Senin, 11 Agustus 2014

Dua Gadis dan Sebuket Bunga

Posted by Menukil Aksara | 11:35:00 PM Categories:

    “Aku pesan es krim rasa durian, seperti biasa,” ucapku pada Dea, sesaat sesudah pantat penat kami terempas ke bangku oranye kafe Rain.
    Beberapa menit kemudian, seorang pelayan kafe menghampiri, mengantarkan pesanan. Kami gemar mampir ke kafe kecil ini lebih karena mencandui manis dan melelehnya aroma dingin es krim di langit-langit mulut. Interior kafe ini jauh dari kesan menarik, terlampau datar, sedatar raut muka ketiga pelayan wanitanya.
    “Kenapa tuh cewek?” tanya Dea seraya menunjuk keluar dengan dagunya.
    Pandangan mataku mengekor isyarat Dea. Sesosok gadis tinggi kurus menggenggam sebuket bunga. Gadis itu berdiri terpaku menatap lalu-lalang kendaraan. Tepat ketika hendak membalikkan badan, seorang gadis lain mencekalnya. Beberapa jenak kemudian, kedua gadis itu melangkah masuk ke dalam kafe.
    “Ayo kita pesan semangkuk besar es krim sundae sembari membayar lunas persahabatan ini,” tukas gadis kedua dengan mata elangnya.
    Pesanan es krim mereka tandas dalam diam. “Baiklah. Mulai detik ini  kita tak saling kenal,” ujar sang gadis kedua yang kemudian bangkit dan melenggang pergi. Kucuri tatap kedua matanya yang kini berkaca-kaca.
    “Tampaknya ada yang gagal menikah karena sahabat.” Bisik-bisik Dea mengiringi isak tangis perlahan sang gadis pertama bergaun putih, masih dengan buket bunga di atas meja.


[prompt #59]

Minggu, 10 Agustus 2014

[fiksi mini] Tema Ramadhan

Posted by Menukil Aksara | 12:47:00 PM Categories:
Ini kumpulan fiksi mini 50 kata yang sempat diikutkan di kompetisi selama Ramadhan 1435 H lalu.
Meskipun nggak menang, sayang kalau dibuang hahaha...


foto gogling
Mudik
"Silakan istirahat. Yang ingin sahur masih ada waktu!"
Rianti sontak menghambur keluar. Perutnya mulas, mabuk daratnya kambuh. Sesudah membasuh muka di toilet, dia merebahkan diri di mushala restoran.
"Kepada penumpang bus malam jurusan Jakarta-Denpasar harap segera naik."
Rianti terlonjak bangun. "Busku... aduh!" Tak sadar kerudungnya terbuka sebagian.

Penggerebekan
Dini hari di rumah pejabat X.
Aparat berseru, "Kami membawa surat perintah penangkapan!"
"Bapak sedang ke luar negeri," jawab pembantu.
Aparat merangsek masuk, menggeledah, tapi nihil hasil.
Beberapa jam kemudian, pembantu mengirim SMS, "Aman, Pak."
Pejabat X menyeringai.
"Waktunya ngemplang barang. Nanti tinggal bilang, barangnya disita," gumam sang pembantu.

Tarawih Atau Kampanye
"Mas, Mas... bisa tolong tukar posisi?"
"Kenapa memangnya?"
"Mmm... begini. Saya nggak bisa khusyu' shalat."
"Lalu apa hubungannya dengan saya?"
"Angka 1 di belakang kaos Mas itu. Bikin saya gerah."
Si Mas langsung merengut.



Sosmed di Ramadhan
"Mbak, di berandaku kok rame orang berantem, ya?"
"Berantem karena apa?"
"Macam-macam. Ada yang ngomel di-PHP calon pembeli, marah karena di-tag, nggak lolos lomba, dan kawan-kawan."
"Lah nanti kalau nggak ramai kamu bingung."
"Hehe... iya sih. Bingung, nggak ada tontonan gratis."

Dendam
Suasana masjid gaduh.
"Nggak usah berkelit. Jelas ta'jil sampeyan yang bikin anak-anak keracunan!"
"Benar. Hanya sampeyan yang punya motif kuat."
Sang tertuduh tak mampu membela diri. Dari kejauhan, seorang anak pengemis menyeringai.
"Rasakan pembalasanku. Itu setimpal dengan cibiran dan pengusiran kalian tempo hari." Tangannya menggenggam obat pencahar.

Sabtu, 09 Agustus 2014

[review buku] Mengupas Rahasia Para Blogger Andal

Posted by Menukil Aksara | 10:41:00 PM Categories:

Judul Buku            : Buka-bukaan Ala Blogger Kondang(an)
Penulis                  : Abdul Cholik, Ade Anita, Akhmad Muhaimin Azzet, dkk
Penyunting            : Aisha S. Maharani
Desain Isi              : SixmidArt
Desain Sampul      : Yuswinardi
Cetakan Pertama   : Juli 2014
Penerbit                  : Sixmidad

Blurb
    Blogger adalah enigma, juga anomali. Blogger adalah enigma, pribadi unik yang mengusung nilai-nilai luhur dan kadang melakukan hal-hal baik di luar nalar atau logika formal. Blogger adalah anomali, sebuah deviasi eksistensial yang menembus sekat dan batas-batas nilai yang cenderung diyakini oleh masyarakat oportunis.

Sinopsis
    Aktivitas blogging atau yang lebih familiar disebut ngeblog, mulai diminati sejak awal tahun 2000-an. Sebagai salah satu media untuk membiasakan menulis, ngeblog dinilai membawa banyak berkah bagi para penggiatnya atau para blogger. Sebagai contoh, di dalam buku ini dikisahkan pengalaman blogger Haya Aliya Zaki yang mendapat tawaran sebagai narasumber dalam sebuah acara kuliner yang diadakan oleh sebuah perusahaan besar di Indonesia. Kesempatan tersebut hadir berkat ketekunan dan konsistensi Haya Aliya Zaki menulis tentang dunia kuliner.
    Beberapa penulis lain dalam buku ini pun merupakan langganan peraih gelar juara dalam berbagai kontes. Abdul Cholik, misalnya, yang kerap memboyong uang maupun gadget keren berkat kepiawaiannya menulis gagasan di blog. Lantas bagaimana agar blogger bisa produktif menghasilkan karya bermutu? Nuzulul Arifin menguraikannya secara detail dan taktis, lengkap dengan jadwal terencana di buku ini.
    Terkait pilihan antara penguasaan teori atau praktik, yang manakah yang sebaiknya diprioritaskan, Hariyanto Wijoyo membahasnya tuntas. Kemudian ada Suprihati yang dengan apik mengelaborasi ilmu blogging dan memaparkan betapa blogger dituntut untuk terus mengasah kemampuan dan belajar tiada putus.
    Tak selamanya semangat terus berkobar. Adakalanya blogger tiba di titik tertentu di mana kejenuhan melanda atau kebuntuan akan ide segar. Jangan khawatir, Susi Susindra menawarkan resep jitu agar gelora menulis tetap mengalir dan tersalurkan apik dalam blogpost. Ada pula tulisan Cii’ Yuniaty dan Lianny Hendrawati yang berbagi kisah ngeblog mereka di sela kesibukan yang padat dari dua dunia berbeda. Bergabung dalam komunitas dapat menjadi alternatif untuk memperoleh suntikan semangat, sumber ide, dan pengakuan eksistensi blog, seperti yang dikemukakan Sri Wahyuni dalam tulisannya.
    Lebih dari peran dan keuntungan di atas, blogger juga bisa menjadi penyeimbang informasi terhadap berita-berita yang beredar di media, khususnya online. Ririe Khayan membocorkan kiat-kiat agar blogger mampu menjadi corong informasi andal sekaligus terpercaya di dunia maya. Nah, jika keterampilan menulis telah terasah dan mumpuni, tak ada salahnya mendobrak pasar pembaca lain, semisal media massa cetak. Akhmad Muhaimin Azzet menuliskan langkah-langkah dan kiat ampuh menembus pangsa pasar baru ini.
    Sebagai gong penutup, ada artikel yang menyibak trik untuk menyulap tulisan blog ke dalam bentuk buku, seperti yang dituturkan oleh Ade Anita. Prinsip ngeblog untuk memberikan manfaat, sekecil dan sesederhana apapun itu, disertai niat tulus, adalah makna hakiki dari blogging itu sendiri.


Kandungan Inspiratif Buku
    Buku dengan sampul minimalis bernuansa oranye dan putih ini memang tak terlampau tebal. Namun jangan salah, kandungan di dalamnya jauh melampaui ketebalan buku ini sendiri.
    Ditulis oleh 13 blogger yang telah diakui secara eksistensi dan prestasi, buku ini sangat sesuai dengan judulnya, “buka-bukaan”. Tiap bab atau artikelnya mampu menjawab berbagai pertanyaan mendasar terkait dunia blogging, di luar teknis pembuatan dan pengelolaan blog.
    Isi buku benar-benar mewakili semangat berbagi para blogger, terutama berbagi ilmu dunia blogging. Dengan menyimak pemaparan dalam tiap halamannya, kita seakan ditunjuki langkah-langkah tepat menyusuri jalan blogging. Namun perlu diingat bahwa buku ini bukan sekadar buku pintar membuat dan mengelola blog.
    Di dalam buku ini akan dijumpai beberapa istilah yang lekat dengan dunia blogging, contohnya blogger yang menunjuk pada seseorang yang aktif ngeblog, minimal ditandai dengan memiliki uniform resource locator (url) dari halaman 120, atau hiatus yang secara harfiah artinya jeda atau berhenti sejenak dari sebuah kegiatan (halaman 1). Ada pula istilah blogwalking yaitu kegiatan saling mengunjungi antara para blogger dengan meninggalkan komentar sebagai apresiasi atas tulisan (halaman 48). Dummy blog atau blog lama yang berfungsi memberikan backlink bagi blog baru, dijumpai di halaman 13.  Giveaway yakni kegiatan yang dilakukan blogger untuk bagi-bagi hadiah, tercakup dalam artikel di halaman 53.
    Tulisan favorit saya dalam buku ini berjudul Blogger dan Komunitas oleh Esti Sulistyawati, di mana isinya mengupas rahasia agar sukses saat menceburkan diri ke dalam komunitas blogger (hal. 48). Selain itu tulisan Haya Aliya Zaki dan Ade Anita terbilang sangat menarik, mengisahkan pengalaman pribadi mereka mendulang sukses menerbitkan buku dan menjadi narasumber sebuah acara bergengsi berkat ngeblog (hal. 70 dan hal. 15).
    Kutipan-kutipan penjelasan yang perlu saya garis bawahi dari buku ini, antara lain:
•    “...ngeblog itu bukan adu kekuatan atau kecepatan, tetapi lebih banyak adu ketahanan agar eksistensi blognya terjaga.” (hal. 4)
•    “Pada sebuah blog, terdapat banyak sekali karakter yang tertulis, sesuai dengan karakter si empunya blog. Seorang penulis bisa memperoleh gambaran tentang karakter sebuah tokoh jika dia mau meluangkan waktu melakukan pengamatan dengan membaca blog seseorang.” (hal. 21)
•    “Sebagai seorang blogger, sebaiknya Anda selalu punya willingness to learn atau tidak pernah berhenti belajar.” (hal. 69)
•    “Apalah arti ratusan bahkan ribuan artikel jika tak dapat diwujudkan dalam satu monumen? Monumen menulis bagi saya adalah sebuah buku.” (hal. 99)
•    “Blogsphere atau dunia blog bagaikan kawah chandradimuka di mana setiap pelakunya ditempa untuk lebih terampil dalam mengasah, meramu ide, dan kreatif menyajikannya serta menjadi pribadi yang humanis interaktif.” (hal. 124)



Rekomendasi
    Buku Buka-bukaan Ala Blogger Kondang(an) ini memang masih menyelipkan sedikit typo di beberapa bagian kalimatnya. Namun dari segi isinya, sangat berbobot, ilmiah, sekaligus mengena dan sesuai untuk semua blogger yang masih gamang akan dunia ngeblog. Tinggal bagaimana para blogger mempraktikkannya seusai membaca buku ini. Saya memberikan 4,5/5 bintang untuk buku jitu ini.





[FF] Preman Kampung

Posted by Menukil Aksara | 1:45:00 PM Categories:
Subuh di kampung yang sunyi terasa menjemukan bagi seorang Adisty yang merupakan sosok gadis metropolitan tulen. Di kota asalnya, Adisty pasti masih erat memeluk guling dan tersenyum-senyum menghayati mimpi berjumpa seorang Lee Min-ho, aktor Korea Selatan yang diklaim sebagai calon pacar siri kesepuluhnya. Saking dahsyat mimpinya, Adisty bisa sampai meneteskan air liur rasa pete, akibat malas menggosok gigi sehabis santap malam keluarga. Ya, meskipun mengaku keluarga ningrat, selera makan keluarga Adisty tetaplah mewarisi moyang mereka yang asli Tegal. Oh, ya, sebagai catatan, Subuh ini Adisty sudah bangun. Simbah rajin membangunkannya tiap Subuh dan melarang keras kembali tidur selama berlibur di kampung.

“Nduk, jangan keluar rumah dulu seharian ini, ya! Lagi ada musibah di kampung kita. Preman kampung ada yang mati semalam. Matinya ndak jauh dari rumah kita!” Adisty yang sedang sibuk mendengarkan alunan musik K-Pop di ponsel pintarnya, tak terusik dengan wanti-wanti sang simbah. Baru setelah dicolek oleh Simbah, dia menoleh sambil mendengus. Simbah geleng-geleng kepala lantas melenggang masuk ke dapur.

“Masa’ aku dipingit seharian! Aku ‘kan bosen, pingin ke toko di ujung jalan sebentar.” Dengan mengendap-ngendap, bertudung jaket polkadot hadiah perpisahan dari mantan teman tapi mesra kelimanya, Adisty sukses melewati kamar Simbah. Dengan berjalan kaki—berhubung dia nggak bisa mengendarai sepeda onta milik Simbah Kakung—Adisty menyusuri jalanan yang temaram. Baru setengah perjalanan, sekonyong-konyong muncul Udin, kerabat jauh Adisty yang super katrok dan gemar menguntit ke mana pun Adisty melangkah. Mengetahui gadis pujaannya berjalan sendirian, Udin menempel bak perangko sembari mengoceh tak jelas juntrungannya. “Biar deh, daripada gue jalan sendiri, agak spooky juga nih!” kata Adisty membatin.

Brukk...! Si Udin tiba-tiba jatuh berdebum di jalan. Adisty terlonjak kaget. “Din, Udin... kamu nggak papa, ‘kan?” ucap Adisty seraya mencolek bahu Udin dengan ujung jari telunjuk seakan Udin barang najis. Semenit berlalu, Udin bergeming. Bulu kuduk Adisty kian meremang. Udara malam yang dingin kian menggigit tulang. Adis spontan merapatkan jaket. Mendadak terdengar desau angin diikuti dedaunan yang bergesekan, menciptakan melodi soundtrack film Kutukan Sadako yang pernah ditontonnya. Dari sudut matanya, Adis menangkap bayang sosok tinggi besar berjalan sempoyongan di kejauhan. Adisty mendadak panik. Dia terngingang peringatan Simbah tentang preman yang mati terpeleset kemarin malam. Sontak Adisty lari terbirit-birit, berputar arah menuju rumah Simbah.

 “Dis, kok lari?!” seru Udin sejurus kemudian. “Eh, siapa itu? Kok mirip pre-pre-man ma-buk yang mati di sini? Jangan-jangan dia minta pertanggungjawaban atas ulahku!” Udin yang sudah siuman dari pingsan pura-puranya lekas mengambil langkah seribu tanpa babibu. Udin teringat kekhilafannya membuang kulit pisang di jalan dan desas-desusnya mengakibatkan sang preman menjumpai ajal.
 

Kamis, 07 Agustus 2014

Selamat Datang Usia 60

Posted by Menukil Aksara | 7:27:00 PM Categories:
foto: alumnimaterdei.com
    Di keluarga besar kami, rekor usia tertua dipegang oleh Ibu dari Bapak atau nenek saya. Meski sempat jatuh sakit cukup serius, bahkan mengalami musibah terjatuh dan patah tulang, Nenek masih bertahan hingga sekarang. Bahkan kondisi Beliau kian membaik kala saya sekeluarga berkunjung di momen Idul Fitri kemarin.
    Nenek dulunya adalah seorang ibu rumah tangga biasa yang mengasuh keempat putra-putrinya sambil berdagang serabutan. Mendiang Kakek adalah pegawai kecamatan kala itu. Nenek dikenal sebagai sosok yang cerewet.
    Di lain pihak, Ibu dari ibu saya, atau kerap dipanggil Emak, meninggal di usia 70-an tahun setelah menderita stroke berkepanjangan. Emak menjanda di usia muda dengan enam anak. Mbah Kakung—suami Emak—meninggal tiba-tiba ketika ibu saya masih kanak-kanak. Dengan kondisi ini, Emak tergolong wanita yang gigih sekaligus dikenal penyabar, baik kepada sanak saudara maupun tetangga.
    Ibu saya sendiri kini telah menginjak usia pensiun. Beliau mengabdikan diri sebagai pendidik di sekolah dasar negeri di era keemasan usianya. Ibu bisa dibilang sangat aktif, tak bisa berdiam diri barang sekejap pun. Ibu juga terkenal disiplin dan cukup keras pada anak-anaknya. 

    Menelusuri rekam jejak generasi di atas saya tersebut, seakan membentangkan layar tancap berisi film kehidupan yang seharusnya mampu saya ambil hikmahnya. Bagaimana mereka menjalani hidup? Apa yang sekiranya telah/akan mereka wariskan pada anak-cucu sepeninggal mereka? Bagaimana mereka memaknai kehidupan di usia senja? Di sini saya tak hendak berteori rumit. Saya sekadar mengaca dari hidup Nenek-Kakek dan Ibu yang sempat terekam di memori saya. 

    Menurut saya, menyiapkan kehidupan di usia jelang 60 atau lebih, dilakukan semenjak muda. Usia dua puluhan tahun atau tiga puluhan tahun, yang secara keilmuan dinilai sebagai fase kedewasaan merupakan masa ideal untuk memikirkan tentang masa depan/masa senja. Poin-poin yang patut dicek list antara lain:
•    Kemantapan agama. Seberapa tekun dan taat kita pada agama dan menunaikan ibadah. Seberapa dalam pengetahuan yang telah kita raup tentang perintah dan larangan Allah. Hal-hal tersebut akan memengaruhi kedekatan batin kita pada Sang Khaliq sehingga tidak mudah tertekan kala ujian hidup menyapa, termasuk kala masa pensiun dan masa lansia yang rentan akan perasaan ketidakberdayaan menerpa.
•    Berupaya menjadi sosok teladan bagi anak-cucu. Sebagai orangtua, anak-anak adalah aset. Usaha mendidik anak-anak, bahkan mungkin cucu, akan ditimba hasilnya hingga tutup usia. Bukankah keberhasilan mencetak anak shalih/shalihah akan mengantarkan pada surga dan doa anak shalih/shalihah adalah amal tak terputus?
•    Sedekah dan silaturrahim dikatakan mampu memanjangkan umur dan memudahkan terbukanya pintu-pintu rezeki sesuai sabda Nabiyullah Muhammad SAW dalam Al-Hadits. Larangan memutus tali persaudaraan, termasuk pertemanan atau persahabatan, memberikan beraneka hikmah. Bayangkan saja jika di usia 60 yang umumnya pekerjaan tetap kita di masa muda berhenti atau berkurang aktivitasnya dan kita terputus komunikasi dengan teman-teman baik, maka rasa sepi akan menghantui yang riskan akan menyeret seseorang pada depresi.
•    Menjaga kesehatan, baik dengan memerhatikan asupan makanan, gaya hidup, istirahat cukup, dan olahraga teratur. Bukan rahasia lagi bahwa usia 60 ke atas rentan dengan aneka penyakit serius semacam stroke, diabetes, serangan jantung, dan kawan-kawan. Saya sendiri menyaksikan betapa Nenek yang tak tampak pernah sakit serius, tiba-tiba ambruk dan meninggal karena stroke. Usut punya usut, Nenek memiliki pola makan yang kurang sehat. Maka dari itu, Ibu sekarang begitu ketat menjaga pola makan demi menghindari resiko serupa. Aktif berkegiatan ringan termasuk jalan kaki sehat pagi, sangat membantu menyokong stamina.
•    Menulis. Menulis adalah terapi jiwa, di mana kita bisa menuangkan segala pikiran negatif ke dalam bentuk tulisan yang kreatif dan inspiratif. Menulis yang diseriusi pun dapat mendulang prestasi, berapa pun usia kita. entah itu dalam bentuk buku terbit, blog, atau karya tulis yang dilombakan. Syukur-syukur jika buku terbit mampu digenggam. Bukankah kita akan bangga pada anak-cucu, bahkan mampu membacakan cerita dalam buku tersebut pada cucu-cucu kelak? Menulis pun melebarkan relasi, sehingga sekali lagi, dapat menyambung tali silaturahmi.Selain itu, seorang penulis senior pernah menyatakan bahwa menulis memberikan bonus awet muda, hehe...

Usia adalah rahasia Allah, termasuk dalam lingkup rezeki dan jodoh. Kita sebagai manusia hanya mampu berikhtiar untuk menyongsong fase yang telah digariskan, sebagai bagian dari sunnatullah. Bukankah semua makhluk akan mengalami masa bayi, balita, kanak-kanak, remaja, dewasa, lalu tua? Yang menentukan nilai diri manusia sebagai makhluk yang berakal adalah mampu berpikir mendalam dari mana kita berasal, untuk apa kita dilahirkan dan hidup di dunia, dan akan ke mana setelah masa kehidupan fana ini menemui titik akhir.
foto: islampos.com



*Artikel  ini diikutsertakan pada Giveaway Seminggu:  Road To 64

[cermin] Yu Timah

Posted by Menukil Aksara | 1:09:00 PM Categories:
    Mentari pukul sembilan pagi, merangkak naik hendak ke puncak keperkasaannya. Rumah gaduh oleh riuh rendah nyanyian rewel yang berselang-seling dengan ocehan dan tawa berderai. Dua bocah lelaki yang belum lagi menjejakkan kaki di bangku sekolah tengah asyik berkutat dengan dunia bermain penuh imaji.
    Terdengar bunyi gerendel pintu pagar bergeser. Seseorang berjalan masuk seraya meneriakkan sesuatu, “Belanja, Bu? Lontong, kelapa parut, ikan pe—pari?”
    Sontak si sulung yang memang biang heboh berseru histeris, “Ada Mbah Mah!”
    Adiknya menguntit dan turut berjingkrak seakan ada tamu penting mengucap salam.
    “Ini ada nasi dingin, Yu, tapi masih bisa dan enak dimakan. Sama sayur dan lauk juga. Ditaruh di kulkas jadi panaskan sendiri, ya, sebelum dimakan,” ujar seorang wanita paruh baya kepada Yu Timah, wanita penjual sayur yang nyaris tiap hari mampir menawarkan dagangan yang kerap sudah jauh dari lengkap itu.
    “Oh, iya, Bu. Saya ambil plastik dulu,” sahut Yu Timah lantas bergegas menuju sepeda ontanya yang diparkir di depan rumah tetangga.
    “Mbah, ini nasi buat Mbah Mah, ya? Buat dimakan?” tanya si sulung nyaring. Sudah menjadi kebiasaannya cerewet mempertanyakan segala hal dan ikut nimbrung dengan kesibukan yang tak selaiknya ia kerjakan.
    Maka ketika Yu Timah sibuk memindahkan nasi dan sayur dari piring dan panci ke dalam plastik, kedua bocah laki-laki itu turut riang memperhatikan bahkan jail memunguti remah-remah nasi. Sang nenek hanya mampu menggeleng-geleng kepala dan tersenyum.
    “Sudah, ya, Mbah Mah mau pulang. Makasih, ya, nasinya!” ucap Yu Timah pada dua kru cilik yang masih mengakrabinya.
    Yu Timah telah bertahun-tahun berjualan sayur-mayur keliling. Bermodalkan sepeda kayuh yang telah tua dan keranjang buatan dari kayu lapuk yang ditempelkan sekenanya di bagian belakang sepeda, ia mengais rezeki di tiap-tiap pagi. Kala anak-anak sekolah dan para pegawai negeri sipil bersiap berangkat ke sekolah dan kantor mereka, Yu Timah menggelar dagangan sederhananya di pelataran rumah seorang warga dekat sebuah sekolah negeri. Di sana dia akan mangkal cukup lama, hingga matahari mulai naik sepenggalan. Maka pada jam-jam itulah kemudian dia berkeliling menjajakan dagangan yang acapkali telah jauh berkurang. Dagangan yang bisa dipastikan kalah saing dengan dagangan Pak Eeng, seorang penjaul sayur keliling lain yang beroperasi menggunakan motor gedenya. Salah satu rumah yang disinggahi Yu Timah adalah rumah Bu Lastri, seorang pensiunan guru.
***
    Hari ini hari Ramadhan pertama. Aktivitas rutin di rumah Bu Lastri sedikit mengalami pergeseran. Anak perempuan yang tinggal serumah dengannya beserta suami dan kedua balitanya tengah menjalani masa liburan pergantian tahun ajaran baru sekaligus menyambut awal Ramadhan.
    “Nanti kalau ada Yu Timah berikan nasi ini sama lauk yang ada di piring!” pesan Bu Lastri pada anaknya.
    “Yu Timah itu masih punya anak kecil, Bu? Nasi dan lauk yang sering Ibu berikan, apakah dimakan anaknya?”
    “Iya, masih ada yang SD. Yang besar sih udah nikah, tapi kondisinya ya nggak jauh beda dengan ibunya. Kasihan lho... Yu Timah cerita kalau dia seringkali kepayahan sesampainya di rumah. Dengan pemberian lauk dari kita—meskipun itu sisa di mata kita—dia mengaku terbantu sekali sehingga tidak kepikiran lagi anaknya kelaparan sepulang sekolah.”
    “Lah suaminya bukannya kerja juga, Bu?”
    “Iya, jadi buruh tani. Kamu tahu sendiri lah buruh tani itu kerjanya nggak tentu dan diupahnya jelas nggak besar.”
    Anggota keluarga Bu Lastri memang tak ada yang memiliki perut berkapasitas jumbo. Mau sedikit atau banyak, lauk yang dimasak oleh Bu Lastri hampir selalu berpeluang bersisa. Itu pun jarang disajikan kembali keesokan harinya, karena tergantikan oleh hidangan menu baru. Teramat sayang jika makanan sisa kemarin yang sebenarnya masih layak konsumsi itu harus berakhir di tong sampah. Jadilah Bu Lastri berinisiatif mengahngatkannya atau menyimpannya di lemari pendingin untuk kemudian dihibahkan pada Yu Timah esoknya.
***
    Bu Lastri mendengus kesal pagi itu. Tampak olehnya sepiring nasi yang baru bersisa sebagian diletakkan begitu saja di atas meja makan.
    “Nit, ini nasi sisa nyuapi anak-anak? Sudah berapa kali Ibu bilang, kalau ngambilkan jangan kebanyakan! Senang sekali menyia-nyiakan nasi seperti ini. Siapa yang disuruh menghabiskan kalau sudah begini, kamu ‘kan juga puasa?!” omel Bu Lastri panjang.
    Anak perempuannya tak menyahut. Ia memang bertabiat buruk, bebal kalau dinasehati. Berkali-kali mengulang kesalahan yang sama.
    “Mbah, ada Mbah Mah!” seru si sulung riang.
    “Ini, berikan ke mbah Mah, kalau begitu,” jawab sang nenek sembari menyodorkan sepiring nasi yang disambut antusias sang cucu.
    “Bu, kalau ada jatah zakat fitrah nanti, jangan lupa sisihkan buat saya, ya,” pinta Yu Timah pada Bu Lastri beberapa menit kemudian.
    “Oh, iya. Nanti kupesankan sama Nita juga. Biasanya jatah dari murid-murid sekolahnya ‘kan banyak juga.”
    Permintaan Yu Timah tersebut bukan kali pertamanya terucap. Di tiap penghujung Ramadhan dia memang kerap meminta secara blakblakan pada keluarga bu Lastri. Bu Lastri tak merasa keberatan. Toh, dia justru lega mengetahui dengan pasti siapa yang mendapat zakat fitrah dari keluarganya ketimbang jika disalurkan lewat institusi.
***
    Di sebuah rumah mungil sangat sederhana yang masih berlantaikan tanah, Yu Timah tampak duduk berselonjor sepulangnya dari berjualan.
    “Mak, aku dapat jatah baju baru, nggak, lebaran ini?” tanya si bungsu sekonyong-konyong.
    “Lebaran nggak mesti berpakaian baru, Ti. Bajumu masih ada yang bagus ‘kan, yang diberi sama bu Haji waktu itu?” jawab Yu Timah enggan. Bu Haji yang ia maksud adalah seorang tetangga yang baru pulang selepas menunaikan ibadah haji.
    Yu Timah memang kerap dimintai bantuan kala ada tetangganya yang menggelar hajatan, entah pesta syukuran, tunangan, atau walimahan. Jika sudah begitu, biasanya Yu Timah akan meliburkan diri dari berjualan. Upah yang diberikan lumayan, sehingga bisa menyamai kerja kerasnya menjajakan sayur-mayur hingga nyaris tengah hari.
    “Yaah, Emak... “ sungut sang bungsu lalu berjalan gontai menjauh.
    “Jangankan baju baru, Nduk. Buat buka dan sahur saja emakmu ini harus memeras keringat di bawah sengatan matahari,” ucap Yu Timah membatin. Ia pun menghela napas.
***
    Tiga hari jelang hari raya, perumahan warga yang biasa menjadi target Yu Timah berjualan telah lengang ditinggalkan penghuninya mudik. Mayoritas penduduk memang pendatang dan tentu tak mengherankan jika momen Lebaran menjadi ajang silaturrahim keluarga besar.
    “Belanja, Bu?” Yu Timah berseru kepada seorang tuan rumah.
    “Libur, Yu. Tadi sudah belanja ke pasar. Oh ya, tunggu dulu!”
    Selang sepuluh menit kemudian, sang tuan rumah—Bu Nurul—kembali ke teras sambil membawa sekantong plastik besar pakaian layak pakai.
    “Ini, Yu. Baju-baju saya dan Indah—anaknya—yang sudah nggak dipakai atau kesempitan. Masih lumayan bagus, kok. Kalau Yu Timah mau, bawa pulang saja. Kalau nggak mau, ya saya nggak maksa.”
    Yu Timah menatap kantong plastik jumbo itu. Pupil matanya membesar dan tangannya menggapai kantong plastik untuk diperiksa.
    “Wah, masih bagus-bagus memang, Bu. Ada kerudung juga, pas buat saya. Saya ambil, ya!” seru Yu Timah senang. Mimik mukanya tampak tulus bersyukur menerima pemberian itu.
    “Dan ini, saya ada sedikit uang THR buat Yu Timah.”
    Yu Timah terhenyak. Ia sama sekali tak menduga mendapat THR dari seseorang yang bahkan bukan majikannya atau pernah mempekerjakannya belakangan ini. Seraya menghaturkan terima kasih berulang kali, Yu Timah menerima uluran amplop putih itu.

Rabu, 06 Agustus 2014

[resensi novel] Dari Gorontalo Hingga Depok Demi Menjadi Penulis

Posted by Menukil Aksara | 1:17:00 PM Categories:

Judul Novel      : Mengejar-ngejar Mimpi – Diary Kocak Pemuda Nekat
Penulis          : Dedi Padiku
Coach Editor     : Isa Alamsyah
Desain Sampul    : Tuarzuan AFC, Wasi Kendedes
Ilustrasi Isi    : Wasi Kendedes
Layout           : Isa Alamsyah
Penerbit         : AsmaNadia Publishing House, Mei 2014
Jumlah Halaman   : xii & 324 hlm.

Blurb
    Ini benar-benar diary kocak dari seorang pemuda nekat. Namanya Dedi Padiku. Bisa dibilang ini novel tetralogi 4 in 1. Novel kocak, yang dijamin bikin kamu ketawa. Juga novel romantis, yang membuat pembaca mabuk cinta.
    Nggak cuma itu, Mengejar-ngejar Mimpi memiliki banyak bagian haru, yang akan membuatmu ikut berurai air mata.
    Sebuah novel inspiratif yang menguatkan semangat ketika kamu merasa lemah mencapai cita-cita.
   
Sinopsis
    Dedi Padiku atau Mohamad Febri Padiku, seorang pemuda kelahiran Bonebolango, Gorontalo, telah ditinggalkan oleh kedua orangtuanya semenjak kecil. Dedi kemudian hidup bersama pamannya dan telah menafkahi diri sendiri dengan menjadi sopir angkot sejak belia. Di masa sekolah menengah kejuruan, Dedi bertemu dengan cinta pertamanya, yang sayangnya harus kandas karena kemiskinannya sekaligus tekadnya untuk mengejar impiannya ke kota rantau. Berawal dari keinginan menjadi seorang tenaga kerja Indonesia di luar negeri, Dedi menjejakkan kaki ke tanah Palu untuk mengikuti tes seleksi terakhir penerimaan calon TKI ke Jepang. Sayang, dia gagal meloloskan diri dari tes tinggi badan, yang ironisnya hanya kurang 2 cm, dan terpaksa mengubur cita-citanya bekerja di negeri sakura. Karena malu atas kegagalannya, Dedi bersikeras bertahan di Palu dan bekerja sebagai kuli bangunan yang kemudian berganti menjadi sopir pribadi seorang anggota dewan. Petualangan Dedi berlanjut ke Manado, di mana lagi-lagi pekerjaan kasar harus digelutinya demi menyambung hidup. Di Manado pulalah Dedi mencicipi pahitnya diburu dan nyaris dibunuh para preman bersama Suwanda, sahabat yang menyusulnya ke Manado.
    Nasib lebih baik dia alami ketika menetap di Makasar bersama kalangan mahasiswa. Di Makasar juga impiannya menjadi seorang penulis kian terlecut. Maka demi mendekatkan langkah kakinya pada impian besar, Dedi memutuskan hijrah ke Jakarta, menampik pekerjaan yang mulai menjanjikan di Makasar. Perjalanannya di ibukota pun tak lantas mulus. Sempat tak memiliki tempat tinggal dan berteduh di pelataran Monas, Dedi pun sulit mendapatkan pekerjaan yang layak. Pernah dihardik seorang wanita saat wawancara kerja, ditawari menjadi seorang gigolo, diculik dan nyaris dijadikan kaki tangan “teroris”, hingga kembali menjadi kuli bangunan. Keberuntungan mulai menghinggapinya ketika dapat berjumpa beberapa penulis senior semacam Zara Zettira, Gola Gong, Habiburrahman El Shirazy, dan Raditya Dika secara tak sengaja. Perjumpaan ini membakar semangatnya untuk mulai menulis kisah hidupnya, bahkan mencetak dan membagi-bagikannya gratis, yang sayangnya tak berbuah manis.
Ketika Dedi tiba di suatu masa jenuh, nyaris putus asa karena impian menjadi penulis terasa terlampau sulit diraih, dia teringat pada sosok Asma Nadia. Pertemuan dengan Asma Nadia membukakan jalannya menuju impian.

Novel yang Sarat Inspirasi

    Endorsement dari Asma Nadia dan dari sang suami yang sekaligus seorang coach editor ternama, Isa Alamsyah, memang betul-betul menggambarkan kedalaman isi dari novel gado-gado ini. Mengapa saya sebut gado-gado? Karena isinya yang riuh oleh aneka genre; ada komedi romantis, drama, laga, petualangan, sampai genre inspiratif penuh motivasi. Dan semua itu tak dibuat-buat, lahir begitu saja dari petualangan sang tokoh utama novel mengejar-ngejar impiannya.
    Banyak kutipan adegan maupun pernyataan dalam novel yang ingin saya garis bawahi karena berkesan, antara lain:
•    Adegan di mana Dedi bernyali menantang guru sekaligus ketua jurusan di sekolahnya untuk menjawab pertanyaan yang diberikan setelah Dedi absen dari sekolah berminggu-minggu. Ini menggambarkan kecerdasan Dedi. (halaman 85-92)
•    Dedi yang suka memanfaatkan waktu luang sebaik mungkin di sela bekerja untuk membaca buku di toko-toko buku dan belajar internet. (halaman 149-155)
•    “Ketahuilah, sahabatku. Tak selamanya kuliah menjadi kunci kesuksesan. Kuliah hanyalah proses belajar, dan belajar itu tidak harus di universitas. Kau bisa gunakan berbagai media untuk belajar... “ Pernyataan Budi, kawan mahasiswa Dedi di Makasar. (halaman 177)
•     “Ini Jakarta, Mas. Tidak ada yang gratis!” Sungguh keras kehidupan Jakarta. Benar kata orang, ibukota lebih kejam dari ibu tiri. Aku punya lima ibu tiri, ayahku menikah, menikah, dan menikah lagi. Kenyataannya mereka sangat baik padaku... (halaman 236)
•    “Hidup penuh misteri. Seperti potongan-potongan puzzle, berserakan di muka bumi menunggu untuk ditemukan. Begitu banyak keping puzzle yang sudah dilalui. Ada haru, malu, sedih, tawa, dan di antaranya hampir merenggut nyawaku dalam upaya pencarian potongan puzzle itu. Tapi yang terpenting dari semua puzzle itu adalah gambar seperti apa yang akan kita dapatkan ketika selesai disusun.” (halaman 251)

Keunggulan dan Kelemahan Novel

    Membaca novel yang dibagi menjadi dua buku ini mampu menyuntikkan semangat pada diri pembaca untuk gigih dalam merealisasikan mimpi. Novel ini juga penuh kalimat motivasi inspiratif yang alami, terluncur dari kerasnya tempaan hidup, bukan semata kalimat manis dari bibir seorang motivator handal. Membacanya juga dijamin membuat Anda tersenyum, tertawa lebar, atau bahkan terpingkal-pingkal (tergantung selera humor Anda). Kita juga akan dibuat tercengang dengan sisipan fakta-fakta tentang kehidupan anggota dewan di daerah dan dugemnya kuli bangunan di ibukota.
    Layout novel ini apik, diselingi ilustrasi adegan yang menarik di beberapa halaman yang menambah nilai. Diksinya mungkin tak secanggih dan sepuitis novel setipe Tetralogi Laskar Pelangi–Andrea Hirata, namun justru sesuai dengan karakter Dedi yang naif, katrok, dan kocak tapi sebenarnya tak berniat melucu. Terdapat typo di sana-sini, namun memang jarang sekali novel yang luput dari celah kesalahan semacam ini.
    Kekuatan cerita dan pesan yang ingin diangkat novel ini sangat patut diacungi jempol dan saya pribadi merekomendasikan novel ini untuk pembaca yang haus akan kisah inspiratif yang murni, sederhana gaya pengisahannya, sekaligus menggugah dan menghanyutkan. Bintang 4,5/5 saya berikan untuk novel ciamik ini.





Senin, 28 Juli 2014

[resensi novel] Kisah Cinta Sejati Dua Negeri

Posted by Menukil Aksara | 9:44:00 PM Categories:

Judul Buku   : Assalamu’alaikum Beijing – Pergi Cinta Mendekat Cinta
Penulis           : Asma Nadia
Penyunting Ahli   : dr. Lukman
Penyelaras Aksara : Fakhri Fauzi
Penata Aksara     : Nurul M. Janna
Perancang Sampul  : Tuarzuan AFC
Penerbit          : AsmaNadia Publishing House, April 2014

Blurb
    Ajarkan aku mantra pemikat cinta Ahei dan Ashima, maka akan kutaklukkan penghalang segala rupa agar sampai cintaku padanya.
    Dewa dan Ra adalah busur dan anak panah. Keduanya memiliki bidikan yang sama, sebuah titik bernama cinta. Namun, arah angin mengubah Dewa. Sebagai busur, dia memilih sasarannya sendiri dan membiarkan anak panah melesat tanpa daya.
    Sebagai laki-laki pengagum mitologi, Zhongwen ibarat kesatria tanpa kuda. Sikapnya santun dan perangainya gagah, tapi langkahnya tak tentu arah. Dia berburu sampai negeri jauh untuk mencari Tuhan sekaligus menemukan Asma, anak panah yang sanggup meruntuhkan tembok besar yang membentengi hatinya.
    Dan di manakah Ra ketika dalam kegamangan Asma menelusuri Tembok China, menjejakkan kaki di pemakaman prajurit terakota dan menjelajah dunia dongeng si cantik Ashima dari Yunnan?
    Dua nama, satu cinta. Bersama, mereka mencoba menaklukkan takdir yang datang menyapa.

Sinopsis
    Ra atau Asma memilih melanjutkan hidup setelah pengkhianatan sang kekasih—Dewa—yang berakibat dibatalkannya pernikahan mereka. Asma yang kemudian mendapat tugas liputan ke negeri tirai bambu berkenalan dengan pemuda bernama Zhongwen di bus yang ditumpanginya. Perkenalan singkat mereka membekaskan kesan tersendiri pada Zhongwen. Sesudah pencarian acaknya, Zhongwen berkesempatan bertemu kembali dengan Asma—yang ia panggil Ashima—di sebuah masjid tua di Xuanwu Distrik. Pertemuan kedua yang berlangsung lebih lama dari pertemuan pertama ini memperbincangkan banyak hal, termasuk kelanjutan kisah legenda cinta Ashima dan Ahei dan sekilas tentang agama. Pertemanan yang terjalin, tak terputus hingga Asma kembali ke Indonesia. Di lain pihak, Dewa yang terpaksa menikahi Anita—gadis yang menjebaknya dalam perzinaan—tak setitik pun menjumpa bahagia. Dewa bertekad kembali pada Ra (Asma) begitu ia menceraikan Anita pasca melahirkan. Tanpa diketahui Zhongwen dan Dewa, Asma tengah berjuang melawan maut akibat sindrom APS yang diidapnya. Hingga suatu hari, Zhongwen yang telah menjadi mualaf dan Dewa yang telah meninggalkan Anita datang bersamaan ke hadapan Asma. Di tengah kegamangannya akan cinta sejati dan perlombaannya dengan maut, akankah Asma memilih salah satu dari dua lelaki tampan itu? Berhasilkah Asma melawan penyakitnya? Novel religi yang manis sekaligus sarat hikmah ini akan menuntaskan kisahnya.

Kutipan-kutipan Inspiratif dalam Novel
    Novel religi setebal 342 halaman yang ditulis oleh Asma Nadia ini tak diragukan lagi keromantisan sekaligus kedalaman makna yang tersirat di dalamnya. Novel yang mengambil setting Indonesia dan China ini mengajak pembacanya larut dalam kisah dramatis tiga tokoh utamanya sekaligus berpetualang sejenak ke negeri asing dengan jejak peradaban Islam yang cukup kental. Penokohan yang pas, alur yang apik dan mengundang rasa penasaran semenjak lembar pertama, serta kutipan-kutipan sarat hikmah dan pelajaran sejarah peradaban Islam di China ini akan sangat menarik untuk dibaca. Berbagai persoalan kehidupan dirangkul di dalamnya, hubungan antar lawan jenis, hubungan anak dengan orangtua, keislaman, dan sejarah.
    Di sini saya akan menandai beberapa kutipan favorit dan saya anggap penting:
•    Untuk sampai ke The Great Wall—atau yang juga biasa disebut Long City—di China, para pelancong bisa memilih memulai dari bagian tembok yang mana. Umumnya Mutiayu atau Badaling menjadi pilihan karena lebih mudah, anak-anak tangga lebih teratur, dan perjalanan yang lebih singkat. (hal. 28)
•    Xi’an yang terletak di provinsi Shaanxi merupakan salah satu kota yang memiliki perkampungan Muslim cukup besar yang dikenal dengan nama Hui Min Jie. Dalam sejarah, suku Hui merupakan perpaduan dan keturunan suku Han dengan bangsa Persia dan Arab, sejak masa Dinasti Tang. (hal. 41)
•    Masjid Raya Xi’an merupakan masjid tertua dan terbesar di China dan menjadi jejak sejarah aktivitas dakwah para pedagang Arab dan Persia yang berlayar melalui jalur sutra dan kemudian menetap di beberapa kota seperti Ghuangzhou, Quanzhou, Hangzhou, Yangzhou, dan Chang’an atau Xi’an. (hal. 41)
•    Ada dua jenis APS atau Antiphospolipid Syndrome. APS primer artinya sindrom akan selamanya berada dalam tubuh. Tidak dapat diobati, hanya bisa dicegah agar darah tidak menyumbat bagian tubuh lain. APS sekunder akan hilang jika penderita rutin meminum obat. (hal. 163)
•    Rasa sakit akan menguatkan seseorang menapaki hidup. Penderitaan akan menumbuhkan kebijaksanaan. Kesengsaraan yang melewati batas akan melahirkan kekuatan yang tak terduga. (hal. 77)
•    Orang-orang yang sudah membuang kepercayaan yang kamu berikan, apalagi memberi akibat yang fatal, berarti telah keluar dari lingkaran hidupmu. You’ve done with him or her. (hal. 134)
•    Islam sangat rasional. Kenapa perempuan dalam Islam setelah bercerai, baru boleh dinikahi setelah tiga bulan? Karena selama itu masih ada jejak laki-laki dalam diri perempuan dan baru bisa hilang setelah tiga bulan. Dunia pengetahuan menemukan itu sekarang, sementara Islam sudah sejak dulu mengatakannya. (hal. 151)
•    Kita tak bisa menghindari takdir yang Allah berikan, tetapi bisa memilih cara bagaimana menghadapinya. (hal. 242)
•    Rasa sakit tidak berkurang ketika kita mengeluh, malah semakin menjadi rasanya. Jangan dilawan, belajar menikmati. Ada keindahan tersendiri ketika kita bisa melakukan itu. (hal. 242)
Selain kutipan-kutipan di atas, di tiap permulaan bab baru juga disajikan kutipan-kutipan puitis yang menggelitik rasa ingin tahu kita akan isi dari bab itu sekaligus kelanjutan kisah tokoh-tokohnya.
•    Harta dan kebangsawanan, tak membuat laki-laki menjadi pangeran. Cinta sejati seorang putri-lah yang mengubahnya.
•    Nafsu yang purba menyeretku ke lubang tanpa jiwa.
•    Sejarah tak mencatat para pecundang bahkan, walaupun bumi melahirkannya.
•    Api yang menari di matamu menguapkan rindu hingga pucuk keheningan.
•    Sekumpulan angin yang berbisik di antara kepak sepasang merpati juga nyanyian mistis tetes hujan saat pertunangan bunga dan kupu-kupu. Jika pernah kau mendengarnya, maka begitulah aku padamu.

Keunggulan Novel
    Novel berdesain sampul gambar tembok besar China dan didominasi warna merah menyala ini punya layout yang rapi. Sempurna dari sisi ejaan dan pemilihan font, serta proporsional dalam diksi yang digunakan. Novel ini menganut selera sastra modern yang tak terlampau mendayu-dayu gaya bahasanya. Kesederhanaan ini mendukung pesan isi novel yang lebih ingin ditonjolkan. Kisah ketabahan sosok Asma dalam melawan penyakitnya terinspirasi dari kisah nyata penulis, Asma Nadia, sehingga terasa begitu nyata dan menyentuh. Anda dijamin akan menitikkan air mata ketika menyusuri baris demi baris kalimat dalam kisah mengharukan Asma. Novel ini direkomendasikan untuk kalangan remaja dan dewasa muda yang mengandrungi novel-novel romantis namun tetap tak lepas dari identitas keislamannya. Setting luar negeri dan riset yang mendalam turut memberikan nilai plus.





Selasa, 22 Juli 2014

[review buku] Para Wanita Inspiratif Itu Dekat Dengan Kita

Posted by Menukil Aksara | 8:27:00 PM Categories:

Judul Buku             : 42 Kisah Wanita Inspiratif Indonesia
Penulis                : Risty Arvel, Ocha Thalib, Nenny Makmun, dkk

Pemerhati Aksara       :  Risty Arvel
Pewajah Sampul         : de A Media Kreatif
Penata Letak Isi       : de A Media Kreatif
Penerbit               : Meta Kata, Juni 2014

Blurb
    Tak perlu terlalu cemerlang, karena kau telah menjadi cahaya dalam hidupku. Tak harus seindah permata, jiwamu lebih bersinar dari perhiasan mana pun. Dan walau tak terlihat hebat, bagiku kau telah mampu menginspirasiku untuk berbuat lebih baik. Duhai, wanita inspirasiku...

Sinopsis
    Berpijak dari inspirasi sosok Kartini, tim penulis buku ini hendak mengangkat kisah-kisah inspiratif dari sosok-sosok yang berada di sekitar kehidupan wanita Indonesia. Mereka disebut sebagai sosok-sosok Kartini Baru yang menghasilkan mahakarya abadi, yang mampu menginspirasi wanita lainnya untuk menjadi lebih berdaya. Buku ini merupakan kumpulan kisah-kisah nyata yang dituturkan para penulisnya sekaligus hasil sebuah event menulis antologi bersama yang diadakan oleh penerbit.

Kisah-Kisah Inspiratif Dalam Buku
    Dari 42 kisah perempuan inspiratif Indonesia yang dituturkan dalam buku ini, sebagian besarnya mengangkat sosok ibu dan istri yang dekat dengan kehidupan penulis. Sebagai contoh, kisah yang dituturkan oleh Lenni Ika Wahyudiasti di halaman 40-43 berjudul ‘Mbak Yah Mencari Syorga’ mengangkat pengabdian seorang istri yang menjadi tulang punggung keluarga semenjak di-PHK-kannya sang suami. Di tengah kerasnya membanting tulang untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah dengan berjualan, perempuan bernama Mbak Yah ini pun masih mengingat tugasnya sebagai seorang menantu yang berbakti dan merawat mertuanya tatkala sakit dengan ikhlas.
    ‘Dia Pengganti Ibu’ mengisahkan keteguhan dan kebesaran hati seorang remaja perempuan yang mengambil alih tanggung jawab ibunya yang telah tiada. Dia mengurus segala keperluan sehari-hari adik-adiknya, mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga, di saat dia sendiri disibukkan oleh tugas sekolah (hal. 29-32).
Kisah mengharukan lainnya berasal dari seorang penulis bernama Miss Qwerty. Mengambil judul ‘Nasi Basi’, penulis menceritakan ketulusan dan pengorbanan seorang wanita paruh baya yang mengasuh cucu-cucunya kala ibu mereka terpaksa mengais rezeki di negeri orang sebagai buruh migran. Sang perempuan tua ini bahkan rela mengumpulkan nasi basi dari tetangga kanan-kiri untuk dikeringkan lantas dijual demi membantu pembiayaan sekolah cucu-cucunya dan menyisihkan sebagian uangnya yang tak seberapa sebagai tabungan sekolah (hal. 93-96).
    Meski kisah-kisah di dalam buku ini didominasi oleh kisah-kisah dari para wanita sederhana nan luar biasa yang dekat dengan kehidupan para penulisnya, ada juga penulis yang mengangkat kisah-kisah dari wanita panutannya yang nama mereka telah dikenal luas oleh masyarakat. Kedua kisah tersebut berjudul ‘Uncommon Women’ di halaman 47-49, menuturkan sekilas perjalanan hidup seorang penulis wanita Indonesia, Asma Nadia. Kisah Ibu Ratna Megawangi, seorang aktivis perempuan Indonesia, direkam dalam kisah berjudul ‘Ratna Megawangi, Namanya Harum Mewangi ke Pelosok Negeri’ (hal. 147-150).

 
Kelebihan dan Kekurangan Buku
    Buku yang ditulis oleh penulis-penulis wanita ini menyentuh hati pembaca sekaligus ringan dibaca. Bahasanya yang naratif dan jumlah halaman tiap kisahnya yang tak terlampau panjang membuat pembaca tidak terlalu bosan menelusuri tiap lembarnya. Jenis huruf dan ukuran yang digunakan pun cukup besar dan jelas sehingga tidak menyakiti mata yang membaca. Layout dan desain sampulnya cerah, feminim dengan hiasan bunga-bunga warna-warni menegaskan sisi feminim dari penulis maupun wanita-wanita yang dikisahkan. Kehadiran pelengkap berupa pembatas buku turut mempermanis.
    Laiknya buku-buku lain sebagai karya manusia yang selalu ada celah cela, buku ini pun menyelipkan kesalahan ketik, ejaan dan pemakaian kalimat efektif di beberapa bagiannya. Sebagai asupan gizi bagi hati, buku ini layak direkomendasikan bagi para wanita Indonesia yang haus akan keteladanan yang dapat dengan mudah dijumpai di sekitar mereka. Saya memberikan 3,5/5 bintang bagi buku ini.


[review buku] Stupid Love Stories – Agar Tak Dibodohi Oleh Cinta

Posted by Menukil Aksara | 8:18:00 PM Categories:

Judul Buku                : My Stupid Love – Agar Cinta Tak Bikin Kau Gila
Penulis                      : Afifah Afra, Riawani Elyta, Linda Satibi, dkk
Penyunting Bahasa     : Aisyah Biru
Penata Letak             : Mas Liek
Desain Sampul          : Andhi Rasydan
Penerbit                    : Indiva, Januari 2014

Blurb
    Pasti lagi ada gempa bumi di hatimu.
    Lho, kok tahu sih?
    Iya, soalnya getarnya terasa hingga hatikyuh

    Beuhh... ngomongin soal cinta memang tak ada habis-habisnya. Ada yang langsung panas dingin, ada yang mendadak kesetrum, ada yang tiba-tiba melayang ke udara, lalu tersangkut di bulan dan nggak bisa kembali ke bumi. Cinta, konon memiliki energi luar biasa. Saking luar biasanya, sampai rambut yang awalnya lurus, akan jadi keriting saat dialiri cinta.

Sinopsis

    Cinta selalu bisa bikin gila. Juga bikin oon, alias menggerus separuh kecerdasan. Bagaimana bisa? Menurut para ahli, kalau sedang dibanjiri emosi, otak kita memang lebih mirip otak reptil ketimbang otak manusia. Ada sebuah peristiwa di otak yang disebut ‘Pembajakan Emosi’, yakni tindakan spontan tanpa mempertimbangkan logika—terhadap sebuah respon yang bersifat emosional. Inilah yang menyebabkan orang-orang yang sedang jatuh cinta seperti kehilangan kendali, bahkan cenderung menjadi stupid.  Meski demikian, cinta sesungguhnya bisa dikelola agar tidak membabi-buta. Cinta yang benar adalah cinta yang menghidupkan, menginspirasi, dan mendorong ke arah kebaikan. Tujuh penulis yang memiliki kepedulian terhadap remaja yang menuturkan kisah-kisah cinta stupid di dalam buku ini berharap pembaca bisa mengambil hikmah sehingga tidak salah langkah mengelola cinta.

Kisah-Kisah Ajaib dalam Buku

    Buku setebal 232 halaman ini memuat 12 kisah cinta menggelikan namun menginspirasi. Bahasa yang digunakan pun bahasa gaul ala remaja masa kini dengan celupan humor di sana-sini. Halaman pertama mengawal kisah lewat interogasi penuh motif oleh penulis Afifah Afra. Yang menjadi target tanya-jawab cinta kali ini adalah seorang laki-laki—sebut saja namanya Ferry—yang ‘ditodong’ untuk buka-bukaan terkait pengalaman ajaibnya menjadi seorang player. Sang mantan Don Juan ini sudah menikah dan benar-benar telah tobat. Dia mengisahkan awal mula petualangan cintanya di masa remaja lengkap dengan lika-liku pendekatan, penembakan, penolakan, hingga perselingkuhan. Menurut pengakuannya, perempuan-perempuan muda yang pernah dekat dengannya berbilang lebih dari sepuluh orang. Bermula dari dendamnya setelah ditolak oleh seorang gadis yang ditaksirnya, Ferry lantas ketagihan bergonta-ganti pacar dan teman dekat tanpa status jelas. Dan dari penuturannya pula terkuak bahwa salah satu penyebab utama petualangan cintanya adalah kekurangdekatannya dengan keluarga. Kehadiran seorang pacar dirasa bisa mengisi kekosongan akan kebutuhan seorang teman. Ironisnya, meski mantan playboy, Ferry mengaku tetap mendambakan seorang perempuan baik dan shalihah sebagai istri dan ini pun benar-benar terjadi, di mana istrinya sekarang adalah sosok jilbaber yang taat beribadah. Bila mendengar kisah ini tentulah kita akan eneg banget, padahal tak dipungkiri masih banyak playboy yang lebih sadis lagi perlakuannya pada perempuan di luar sana. Wawancara eksklusif di atas kemudian dijabarkan lebih lanjut oleh Afifah Afra dalam poin-poin penting yang melatarbelakangi lahirnya para playboy ini beserta karakter-karakter yang biasanya melekat pada diri mereka (hal. 7-44).
    Kisah-kisah selanjutnya mengupas habis fakta-fakta menyentil tentang cinta monyet, cinta yang menipu dan menjerumuskan. Misalnya kisah yang dituturkan oleh Riawani Elyta tentang seorang anak gadis yang salah mengartikan pengawasan ketat ayahnya sebagai pengekangan. Ia baru benar-benar tersadar kala seorang remaja lelaki yang sempat ia puja-puja menorehkan trauma dengan kebejatan yang nyaris merenggut kehormatannya (hal. 45-67).
    Kisah menarik lain dibingkai apik dengan humor menggelitik ditulis oleh Pipi Kaira. Kisah berjudul unik—‘Pacar Siri’—ini menyindir fenomena pergaulan yang salah di kalangan remaja masa kini. Pacaran menjadi bukti eksistensi diri dan sebuah hubungan saling menguntungkan sesaat belaka. Mempunyai lebih dari satu pacar seakan menjadi tren. Padahal satu pacar saja sudah mengantarkan pada dosa mendekati zina, apalagi lebih dan itu hanya untuk ajang bersenang-senang (hal. 149-154).
    Kisah-kisah berikutnya mengulik aneka fenomena masih terkait cinta yang membodohkan. Sebut saja kisah cinta pertama masa sekolah ‘Behelku Sayang Behelku Malang’ yang menyindir makna cinta yang begitu dangkalnya sebatas penampilan dan selera (hal.107-121). Juga kisah ‘My Stupid First Love’ seorang jilbaber aktivis dakwah yang terjerumus dalam pacaran terselubung dengan rekan satu organisasi (hal. 69-93).
    Di dalam buku ini para pembaca dari kalangan remaja akan cukup dimanjakan dengan istilah-istilah semacam woles, keles, cupu, move on, PHP, TTM, yang lekat dengan perbendaharaan bahasa anak muda. Diksi yang dipakai nyaris di semua kisah pun jauh dari kesan formal sesuai EYD laiknya buku-buku bacaan pada umumnya. Guyonan segar sekaligus menohok pun dapat ditemui, terutama di kisah ‘Pacar Siri’ dan ‘My Stupid First Love’. Beberapa penulisnya yang memang masih muda turut mendukung gaya penceritaan.

Keunggulan dan Kelemahan Buku
    Buku ini ringan, segar, sekaligus memberi pencerahan bagi pembacanya. Terdapat beberapa diksi unik yang dipergunakan, semisal klepas-klepus, petantang-petenteng, menekuklututkan, kluwuk, seneb, kolah, slulup, ngelangut, nyusruk, mobil damkar yang membuat kita mengernyit dan tertarik untuk menelisik maknanya. Pengajaran yang disodorkan oleh kisah-kisah dalam buku ini pun sangat dekat dengan dunia remaja yang nyata dibarengi pesan teguran tanpa suguhan yang njlimet dan membuat enggan untuk membaca. Desain sampulnya yang lucu, imut, didominasi warna kuning bersemu oranye menambah daya tarik pertama buku ini.
    Terkait kurang sempurnanya ejaan, salah pengetikan, dan kalimat yang kurang efektif, memang masih dijumpai di beberapa bagian buku. Hal ini barangkali bisa diperbaiki seandainya buku ini dicetak ulang.
    Bagaimanapun, buku ini patut mendapat apresiasi yang bagus sebagai bacaan mendidik untuk remaja Islam. Kalangan muda yang acapkali menjadi korban salah pergaulan dan kebebasan yang kebablasan patut memperhitungkan buku semacam ini sebagai bacaan mereka. Saya memberikan 3,5/5 bintang untuk kehadiran buku motiva remaja ini.
   


  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube