Selasa, 06 Maret 2018

Judul buku          : Berjalan Jauh
Penulis                : Fauzan Mukrim
Editor                 : Windy Ariestanty & Gita Romadhona
Penerbit              : Penerbit KataDepan
Tahun terbit         : Januari 2018, cetakan pertama
Tebal buku          : vi + 244 hlm; 13 x 19 cm

BLURB:
    “... Yang terpenting sebenarnya bukan seberapa jauh kau pergi, atau seberapa berbahaya tempat yang kau datangi itu, melainkan seberapa dalam kau bisa menemukan dirimu di mana pun kau berada.”

    Dalam Berjalan Jauh, kau akan menemukan banyak sisi cerita. Bisa jadi, sebenarnya kau sudah mengakrabinya, meski ketergesaan membuatmu gampang lupa.

    Berjalan Jauh
adalah rasa rindu yang disimpan dalam catatan-catatan hangat sekaligus doa yang panjang tentang masa depan yang masih dalam angan.

    Berjalan Jauh
berisi banyak cinta yang bisa kau gunakan dalam segala cuaca.

Sinopsis & Review:
    “Itulah mengapa aku menulis ini, Nak. Untuk mengenang kebaikan-kebaikan kecil orang lain yang mudah sekali terlupakan.” (hlm. 6)

    “Mel Gibson, bintang film Hollywood yang badannya besar itu pernah berfatwa, “Bila engkau ingin mengetahui titik lemah seseorang, biarkan saja dia berbicara sebanyak-banyaknya, sementara kau mendengarkan saja.” Dan, inilah aku melantur dan membual sepanjang ini, dengan tujuan yang sama: agar kau tahu kelemahanku.” (hlm. 55)

    Berisi lima puluh satu (51) judul, buku nonfiksi ini menyuguhkan bermacam sisi cerita. Disajikan ringkas, bahkan ada yang hanya dalam satu-dua halaman. Pemilihan judul ada kalanya sederhana tapi tetap menarik, dan ada juga yang unik. Meskipun menggunakan format seorang ayah yang bertutur kepada anak laki-lakinya yang masih kecil dalam catatan-catatan, ada kalanya penulis berusaha memandang suatu kisah dan mengambil hikmah atasnya dari sudut pandang orang lain. Sebuah usaha untuk berempati seraya menularkan pemahaman itu pada sang anak. Ada kalanya cerita yang dituturkan sederhana, dekat sekali dengan keseharian kita, tapi penulis mahir mengemasnya dalam gaya bercerita yang menarik, perumpamaan yang tepat, sekaligus menyisipkan pesan moral yang jelas dan mendalam. Mengingatkan kita akan kelalaian untuk mengambil ibrah atau tak sadar melupakan begitu saja berbagai hal di sekitar. Terkadang penulis lihai melibatkan kejadian yang sudah familier atau pernah kita baca dan dengar di media massa, tapi tak jarang juga mengangkat peristiwa bersejarah atau pengetahuan yang terlupakan atau kurang dikenal. Lantas, saya juga kerap dibikin terkaget-kaget dengan ‘twist’ alias kejutan di bagian akhir yang selintas tak terpikirkan di awal cerita.

    Penulis juga menuangkan kenangan berkesan masa silamnya baik yang membahagiakan maupun yang menyedihkan. Ibarat rasa rindu yang ingin dibagi dengan anaknya maupun pembaca. Juga harapan-harapan akan masa depan, lewat peristiwa-peristiwa yang dialami di masa kini. Tentu saja, dengan hikmah yang diselipkan. Beberapa hikmah disarikan juga dari ajaran agama.

    Membaca Berjalan Jauh, saya dibikin tertawa dan tersenyum lebar oleh cerita yang terkesan konyol, perumpamaan yang menggelikan tapi cerdas, sekaligus terenyuh hingga menitikkan airmata. Bahkan merasa tersentil juga dengan sindiran-sindiran tak langsungnya. Hampir semua cerita awalnya terkesan melantur dan melebar ke mana-mana, diselipi detail-detai yang terkesan tak berkaitan dengan pesan yang ingin disampaikan, tetapi saya menilai penulis sengaja melakukannya agar sang anak mengenalnya sedemikian rupa, hingga menemukan kelemahan, kelebihan, apa yang disukai dan tidak disukai.

    Saya suka semua ceritanya, tapi tetap ada yang lebih favorit dari yang lain. Sebut saja cerita berjudul “Hari yang Berat”, yang mengenalkan sosok berempati tinggi, meski kebaikannya terkesan sepele, yakni bersikap santun pada orang asing, yang bahkan tak bertatap muka dengannya secara langsung. Serupa dengan cerita “Suaka bagi Hal-Hal Baik”, tentang orang yang tanpa sadar telah melestarikan hal-hal baik dalam dirinya, di kala kebaikan itu mulai menjadi hal langka di negeri ini. Juga cerita “Dua Ayah yang Tidak Mengobrol Bola” yang tak saya duga mengangkat topik tentang hubungan ayah-anak yang diwarnai kekecewaan akan pola pengasuhan yang salah. Menyentuh, membuat siapa pun berkaca akan hubungannya dengan orangtua sendiri, disertai hikmah mendalam yang tak terpikirkan. Dan cerita “Ikut Jumatan”, yang sangat singkat tapi langsung membuat saya tersentil dan teringat akan ibu saya. 

    Sebelum membaca hingga tuntas, saya tak berekspektasi tinggi terhadap buku ini. Tapi ternyata menjadi pengalaman membaca yang menyenangkan sekaligus menginspirasi. Blurb dan tagline-nya sesuai isi , yang banyak pula mengandung unsur parenting yang mendidik tanpa kesan menggurui. Membacanya bisa jadi tak bisa dalam sekali duduk dan pesannya membuat kita berpikir lama sesudah menamatkan. Saya juga yakin akan rela membaca ulang entah berapa kali lagi di masa yang akan datang. Fauzan Mukrim seems to be a good storyteller. Mungkin ada pengaruh juga dari profesinya sebagai jurnalis. Sekadar masukan, jika buku ini ada kelanjutannya, akan lebih menarik jika disertai koleksi foto pribadi atau ilustrasi keseharian ayah-anak.

Kutipan-Kutipan Favorit:
    Selain menghibur, Berjalan Jauh juga memuat pernyataan-pernyataan inspiratif, baik dari penulis sendiri, berkaitan dengan cerita yang dituturkan, maupun pernyataan orang lain termasuk dari tokoh-tokoh terkenal. Berikut adalah beberapa yang saya suka.

    “Kita kaktus, Nak. Itu artinya kita akan bertahan, tanpa harus mengabaikan atau menganggap yang lain tak penting.” (hlm. 21)

    “... sesuatu yang terlihat tidak efisien, memperlambat atau menyiksa, sering kali diperlukan untuk melatih diri kita sehingga terhindar dari kutukan zona nyaman. Zona yang ujung-ujungnya hanya akan membawa kerusakan dan silang sengkarut.” (hlm. 59)

    “... betapa sering kita memelihara rubah dalam diri kita. Ketika kita kehilangan kuasa pada sesuatu, kita menyalahkannya. Atau setidaknya merendahkannya bahwa dia memang sama sekali tak berarti untuk kita. “ (hlm. 75)

    “Pagliacci dalam diri kita lalu pergi menemui dokter, atau siapa pun yang kita anggap pintar, yang justru menyarankan kita untuk bertemu dengan diri kita sendiri. Itulah jalan kebahagiaan. Kita tahu arahnya. Kita hanya sering kali lupa. Sering kali merasa teralienasi.” (hlm. 101)

    “Sayangi ibumu selalu. Untukmu, dia telah menyediakan dua tempat terbaik. Sembilan bulan dalam perutnya dan seumur hidup dalam doanya.” (hlm. 115)

    “Keberanian adalah ketakutan yang sudah berdamai.” (hlm. 133)

    “Untuk meraih impianmu, cukup dengan menempatkan kedua kakimu bergantian di depan.” (hlm. 150)

    “Kata film Korea, kau tak akan pernah tahu kesedihan seorang ayah, karena airmatanya hanya akan menetes di gelas kopinya.” (hlm. 221)

    “Berkotor-kotor berkeringat untuk memenuhi piring nasi orang yang dicintai dengan makanan yang halal, adalah sebenar-benar panggilan jiwa.” (hlm. 232)
   

Soulmate in Samarkand: Pencarian Cinta Sejati dan Jati Diri

Posted by Menukil Aksara | 1:35:00 PM Categories:
Judul buku                : Soulmate in Samarkand
Penulis                      : Astrid Tito & El Devi
Editor                       : Birulaut
Penerbit                    : RDM Publishers
Tahun terbit               : Februari, 2018, cetakan pertama
Tebal buku                : 233 hlm.

BLURB:
    Wanita cantik itu membuka syal yang melingkari leher jenjangnya. Ia memperlihatkan tato barunya. Gambar dua sayap dengan nama Wangsa Cahaya terpatri di lambang itu. Gambar abadi itu ia sematkan dengan cinta di kulitnya yang seputih susu.

    Tapi ekspresi Wangsa justru di luar dugaan. Ingatan Wangsa malah tertarik seutuhnya pada pesan sang paman. “Pasangan jiwamu sangat cantik. Ia akan melindungimu dengan ‘sayap’nya.” Apakah Caroline, wanita di hadapannya-lah yang ditakdirkan menjadi pasangan jiwanya? Seperti tato bergambar sayap itu?

    “It’s my first tattoo, My first love. Aku sengaja menaruhnya di leher, agar kamu begitu dekat. Aku yakin, Daddy pasti mengizinkan hubungan kita sampai kita menikah.” Ucap Caroline lagi. Namun perjalanan Wangsa ke Samarkand mengubah segalanya.

    Di bumi Uzbekistan itu ia terpesona dengan Nicol, street musician cerdas. Jatuh hati pada Zilola, wanita sexy yang kaya raya. Serta takluk pada Amaranggana, wanita cantik dan gesit, namun bisu dan tuli.

    Lalu, siapakah pasangan jiwa Wangsa yang sebenarnya? Ini bukan sekedar kisah pencarian pasangan jiwa. Ini adalah kisah pencarian cinta sejati dan jati diri.

Sinopsis:
    “Apa yang telah terjadi adalah takdir-Nya. Badai datang, maka pepohonan akan memperkuat akarnya.” (hlm. 126)

    “Semua bayi harus jatuh dulu sebelum bisa benar-benar berdiri.” (hlm. 159)

    Wangsa Cahaya yatim piatu semenjak kanak-kanak. Dia tumbuh besar bersama pamannya, Wangsa Cakra yang sekaligus mengajarinya ilmu beladiri pencak silat. Sebenarnya, Wangsa adalah nama klan keluarga dan anggota keluarga yang lain disapa dengan nama kedua, kecuali Wangsa Cahaya yang disapa Wangsa. Menginjak remaja, Wangsa menuai berbagai prestasi sebagai atlet pencak silat nasional, bahkan di kompetisi tingkat internasional. Namun, Wangsa tak puas, apalagi ketika merasa negara kurang mengapresiasi profesi atlet. Dia pun memutuskan berpindah kewarganegaraan dan mencoba peruntungan sebagai stuntman dalam film-film Hollywood lewat seorang relasi. Itu pun tak terlampau lama, ketika dia tergiur tawaran seorang konglomerat Indonesia untuk menjadi bodyguard putri kesayangannya yang seorang supermodel dengan bayaran sangat tinggi. 

Kemewahan hidup melenakan Wangsa dari aturan-aturan agama, demikian juga kedekatannya dengan putri sang konglomerat, Caroline. Ia nyaris melamar Caroline, ketika gadis cantik itu menunjukkan tato bergambar sayap dengan ukiran nama Wangsa di bagian tubuhnya. Wangsa mendadak teringat pernyataan Paman Cakra, menyusul kabar mengejutkan mengenai sang paman yang terbaring di ruang intensif sebuah rumah sakit. Yang lebih menyesakkan, Paman Cakra kemudian meninggal secara tragis tanpa Wangsa ketahui dengan pasti penyebabnya. Berbekal wasiat sang paman untuk menyerahkan sebuah plakat kepada Wangsatanu Sulaymanov di Samarkand, bertolaklah Wangsa ke bumi Uzbekistan, meninggalkan Caroline yang mendendam.

Baru menjejakkan kaki di Samarkand, Wangsa berkenalan dengan Zilola, seorang gadis cantik kaya raya dalam sebuah insiden. Ketika akhirnya berhasil menemukan perguruan di mana Wangsatanu Sulaymanov berada, Wangsa justru dibuat bingung dengan sebuah pertanyaan sederhana yang dilontarkan, namun tak mampu dijawab dengan benar. Begitu juga dua laki-laki dan seorang perempuan yang sempat menyerangnya tiba-tiba di perguruan. Merasa dipermainkan, Wangsa pun pergi sebelum sempat menyerahkan plakat.
Selepas itu, Wangsa bertemu seorang seniman jalanan cerdas yang mengaku bernama Nicol. Tak disangka, Wangsa kehilangan segala harta benda sesudah kebersamaan singkat dengan Nicol, diikuti perkenalan dengan Boris dan Levi, yang menambah masalah. Wangsa pun terlunta-lunta di jalanan, hingga di titik terendahnya tiga orang dari perguruan Sulaymanov yang pernah beradu fisik dengannya menemukan dan menolong. Temur Bek, Ammer de La Ray, dan Amaranggana, mereka ternyata murid-murid Wangsatanu Sulaymanov. Seiring waktu, Wangsa mulai berbaur dan berguru di perguruan Sulaymanov. Bahkan dia memiiki ketertarikan pada Amara, gadis bisu tuli misterius yang selalu bersarung tangan hitam, berilmu beladiri tinggi dan berpakaian ala ninja namun berhati emas.

Hingga sebuah pemaparan tentang jati diri Wangsatanu Sulaymanov, latar belakang Klan Wangsa yang berseteru dengan Klan Hassis, juga rencana perjodohan Wangsa dengan Amara, membuat Wangsa  tak bisa menerima begitu saja. Dia memilih menjauhkan diri sementara waktu ke Tashkent, di mana dia kembali berjumpa Zilola. Tapi kehadiran Levi dan terbongkarnya kedok Zilola dan Levi, menyusul sebuah pertarungan sengit memaksa Wangsa kembali ke perguruan Sulaymanov dalam kondisi fisik yang tak lagi sempurna. Wangsa nyaris putus asa karena tak bisa menerima takdir-Nya. Sedangkan Amara, Temmur, dan Ammer terus berusaha membangkitkan kembali semangat hidup dan menyadarkan Wangsa. Hingga suatu hari, terungkaplah rahasia masa kecil Wangsa yang berkaitan dengan Amara. Wangsa pun harus memilih, apakah melanjutkan perjuangan keluarga untuk membasmi mafia besar Klan Hassis atau kembali ke kehidupan lamanya yang bergelimang harta dan akrab dengan maksiat.

REVIEW:
    “Hidup memang permainan semata. Tapi bukan untuk dimain-mainkan... “ (hlm. 146)

    “... Setiap tekanan, setiap kesedihan dan setiap kekecewaan yang diberikan-Nya, sama sekali bukan untuk melemahkan dan menghancurkan manusia. Sebaliknya, malah membuat kita lebih kuat. Tekanan semakin besar, maka kekuatan semakin besar. Akhirnya akan menghancurkan semua batu dalam hidup.” (hlm. 203)

    Mengenai karakter tokoh utama, Wangsa Cahaya, saya antara tidak suka dengan bersimpati atas perjalanan hidupnya. Dia sosok yang lemah bila menyangkut harta dan perempuan cantik. Fisiknya yang rupawan, dibekali kemampuan beladiri memang logis menjadi ujian bagi dirinya sendiri maupun para wanita. Tapi perkembangan karakternya menjadi fokus dan pesan moral utama cerita sehingga bisa saya terima. Saya suka dengan sosok Paman Cakra dan Kakek Sulaymanov yang bijak dan meletakkan pondasi prinsip bagi Wangsa, meski seringkali dilanggar juga, hehe... Dan, tokoh yang paling favorit tentu saja Amara, gadis dengan penampilan tak biasa, mampu mengubah kekurangannya menjadi kelebihan. Karakter perempuan yang kuat.

    Seting di beberapa kota, Jakarta, Sumedang, Singapore city, hingga Tashkent dan Samarkand jelas menarik. Pilihan POV orang ketiga pun membuat penulis leluasa mendeskripsikan detail seting, beserta nuansa religi, sejarah, budaya, dan kuliner yang menyatu dengan plot cerita. Karena salah satu penulis pernah berkunjung ke bumi Uzbekistan, menurut saya ‘rasa’ yang disisipkan menjadi poin plus. 

    Alur cerita cepat, menggunakan campuran alur maju-mundur dengan jalinan plot yang cukup kompleks. Ibarat kepingan puzzle yang harus saya satukan satu per satu untuk menyusun gambaran utuh cerita yang menarik. Alur cepat ini selain jadi poin plus, berisiko juga sebenarnya, terutama bisa jadi membuat pembaca kurang terikat dengan emosi tokoh. Di momen sedih, misalnya, kadang terasa cepat lewat dan kurang gereget. Meski saya turut merasa sangat gemas setiap kali Wangsa diberi ujian hidup, lantas harus disemangati dan disadarkan orang-orang terdekat. Memang bandel sih, ya, Wangsa ini, hehe...

    Diksi yang digunakan mudah dipahami, dialognya natural dengan sedikit unsur bahasa asing sesuai karakter tokoh. Hanya saja, saya masih mendapati typo, kesalahan ejaan, dan kalimat-kalimat yang menurut saya bisa lebih efektif. Deskripsi seting maupun karakter tokoh juga seharusnya bisa lebih ‘showing’ ketimbang ‘telling’.

    Secara keseluruhan, novel ini bertema dan berpremis menarik, menawarkan petualangan dan aksi membasmi mafia narkoba yang seru. Pesan moral bagus, beberapa di antaranya mengutip ayat dan hadits. Ending-nya juga logis dan bisa saya terima. Recommended bagi para pembaca penyuka genre religi dengan sentuhan yang beda dan kadar romance yang tidak dominan.

Kamis, 01 Maret 2018

Salt to the Sea: Tragedi Terlupakan dan Korban Perang yang Terbungkam

Posted by Menukil Aksara | 12:23:00 PM Categories:
Judul buku           : Salt to the Sea
Penulis                 : Ruta Sepetys
Alih bahasa          : Putri Septiana Kurniawati
Editor                  : Fidyastria Saspida
Penerbit              : PT Elex Media Komputindo
Cetakan              : pertama, 2018
Tebal buku          : 369 hlm.

BLURB:   
    Tahun 1945. Perang Dunia II merambah Prusia Timur. Jutaan pengungsi pergi mencari tempat aman. Di antara mereka terdapat empat orang dengan kisah dan rahasia yang berbeda.

    Takdir mempertemukan keempatnya di Wilhelm Gustloff, kapal megah yang menjadi tempat mereka menggantungkan harapan bersama lebih dari sepuluh ribu penumpang lainnya.

    Tapi sebelum kebebasan sempat diraih, tragedi besar pun terjadi. Tak peduli dari negara mana mereka berasal dan status apa yang mereka sandang, ribuan penumpang kapal harus berjuang keras melakukan satu hal: bertahan hidup.

SINOPSIS:
    “Kami para penyintas, bukanlah saksi yang sesungguhnya. Para saksi sesungguhnya, yang tahu kebenaran yang tak terungkapkan, adalah orang-orang yang tenggelam, mati, dan menghilang.”
--Primo Levi

    “Jerman menginvasi Rusia tahun 1941. Selama empat tahun terakhir, kedua negara itu sudah melakukan kekejaman yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, tidak hanya ke satu sama lain, tapi juga ke penduduk sipil tak bersalah yang menghalangi jalan mereka.”
(hlm. 21)

    “Kecemasan semakin meningkat di pelabuhan seiring setiap menit yang berlalu. Ada rumor yang beredar bahwa garis depan Jerman sudah tumbang dua minggu lalu... Komando Tertinggi Jerman segera mengatur evakuasi besar-besaran lewat jalur perairan. Mereka menyebutnya Operasi Hannibal... “ (hlm. 61)

    Berlatar tahun 1945 di masa Perang Dunia II berkecamuk. Joana, seorang perawat muda berkebangsaan Lituania yang pernah menjalani pelatihan medis di Insterburg berada dalam perjalanan pengungsian, mencari tempat aman dari serangan militer Rusia. Dia tak sendirian. Bersama rombongan kecil yang di dalamnya ada seorang gadis buta bernama Ingrid, seorang bocah lelaki yang dijuluki pengembara kecil bernama Klaus, wanita bertubuh raksasa yang gemar berkata-kata kasar tapi diikuti kata ‘maaf’, dan Pak Tua Heinz si pujangga sepatu. Ketika sedang berlindung di sebuah lumbung, rombongan ini dipertemukan dengan dua pengelana asing; seorang pemuda misterius berpakaian sipil memegang pistol dan seorang gadis berambut pirang dan bertopi rajut merah muda. Pemuda itu adalah Florian, yang terlibat satu rahasia besar negara, merupakan murid restorasi sang direktur museum Konigsberg, Dr. Lange, dan mengenal petinggi Nazi, Erich Koch beserta harta berharga Ruang Amber. Dia tak mau jujur tentang identitasnya kepada siapa pun, sehingga mengundang curiga, terutama Eva yang menuduhnya seorang pembelot dan Ingrid yang menyebutnya pencuri. Sedangkan Emilia adalah warga Lwow, Polandia, yang sempat mengungsi ke Nemmersdorf dan sebatang kara. Sudah diketahui umum bahwa Hitler sangat merendahkan bangsa Polandia bahkan membantai mereka. Oleh karenanya, kehadiran Emilia tak diinginkan dalam rombongan.

    Walaupun Joana sudah membantu mengobati luka seriusnya, Florian tetap bertekad pergi memisahkan diri dari rombongan. Emilia yang semenjak diselamatkan dari tentara Rusia oleh Florian menganggapnya kesatria penyelamat, tak mau ditinggalkan dan membuntuti. Namun takdir ternyata mempertemukan keduanya kembali dengan Joana dan rombongannya. Joana dan Florian bahkan dikejutkan oleh fakta baru yang terungkap mengenai kehamilan Emilia yang ditutup-tutupi. Emilia sempat menyebut-nyebut nama August, yang diduga kekasihnya oleh anggota rombongan. Sesudah bermalam di sebuah estat terbengkalai, rombongan ini melanjutkan perjalanan menuju laguna es. Mereka harus melewati pos pemeriksaan desa terdekat sebelum menyeberangi laguna, bersama jutaan pengungsi lain yang mulai berdatangan pasca dikeluarkannya perintah evakuasi Operasi Hannibal. Emilia yang tak memiliki berkas, diminta menyamarkan diri sebagai wanita Latvia dengan identitas yang ditemukan Joana. Florian pun menyiapkan berkas rahasia penting agar lolos dari pemeriksaan. Hal ini membuat anggota rombongan semakin penasaran akan siapa sebenarnya Florian.

    Di laguna es, tragedi terjadi. Pesawat-pesawat tempur Rusia membombardir sehingga ada bagian es yang retak, bahkan menewaskan pengungsi yang sedang menyeberang. Tak ada waktu berduka. Mereka harus terus berjalan demi bertahan hidup. Dan ketika Florian berhasil mendapatkan perahu untuk menuju Gotenhafen, Joana dan rombongan menguntit dan menuntut ikut. Sesampainya di pelabuhan, jutaan pengungsi berdesakan, berebut tempat di kapal-kapal yang disiapkan untuk mengangkut mereka. Rombongan kecil Joana bertekad tak akan terpisahkan. Florian yang merasakan ketakutan tersendiri akan identitasnya yang bisa terbongkar dengan penjagaan yang lebih ketat, memanfaatkan Alfred, seorang pelaut muda yang tampak ambisius mendapatkan pengakuan tapi bodoh. Lewat bantuan Alfred dan beberapa orang lainnya, Florian berhasil menaiki Wilhelm Gustloff menggunakan karcis kapal palsu. Seorang prajurit berwenang sempat mencurigainya tapi dia berhasil lolos dari interogasi. Di atas kapal pun, Florian memilih bersembunyi di tempat yang tak umum, bukan bergabung dengan penumpang lain. Joana mendapatkan kemudahan akses berkat keahlian medisnya yang dibutuhkan dokter yang bertugas.

    Di atas kapal, Emilia secara tak diduga menjalani persalinan dini dan melahirkan seorang bayi perempuan. Di saat inilah rahasia tentang apa yang dialaminya di Nemmersdorf terungkap. Di lain sisi, Joana marah atas kebohongan Florian kepada prajurit berwenang yang melibatkan namanya. Meski demikian, dia memutuskan percaya bahwa Florian bukan pria jahat, apalagi setelah menyaksikan kebaikannya pada Emilia dan bayinya. Ketika gelagat buruk menunjukkan kehadirannya telah terendus Koch, Florian mempersiapkan diri lebih baik. Namun, kapal tiba-tiba oleng, lampu darurat menyala, alarm berdering, menyusul suara bum hebat. Florian dan yang lain segera tahu bahwa Wilhelm Gustloff akan karam, membawa serta lebih dari sepuluh ribu penumpangnya. Jerit kepanikan dan huru-hara pun terjadi. Para pengungsi berlomba-lomba menuju sekoci penyelamat demi hidup masing-masing. Tapi tak semua orang beruntung dengan nyawanya.

REVIEW:
     “Selama berminggu-minggu dalam pelarian, aku membayangkan semua kemungkinan. Aku sudah memperhitungkan bermacam cara aku akan mati... Tapi aku tidak pernah membayangkan kejadian ini. Bagaimana bisa kita melawan penderitaan berkepanjangan yang begitu menyiksa dengan mengetahui bahwa kita akan menyerah pada lautan?” (hlm. 337)

    Seingat saya, ini adalah kali pertama saya membaca novel fiksi sejarah karya penulis luar, apalagi dengan tokoh utama berusia belasan hingga awal dua puluhan tahun. Gaya berceritanya pun terbilang menarik. Dikisahkan secara naratif menggunakan sudut pandang orang pertama secara bergantian dari empat tokoh utama yang berbeda bangsa dan status: Joana, Florian, Emilia, dan Alfred. Tidak ada pembagian memakai bab, melainkan per tokoh bergiliran, terbagi dalam beberapa fragmen pendek yang dalam edisi terjemahan ini hanya menghabiskan satu hingga dua halaman. Semua adegan dan sisipan fakta-fakta sejarah yang terjadi selama Perang Dunia II digambarkan oleh masing-masing tokoh, melibatkan emosi yang mereka rasakan. Ruta Sepetys ingin pembaca melihat perang dari mata anak-anak muda dari negara yang berbeda, yang dipaksa meninggalkan semua yang dicintai. Saya sangat menghargai pilihan ini. Meski  demikian, pilihan ini juga mengandung risiko. Sebagai contoh utama adalah ketika konflik mencapai klimaks, yakni detik-detik tatkala Wilhelm Gustloff karam dan ribuan penumpangnya berjuang melawan kematian, saya kurang bisa merasakan aura mencekam secara klimaks. Bukan karena deskripsi dan diksinya kurang bagus, tapi menurut saya ini disebabkan narasi yang digunakan lewat empat orang berbeda secara bergantian, secuil-secuil. Ibarat ketika menonton film, kamera beralih-alih sorotan, dari Joana, ke Florian, ke Emilia, lantas ke Alfred dalam jangka waktu singkat. Ketika saya sedang siap terhanyut oleh emosi satu orang, tiba-tiba sudah harus berpindah emosi ke orang lainnya yang tentu saja berbeda auranya. Ini memang cukup memengaruhi emosi saya saat membaca.

    Deskripsi seting secara keseluruhan mendetail, tak perlu diragukan keotentikannya, terutama riset yang dilakukan Sepetys untuk novel ini tidak main-main. Butuh waktu bertahun-tahun dengan mengunjungi langsung kota-kota dan tempat-tempat kejadian, juga menemui dan mewawancarai narasumber yang menjadi saksi hidup sejarah. Salut dengan dedikasi ini. Dan, menurut penilaian saya setelah membaca catatan penulis di akhir, keempat tokoh utama dan beberapa tokoh lain dalam cerita sebenarnya terinspirasi dari tokoh-tokoh nyata yang sempat mengalami sendiri maupun diceritakan saksi sejarah yang masih hidup.

    Jika ditanya siapa tokoh favorit, saya sedari awal sudah bersimpati kepada Emilia. Meskipun seorang diri, ketakutan, masih sangat muda, dan menanggung beban berat, meminjam julukan Florian, Emilia memang sosok pejuang hingga akhir. Selain itu, kehadiran sosok kanak-kanak, Klaus si pengembara kecil juga mengaduk-aduk emosi. Tokoh seperti Heinz si pujangga sepatu pun sangat berkesan, walaupun dia tidak menjadi sorotan utama. Secara keseluruhan, Sepetys berhasil menciptakan masing-masing tokoh beserta rahasia yang diungkapkan perlahan, menjaga keingintahuan pembaca hingga akhir. Bahkan Alfred yang kurang saya sukai sejak awal karena tidak jelas perannya, menyuguhkan kejutan tak terduga, terutama mengenai sosok Hannelore yang kerap disebutnya. Keempat pemuda ini mewakili sosok-sosok manusia biasa yang putus asa akan masa depan tapi diam-diam menyimpan sisa-sisa harapan akan kehidupan yang lebih baik usai perang. Rasa kehilangan mereka akan tanah air dan orang-orang terkasih pun terasa. Yang meleset dari tebakan awal saya justru kisah mereka di atas kapal yang saya kira akan lebih panjang durasinya dibandingkan kisah selama perjalanan darat, juga nasib misi rahasia Florian terkait Ruang Amber.

    Ini merupakan pengalaman membaca yang berkesan dan menginspirasi. Dengan membaca fiksi sejarah, apalagi yang mengangkat sejarah dunia semacam ini, pembaca diajak bersatu dalam bermacam kisah, pembelajaran, dan kenangan dari berbagai belahan dunia yang mungkin terlupakan. Saya juga jadi belajar dari masa lalu, mengenai bagaimana perang dan dampaknya secara luas. Terjemahan bahasa Indonesianya pun memuaskan dan terdapat 'bonus' peta di dalam buku. Truly recommended.

    “Saat para penyintas telah tiada, kita tidak boleh membiarkan kebenaran menghilang bersama mereka.”
    --Ruta Sepetys


 

Selasa, 27 Februari 2018

Labirin: Melepas Tak Sama dengan Melupakan

Posted by Menukil Aksara | 3:35:00 PM Categories:
Judul buku            : Labirin
Penulis                  : Aci Baehaqie
Penyunting            : Jia Effendie
Penerbit               : Bhuana Sastra (BIP Gramedia)
Tebal buku           : 357 hlm
Cetakan               : pertama, 2017

BLURB:
    Berbagai episode hidup telah dilewati Ayla, hingga pada suatu saat, ia membuat satu keputusan yang membawanya pada penyesalan panjang dan menyeretnya menuju sebuah labirin yang rumit. Labirin masa lalu itu harus ia lewati satu per satu, sehingga pada akhirnya, ia bisa menemukan jalan keluar, dan dengan rela melepaskan bagian yang amat berharga dalam hidupnya...

SINOPSIS:
    “Aku tidak akan berbohong... Kisah ini mungkin bukan romansa yang kamu harapkan. Bukan pula kisah percintaan romantis yang kamu inginkan. Justru, ini hanya kisah dia yang terbelenggu oleh patah hatinya sendiri. Sederhana saja... Aku ingin mempersembahkan kisah ini untukmu. Kamu yang mungkin belum mampu atau bahkan belum mau untuk berdamai dengan masa lalu... “
--Aci Baehaqie

“Labirin adalah sebuah puzzle dalam bentuk percabangan jalan yang kompleks dan memiliki banyak sekali jalan buntu.” (hlm. 340)

Aku memang terlalu bodoh untuk mengerti sebuah aturan mendasar untuk bermain di dalam sebuah labirin. Mencari dan menghafal sebelum waktu yang kumiliki semakin habis. Waktu yang sangat singkat itu, malah kupergunakan untuk tenggelam dalam kenangan, bukannya mencari jalan menuju rumah.” (hlm. 341)

Ini kisah tentang Ayla dan masa lalunya. Ketika masih belia, Ayla bersahabat dengan Emi dan Igo. Persahabatan yang mampu bertahan hingga mereka menginjak usia dewasa. Ayla juga dikenalkan dan dekat dengan sepupu Emi, pemuda blasteran Italia bermata hazel yang baik hati bernama Anthony. Kedekatan yang lantas berubah menjadi cinta. Cinta itu pun lantas diuji dengan berbagai masalah dalam kehidupan. Salah satunya dan yang terbesar adalah masalah perbedaan agama antara Ayla yang Muslim dan Anthony yang Katolik. Seolah mengulang ‘kesalahan’ yang pernah diperbuat mendiang kakak laki-lakinya, kisah cinta Ayla ini jelas ditentang sang ayah. Tak hanya itu, persahabatannya dengan Emi pun turut diuji. Emi terperangkap jebakan narkoba karena kurang perhatian orangtua sekaligus terjerumus pergaulan bebas yang buruk. Ketika Emi sedang dalam titik terendah hidupnya ini, ayah Ayla memberikan pilihan sulit. Ayla sempat bertekad tak akan pernah pergi dari sisi Emi maupun Anthony, tapi dia juga tak kuasa mengecewakan orangtuanya. Selain itu, dia sempat mendapatkan peluang beasiswa untuk berkuliah di benua lain, di kampus ternama dunia. Sebuah kesempatan emas yang nyaris dia lepaskan demi persahabatan dan cinta. Hingga di satu titik, Ayla pun akhirnya memilih tetap pergi, beberapa waktu kemudian.

Kisah lantas bergulir hingga terkuak kehidupan Ayla dewasa yang bekerja di sebuah perusahaan arsitektur bonafit, Larry & Amelie Architecture and Planning inc. yang berbasis di Singapura, sesuai bidang keilmuannya. Dia kerap melanglang dunia demi pekerjaan, bertemu aneka macam orang yang menjadi klien, atau secara tak sengaja berkenalan dengan orang-orang asing yang menorehkan kenangan. Tapi, sesungguhnya Ayla belum mampu melepaskan diri dari bayang-bayang masa lalu, terutama penyesalan akan keputusan yang menyebabkannya kehilangan orang-orang tersayang. Hingga suatu hari, dia dipertemukan kembali dengan Igo yang telah menjadi seorang perancang busana yang mulai mendunia, juga Dio dan Kayla yang merupakan kawan-kawan semasa kuliah di Bandung. Dari sinilah satu per satu orang dari masa lalu dijumpainya kembali, termasuk Emi dan Anthony yang sudah putus kontak selama bertahun-tahun. Ayla pun sedikit demi sedikit berusaha keluar dari labirin masa lalunya, berdamai, dan memperbaiki hubungan persahabatan yang lama merenggang.

REVIEW:
    “Dalam hidup, terkadang tidak penting bagaimana kamu memulainya, yang terpenting adalah bagaimana kamu mengakhirinya. Berhasil atau tidak tergantung perspektifmu.” (hlm. 92)

    “Rahasia kebahagiaan saya adalah karena tidak satu keputusan pun di dalam hidup saya, yang kemudian saya sesali. Tidak ada sama sekali. Karena itu, tidak ada bayangan masa lalu yang mengejar dan menghantui saya.” (hlm. 302)

    “Ada begitu banyak hal yang indah ketika kita tersesat, yaitu saling menemukan. Mungkin bukan menemukan seseorang yang selalu aku tunggu. Namun, setidaknya aku berhasil menemukan diriku sendiri.” (hlm. 340)

    Sesuai ‘warning’ penulis di kover belakang dan halaman awal, saya sejak awal tak berekspektasi akan kisah romansa yang manis. Dan benar saja, novel yang memakai sudut pandang orang pertama (Ayla/aku) ini benar-benar seperti labirin atau puzzle berceceran yang harus saya susun dan rapikan agar berhasil mendapat jalan keluar. Dikisahkan secara acak dalam segi seting waktu, menggunakan sistem penanda bulan dan tahun di awal tiap pergantian momen adegan. Ya, alurnya berjalan campuran, maju dan mundur, berkisar antara tahun 2001 hingga tahun 2018. Membaca novel dengan alur campuran yang acak seperti ini jelas sebuah tantangan, karena saya harus pandai mengingat atau menghafal rentetan kejadian dan hubungannya satu sama lain hingga akhirnya menjadi satu kisah utuh yang bisa dipahami.

    Dari segi seting, sesuai profesi Ayla yang tadi saya sebutkan, ada banyak kota dari berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia yang menjadi latar cerita. Juga disajikan detail desk job, rancangan bangunan, dan team work di perusahaan di mana Ayla bernaung. Deskripsinya saya nilai cukup baik, tak lupa bersenyawa dengan alur, plot, dan pesan yang ingin disampaikan, jadi tidak asal digambarkan indah atau berkesan saja. Selain itu, dalam perjalanan itu Ayla juga bertemu banyak sosok asing yang tak sekadar ‘lewat’, tapi menorehkan berbagai kisah dan pesan hidup masing-masing. Ini juga jadi poin plus novel. Beberapa tokoh yang berkesan bagi saya, antara lain sang filantropis Thomas Grey, Nyonya Chen, dan lelaki tua di Rotterdam.

    Perihal sosok Ayla sebagai tokoh utama, saya tak bisa bilang benar-benar menyukainya. Dia seolah mewakili perempuan kebanyakan yang sekilas tampak sukses dan mapan, tapi menyimpan luka dalam hati dan berusaha untuk mengobati diri. Begitu juga halnya dengan Emi dan Igo yang memiliki rahasia masing-masing. Mungkin sosok yang terbilang charming adalah Anthony, meskipun dia tetap punya kekurangan. Penulis juga menciptakan konflik rumit dengan isu yang sensitif untuk diangkat dalam kisah fiksi, antara lain cinta berbeda agama, lingkaran setan narkoba, pergaulan bebas, kekerasan dalam hubungan pasangan, hingga dilema tentang orientasi seks yang berbeda pada diri Igo dan makna cinta sejati. Emosi yang tercipta lewat pergulatan batin, konflik antartokoh, hingga interaksi persahabatan tiga sekawan dalam novel terasa.

Selain kalimat yang berasal dari dialog antartokoh, penulis juga selalu mengawali tiap bab dengan mengutip kalimat-kalimat penuh makna, entah berasal dari film maupun drama seri, yang kemungkinan menjadi favoritnya sekaligus mengena dengan alur cerita. Bagi kamu yang suka menandai kutipan dalam novel, dijamin kamu akan suka dan menilai novel ini ‘quoteable’.

Secara keseluruhan, ini merupakan novel dengan pilihan topik yang berani dan dieksekusi dengan cukup baik, sehingga tak terkesan dangkal. Novel yang menggambarkan hidup sebagai sebuah perjalanan, baik secara harfiah maupun simbolis. Dan, sebagai debut dari penulisnya, karya fiksi ini sama sekali tidak mengecewakan. Saya menunggu karya-karya selanjutnya dari Aci Baehaqie.
   

Among the Pink Poppies: Ketidakjujuran Tak Pernah Berujung Membahagiakan

Posted by Menukil Aksara | 11:32:00 AM Categories:
Judul buku     : Among the Pink Poppies
Penulis           : K. Fischer
Penyunting      : Shara Yosevina
Penerbit          : Bhuana Sastra (BIP Gramedia)
Tebal buku      : 551 hlm
Cetakan          : pertama, 2017

BLURB:
    Saras bertemu gadis kecil bernama Amelia di tempatnya bekerja di pusat teknologi kota Linz, Austria. Ibunya Amelia sudah meninggal dunia. Saras terenyuh dan ingin berteman dengan Amelia dan paman merangkap ayah asuhnya, Jonas. Mereka jadi sering bertemu. Saras mulai meyayangi Amelia, bahkan ia semakin dekat dengan Jonas hingga keduanya jatuh cinta.

    Sementara di Jakarta, ibunya yang diktator sudah mempunyai calon suami untuk Saras. Ketika mengetahui tentang hubungannya dengan Amelia dan Jonas, ibunya dan seluruh keluarganya langsung memojokkan Saras. Dengan semakin bertambahnya konflik baik antara Saras dan keluarganya, maupun dengan ‘keluarga baru’ di Austria, ia mulai belajar untuk mengambil keputusan secara dewasa.

SINOPSIS:
    “Saras berdiri menatap kota Linz yang tertidur di kegelapan malam. Bahkan kota ini mampu mengubah nasibnya. Dari kota penuh barak budak perang menjadi kota pusat teknologi yang disegani. Mengapa ia yang merdeka, membiarkan dirinya terjajah orang lain?” (hlm. 6)

    “Sekolah, kerja, menikah, punya anak, jadi tua,meninggal. Sudah. Hanya itukah arti hidupku?” (hlm. 475)

    Saras adalah warga negara Indonesia yang melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi di Linz, Austria, lantas bekerja di pusat teknologi kota itu, Ars Electronica. Dia tinggal sendiri, jauh dari keluarganya di Jakarta. Saras adalah bungsu dari lima bersaudara, di mana keempat kakaknya sudah menikah. Ayahnya seorang pebisnis yang supersibuk, amat jarang bicara dari hati ke hati dengan anak-anaknya. Sedangkan ibunya yang merupakan anak tunggal di keluarganya sangat suka mengatur segala urusan, sehingga menjadi sosok ibu yang diktator. Eyang—ibu dari ibunda Saras masih hidup, meskipun kesehatannya mulai menurun dan hanya mampu berbaring di tempat tidur. Setiap hari Minggu, semua keluarga wajib berkumpul di rumah sang ibu, termasuk Saras yang wajib ‘hadir’ via sambungan Skype. Pertemuan wajib yang menurut Saras sama sekali tidak efisien, karena masing-masing anggota keluarga toh sibuk dengan urusannya. Hanya kepada sang eyanglah Saras senang bercengkerama dan mengabarkan setiap detail perkembangan kehidupannya di Linz.

    Suatu hari, ketika memimpin workshop untuk sebuah taman kanak-kanak di tempatnya bekerja, Saras bertemu Amelia. Bermula dari niat baik, saat Amelia merajuk ingin berkomunikasi dengan ibunya yang sudah meninggal lewat robot Telenoid, Saras pun melakukan sebuah ‘kebohongan kecil’. Ketika seorang rekan kerja memintanya meminta maaf dan meluruskan kesalahpahaman, Saras justru berujung berkenalan dengan Amelia dan paman sekaligus ayah asuhnya, Jonas, di trem yang sehari-hari menjadi kendaraan tumpangannya. Perkenalan itu lambat-laun mendekatkan Saras dengan keduanya, hingga tak disadari ia sudah jatuh hati. Amelia dan Jonas memiliki sahabat, sebuah keluarga kecil: Sigi, Lisa, dan anak mereka yang seumuran dengan Amelia bernama Leoni. Sahabat keluarga ini pun menerima Saras dengan hangat. Lewat keakraban ini Saras mengetahui beberapa rahasia dan permasalahan keluarga Amelia, termasuk bagaimana kisah mendiang ibunya, Babsi, dengan ayah kandungnya Florian yang belum pernah dijumpai. Saras juga jadi tahu bahwa selain bekerja di perusahaan kayu milik Sigi, Jonas yang dulunya seorang koki profesional sukses di Amerika Serikat juga sedang merintis usaha restoran sendiri.

    Di lain pihak, ibundanya semakin gencar menjodohkan Saras dengan Roi, yang notabene merupakan anak dari teman baik sekaligus rekan bisnis keluarganya. Ibunda Saras bahkan mengatur sedemikian rupa hingga Roi mampir ke Linz untuk bertemu Saras. Dari pertemuan singkat inilah Saras menyadari bahwa Roi yang dikenalnya semenjak sekolah tak benar-benar berubah. Ia tetap tak mendapatkan ketertarikan apalagi rasa suka pada Roi. Ketika mencurahkan isi hati pada eyangnya, Saras juga memohon bantuan untuk membujuk ibunya membatalkan rencana perjodohan. Tapi keinginan tak selalu sejalan sesuai rencana. Eyangnya meninggal tiba-tiba, membuat Saras terpukul dan sangat kehilangan. Puncaknya, ibunya yang mencium gelagat tak menyenangkan dari Saras mengultimatumnya untuk segera pulang. Namun kepulangannya yang sempat ditunda-tunda pun tak membuahkan hasil positif. Saras justru sakit hati dan merasa disudutkan. Giliran ibundanya yang mengunjunginya di Linz, bersama kakak-kakaknya dengan niatan buruk mempermalukan Saras di depan Jonas.

    Ketika konflik keluarga Saras memanas, Jonas yang tak tahu menahu merasa sangat kecewa setelah Saras pada akhirnya mengungkapkan secara jujur. Apalagi, kala itu Jonas sendiri sedang tertekan memikirkan gugatan permohonan hak asuh Amelia dari Florian yang mendadak muncul. Seiring waktu berjalan, Saras mendapatkan rencana menyelesaikan pertikaiannya dengan sang ibu, dan Jonas perlahan menyadari bahwa Saras tak sepenuhnya bersalah. Namun, perkara Telenoid yang sempat tak diselesaikan Saras di masa lalu membuat keadaan kembali buruk. Di sinilah Saras dituntut bersikap dewasa dan berani jujur atas segala perasaan dan pendapatnya demi kebahagiaannya sendiri.

REVIEW:
    “Banyak orang bersama tapi merasa sendiri...Dua orang bersama seringkali sudah menjadi tantangan tersendiri. Tiga orang bersama bahagia, itu karunia.” (hlm. 292)

    “Jangan takut keluar dari dunia kita, yang penting kita tahu siapa yang kita hadapi.” (hlm. 331)

    “Sesuatu yang indah butuh proses, tapi itu tugas kita, membuat proses itu, sehingga yang indah menjadi kenyataan.” (hlm. 520)

    “Sekarang aku tahu, selama ini, aku membiarkan diriku tidak bahagia karena aku tidak berani jujur.” (hlm. 544)  

    Kutipan-kutipannya nggak melulu tentang cinta, kan? Justru kebanyakan menyentil tentang pilihan-pilihan yang kita ambil dalam kehidupan. Itu salah satu poin plus penting dari novel ini juga. Mengangkat tema keluarga, sebagai nilai tambahan, penulis menggabungkan dua keluarga beda budaya, beda benua sebagai fokus cerita. Menurut saya ini sebuah tantangan.

    Dikisahkan menggunakan sudut pandang orang ketiga, menurut saya pilihan POV ini sudah cukup tepat. Saya tetap dapat ikut merasakan pergulatan batin yang dirasakan Saras, meskipun bukan dikisahkan lewat sudut pandangnya. Kehadiran tokoh kanak-kanak seperti Amelia dan Leoni pun mencerahkan suasana, sehingga cerita tidak monoton konflik orang dewasa yang rumit. Kadang adegan dan perkataan Amelia pun mampu mengaduk-aduk perasaan juga meskipun terkesan polos. Jika ditanya siapa karakter protagonis favorit, selain Amelia, saya rasa Jonas patut disukai. Sosoknya yang good looking, seorang chef, dewasa, dan penyayang, memang tipikal yang akan mudah disukai pembaca. Jonas juga digambarkan memiliki sisi manusiawi, di mana dia bisa tersinggung ketika harga dirinya dilukai dan dibohongi. Ini membuatnya tak seperti malaikat yang sempurna. Sedangkan Saras, tipikal perempuan muda cerdas kebanyakan, yang selalu serbasalah di mata ibunya. Saya bisa memahami dan bersimpati atas posisinya, walaupun mau tak mau dia juga kerap membuat saya gemas karena tidak berani bersikap jujur dan tegas. Tapi penulis berhasil menggambarkan perkembangan karakternya dengan baik. Sedangkan sosok ibunda Saras menjadi sosok ibu diktator yang sangat menyebalkan. Cara berpikir dan bersikapnya mengundang amarah karena kelewatan dalam memandang rendah orang lain dan tak mau menerima masukan. Penulis tak lupa memberikan latar belakang yang logis atas karakter sulit sang ibu ini.

    Seting Linz pun sangat baik dideskripsikan. Sejalan dengan rentang waktu kisah yang cukup lama, terdapat ruang luas untuk memasukkan poin-poin deskripsi, semacam street food dan street art festival, hingga event Klangwolke, sisipan sejarah dan kuliner kota, hingga beberapa seting tempat yang bersifat personal seperti ladang pink poppies, restoran Yon, dan rumah pengintaian berburu. Semuanya manis, membuat saya ingin sekali merasakan berada di sana. Momen-momen indah maupun sedihnya juga sangat terasa dengan detail yang disajikan.

    Konflik cerita terbilang rumit. Melibatkan masalah personal, hukum, maupun keluarga. Mampu bikin saya ikut gondok, geregetan, sedih, namun juga tersenyum. Penulis memberikan penyelesaian konflik yang memuaskan, logis, dan bisa saya terima.

Awalnya saya cukup tercengang mendapati jumlah halaman buku yang terbilang tebal, apalagi untuk ukuran novel bergenre romance-family drama. Sempat terbersit, apakah akan membosankan atau terlampau ‘drama’ konfliknya? Dan nyatanya saya menikmati dan ikut merasa jatuh cinta pada kota Linz, pada keluarga Sigi, pada si kecil Amelia, dan kisah cinta Saras-Jonas. Novel karya penulis Indonesia yang layak banget dibaca dan direkomendasikan. Terutama jika kamu penyuka kisah cinta beda budaya dengan pernak-pernik rintangannya.

Minggu, 25 Februari 2018

Honestly Hurt: Emang Enak Kena Friend Zone?

Posted by Menukil Aksara | 12:04:00 PM Categories:
Judul buku                  : Honestly Hurt
Penulis                        : Elsa Puspita
Penyunting                  : Hutami Suryaningtyas & Dila Maretihaqsari
Penerbit                      : Bentang Belia (Penerbit Bentang Pustaka)
Tebal buku                  : x + 238 hlm.; 20.8 cm
Cetakan                      : pertama, Desember 2017

BLURB:
    Velya kesal! Dua sahabatnya, Gusti dan Chiko, sibuk dengan gebetannya masing-masing. Ia merasa terlupakan, terbuang, nggak lagi jadi pusat perhatian. Velya nggak suka kedua bodyguard-nya itu direbut paksa secara bersamaan. Ia jadi sering merecoki kehidupan Gusti-Chiko dengan cewek-ceweknya.

    Gusti dan Chiko tentu saja nggak kalah kesal. Siapa yang nggak bete jika tiap aksi PDKT-nya kepada cewek selalu dihancurkan? Jadi, Gusti dan Chiko sepakat ingin mencarikan Velya pacar, agar cewek itu mengerti indahnya letup-letup asmara.

    Akan tetapi, apakah semudah itu skenario bisa berjalan dengan lancar? Mereka nggak tahu, bahwa hati sulit diprediksi. Jika rasa cinta salah sasaran, persahabatan mereka sepertinya akan terancam.

SINOPSIS:
      “Sahabat itu ibaratnya tong sampah tanpa filter. Kita bisa bahas apa pun, ngomongin semuanya, tanpa mikir dia bakal ilfil sama kita atau nggak. Tapi, ke pacarnggak bisa gitu.” (hal. 164)

    Velyanata alias Velya, Gustiranda atau Gusti, dan Federico yang akrab disapa Chiko sudah saling kenal, bertetangga dan bersahabat semenjak kanak-kanak. Persahabatan mereka sudah selayaknya saudara. Gusti berperan sebagai sulung yang kalem dan kerap terkesan dewasa, Chiko sebagai si tengah yang easy going dan jail, dan Velya si bungsu yang manja, suka merajuk, dan seenaknya. Dilatarbelakangi riwayat keluarga yang berbeda pula. Gusti dengan orangtua lengkap yang harmonis, Velya bersama mamanya seorang sepeninggal sang papa, dan Chiko yang berorangtua lengkap tapi supersibuk dan nggak akrab satu sama lain.

    Persahabatan itu selalu kompak meskipun adakalanya diwarnai pertengkaran kecil. Hingga ketika masa remaja mulai memengaruhi sikap Gusti dan Chiko, terutama dalam hal ketertarikan terhadap lawan jenis. Kedua remaja lelaki itu mulai rajin melancarkan aksi pedekate terhadap cewek-cewek yang mereka taksir. Tapi Velya yang terbiasa memiliki sahabat sekaligus bodyguard yang selalu siap sedia setiap saat tak menyukai perubahan kondisi ini. Berbagai sikap jail dan merajuk dia tunjukkan seakan sebagai aksi protes. Awalnya Chiko melaksanakan ide mencomblangi Velya dengan Evan, teman sekelasnya yang pintar dan culun. Tapi agaknya Velya tak tertarik pada Evan. Perselisihan serius mulai terjadi ketika Gusti dan Chiko tertarik pada satu gadis yang sama. Sheryl, teman sekolah yang baru kembali selepas menjalani program pertukaran pelajar selama setahun di Amerika, sosok yang dipandang pintar sekaligus cantik oleh Gusti maupun Chiko. Chiko yang merasa lebih menarik dan ‘berpengalaman’ soal pedekate merasa yakin akan menang. Sedangkan Gusti, cowok pintar berkacamata yang sebelumnya tak pernah mau bersaing masalah cewek dengan Chiko juga nggak mau kalah sebelum berusaha. Mereka berdua akhirnya menyepakati akan bersaing secara sportif, dan siapa pun yang kalah harus bersedia menjadi ‘bodyguard abadi’ Velya sampai sahabat mereka itu menemukan cowok yang disukai. Siapa sangka ternyata itu jadi bumerang. Velya yang menyaksikan Sheryl akrab dengan Gusti dan Chiko justru menuduh Sheryl mempermainkan kedua sahabatnya dan mengonfrontasi langsung. Situasi antara Velya dan Gusti sempat menegang, dan berujung pada keputusan Chiko untuk mundur dan memilih menemani Velya setiap saat.

    Tapi mereka tak pernah menduga bahwa hati tidak bisa diprediksi. Perubahan situasi menjadikan Velya dan Chiko seolah memiliki dunia sendiri, sedangkan Gusti merasa terasing. Hingga Velya mulai merasakan suka pada Chiko tapi tak berani bercerita pada siapa pun, justru memilih menjaga jarak. Gusti yang mencium gelagat aneh ini pun akhirnya mengetahui rahasia hati Velya. Di sisi lain, terjadi konflik serius dalam keluarga Chiko. Hal yang sempat membuat Chiko syok, marah, dan nyaris kehilangan arah. Di saat inilah, dia yang mengetahui perasaan Velya mendadak meminta Velya menjadi pacar. Ternyata tak mudah mengubah hubungan sahabat menjadi kekasih. Terasa sekali kecanggungan, apalagi Chiko belum sepenuhnya jujur mengenai masalah yang sedang dihadapi. Pertengkaran demi pertengkaran terjadi dan mengubah segalanya. Chiko pun dihadapkan pada dilema hati terkait rencana masa depan bersama orangtuanya maupun hubungannya dengan Velya, terutama di penghujung masa sekolah dan persiapan menuju bangku kuliah. Di sinilah persahabatan mereka diuji. Akankah pertemuan terakhir mereka selepas SMA menyisakan kenangan menyakitkan ataukah mampu bertahan dan menjadi kenangan membahagiakan.

REVIEW:
    “... dari patah hati itu kita banyak belajar. Belajar ngelepasin, mencoba buat sembuh. Akhirnya bikin kita lebih kuat. Itu juga bisa jadi semacam ujian yang harus kita lewatin sebelum ketemu orang yang benar-benar tepat.” (hal. 202)

    “Kita mungkin nggak bisa milih mau suka atau naksir sama siapa. Tapi, menurut gue, kita masih bisa ngatur porsi perasaan yang ada itu. Mau dibiarin terus tumbuh, atau pelan-pelan dikendaliin.” (hal. 206)

    “Kita nggak pernah tahu kapan pertemuan terakhir sama orang yang kita sayang. Makanya, sebisa mungkin, di tiap pertemuan yang mungkin jadi terakhir itu, kita jadiin kenangan yang indah, jangan yang nggak enak.” (hal. 211)

    Kutipan-kutipannya bikin baper, kan? Tema persahabatan, cinta pertama, dan keluarga yang diangkat memang bisa dibilang sukses mengaduk-aduk perasaan pembaca. Ketiga tokoh utama remajanya bisa mewakili remaja masa sekarang, lengkap dengan warna-warni dunia mereka beserta masalah yang relevan. Contohnya Chiko, anak tunggal dengan papa yang berdarah Prancis dan sibuk dengan dunia kerjanya sendiri, bisa mewakili sosok remaja kesepian, haus kasih sayang orangtua, sekaligus contoh keluarga dengan perbedaan kultur. Persahabatannya dengan Gusti dan Velya memberikan pengaruh positif sehingga menghindarkannya dari pergaulan yang salah atau perkembangan karakter yang buruk. Saya pun suka nuansa kehangatan keluarga yang digambarkan keluarga Gusti dan mama dari Velya. Mereka memberikan secercah harapan bagi anak-anak korban perselisihan dan perpecahan keluarga, bahwa masih ada harapan dan kehangatan kasih sayang di luar sana.

    Diceritakan dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga, pembaca jadi bebas menyaksikan dan mengulik setiap adegan, isi pikiran dan hati masig-masing tokoh. Interaksi antara Chiko, Gusti, dan Velya pun sangat terasa, bisa jadi bikin iri karena tak semua orang beruntung memiliki sahabat-sahabat baik seperti mereka. Saya juga bisa memahami dan merasakan dilema yang dihadapi Chiko dan Velya terkait perubahan perasaan, dari sahabat menjadi seseorang istimewa yang disukai. Dalam kasus seperti ini, memilih menyatakan suka dan mengubah status sahabat jadi pacar memang selalu berisiko. Jika gagal, sudah pasti akan mengubah banyak hal, termasuk mempertaruhkan hubungan baik yang sudah dibangun. Dan ya, kisah Chiko-Velya ini saya yakin mewakili kisah banyak orang di luar sana.

    Selain dilema sahabat jadi pacar, kisah ini juga membawa kita kepada masa remaja, masa di mana gejolak masa pubertas sangat memengaruhi perkembangan karakter. Salah satunya rasa suka pada lawan jenis yang pertama kali dirasakan. Kisah cinta pertama selalu menyenangkan dibaca, bukan?

    Saya sendiri sempat gemas dan kesal pada Chiko, tahu bagaimana rasanya perasaan suka bertepuk sebelah tangan seperti yang dialami Evan, atau turut senyum-senyum dengan euforia kebahagiaan saat rasa suka bersambut seperti yang dialami Gusti. Masa remaja yang menyenangkan sekaligus jadi titik awal perjalanan menuju kedewasaan. Dan itu semua tetap tak melupakan pesan tentang pentingnya arti keluarga dan orangtua. Bahwa tak ada keluarga sempurna, tapi kita tetap tak bisa memilih dari orangtua mana kita terlahir. Yang bisa dilakukan adalah mengambil pilihan terbaik dan tetap berusaha berada di sisi orang-orang yang kita sayangi.

    Novel remaja yang merupakan salah satu judul seri Belia Writing Marathon ini layak dibaca oleh para pembaca remaja. Menginspirasi, menghibur, dengan ketebalan buku yang pas. Penulis juga menghadiahi pembaca dengan twist dan ending yang logis dan memuaskan, sehingga pesan moral tersampaikan dengan baik. Saya menghargai pilihan penulis, meskipun saya pribadi lebih suka open ending (tak perlu epilog seperti yang ‘dibonuskan’ di buku). Tapi ini hanya masalah selera, sih. Dan satu hal kecil yang saya sedikit kurang sependapat lainnya adalah terkait pilihan jenis huruf untuk judul. Terlalu kecil, kurang menonjol. Sedangkan ilustrasi gambar manis dan menggambarkan cerita.

Anyway, kalau kamu ketemu buku berkover pink kalem ini di toko buku, boleh banget,dong, dibawa ke kasir, hehe.
   

Cerita-Cerita yang Berjuta Rasanya [Sebuah Resensi]

Posted by Menukil Aksara | 11:55:00 AM Categories:
Judul buku             : Berjuta Rasanya
Penulis                   : Tere Liye
Editor                    : Andriyati
Penerbit                 : Mahaka Publishing (imprint Republika Penerbit)
Tebal buku             : vi + 205 hal.; 23.5x20.5 cm.
Cetakan                 : XXVIII, Feb 2017

BLURB:
    Untuk kita, yang terlalu malu walau sekadar menyapanya, telanjur bersemu merah, dada berdegup lebih kencang, keringat dingin di jemari, bahkan sebelum sungguhan berpapasan.

    Untuk kita, yang merasa tidak cantik, tidak tampan, selalu merasa keliru mematut warna baju dan pilihan celana, jauh dari kemungkinan menggapai cita-cita perasaan.

    Untuk kita, yang hanya berani menulis kata-kata dalam buku harian, memendam perasaan lewat puisi-puisi, dan berharap esok lusa ia akan sempat membacanya.

    Semoga pemahaman baik itu datang. Bahwa semua pengalaman cinta dan perasaan adalah spesial. Sama spesialnya dengan milik kita. Tidak peduli sesederhana apa pun itu, sepanjang dibungkus dengan pemahaman-pemahaman yang baik.

SINOPSIS:
    “Cerita dalam buku ini fiksi. Beberapa di antaranya ditulis ulang, terinspirasi dari cerita-cerita lain yang telah ada.”

    “Seseorang yang mencintaimu karena fisik, maka suatu hari ia juga akan pergi karena alasan fisik tersebut.Seseorang yang menyukaimu karena materi, maka suatu hari ia juga akan pergi karena materi. Tetapi seseorang yang mencintaimu karena hati, maka ia tidak akan pernah pergi! Karena hati tidak pernah mengajarkan tentang ukuran relatif lebih baik atau lebih buruk.” (hal. 26)

    Lima belas judul cerita, berwarna-warni kisah cita-cita perasaan dan hikmah, itu yang seolah dijanjikan buku ini untuk pembacanya. Diawali dengan cerita berjudul “Bila Semua Wanita Cantik” dan diakhiri dengan “Antara Kau dan Aku”. Cerita pembukanya bernuansa fantasi komedi, dengan dua tokoh perempuan yang selalu merasa tidak cantik secara fisik, membandingkan diri mereka dengan seluruh wanita cantik yang mereka kenal atau ketahui. Vin dan Jo, dua gadis tidak cantik itu, yang telah bersahabat selama belasan tahun kerap membincangkan ketidakberuntungan mereka, terutama Vin. Hingga suatu malam, tak dinyana doa Vin yang terasa mustahil dikabulkan dalam wujud yang awalnya tampak sebagai kebalikan dari permohonannya. Lantas kejadian demi kejadian ganjil dan dulu terlihat tak mungkin terjadi pada Vin maupun Jo. Hingga Vin lantas menyadari arti kecantikan yang sesungguhnya, tapi semuanya terlambat. Sebuah kisah lucu yang menyentil pemahaman kita.

    Dua cerita sesudahnya bernuansa serupa, berupa sentilan dari kisah-kisah yang dekat dengan keseharian. Hingga saya dibawa berkenalan dengan cerita berseting futuristik di sebuah negeri yang segala sesuatunya bernuansa kecanggihan teknologi, bahkan hingga memengaruhi pengaturan sistem kehidupan penduduknya. Salah satunya adalah kehidupan percintaan yang dinilai mengalami kebuntuan karena kesibukan. Lantas dewan kota menawarkan solusi berupa alat berbasis teknologi maju bernama ‘cintanometer’. Alat ini digadang-gadang dapat membantu kaum muda menemukan calon pasangan cinta yang potensial. Mulanya, alat tersebut membawa dampak yang dinilai positif, hingga beberapa waktu kemudian mereka menyadari dampak buruk yang jauh melebihi kebaikannya.

    Dalam cerita “Harga Sebuah Pertemuan”, saya mendapatkan kejutan menarik dengan paduan misteri dan fantasi. Sebuah cerita pembunuhan beruntun sebuah keluarga yang narasinya disusun menggunakan format layaknya laporan penyelidikan detektif, dengan kemungkinan beberapa skenario pembunuhan. Ternyata kisah ini masih erat kaitannya dengan tema cinta, kali ini bernuansa kelam dengan isu perselingkuhan dan dendam terpendam. Lantas, di cerita selanjutnya, ada Andrei dan kotak pandora misterius yang menyimpan rahasia besar. Sayangnya, sang ibu selalu berpesan agar tidak pernah dibuka, apa pun yang terjadi. Ketika rasa ingin tahu mengalahkan wejangan tersebut, Andrei pun melanggar dan hal itu mengubah segalanya.

    Terdapat juga dua cerita yang ditulis ulang dari cerita yang telah ada dan termahsyur, yaitu “Mimpi-mimpi Laila-Majnun” dan “Kupu-kupu Monarch”. Keduanya memiiki sedikit kemiripan dalam seting di masa lampau dan legenda cintanya. Cerita unik lain muncul dalam wujud sekuel atau kelanjutan cerita, seperti “LOVE Ver. 7.0 & MARRIED Ver. 9.0” yang merupakan kelanjutan dari “Cintanometer”, juga “Kutukan Kecantikan Miss X” yang ditulis ‘sekuelnya’ dengan judul mirip. Beberapa cerita menyuguhi pembaca plot twist yang bisa jadi mengejutkan atau mencengangkan, salah satunya bagi saya ada dalam cerita “Pandangan Pertama Zalaiva”. Kisah tentang gadis yatim piatu yang dibesarkan penuh kasih sayang oleh kakeknya dan impiannya akan cinta sejati.

REVIEW:
    “... kehidupan ini tak selalu memberikan kita pilihan terbaik. Terkadang yang tersisa hanya pilihan-pilihan berikutnya. Orang yang bahagia selalu berpegangan pada pilihan kedua yang terbaik. Melupakan pilihan pertama yang tak pernah bisa kau capai.” (hal. 88)

    “Setidaknya patah hati memberikan sensasi bahwa kita memang masih hidup. Lagipula siapa bilang ditolak cinta itu tidak indah? Itu indah, Bung! Pikirkanlah dari sudut yang berbeda!” (hal. 132)

    “Ya, cinta sejati seperti hantu. Semua orang membicarakannya, tetapi sedikit sekali yang benar-benar pernah melihatnya.”(hal. 182)

    Itulah beberapa kutipan favorit saya yang terdapat dalam buku ini. Bagi saya, sesuai yang dijanjikan dalam blurb, cerita-ceritanya bikin galau, sekaligus mengobati galau, menikam hati sekaligus membalut luka hati, jika saja kita mau menelaah lapis hikmah yang terkandung dalam setiap cerita. Beberapa kisah terasa amat nyata karena dekat dengan kejadian dalam keseharian kita. Beberapa yang lain seolah jauh dari masa lampau tapi memiliki kemiripan dengan kisah-kisah di masa kini. Beberapa lagi bernuansa fiksi ilmian dari masa depan yang seakan diprediksi mungkin sekali terjadi bertahun ke depan nanti, tapi pesannya tetap relevan dengan kisah kita di masa kini. Ada kisah bahagia dan lucu, mampu membuat saya tersenyum bahkan tertawa lebar. Tapi ada pula yang bisa membuat menitikkan air mata atau merasa ikut patah hati. Dan ada cerita yang akhirnya tak saya duga, kadang petunjuknya luput dari perhatian.

    Sudut pandang penceritaan yang digunakan berbeda-beda di tiap judul, dan menurut saya semuanya tepat sasaran. Emosi yang ingin ditularkan dari para tokoh dan konflik mereka tersampaikan. Detail deskripsi seting maupun penyuguhan konflik dan ending  memuaskan, narasi asyik, penokohannya apik, tentu saja dalam porsi cerita pendek.

Bacaan ringan yang bisa jadi tak butuh waktu lama untuk ditamatkan, tapi akan meninggalkan jejak kesan yang kuat bahkan lama sesudah kita menutup buku. Menghibur sekaligus bikin mikir. Khas seorang Tere Liye yang selalu menonjolkan pesan moral dalam karya-karyanya. Bagi penyuka novel, bolehlah sesekali kamu beralih bacaan semacam kumpulan cerita ini. Akan memberikan sensasi dan pengalaman baca baru dan berbeda atau jadi selingan di tengah timbunan bacaan novelmu. Recommended dan nggak heran jika sudah dicetak ulang berkali-kali hingga sekarang.
   

Jumat, 12 Januari 2018

Alfa & Omega: Awal dari Sesuatu yang Tidak Pernah Berakhir

Posted by Menukil Aksara | 11:09:00 AM Categories:
Judul buku              : Alfa & Omega: Awal Tanpa Akhir
Penulis                    : Oda Sekar Ayu
Penyunting              : Afrianty P. Pardede
Penerbit                  : PT Elex Media Komputindo
Tebal buku              : vii + 307 hlm.
Cetakan                  : pertama, 2018

BLURB:
    Alfa adalah laki-laki pertama yang mencuri hati Omega. Ketika Zeta, adik Alfa sekaligus sahabatnya menentang perasaan Omega, dia menyerah. Sepuluh tahun setelah hari itu takdir mengikat mereka dengan satu kejadian yang terlalu biasa. Karena segala hal yang biasa membuat setiap orang terlena, lupa akan tujuannya dan diam-diam melupakan niatnya. Alfa dan Omega adalah akhir dari sesuatu yang tidak berawal. Atau justru awal dari sesuatu yang tidak berakhir?

SINOPSIS:

    Omega mengenal Alfa semenjak masih duduk di bangku sekolah menengah atas, ketika Zeta sahabatnya memperkenalkan Alfa sebagai kakak laki-laki kesayangannya. Omega jatuh cinta pada Alfa, namun perasaannya hanya mampu disimpan diam-diam. Apalagi Alfa kala itu sudah memiliki kekasih bernama Gema yang dipandang sempurna, tak hanya oleh Alfa tapi juga Zeta. Hingga suatu ketika Alfa putus dengan Gema dan membuatnya terpuruk. Omega yang tak mampu berbuat apa-apa tapi juga tak bisa menyaksikan hal itu memilih meninggalkan Indonesia untuk melanjutkan studi dan meneruskan hidup. Baginya, Alfa lantas menjadi sebatas ilusi atau mimpi yang tak akan pernah teraih.

    Sepuluh tahun kemudian, Omega yang sudah menjadi seorang auditor, senior manager sebuah kantor akuntan publik (KAP) secara tak terduga bertemu dengan Alfa. Kali ini mereka dipertemukan sebagai auditor dan klien. Alfa sebagai Chief Financial Officer alias CFO PT Golden Greek mewakili perusahaan mengurus kerja sama dengan Omega dan timnya. Meski Meg masih tetap berhubungan akrab dengan Zeta, dan beberapa kali selama bertahun-tahun bertemu Alfa juga, tapi pertemuan kerja ini membuka jalan kedekatan yang tidak terduga.

    Di lain pihak, ada Barry, gitaris band jazz ternama, Zero, yang menjadi kekasih Meg sekarang. Meg menyebutnya sebagai ‘the first boy-best-friend she has ever had in her life’. Leo, vokalis Zero juga telah berstatus sebagai suami Zeta. Sayangnya, hubungan mereka yang tampak bahagia dan mulus dari luar sebenarnya menyembunyikan bom waktu yang siap meledak kapan saja. Hubungan asmara tersebut tak dipublikasikan pada khalayak sehingga kerap memicu perselisihan dan kesalahpahaman melihat status Barry sebagai figur publik. Puncaknya, Meg dan Barry putus secara baik-baik. Ada hal rumit lain yang tak diduga menjadi alasan terbesar kandasnya hubungan mereka.

    Bagi Alfa, Meg sekarang mendadak tak sama lagi dengan yang dikenal bertahun-tahun lalu. Alfa kini mulai memandang Meg sebagai pribadi yang bukan sekadar ‘teman baik adik’, tapi Meg sebagai Meg. Keakraban mereka berdua di luar jam kantor yang sempat terendus beberapa rekan kerja Meg sempat menimbulkan prasangka dan kecemburuan, terutama dari rekan kerja wanita. Meg sendiri enggan menjelaskan bahwa dia mengenal Alfa jauh sebelum ada proyek kerja sama. Lagi pula, tak ada yang berubah di mata Meg. Baginya, Alfa sekadar merasa nyaman bergaul dengannya, bukan jatuh cinta padanya. Masalah baru timbul ketika Zeta mengundang Gema sang mantan terindah Alfa di sebuah acara keluarga tanpa sepengetahuan Alfa. Agaknya Zeta masih berharap kakaknya bersatu kembali dengan Gema. Meg kembali sakit hati tanpa bisa dicegah menyaksikan pertemuan tersebut hingga menyebabkan sakit dadanya kambuh. Barry pun maju sebagai sosok teman pria yang paling memahami dan menjaga Meg. Tak hanya itu, ketika Meg jatuh sakit karena kerja lembur berlebihan, Barry pun siap sedia membantu tanpa diminta, meskipun Alfa juga jelas menolong. Hal ini mencuatkan kembali pertanyaaan antarmereka, siapa yang lebh layak? Meg pun dihadapkan pada pilihan, antara ilusi dengan realita.

REVIEW:
    “Peraturan pertama bersosialisasi di era penuh ketidakpastian seperti sekarang ini adalah dilarang bawa perasaan alias BAPER.” (hlm. 66)

“Bahagia untuk diri sendiri dulu sebelum membahagiakan orang lain.” (hlm. 92)

“Kata orang salah satu pertanda hati sedang berbunga-bunga adalah manakala dunia terlihat lebih berwarna... Ketika sedang menyukai seseorang, seluruh warna akan terlihat lebih nyata di pandangan manusia.” (hlm. 104)

    “Cinta adalah sesuatu yang rumit dan tidak dengan semudah itu dijelaskan oleh angka maupun skala.”  (hlm. 261)

    “Ironi adalah saat kita merasa bahagia melihat orang lain sedemikian cinta pada kita hingga mengeluarkan air mata, namun kita sendiri tidak akan pernah bisa bahagia melihatnya berurai air mata.” (hlm. 273)

    “... jatuh cinta bisa membuat orang menangis, tertawa, bahagia dan bersedih di saat yang sama.” (hlm. 273)

    Novel ini merupakan salah satu judul lagi dari seri City Lite yang diterbitkan Elex Media. Dan lagi-lagi mengambil latar kehidupan kerja dengan persaingn ketat di kota megaoplitan Jakarta, tentu saja. Kali ini yang disorot adalah dunia profesi auditor, terutama di kantor akuntan publik. Selalu berkutat dengan angka-angka dan laporan keuangan, hingga lembur yang jauh melebihi batas jam kantor demi menyelesaikan proyek dengan klien, merupakan fakta yang disuguhkan di sini. Cukup banyak penjelasan dunia auditing dan istilah-istilahnya yang dicantumkan juga, ada yang dilengkapi dengan catatan kaki. Meskipun cukup rumit bagi orang awam, saya masih bisa mengikuti penjelasan yang diberikan. Selain itu, profesi tokoh utama pria sebagai CFO sebuah perusahaan juga terbilang baru bagi saya, setelah selama ini lebih familier dengan CEO, direktur, General Manager, atau Presdir. Tentu saja ini menjadi poin plus novel. Adegan-adegan yang dilatarbelakangi hiruk-pikuk dunia kerja mereka juga sangat terasa, sehingga saya puas.

    Mengenai karakter, saya lumayan menemukan keterikatan dengan sosok Omega. Bukan secara profesi, namun dari sifatnya yang tertutup, sangat menjaga rahasia pribadinya, tak sadar suka menyakiti diri sendiri, terkesan judes, dan suka memperumit segala sesuatu. Selain itu, saya suka Meg yang loyal pada sahabat baik, disegani rekan kerja karena dedikasinya, otaknya yang cerdas, dan tentu saja mata birunya yang khas sekaligus unik itu. Karakter ini cocok banget bagi seseorang yang digambarkan memendam cinta hingga bertahun-tahun. Lantas, sosok Alfa yang nyaris sempurna, terkesan ‘laki banget’, dengan segala deskripsi karakter, gesture, bahkan kendaraan jip Wrangler biru dan hobi memanahnya sukses membuat pembaca perempuan baper, saya rasa. Saya yakin, banyak pembaca akan jatuh cinta dengan sosok ini, walaupun bisa juga tak mampu menolak karisma seorang Barry, gitaris band yang manis banget sebagai sosok ‘best boyfriend ever’, hehe... Chemistry antara Alfa dan Omega, ataupun Meg dan Barry juga terasa, bahkan membuat pembawa terbawa emosi. Ada detail momen-momen kebersamaan yang cukup apik dibangun penulis, semisal acara tebak kata dan makan bareng di warung pinggir jalan saat dini hari.

    Ada pula karakter yang nggak terlampau banyak menyita porsi cerita tapi tetap mampu bikin gemas, seperti Amanda yang bermulut tajam dan suka iri dengan kebahagiaan orang lain, atau Zeta yang sebenarnya nggak jauh beda dengan sang kakak, sangat tidak peka dengan perasaan orang lain dan kerap lebih memilih memandang hal dari sudut pandangnya yang sempit. Tapi ada juga sosok Reza, rekan kerja yang setia kawan dan pengertian, yang bikin saya menerka-nerka, siapa tahu sosok satu ini akan muncul lagi jika ada sekuel cerita, hehe... Oda Sekar Ayu juga suka mengaduk-aduk emosi pembaca lewat permainan kata-katanya dalam narasi.

    Kisah keluarga dan persahabatan di dalam novel ini juga membuat saya makin suka. Ibaratnya novel ini komplet, tak sekadar menawarkan romance kontemporer. Wajib dibaca bagi para penggemar romance, terutama dengan setting kota besar beserta gambaran gaya hidupnya yang khas. Ditunggu kisah berikutnya yang lebih bikin baper.

Minggu, 31 Desember 2017

Impian Demian: Mengorbankan Impian, Mungkinkah?

Posted by Menukil Aksara | 11:25:00 AM Categories:
Judul buku                : Impian Demian
Penulis                      : Nimas Aksan
Editor                       : Dion Rahman
Penerbit                    : PT Elex Media Komputindo
Tebal buku               : vii + 350 hlm.
Cetakan                   : pertama, 2017

BLURB:

    “Impianku bukan berada di sini bersamamu dan sepabrik dengan perempuan sensi lainnya yang bergerombol membahas lipstik. Aku mengambil jurusan arsitektur bukan iseng-iseng seperti saat kamu ikutan lotre dan buummm... namamu keluar sebagai pemenang. Aku ingin membuat gedung. Aku selalu membayangkan bisa membangun banyak sekali gedung tinggi yang indah di negeri-negeri yang jauh dari sini.”

    “Kenyataannya kamu telah berada di sini, Demian. Di gedung rusak yang harus kamu bangun kembali.”


    Impian Demian Radityawangga untuk menjadi arsitek gedung-gedung bertingkat di seluruh dunia terancam kandas ketika suatu ketika dia didatangi oleh Alexandra Hardianty, Public Relation dari Sara Cosmetic, perusahaan kosmetik yang diwariskan kedua orangtuanya. Alexandra membuka kenyataan bahwa dia memiliki kewajiban memimpin perusahaan yang sedang mulai sekarat itu, sebagai pengabdiannya pada mendiang sang ibu, Sara Amalia, pendiri Sara Cosmetic.

    Keadaan semakin memburuk ketika Demian berkonflik dengan Hilda, ibu tirinya, yang memegang hak cipta atas Aqualove, produk kosmetik temuan terbaru yang seharusnya bisa menolong Sara dari kebangkrutan.

    Mampukah Demian dan Alexandra bersama-sama mengatasi krisis dan menyelamatkan pabrik kosmetik yang nyaris bangkrut itu, sementara di sisi lain, kesempatan untuk meraih impiannya mulai memanggil-manggil?


SINOPSIS:

    Demian akhirnya lulus dan menyandang gelar sarjana teknik arsitektur dari sebuah universitas terkemuka di Bandung. Dia sempat tertinggal dari kedua sahabat karibnya, Rio dan Dewi, yang lebih dahulu diwisuda dan kini menghadiri upacara kelulusannya sebagai perwakilan keluarga. Demian yang belum lama kehilangan sosok ayahnya, menyusul kepergian ibunda tercinta bertahun-tahun sebelumnya, nyaris tak memiliki keluarga lain. Sebenarnya dia memiliki ibu tiri bernama Hilda dengan putri tunggalnya yang telah beranjak remaja, Lucia, namun mereka sama sekali tak berhubungan akrab layaknya sebuah keluarga. Bahkan, bisa dibilang Demian membenci Hilda yang mendadak hadir menggantikan posisi sang mama dulu. Hubungan Demian dengan mendiang papanya juga buruk akibat perlakuan keras sang papa yang berbeda jauh dengan kasih sayang dan kelembutan sang mama.

    Belum puas Demian menikmati euforia usai diwisuda, seorang perempuan muda yang tampak optimis datang menemuinya. Dia mengaku bernama Alexandra, pentolan Public Relation di perusahaan kosmetik yang sebelumnya dipimpin papa Demian. Alexandra menuntut Demian sesegera mungkin kembali ke Jakarta, menghadiri rapat penting perusahaan, dan memimpin menggantikan sang papa. Al—sebutan akrab Alexandra—juga mengungkap fakta bahwa perusahaan sedang mengalami krisis. Meskipun awalnya menolak mentah-mentah dan sempat menghindar datang ke kantor, Demian akhirnya muncul. Hanya satu hal yang membuatnya berusaha menghadapi kenyataan dan bersedia bertanggung jawab atas Sara Cosmetic, yaitu rasa sayangnya pada sang mama, sang pendiri perusahaan.

    Dalam perjalanan memikul amanat tersebut, Demian dan Alexandra menjadi dekat. Kedekatan hubungan Al dengan mendiang papa Demian—yang salah satunya dipicu hubungan persahabatan lama papa Demian dengan papa Alexandra—menjadikan sikap Al lebih cair kepada Demian. Keduanya pun tak sekadar bawahan-atasan tapi tim kompak dalam mengatasi krisis perusahaan. Al meminta Demian memperbaiki hubungan dengan Hilda dan Lucia, tak hanya demi kebaikannya, tapi juga demi Aqualove, produk temuan teranyar yang hak ciptanya dimiliki Hida. Jika rencana Hilda hengkang dari Sara Cosmetic benar-benar terjadi, maka bukan mustahil Aqualove akan jatuh ke pihak lain. Permintaan berat yang tak serta merta disepakati Demian. Hingga suatu ketika, minggatnya Lucia dari rumah menjadi pengubah segalanya. Walaupun insiden Lucia sempat menyebabkan kesalahpahaman besar dan keretakan hubungan Demian, Rio, dan Dewi, namun juga membuka jalan perdamaian dengan Hilda.

    Kepiawaian Al dalam menyusun strategi ‘penyelamatan’ patut diacungi jempol. Sosoknya tentu saja sangat dibutuhkan perusahaan dalam jangka panjang. Al bahkan berhasil melobi seorang konglomerat untuk berinvestasi. Tapi, kabar pertunangan dan rencana pernikahan dalam waktu dekat antara Al dengan Rivan, jelas buruk bagi Demian. Apa lagi dia sebenarnya memendam rasa pada Al. Selama ini, masalah keluarga secara tak sadar membuatnya takut berkomitmen. Sementara itu, impian menjadi arsitek lewat Cornery Block—sebuah perusahaan bonafit—telah  memanggil-manggil di depan mata. Maka kali ini, Demian diuji sekali lagi untuk memperjuangkan tak hanya impian menjadi arsitek tapi juga mimpi masa depan bersama wanita yang dicintainya.


REVIEW:

    “Dalam menjalankan sesuatu, kita harus totalitas. Jangan nanggung, karena katanya kita hanya akan menjadi orang yang biasa-biasa saja.” (hlm. 192)

    “... kamu akan menjadi dewasa karena kekecewaan. Kamu akan menjadi dewasa karena terluka. Kamu akan menjadi dewasa karena terluka. Kamu akan menjadi dewasa justru karena hal-hal menyakitkan yang kamu terima, dan hal-hal yang kamu inginkan tapi nggak bisa kamu dapatkan.” (hlm. 286)

    Sesuai judul yang mengisyaratkan bahwa kisah ini adalah tentang Demian dan ‘milik’ Demian, maka tepat menurut saya jika POV yang digunakan adalah orang pertama, aku—Demian. Saya jadi keasyikan ‘menguliti’ cara berpikir dan apa saja yang dirasakan Demian, sang tokoh utama. Menurut saya, Mbak Nimas cukup berhasil membawakan peran tokoh laki-laki dengan segala konflik batinnya di sini. Demian yang anak tunggal, sangat menyayangi mamanya, cenderung membenci ayahnya karena prasangka, takut berkomitmen terutama dengan perempuan sehingga mendapat imej player, tapi punya impian menjadi arsitek besar. Kedekatan dan keakraban interaksi Demian dengan Rio dan Dewi pun tergambarkan secara baik dengan menghadirkan sosok mama Rio dan sapaan akrab serta banyolan khas tiga sahabat karib yang kerap membuat saya tertawa. Sebut saja trio Harry Potter, Ron Weasley, dan Hermione, juga Frodo dari “LOTR”, serta Arthur si robot android dari “Passengers” yang diselipkan sepanjang cerita dan ternyata cocok dengan selera humor saya. Tak lupa deskripsi fisik dan karakter Rio maupun Dewi yang tak jarang kocak juga. Mungkin jika saya membaca di sebelah seseorang, saya akan tertular kebiasaan buruk Dewi tertawa sambil memukul orang di dekatnya, hehe...

    Kehadiran Alexandra sebagai tokoh sentral lain, sekaligus ‘partner in crime’ Demian, tak hanya di kantor tapi juga di luar kantor, juga membuat cerita lebih seru. Saya suka karakter Al yang dewasa, patuh dan sayang pada sang mama, selalu optimis, ramah, dan cerdas. Gambaran sosok wanita muda masa kini yang tak kehilangan kebaikan hati meski harus mengikuti gaya hidup wanita karir di kota megapolitan Jakarta. Chemistry antara Al dengan Demian pun pas, walaupun bagi saya kisah romansa mereka tak mendominasi. Bisa dimaklumi, karena kisah ini bersetting dua dunia bisnis dan profesi yang bertolak belakang dan konflik utama yang harus lebih mendapat perhatian penulis.

    Dan masih menyambung, setting dunia bisnis dan pabrik kosmetik dengan segala lika-likunya dipaparkan dengan cukup baik. Saya jadi tahu lebih banyak informasi terkait dunia bisnis yang notabene berfokus mempercantik penampilan kaum hawa ini. Juga peran public relation dalam menaikkan imej produk dan nama perusahaan dan keutamaannya dalam sebuah perusahaan berskala besar. Pemaparan lewat dialog antartokoh juga membantu sehingga lebih mudah saya pahami dan tak terkesan membosankan. Konflik keuangan perusahaan dan konflik batin para tokohnya juga tercipta dengan plot yang apik dan alur maju (dengan sesekali kilasan ingatan tokoh akan masa lalu) yang relatif cepat. Saya juga menghargai unsur kisah keluarga dan persahabatan di sini yang sangat terasa, juga pesan moral akan kedewasaan. Plot twist tetap ada, meskipun saya bisa meraba garis besar penyelesaian konflik. Selain itu, di bagian akhir ada secuil kisah penutup tak terduga yang menghibur.

    Secara keseluruhan, saya puas dan suka dengan novel ini, yang juga merupakan salah satu judul dari seri ‘City Lite’ Elex Media. Saya jadi tak sabar membaca judul lain dari seri terbaru ini. “Impian Demian” saya rekomendasikan bagi kalian yang suka membaca kisah romansa ala kota megapolitan atau metropolitan dengan kesibukan dunia perkantoran dan gaya hidup modernnya.

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube