Sabtu, 14 Juni 2014

Episode dalam Bus Malam

Posted by Menukil Aksara | 9:56:00 PM Categories:

    Memutuskan merantau ke kota yang jauh dari kota saya berasal demi melanjutkan pendidikan, sesungguhnya cukup berat bagi saya kala itu. Namun dengan tekad yang telah bulat, saya besarkan hati dan beranikan diri untuk menetapi keputusan yang telah dibuat. Selain pengalaman hidup mandiri jauh dari orang tua yang nihil, hal yang cukup dikhawatirkan oleh ibu saya ketika itu adalah mengenai penyakit mabuk darat saya yang hampir selalu kambuh tiap kali menempuh perjalanan menggunakan bus. Ironisnya, jarak yang luas membentang diantara kedua kota, memaksa saya bertahan di dalam kotak ajaib raksasa tersebut selama nyaris 24 jam lamanya. Membayangkannya saja membuat saya gugup setengah mati waktu itu.

            Pertama kali berangkat ke rantau, ada bapak yang menemani hingga ke kota tujuan. Dan benar saja, saya tak kuasa menahan kambuhnya mabuk darat saya. Alhasil, saya tak semenitpun mampu menikmati pemandangan kota-kota asing—yang bahkan baru kali pertama itu saya lalui—di sepanjang perjalanan. Saya tak menghiraukan lagi pandangan rishi dan mencibir dari penumpang lain. Perut terasa sakit sehabis mual dan muntah bertubi-tubi. Badan saya pun lemas. Yang paling kocak dari perjalanan perdana ini adalah celetukan dari seorang ibu muda yang duduk tak jauh dari saya dan bapak. Ibu ini menanyakan apakah bapak adalah suami saya. Tentu saja saya terhenyak sekaligus geli dengan pertanyaan aneh itu. Antara menahan tawa dengan menahan rasa sakit di sekujur badan, saya hanya menggeleng lemah dan memberi isyarat dengan tangan saya. Mungkin penampilan bapak yang masih awet muda dan terlihat rapi meski sekadar berkaos sederhana, serta kondisi saya yang lemah sehingga kerap bersandar manja pada bapak, membuat si ibu tersebut menduga demikian.

            Tatkala libur semester dan libur menjelang lebaran tiba, saya rutin mudik menggunakan jasa bus malam. Tak heran, selama bertahun-tahun tinggal di perantauan, jasa bus malam dari berbagai perusahaan sempat saya cicipi. Di tiap perjalanan tersebut, biasanya ada yang berbeda. Tidak pernah saya melalui perjalanan dengan bertemu penumpang yang sama atau suasana yang sama. Itulah uniknya catatan perjalanan ini. Beberapa pengalaman lain sempat terekam rapi dalam memori.

            Pernah satu masa, ketika saya hendak kembali ke kota perantauan, saya mendapat tempat duduk di barisan kedua sebelah kiri. Perjalanan berjalan lancar. Seperti biasanya, selalu ada dua sopir di tiap bus malam. Mereka menyetir bergantian. Jika salah satunya sedang rehat, maka yang lainnya akan memanfaatkan waktu untuk tidur di bangku paling belakang. Setelah melalui perjalanan panjang melewati kota-kota di sepanjang jalur pantura dan berhenti istirahat sejenak di beberapa pos, kami akhirnya memasuki wilayah ibukota Jakarta. Sopir yang tengah bertugas di pagi itu masih terbilang muda dengan dandanan modis dan necis. Sambil mengendarai bus, sopir tersebut mengobrol santai dengan seorang awak bus yang duduk di bangku cadangan dekat pintu. Obrolan mereka kian lama kian meruncing ke masalah yang bersifat pribadi. Sang sopir menceritakan perihal kehidupan rumah tangga poligaminya. Suaranya yang nyaring, saya yakin didengar oleh sebagian besar penumpang bus yang masih tersisa—sebagian telah turun sebelum masuk ibukota. Namun ia seakan tak ambil pusing dengan hal itu. Saya sendiri merasa malu harus mendengar penuturan sang sopir yang blak-blakan tersebut. Ia antara lain menceritakan perihal istri pertamanya yang tak tahu menahu mengenai pernikahan keduanya. Juga mengenai konflik batin dari si istri kedua terkait pembagian waktu dan perhatian sang suami yang jelas terpecah. Masih ada detil-detil kisah rumah tangga yang diselipkan dengan santainya oleh sang sopir dalam penuturannya. Di benak saya kala itu, mau tak mau terbetik pembenaran atas desas-desus gaya hidup para sopir yang tak terlepas dari godaan wanita dan acapkali cenderung kebablasan. Jika sang sopir tadi benar berpoligami, menurut saya itu lebih baik ketimbang dia main perempuan dengan cara yang tidak dibenarkan.

            Di lain kesempatan, saya kembali berjumpa dengan manusia unik lainnya di dalam bus. Kali ini saya mendapat kawan seperjalanan seorang gadis belia nan lugu yang agaknya bermaksud ke ibukota untuk memenuhi panggilan kerja sebagai asisten rumah tangga. Gadis tersebut duduk di sebelah saya dan naik dari kota yang berbeda. Saya tipe orang yang tak pandai berbasa-basi—apalagi dengan orang asing—dan lebih sering menghabiskan waktu di perjalanan dengan diam atau tidur. Maka selain basa-basi perkenalan kami, kami nyaris tak terlibat percakapan mendalam sepanjang perjalanan. Di pertengahan perjalanan, gadis ini berkali-kali menunjukkan ketidaknyamanan. Awalnya saya tidak terlalu mempermasalahkan sikapnya, karena siapapun bisa bolak-balik berganti posisi duduk kala telah berjam-jam berada dalam bus. Namun ketika kami hendak turun di pos peristirahatan yang kedua—di sebuah rumah makan—saya baru menyadari sebab musabab yang sebenarnya. Tak saya duga, rupanya teman sebangku saya ini sedang mengalami menstruasi. Dan selidik punya selidik, ia tidak suka mengenakan pembalut kewanitaan sekali pakai. Sebagai gantinya, ia memilih menggunakan kain untuk menghindari kebocoran. Tapi malang bagi si gadis, tetap saja si tamu bulanan itu menodai kursi yang didudukinya dan membuatnya risih sekaligus salah tingkah. Ketika bus kami memasuki area parkir terminal Rawamangun Jakarta, si gadis dijemput oleh orang yang hendak mempekerjakannya. Ia turun lebih dulu daripada saya. Ironisnya, noda darah yang ditinggalkannya mengeluarkan aroma anyir yang mengundang beberapa ekor lalat hinggap. Saya sendiri agak heran, bisa juga lalat-lalat itu masuk ke bus. Saya pun hanya mampu tersenyum kecut sembari mencari kursi yang telah kosong untuk kemudian pindah tempat duduk.

            Beberapa catatan perjalanan tadi terhimpun sewaktu saya beruntung mengantongi tiket pulang bus malam yang melaju hingga kota asal saya. Adakalanya saat musim liburan panjang di ujung mata, tiket bus malam tadi ludes terjual, tak menyisakan selembarpun untuk saya. Di momen seperti ini, mau tak mau saya membeli tiket bus malam dengan jurusan kota lain dan nantinya saya harus menyambung perjalanan menggunakan bus lain hingga sampai ke kota tujuan. Pernah di suatu liburan, saya dan seorang teman baik dari satu kota yang sama, terpaksa mudik menumpangi bus malam jurusan Blitar. Kala itu, penyakit mabuk darat masih kerap menyerang. Kondisi bus kelas ekonomi yang pengap tanpa pendingin ruangan, kian diperparah oleh hadirnya oknum-oknum penumpang dan awak bus yang merokok selama perjalanan. Alhasil, ini memperparah penyakit saya. Prihatin dan khawatir menyaksikan kondisi saya yang lemas tak berdaya, teman saya berinisiatif mengajak mampir ke rumah seorang kakak kelas di Blitar, yang kebetulan telah mudik lebih awal. Lucunya, kami hanya beristirahat sejenak di rumah kakak kelas kami ini—menumpang mandi juga  pada dasarnya. Tawaran menginap terpaksa kami tolak mengingat perjalanan menuju rumah masih jauh. Orang tua kami pasti cemas jika kami tak segera pulang. Syukurlah, meski dengan kondisi tubuh yang jauh dari bugar, saya berhasil tiba di rumah dengan selamat pada malam harinya, disambut rentetan pertanyaan dari ibu saya.

            Di lain kesempatan, saya mudik bersama seorang teman baik yang berasal dari Blitar. Bus malam yang kami tumpangi memang bertujuan akhir Blitar. Kami berpisah, di mana teman saya dijemput saudaranya, sedang saya melanjutkan perjalanan ke Situbondo sendirian. Bus berikutnya menurunkan saya di sebuah terminal kecil di Malang. Berhubung ini baru kali kedua saya melalui jalur ini, saya tak ingat bahwa seharusnya saya menumpang angkotan kota ke terminal lain di kota yang sama, barulah saya bisa mendapatkan bus ke kota asal saya. Alih-alih mencari angkutan kota, saya malah bertanya pada seorang awak bus jurusan Lumajang, apakah bus tersebut menuju Situbondo. Bisa dibayangkan betapa linglungnya saya waktu itu, bukan? Malangnya lagi, perjalanan yang saya tempuh kali ini mengambil jalur daerah pegunungan yang panjang berliku-liku dan memakan waktu berjam-jam. Pemandangan kaki gunung yang hijau, berhawa sejuk, dilingkupi hutan lebat, dan diselipi rumah-rumah mungil nan sederhana milik penduduk desa di kaki gunung, sedikit mengobati rasa penat dan sesal saya karena salah memilih jalur. Ketika bus memasuki terminal Lumajang, hari telah beranjak siang. Saya bergegas mencari bus lain dengan tujuan Probolinggo untuk nantinya menyambung lagi ke bus lain bertujuan Situbondo. Saat akhirnya bus memasuki gerbang wilayah Situbondo, senja telah menggelincirkan matahari ke ufuk barat. Saya disuguhi pesona sunset di sepanjang garis pantai wilayah Situbondo yang mengundang decak takjub saya. Ini kali pertama saya mudik disambut dengan sunset yang menawan. Dan meskipun saya berbuka puasa di perjalanan, saya tetap wajib bersyukur atas petualangan tak terencana ini. Kini, tiap kali mengingatnya, saya akan tersenyum geli sekaligus bahagia.

            Untuk melengkapi catatan perjalanan ini, saya akan berbagi sedikit tips berkaitan dengan perjalanan menggunakan jasa transportasi darat, terutama bus malam. Pertama, jaga kesehatan menjelang perjalanan. Kedua, siapkan obat-obatan dan keperluan pertolongan pertama pada kejadian tak terduga, misalnya haid atau mabuk darat. Ketiga, pesanlah tiket jauh hari sebelum keberangkatan, apalagi menjelang hari libur nasional dan hari raya. Keempat, pilihlah bus yang paling nyaman akomodasi dan pelayanannya, dan sebisa mungkin hindari berganti-ganti bus jika kita sendirian. Kelima, jagalah barang bawaan, jangan sampai hilang atau tercecer di jalan. Keenam, berdoalah sebelum berangkat, terutama saat sudah berada di dalam bus dengan doa yang telah disyariatkan agama untuk memohon keselamatan. Have a nice trip then. 

Kamis, 12 Juni 2014

[cermin] Bukan Cinta Biasa

Posted by Menukil Aksara | 10:29:00 PM Categories:
google.com


 Dua cangkir teh panas manis yang perlahan menghangat menemani sore kami. Kami duduk di kursi rotan seraya menonton takzim suguhan pentas tetes-tetes air yang menari. Air dari langit menepuk-nepuk lalu membelai mesra sang bumi kekasih. Kulirik lelaki muda bermata sipit, berkulit pucat, berwajah lebar bulat yang tengah memasang mimik muka serius di sebelahku.

            “Benarkah ada yang namanya cinta karena Allah?” tanyaku padanya. Ia menoleh, menatapku lekat selama beberapa jurus dengan kedua matanya yang sedang melebar itu.

            “Ada. Cinta suami istri, misalnya. Cinta yang tak sekadar dilambari nafsu tapi diperkokoh oleh pondasi tanggung jawab dan keikhlasan.” Matanya mengerjap. Sekejap kemudian keduanya makin menyipit diiringi senyum yang memperlihatkan lesung pipi.

            “Apakah sewaktu kita pertama jumpa dulu, kau sudah jatuh cinta?” tanyaku lagi.

            “Iya,” jawabnya dengan intonasi sempurna.

            “Apa yang membuatmu jatuh cinta?”

            “Hummm… I just knew it. I was just in love. Sebelum bertemu, aku jatuh cinta pada caramu bertutur, caramu memperlakukan orang yang baru kau kenal, keterbukaanmu. Namun ketika kita bertemu, aku hanya bisa mengiyakan kata hatiku, bahwa aku menginginkanmu menjadi ibu dari anak-anakku.”

            “Aku mencintaimu, suamiku. I’m just in love with you, I know it,” kataku sambil menatapnya manja.          

Rabu, 11 Juni 2014

[Flash True Story] Bangunkan Imajinasimu

Posted by Menukil Aksara | 8:04:00 PM Categories:


 
foto dari sini
         Awal semester baru yang sibuk, kantor tata usaha jurusan selalu dipadati para mahasiswa. Mereka hilir mudik menenteng lembar Kartu Rencana Studi (KRS). Janji dengan dosen Pembimbing Akademik (PA) pun dibuat. Aku menatap lembar KRS milikku. Semester ini tercantum beberapa Mata Kuliah (MK) yang cukup berat.
            “Sudah selesai ya mengurus KRS semester ini?” sapa seorang teman.
            “Alhamdulillah sudah.”
            “Semester ini MK apa saja yang kamu ambil?”
            Aku memperlihatkan lembar KRS milikku. Beberapa MK yang kami ambil sama. Nasib sebagai mahasiswi pindahan adalah mengambil MK dan kelas yang tidak persis sama dengan rekan seangkatan. Terkadang aku sekelas dengan teman seangkatan, adakalanya juga justru sekelas dengan angkatan di atasku.
           
            Hari ini adalah hari pertama kuliah di semester baru. Salah satu mata kuliah hari ini adalah English Literature. Dosen yang mengajar bernama Pak Teguh.
            “Kalian harus memiliki diktat kuliah seperti yang saya bawa ini,” ujar Pak teguh seraya menunjukkan sebuah buku.
            “Dalam mata kuliah ini kita akan mempelajari dasar-dasar sastra Inggris. Mengapa hanya dasar? Karena kalian di sini bukanlah mengambil Jurusan Sastra Inggris.”
            Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris memang dititikberatkan untuk mempelajari bahasa Inggris dari sisi metode pembelajarannya.
            “Di pertengahan pembelajaran nanti, kalian akan diwajibkan mengumpulkan sebuah naskah novel pendek dengan tema yang akan saya tentukan.”
            Glek. Ada tugas sastra yang sesungguhnya di mata kuliah ini. Aku mengkhawatirkan kemampuanku menulis cerita.


            “Wah, kira-kira apa tema apa yang akan diangkat ya?” ujar seorang teman gelisah.
            Agaknya bukan aku saja yang menilai tugas akhir kami nanti sulit.
            “Semoga saja tidak terlampau sulit. Oya, mengenai buku diktat wajib, kita kolektif saja mengcopy, buku aslinya jelas susah dicari, mahal juga karena berbahasa Inggris.”
            Beginilah nasib mahasiswa menengah ke bawah seperti kami. Meski sudah jelas tertulis dilarang memperbanyak buku asli tanpa ijin, hal itu terpaksa kami lakukan. Sepengetahuanku, ini juga berlaku di universitas lain.

            “Hari ini kita akan membahas sebuah puisi klasik. Kalian saya wajibkan menghapalkan puisi ini. Nantinya akan saya panggil satu persatu untuk tampil membawakan puisi ini di depan kelas.”
            Agaknya dosen kami yang satu ini senang dengan gaya perkuliahan santai tapi serius. Beliau memang membahas dan menjelaskan teori-teori sastra, namun kami lebih banyak didorong untuk langsung mempraktekkan.

            “Sudah siap dengan hapalan puisinya, Vit?”
            “Sudah, insya Allah. Puisinya bagus dan rimanya indah, sebenarnya cukup mudah dihapal.”
            Maka jadilah hari itu kami dipanggil satu demi satu ke depan kelas. Aku jadi teringat masa-masa sekolah dulu. Perkuliahan ini cukup menyenangkan.
            “Sekarang tiba saatnya saya umumkan tema yang harus kalian angkat dalam penulisan novel pendek nanti.”
            Kami berdebar menanti penjelasan beliau selanjutnya.
            “Novel pendek ini nantinya tidak harus berbahasa Inggris, meski ini adalah mata kuliah sastra Inggris. Panjang tulisan kalian nantinya minimal 30 halaman.”
            Terdengar helaan nafas dari mahasiswa. Panjang tulisan yang cukup menggelisahkan.
            “Untuk tema, saya ingin mengangkat kisah nyata seorang wanita yang tega membunuh dan memakan bangkai anaknya sendiri. Sebut saja dia Sumanto versi perempuan.”
            Kami makin gelisah. Sebuah tema yang tak lazim. Sesuai sekali dengan karakter dosen kami yang juga terbilang unik.
            “Kumpulkan dalam bentuk print out di akhir masa perkuliahan, pada kelas terakhir.”
            Masih cukup lama, pikirku. Aku mulai berpikir keras mengenai pembentukan karakter tokoh dalam ceritaku nanti.
            “Kalian bebas menciptakan alur, setting, tokoh, dan ending cerita. Bebaskan imajinasi kalian. Praktekkan teori unsur-unsur karya sastra yang telah kita pelajari.”
            Seusai perkuliahan, aku dan Amy berdiskusi tentang tugas tadi.
            “Berat juga temanya. Aku belum bisa membayangkan akan dibawa ke mana arah ceritaku nanti.”
            “Iya. Waktunya memang masih cukup lama, tapi kita harus mencicil dari sekarang.”

            Di pertemuan selanjutnya, Pak Teguh membuat pengumuman baru seputar teknis penilaian tugasnya.
            “Kalian wajib menunjukkan draft tulisan kalian. Draft ini sebagai bukti kalian telah berproses dalam menulis. Ini juga akan menyumbangkan nilai pada tugas akhir kalian nanti.”
            Kami mendesah. Itu artinya kami tidak mungkin menerapkan sistem kebut semalam, menyelesaikan tugas pada detik-detik akhir pengumpulan.

            Hari ini aku kalut. Ideku belum juga sempurna. Aku masih terombang-ambing dengan keraguan akan jalan cerita yang akan kutulis. Akibatnya, draft milikku tak terkumpul pada saatnya. Aku sangat khawatir mengenai nilai yang akan kuperoleh dan sanksi yang diberikan.
            Berhari-hari aku mengutuki kreativitasku yang mandeg. Aku harus segera menulis. Akhirnya kuputuskan untuk menciptakan dua tokoh aku dalam cerita.
            “Aduh, bagaimana ini? Tulisanku masih belum memenuhi target jumlah halaman,” seruku panik di depan komputer.
            ‘Vit, sedang mengetik tugas Pak Teguh ya?” sapa seorang teman.
            “Iya. Tulisanmu sudah selesai?”
            “Sudah. Hari ini batas waktu terakhir pengumpulan tugas kan?”
            Aku semakin gelisah. Kesal aku harus bertemu teman di rental komputer ini. Agaknya aku harus lembur mengetik. Sore ini tugasku harus diserahkan apapun yang terjadi.
            Akhirnya, dengan diburu-buru waktu aku berhasil menyelesaikan tulisan. Naskah kuletakkan di loker bertuliskan Pak Teguh, di mana kami biasa meletakkan tugas untuk dosen tertentu. Tulisanku jauh dari sempurna, terutama dari sisi kerapihan dan aturan sastra.
            Pada saat ujian tertulis, kami terkaget-kaget oleh banyaknya soal dan semua berupa pilihan ganda. Materinya mutlak hapalan tentang sejarah kesusastraan Inggris.

            Di akhir semester, kami mendapatkan hasil nilai akhir kami. Aku cukup kecewa dengan nilai yang kuperoleh dari mata kuliah English Literature. Karena rasa ingin tahu, aku menelusuri aspek-aspek nilai dan kutemukan kesalahan dalam persentase kehadiranku di kelas.
            “Pak, maaf saya ingin mengonfirmasikan nilai saya.”
            “Ada apa?” jawab Pak Teguh dingin.
            “Di persentase kehadiran, dinyatakan kehadiran saya tidak seratus persen. Saya rasa ada kesalahan, Pak. Saya yakin saya tidak pernah absen dari kelas Bapak.”
            “Nilai itu sudah final,” ucap Pak Teguh lalu berlalu begitu saja.
            Betapa kecewanya aku saat itu. Aku merasa diperlakukan tidak adil. Aku bisa menerima jika nilai tugasku tidak sempurna, tapi absensiku tidak sesuai. Itu cukup mempengaruhi nilai akhir yang kuperoleh.
            Berhubung tidak ada lagi yang bisa kulakukan, aku akhirnya pasrah dan merelakan.

            Semester baru dimulai. Libur panjang telah usai. Semester ini, tak kusangka aku kembali bertemu mata kuliah yang dipegang oleh Pak Teguh. Dengan berusaha menyingkirkan ingatan akan pengalaman kurang menyenangkan semester lalu, aku kembali menginjakkan kaki di kelas beliau.
            “Kalian mungkin telah mengetahui makna drama. Drama-drama modern yang kalian tonton di televisi, merupakan bentuk drama modern.”
            Pak Teguh mengawali penjelasannya tentang mata kuliah English Drama.
            “Di perkuliahan ini kita akan banyak membahas tentang drama klasik berbahasa Inggris. Mungkin kalian telah sering mendengar nama William Shakespeare. Karya-karya klasiknya banyak yang menjadi rujukan satra hingga sekarang.”
            Kami serius menyimak penjelasan beliau.
            “Tugas akhir kalian di mata kuliah ini adalah menciptakan sebuah pertunjukan drama klasik, dari sebuah judul yang akan saya tentukan nanti.”
            Aku ternganga. Tugas berat lagi rupanya. Pak dosen satu ini memang gemar menantang kreativitas mahasiswanya.

            Selama masa mempersiapkan pertunjukan itu, kami diajak mengenal dan mendiskusikan lebih jauh tentang unsur-unsur sastra dalam drama klasik. Sesungguhnya materi ini masih mirip dengan mata kuliah English Literature.
“Amy, sudah siap untuk ujian tengah semester?”
“Sudah insya Allah. Biasanya soal esai tidak akan jauh dari materi di catatan kuliah.”
            Ujian berlangsung tenang. Di soal akhir, Pak Teguh meminta uraian lengkap kita tentang penokohan dalam sebuah judul drama yang pernah dibahas.
           
            Tanpa kuduga, saat pembagian hasil ujian, nilaiku adalah yang tertinggi. Tidak hanya itu, Pak Teguh juga memuji penjelasanku di soal terakhir dengan menyebutnya sebagai jawaban yang canggih. Aku tersipu sekaligus bangga namaku disebut di depan seluruh warga kelas.
            “Alhamdulillah. Mungkin inilah balasan atas keikhlasanku tempo hari,” pikirku.
            Aku masih teringat akan pengalaman protes atas nilaiku yang tak ditanggapi semester lalu. Aku tersenyum lebar seraya mengucap syukur berulangkali.

            Saat yang dinantikan tiba juga. Kami harus memutuskan akan sekelompok dengan siapa saja dalam pementasan drama nanti.
            “Vitri, kamu sekelompok denganku dan Yanti saja ya. Kita cari anggota kelompok yang lain nanti.”
            “Iya, boleh. Kita usahakan sekelompok dengan yang mudah diajak bekerja sama saja,” usulku pada Amy.
            Maka kesibukan kami pun dimulai. Kami harus membaca skenario naskah asli berbahasa Inggris dari drama ini. Drama ini berjudul MacBeth, sebuah drama klasik berlatar belakang kerajaan Inggris dan tragedi yang menimpa keluarga kerajaan.
           
            “Vit, nanti siang kita berkumpul lagi ya.”
            “Siap, Ketua!” balasku riang.
            Naskah asli telah kami ubah menjadi dialog-dialog berdiksi sederhana, sesuai gaya drama modern. Itu memang harus dilakukan, mengingat naskah aslinya berbahasa Inggris klasik yang kosa katanya cukup sulit dihapal dan dipahami.
            “Ulangi lagi, kurang bagus aktingnya!” seruku pada beberapa teman yang sedang berlatih adegan.
            Kami berlatih di ruang kelas kosong setiap ada kesempatan.
            “Mungkin perannya harus ditukar, Agaknya Yani kurang cocok berperan sebagai ratu.”
            “Iya, tidak masalah.”
            Anggota kelompok yang tidak imbang jumlahnya antara laki-laki dan perempuan mengakibatkan sebagian besar dari mahasiswi berperan sebagai tokoh laki-laki.
            “Besok kita berkumpul di rumah kost Yani. Kita harus memodifikasi musik yang akan menjadi latar drama nanti.”
            “Aku akan menyewa beberapa CD film kolosal. Kita bisa merekam musik dari beberapa film itu dan mengeditnya,” usulku.
            “Ya, ide yang bagus.”

            Beberapa hari menjelang pementasan, kami benar-benar harus bekerja keras. Rekaman musik siap, demikian pula kesiapan para anggota dalam beradu peran. Satu-satunya yang masih menjadi hambatan adalah kostum dan aksesoris pelengkapnya.
            “Besok terpaksa kita harus lembur untuk menyelesaikan perlengkapan pementasan. Kita bawa bahan dan perlengkapan sesuai tugas masing-masing. Kita berkumpul di rumah kost Ade.”
            “Wah, bagus tuh tamengnya. Oya, bagaimana jika para pemeran pria mengecat rambutnya menjadi pirang? Itu untuk menambah daya tarik dan keunikan kelompok kita.”
            Usul yang menggelikan namun cukup bagus. Akhirnya kami menyerahkan keputusan pada para anggota yang memang ingin mengecat rambut.

            Waktu pementasan tiba. Suasana auditorium kampus yang akan kami jadikan panggung pertunjukan ramai oleh mahasiswa-mahasiswi yang mengambil mata kuliah English Drama. Pertunjukan dan penilaian akan dilakukan satu hari penuh.
            “Siap kan teman-teman? Jangan gugup ya, anggap saja kita tidak ditonton siapapun. Berakting saja seperti saat latihan,” ujarku memberi semangat.
            “Oke, siap.”
            Maka giliran kami pun tiba. Satu persatu adegan kami lalui dengan lancar. Aku memperhatikan Pak Teguh dari balik layar. Beliau tampak menikmati pertunjukan drama kami. Kostum gamis muslimah plus kerudung hitam polos dan selendang dari kerudung lebar menjadi pembeda kami dengan kelompok lain.
            “Alhamdulillah, sukses kawan-kawan. Selamat ya, kita berhasil tampil dengan maksimal.”
            “Adegan pertarunganmu dengan Gilang tadi seru, Vit. Meski ada insiden tak terduga, improvisasi kalian keren,” puji Amy.
            Aku tertawa, teringat adegan patahnya pedang bambu yang kugenggam dan kujadikan senjata saat berduel dengan Gilang.
            “Ayo ke toilet. Kita harus menghapus lukisan kumis dari wajah kita sebelum pulang.”

            Keesokan harinya kelas ramai memperbincangkan pertunjukan kemarin.
            “Kudengar Pak Teguh berkomentar positif. Beliau bahkan memuji pementasan kemarin. Menurut beliau pentas drama kelompok kita layak tampil di TVRI.”
            Seketika itu juga kami tertawa senang. Kerja keras kami rupanya membuahkan hasil cemerlang. Di akhir semester, kami bahagia ketika mengetahui bahwa beberapa anggota kelompok kami mendapat nilai A, termasuk aku.
            Sebuah pengalaman yang tak terlupakan. Di semester berikutnya Pak Teguh tak lagi mengangkat tema drama klasik untuk tugas akhir. Adik kelas kami mementaskan drama modern dengan tema bebas. Pertunjukan kami memang tak ada duanya.




  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube