jasmine sebagai putrinya tersebut.  Dean, Malika, dan Ibu Rowena menjadi penyemai cinta di hati Jasmine. Cinta yang membebat luka. Hingga ujian hidup lain kembali menghampiri dan menyodorkan vonis penyakit mematikan pada Jasmine.

Isi Menarik Novel
Novel bernuansa hijau cerah dan putih di sampulnya ini terkesan feminin, dengan sebuah potret wajah berparas cantik di ujung atasnya. Novel ini adalah novel ketiga dari penulis yang saya baca dan paling tebal jumlah halamannya (318 halaman).
Sebagai novel pemenang sebuah ajang bergengsi, novel ini menghadirkan tema tak biasa yang sarat detil setting, diksi apik, konflik yang memacu adrenalin dan rasa penasaran, dan tak ketinggalan inspirasi dari kisah cinta yang juga tak biasa.
Proses mix and match antar beberapa tema—pelacuran, perdagangan anak, cyber cryme, ODHA—konflik, dan penokohan yang notabene tak pernah bersinggungan langsung dengan rutinitas sehari-hari penulis, tentu bukanlah hal mudah. Oleh sebab itu, tak pelak ada saja celah ketidaksempurnaan dalam detil deskripsi setting maupun aktivitas tokoh, misalnya mengenai crackers. Kita jelas akan lebih dimanjakan detil jika dihadapkan pada kisah crackers atau hackers yang ditulis oleh sang pelaku sendiri atau setidaknya sang ahli teknik pemrograman komputer. Walau demikian, istilah-istilah di dalam novel, seperti skimmer, soft attack, hamster, flooding program, banking fraud, cukup mewakili penggambaran dunia cyber crime.
Diksi yang apik dan segar juga dapat dijumpai dalam novel ini, menambah nilai keindahan alurnya. Setting utama kota Batam yang dipilih penulis juga turut menghidupkan cerita, apalagi nampaknya ini bukan kali pertama penulis mengambil Batam sebagai setting novelnya (sebelumnya di novel The Coffee Memory). Barangkali karena Batam juga familiar mengingat domisili penulis di Riau. Selain itu, pelacuran dan kota industri adalah dua sejoli yang tak dapat dipungkiri keserasiannya.
Pengisahan takdir kelam para ODHA yang tak semata para pelaku penyimpangan seks juga dieksekusi apik. Jasmine kakak Luthfi dan Malika dijadikan perwakilan wanita-wanita baik yang berjodoh dengan mantan pecandu dan harus menelan pahitnya vonis AIDS sepeninggal pasangan hidupnya. Hal ini memberikan pelajaran bagi kita akan pentingnya mengetahui riwayat kesehatan dan penyakit serius dari calon suami/istri kita sehingga kelak siap dengan konsekuensinya. Kisah Jasmine yang awalnya menderita Herpes menyusul AIDS juga menyentak kesadaran bahwa zina apalagi berganti-ganti pasangan terlampau berat resikonya. Human trafficking yang diceritakan mengeksploitasi perempuan belia demi rupiah pun bukan rumor tak berdasar dan kita akan memahami kasus penentangan ditutupnya lokalisasi semacam Dolly oleh para pelaku mafia prostitusi. Mereka telah dibutakan oleh kesenangan duniawi dan kemudahan yang diperoleh dengan menindas yang lebih lemah; tak heran jika menolak mentah-mentah kemudahan itu dihapuskan.

Kutipan adegan yang saya sukai dalam novel ini antara lain:
•    Rowena mendekatkan lagi bibirnya ke telinga Malika. “Dalam beberapa hari ini, apa yang saya tahu, Jasmine telah mulai menunaikan shalat, fisiknya juga beransur membaik. Saya yakin, Allah telah mengatur pertemuan Jasmine denganmu. Meski pertemuan itu sangat singkat, namun Allah telah memilihmu untuk menitipkan hidayah-Nya pada Jasmine, untuk mengingatkan Jasmine agar kembali ke jalan-Nya... “ Dari ujung kedua mata Malika, mengalir tetes bening. (hal. 260)
•    “... Aku baru sadar bahwa tidak ada takdir-Nya yang sia-sia. Semua orang yang dikaruniai nikmat usia, pasti akan menjalani hidup seperti perputaran roda... dan sekarang, memiliki Ibu dalam hidupku adalah kebahagiaan terbesarku... “ (hal. 291)
•    “... Vonis itu tak mampu meruntuhkan semangat hidupku setelah kepahitan demi kepahitan beruntun kualami. Aku yakin, Allah telah menyiapkan sesuatu untukku di akhir perjalanan nanti. Sesuatu yang Ia berikan atas nama kasih sayang pada hamba-hamba-Nya, meski sang hamba tak lagi punya harga dan derajat di mata manusia... “ (hal. 315)

Kelebihan dan Kekurangan Novel

    Di samping setitik kesalahan ketik dalam penulisan novel ini, saya menyukainya lebih dibandingkan dua novel penulis lainnya, The Coffee Memory dan A Miracle of Touch. Menurut saya, keberanian, kejelian, dedikasi penulis dalam melakukan serangkaian studi atas topik dan eksplorasi penokohan tergambar dalam novel ini. Saya pun menyukai penuturan sisi cinta yang tak melulu antar lawan jenis dalam novel ini, tapi juga cinta seorang ibu dan sesama manusia. Kepahitan hidup seorang Jasmine maupun kekecewaan seorang Dean pada keluarganya mewakili ketidaksempurnaan manusia dan menyentuh ceruk hati terdalam pembaca. Untuk itu, saya memberikan 4,5/5 bintang bagi novel inspiratif yang satu ini.


[resensi novel] Kisah Romansa Beda Budaya Dibalut Intrik Klasik

Posted by Menukil Aksara | 10:40:00 PM Categories:

Judul Novel                  : A Miracle of Touch
Penulis                         : Riawani Elyta
Penyunting                   : Yuliyono
Desain Sampul dan Isi : Marcel A.W.
Penerbit                        : Gramedia Pustaka Utama, 2013

    Kisah romansa dua anak manusia berlatar perbedaan, entah itu beda budaya, beda latar belakang sosial, bahkan beda keyakinan, dijejali intrik apik memang tema klasik yang tak lekang untuk diperbincangkan, pun dituliskan dalam novel. Kisah Siti Nurbaya, Tenggelamnya Kapal Van der Wijk, Romeo and Juliet, hingga Cinderella adalah contoh-contoh kisah cinta klasik yang masih dikenang tak tergerus oleh zaman.
    Novel yang menyuguhkan tema serupa dipoles dengan nuansa kekinian dan setting negara tetangga yang telah tersohor dihuni oleh penduduk multi etnisnya—Singapura—ini mencoba menyita minat pembaca lewat jalinan ceritanya.

Sinopsis
Talitha, seorang dietician berkewarganegaraan Indonesia yang menetap dan bekerja di Singapura tengah dihimpit oleh persoalan permohonan perpanjangan izin kerjanya yang terancam tidak dapat diperpanjang. Sebagai tumpuan ibu dan kedua adik perempuannya yang telah kehilangan kepala keluarga, Talitha memaksakan diri pada sebuah keputusan irasional dan nekat dengan menikahi Ravey, anak lelaki sulung keluarga Malhotra, berdasar kesepakatan simbiosis mutualisme. Namun selaiknya pernikahan yang tak dilambari ikatan kasih sayang yang kokoh, pernikahan semu Talitha dan Ravey menemui ujian demi ujian yang kian lama kian menyudutkan Talitha. Berawal dari sikap tak bersahabat yang nyata-nyata ditunjukkan oleh Laksmi Malhotra, sang ibu mertua, Talitha juga ditelikung oleh Mary Jane, seorang perempuan asing yang mengaku tengah menanti benih yang disemai Ravey dalam rahimnya. Klimaksnya, Ravey mengalami kecelakaan mobil yang nyaris menewaskannya disertai dugaan sabotase yang semestinya ditujukan demi menghilangkan nyawa Talitha. Ketegangan pun meruncing disusul dengan pengusiran Talitha dan menyisakan misteri terkait siapa sutradara di balik sabotase mematikan tersebut. Di belakang hari terbit kabar bahwa Laksmi Malhotra divonis mengidap depresi berat yang mengancam kesehatan jiwanya. Di antara lilitan masalah pelik ini, Talitha dan Ravey berupaya mempertahankan keutuhan pernikahan sekaligus menyambung kembali jalinan cinta mereka yang sempat pudar dan menggantung.

Isi Menarik Novel
    Ide cerita novel ini terbilang klasik, kisah cinta yang sempat dihinggapi perbedaan dan sulit menyatu, dibayang-bayangi ancaman dari pihak luar yang berupaya memisahkan. Karakter kedua tokoh utama, Talitha dan Ravey yang digambarkan rupawan secara fisik, dengan latar belakang ekonomi sang tokoh wanita yang lebih rendah, menguatkan tema klasik tersebut. Apalagi sang tokoh prianya berasal dari keluarga kaya raya yang mirip aristokrat dengan sifat-sifat yang kurang dewasa, cenderung seenaknya, dikuasai oleh orangtua, menjadi ciri khas dari karakter anak lelaki dari keluarga konglomerat. Ide pernikahan berdasarkan saling menguntungkan dan sebatas formalitas di awalnya lantas berubah menjadi cinta sesungguhnya menjadikan sang tokoh perempuan mirip karakter-karakter tokoh dalam telenovela atau melodrama klasik.
    Setting negara Singapura dengan keberagaman etnisnya menjadi daya tarik utama novel ini. Keluarga Malhotra mewakili budaya India yang masih kental dipadukan dengan budaya Indonesia dari keluarga Talitha. Penuturan-penuturan menggunakan bahasa Hindi dan Inggris, serta uraian-uraian singkat sambil lalu seputar budaya kedua bangsa membangun keotentikan setting cerita.   
    Intrik-intrik yang dirancang untuk membangun konflik bisa dikatakan sudah cukup lazim dan nyaris mudah tertebak—misalnya munculnya orang ketiga yang mengaku-ngaku hamil ataupun kawan lama yang lantas dituding mempunyai kedekatan khusus—kecuali bumbu-bumbu gangguan kejiwaan pada tokoh Laksmi yang cukup beda. Eksplorasi tokoh Ravey menurut saya masih kurang, termasuk detil masa lalunya, passion-nya pada seni, dan kesehariannya dalam bisnis keluarga, termasuk seluk-beluk bisnis itu sendiri. Selain itu, satu hal yang cukup mengganggu saya adalah tokoh Talitha yang dikisahkan masih memiliki darah campuran Indonesia-Prancis. Mengapa ia tak digambarkan saja sebagai perempuan pribumi yang mewakili budaya Indonesia seutuhnya dengan paras ayu khas Melayu? Toh perempuan pribumi yang ayu tak kalah cerdas dan mahirnya berbahasa asing jika dia mau. Bagaimanapun, imej cantik dan tampan dalam penokohan novel romantis klasik masih melekat kuat dalam novel ini, meski terdapat penekanan bahwa sang pria jatuh cinta lebih karena kecerdasan dan keberanian sang wanita (hal. 156).

Kelebihan dan Kekurangan Novel

Novel dengan ketebalan 234 halaman ini merupakan pemenang berbakat lomba novel amore Gramedia Pustaka Utama. Desain sampulnya yang berlukisan karikatur matahari mengingatkan saya pada lukisan henna di punggung tangan Talitha di pesta pernikahannya, sebagaimana dikisahkan di sebuah halaman (hal. 58). Warna latar sampul yang didominasi merah muda pucat dan ungu mengesankan kelembutan yang berpadu dengan kehangatan matahari. Dibonuskannya sehelai pembatas buku selalu menyenangkan bagi pembaca novel.
Warna multi etnis dan setting luar negeri menjadi keunggulan dari novel ini. Suguhan kerupawanan para tokohnya juga pemanis bagi penggemar novel-novel romantis, melambungkan imaji pembaca pada alam khayal yang nyaris sempurna laiknya dongeng-dongeng putri dan pangeran.
Saya cukup terganggu dengan munculnya banyak kata yang dipisah dengan tanda hubung dash (-), meski letaknya di tengah kalimat dan tidak sepatutnya dipisah. Bisa jadi ini kesalahan ketik dan kekurangcermatan penyuntingan. Menurut saya novel ini layak mendapat 4/5 bintang.



Senin, 14 Juli 2014

[resensi novel] Cinta dan Rindu Dalam Secangkir Kopi

Posted by Menukil Aksara | 5:03:00 PM Categories:

Judul Novel             : The Coffee Memory – Ketika aroma cintamu menyergapku
Penulis                    : Riawani Elyta
Penyunting              : Laurensia Nita
Perancang Sampul   : Satrio d’Labusiam
Penerbit                  : Bentang, Maret 2013

    Anda penyuka kopi? Apa makna kopi bagi Anda? Adakah dia sebatas minuman hangat peneman aktivitas membaca koran di tiap pagi? Ataukah dia menu utama kala sarapan tiba? Ataukah penghalang kantuk yang menyergap? Bagaimana jika filosofi kopi, dunia usaha yang mengitarinya, serta kisah hidup orang-orang di dalam dunia itu terangkai indah dalam tuturan novel? Jika Anda tergelitik untuk melongoknya, tak salah jika novel manis karya seorang novelis wanita yang telah cukup ternama, Riawani Elyta, ini menjadi pilihan utamanya.

Sinopsis
    Saat aroma kopi itu menjauh, kusadari bahwa kau tak mungkin kutemui lagi. Seperti aromamu yang terempas oleh butir udara, meninggalkanku dalam sunyi yang dingin.
    Adalah sepasang kekasih jiwa, Dania dan Andro yang mesti terpisah jarak dan waktu akibat sebuah kecelakaan tragis yang merenggut nyawa sang lelaki, Andro. Pasangan yang telah menikah dan dikaruniai seorang bocah lelaki bernama Sultan ini tengah dalam perjalanan bisnis ke Liwa kala kecelakaan terjadi. Andro pergi meninggalkan sel-sel kenangan sekaligus warisan berupa sebuah kafe kopi bernama Katjoe Manis di daerah pertokoan Nagoya, Batam. Tak ayal, Dania yang mendapati dirinya telah berubah status menjadi orangtua tunggal harus belajar menahan kerinduan kepada sang suami di tiap helaan kenangan yang terhirup sembari bangkit demi kelangsungan kafe Katjoe Manis. Kehadiran seorang Barry, barista baru pengganti posisi Andro lewat rekrutmen terbuka, menyelipkan setitik misteri sekaligus percik-percik warna segar dalam hidup Dania. Bukan itu saja, sebuah ancaman mengintip dari seorang Redi, kakak ipar yang culas, dan Pram, teman semasa SMA, yang mencuri-curi celah di masa sulit Katjoe Manis. Tanpa dinyana, Pram yang pernah menaruh hati pada Dania kala remaja dengan blakblakan menyatakan niatnya mempersunting Dania. Di tengah kegusaran Dania menerima pernyataan cinta Pram, sang putra semata wayang jatuh sakit dan kafe kebanggaannya terlalap api. Di saat inilah kehadiran Barry yang selalu setia mendampingi beserta para karyawan kafe menyuntikkan asa bagi Dania. Mereka membangun kembali Katjoe Manis dari nol. Di saat yang bersamaan, misteri seorang Barry yang ternyata mengenal baik Andro semasa hidupnya turut terkuak. Terkuak pula fakta bahwa Barry diam-diam mencintai Dania. Akankah Dania bersedia membuka hati sekali lagi untuk sekeping cinta? Siapakah yang akan dipilihnya, Pram atau Barry? Anda dapat menjumpai jawabnya di jalinan kisah cinta berbalut dunia kuliner dalam novel ini.

Isi Menarik Novel
    Di tiap pembuka babnya, tercantum sekotak nukilan manis yang berisi filosofi dan fakta menarik dari kopi, atau sekadar pernyataan romantis dari sebuah adegan di bawahnya yang ditampilkan di bagian atas halaman. Kutipan favorit saya antara lain di halaman 179, “Tidak ada yang lebih kuharapkan selain cinta yang sederhana. Hanya ada aku dan kamu, no one else.” Sedangkan filosofi kopi terfavorit datang dari pernyataan Barry, “Secangkir kopi itu... sesuatu yang membangkitkan kerinduan... Rindu yang sama pekatnya seperti warna asli kopi... (hal. 43)”
    Novel The Coffee Memory ini menawarkan warna berbeda dibandingkan dengan novel-novel Riawani Elyta lainnya. Selain karena topik kopi yang diangkat dari kegemaran sang penulis sendiri, judulnya juga dikatakan relevan dengan kerinduan yang telah dipendam sang penulis sejak lama. Ritme novel ini juga lebih ringan dan ngepop dibandingkan novel-novel penulis lainnya, dengan harapan para pembaca bisa menikmatinya dalam suasana tenang, santai, sembari ditemani secangkir kopi hangat.
    Kita tak sekadar dihibur dan dihanyutkan oleh kisah cinta di dalamnya, namun kita dapat pula mencecap inspirasi dunia bisnis kuliner di lembaran-lembarannya. Novel ini bertabur istilah-istilah dunia kopi dan barista, semacam: kopi luak, espresso fredo, coffee grinder, filter, shaker, shooter, latte-art, kopi tiam, coffee shop, tenant, kopi manggarai, cinnamon caramel coffee, peppermint coffee, ibrik, perkolator, vacuum brewer, french press, dan sederet nama-nama seputaran dunia kuliner lain. Selain itu ada satu kosakata yang membuat saya memicingkan mata lantas tergerak membuka KBBI, yaitu menghidu yang ternyata berarti mencium atau membaui.
    Alur cerita dan karakter-karakter di dalam novel ini entah mengapa membuat saya berpikir betapa menariknya jika seandainya novel ini divisualkan atau difilmkan, padahal saya nyaris selalu membenci jika novel kesukaan saya difilmkan.

Kelebihan dan Kekurangan Novel
    Novel setebal 234 halaman ini semenjak mata memandang, sampulnya telah memanjakan pembaca dengan kehangatan dan pesona secangkir kopi. Sampul berwarna dasar gelap dengan taburan gambar biji kopi, diselimuti lagi oleh selembar sampul kertas kayu dengan cuplikan pengantar sinopsis yang singkat namun mencuri hati. Satu hal lain yang selalu saya senangi dari sebuah buku—pembatas buku—terselip cantik di novel ini.
    Kesalahan penulisan ejaan nyaris tak terdeteksi, bahasanya pun mengalir indah tanpa berlimpah diksi yang puitis dan rumit. Alur cerita yang maju dengan sedikit kilasan-kilasan kenangan masa lampau di tengah-tengahnya membuat pembaca benar-benar menikmati sejalan dengan tujuan sang penulis untuk menciptakan suasana santai ketika membacanya. Satu hal yang cukup mengganggu saya adalah pemberian nama beberapa tokohnya yang kurang pas menurut saya selain kurang familiar maknanya di telinga saya, yaitu Andro dan Redi. Saya kurang paham maksud penulis memilih nama ini.
    Bagi penyuka dan penikmat kopi seperti saya, novel ini jelas akan mencuri hati dan takkan sudi menutup hingga lembar terakhir usai dibaca.
   

Minggu, 13 Juli 2014


Judul Buku                : Catatan Hati Pengantin – Kisah dan Berbagai tips praktis
                                    Yang memandu agar selamanya pengantin baru
Penulis                      : Asma Nadia, Isa Alamsyah, dkk
Coach Editor             : Isa Alamsyah
Layout                       : Isa Alamsyah
Desain Sampul         : Tuarzuan AFC
Ilustasi Isi                  : Wasi Kendedes
Ilustasi Foto              : Debora Purwaningrum
Penerbit                    : AsmaNadia Publishing House, Maret 2014

    Apakah saya telah siap menjadi pengantin? Siapkah melalui hari-hari pernikahan? Saya ingin menikah, calon sudah ada, namun penghasilan belum memadai. Calon mengajak menikah tapi kuliah belum selesai. Saya mencintainya tapi tidak cocok dengan keluarganya. Apakah saya harus tetap menikahinya? Ini hanya sejumput pertanyaan dari seabreg pertanyaan yang biasa terlontar. Pun ketika telah menikah, akan terbit pertanyaan-pertanyaan lanjutan yang tiada habisnya. Sebenarnya ada apa dengan pernikahan? Negeri pengantin yang banyak diimpikan, nyatanya tak berarti tanpa ujian.
    Telah berderet di rak toko, buku-buku berbingkai pernikahan. Sebagian besarnya mengupas persiapan pernikahan hingga panduan menjalani hari-hari paska pernikahan dalam bahasa non fiksi yang penuh pemaparan dan argumentasi. Di buku ini, kita disuguhi sajian pernikahan dalam hidangan berbeda. Apakah keunikan dari buku ini? Ada baiknya kita luangkan hati dan pikiran untuk menyimak kisah-kisah di dalamnya.


Sinopsis
    Tak ada sekolah yang bisa menyiapkan seseorang memasuki gerbang pernikahan. Meski inginnya hari-hari setelah menikah penuh pelangi, kenyataannya berbagai persoalan mengintip, siap mengobrak-abrik istana kebahagiaan.
Tak ada masalah tanpa solusi. Tak ada tantangan tanpa harapan. Catatan Hati Pengantin hadir untuk mempersiapkan pasangan yang baru akan atau sudah menikah dalam menghadapi badai pernikahan yang mungkin mengepung dari segala arah. Ujian kesehatan, mertua, saudara, dan orang ketiga sebagai penyebab. Atau kelelahan akibat pekerjaan, anak-anak, maupun ego pasangan. Bahkan persoalan yang terkesan remeh seperti salah memilih rumah bisa menguras emosi dan memancing keributan.
    Saatnya belajar dari pengalaman pasangan lain, hingga tantangan serupa tak perlu kita alami, atau jika pun terpaksa berhadapan, kita sudah memiiki jurus menaklukkannya.


Isi Buku
    Disusun dengan praktis dan lengkap, hingga tiap babnya akan membekali. Masih ditambah halaman-halaman kuisioner yang memudahkan mengenali karakter dan visi pasangan. Buku ini berisi sederet kisah kehidupan pernikahan yang dituturkan oleh 21 penulis dan dibagi ke dalam 10 bab. Masing-masing bab mengemban satu tema yang sama. Bab pertama mengusung tema kesehatan, bab kedua bertema perekonomian, bab ketiga tentang kerinduan, bab keempat temanya pekerjaan rumah tangga, bab kelima mengenai tempat tinggal, bab keenam mengisahkan tema orang ketiga, bab ketujuh mengulik tentang perbedaan, perselisihan, dan komunikasi, bab kedelapan bertajuk impian, bab kesembilan menelisik tentang mertua dan kerabat, dan bab terakhir menuntaskan pembahasan tentang kehilangan.
    Selain itu, tiap babnya diimbuhi kuisioner yang wajib diisi pembaca, baik secara pribadi, maupun bersama pasangan atau calon pasangan. Catatan khusus yang ditulis oleh Asma Nadia di tiap babnya akan memperjelas dan mempertegas pembahasan. Buku juga dipermanis dengan hadirnya puisi-puisi apik yang dipersembahkan oleh tim penulis yang sekaligus anggota Komunitas Menulis Bersama asuhan Isa Alamsyah. Sebagai pemanis lain adalah kehadiran ilustrasi kisah bergambar di beberapa halamannya.
    Berbagai kisah menarik dijumpai di dalam buku ini, beberapa diantaranya sangat menarik, membuat kita melengkungkan senyum, atau bahkan menangis. Beberapa kisah tersebut adalah:
•    Kisah seorang istri yang didera bayang-bayang penyakit serius sekelas lupus lengkap dengan perjuangannya melalui hari-hari pernikahan sekaligus menunaikan kewajiban sebagai istri dan ibu dapat ditilik dalam judul Bersahabat dengan Lupus oleh Nenden Siti Murniati (hal. 31-36).
•    Kisah Jatuh Bangun Ekonomi Keluargaku menyeret kita dalam alur cerita perjuangan dalam menghadapi naik turunnya kondisi finansial rumah tangga. Percekcokan yang kerap terpicu dihadapi dengan kesabaran dan komitmen (hal. 63-68).
•    Permasalahan yang sepintas terlihat sepele seperti menemukan tempat tinggal yang pas, juga menjadi topik yang layak diperbincangkan seperti dinukil dalam kisah Nostalgia Pengantin Baru Kontrakan Demi Kontrakan. Kita akan diajak belajar menentukan kriteria rumah idaman yang layak huni sebelum menjatuhkan pilihan (hal.127-130).
•    “Perang” dan persaingan antara mertua dan menantu dapat terlukis jelas dalam penggalan kisah Lukisan Pelangi. Posisi sang suami sebagai anak bungsu yang sangat dekat dengan ibunya menjadi bibit perselisihan dalam jangka waktu lama. Hadirnya kerabat tiada jeda dalam rumah juga turut menyumbang percekcokan (hal. 241-258).
•    Kisah Ketika Aku Adalah Ratu mengingatkan para istri agar selalu siap akan datangnya ujian kehilangan pasangan melalui jalan kematian. Di sini dikisahkan betapa nestapanya seorang istri yang tak memiliki pegangan karena terbiasa dimanjakan oleh sang suami semasa hidup (hal.289-301).


Sebagai penutup, Asma Nadia secara khusus menyelipkan tips untuk menyiapkan sebuah pernikahan, mulai dari keutamaan ta’aruf yang benar dan tepat, pengenalan diri sendiri dan pasangan secara mendetil dan anjuran kesabaran ketika telah memasuki gerbang pernikahan.


Kelebihan dan Kekurangan Buku
    Buku yang berwajah sampul foto Asma Nadia dan suami ini cukup berbeda dari buku-buku terbitan AsmaNadia Publishing House sebelumnya. Selain karena tim penulisnya yang berlatar belakang beraneka rupa, juga karena gaya penulisannya yang lebih mirip kisah fiksi dan esai pribadi. Karakter tiap penulis memengaruhi gaya penceritaan masing-masing kisah sehingga menjadi kekayaan tersendiri bagi buku ini. Layout buku juga keren, kreatif dan menarik. Terselipnya pembatas buku menjadi faktor ringan yang tidak bisa dianggap sepele dalam menambah kelebihan buku ini. Ketika membaca lembar demi lembar buku, niscaya kita akan menelurkan aneka ekspresi dan reaksi. Bisa jadi kita tersentil, tersindir, atau tergugah saat membacanya karena kisah-kisahnya sangat dekat dengan kehidupan kita dan dikisahkan sebagian besar oleh sang tokoh sendiri.
    Satu-satunya kekurangan yang saya jumpai adalah kesalahan cetak dan ejaan dalam beberapa halamannya. Barangkali karena disusun beramai-ramai, peluang kesalahan oleh masing-masing penulis lebih besar dibandingkan jika ditulis oleh penulis tunggal. Editing masih perlu dilakukan demi kerapian tulisan.
Saya memberikan nilai 4,5/5 bintang untuk hadirnya buku ini sebagai alternatif panduan dalam pernikahan.





Judul Buku         : The Chronicles of Ghazi Seri #1 – Perseteruan Hidup-Mati
                              Dracula dan Muhammad Al-Fatih
Penulis               : Sayf Muhammad Isa dan Felix Y. Siauw
Penyunting         : Rini Nurul Badariah
Proof Reader      : Desti Ilmianti S.
Desain Isi           : Cecep Ginanjar
Desain Sampul    : Al-Fatih Studio
Penerbit              : Mizania, Februari 2014

    “Kami datang untuk membebaskan manusia dari penyembahan kepada sesama manusia, menuju penyembahan hanya kepada Allah, Tuhannya manusia. Dan hanya kepada Allah saja. Kami datang untuk mengubah penindasan manusia menjadi keadilan Islam.” Pernyataan ini milik Rabi’ah ibn Amir, seorang mujahidin, ketika menghadap Kaisar Persia untuk menyampaikan surat dakwah Rasulullah.
    Sebagian besar dari umat Islam sekarang sudah cukup asing dengan sejarah peradaban Islam. Mereka barangkali tak pernah tahu bahwa Islam pernah berjaya menaklukkan dunia di bawah komando Rasulullah SAW lantas tongkat estafet perjuangan beliau dilanjutkan oleh para khalifah sesudahnya. Novel sejarah yang ditulis oleh duo Say Muhammad Isa dan Felix Siauw ini berupaya mengungkap kembali tinta emas kegemilangan umat Islam di masa silam tersebut. Melalui gaya penulisan fiksi, kisah yang memang benar pernah terjadi ini menjadi menarik dibaca, diambil pelajarannya sekaligus menghanyutkan hati.  

Sinopsis
Di satu belahan bumi, lahir seorang lelaki yang kelak akan menjadi pemimpin terbaik kaum Muslim. Di belahan bumi yang lain, lahir pula lelaki yang akan menjadi salah satu manusia terkejam dalam sejarah. Muhammad Al-Fatih II dan Vlad Dracula III menjadi wakil dari pertarungan haq dan bathil, antara kesultanan Usmani dan kerajaan Eropa Timur, dan takdir mereka sudah digariskan untuk berbenturan sejak kelahirannya. Kisah mereka dijalin dalam novel serial di mana novel yang akan dibahas kali ini merupakan seri pertama. Diawali dengan cuplikan adegan kala Muhammad Al-Fatih II masih belia, kisah berjalan mundur ke satu masa di mana Khalifah pendahulunya telah menorehkan sejarah dengan perseteruan panjangnya melawan para pemimpin kafir yang membentuk persekutuan di Eropa Timur. Mereka mengatasnamakan persekutuan ini sebagai perang suci.

Isi Buku
    Novel sejarah setebal 305 halaman ini dibagi menjadi enam episode dan diawali dengan deskripsi karakter/tokoh dalam novel. Kisah bermula dari adegan seorang remaja istimewa berusia 13 tahun bernama Mehmed (bahasa Turki untuk Muhammad) yang sedang bersama ayahnya, Sultan Murad II dari kekhilafahan Usmani, dan seorang ulama bernama Syaikh ‘Aaq Syamsuddin. Sang remaja yang digembleng sedari kanak-kanak untuk disiapkan menjadi penerus kepemimpinan ayahnya, diingatkan kembali akan sebuah cita-cita yang telah dijanjikan Rasulullah SAW, yaitu menaklukkan Byzantium. Sang ayah dan gurunya Syaikh Syamsuddin sangat mengharapkan Mehmed mampu memikul tanggung jawab mewujudkan cita-cita mulia tersebut. Kisah kemudian berjalan maju mempertemukan Mehmed dengan sang calon musuh abadinya, sebuah perwajahan dari kezaliman dan kebathilan, yaitu Vlad Drakula III. Di lembar berikutnya, kisah dimundurkan pada masa pendahulu Mehmed, Sultan Murad I. Episode demi episode mengisahkan sepak terjang Sultan Murad I yang akhirnya menemui syahid dalam memerangi kebathilan. Perjuangannya diwarisi oleh putranya, Bayazid.
    Perseteruan abadi Sultan Murad I dengan Raja dari kerajaan-kerajaan di Eropa Timur dipicu oleh sebuah insiden di mana surat dakwah yang dibawa utusan sang sultan untuk Kaisar Lazar Hrebeljanovic ditolak mentah-mentah. Pendudukan Velbudz, sebuah daerah di wilayah kekaisaran Eropa Timur, menjadi titik mula. Dari sinilah peperangan demi peperangan kemudian berkecamuk. Tak sedikit pejuang dari kesultanan Usmani, termasuk sang sultan Murad sendiri yang menjumpai syahid dalam peperangan ini. Meski demikian, keteguhan iman dan hati para pejuang Muslim tak tergoyahkan sedikit pun. Di bawah komando pemimpin baru, Sultan Bayazid, para prajurit dan ulama pendamping sang sultan merangsek maju ke wilayah kekaisaran Eropa Timur dan menemui takdir mereka. Di lain pihak, persekutuan para kaisar Eropa Timur tak berjalan mulus. Acapkali mereka berselisih paham bahkan saling mengancam tatkala sedang merumuskan strategi perang bersama. Hal ini tak aneh lagi mengingat persekutuan mereka dibangun di atas pondasi yang lemah, kepentingan duniawi sesaat untuk mempertahankan kekuasaan masing-masing.
    Banyak cuplikan kisah bersejarah yang termuat dalam novel ini. Beberapa diantaranya sangat menyentuh hati dan ingin saya cuplikkan di sini.
•    Masuk Islamnya Fregadovic—Boyar Velbudz—di hadapan Sultan Murad I langsung dan tanpa jeda dia langsung menerjunkan diri dalam peperangan melawan para kaisar Eropa Timur (hal. 51).
•    Syahidnya Sultan Murad I di tangan Milos Obilic, seorang kafir yang mendendam pada beliau, namun kemudian Milos sendiri menemui ajalnya di tangan Bayazid, putra sang sultan (hal. 68-69).
•    Kekejian Mircea—voivode Wallachia—terhadap utusan Sultan dengan membunuh mereka dan menyalib jasad mereka untuk dipertontonkan pada sang sultan (hal. 118-121).
•    Kekejian rombongan pasukan salib yang membunuhi penduduk Oryahovo tanpa ampun, sekaligus menyalib sang amir—Dogan Bey—di   pusat kota untuk dipamerkan kepada Sultan Bayazid (hal. 209-210).
•    Kisah kepahlawanan Hamed Bey, Aslan, dan Yazed dalam mempertahankan Nicopolis dari serbuan pasukan salib. Keteguhan hati mereka dan kecerdikan strategi mengantarkan mereka pada kemenangan dengan datangnya bala bantuan tepat waktu serta dipukul mundurnya pasukan salib (hal. 231-304).

Kelebihan dan Kekurangan Buku
    Sebagai sebuah novel sejarah, buku ini dituturkan dalam alur yang detil dibalut dengan bahasa indah yang cukup sederhana dan mengalir. Di beberapa halaman kita dapat menumpai ilustrasi atas peristiwa yang tengah dikisahkan.  Ejaannya nyaris sempurna tanpa cela. Kekurangannya bagi saya sebagai seorang yang kurang menggemari sejarah adalah berderetnya nama-nama tokoh. Memang untuk memudahkan mengenal dan menelisik latar belakang tokoh-tokoh dalam cerita telah disediakan bab khusus deskripsi karakter, namun tetap saja saya kesusahan mengingat nama-nama yang demikian banyaknya. Satu-satunya solusi adalah dengan membalik kembali halaman deskripsi tiap kali saya lupa.
    Bagaimanapun juga, novel sejarah semacam ini memang langka. Novel ini berupaya menyuguhkan fakta sekaligus mengangkat kembali nama harum kekhilafahan Islam yang kini mulai diasingkan dari telinga generasi muda Islam. Buku semacam ini sangat bagus dibaca oleh kawula muda Muslim demi mengingatkan mereka bahwa mereka dapat menjadi bagian dari sejarah dengan membangkitkan kembali kejayaan tersebut.



Sabtu, 12 Juli 2014

[cermin Ramadhan] Puasanya Pemula

Posted by Menukil Aksara | 6:06:00 AM Categories:
      Ramadhan adalah tamu yang wajib disambut dan dimuliakan, demikian petuah yang biasa diperdengarkan menjelang dan selama bulan penuh berkah ini berlangsung. Keutamaan Ramadhan, bagi yang semenjak lahir sudah memeluk Islam sepertiku acapkali diajarkan semenjak dini. Di usia sekolah dasar, aku mulai dianjurkan berpuasa oleh ibuku. Puasa semenjak azan Subuh hingga Maghrib bagi seorang kanak-kanak tentulah belum sekokoh mereka yang telah dewasa. Bagiku kala itu, puasa terasa cukup berat. Ini diperparah oleh kondisiku yang disekolahkan di sebuah sekolah swasta Katolik. Ya, akibat terlampau perfeksionis dalam menetapkan standar kedisiplinan pengajaran, ibuku merelakanku menuntut ilmu di sekolah berbasis non Muslim.
      Aku ingat betul kala itu. Ramadhan bertepatan dengan musimnya ujian sekolah. Kotaku yang terletak di garis pantai memang terkenal panas. Terik mataharinya mampu melelehkan keringat dan memicu rasa haus yang teramat menyiksa. Diantara jadwal ujian, ada satu jadwal yang merisaukan. Ujian itu tak lain adalah ujian praktik olahraga. Hari itu aku diuji dalam beberapa cabang olahraga, antara lain senam dan lari. Ah, terbayang bukan, betapa seorang anak kecil yang masih doyan merengek diwajibkan menahan dahaga di saat kawan-kawan lain bebas minum dan makan di hadapannya. Begitu ujian berakhir dan aku pulang ke rumah, bisa dipastikan aku mengeluh tak sanggup meneruskan puasa. Dengan muka ditekuk sedalam mungkin dan hati yang gondok, aku mengomel hingga didengar oleh ibu. Alih-alih menghibur atau memberikan keringanan, ibuku malah menekankan agar aku jangan cengeng dan uring-uringan. Karena kesal, aku mendekam di kamar selepas pulang sekolah. Entah karena fisikku yang lelah, bibirku yang capek mengeluh, atau memang efek tubuh yang sedang berpuasa sehingga mudah mengantuk, aku pun tertidur. Dan taraa.. sore pun menjelang dan azan Maghrib tinggal menghitung menit. Aku sukses melanjutkan puasaku hingga waktu berbuka tiba.
      Lain masa sekolah dasar, lain pula masa sekolah menengah pertama. Kali ini kehebohan puasa ala pemula masih terasa. Salah satu kewajiban dari sekolah—yang jika dipikir sekarang agak konyol—adalah mengumpulkan absensi tarawih pribadi di masing-masing lingkungan tempat tinggal, lengkap dengan dibubuhi tanda tangan takmir—pengurus—masjid. Bisa dipahami maksud baik dari penugasan ini, agar siswa-siswi rajin melaksanakan ibadah sholat yang spesial hadir setahun sekali itu. Kelemahannya adalah penugasan tak diimbangi dengan penanaman pemahaman niat ikhlas dalam beribadah. Alhasil, aku dan beberapa kawan yang tinggal dalam satu kompleks tempat tinggal memaknai tugas ini sebatas formalitas sekaligus menghindari nilai jelek di rapor—meskipun aku tidak sepenuhnya yakin penugasan ini berdampak signifikan terhadap nilai.
     Demi mendapatkan tanda tangan bukti keabsahan absensi tarawih, kami mau tak mau harus mengenal salah satu pengurus masjid. Anehnya, alih-alih mencari tahu, kami membuat asumsi sendiri bahwa pengurus masjid itu bisa siapapun, asalkan dia tampak selalu menghadiri jamaah tarawih. Salah satu kandidat terkuat itu adalah seorang pemuda tetangga yang ramah. Jadilah kesepakatan tercapai. Setiap selesai menjalankan ibadah tarawih, dengan malu-malu kami menghampiri pemuda itu dan memintanya menandatangani buku absensi tarawih kami. Pemuda baik hati itu pun tak keberatan. Yang terpenting, di akhir Ramadhan kami bisa mengumpulkan buku itu tanpa cela.
      Satu hal yang masih melekat di benakku hingga sekarang tentang Ramadhan di kotaku adalah suasana tarawih yang nyaris sama di mana pun. Di tiap masjid perumahan, akan selalu ada barisan anak-anak dan remaja yang datang bergerombol—kerapkali membuat “shaf khusus” anggota geng mereka—dan menyisakan rakaat-rakaat akhir dengan keriuhan. Tingkah laku mereka ini seringkali mengundang teguran dari jamaah dewasa. Namun bukan kanak-kanak namanya jika mereka patuh begitu saja. Di lingkungan rumahku sekarang, terdapat tradisi pembagian kue-kue basah setiap usai tarawih. Maka jamaah yang paling antusias berebut kue sudah bisa dipastikan adalah jamaah biang keriuhan itu. Meski polah mereka ini perlu dibenahi, namun masa-masa ini pasti membekaskan kenangan tak terlupa kala mereka telah matang kelak. Sama halnya dengan yang kurasakan sekarang.

Senin, 07 Juli 2014

[resensi novel] Memungut Hikmah Menjemput Hidayah dari Jejak Islam di Eropa

Posted by Menukil Aksara | 6:38:00 AM Categories:



Judul Buku                        : 99 Cahaya di Langit Eropa – Perjalanan Menapak  
                                          Jejak Islam di Eropa (Edisi Cover Film)
Penulis                              : Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra
Desain Isi dan Grafis Peta   : Suprianto
Desain Sampul                  : Maxima Pictures
Penerbit                            : Gramedia Pustaka Utama, Januari 2014

    Apa yang Anda bayangkan jika mendengar “Eropa”? Eiffel? Colosseum? San Siro? Atau Tembok Berlin? Bagi saya, Eropa adalah sejuta misteri tentang sebuah peradaban yang sangat luhur, peradaban keyakinan saya, Islam. Buku ini bercerita tentang perjalanan sebuah “pencarian”. Pencarian 99 cahaya kesempurnaan yang pernah dipancarkan Islam di benua ini. Dalam perjalanan itu saya bertemu dengan orang-orang yang mengajari saya, apa itu Islam rahmatan lil alamin. Perjalanan yang mempertemukan saya dengan para pahlawan Islam pada masa lalu. Perjalanan yang merengkuh dan mendamaikan kalbu dan keberadaan diri saya. Pada akhirnya, di buku ini Anda akan menemukan bahwa Eropa tak sekadar Eiffel atau Colosseum. Lebih... sungguh lebih daripada itu.
    Paragraf pernyataan di atas dapat dibaca di bagian belakang sampul buku ini. Sebuah pernyataan yang sangat menarik minat siapa pun untuk membuka lembar demi lembar buku ini dan menelisik apa isinya. Ibarat membuka jendela dunia, menjelajah Eropa lewat kisah perjalanan duo penulisnya—Hanum dan Rangga—yang merupakan pasangan suami istri.

Sinopsis
    “Wahai anakku! Dunia ini bagaikan samudra tempat banyak ciptaan-ciptaan-Nya yang tenggelam. Maka jelajahilah dunia ini dengan menyebut nama Allah. Jadikan ketakutanmu pada Allah sebagai kapal-kapal yang menyelamatkanmu. Kembangkanlah keimanan sebagai layarmu, logika sebagai pendayung kapalmu, ilmu pengetahuan sebagai nahkoda perjalananmu; dan kesabaran sebagai jangkar dalam setiap badai cobaan.” Penggalan petuah Ali bin Abi Thalib di atas membuka lembar perjalanan dalam buku ini. Sudah terlalu banyak buku traveling sebelumnya, terutama tentang Eropa dan segala keindahannya. Di buku ini kedua penulis berupaya memaknai perjalanan lebih besar dari itu. Sebuah perjalanan harus bisa membawa pelakunya naik ke derajat yang lebih tinggi, memperluas wawasan sekaligus memperdalam keimanan. Hanum dan Rangga, pasangan suami istri yang beruntung dapat merasakan tiga tahun lebih kehidupan di Eropa mengisahkan pernak-pernik kisahnya dalam sudut pandang penceritaan orang pertama (aku-Hanum). Kisah dimulai ketika Hanum berkenalan dengan seorang muslimah imigran dari Turki bernama Fatma Pasha di sebuah kursus bahasa Jerman. Perkenalan ini berlanjut menjadi persahabatan atas nama iman. Fatma senang mengajak Hanum berpelesir ke tempat-tempat bersejarah di Wina, Austria, di mana mereka berdiam saat itu. Lewat perjalanan wisata inilah Fatma yang berperan sebagai tour guide amatiran bagi Hanum banyak menyibak jejak peradaban Islam di Austria dan Eropa pada umumnya. Hingga pada suatu hari, mereka menjalin mimpi bersama untuk dapat mengunjungi situs-situs bersejarah peninggalan peradaban Islam lainnya di Eropa, seperti di Istanbul, Granada, Cordoba, Vienna, Paris, hingga ke Kairo, Roma, Mekkah, dan Madinah. Sayang, musibah menerpa Fatma yang mengharuskannya menghilang sementara waktu dari kehidupan Hanum. Hanum yang kebingungan memutuskan melanjutkan mimpi mereka dengan menjelajahi situs-situs bersejarah tersebut bersama suaminya. Catatan perjalanannya ditulis dan dikirim ke surel Fatma secara rutin meskipun tak satu pun menuai balasan. Hingga suatu hari, secara tak terduga Fatma mengirimkan sebuah pesan yang mengabarkan alasannya menghilang dan meminta Hanum mengunjunginya di Turki.

Isi Buku

    Buku ini sangat padat muatan sejarahnya. Tiap lembarnya menyimpan rahasia yang berusaha dikuak oleh kedua penulisnya. Lebih daripada itu, kisah tentang perjuangan para muslim minoritas dalam mempertahankan keIslaman di benua yang dihuni mayoritas penganut atheis dan sekuleris ini sangat menarik disimak.
    Banyak kutipan menarik di dalamnya, antara lain:
•    Seorang turis di asing di Kahlenberg menyebut roti croissant bukan dari Perancis melainkan dari Austria. Roti ini untuk merayakan kekalahan Turki di Wina. Croissant melambangkan bendera Turki yang bisa dimakan. Sehingga memakan croissant berarti memakan Islam. (hal. 39)
•    Turki pernah hampir menguasai Eropa Barat. Sekitar 300 tahun lalu, pasukan Turki yang sudah mengepung Wina dipukul mundur oleh gabungan Jerman dan Polandia di atas bukit Kahlenberg. (hal. 42)
•    Kara Mustafa Pasha, panglima perang khalifah Usmaniyah/Ottoman dilukis seperti seorang pesakitan dan lukisan dirinya dipajang di dalam Wien Stadt museum. (hal. 79)
•    Syiar Muslim di Austria: tebarkan senyum indah, kuasai bahasa Jerman dan Inggris, selalu jujur dalam berdagang. (hal. 90)
•    Patung Saint Michel yang menjadi ikon Paris merupakan penggambaran malaikat Mikail dalam Islam. Dalam tradisi Kristen, Mikail dikenal sebagai malaikat perang, sementara di Yahudi, Mikail berarti ‘dia yang menyerupai Tuhan’. (hal. 133)
•    Voltaire, seorang sastrawan atheis yang pernah menulis karya yang menghinakan Islam, pernah juga menulis sebuah esai tentang Islam yang menjunjung toleransi dan mengagumi kepemimpinan Nabi Muhammad. (hal. 137)
•    Di Section Islamic Art Gallery, Museum Louvre banyak ditemukan tulisan kufic dan pseudokufic di berbagai benda peninggalan sejarah. Selain itu yang kontroversial adalah di kerudung lukisan bunda Maria dan mantel koronasi raja Roger II.
•    Axe Historique atau garis imajiner yang tepat membelah Paris, memiliki julukan lain Voie Triomphale atau jalan kemenangan, jika ditelusuri lebih jauh ke timur hingga melampaui Eropa akan membawa garis ke Mekah. Salah satu rahasia besar tentang keIslaman Napoleon Bonaparte. (hal 177)
•    Kota yang mendapat julukan city of lights karena cahaya pengetahuan dan peradabannya yang bersinar di masa lalu berkat Islam adalah Cordoba. (hal. 194)
•    Di Notre Dame banyak dijumpai kemiripan arsitektur dengan Mezquita, masjid terbesar di Cordoba yang kemudian dialihfungsikan menjadi gereja. (hal. 200)
•    Arah mihrab di Mezquita tidak sepenuhnya menghadap kiblat. Penguasa saat itu, Sultan Al Rahman, sengaja membuatnya demikian karena di sebelah Mezquita terdapat gereja yang lebih dulu berdiri. Meski demikian, pada praktiknya jamaah tetap shalat menyerong ke arah kiblat. (hal. 274)
•    The Last Moor’s Sihgyang terkenal di Al Hambra merupakan tempat Boabdil terakhir kalinya memandang Granada setelah diusir oleh Isabella dan Ferdinand akibat penaklukan kerajaan Spanyol. (hal. 301)
•    Di Hagia Sophia ditemukan dua ruh desain arsitektur yang berbeda, peninggalan kekaisaran Byzantium dan kekhilafahan Ottoman. (hal. 334)
•    Sultan Mehmed membangun Blue Mosque tepat di depan Hagia Sophia seolah-olah ingin mengatakan peradaban Islam tak kalah dengan Byzantium. (hal. 341)
•    Desain sederhana dari istana Topkapi melambangkan prinsip para sultan masa itu yang tidak menghendaki kemewahan dan kesempurnaan, karena kesempurnaan adalah milik Allah. (hal. 349)
Sesungguhnya masih banyak kutipan menarik lainnya terkait kehidupan beragama di Eropa khususnya bagaimana kaum Muslim minoritas diperlakukan, yang dapat dijumpai dalam buku setebal 420 halaman ini. Selain itu, buku ini dilengkapi kisah di balik layar pembuatan film yang diadaptasi dari novel ini, mulai dari penggarapan naskah, casting, dan pengambilan gambar.

Kekurangan Buku
    Sebagai karya manusia, buku ini tak lepas dari ketidaksempurnaan. Sebagian kecilnya disebabkan oleh sedikit kesalahan cetak dan EYD. Sebagian besarnya karena sudut pandang pemikiran penulis yang tak dapat dimungkiri tertuang dalam buku ini. Saya sangat menyayangkan pendapat-pendapat penulis yang terkesan merendahkan jihad yang dilakukan kekhilafahan Islam dan disamakan dengan penaklukan dan kolonialisme bangsa-bangsa nonmuslim. Bahkan buku ini diawali dengan adegan kekalahan panglima Kara Mustafa yang ditafsirkan sepihak menjadi fiksi dengan menyudutkan Kara sebagai pecundang yang kalah perang. Hal ini bisa dikatakan lucu dan ironis mengingat berkat jihad dengan tujuan memperluas dakwah Islam dengan kekuatanlah peradaban Islam dapat dijumpai jejak-jejak keemasannya di seantero Eropa oleh kedua penulis.
    Terlepas dari opini-opini pribadi sang penulis, buku ini layak dibaca oleh generasi muda Islam masa kini demi membangunkan kembali ghirah perjuangan dakwah Islam dan kebanggaan atas identitasnya sebagai bagian umat yang pernah jaya dan memimpin dunia. Saya memberi 4/5 bintang untuk buku ini.




Selasa, 01 Juli 2014

[Review Buku] Historivasi: Memetakan Masa Depan Lewat Cermin Sejarah

Posted by Menukil Aksara | 9:57:00 PM Categories:

Judul Buku      : Gara-gara Indonesia – Dari Sejarah Kita Belajar untuk     
                           Masa Depan
Penulis            : Agung Pribadi
Penyunting      : Annisa Daulay, Herti Annisa
Penerbit           : AsmaNadia Publishing House, Januari 2014

“Sejarah harusnya diajarkan seperti buku ini, bukan hafalan tahun, nama, atau urutan peristiwa, tapi punya muatan motivasi yang istimewa.” Demikian bunyi sepenggal endorser dari Asma Nadia di sampul depan buku ini.
Masih ingatkah dengan pelajaran sejarah di kurikulum pendidikan sekolah kita? Barangkali bagi mereka yang sudah tak duduk di bangku sekolah merasa bersyukur diam-diam karena tak perlu lagi bertemu pelajaran sejarah. Bagi tipe pembelajar yang tak menyukai hafalan, sejarah memang bisa jadi momok. Acapkali hafalan tahun, tokoh, peristiwa dalam buku pelajaran sejarah cukup dihafalkan mati-matian menjelang ujian lantas menguap begitu saja sesudahnya. Tak ada bekas di hati mengenai peristiwa-peristiwa yang telah dipaparkan guru di depan kelas, apalagi muatan motivasi. Nah, di buku “Gara-gara Indonesia” ini, penulis berupaya mematahkan kesan tersebut.

Historivasi-Sejarah dan Masa Depan
Sejarah seharusnya membuat kita belajar, membuat kita sadar tentang arah masa depan. Sejarah harusnya menjadi sumber motivasi. Begitu pentingnya sejarah, sampai-sampai kitab suci Al-Qur’an, 75% isinya adalah sejarah. Sayangnya, kini sejarah telah kehilangan arah, tidak memberi kekuatan apa-apa selain hafalan peristiwa dan nama. Kini saatnya kita mengembangkan historivasi. (hal. xi-xii)

Sinopsis
“Gara-gara Indonesia, Amerika kalah perang di Vietnam. Gara-gara Indonesia, Napoleon kalah perang di Eropa. Gara-gara Indonesia, kolonialis kehilangan puluhan negara jajahan. Kalau tidak ada Indonesia, mungkin Amerika tidak ditemukan Colombus. Kalau bukan karena Indonesia, mungkin malaria lebih mematikan. Kalau bukan karena Indonesia, mungkin dunia tidak sedamai sekarang. Cuma di Indonesia Kubilai Khan dipecundangi dan diperdaya. Cuma Indonesia yang mengalahkan Sekutu setelah Perang Dunia II. Cuma Indonesia yang bisa membuat tandingan PBB.” Barangkali ketika membaca kutipan di atas kita terhenyak dan menyatakan ketidakpercayaan. Ah, masa’? Nyatanya Agung Pribadi mengungkap fakta mengejutkan yang membuat kita makin bangga sebagai bangsa Indonesia. Membaca tulisan sejarawan lulusan Universitas Indonesia ini membuat kita sadar bahwa Indonesia ternyata banyak berperan dalam perubahan dunia. Sang penulis mengungkap banyak data dan bukti baru yang menarik. Tidak seperti kebanyakan sejarawan yang menulis sejarah begitu panjang dan kadang membosankan, Agung Pribadi menulis dengan bahasa sederhana. Sejarah jadi asyik dibaca dan membuat penasaran. Karena itu buku ini memberi kata baru untuk penulisan sejarah, yaitu HISTORIVASI (Histori bermuatan Motivasi), dan menempatkan Agung sebagai historivator (Historian Motivator) pertama di Indonesia.

Isi Buku
Buku ini memuat empat bab, dengan judul : Gara-gara Indonesia, Hanya Indonesia Berani Beda, Indonesia Lebih Hebat, dan Penutup. Masing-masing bab mengandung penggalan kisah sejarah, yang sebagian besarnya telah lazim diketahui, namun dengan pernak-pernik detil dan motivasi yang mengejutkan.
Sebagai contoh, saya akan sedikit mencuplik pembahasan di halaman 3, dengan judul Amerika Ada Karena Indonesia. Seperti kita tahu, Amerika kini menjadi negara adikuasa satu-satunya di dunia, mengalahkan negara-negara Eropa bekas kolonialis, seperti Inggris, Portugis, Perancis, dan Belanda. Sejarah umum selama ini mencatat bahwa benua Amerika ditemukan oleh pelaut Spanyol, Christopher Colombus, karena ketidaksengajaan. Yang banyak orang tidak tahu adalah fakta bahwa India, yang disebut-sebut sebagai daerah yang menjadi tujuan awal Colombus bisa jadi adalah Indonesia. Bagaimana penjelasannya? Dalam buku The Life and Voyages of Christopher Colombus dinyatakan bahwa Colombus pergi ke arah barat mencari Atlantis dan taman Eden. Kini sebagaimana kita ketahui, Indonesia dipercayai sebagai tempatnya Atlantis. Nama Indonesia sendiri berasal dari bahasa Latin, Indu (India) dan bahasa Yunani, Nesia (kepulauan). Nusantara (Indonesia) dulu dalam bahasa Inggris disebut Indie, dan bahasa Belandanya Indische.(hal. 4). Colombus sendiri berlayar untuk mencari rempah-remah, sedang Indonesia semenjak dulu sudah terkenal dengan kekayaan rempah-rempahnya. India sendiri hanyalah penghasil lada. (hal. 5).
Dalam pengupasan judul Lakhsmi Mittal Masuk Orang Terkaya di Dunia Karena Indonesia, kita disuguhkan fakta mencengangkan sekaligus ironis tentang betapa Indonesia dikeruk kekayaan alamnya oleh orang asing karena pengelolaan yang benar-benar salah. Di selipan renungan, ditulis bahwa sejarah mencatat begitu banyak bangsa dan orang asing yang menjadi kaya raya karena Indonesia. Sebut saja Belanda yang pernah menjajah Indonesia, Singapura yang menjadi mediator transaksi yang sebagian besar untuk dan dari Indonesia. (hal. 81-82).
Penemuan obat malaria juga mencatat peran penting Indonesia. Dalam buku-buku sejarah ilmu pengetahuan, Franz Wilhelm Junghuhn disebt sebagai penemu pil kina. Padahal sesungguhnya ia bukanlah penemu kina namun perintis budi daya kina. Ia memilih Pegunungan Malabar, Pengalengan, Bandung, Indonesia pada tahun 1857. Terbukti pilihannya tepat di saat Mesir dan Aljazair gagal melakukannya di Aljazair.(hal.61). Fakta ini sekaligus menyeret kita pada fakta lain yang miris. Meskipun Indonesia kaya akan tanaman herba namun paten atas berbagai tanaman kesehatan dan kosmetik dimiliki bangsa lain. Indonesia adalah penghasil cokelat terbesar ketiga di dunia, namun tercatat Swiss dan Belgia sebagai penghasil cokelat berkualitas. Sebagai penghasil sawit tertinggi di dunia, Indonesia justru kerap kehabisan stok minyak goreng karena kebijakan ekspor tanpa memerhatikan kebutuhan dalam negeri. Arab Saudi tidaklah kaya karena melimpahnya minyak, namun karena mereka pintar menjaga posisi tawar atas kekayaannya. (hal. 63-64).
Masih banyak fakta-fakta menarik dan mencengangkan di dalam bab-bab buku ini sehingga terlampau panjang jika harus mengupasnya.

Kelebihan Buku
Buku ini menarik dari berbagai segi. Dari perwajahan, sampul dan kutipan sinopsis serta endorser di luar saja, bisa memantik keingintahuan pembaca untuk menuntaskan membaca buku ini. Buku ini juga dilengkapi dengan pembatas buku, selaiknya buku-buku terbitan AsmaNadia Publishing House lainnya. Bahasa yang digunakan juga sederhana, lugas, tidak bertele-tele sehingga tidak membuat kita bosan atau mengernyitkan dahi. Dari sisi EYD, buku ini juga sempurna. Layout yang menampilkan wajah berbeda-beda di beberapa halamannya sebagai pemanis dan pembeda, misalnya di bagian renungan, menjadi hiburan bagi mata pembaca. Bertebarannya kata-kata motivasi yang alami, tidak terkesan dibuat-buat, sebagai penutup tiap fakta sejarah yang disajikan juga merupakan unsur kuat dari isi buku ini. Salah satu kutipan favorit saya di buku ini adalah “Apa yang membuat kualitas pemuda di masa lalu berbeda dengan masa kini? Salah satunya pendidikan dan lingkungan. Pemuda masa lalu dibentuk oleh keadaan yang menyadarkan bahwa mereka harus berbuat sesuatu untuk masa depan. Pemuda masa kini dilenakan oleh lingkungan dan kurikulum pendidikan yang melupakan semangat perjuangan.” (hal. 146)

Sangat saya nantikan karya-karya berikutnya dari penulis sehingga mengubah pandangan miring mengenai pembelajaran sejarah.




  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube