Minggu, 27 April 2014

[Resensi] Menguak Rahasia Sukses Resensi Buku

Posted by Menukil Aksara | 5:25:00 PM Categories:

Penulis                : Nurudin
Penyunting         : Wina Ekamawati
Pengantar           : Arief Santoso
Penerbit              : CESPUR, 2003

    Bagi para penikmat buku, membaca sebuah buku yang baik adalah sebuah kebutuhan. Mereka bisa saja menganggarkan sejumlah dana khusus untuk membeli buku-buku keluaran terbaru. Lantas dari manakah mereka mendapatkan informasi mengenai layak tidaknya sebuah buku untuk dibaca bahkan dibeli? Mengandalkan sinopsis dari pihak penerbit atau testimoni dari teman adalah cara-cara yang lazim digunakan. Cara lain yang cukup dapat dipercaya adalah dengan membaca resensi buku di media massa. Bagaimana jika Anda sebagai pembaca ingin juga meresensi buku tertentu alih-alih hanya menganggurkannya sehabis dibaca? Maka buku ini bisa menjadi panduan yang bagus tentang langkah-langkah meresensi buku.

    Bab pertama buku ini menyuguhkan fakta tentang rendahnya minat baca masyarakat Indonesia saat ini. Budaya baca disebutkan masih terkalahkan oleh budaya lihat dan dengar. Bagi kalangan yang telah membudayakan membaca, ada dua kemungkinan hal yang hendak diraih. Pertama, memenuhi kebutuhan ruhani pikirannya. Kedua, membaca untuk meresensi. Untuk yang kedua, tujuannya antara lain memberikan informasi atau pemahaman komprehensif tentang apa yang terungkap dalam buku, mengajak diskusi lebih jauh mengenai permasalahan dalam buku, memberi pertimbangan atas kelayakan sebuah buku, menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mungkin timbul ketika melihat sebuah buku yang baru terbit, dan memberikan arahan pada pembaca dalam memilih buku. Bab kedua buku lebih berbincang mengenai keuntungan-keuntungan yang dapat diperoleh dengan meresensi buku. Bab ketiga buku ini berisi langkah-langkah yang musti diambil sebelum mengeksekusi resensi. Peresensi dapat bertanya pada orang yang lebih berpengalaman mengenai seluk beluk resensi, melakukan survei ke toko buku, menggali kebijakan media terkait kolom resensi masing-masing, dan membangun hubungan yang intim dan akrab dengan buku yang hendak diresensi.

    Bab ketiga dan keempat dari buku ini memaparkan teknis resensi yang menjadi topik utama dari buku ini. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi Kedua terbitan Balai Pustaka dan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1991), kata “resensi” berarti pertimbangan atau pembicaraan buku, ulasan buku yang baru terbit. Dari definisi itu, sebenarnya sudah terkuak tiga elemen dasar kegiatan resensi. Yakni adanya teks buku, adanya unsur waktu baru, dan adanya pertimbangan atau penilaian (hal.x). Dalam bab keempat disarankan agar peresensi memilih buku yang sekiranya sesuai dengan minat dan kompetensinya. Setelah pilihan dijatuhkan, peresensi menuju pada tahap membaca dan memahami tubuh buku. Sebagai peresensi yang baik, ia harus menguasai teknik membaca skimming, dengan menemukan ide utama tiap paragraf. Memahami tubuh buku juga dilakukan dengan membaca pengantar buku, yang biasanya berisi ilustrasi singkat, ringkasan, dan maksud ditulisnya buku tersebut. Bandingkan pula buku tersebut dengan buku-buku lain bertema sama atau yang ditulis oleh penulis yang sama. Peresensi akan bisa membandingkan kelebihan dan kekurangan buku. Kekurangan buku sendiri bisa muncul dari sisi kesalahan cetak, penerjemahan yang kurang pas, pembahasan yang kurang akurat, dan data atau analisis yang kurang tajam. Resensi buku dapat ditulis dalam berbagai bentuk gaya. Adapun gaya resensi yang umum antara lain dengan meringkas dalam bahasa yang padat dan singkat disertai kesimpulan, menjabarkan isi buku yang masih terlampau rumit dipahami, membandingkan buku dengan buku lain yang senada dan mencari benang merahnya, memberi penekanan ide utama--yang biasanya dilakukan pada buku kumpulan tulisan atau bunga rampai. Struktur sebuah resensi yang baik terdiri dari judul resensi itu sendiri—yang baiknya dipilih dari gaya bahasa ilmiah populer, pencantuman data buku (judul buku, penulis, penyunting, pengantar, dan penerbit), membuat prolog sebagai penarik perhatian pembaca resensi, mengemukakan secara eksplisit isi buku, mengutip kalimat asli dari isi buku, menilai arti penting buku bagi masyarakat, keistimewaan buku dari berbagai sisi, sistimatika pembahasan buku itu,dan memaparkan biodata penulis.

    Begitu resensi selesai ditulis, peresensi masih memiliki tanggung jawab untuk melakukan editing yang hendaknya dilakukan beberapa waktu berselang. Peresensi bisa juga meminta bantuan orang lain untuk membaca naskah resensinya dan memberikan komentar. Jika masih ada komentar negatif, naskah bisa dikoreksi sebelum dikirim. Namun perlu diingat, jika komentar negatif berasal lebih dari satu orang, tak perlu merasa gagal dan urung mengirim naskah. Kirimkanlah naskah apa adanya dan sesegera mungkin. Ketika naskah telah dikirim, penting untuk menanyakan tentang kapan naskah akan dimuat. Hal ini remeh namun penting mengingat tenggat waktu sangat sensitiif dalam naskah resensi. Jika naskah tidak dimuat, peresensi bisa mengirimkannya pada media lain. Jangan mengirimkan naskah sekaligus ke lebih dari satu media massa. 

    Buku “Kiat Sukses Meresensi Buku di Media Massa” ini berukuran cukup kecil dan tidak tebal, namun isinya mewakili segala hal yang diperlukan dalam sebuah resensi yang baik. Oleh karena itu, saya pribadi merekomendasikan buku ini untuk semua pembaca yang hendak mengambil manfaat lain dari membaca sebuah buku. Mulailah meresensi buku yang telah Anda baca, karena ilmu itu lebih berfaedah jika disebarluaskan.



Kamis, 24 April 2014

[Flash True Story] Diary Sang Zombigaret

Posted by Menukil Aksara | 10:32:00 PM Categories:


Menghitung Mundur*
(Diary Sang Zombigaret)

            Namaku Kisno. Orang-orang menjulukiku Zombi. Julukan itu adalah sarkasme atas hidupku yang laksana mayat hidup. Mayat hidup yang menghitung mundur bom waktu yang nantinya meledak dan tiada menyisakan apapun, kecuali nama.

            Menjelang separuh abad lebih umurku ini, penyakit-penyakit serius menghinggapiku tiada ampun. Dulu aku lelaki gagah dan cerdas. Meskipun aku tergolong siswa nakal semasa di sekolah, otakku tetaplah encer. Kala sekolah menengah, aku bergaul dengan kawan-kawan berpengaruh buruk. Kami mulai mengenal rokok dan menghisapnya sembunyi-sembunyi di warung dekat sekolah. Aku juga lelaki yang gemar berjudi. Main kartu atau bertaruh dalam adu ayam adalah kesenanganku. Selain itu, segelas besar kopi hitam kental merupakan sobat pendamping batangan-batangan rokok filterku. Setamat sekolah menengah, aku bekerja sebagai sopir truk. Angin malam yang dingin, kujadikan dalih dan pembenaran atas kebiasaan merokokku. Sesekali bahkan aku sempat menenggak minuman keras. Ah, kalian tahulah, kehidupan jalanan membuat orang-orang seperti kami ini sulit berpaling dari godaan-godaan duniawi. Masih beruntung aku sempat mencicipi manisnya kehidupan berumah tangga. 

            Kehidupan rumah tanggaku tak pernah sempurna. Batangan-batangan rokok yang kubakar setiap hari—hingga tak terhitung lagi jumlahnya—menjadikanku pria dengan peluang menghasilkan keturunan yang nyaris nol. Apalagi istriku juga bukan wanita yang subur. Alhasil, hingga usia perkawinan yang jelang tiga puluh tahun ini, kami tak jua dikaruniai anak. Aku dan istriku hanya sanggup memandang iri sanak saudara yang kerap memamerkan  kelincahan dan kepintaran anak-anaknya. Acapkali aku mengajak anak-anak mereka bermain sejenak. Secara ekonomi, rumah tanggaku tak bisa dibilang mapan. Aku dan istriku menempati sebuah rumah sangat sederhana yang berdiri di atas sepetak tanah milik saudaraku. Ajaibnya, semua ketidaksempurnaan ini tak mampu menggugahku untuk mengubah hidup. Barangkali hatiku telah mati. Ia mati semenjak barang-barang haram itu kuijinkan masuk dalam tubuhku.

            Titik klimaks dari hidupku terjadi beberapa tahun silam. Aku menceraikan istriku. Wanita yang telah kunikahi selama berpuluh tahun itu ternyata mengkhianatiku. Selepas perceraian, malapetaka datang silih berganti. Bermula dari vonis dokter atas penyakitku: kanker paru-paru stadium awal. Badanku mendadak kurus kering. Pengobatan rutin kuperlukan demi memperpanjang umurku. Di saat aku tergolek lemah digerogoti penyakit, hanya adik perempuanku yang bisa kumintai tolong untuk merawatku. Aku sempat dirawat di rumah sakit untuk jangka waktu yang tak bisa dikatakan sebentar. Adikku sebenarnya bukanlah sosok lembut nan baik hati. Pertolongannya padaku tak lebih karena masih memandang hubungan darah di antara kami. Ia dan suaminya tak jarang mengeluh dan bersikap kasar padaku. Terkadang aku pasrah jika Tuhan memerintahkan malaikat maut-Nya untuk menjemputku kapanpun. Bukan karena aku percaya diri atas amalanku. Sama sekali bukan. Aku adalah Muslim KTP yang selalu alpa sholat lima waktu dan puasa. Aku laksana pungguk merindukan bulan; pendosa yang memimpikan surga. 

 
            Penyakitku ini tak mungkin sembuh total. Ibarat organ tubuh yang telah cacat permanen, dia mustahil normal seperti sediakala. Yang bisa kulakukan hanyalah menghentikan kebiasaan merokokku dan hidup lebih sehat. Syukurlah, benih kesadaran akibat himpitan keadaan telah tumbuh dalam diriku. Rokok telah kujauhkan dari jangkauanku. Kopi kukurangi porsi seduhannya setiap hari. Lagipula, aku cukup kere untuk sanggup membeli barang-barang tersebut. Hidupku sekarang kembang-kempis. Meski demikian, kala kesehatanku telah membaik, aku tetap berikhtiar mengais rejeki. Usaha apapun kujalani, senyampang itu bisa menghasilkan lembar-lembar rupiah. Terkadang penyakitku kambuh dan aku harus menjalani perawatan kembali. Itu menjadi saat-saat menyedihkan dan memalukan. Memalukan karena aku kembali mengemis belas kasihan saudaraku.

            Kisah ini bukan kisah inspiratif apalagi romantis. Kisah ini adalah kisah nyata pahit yang dilarang untuk ditiru. Siapapun kalian yang membaca kisah ini, ambillah hikmahnya. Buang dan jauhilah bagian buruknya. Jangan bunuh diri kalian dengan rokok dan kawan-kawannya. Tuhan menciptakan kita untuk menjadi makhluk berguna dan untuk beribadah kepada-Nya; bukan untuk menjadi zombigaret. Insaflah sebelum terlambat.





*Tulisan ini diikutsertakan dalam event menulis “Diary Sang Zombigaret” yang diadakan oleh @zombigaret
Penulis : Aii Vitri ( @aii_vitri)



Rabu, 23 April 2014

[Cerita Mini #7] Aku dan Gadis Manis Berkursi Roda

Posted by Menukil Aksara | 9:46:00 PM Categories:


Aku dan Gadis Manis Berkursi Roda

Aku adalah sebuah buku usang. Tempat mangkalku adalah sepetak ruang dalam rak kayu perpustakaan tua. Aku menempatinya selama hampir seumur hidupku. Seorang pustakawan muda jadi kawan karibku sejak beberapa tahun silam. Aku termasuk buku yang tak boleh dibawa pulang oleh pengunjung perpustakaan. Itu dikarenakan usiaku yang tak lagi muda, selain keberadaanku yang hanya satu-satunya.
            Lima tahun yang lalu, seorang gadis manis berkursi roda mengunjungi rumahku. Ia bergerak ke sana kemari seorang diri. Pernah sekali kucuri dengar, sopir setianya menanti di luar sana. Sang gadis manis menghampiriku dengan senyum termanisnya. Senyum tertulus yang pernah kujumpa dari seorang manusia. Sejak detik itu gadis manis itu resmi menjadi pengunjung setiaku sekaligus sahabat baruku. Ia tak pernah absen memelukku lalu membuka lembar demi lembar halamanku. Ia tak pernah mengeluhkan kertasku yang mulai menguning dan huruf-huruf di atasnya yang tercipta dari dentingan mesin ketik kuno.
            Hari ini, sang gadis manis tak menjengukku. Hari demi hari berlalu. Ia tak pernah lagi menampakkan senyum tulusnya. Ke manakah gerangan ia? Apakah ia jatuh sakit? Apakah kelumpuhannya ada hubungannya dengan ketidakmunculannya? Apakah ia tak lagi tinggal di kota ini? Ataukah ia telah jemu bertandang ke gubuk tuaku ini? Ah, aku merindukan sahabatku itu.
            Hingga tiga bulan berselang, sesosok gadis manis berpakaian panjang dan berkerudung lebar menjejakkan kakinya ke perpustakaan kami. Sang pustakawan menyapanya ramah. Mereka terlihat berbincang hangat. Apa kiranya yang tengah mereka perbincangkan? tanyaku ingin tahu. Selang sepuluh menit kemudian, sang gadis menghampiriku. Apa yang akan dilakukannya terhadapku? Oh, ia menjamahku lantas membawaku ke sebuah meja.
            “Lihat, kawan! Aku membawakan suvenir cantik untukmu,” seru riang sang gadis padaku.
            “Apa itu?” tanyaku penuh ingin tahu.
           “Mereka adalah foto-foto cantik yang kuambil sebagai kenang-kenangan perjalanan ke negeri asalmu,” kata sang gadis seraya menyuguhkan sekliping koleksi foto menarik.

            “Wow, benarkah yang kulihat ini? Itu adalah tempat-tempat istimewa yang kuceritakan dalam lembaran-lembaran kisahku. Tapi tunggu, siapa gadis ini? Mengapa ia terasa tak asing bagiku?”
            “Aku berterima kasih padamu, kawan. Berkatmu, aku mengenal negeri asing di belahan benua lain. Dan berkatmu, aku bernyali mengembara, mengejawantahkan makna petualangan hidup selama tiga bulan terakhir ini. Kini aku telah terbebas dari belenggu kursi roda yang menghipnotisku. Aku telah terbebas dari jerat masokisme yang membutakan mata hatiku. Aku kini menjadi manusia bebas yang tak takut lagi melangkah dan terjatuh.”
            Aku terhenyak. Apakah gadis ini adalah gadis manis berkursi roda yang selama ini kurindukan kehadirannya? Ah, iya. Dialah gadis itu. Aku nyaris tak mengenalinya dalam balutan pakaian panjangnya.
            “Dan ada beberapa kejutan lagi untukmu, kawan. Aku bingkiskan kawan-kawan baru untukmu. Mereka akan menemanimu di sisa usiamu,” ujar sang gadis seraya mengeluarkan setumpuk buku berbahasa Inggris dari dalam tasnya. Buku-buku itu menyapaku dengan senyum merekah.
            “Hai, kami datang dari negeri asal kita. Kami akan bersahabat denganmu hingga kau tak lagi kesepian di perpustakaan tua ini.”
           

[Puisi Bebas] Harga Sekeping Koin

Posted by Menukil Aksara | 9:44:00 PM Categories:


Harga Sekeping Koin

Kanak-kanak perempatan jalan mendendangkan lagu sumbang demi menadahnya
Pengemis gadungan menyulap paras—berkamuflase--demi segepoknya
Seniman jalanan memetik gitar menguntai syair picisan demi sekantong plastiknya
Penjual jasa parkir mendulangnya dalam tiupan peluit berirama
Mata mereka berbinar demi keping koin putih kuning berdenting

Pria gendut berdasi melempar ringan beberapanya ke dalam wadah lusuh pria kumuh
Ia memicing mata menyeringai bibir, atas nasib sang pria penghuni emperan rukan
Pria gendut berdasi melangkah lebar membusung dada
Dompet kulit impornya berkoar-koar memajang aneka rupa kartu gesekan
Aku gagah nian hari ini, lantangnya
Keping-keping koin langka di dashboard kuhibahkan pada si peminta
Andai ada pewarta menjepretkan lensa atas dermaku pada si pria kumuh

Maka sekeping koin bermakna pembeda
Pembeda si berpunya dan si berpura-pura
Si berpunya meruntuhkan harga diri demi mempunyainya
Si berpura-pura menaikkan harga diri demi mengenyahkannya

(Situbondo, 23/04/2014)
  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube