Minggu, 16 Juli 2017


REVIEW:
   
“Bahkan hingga hari ini, di masa modern, kita masih tidak peduli dengan kekerasan yang dialami anak-anak di rumah. Menganggap itu urusan keluarga masing-masing, hal yang lumrah... Kekerasan yang mereka peroleh justru dari orang yang seharusnya menyayangi dan melindungi.” (hal. 110)

“Ada banyak hal-hal hebat yang tampil sederhana. Bahkan sejatinya, banyak momen berharga dalam hidup datang dari hal-hal kecil yang luput kita perhatikan, karena kita terlalu sibuk mengurus sebaliknya.” (hal. 257)

“Dulu, penyebab terbesar menumpuknya harta warisan tanpa pewaris adalah perang dunia. Hari ini, bukan lagi... Apa yang sebenarnya terjadi? Kehidupan modern, itulah penyebabnya.” (hal. 440)
“Kehidupan modern yang individualis membawa aspek negatif dalam hubungan keluarga. Menghancurkan ikatan keluarga lebih masif dibanding peperangan.”
(hal. 441)

sumber: kotaku.pu.go.id

    Ide tentang firma hukum dengan jajaran pengacara yang berkarakter ibarat ksatria, menjunjung tinggi keadilan dan kebenaran digabungkan dengan masalah hak waris, sangat menarik di sini. Tak hanya itu, agar jauh lebih menarik dan membuat pembaca betah mengikuti kisah, Tere Liye memasukkan unsur petualangan lewat penelusuran jejak kehidupan sang tokoh utama—yang uniknya lagi sudah meninggal sejak awal cerita. Maka, di novel ini saya diajak berpindah-pindah setting, dari pelosok Indonesia hingga daratan Eropa. Dan walaupun ketebalan novel ini bisa membuat pembaca khawatir dihinggapi kebosanan, saya bisa menjamin itu tidak terjadi. Selain kota London dan Paris yang indah, Pulau Bungin adalah salah satu lokasi dalam novel yang menarik perhatian saya. Tak hanya letaknya yang cukup terpencil, pemukiman nelayan yang padat dengan rumah-rumah panggung yang rapat, penduduk yang ramah, dan kambing-kambing yang makan kertas turut mengundang rasa ingin tahu. Pemilihan Pulau Bungin sebagai tanah kelahiran Sri Ningsih juga sangat tepat, logis dengan jalinan cerita.


letak pulau Bungin-sumber: Baranews,co

 

pulau Bungin-sumber: hipwee.com
Isu-isu sosial antara lain kekerasan domestik, perebutan harta gono-gini, tingkat perceraian yang makin tinggi, pendidikan anak kurang mampu, terasingnya para lansia dari sanak keluarga, sulitnya kesempatan mendapatkan suntikan dana bagi pengusaha kecil, hingga gelombang pengungsi di seluruh dunia disinggung di sini. Tere Liye juga menyisipkan di sana-sini rentetan peristiwa bersejarah yang terjadi dari kisaran tahun 1940-an hingga 2000-an. Sangat menarik untuk dicermati, tanpa sadar sembari saya asyik mengikuti petualangan Zaman Zulkarnaen. Riset yang matang, alur runut, dan plot yang logis jelas mendukung kesuksesan ini. Pun keberadaan tokoh-tokoh pendukung seperti La Golo si  guide, Pak Tua, Nur’aini, Sueb si pengemudi ojek daring, Rajendra Khan dan keluarganya, dan Aimee sangat menyokong penyajian berbagai topik di atas. Tak luput juga disajikan kisah cinta nan romantis namun bersahaja dari pasangan Sri Ningsih dan Hakan Karim. Pesan tentang ketulusan dan kesungguhan dalam mencintai, kekuatan dalam menghadapi ujian bersama, serta penerimaan akan takdir. Ah, sungguh indah dan menyentuh. Berbeda dengan kisah-kisah cinta novel romance pada umumnya yang mengandalkan adegan-adegan ala film romantis yang bisa jadi jauh dari kenyataan sehari-hari.

    Mengenai karakter, ada banyak karakter tokoh yang mampu mengaduk-aduk emosi saya. Dari yang naif sekaligus lucu, seperti La Golo dan Sueb. Juga Rajendra Khan yang khas dengan guyonannya yang tak kenal waktu, tempat, dan obyek. Ada sosok tetangga yang perhatian seperti keluarga kepala kampung di Pulau Bungin dan keluarga Rajendra Khan dengan adat India mereka yang selalu ‘heboh’. Ada sosok sahabat yang tulus dan dapat dipercaya diwakilkan oleh Nur’aini, Lucy, Franciszek, Chaterine, dan Aimee. Juga guru yang menanamkan kecintaan ilmu dari sosok Tuan Guru Bajang dan Kiai-Nyai Ma’shum. Sosok Eric dan Sir Thompson yang menggambarkan pengacara jujur (yang jelas telah langka di zaman modern ini).

    Dan tentu saja, keempat tokoh protagonis dan antagonis utamanya. Sosok Sulastri, bersama Musoh yang mengalami ‘perkembangan’ karakter—yang sayangnya—ke arah keburukan. Sulastri menjadi penggambaran sempurna sosok wanita yang kodratnya lemah, namun bisa menjadi bengis sebab memendam kebencian seumur hidupnya akibat termakan sebuah kebohongan. Sosok Hakan Karim—yang meskipun tak menjadi sorotan utama—jelas memiliki peran krusial dalam kehidupan Sri Ningsih. Sosok pria sederhana yang berhati besar, yang dalam kamus cintanya hanya ada memberi, memberi, dan memberi. Juga sang ‘ksatria’ kita, Zaman Zulkarnen, mewakili pemuda anak bangsa yang sukses di negeri orang lewat prestasi akademis dan prinsip kejujuran yang tak luput dari bekal pengasuhan yang baik dari sang ibu. Zaman ini sedikit mengingatkan saya akan tokoh Bujang dalam novel Tere Liye sebelumnya, “Pulang”. Tak hanya cerdas, loyal, juga jago beladiri. Terakhir, tentu saja sang tokoh utama kita, Sri Ningsih. Dia tak pernah percaya diri jika terkait penampilan fisik, karena merasa kulitnya gelap, posturnya pendek gempal, dan wajahnya tidak cantik. Namun, dia selalu percaya diri jika menyangkut meraih impian, mempelajari hal-hal baru, merumuskan visi misi bisnis, dan memulai sebuah usaha. Sri Ningsih juga mewakili sosok wanita kuat, tegar menghadapi ujian hidup yang sekaligus menggemblengnya menjadi sosok yang matang dalam kehidupan. Dia cerdas, tulus, tak suka menyimpan dendam. Sungguh sosok wanita idaman berhati emas. “Tentang Kamu” cocok dibaca pria-wanita dan sarat akan nilai moral kehidupan.
   
   






Judul        : Tentang Kamu
Penulis    : Tere Liye
Editor      : Triana Rahmawati
Penerbit : Republika Penerbit
Cetakan : keenam, Januari 2017
Tebal     : vi + 524 hal.; 13.5 x 20.5 cm

BLURB:
  
 Terima kasih untuk kesempatan mengenalmu, itu adalah salah satu anugerah terbesar hidupku. Cinta memang tidak perlu ditemukan, cintalah yang akan menemukan kita.
    Terima kasih. Nasihat lama itu benar sekali, aku tidak akan menangis karena sesuatu telah berakhir, tapi aku akan tersenyum karena sesuatu itu pernah terjadi.
    Masa lalu. Rasa sakit. Masa depan. Mimpi-mimpi. Semua akan berlalu, seperti air sungai yang mengalir. Maka biarlah hidupku mengalir seperti sungai kehidupan.

SINOPSIS:
 
  “Apakah sabar memiliki batasan? Aku tahu jawabannya sekarang. Ketika kebencian, dendam kesumat, sebesar apa pun akan luruh oleh rasa sabar. Gunung-gunung akan rata, lautan akan kering, tidak ada yang mampu mengalahkan rasa sabar. Selemah apa pun fisik seseorang, semiskin apa pun dia, sekali di hatinya punya rasa sabar, dunia tidak bisa menyakitinya.” (hal. 48)

    “Terima kasih atas pelajaran tentang keteguhan. Aku tahu sekarang, pertanyaan terpentingnya bukan berapa kali kita gagal, melainkan berapa kali kita bangkit lagi, lagi, dan lagi setelah gagal tersebut. Jika kita gagal 1000x, maka pastikan kita bangkit 1001x.” (hal. 210)

    “Karena dicintai begitu dalam oleh orang lain akan memberikan kita kekuatan, sementara mencintai orang lain dengan sungguh-sungguh akan memberikan kita keberanian.” (hal. 286)

    “Bagaimana agar kita bisa berdamai dengan begitu banyak kejadian menyakitkan? Bagaimana jika semua hal menyesakkan itu ibarat hujan deras di tengah lapangan, kita harus melewati lapangan menuju tempat berteduh di seberang, dan setiap tetes air hujan laksana setiap hal menyakitkan dalam hidup? Bagaimana agar Sri bisa tiba di tempat tujuan tanpa terkena satu tetes airnya? Sri sekarang tahu jawabannya. Yaitu justru dengan lompatlah ke tengah hujan, biarkan seluruh tubuh kuyup. Menarilah bersama setiap tetesnya, tarian penerimaan, jangan pernah dilawan, karena sia-sia saja, kita pasti basah.” (hal. 457)

    Zaman Zulkarnaen, pria Indonesia 30 tahun, adalah seorang junior associate di firma hukum Thompson & Co. selama setahun terakhir. Setelah menerima tawaran magang selama dua tahun di firma hukum itu, kini Zaman bertugas membantu seorang senior lawyer bernama Eric Morning menangani berbagai kasus. Thompson & Co. hanya memiliki satu senior partner, yaitu Sir Thompson Jr. Ayahnya adalah pendiri firma hukum tersebut sekaligus seorang pahlawan perang Angkatan Laut Kerajaan Inggris di masa Perang Dunia I. Tujuan awal didirikannya Thompson & Co. adalah untuk menegakkan keadilan terutama dalam pembagian hak waris, yang mana pasca perang dunia menjadi kacau akibat banyaknya ahli waris yang tewas maupun harta yang tak jelas pewarisnya. Di masa sekarang, firma hukum ini masih memegang teguh prinsip awal, memerangi para heir hunters, dan menegakkan elder law dalam hukum waris. Tak banyak publikasi yang menyoroti Thompson & Co. karena mereka memang tak mengutamakan publikasi, namun reputasi mereka tak diragukan lagi oleh firma-firma hukum lain dan banyak pihak.

    Suatu hari, Sir Thompson secara pribadi menghadiri rapat dengan ‘situasi khusus’ di mana Zaman diundang. Di luar kebiasaan, Zaman diamanahi menyelesaikan sebuah kasus settlement  hak waris secara mandiri, bukan di bawah kepemimpinan Eric seperti biasanya. Dan sebagai kejutan lain, klien mereka kali ini adalah seorang perempuan Indonesia bernama Sri Ningsih, yang belum lama ini meninggal di sebuah panti jompo di Paris. Sri Ningsih meninggalkan warisan senilai 19 triliun rupiah. Yang menjadi obyek utama penyelidikan Zaman adalah keberadaan pewaris yang sah dan ada atau tidaknya surat wasiat.

    Berbekal informasi alamat panti jompo di mana Sri Ningsih tinggal dan mengembuskan napas terakhir, Zaman mulai menelusuri rekam jejak kehidupan Sri Ningsih. Setelah berkenalan dengan penghuni panti dan seorang pengurus bernama Aimee, Zaman mendapatkan sebuah buku catatan tipis yang berisi beberapa foto lama dan catatan singkat lima babak kehidupan Sri yang diberi judul juz pertama hingga kelima. Sampailah kemudian Zaman di Pulau Bungin di bagian timur Indonesia yang dijuluki salah satu pulau terpadat penduduknya di dunia, tempat di mana Sri Ningsih dilahirkan dan kemungkinan menghabiskan masa kecil, sesuai salah satu foto. Ketika Zaman nyaris menyerah, muncullah seorang saksi mata yang mengenal Sri Ningsih kecil dulu. Ode atau yang biasa disapa Pak Tua pun kemudian menceritakan silsilah keluarga Sri Ningsih, tak ketinggalan masa kecil yang membuatnya iba pada Sri. Tentang Sri yang piatu sepeninggal sang ibu, Rahayu, sesaat setelah melahirkannya. Juga kepedihan ditinggalkan selamanya oleh sang ayah Nugroho, lantas dijuluki ‘anak yang dikutuk’ oleh sang ibu tiri Nusi Maratta sekaligus mengalami kekerasan domestik. Usai penuturan, Zaman menemukan petunjuk baru di pedalaman Surakarta, di sebuah madrasah di mana Sri dan Tilamuta sang adik seayah terakhir diketahui keberadaannya oleh Pak Tua.

 Di madrasah Kiai Ma’shum, Zaman kembali mengurai kisah hidup masa remaja hingga dewasa Sri. Di episode hidup ini Sri sempat mencicipi kebahagiaan dan kehidupan madrasah yang damai. Juga kedekatannya dengan keluarga Kiai, termasuk putri bungsunya Nur’aini dan seorang guru muda bernama Sulastri. Sayangnya, sebuah tragedi pengkhianatan memporakporandakan kebahagiaan mereka. Sri pun lantas merantau ke Jakarta, bertekad memulai kehidupan baru. Di Jakarta, Zaman sempat kewalahan mencari jejak, hingga bertemu dengan Chaterine, yang pernah menjadi orang kepercayaan Sri. Diketahui pula dari mana asal muasal kepemilikan aset triliunan rupiah milik Sri. Sayangnya, jejak kembali hilang ketika Sri mendadak pergi ke London tanpa alasan jelas. Di London, sekali lagi, berbekal petunjuk sebuah foto lama, Zaman berhasil menjumpai seorang sahabat lama Sri, Lucy. Sri ternyata pernah sangat lama berprofesi sebagai sopir bus merah bertingkat. Alamat tinggal Sri di kawasan Little India lalu mempertemukan Zaman dengan keluarga Rajendra Khan—penjual roti isi langganan Zaman—yang tak dinyana pernah menjadi induk semang sekaligus keluarga angkat Sri.

Episode hidup Sri di London nyatanya menyimpan sebuah kisah cinta sederhana yang indah. Sri Ningsih sempat menikah selama 13 tahun dengan seorang pria Turki bernama Hakan Karim dan dikaruniai dua anak. Sayangnya, harapan Zaman bahwa pada akhirnya dia menemukan pewaris sah pupus. Semua keluarga Sri tersebut telah meninggal. Dan sekali lagi, Sri menghilang tanpa alasan jelas. Belum selesai kebingungan Zaman, kantornya mendapatkan permintaan rapat dari sebuah firma hukum bergengsi, A & Z Law, yang mengklaim mewakili seorang ahli waris sah dari Sri Ningsih. Disusul kemunculan dua wanita berwajah Indonesia: Ningrum dan Murni, yang mengaku sebagai mertua dan istri Tilamuta. Zaman yang curiga dengan klaim ini, tak lantas percaya begitu saja. Dia mengotot menyelesaikan penyelidikan hingga menemukan surat wasiat. Beruntunglah, teka-teki keberadaan surat wasiat tersebut akhirnya terungkap, disusul terungkapnya kedok Ningrum dan Murni. Zaman juga menyelesaikan masalah keluarga besarnya sendiri, prahara yang juga terkait warisan, dan menemukan jodohnya.


[Bersambung ke Bag. 2]


Sabtu, 15 Juli 2017


Judul: Better With You
Penulis: Clara Canceriana
Editor: AlaineAny
Penerbit: GagasMedia
Cetakan: pertama, 2017
Tebal: viii + 336 hlm; 13 x 19 cm

BLURB:
    Seseorang pernah berkata kepadaku, memberi tahu perasaan kita kepada orang lain itu sah-sah saja. Namun, mengapa aku selalu kesulitan untuk mengatakan perasaanku yang sesungguhnya? Kepada dia yang sehangat matahari. Yang mampu meluluhkan segala gundah di dalam hati.

    Ada juga yang bilang, bila sembunyi-sembunyi gini, ia tidak akan pernah tahu perasaan yang kurasakan. Entah, mengapa rasa takut itu selalu ada? Padahal, ia selalu mengajarkanku untuk melawan rasa takut dan jujur pada diri sendiri.

    Namun, saat kita sudah merasa begitu nyaman di dekat orang yang kita sukai, apakah kita masih perlu mengungkapkan perasaan hati?

SINOPSIS:
    “Setiap manusia punya keberanian dalam diri mereka. Cuma rasa ragu yang besar, bikin keberanian itu nggak kelihatan.” (hal. 70)

    “Ketika kamu berjanji, kamu sedang menitipkan sebuah masa depan bagi seseorang.” (hal. 148)

    “Kalau mengerahkan seluruh tenaga untuk berusaha, pasti bisa.” (hal. 152)    

Luna Laurensia, siswi kelas XII SMA Bina Bhakti, sebuah sekolah elit bagi anak-anak kalangan menengah ke atas. Luna adalah siswi paling pintar, langganan juara umum sekolah, ketua kelas, papanya adalah pengacara ternama yang sekaligus salah satu donatur dana terbesar sekolah. Satu hal yang tak diketahui teman-teman maupun guru-gurunya, bahwa Luna tertekan. Dia selalu merasa hidupnya serba diatur, diwajibkan menjadi nomor satu, bisa dibanggakan di hadapan keluarga besar mamanya. Luna tak benar-benar bahagia. Hadirnya Higashi Haruki, siswa pindahan penerima beasiswa mengubah segalanya. Haruki bersikap ceria, meskipun semua siswa dan guru memandangnya sebelah mata sebagai siswa penerima beasiswa. Haruki pun menawarkan ketulusan persahabatan alih-alih persaingan kepada Luna. Sayang, niat baiknya dinilai sebagai kelicikan oleh Chika dan Boy, sebagai upaya menurunkan Luna dari posisi juara satu. Apalagi ketika Haruki dan Luna dilaporkan membolos sekolah bersama, disusul kejadian-kejadian tak menyenangkan lain yang bersumber dari kesalahpahaman. Orangtua Luna jelas marah dan mengancam Haruki agar menjauhi putri mereka. Juga ada Eros, pacar Luna yang bertingkah menyebalkan, tak mau diputuskan begitu saja oleh Luna. Eros meneror Luna dengan permintaan maaf, kiriman bunga dan cokelat hingga Luna ketakutan. Perangai Luna yang tak tegas pun memperunyam keadaan. Eros bersama teman-temannya juga pernah mengeroyok Haruki yang dianggap menjadi biang keladi perubahan sikap Luna padanya.
Haruki sesungguhnya punya masalah sendiri yang tak dia bagi kepada semua orang. Papa mamanya telah berpisah semenjak dia masih berusia tujuh tahun. Mamanya memutuskan kembali ke Indonesia usai perpisahan dan berusaha keras menjadi orangtua tunggal yang layak. Papanya yang asli warga negara Jepang pernah menjanjikan datang di tiap kelulusan sekolah Haruki, namun tak pernah ditepati. Bahkan beberapa waktu ini mama Haruki meminta Haruki tak lagi berusaha menghubungi sang papa. Tak terima, Haruki berusaha membujuk sang mama dengan mengikuti lomba mading antar sekolah dengan mengajak Luna. Harapan Haruki, jika dia menang, mamanya akan bangga dan mau memberi Haruki kesempatan berbicara dengan papanya. Sayangnya, meski kemenangan diraih, percakapan Haruki dengan papanya lewat sambungan telepon justru meninggalkan kekecewaaan dan luka di hati. Sang papa telah memiliki keluarga baru dan tak bisa meninggalkan mereka, meski sebentar.

Tak cukup sampai di sana, Haruki kembali harus menghadapi kesedihan ketika saat ujian akhir pengawas menemukan kunci jawaban soal di tasnya. Ada seseorang yang memfitnahnya. Haruki terpaksa dikeluarkan dari ujian. Di lain sisi, Luna syok berat dan ketakutan ketika mengetahui peringkatnya turun drastis di saat pengumuman kelulusan. Orangtuanya saling menyalahkan dan bertengkar hebat. Luna yang sangat tertekan nekat melakukan hal mengerikan hingga masuk rumah sakit. Inilah momen di mana kedua orangtuanya menyadari kelalaian mereka dan memperbaiki hubungan dengan sang anak, termasuk memperbolehkan Luna dekat dengan Haruki. Tatkala Luna menyangka keadaan mulai membaik baginya maupun Haruki, musibah mengerikan lain terjadi pada Haruki.



REVIEW:
    “Dalam anggukan pelan Luna, Haruki merasakan punggung bekunya dijalari kehangatan, seolah ada yang tengah memberikan Haruki kekuatan dari usapan pelan tangannya. Begitu menenteramkan. Karena baginya, Luna bukan saja memberi uluran tangan untuknya, tapi seperti tidak menolak untuk hanyut dalam sebuah luka. Yang membuat ketakutan Haruki otomatis hilang, berganti sebuah harapan untuk mengubah makna ‘sebentar’ yang dia ucapkan dengan makna ‘selamanya’.” (hal. 201)

    “Bagian dari merindukan seseorang adalah bersahabat dengan ketidakpastian dan berteman dengan air mata.” (hal. 223)

“Kejujuran adalah tugas manusia yang paling sulit.”
(hal. 310)

Novel ini bertema kehidupan remaja di kota besar. Diwakilikan dua tokohnya, Haruki dan Luna, dengan menggunakan alur flashback. POV menggunakan sudut pandang orang ketiga, ‘mata yang tahu sgealanya’, namun pendekatannya terasa ‘aku’, karena penulis membagi buku dalam beberapa bab dengan judul ‘Memori Luna’ dan ‘Memori Haruki’. Kisah nyaris keseluruhan bersetting tahun-tahun akhir Haruki dan Luna bersekolah di SMA Bina Bhakti. Menurut saya, seperti layaknya novel lain, dua tokoh utama memiliki karakter yang bertolak belakang, dibumbui konflik perbedaan status sosial, permasalahan keluarga, juga kenakalan remaja.

Karakter Haruki sangat menonjol di sini. Sosok remaja blasteran Jepang – Indonesia, dengan kedua orangtua telah berpisah, mama yang berperan sebagai orangtua tunggal sambil bekerja di restoran, kehidupan ekonomi keluarga yang tak berlimpah harta, namun tetap selalu ceria dan bersemangat sekolah. Kisah keluarga Haruki mewakili kisah-kisah anak yang terpisah dengan salah satu orangtua, lantas merasa tak diinginkan. Hanya saja, di sini Haruki digambarkan sebagai sosok remaja yang berhati besar dan kuat sehingga tak melampiaskan kekecewaannya pada hal-hal negatif. Luna di lain sisi, adalah remaja perempuan yang tak pernah berani mengambil keputusan sendiri, kerap dimanfaatkan teman untuk kepintarannya, sosok siswi teladan yang dipuji guru atas kepatuhan dan prestasi akademis. Namun di balik itu semua, Luna sebenarnya tertutup, pendiam, cenderung polos dan pemalu, dan merasa tertekan atas tuntutan orangtua untuk selalu menjuarai peringkat kelas maupun sekolah. Saya sampai dibuat sangat gemas dengan tabiat Luna yang terkesan lemah, berkali-kali tak bisa mengatakan ‘tidak’ untuk pada akhirnya tak bahagia. Karakter ini kemudian menjadikan Haruki sosok pemberani yang lebih aktif mendekati Luna, berusaha menjadi temannya, dan berinisiatif melindungi. Tekanan keluarga Luna sekaligus menggambarkan permasalahan yang menimpa sebagian besar remaja masa kini. Di mana persaingan sangat ketat di masa sekarang dan secara umum prestasi akademislah yang dianggap akan menjamin masa depan, selain karena kurikulum pendidikan juga yang membuatnya demikian. Kondisi ini memicu kecurangan dan tindakan-tindakan tidak sportif lainnya. Komunikasi antara orangtua – anak juga disoroti, bahwa orangtua juga harus bersikap hangat, bijak, jangan melulu menuntut tapi alpa menyediakan telinga untuk mendengar dan hati untuk menyayangi. Anak tak cukup dilimpahi materi, tapi juga butuh perhatian. Pesan ini juga tercermin dari karakter Chika, Boy, dan Eros, teman-teman Luna.

Yang agak saya sayangkan dari novel ini hanyalah masalah teknis penulisan, terkait masih ada typo dan kekurangtelitian penulis menyusun kalimat efektif. Secara keseluruhan, ide, alur, plot, penokohan, dan feel, saya sangat suka. Novel ini menyuguhkan twist ending yang bisa dibilang ‘berani beda’ dan mengejutkan untuk ukuran novel remaja. Juga sanggup ‘memaksa’ saya menitikkan air mata. Wajib dibaca adik-adik remaja yang butuh cerminan kegalauan dengan pesan yang positif.




Jumat, 14 Juli 2017

[RESENSI] Carisa dan Kiana: Dua Kisah Pencarian Jati Diri

Posted by Menukil Aksara | 8:29:00 AM Categories:

Judul       : Carisa dan Kiana
Penulis   : Nisa Rahmah
Editor     : M. Adityo Haryadi
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : pertama, 2017
Tebal      : 208 hlm.; 20 cm
   
BLURB:

Lima fakta tentang Carisa: pintar berorganisasi, judes apalagi jika berhubungan dengan Stella, diam-diam punya bakat dalam bermusik, menyukai Rama (sahabatnya sendiri), dan menyimpan kisah kelam tentang keluarganya.

Lima fakta tentang Kiana: jagoan sains SMA Pelita Bangsa, pemalu, bersahabat dengan Stella si cewek populer, menjalin komunikasi misterius dengan cowok terkenal di sekolahnya, dan menyayangi Papa melebihi apa pun di dunia.

Rama bersaing dengan Rico, pacar Stella, dalam pemilihan ketua OSIS SMA Pelita Bangsa. Strategi kampanye yang diusung Carisa sebagai ketua tim sukses Rama, terbukti jitu. Stella jadi berang dan mengembuskan gosip tidak sedap tentang Carisa dan Rama.

Carisa berniat melabrak Stella. Namun hanya ada Kiana, dialah yang diserang Carisa hingga terjadi kecelakaan kecil. Orangtua Carisa dan Kiana pun dipanggil. Di pertemuan orangtua itu, satu rahasia tentang keluarga mereka terungkap.

Bagaimana Carisa dan Kiana menghadapi kenyataan baru yang mengubah cara pandang mereka akan hangatnya keluarga? Apa yang harus Carisa dan Kiana lakukan saat menyadari mereka sama-sama menyukai Rama?

SINOPSIS:

“Kiana punya kesimpulan sendiri kenapa Stella begitu benci dengan Carisa. Mereka bagai dua bintang yang bersinar paling terang di antara murid-murid SMA Pelita Bangsa.” (hal. 27)

“Saat gue percaya gue lahir ke dunia karena ada suatu sebab, saat itu gue berhenti menyalahkan diri sendiri. Setiap orang punya masalah. Cara menyelesaikan masalah adalah dengan menghadapinya, bukan dengan menghindarinya lalu memutuskan untuk mengakhiri nyawa.” (hal. 135)

Carisa bersahabat baik dengan Rama awalnya disebabkan kesamaan organisasi sekolah. Lantas diperkuat ketika kakak perempuan Rama meminta bantuan Carisa untuk kepentingan tugas kuliah. Di sekolah, kini Carisa dan Rama sedang disibukkan dengan kampanye pencalonan diri Rama sebagai Ketua OSIS. Carisa yang berbakat berorganisasi ikut menyusun visi dan misi dan didaulat menjadi ketua tim sukses. Di kubu lain, ada Rico yang juga maju mencalonkan diri, dengan pacarnya Stella sebagai tim sukses. Sayangnya, Stella dan Carisa diketahui memang bersaing sejak lama. Stella yang cantik, kaya, dan populer, sedangkan Carisa disegani karena bakat berorganisasi dan bermusik (yang masih sembunyi-sembunyi). Apalagi ketika pendekatan kampanye direct selling usulan Carisa terbukti jitu. Stella yang dengki pun melakukan cara tidak sportif demi menjatuhkan tim Rama. Stella menyebarkan foto fitnah Carisa dan Rama lalu menghilang. Carisa yang marah mencari Stella, namun hanya menjumpai Kiana. Kiana dikenal dekat dengan Stella. Sebenarnya ini pun bukan pertemanan yang sehat, karena Stella hanya memanfaatkan Kiana yang pintar, juara olimpiade sains, dan ketua eskul KIR (Kelompok Ilmiah Remaja). Namun karena sedang dikuasai emosi, Carisa melabrak Kiana hingga terjadi insiden kecelakaan kecil. Akibatnya, ibu dari Carisa dan papa dari Kiana dipanggil menghadap ke sekolah, Carisa diancam diskors, dan Rama dipaksa mundur dari pencalonan. Tak disangka, pertemuan kedua orangtua mengungkap sebuah rahasia masa lalu ibu dari Carisa dan papa dari Kiana. Carisa dan Kiana ternyata adalah saudara satu ayah.

Dari insiden itu pulalah, Carisa lebih mampu mengenal sosok Rico yang sebenarnya. Tentang hubungan tak sehatnya dengan Stella yang bermasalah dan Rico ikut mendapat pamor kurang bagus. Semenjak Stella diskors karena akhirnya terbukti bersalah dalam insiden pemfitnahan lalu dikabarkan pindah sekolah, Rico yang otomatis terpilih menjadi Ketua OSIS menyusul mundurnya Rama mulai mendekati Carisa. Ini demi tujuan merealisasikan syarat dari Rama. Rico yang mengajak Rama bergabung sebagai wakil ketua harus mengajak Carisa juga sebagai pengurus. Penawaran Rico awalnya ditolak Carisa, namun karena suatu hal, Carisa akhirnya menerima. Tak hanya itu, Carisa juga menggantikan posisi Rico dalam band sekolah, Orion. Dari sinilah kedekatan Carisa – Rico bermula. Di lain pihak, Rama yang sempat ‘dijauhi’ Carisa, malah menjadi dekat dengan Kiana. Ternyata keduanya pernah berteman dan saling kirim surat diam-diam, namun terputus. Perkembangan hubungan keempat orang ini mengubah segalanya.

Terkait rahasia keluarga yang terungkap, Carisa dan Kiana belum bisa sepenuhnya menerima. Kiana terus menghindar dari papanya dan tidak mau memaafkan, pun tidak menerima Carisa. Hingga suatu hari, sebuah insiden lain yang melibatkan Carisa dan ayah tirinya memaksa Carisa lari dari rumah dan bersembunyi di kantor papa kandungnya. Ibunya sendiri tak tahu menahu dan sedang bekerja di luar negeri. Tapi berkat insiden ini, Kiana memahami sekaligus iba pada Carisa dan perlahan mulai menerima. Bahkan Kiana berencana menggantikan posisi Carisa dalam perlombaan musikalisasi puisi antar sekolah ketika Carisa sakit. Hubungan yang mencair ini bertahan hingga perlombaan band antar sekolah dengan Carisa terlibat di dalamnya bersama band Orion.






REVIEW:

“Ketika seorang anak belajar apa pun dalam kehidupannya, sebenarnya orangtua sedang belajar bagaimana cara menjadi orangtua yang baik.” (hal. 185)

“Bukan hanya kata yang menjadikan cinta tetap ada, tetapi dengan tindakan yang akan membuat cinta melekat selamanya.” (hal. 197)

Tema remaja dengan pernak-pernik kehidupan lengkap dengan masalahnya lagi-lagi menjadi andalan novel, termasuk yang satu ini. Kali ini ada dua tokoh utama remaja perempuan yang ditampilkan. Kiana, mewakili sosok remaja perempuan yang berprestasi secara akademis, pintar dalam bidang sains, meski tak terlalu populer dari segi pergaulan. Kiana memiliki keluarga yang bahagia, meskipun sang mama telah tiada. Dia juga diceritakan dekat dengan papa dan adik laki-lakinya. Carisa, dia wajah remaja berbakat di luar bidang sains dan pandai bergaul. Carisa yang organisatoris juga berbakat dalam bidang musik (dia mahir memetik gitar dan menggebuk drum). Sayangnya, hubungan dengan sang ibu tidak dekat, bahkan bisa dikatakan Carisa merasa tak disayangi oleh ibunya yang aktivis lingkungan hidup. Saya suka dua tokoh ini ditonjolkan dan ‘dipertentangkan’ dalam novel. Plus ada Rico dan Rama yang nggak kalah menarik. Terutama Rico, yang ‘bertransformasi’ dari sosok populer, tipikal anggota band yang dipuja-puji karena fisik dan punya pacar cantik, namun datang dari keluarga ‘broken home’ menjadi sosok dengan sisi baik dan dia jadi karakter favorit saya, selain Carisa. Rama di lain sisi, berkepribadian hangat, agak pemalu, dan memiliki dua kakak dengan keluarga harmonis.

Novel berkover imut ini tipis, alurnya cepat, dengan konflik yang padat. Sebenarnya saya suka dengan semua elemennya, kecuali bagian konflik. Menurut saya, ada bagian konflik yang sebaiknya dipangkas saja karena kurang krusial bagi keseluruhan cerita. Misalnya, tokoh ayah tiri Carisa yang sangat minim dieksplor—kecuali bagian rahasia kelam dengan Carisa. Mungkin bisa dihilangkan saja, digantikan dengan alasan logis lain jika terkait konflik Carisa dengan ibunya. Atau, halaman bisa ditambah, cerita lebih dikembangkan. Elemen-elemen kecil seperti puisi Sapardi Djoko Damono yang ditampilkan dalam musikalisasi puisi, pengetahuan ilmiah yang disisipkan dalam pekan sains, syair lagu “Counting Stars” dan pertunjukan band, bagi saya sangat mendukung. Menjadikan novel teenlit ini tak hanya berbobot, cerdas, juga menghibur. Recommended bagi para pembaca belia yang haus bacaan ringan dan sesuai dengan irama kehidupan mereka.

Sayangku yang jauh,
entah berapa kali
telah kukelilingi taman kota ini;
telah tergolek di atas rumput, sobekan-
sobekan kertas, embun, pecahan botol;
telah bermantel sinar bintang-bintang
dan angin yang panjang nafasnya; aku
tak pernah tidur, menunggumu.
(penggalan sajak “Lirik untuk Improvisasi Jaz”, karya Sapardi Djoko Damono)

Kamis, 13 Juli 2017


Judul      : Then & Now – Dulu & Sekarang
Penulis   : Arleen A
Editor     : Dini Novita Sari
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : pertama, 2017
Tebal      : 344 hlm.; 20 cm


BLURB:

    Ini kisah cinta biasa; tentang dua pasang kekasih yang harus berjuang demi cinta. Namun, bukankah tidak pernah ada kisah cinta yang biasa?

Ruita
    Gadis dari suku telinga pendek. Ia tidak menyukai suku telinga panjang, apalagi kalau harus bekerja pada mereka. Tapi lalu ia melihat mata itu, mata seorang lelaki suku telinga panjang yang sorotnya seolah dapat melihat kedalaman hati Ruita.

Atamu
    Ia tidak pernah menyangka akan jatuh hati pada gadis dari suku lain yang lebih rendah derajatnya. Tapi apalah arti kekuatan lelaki berusia enam belas musim panas bila dihadapkan pada takdir yang lama tertulis sebelum dunia diciptakan?

Rosetta
    Ia punya segalanya, termasuk kekasih yang sempurna. Tapi ketika dilamar, ia menolak tanpa tahu alasannya. Ia hanya tahu hatinya menantikan orang lain, seseorang yang belum dikenalnya.

Andrew
    Ia hanya punya enam bulan untuk mencari calon istri, tapi ia tidak tahu dari mana harus memulai sampai ia melihat seorang gadis berambut merah. Dan begitu saja, ia tahu ia akan melakukan apa pun untuk mendapatkan gadis itu.


SINOPSIS:

    “Saat itulah aku melihat sepasang mata itu. Sepasang mata yang tak akan kulihat jika aku tidak sengaja menumpahkan kuah dan dihukum menyapu kandang ayam.” (Ruita, hal. 26)
    “Ketika pintu lift terbuka, mata itu yang pertama kulihat. Sepasang mata oriental. Aku bahkan tidak melihat wajah tempat mata itu terletak. Dan dalam sekejap, dunia seolah hilang tanpa jejak.” {Rosetta, hal. 192)

    Ini kisah cinta dua pasangan yang berbeda zaman. Novel lantas dibagi menjadi dua masa, dulu dan sekarang. Di masa dulu, ada dua suku yang mendiami sebuah pulau terpencil yang dikelilingi lautan, Pulau Rana Pui. Suku Momoki atau suku telinga pendek yang kastanya rendah dan merupakan suku pekerja, dan suku Eepe atau suku telinga panjang yang berkasta lebih tinggi dan menjadi tuan tanah sekaligus majikan suku Momoki. Kehidupan di masa ini masih primitif dengan segala adat, aturan, dan ritme hidup yang cenderung monoton. Ruita, anak gadis suku Momoki digambarkan memiliki karakter kritis dan sering berpikir tidak suka dengan suku Eepe, apalagi jika harus bekerja melayani mereka, seperti yang dilakukan hampir semua wanita sukunya. Namun, takdir berkata lain. Ketika wanita tetangga sekaligus kawan baik ibunya mengalami cedera saat bekerja, Ruita diperintahkan sang ibu menggantikannya. Dengan enggan dan kemudian sengaja melakukan kecerobohan, Ruita justru melihat sepasang mata milik anak majikan yang awalnya mencuri lihat padanya. Pertemuan tak disengaja di pasar di kemudian hari, saling sapa, akhirnya menimbulkan ketertarikan nyata sekaligus kedekatan Ruita dan sang anak majikan yang bernama Atamu. Mereka lantas selalu memiliki janji temu diam-diam di sebuah sudut pantai tersembunyi. Masalah timbul ketika Vai melamar Ruita. Vai yang juga merupakan teman kakak Ruita itu memang sudah lama mencintai Ruita. Adat dan persetujuan orangtua membuat Ruita tak mampu menolak. Rencana pemberontakan para pria suku Momoki atas suku Eepe juga memperkeruh suasana. Beralasan kebebasan dan tak sudi diperbudak, rencana ini bulat akan dijalankan. Tatkala Vai memergoki hubungan rahasia Atamu dan Ruita, ia pun marah dan bertekad mempergunakan kesempatan pemberontakan untuk membalaskan sakit hati. Di sinilah akhirnya kisah Ruita, Atamu, dan Vai menemukan jalan takdirnya.

    Sedangkan di masa sekarang, kisah menyoroti sosok putri konglomerat pemilik kerajaan bisnis Hotel Grimson, Rosetta. Hidupnya nyaris sempurna, dengan orangtua penyayang, kakak laki-laki yang dapat diandalkan, seorang sahabat baik, dan tunangan kaya raya yang memenuhi syarat sebagai calon suami sempurna. Namun Rosetta menolak lamaran tunangannya, Henry. Dia merasa ada lubang di hatinya yang entah harus diisi apa/siapa dan dia tak merasa cukup mencintai Henry hingga bersedia menjadi istri. Diane sahabatnya saja sampai menganggap Rosetta aneh. Di lain pihak ada Andrew, cucu sekaligus pewaris tunggal perusahaan ritel raksasa, Village Way. Andrew yang yatim piatu sangat diharapkan sang kakek mampu mempertahankan bahkan meningkatkan kesuksesan perusahaan keluarga yang telah dirintis susah payah dari nol. Namun sayang, Andrew yang cerdas tapi introvert itu gagal menunjukkan kepiawaian melobi, memperluas relasi dan koneksi. Andrew cenderung lebih suka mengurung diri di luar bekerja, nyaris tak punya teman, dan lebih suka bermain piano warisan mendiang sang ibu. Oleh sebab itu, Jacob Lee sang kakek terpaksa ‘mengusir’ Andrew dari penthouse, menyita piano kesayangannya, dan mengultimatum Andrew untuk menunjukkan bahwa dia tetap bisa mandiri tanpa bantuan sang kakek, sekaligus dalam waktu enam bulan mengenalkan seorang calon istri. Richard, sahabat Andrew pun ikut pusing, meskipun dia tak keberatan menampung Andrew sementara waktu di apartemennya. Hingga suatu hari, saat mencari lowongan pekerjaan, Andrew melihat sosok Rosetta dengan rambut merahnya. Tanpa sadar dia mengikuti hingga masuk ke Hotel Grimson. Dari sinilah keberuntungan Andrew dimulai. Dia diterima bekerja sebagai concierge (atau bellboy) di hotel milik keluarga Rosetta dan berkesempatan bertemu bahkan nekat berkenalan dengan Rosetta. Hubungan Andrew-Rosetta sempat mengalami naik-turun dan putus-nyambung. Kehadiran Henry yang masih tak rela lamarannya ditolak, menjadi salah satu penyebab. Rahasia Andrew terkait latar belakang keluarga yang dia sembunyikan dari Rosetta pun menjadi penyebab lain keretakan. Andrew harus memperjuangkan cintanya jika ingin bahagia bersama Rosetta.




REVIEW:

    “Aku memang tidak takut jika harus mati berdua di tengah lautan dengan Atamu. Malah jika disuruh memilih di antara hidup tanpa dirinya atau mati di dalam pelukannya, aku akan memilih yang kedua.” (hal. 105)

    “Bagaimana jika aku sudah pulang? Bagaimana jika ini adalah rumahku sekarang?” tanyanya. Dan dua kalimat itu menghantamku seperti bola bowling menghantam berantakan sepuluh pin sekaligus. Apakah yang terjadi sebenarnya bukan aku yang memberinya pelajaran tapi dia yang telah memberiku pelajaran?” (hal. 321)

    “Mengapa matanya yang kulihat di antara jutaan mata yang lain? Apakah mungkin itu memang sudah diatur dari sananya?” (hal. 334)

     Kisah yang menggunakan POV orang pertama ‘aku’ secara bergantian ini mengasyikkan karena saya bisa merasakan langsung dan tahu persis apa yang dipikirkan oleh para tokohnya. Bisa diketahui ‘aku’ yang sedang berkisah lewat judul di tiap bab dengan nama tokoh. Karakter-karakternya pun menarik. Saya pribadi lebih menyukai karakter para tokoh utama di masa sekarang. Mereka lebih dinamis, begitu juga kehidupan yang dijalani. Ada lebih banyak kejutan, adegan romantis, dan konflik yang lebih kompleks.

    Saya suka perkembangan karakter Andrew yang awalnya tertutup perlahan lebih membuka diri, lebih mampu bersosialisasi, lebih berani mengambil peluang sekaligus memperjuangkan cinta. Juga kesetiawakawanan Richard dan Diane sebagai sahabat. Tema cinta yang ditentang karena perbedaan status sosial tidak akan dijumpai di masa Andrew dan Rosetta, meskipun Andrew sempat tak mengungkap identitas aslinya. Berbeda dengan masa Ruita dan Atamu yang diwarnai perbedaan mencolok status sosial dan plotnya pun terkesan agak flat dengan gereget perjuangan cinta yang nyaris tak terlihat. Mereka seakan ‘dipaksa’ menyerah pada takdir.

   Dari segi tema, kisah ini telah dikatakan dalam blurb merupakan kisah cinta biasa, sehingga pembaca tidak diharapkan mendapatkan tema unik atau antimainstream. Juga ide cinta pada pandangan pertama tentu terdengar ‘klise’ atau bahkan bagi sebagian orang ‘absurd’. Namun, sebagai penulis yang telah memiliki ‘jam terbang’ tinggi, Kak Arleen mampu menyulap kisah cinta biasa itu menjadi istimewa. Dengan konsep dua periode waktu berbeda, menggunakan ungkapan, “Cinta tidak mengenal apa pun. Tidak tempat, tidak juga waktu”, juga setting Rana Pui dan Amerika Serikat, deskripsi yang tepat sasaran tetap menarik bagi saya. Bumbu keluarga terutama dari kisah keluarga Jacob dan Andrew Lee juga saya sukai. Di sini saya dapatkan pesan bahwa orangtua selalu menginginkan kebaikan untuk anak-anaknya walaupun tak jarang cara mereka dianggap salah atau tak menyenangkan. Kak Arleen juga tak melupakan detail-detail kecil sebagai pemanis sekaligus poin plus yang meninggalkan kesan tak terlupakan, seperti kejutan-kejutan yang diberikan Andrew untuk Rosetta lewat memo, janji temu rahasia, dan adat pertunangan dengan kalung berliontin batu diukir khusus di masa suku Momoki. Plus bab epilog yang mengundang tanda tanya tentang turut campur takdir dalam kisah cinta. Inikah yang dinamakan 'jodoh'? Novel ringan yang manis berkover unik ini layak menjadi teman baca di waktu senggang kalian.

Selasa, 11 Juli 2017

[RESENSI] Golden: Pilihan Atas Sebuah Momen Perubahan

Posted by Menukil Aksara | 11:12:00 AM Categories:





Judul                  : Golden
Penulis              : Jessi Kirby
Penerjemah      : Wisnu Wardhana
Penyunting      : Adeliany Azfar
Penerbit           : Spring
Cetakan           : pertama, Januari 2017
Tebal                : 308 hlm; 19 cm

BLURB:
Parker Frost belum pernah mengambil risiko. Dia akan lulus SMA sebelum sempat mencium cowok yang dia sukai. Jadi, saat nasib menjatuhkan buku catatan Julianna Farnetti ke pangkuannya—buku catatan yang mungkin bisa membongkar misteri kota tempat tinggalnya—Parker memutuskan untuk mengambil kesempatan itu.
Julianna Farnetti dan Shane Cruz dikenang sebagai pasangan ideal di SMA Summit Lakes, sempurna dalam segala hal. Mereka meninggal dalam kecelakaan di malam bersalju, meninggalkan hanya sebuah kalung, tanpa jenazah. Tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi malam itu.
Hanya saja, tidak semua kebenaran ingin ditemukan...




SINOPSIS:
“Aku merasa perlu mengingatkan diri sendiri bahwa hanya karena seseorang menulis, tidak akan membuat seseorang itu menjadi nyata.” (hal. 14)


“Aku harus melakukan sesuatu yang tidak terduga, yang akan meninggalkan kenangan yang bisa kusimpan dan kuingat. Suatu pengalaman dan bukannya tujuan. Tapi sepertinya, pengalaman-pengalaman yang kau ingat, hal-hal yang akan selalu kau kenang, bukanlah yang bisa kau paksakan, atau kau cari. aku selalu berpikir hal-hal seperti itu, entah bagaimana, yang akan menemukanmu.” (hal. 38)

Parker dan Kat adalah dua murid SMA kelas senior yang bersahabat baik, meskipun karakter mereka bertolak belakang. Parker yang pintar, berprestasi, punya kesempatan mendapat beasiswa berkuliah di Stanford, sekaligus di bawah ‘kendali’ sang ibu dalam tiap jengkal pilihan hidupnya. Dia tipikal gadis remaja yang ‘lurus-lurus’ saja. Lain hal dengan Kat yang ekspresif, berani ambil risiko, kerap melakukan ‘pelanggaran’, namun juga setia kawan. Di tahun akhir sekolah, keduanya mengalami masa dilema persahabatan, karena jelas Parker akan melanjutkan kuliah ke kota lain, sedangkan Kat tidak. Kat sering menggoda Parker untuk tak melewatkan masa akhir sekolahnya begitu saja. Setidaknya dia harus melakukan hal yang diinginkan, yang tak terduga, yang di luar kebiasaannya. Kesempatan itu secara mengejutkan datang, ketika Parker yang menjadi asisten guru bahasa Inggris, Mr. Kinney diserahi tugas mengurusi jurnal para siswa senior sepuluh tahun lalu untuk dikirimkan. Yap, Mr. Kinney yang merupakan guru favorit Parker ini punya kebiasaan unik, yaitu tiap musim semi ia memberikan tiap murid senior sebuah jurnal mengarang. Sisa tahun ajaran kemudian diisi dengan tugas mengisi jurnal. Diisi dengan hal-hal yang menggambarkan mereka saat itu, yang mungkin akan mereka lupakan bertahun-tahun kemudian. Di bulan Juni sepuluh tahun kemudian, jurnal-jurnal tersebut akan dikirimkan ke alamat mereka. Nah, Parker ternyata mendapati jurnal milik legenda kota, Julianna Farnetti.
Didorong oleh rasa ingin tahu yang kuat dan terngiang kata-kata Kat tentang pengalaman tak terduga, Parker memutuskan membaca isi jurnal Julianna dan betapa kagetnya dia ketika menemukan sebuah fakta yang tak semua orang ketahui tentang kisah cinta Julianna – Shane. Ada orang ketiga di hati Julianna. Dibantu Kat dan Trevor Collins (cowok teman sekelas yang sudah lama ditaksir Parker), Parker memulai petualangan masa akhir sekolahnya. Berdasarkan petunjuk di dalam jurnal dan temuan lain, mereka bertiga menelusuri jejak ‘keberadaan’ Julianna. Walaupun pada akhirnya kecewa, pengalaman itu memberi pelajaran berharga dan memengaruhi keputusan penting yang diambil Parker di kemudian hari.



REVIEW:
“Bagian favoritku dari kisah cinta mana pun adalah permulaannya. Seperti Romeo yang merayu Juiet untuk menciumnya, orang yang sama sekali asing, di suatu pesta dansa. Atau Noah yang memanjat kincir ria untuk mengajak Allie berkencan dalam ‘The Notebook’. Permulaan adalah keajaiban.” (hal. 95-96)

“Pertanyaan itu berasal dari puisi karangan Mary Oliver, dan bunyinya seperti ini: ‘Apa rencana yang akan kau lakukan pada satu-satunya hidupmu yang liar dan berharga?’” (hal. 287)

“Tapi terkadang, hidup memberi kita momen-momen yang langka itu di mana kita benar-benar melihat kesempatan yang sedang terjadi. Dan dalam momen itu, kita punya pilihan. Dan terkadang kita harus mengambil risiko. Dan itu menakutkan. Itu membuat kita rapuh. Tapi saya tahu itu pantas dilakukan.” (hal. 289)

Jika ditanya, novel terbitan Spring dengan kover dan kisah favorit, sejauh ini Golden masih masuk dalam daftar teratas. Novel remaja yang nggak hanya asyik dibaca, tapi padat kutipan dan hikmah keren. Terjemahannya oke, sama sekali nggak mengecewakan. Tema problematika remaja yang diangkat pun tetap up-to-date, layak untuk pembaca remaja masa kini.
Saya suka karakter Parker yang mengalami dilema dengan diri sendiri, mencari-cari pembenaran atas jati dirinya, keinginan sesungguhnya yang ingin dia raih demi kebahagiaan. Di lain sisi, ibunya yang memiliki masa lalu mengecewakan, termasuk masalah dengan ayah dari Parker seakan membebankan impian tak kesampaiannya ke pundak sang putri semata wayang. Di sinilah letak konflik utama selain misteri kecelakaan Julianna-Shane. Ada juga karakter Kat yang membuat cerita ini lebih berwarna. Prinsip hidupnya yang sederhana, karakternya yang ceria membuat kisah persahabatan dalam novel ini menyenangkan, mengingatkan kita akan masa remaja yang penuh petualangan. Karakter Julianna sendiri yang digambarkan nyaris sempurna sekaligus misterius, membuat saya benar-benar tak sabar mengungkap rahasia besarnya. Chemistry dan ‘permainan’ tarik-ulur Trevor dan Parker pun membuat saya tersenyum-senyum, walaupun kisah romansa mereka tidak jadi fokus utama. Tokoh lain yang cukup berkesan meski tak terlalu menonjol tentu saja Mr. Kinney. Dia sudah pasti akan mengingatkan kita pada sosok guru favorit yang mengajar dengan cara menyenangkan dan kreatif.
Dari segi alur, memang ada dinamika, di mana di awal hingga pertengahan agak lambat, namun tetap ada adegan-adegan menegangkan. Di jelang akhir, akan menjadi bagian yang tak mungkin saya lewatkan dan saya terpuaskan dengan akhir yang disuguhkan penulis. Meskipun, layaknya fiksi, kisah ini memiliki aspek-aspek ‘kebetulan’ yang bisa jadi terlalu indah jika ada di dunia nyata, hehe...
Bagi penggemar puisi, terutama fans Robert Frost, kalian akan dimanjakan oleh tersebarnya kutipan-kutipan puisi terbaik Frost di sini, mengingat Parker dan ayahnya diceritakan mengagumi penyair satu ini. Tertarik membaca novel remaja terjemahan berkover kece ini? Saya jamin suka, deh, apalagi jika kalian penggemar teenlit Amerika.

[RESENSI] Momiji: Hargailah Dirimu Sebelum Meminta Orang Lain Menghargaimu

Posted by Menukil Aksara | 7:36:00 AM Categories:





Judul           : Momiji
Penulis        : Orizuka
Penyunting: Selsa Chintya
Penerbit     : Inari
Cetakan      : pertama, Mei 2017
Tebal          : 210 hlm; 19 cm

BLURB:


Patriot Bela Negara lelah punya nama seperti itu, terutama karena dia memiliki fisik dan mental yang sama sekali tidak seperti patriot, apalagi yang siap membela negara.
Seumur hidupnya, Patriot diolok-olok hingga akhirnya dia memutuskan memberontak. Dia jadi gandrung Jepang, belajar bahasa Jepang, dan punya cita-cita pergi ke Jepang untuk bertemu Yamato Nadeshiko—tipe wanita ideal versi Jepang.
Di usianya yang kedua puluh, Patriot akhirnya berada selangkah lebih dekat dengan cita-citanya itu. Dia menginjak Jepang untuk ikut program pendek musim gugur di Osaka dan beruntung baginya, orangtua inang tempatnya homestay punya anak gadis seusianya!
Shiraishi Momiji, gadis itu, mungkin adalah buah penantiannya selama ini.
... Atau mungkin bukan.

SINOPSIS:

“Mungkin, dulu Ibuk memberiku nama itu dengan maksud supaya aku tumbuh jadi anak yang kuat dan bisa membela negara. Sayangnya, doanya berbalik seperti bumerang.” (hal. 5)

““Jangan-jangan... “ Gadis itu kembali menggeram, dengan mata menyipit curiga. “PENCURI SUSU?”
Aku ingin menyangkal tuduhan bego itu, tetapi aku begitu panik melihat pedang yang sekarang teracung ke arahku. Refleks membuatku mengacungkan kedua tangan ke atas. Kotak susu terlepas dari peganganku, lalu jatuh ke lantai.”
(hal. 15)

Patriot Bela Negara—yang lantas mendapat panggilan Pabel dari teman-teman sekolahnya—selalu merutuki nama pemberian orangtuanya yang terdengar aneh dan bersikap mengasihani diri sendiri karenanya. Ejekan teman-teman sebaya turut memperkeruh suasana. Sebagai seorang introvert, dia pun tumbuh dengan anggapan dia boleh memendam dendam pemberontakan sehingga alih-alih bersikap layaknya seorang patriot, dia justru menjadi otaku (orang yang terlalu menggemari sesuatu hingga terobsesi) yang gandrung negara lain (di kasus Pabel adalah Jepang). Pabel kemudian bercita-cita berjumpa seorang tipe wanita ideal Jepang dan menabung demi impiannya. Tak sabar dengan hal itu, Pabel pun memutuskan mengikuti program pendek musim gugur sebuah lembaga kursus bahasa ketimbang menunggu kesempatan beasiswa.
Dia bahagia mengetahui orangtua inangnya (keluarga Shiraishi) di jepang memiliki seorang anak gadis sebaya, yang meskipun dikatakan tidak sedang di rumah tanpa alasan jelas, tak ayal sempat melambungkan angan Pabel. Sayangnya, perjumpaan pertama Pabel dengan si anak gadis yang sangat mengejutkan sekaligus ‘traumatis’, lekas mengusir pergi khayalan. Momiji, gadis berpenampilan yankii (anak badung), berambut panjang merah menyala, dan sama sekali jauh dari kesan feminin ala Chitanda Eru impian Pabel. Tak hanya itu, Momiji ternyata bertahun-tahun kabur dari rumah dan baru saja kembali. Dia pun kelebihan kepercayaan diri dan suka bertindak seenaknya, termasuk ‘menawarkan diri’ menjadi pengawal pribadi Pabel selama di Osaka dengan digaji (lol). Pabel yang penakut dan pengecut tak kuasa menolak, apalagi Nanami-san sang ibu dari Momiji membujuknya dengan alasan demi memata-matai gerak-gerik anaknya. Keseruan dan kelucuan interaksi antara Pabel dan Momiji-lah yang paling banyak mengundang tawa saya. Dua kepribadian yang sangat jauh berbeda. Pabel acapkali dibuat kesal dan ketakutan. Dan, ketika di tempat kursus ternyata ada seorang gadis jelmaan Yamato Nadeshiko bernama Sanjo Kanon, Pabel justru dipermalukan oleh Momiji walaupun dalihnya untuk menolong mendekatkan dengan si gadis pujaan. Momiji ternyata punya kisah masa lalu tak menyenangkan yang melatarbelakangi perubahan penampilan dan sikapnya, terkait bakatnya sebagai peseluncur indah. Hingga suatu hari, sebuah insiden mempertemukan kembali Momiji dengan geng motor yang pernah dikenalnya selama kabur dari rumah. Pabel sempat menjadi ‘penyelamat’ yang pemberani sebelum Nanami-san datang menolong. Dan, dalam peristiwa inilah rahasia besar Nanami-san yang hanya diketahui sang suami terungkap. Dari kebersamaan yang cukup singkat, Pabel banyak mengambil pelajaran dari Momiji sekeluarga, termasuk perubahan sikapnya yang lebih bangga pada tanah air dan tak lagi memandang rendah dirinya (juga nama pemberian ibunya).




REVIEW:

“Aku ingin melihat Momiji berubah merah secara sempurna, layaknya semua momiji di musim gugur.” (hal. 203)

Momiji yang diambil dari nama sejenis pohon maple (sering dikenal juga sebagai maple Jepang), dengan bentuk daun khas dan warna yang berubah indah ketika musim gugur merupakan sebuah ide brilian sebagai judul sekaligus nama tokoh utama novel ini. Filosofi yang disuguhkan Orizuka terkait momiji pun mengena, membuat kisah ini tak sekadar menghibur tapi juga kaya pesan. Orizuka juga melakukan riset dengan baik, sehingga deskripsi dan jiwa budaya Jepang cukup terasa di dalam novel. Juga plus nilai dengan memasukkan istilah-istilah Jepang yang dibantu dengan tersebarnya catatan kaki. Penggambaran keluarga Shiraishi pun sangat saya sukai. Mereka tipikal keluarga kebanyakan yang ‘nyentrik’ sekaligus hangat. Karakter ibu dan ayah yang bertolak belakang, anak laki-laki yang baik dan ramah, juga anak gadis yang unik membuat saya betah menikmati kisah keluarga di sini. Kovernya sangat menarik, menyenangkan dipandang, cantik difoto, dan sangat mencerminkan isi. Perkembangan karakter dua tokoh utamanya juga tereksekusi dengan baik. Pesan bahwa kita butuh tantangan dan keluar dari zona nyaman untuk menyadari kelebihan dan kekuatan dalam diri. Juga pesan tentang penerimaan diri.
Novel ini tergolong tipis, dengan alur cepat, beberapa konflik yang cukup bervariasi bertema keluarga, persahabatan, maupun dilema dengan diri sendiri, dibumbui humor khas Orizuka. Sebagai novel tipis, tentu saja Momiji page turner, tipe bacaan ringan yang bisa dibaca kapan pun, bahkan mungkin dalam sekali duduk. Satu-satunya yang mungkin terasa kurang adalah karena saya ingin membaca lagi tentang Momiji dan Pabel, berharap seandainya ada cerita ketika Momiji berkunjung ke Indonesia dan membuat ulah di negeri orang, hahaha... Buat kamu penggemar budaya Jepang, yang juga butuh bacaan pencerahan dalam masa transisi remaja ke dewasa, Momiji ini sangat saya rekomendasikan. Sekali lagi, Orizuka did her great job! Tak sabar menanti karya selanjutnya dari penulis muda berbakat ini.


Senin, 10 Juli 2017

[RESENSI] I Want To Eat Your Pancreas: Hidup Adalah Pilihan

Posted by Menukil Aksara | 10:50:00 AM Categories:

Judul             : I Want To Eat Your Pancreas
Judul Asli      : Kimi no Suizo wo Tabetai
Penulis          : Sumino Yoru
Penerjemah   : Khairun Nisak
Pemeriksa Bahasa: Andry Setiawan
Penerbit        : Haru Media
Cetakan        : Pertama, Maret 2017
Tebal             : 308 lm ; 19 cm

BLURB:
    Aku menemukan sebuah buku di rumah sakit. Judulnya Cerita Teman si Sakit. Pemiliknya adalah Yamauchi Sakura, teman sekelasku. Dari sana aku tahu dia menderita penyakit pankreas. Buku itu adalah buku harian rahasia miliknya.
    Namun gadis itu tidak seperti orang sakit. Dia seenaknya sendiri, dia mempermainkan perasaanku, dia suka menggodaku. Dan dia... mungkin dia mulai menarik hatiku.

SINOPSIS:
    “Dokter hanya bisa berkata jujur tentang penyakitku. Sementara keluargaku memberikan reaksi yang berlebihan terhadap setiap ucapanku, dan terlalu berusaha mengembalikan kehidupan normalku. Teman-temanku pun pasti juga akan bertingkah seperti keluargaku bila mengetahui rahasiaku. Hanya kau yang bisa bersikap biasa saat bersamaku, meski kau sudah tahu rahasiaku.” (hal. 75)
    Kisah dimulai di masa kini dengan sudut pandang si ‘aku’ yang memikirkan tentang pemakaman teman sekelasnya Yamauchi Sakura. Kemudian kisah bergulir ke masa lampau ketika si ‘aku’ bertemu Sakura—atau si gadis sakit—di rumah sakit. Meskipun si ‘aku’ dan si gadis sakit adalah teman sekelas di SMA, namun baru kali itulah mereka benar-benar berbicara, setelah si ‘aku’ menemukan buku harian rahasia Cerita Teman si Sakit milik si gadis sakit. Aku adalah seorang pemuda murid SMA di sebuah kota di Jepang. Si pemuda terkenal sebagai sosok pendiam, penyendiri, dan tidak pernah punya teman. Dia bahkan tak hapal nama-nama teman sekelasnya. Sedangkan si gadis sakit adalah kebalikannya. Seorang siswi populer yang ceria, bersemangat, punya banyak teman dan seorang pacar. Usai kejadian di rumah sakit itu, si gadis sakit mulai bertingkah menyebalkan di mata si pemuda. Dia suka membuat janji temu seenaknya, ikut menjadi tenaga pustakawan sekolah, mengajak jalan-jalan, dan menyapa di kelas tanpa peduli tatapan keheranan teman-teman mereka. Akibatnya, si pemuda justru makin dibenci dan dijuluki penguntit karena suka ‘menempel’ pada si gadis sakit yang populer. Tapi si pemuda tak terlalu ambil pusing karena selama ini toh tidak pernah peduli anggapan orang lain tentangnya. Namun, ketika barang-barang miliknya satu per satu raib disembunyikan seseorang di sekolah, si pemuda mulai kebingungan. Apa lagi ketika seorang teman lelaki jelas marah dan memukulnya dalam perjalanan pulang. Namun, si pemuda lebih khawatir dengan kondisi si gadis sakit. Dia kembali dirawat di rumah sakit selama liburan musim panas. Si pemuda rajin berkunjung—meski selalu berdalih karena terpaksa dan diminta si gadis sakit—dan mereka menghabiskan waktu dengan gembira. Si pemuda yang sempat khawatir bahwa usia temannya itu makin singkat karena sakit, menjadi lega. Kyoko-san sahabat baik si gadis sakit tak pernah suka sahabatnya itu dekat dengan si pemuda, namun dia tak bisa melarang. Dia juga tak tahu kebenaran tentang penyakit sahabatnya. Hingga suatu hari ketika si pemuda menunggu di sebuah kafe untuk bertemu si gadis sakit, gadis itu tak pernah datang. Dan saat itulah penyesalan dan kesedihan itu terungkap. Apa yang sebenarnya terjadi sampai membuat si gadis sakit tak datang? Benarkan dia pada akhirnya meninggal karena penyakitnya?


   
REVIEW:
    “Nilai satu hari bagi setiap orang itu sama.” (hal. 15)
    “Mumpung masih hidup, jadi harus jatuh cinta.” (hal. 78)
    “Nama bunga yang memilih musim semi untuk mekar, menurutku pas sekali dengan namamu, yang selalu berpikir bahwa pertemuan dan kejadian bukanlah suatu kebetulan, melainkan sebuah pilihan.” (hal. 207)
    “Pasti tentang saling memahami perasaan dengan seseorang. Itulah yang disebut kehidupan.” (hal. 213)
    Ini bisa dibilang kali pertama saya membaca J-lit untuk genre remaja. Dari sisi terjemahan, memang terasa sekali kekhasan J-lit, mengingatkan saya akan dorama (termasuk yang disulihsuarakan oleh stasiun televisi nasional hehe... ). Cukup bingung dan harus membaca ulang karena dialog seringkali tidak disertai keterangan siapa yang mengucapkan dan langsung berpindah orang, tapi bagi saya itu tidak masalah.
    Alur dari awal hingga pertengahan memang cukup lambat dan minim konflik (flat) sehingga agak membosankan. Namun yang menghibur saya adalah perbedaan karakter dua tokoh utama. Satu introvert dan yang satunya ekstrovert. Si pemuda ini sangat menggemaskan karena bisa dibilang pasif dan nyaris tak pernah bisa menolak permintaan si gadis sakit. Lelucon yang dia lontarkan juga ‘garing’ apalagi diambil dari perumpamaan, pepatah, atau majas Jepang, walaupun ada catatan kaki. Si pemuda—entah mengapa—mengingatkan saya akan tokoh Don Tillman dari novel The Rosie Project. Ibaratnya dia ini sosok Don remaja (lol). Dari sisi penyendiri, pemikir dan pengamat, rutinitas yang monoton dan cenderung disiplin, dan suka menghindari konfrontasi (pleghmatis abis hahaha... ). Satu hal yang saya suka adalah hobinya membaca buku saku (mungkin maksudnya paperback books, ya), terutama novel. Walaupun pada akhirnya karena tidak diimbangi pergaulan yang ‘normal’, si pemuda ini kerap gagap berkomunikasi dan kemampuan sosialnya rendah (lol). Di lain pihak, si gadis sakit seseorang yang mudah sekali tertawa, bercanda (yang kadang kelewatan), suka baca komik, dan selalu dikelilingi teman. Proses perubahan mereka dari awal pertemuan hingga akhir kisah, bagaimana mereka saling memahami, itulah yang menjadi fokus cerita dan membuat saya betah menikmati. Di jelang bagian akhir saya sampai meneteskan air mata, terharu dengan isi buku harian dan bagaimana si gadis sakit meninggalkan ‘surat wasiat’ untuk keluarga, Kyoko-san, dan si pemuda.
    Penulis juga menyuguhkan twist, yang meskipun telah ada petunjuk jelas sejak pertengahan cerita tetap membuat tebakan saya meleset. Nama pemuda yang selama kisah tak pernah disebut pun (selalu dipanggil teman sekelas yang pendiam-kun, teman sekelas yang tahu rahasiaku-kun, dan semacam ini) pada bagian akhir diungkap, sesuai petunjuk juga di awal dan alasan mengapa namanya tak pernah disebut. Kisah ini mengingatkan kita tentang kematian yang bersifat pasti, kapan pun bisa menjemput tanpa memandang orang, juga bahwa sebagai manusia kita selalu membutuhkan orang lain dan ingin merasa dibutuhkan. Novel remaja yang tak sekadar menghibur tapi sarat pesan kehidupan.

[RESENSI] Heartstring: Cinta Beda Golongan Darah?

Posted by Menukil Aksara | 10:40:00 AM Categories:




Judul                                        : Heartstring: Mr B vs Miss O
Penulis                                     : Adeliany Azfar
Editor                                       : Fanti Gemala
Ilustrator & Desainer Kover: Jang Shan & Ivana PD
Penerbit                                  : PT Grasindo
Cetakan                                   : ketiga, Maret 2017
Tebal                                        : 200 hal

BLURB:

Jung Yi
    “Cih, dasar pria mesum!” Begitu yang dikatakan Jung Yi pertama kali ia melihat Lee Hyun di luar Caffest. “Aku baru tahu ada manusia sepertimu di dunia ini.” Itu adalah kalimat ketika untuk kedua kalinya Jung Yi bertemu dengan Lee Hyun di MoccaLatte.
    Baginya, bertemu lelaki itu serupa bencana. Selalu saja ada kejadian mengejutkan yang terjadi. Kalau matahari tidak terbit dari timur lagi, mungkin ia akan mengubah pikirannya mengenai lelaki yang suka seenaknya itu.

Lee Hyun
    Menarik. Satu kata yang dipikirkan Lee Hyun ketika melihat Jung Yi kali pertama. Ia suka gadis yang tegas dan keras kepala seperti yang kerap diperlihatkan Jung Yi padanya. Apalagi kalau sudah melampiaskan kemarahan, Lee Hyun semakin suka.
    Jadi, mengganti-ganti peraturan di kantor untuk membuat gadis itu marah bukanlah sesuatu yang aneh, ‘kan? Karena dengan begitu, Lee Hyun mulai menyadari kalau perasaannya bertambah dari hari ke hari pada gadis kepala batu itu.

SINOPSIS:

    “Golongan darah O adalah pribadi yang sangat kuat dan memiliki semangat hidup tinggi. Mereka adalah pribadi yang idealis sekaligus realistis. Pemilik golongan darah ini akan sangat bersemangat apabila menemukan sesuatu yang menjadi tujuannya. Ia juga senang mengatur orang lain.” (hal. 1)
    “Golongan darah B adalah pribadi yang bebas dan tidak suka bekerja atau melakukan sesuatu secara teratur. Jika menyukai sesuatu maka dia akan melakukannya secara terus-menerus tanpa memedulikan yang lain.” (hal. 24)
    Ketika sedang ‘melabrak’ adiknya Jung Yon yang sekali lagi ketahuan pacaran di sebuah kafe, tak sengaja Jung Yi melihat pasangan yang sedang pamer kemesraan di luar kafe melalui jendela. Si pria bahkan mengedipinya. Spontan Jung Yi memaki si pria sebagai pria mesum. Esoknya, si pria mesum mengunjungi kafe tempat Jung Yi bekerja dan menimbulkan masalah. Dia terang-terang menegur baik-baik si pria berkenaan anjing yang dibawa dan larangan kafe tentang hal itu, tapi si pria bersikap santai bahkan menantang. Karena tersulut emosi, Jung Yi melepaskan si anjing sebagai gertakan, tapi si pria tak peduli sambil mengatakan bahwa itu anjing milk kekasihnya. Ketika si kekasih datang dan menemukan bahwa anjing kesayangannya tidak ada, tentu saja dia marah dan terjadilah keributan. Jung Yi pun diminta berhenti dari pekerjaan oleh si bos. Mengetahui sahabatnya menganggur, Jae Sun menawari Jung Yi melamar di kantor tempatnya bekerja. Jung Yi diterima setelah lolos wawancara oleh salah satu pengelola. Sayang, terlambat Jung Yi menyadari bahwa pemilik kantor pegadaian adalah si pria mesum. Berhubung dia telanjur diterima bekerja, Jung Yi bertekad tetap maju. Lee Hyun, si pria mesum justru girang mengetahui Jung Yi menjadi karyawannya dan suka bertingkah seenaknya. Selain pemilik pegadaian HJ Corp., Lee Hyun yang ‘terobsesi’ pada mi dan segala olahannya itu juga mengelola sebuah restoran mi, Noodle’s House. Dikisahkan, kesukaannya pada mi ada kaitan dengan kenangannya tentang sang ibu.
Konflik lain terjadi ketika Jung Yi mengetahui lewat penyelidikan Jae Sun sahabatnya bahwa Lee Hyun adalah anak dari Lee Suk Ho, rentenir yang dulu merampas perhiasan berharga mendiang ibunya. Jung Yi bermaksud menebus perhiasan itu, namun sangat kecewa ketika Lee Hyun dan orang kepercayaannya mengatakan bahwa perhiasan yang dicari sudah ditebus sang ibu sebelum meninggal, bahkan ada bukti tertulis. Merasa dikelabui, Jung Yi berulah dengan menyebarkan berita melalui situs. Untunglah kesalahpahaman bisa diluruskan dengan diketahui siapa penyimpan perhiasan itu, yaitu adik Jung Yi sendiri. Jung Yon ternyata menyimpan kekecewaan dan prasangka pada kakaknya selama ini. Sedangkan Lee Hyun sendiri tak diduga Jung Yi menyimpan rasa suka dan mengajak Jung Yi berpacaran. Di sinilah keseruan dan kelucuan makin terasa. Hubungan sejoli ini selalu diwarnai perang mulut dan perdebatan. Juga munculnya kembali mantan pacar Lee Hyun, Park Kyon yang belum bisa merelakan Lee Hyun dan Jae Sun yang diam-diam mencintai Jung Yi. Apakah pasangan Lee Hyun – Jung Yi mampu menyelamatkan hubungan?

REVIEW:

    “Golongan darah B membenci gangguan yang berlebihan dalam hubungan cinta.” (hal. 150)
    “Golongan darah O yang realistis tidak akan mengorbankan hidupnya demi cinta.” (hal. 181)
Novel ini adalah K-fiction yang ditulis oleh penulis Indonesia dn merupakan salah satu judul dari Blood Type series romance. Semua tokoh adalah orang Korea Selatan, demikian juga settingnya. Ide romance berdasarkan perbedaan karakter memang sudah umum, tapi karakter yang mengacu pada golongan darah dalam kisah fiksi adalah ide yang unik dan menarik. Penulis bisa saya katakan cukup berhasil menuangkan nuansa Korea ke dalam karyanya. Kutipan-kutipan terkait eksplorasi karakter berdasarkan golongan darah juga terasa sekali mendominasi.
Pembentukan karakter Jung Yi yang bergolongan darah O dan Lee Hyun dengan golongan darah B-nya berhasil menggelitik, menyindir, dan membuat saya tersenyum-senyum sendiri bahkan tertawa. Saya suka karakter Jung Yi yang digambarkan kuat dan penyayang, meski karena galak sering disalahartikan. Peran sebagai kakak sekaligus pengganti orangtua bagi adiknya turut melatarbelakangi karakternya yang keras itu. Saya juga dibuat kesal dengan tingkah labil dan susah diatur dari Jung Yon. Tapi di lain sisi, kasih sayang antara kakak-beradik ini mengharukan. Juga ada Jae Sun sebagai sahabat yang pengertian dan selalu jadi penolong maupun penengah antara Jung Yi dan Jung Yon. Lee Hyun sendiri sebagai tokoh pria utama memang digambarkan sangat menyebalkan dan kerap tidak peka dengan perasaan kekasihnya. Namun, sisi-sisi romantis dan naik-turun hubungannya dengan Jung Yi asyik diikuti. Ada juga sisi kelam keluarga Lee Hyun di masa orang tuanya masih hidup yang memengaruhinya.
Oh, dan di halaman terdepan kita akan dimanjakan dengan ilustrasi berwarna dengan kertas eksklusif yang merupakan penggambaran para tokoh di seri romance Blood Type series Grasindo ini. Juga ada bonus stiker salah satu tokoh yang menurut saya bisa digunakan juga sebagai pembatas buku. Novel romance ini cocok dibaca sebagai bacaan ringan yang menghibur. Tertarik untuk mengoleksi judul-judul lain dari seri ini?

Minggu, 09 Juli 2017




Judul      : Dangerous Romance
Penulis  : Daisy Ann
Editor    : Cicilia Prima
Penerbit: PT Grasindo
Cetakan: pertama, Juni 2017
Tebal     : 184 halaman

BLURB:
                “Jangan ngasih cewek yang jatuh cinta sebuah penawaran. Kadang kala cinta itu bisa jadi sangat egois.” – Maura
                Mungkin Maura hanya setengah bercanda ketika ia bilang, sebagai ganti balas budi, ia ingin Ben menikahinya. Mungkin. Maura memang jatuh cinta pada rekan kerjanya itu. Ia dibuat gila dan merindu untuk alasan-alasan tak masuk akal.
                Tapi pernikahan mendadak itu memang tak bisa disamakan dengan pernikahan happily ever after bak dunia dongeng. Terlebih cara lelaki itu memandangnya, seolah Maura adalah penyihir yang menjebaknya dalam sebuah pernikahan yang tak Ben inginkan. Maura sadar itu. Ben dengan senang hati membuka matanya lebar-lebar, bahwa lelaki yang membuat Maura bertekuk lutut itu bukan sosok malaikat ideal dalam imajinasi Maura.
                Ada kisah dan luka yang disembunyikan.
                Ada cinta yang bertepuk sebelah tangan.
                Ada rasa yang terkikis perlahan-lahan.
                Namun, bagaimana dengan sumpah pernikahan yang telanjur diikrarkan?
                “Cinta macam apa yang sebenarnya sangat menyakitkan di pernikahan ini?” – Ben

SINOPSIS:
                Maura, seorang perempuan muda karyawati sebuah perusahaan di Surabaya sudah lama menaruh hati pada seorang rekan kerja. Ben, lelaki itu resmi menjadi karyawan setelah Maura. Semenjak kedatangannya, Maura yang awalnya sekadar tertarik mengenal nama sosok karyawan baru beserta kawan akrabnya Bayu itu perlahan merasakan ketertarikan lebih. Namun, karena Ben terkesan menjaga jarak, bukan tipikal lelaki yang supel, Maura pun harus puas menjadi ‘pengagum rahasia’ dan memilih menjaga hubungan semata sebagai rekan kerja (yang tak akrab). Meski demikian, keinginan Maura mengenal Ben lebih dekat mengubahnya menjadi sosok ‘penguntit’ yang rajin mengikuti gerak-gerik Ben dan mengulik segala hal tentangnya lewat media sosial. Hingga suatu hari, sebuah kecelakaan nahas yang menimpa Ben dan seorang sopir perusahaan digariskan menjadikan Maura sebagai penyelamat. Maura berada di waktu dan tempat yang tepat. Entah karena terpancing atau ego, Maura pun sempat melontarkan pernyataan kepada Bayu bahwa ia ingin dinikahi Ben sebagai balas budi. Tak disangka, perkataan itu didengar oleh Tante Dewi—tante dari Ben—yang menganggap serius dan menyampaikannya pada Ben. Hubungan Ben dan tantenya sendiri bisa dibilang dingin akibat konflik keluarga di masa lalu. Ben seolah memasang sikap permusuhan dan menjaga jarak dengan tantenya. Ketika Maura jelas mengatakan dia enggan membatalkan ucapannya—kecuali Ben sendiri yang menjelaskan ketidaksetujuan kepada keluarga, pernikahan mereka akhirnya benar-benar terjadi, meskipun sederhana dan jauh dari bayangan pernikahan impian Maura.
                Kehidupan pascapernikahan menyedihkan. Ben dan Maura hanya tinggal serumah tapi hati mereka tak bersatu. Ketidaknormalan ini mereka sembunyikan dari semua orang, termasuk keluarga dan sahabat dekat. Hadiah bulan madu yang diberikan Om Reno juga ditampik oleh Ben. Ben bahkan memilih mempersingkat masa cuti dan berdinas ke Bekasi bersama rekan-rekan satu departemennya. Ketika Maura memutuskan menyusul, ia hanya mendapat sambutan kurang menyenangkan. Beruntunglah ada Kelana, manajer hotel tempat menginap sekaligus kawan lama Maura. Suatu hari, berawal dari niat baik, Maura diam-diam membuka file-file dalam laptop Ben dan menemukan foto-foto Ben dengan mantan kekasih (yang terpaksa diputuskannya untuk menikahi Maura) bernama Devina. Kecemburuan Maura juga kesalahpahaman Ben atas beberapa hal memicu pertengkaran yang membuat Maura memutuskan kembali ke Surabaya tanpa menunggu Ben. Obrolan dari hati ke hati dengan sahabatnya Agatha, membuat Maura mencoba cara lain untuk memperbaiki hubungan dengan Ben. Alih-alih berupaya keras dianggap istri dan dipandang sebagai wanita yang layak dicintai, Maura mencoba bersikap sebagai teman. Cara ini ternyata cukup berhasil, meskipun hubungan suami-istri mereka tetap jalan di tempat. Interaksi-interaksi Maura – Ben dan chemistry mereka di masa adaptasi ini manis dan terasa feel-nya. Ada obrolan hangat dengan sepupu Maura, kedekatan Maura dengan Tante Dewi dan nenek dari Ben, acara tur jalan-jalan singkat bersama, memasak, adegan saling mengolok tentang kucing, hingga pesta ulang tahun Ben membuat kisah ini romantis bak kisah romance lain. Sayang, sesudah kisah manis, ada badai menerjang. Ben marah besar ketika Maura tak memberitahunya tentang penampilannya bersama tim belly dance di sebuah acara privat pesta anniversary pernikahan orangtua seorang kawan. Dari sinilah sempat terucap usul perceraian dari Maura yang tersulut emosi dan kekecewaan atas sikap Ben. Akankah kisah mereka berakhir bahagia? Cukupkah usaha gigih Maura untuk menaklukkan hati Ben yang masih terlihat enggan membuka untuknya?



REVIEW:
                Dari sisi karakter, perpaduan dua karakter utama yang bertentangan menjadi pembangun utama novel. Ben: kedua orangtuanya meninggal dan lantas tinggal bersama tante, om, dan neneknya, kurang supel, agak labil, punya masalah dengan tantenya karena asumsi yang salah atas sikap sang tante dan masa lalu kedua orangtuanya. Secara fisik, Ben digambarkan tinggi, cukup rapi meskipun nggak terlampau stylish, sorot matanya datar tapi terkesan tajam, dengan warna iris sekelam batu obsidian, rambut hitam agak ikal dan mulai memanjang—yang kadang kala sebagian belakangnya diikat tinggi sehingga terkesan seksi bagi Maura. Maura: cerdas, mandiri, tergolong supel dan penyayang keluarga, dewasa, tegas, pintar memasak, penyayang kucing, selain karyawan kantoran juga menjadi instruktur belly dance di sebuah gym. Dilihat dari fisik, Maura digambarkan cantik, berpostur bagus, berambut panjang keriting yang acapkali dibiarkan tergerai. Juga ada tokoh-tokoh lain yang turut memberi andil bagi jalan cerita. Ada Agatha sahabat baik dan rekan kerja Maura yang selalu bersikap mendukung. Juga Tante Dewi yang keibuan, Om Reno yang meski kurang tereksplor tapi menampilkan sosok om yang baik, Nenek yang suka bandel dalam hal menjaga pola makan. Bayu yang sikapnya misterius dan terkesan tak bersahabat terhadap Maura, Riri teman akrab Ben yang juga tak bersahabat terhadap Maura tapi kurang dijelaskan alasannya, Devina sang mantan kekasih Ben yang walaupun kemunculannya hanya sebentar tapi cukup menentukan jalan cerita, Kelana yang asyik, dan tokoh-tokoh pendukung lain. Saya suka dan cukup puas dengan deskripsi penulis atas semua tokoh, plus poin penyebutan kemiripan beberapa tokoh dengan tokoh-tokoh dalam film terkenal. Misalnya Maura yang disebutkan berambut mirip tokoh utama film kartun “Brave” dan salah satu ciri fisik Nenek yang dikatakan mengingatkan Maura akan tokoh Mags dari film “The Hunger Games: Catching Fire”, membuat saya lebih mudah membayangkan.
Setting utama kota Surabaya bernilai plus di mata saya karena sebagian besar kisah romance kontemporer mengambil setting Jakarta. Pendeskripsian kota lewat acara tur ala Maura – Ben juga cukup brilian, selain penulis juga teliti dalam mendeskripsikan perkiraan waktu selama tur hingga terkesan masuk akal. Alurnya cepat, plot dengan konflik yang meskipun tergolong ‘biasa’ dan nggak ‘deramah’ tapi tetap membuat saya betah menikmati hingga akhir cerita. Ending pun memuaskan dan logis. Kover dengan warna cantik yang ‘fotogenik’, mengambil konsep yang menurut saya minimalis tapi mengena dengan tema cerita. Penulis pun rapi dan teliti, jarang sekali saya temukan typo. Gaya bercerita ringan, nggak ada sebutan ‘gue – lo’ walaupun setting di kota besar. POV orang pertama: aku dari sisi Maura pun tepat menurut saya, sehingga pembaca ikut merasakan penasaran dengan ‘kondisi hati’ Ben, apa yang dipikirkannya tentang Maura, sekaligus ikut merasakan roller coaster mood Maura. Kita juga akan dimanjakan dengan kutipan-kutipan cinta yang ciamik dan menyentuh di tiap awal bab.
Hal yang menjadi catatan saya antara lain ketiadaan cerita keluarga Maura. Hanya sempat disebutkan Teo sang adik lelaki Maura secara sekilas (dan saya bertanya-tanya apakah ini Teo yang sama dengan yang ada dalam judul lain seri Dark Love Grasindo?). Apakah mungkin penggambaran latar belakang keluarga Maura dianggap kurang terkait dengan konflik utama cerita? Juga sikap misterius dan kurang bersahabat dari Bayu dan Riri terhadap Maura. Nggak ada penjelasan pasti sehingga saya berakhir menduga-duga sendiri.
Secara keseluruhan novel ini page turner dan ditulis dengan baik. Sebagai pengalaman pertama menikmati karya Daisy Ann, saya merasa puas. Bahkan kemudian bertanya-tanya, apakah dua judul lain dari seri romance ini juga sebagus ini? Bisa jadi seri lengkap Dark Love memang layak dikoleksi oleh para pencinta romance.



“Bagian paling menyedihkan dari cinta adalah dua orang yang saling mencinta tak menjamin keduanya berakhir bersama selamanya. Dan tak selamanya dua orang yang berakhir bersama, berarti keduanya saling mencinta.” (hal. 28)
  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube