Posted by Menukil Aksara | 8:33:00 PM
Categories:
Judul Buku : Nadrenaline (Catatan Petualangan Nadine Chandrawinata)
Penulis : Nadine Chandrawinata
Penyunting : Suryo Utomo
Perancang sampul depan: Ismael, Third Eye Studio
Perancang sampul belakang: Adien Dendra
Pemeriksa Aksara: Ine dan Nurani
Penata Aksara: gores_pena
Ilustrasi isi : Ikan
Penerbit : B-First
Cetakan : Pertama, Februari 2012
Jumlah Halaman: xvi + 218 hlm.; 19 cm
ISBN : 978-602-8864-54-1
Blurb:
Hiking, diving, dan traveling adalah bagian penting dalam hidup Nadine Chandrawinata. Tak hanya wara-wiri di layar kaca sebagai entertainer, mantan Putri Indonesia ini juga kerap wara-wiri melakukan perjalanan traveling ke berbagai penjuru negeri, bahkan dunia. Laut dan gunung menjadi tujuannya.
Seru dan tak disangka-sangka. Seperti Nadine yang bisa tak mandi seminggu saat naik boat ke Wakatobi, dengan GPS off. Pun Nadine yang tidur di Stasiun Kolkata, beralaskan keramik kotor, dengan banyak nyamuk dan lalu-lalang orang.
Ulasan:
Tak seperti umumnya kalangan pesohor yang menerbitkan buku kisah hidup atau biografi, buku dari selebritis satu ini bertutur tentang petualangan ke berbagai belahan bumi. Selain karena dorongan kegemaran berpetualang ke alam bebas, perjalanan Nadine kadang juga dilakukan atas dasar tuntutan pekerjaan. Bisa dibayangkan, sesudah bertahun-tahun bepergian, tentunya banyak keseruan, rintangan, kegembiraan, maupun kekecewaan yang bisa dibagi. Beruntungnya, selain gemar berpetualang, Nadine juga senang menuliskan pengalaman-pengalamannya selama di perjalanan. Tulisan tersebut acapkali dikerjakan selama masa senggang perjalanan dengan ponsel pintar ataupun laptop yang dibawa.
Nadrenaline diawali dengan sebuah untaian prolog yang menarik. Salah satu kutipan favorit saya di sini adalah: “Saya yakin pasti kamu juga akan membuat cerita perjalanan yang seru. Kesulitan yang kamu temui tentunya berbeda dengan yang saya alami. But, Nadine was there, too. Semua benci, dongkol, marah, pasti kita alami pada tiap perjalanan itu. Ingat, jangan pernah salahkan orangnya apalagi daerahnya, tapi cobalah untuk ubah perilaku dan pikiran kita sendiri, be a flexible person! Bayangkan bila hidup kita tak ada masalah, flat! Tidak ada tantangan hidup. Basi! Tidak baik pula punya segudang pengalaman, tapi tidak kita bagi kepada orang lain.” (halaman xvi)
Kisah Nadrenaline lantas bergeser ke momen perjalanan Nadine bersama keluarga semasa remaja. Kala itu, mereka bermaksud menempuh perjalanan darat Jakarta-Lombok mengendarai mobil keluaran tahun 90-an. Sudah pasti, keseruan banyak terjadi. Mulai dari menyanyi keras-keras di mobil untuk menghilangkan suntuk, tidur bersempit-sempitan di satu kamar hotel, hingga snorkeling di luar Gili Trawangan.
Petualangan selanjutnya dalam buku ini diambil dari pengalaman ke berbagai kota di Indonesia, benua Asia-Eropa, negeri empat musim, pantai hingga gunung. Di tiap awal judul baru, selalu ada kutipan, entah itu filosofi hidup yang dipegang Nadine, maupun adegan menarik yang dipenggal dari sebuah kisah lengkap. Ini trik yang jitu, karena pembaca jadi bertanya-tanya tentang kisah utuhnya.
Nadine juga tak segan mengisahkan pengalaman konyol, memalukan, yang sempat menimpanya selama berkelana. Contohnya: “Rekor terlama tidak mandi tercatat saat saya menuju Gunung Everest. Ya, tidak terlalu lama, sih, cukup seminggu saja. Badan masih bisa kompromi, kok, alias tidak gatal.” (halaman 67-68). Atau saat dia terkena patahan bulu babi yang cukup parah di bagian bokong (halaman 13-14). Dan masih berderet kisah konyol lain.
Adakalanya pula Nadine berbagi kisah keyakinan penduduk lokal dan kebiasaan-kebiasaan khas yang berbeda dengan Indonesia. Kita juga akan disuguhi istilah-istilah khusus terkait diving, snorkeling, dan tips untuk mempersiapkan perjalanan jauh.
Yang paling menarik, dalam buku ini Nadine membuka sisi lain pribadinya lewat daftar sepuluh hal tentang dirinya, semisal sepuluh hal yang suka Nadine lakukan, 10 kelakuan ketika Nadine bosan, dan semacamnya yang menghibur karena umumnya unik dan konyol. Nadine juga memanjakan mata pembaca dengan melampirkan koleksi foto-foto pribadinya selama berjalan-jalan keliling dunia. Meskipun foto-foto tersebut dalam format hitam putih, namun kualitasnya bagus dan memberi gambaran lebih tentang setting alam atau kota yang dikunjungi.
Gaya bahasa yang digunakan ringan, dipadupadankan dengan bahasa gaul sehari-hari seperti yang biasa digunakan Nadine kala berbicara, yang mana ini bagus, karena ini bukan buku nonfiksi ilmiah yang bahasannya berat. Dengan gaya bercerita mirip orang berbicara, pembaca seakan mendengar kisah langsung dari lisan Nadine.
Dengan membaca buku ini, banyak kita temukan sisi menarik dan positif dari seorang Nadine Chandrawinata, yang di awal kemunculannya lebih identik dengan dunia modelling. Meskipun, tetap ada sisi kekurangan yang tak usah juga kita teladani. Untuk Anda yang menyukai buku nonfiksi semacam ini, Nadrenaline bisa menjadi pilihan yang tepat.
Posted by Menukil Aksara | 6:18:00 PM
Categories:
Judul Novel : Bumi
Penulis : Tere Liye
Desain Sampul : eMTe
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : keempat April, 2014
ISBN : 978-602-03-0112-9
Jumlah Halaman: 440 hlm.; 20 cm
Blurb:
Namaku Raib, usiaku 15 tahun, kelas sepuluh. Aku anak perempuan seperti kalian, adik-adik kalian, tetangga kalian. Aku punya dua kucing, namanya si Putih dan si Hitam. Mama dan papaku menyenangkan. Guru-guru di sekolahku seru. Teman-temanku baik dan kompak.
Aku sama seperti remaja kebanyakan, kecuali satu hal. Sesuatu yang kusimpan sendiri sejak kecil. Sesuatu yang menakjubkan.
Namaku Raib. Dan aku bisa menghilang.
Sinopsis:
Membaca ulasan singkat di atas, yang juga dicantumkan di sampul belakang buku, seketika kita bisa menebak bahwa novel remaja satu ini mengusung genre fantasi.
Raib, Seli, dan Ali adalah teman satu sekolah, bahkan satu kelas. Raib dan Seli berteman baik. Namun tidak halnya dengan Ali, yang pada mulanya mereka anggap pengganggu, anak yang menyebalkan dan suka berulah. Namun, suatu hari, rahasia besar Raib diketahui tanpa sengaja oleh Ali dan ini memicu rasa penasaran Ali yang seorang jenius. Semenjak itulah hubungan ketiga remaja ini berkembang ke tingkat yang lebih serius, menyusul hadirnya Tamus, makhluk asing berpenampilan misterius yang kemunculannya pun dengan cara yang tak biasa. Kejutan lain datang dari Miss Selena, salah seorang guru sekolah Raib, Seli, dan Ali. Persoalan mulai mencuat ke titik klimaks ketika ketiga remaja dengan kelebihan masing-masing itu melarikan diri dari kejaran Tamus dan tersesat di dunia lain. Di dunia baru inilah mereka juga menemukan banyak fakta menarik, termasuk kekuatan luar biasa yang mereka miliki. Bagaimanakah petualangan Raib, Seli, dan Ali selanjutnya? Siapakah sebenarnya jati diri mereka dan orang-orang yang mengejar mereka? Apakah kisah ini akan ada kelanjutannya? Anda akan menjumpai jawabannya dengan menyimak kisah fantasi yang dibingkai oleh pernak-pernik dunia remaja ini.
Ulasan:
Novel tebal ini merupakan pembuktian diri (sekali lagi) seorang Tere Liye yang selama ini dikenal lebih banyak menulis novel-novel bertema realis dan romantis. Novel tebal dengan judul sederhana ini mungkin akan dipandang tak menarik jika saja kita tak mengenali nama Tere Liye dan blurb-nya. Bumi. Mengapa judul sederhana ini yang dipilih? Karena judul inilah yang paling pas mewakili isi cerita di dalamnya.
Walaupun genre fantasi membebaskan penulisnya ‘meliarkan’ imajinasi, namun seperti yang dikatakan oleh Isa Alamsyah dalam buku 101 Dosa Penulis Pemula, penulis fiksi fantasi harus konsisten mengikuti alur logika yang diciptakannya. “Cerita fantasi boleh menciptakan logika sendiri. Tidak harus patuh pada logika umum. Tapi begitu logika itu dibuat, maka semua isi cerita dari awal hingga ending harus patuh dengan logika yang diciptakan si penulis.”
Maka, demikian halnya dengan Tere Liye di sini. Teinspirasi atau didasarkan pada sebuah ide lapangan olahraga indoor, Bumi mengisahkan sebuah dunia yang tak sesederhana yang terlihat. Ada lebih dari satu kehidupan yang berjalan di atasnya. “Selain untuk rapat, pertemuan guru-wali murid, dan pertunjukan seni, aula itu sekaligus merangkap lapangan olahraga indoor. Ada lapangan bulu tangkis di dalamnya yang garis-garisnya ditimpa lapangan futsal, lapangan voli, dan lapangan basket. Ada empat lapangan sekaligus di lantai aula. Praktis, jika ingin bermain bulu tangkis, tinggal pasang tiang dan netnya. Kalau ingin bermain basket, lepas tiang dan net badminton, dorong tiang-tiang basket yang disimpan di sudut-sudut aula.” (halaman 156)
Ide dasar ini kemudian dijelaskan lebih jauh terkait fakta dunia baru yang dijelajahi Raib dan kawan-kawannya di halaman 246-250.
Selain itu, tiap keabnormalan yang dijumpai diberikan penjelasan logis lewat penuturan sang jenius Ali, misalnya tentang makhluk-makhluk dengan gen spesial atau berkembang jauh lebih hebat dari yang lain (halaman 273-274).
Di dunia tempat ketiga remaja tokoh utama tersesat, juga dideskripsikan secara apik dengan kecanggihan tekonologi, keberadaan kapsul kereta, rumah yang melayang, baju yang bisa otomatis mengikuti bentuk tubuh, makanan yang praktis menyiapkannya, perpustakaan keren, dan masih banyak lagi. pembaca akan dimanjakan dengan imajinasi yang menyenangkan.
Sebagai sebuah novel remaja, gaya bahasa yang digunakan, karakter para tokohnya sudah pas, tidak terlampau rumit atau susah dipahami. Bahkan ada keindahan tersendiri dari diksi-diksi yang dipilih. Alur-plotnya runut, dengan alur maju dan penceritaan dengan sudut pandang ‘aku’ sebagai Raib. Di beberapa bab, Tere Liye dengan cerdik menyisipkan potongan-potongan petunjuk berupa teka-teki tentang kelanjutan cerita, seperti yang sudah biasa dilakukan di karya-karyanya yang lain.
Dan seolah tidak ingin mengganggu fokus pembaca, novel ini tidak disertai ilustrasi di dalam, benar-benar polos dan paragraf demi paragrafnya sangat padat tertata.
Novel fantasi remaja ini menurut saya lebih mengetengahkan unsur superheroes dengan kekuatan mereka yang tidak lazim lantas digunakan untuk misi penyelamatan bumi. Pengungkapan kekuatan para tokoh utama dilakukan bertahap demi menjaga ritme cerita. Settingnya sendiri tidak spesifik menggambarkan sebuah kota di Indonesia, namun menyimak adegan dan gaya hidupnya, saya yakin Tere Liye tetap mengambil setting dalam negeri.
Selama membaca kisah petualangan Raib ini, saya bisa turut menikmati sensasi debar kegugupan, keseruan pertarungan, kejutan-kejutan manis yang dihadiahkan pada pembaca hingga akhir. Dan meski ini fantasi, Tere Liye tetap tak melupakan pesan moral di dalam kisah. Simak saja yang berikut:
“Ketahuilah, sumber kekuatan terbaik adalah yang sering disebut dengan tekad, kehendak. Jutaan tahun usia planet ini, ribuan tahun kehidupan tiba di dunia ini.semua mencoba bertahan hidup. Maka kehendak yang besar bahkan lebih kuat dibandingkan kekuatan itu sendiri.” (halaman 263)
Hanya satu yang menjadi catatan sekaligus pertanyaan bagi saya. Di dalam kisah ini terdapat adegan panjang kehidupan baru Raib dan kawan-kawan dengan bahasa lain. Raib pun diceritakan bercakap-cakap menggunakan bahasa itu yang entah bagaimana otomatis dikuasainya. Sayangnya, Tere Liye tidak memberikan bentuk riil dari tata bahasa itu, seperti yang lazim kita dapati di film-film fantasi, semacam bahasa kaum peri di Lord of The Rings atau bahasa ular dalam Harry Potter. Hanya penjelasan itu bahasa berbeda, titik. Apakah Tere Liye tidak ingin berpanjang-panjang fokus pada elemen pendukung ini? Ataukah akan ada kejutan di sekuel selanjutnya, Bulan? Saya berharap kemungkinan kedua ini yang terjadi. Saya pun tidak sabar menantikan kelanjutan petualangan menegangkan Raib, Seli, dan Ali di sekuel Bulan.
Overall, Bumi menjadi kekayaan karya fiksi fantasi Indonesia yang layak direkomendasikan untuk dibaca, terutama kalangan remaja.
Posted by Menukil Aksara | 11:29:00 PM
Categories:
Judul Novel : Bidadari-Bidadari Surga
Penulis : Tere Liye
Desain Cover: Eja-creative14
Penerbit : Republika
Cetakan VI : Maret, 2010
Jumlah Halaman: vi+368 halaman 20.5 x 13.5 cm
ISBN : 978-979-1102-26-1
Sinopsis:
Berkisah tentang sebuah keluarga. Mamak Lanuri, Laisa, Dalimunte, Ikanuri, Wibisana, dan Yashinta, yang hidup di Lembah Lahambay yang indah, terletak persis di tengah-tengah bukit barisan yang membentang membelah pulau. Laisa yang berpenampilan fisik jauh dari cantik akibat kecelakaan di masa bayi, memiliki perangai yang menawan, melebihi kecantikan fisik mana pun. Keteguhan, ketulusan cintanya pada keluarga, terutama pada keempat adik-adiknya—yang bahkan bukan saudara sekandung—yang menjadi poros kisah ini. keluarga miskin yang hidup jauh dari hiruk-pikuk kemajuan kota besar mampu melejitkan kesuksesan individu-individunya berkat pengorbanan tiada tara Laisa. Namun di balik kebahagiaan itu, sempat terbetik lara atas kesendirian Laisa tanpa pendamping hidup. Selain itu, suatu hari keempat adik Laisa diminta pulang di luar jadwal pulang rutin mereka. Ada hal mendesak apa? Apa saja pengorbanan Laisa dan bagaimana akhir kisah mereka? Novel keluarga religi ini akan menuntaskan dahaga keingintahuan Anda.
Ulasan:
Salah satu novel terbaik Tere Liye yang telah difilmkan ini bukan sekadar novel cinta . Dengan seabreg endorsement di dalam maupun di sampul belakang, kita pasti tergoda untuk membawa pulang novel tebal ini. Dan endorsement itu pun bukan isapan jempol belaka.
Seperti biasa, Tere Liye mampu menciptakan magnet bagi pembacanya dengan suguhan pembuka yang cantik. Dimulai dengan sepenggal adegan menyedihkan dan sebuah pesan darurat yang dikirimkan ke empat nomor berbeda. Alur maju-mundur yang digunakan mengingatkan pembaca pada novel Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin. Flashback diperoleh melalui cukilan-cukilan kenangan dari para tokohnya. Bedanya, kali ini Tere Liye menggunakan sudut pandang orang ketiga. Sudut pandang orang ketiga ini pun nantinya berubah menjadi ‘aku’ di jelang akhir kisah secara tak terduga, sekaligus mengungkap siapa pencerita yang berperan sebagai mata yang melihat segala.
Setting Lembah Lahambay yang elok dengan kehidupan yang bernaung di sana menjadi pemikat yang tak terbantahkan. Tak cukup sampai di situ, Tere Liye membumbui latar-latar lain yang berpindah-pindah, dari dalam negeri hingga luar negeri yang dituturkan dengan lancar, tanpa kesan dipaksakan, menyatu dengan karakter tokoh dan alur-plot.
Potongan-potongan ingatan dari masa lalu yang diungkapkan satu per satu oleh para tokoh cerita seolah puzzle yang menjaga rasa penasaran pembaca dan membuat pembaca enggan meletakkan buku atau menjeda proses membaca hingga tiba di halaman terakhir. Selain itu, juga disematkan beberapa kalimat mengandung tanya di bagian akhir bab-bab tertentu. Sebuah kemahiran yang memang menjadi ciri khas Tere Liye.
Selama menyimak kisah panjang ini, saya tak bisa membendung air mata, bahkan semenjak di awal-awal bab. Namun bukan kisah cinta romantis yang mengaduk-aduk emosi saya. Sama sekali bukan. Ketulusan Laisa-lah yang sukses membuat air mata saya terus mengucur tak terelakkan. Salah satu contoh dialog yang menguras tangis adalah:
“Tapi sebelum hari itu tiba, sebelum masanya datang, dengarkan Kakak, kalian harus rajin sekolah, rajin belajar, dan bekerja keras. Bukan karena hanya demi Mamak yang sepanjang hari terbakar matahari di ladang. Bukan karena itu. Tapi Ikanuri, Wibisana, Dalimunte, kalian harus selalu bekerja keras, bekerja keras, bekerja keras, karena dengan itulah janji kehidupan yang lebih baik akan berbaik hati datang menjemput...” (halaman 138)
Adegan tatkala si bungsu Yashinta memberikan sambutan sebagai wakil wisudawan terbaik mengingatkan saya pada adegan serupa di novel Tere Liye yang lain, Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin. Bedanya, kali ini nuansa cintanya jauh lebih menusuk, cinta pada keluarga, terutama pada sang kakak. Dan di adegan ini pulalah saya kembali menitikkan air mata.
Kemiripan lain dengan novel Tere Liye tersebut di atas adalah pengulangan usia para tokohnya, yang dimaksudkan sebagai penekanan. Sayangnya, kali ini banyak saya temukan kesalahan. Antara usia yang disebutkan satu dengan lainnya ada ketidakcocokan.
Secara utuh, kisah Bidadari-Bidadari Surga ini memang luar biasa. Kisah kehidupan yang amat bisa jadi nyata, dapat kita jumpai di sekitar. Yang menjadi catatan saya hanyalah dibanding kekurangan Laisa, keempat adiknya digambarkan nyaris sempurna baik secara fisik, kecerdasan, maupun pencapaian prestasi. Apakah ini dimaksudkan sebagai jurang penegas perbedaan yang memang nyata di dunia ini. Ada orang-orang yang dianugerahi ‘kesempurnaan’, ada pula yang sangat ‘tidak sempurna’. Hanya kemudian, hikmah dalam kisah ini adalah bahwa yang terlihat tak sempurna di mata manusia itu justru yang sempurna di pandangan Allah. Catatan lain untuk novel ini adalah berserakannya typo di sepanjang halaman demi halamannya. Cukup banyak ejaan yang tidak tepat yang diulang-ulang. Bagaimanapun, karya sastra yang telah cetak ulang berkali-kali ini layak diacungi tak hanya satu jempol. Karya yang brilian, yang menyentuh sisi kemanusiaan sekaligus kerelejiusan.
Posted by Menukil Aksara | 11:10:00 PM
Categories:
Judul Novel : Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin
Penulis : Tere Liye
Desain dan Ilustrasi Sampul : eMTe
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Juni 2010
Jumlah Halaman : 264 hlm.; 20 cm
ISBN : 978-979-22-5780-9
Sinopsis:
Dia bagai malaikat bagi keluarga kami. Merengkuh aku, adikku, dan Ibu dari kehidupan jalanan yang miskin dan nestapa. Memberikan makan, tempat berteduh, sekolah, dan janji masa depan yang lebih baik.
Dia sungguh bagai malaikat bagi keluarga kami. Memberikan kasih sayang, perhatian, dan teladan tanpa mengharap budi sekali pun. Dan lihatlah, aku membalas itu semua dengan membiarkan mekar perasaan ini.
Ibu benar, tak layak aku mencintai malaikat keluarga kami. Tak pantas. Maafkan aku, Ibu. Perasaan kagum, terpesona, atau entahlah itu muncul tak tertahankan bahkan sejak rambutku masih dikepang dua.
Sekarang, ketika aku tahu dia boleh jadi tidak pernah menganggapku lebih dari seorang adik yang tidak tahu diri, biarlah... Biarlah aku luruh ke bumi seperti sehelai daun... Daun yang tak pernah membenci angin meski harus terenggutkan dari tangkai pohonnya.
Cuplikan di atas diculik dari sampul belakang dan halaman depan novel berdesain sederhana ini. gambar sehelai daun pohon linden menjadi ilustrasi sampul sekaligus sebuah simbol yang terkait dengan kisah.
Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin bercerita tentang sebuah keluarga kecil yang terdiri atas Ibu, Tania, dan Dede. Sang ayah telah lebih dulu berpulang pada Sang Khaliq. Semenjak kepergian sang ayah, kehidupan menjadi sulit sehingga dua kakak-beradik Tania dan Dede harus berhenti sekolah. Sang ibu juga sakit-sakitan. Kedua bocah itu mengamen dari satu bus ke bus yang lain demi menyambung hidup di rumah kardus. Hingga suatu hari, mereka dipertemukan dengan Danar oleh takdir. Danar, laki-laki muda berusia dua puluh lima tahun tergerak hati membantu keluarga kecil Tania. Pelan namun pasti, kehidupan mulai bersinar di tengah keluarga Tania. Tania dan Dede kembali ke bangku sekolah, mereka pindah ke rumah yang layak, sang ibu mendapat pekerjaan yang lumayan. Tania yang beranjak remaja di usianya yang kedua belas diam-diam menanam benih cinta, kagum kepada Danar, lantas menyiraminya tanpa bisa dicegah. Suatu hari yang kelam, sebuah musibah memporak-porandakan kebahagiaan itu. Sang ibu jatuh sakit hingga meninggal. Danarlah yang sekali lagi mengulurkan tangan menggantikan posisi Ibu. Tania yang sedari dulu telah menampakkan kecerdasan, berhasil lolos dalam tes beasiswa ke sebuah sekolah unggulan di Singapura. Dengan bujukan halus Danar, Tania menerima tawaran tersebut. Sayangnya, perpisahan dan jarak yang terentang tak mampu mengikis rasa kagum dan cinta Tania. Akankah cinta itu berbalas, meskipun jelas-jelas Danar memutuskan menikahi perempuan lain? Cari tahu lengkapnya dalam novel ini.
Ulasan:
Novel yang tak terlampau tebal ini berkisah dari sudut pandang orang pertama/aku (Tania). Pemilihan ini saya rasa tepat, mengingat kisah cinta yang diangkat, yang bisa terbilang sebagai cinta ‘terlarang’ dan menimbulkan dugaan-dugaan, ketidakpastian, terutama dari pihak sang lelaki. Dari pemilihan sudut pandang ini pun Tere Liye seolah ingin menunjukkan kemampuan sebagai seorang novelis pria yang mampu memainkan peran sebagai tokoh wanita.
Alur maju-mundur yang diterapkan mencoba mengaduk-aduk rasa penasaran dan perasaan pembaca. Dan meski setting toko buku berarsitektur avant-garde yang dipakai paling banyak dalam keseluruhan adegan terkesan sederhana, namun penulis mampu menebarkan aura keindahan sekaligus misteri dari penggalan-penggalan kenangan sang tokoh utama. Setting yang tak kalah menarik adalah di sepetak tanah dengan pohon linden di mana keluarga kecil Tania awalnya tinggal dalam rumah kardus. Mungkin ketika membaca di awal kisah, setting ini tak kentara keutamaannya, namun di ujung cerita, latar ini digunakan sebagai sebuah twist yang cukup menarik. Tere Liye juga mengambil Singapura sebagai setting lain dan menurut saya ini cukup unik sekaligus relevan dengan alur-plot cerita.
Saya terkesan dengan dua alinea pembuka bab pertama. Cukup terkesan, hingga mampu ‘menyihir’ saya sehingga menggerakkan jemari membuka lembar berikutnya karena disergap rasa ingin tahu.
“Malam ini hujan turun lagi. Seperti malam-malam yang lalu. Menyenangkan. Membuat suasana di luar terlihat damai menentramkan. Tidak deras benar. Hanya gerimis. Itu pun jarang-jarang, tetapi cukup untuk membuat indah kerlip lampu.
Aku menghela napas panjang. Tanganku pelan menyentuh kaca yang berembun. Dingin seketika menyergap ujung jari, mengalir ke telapak tangan, melalui pergelangan, menerobos siku, bahu, kemudian tiba di hatiku.
Membekukan seluruh perasaan.
Mengkristalkan semua keinginan.
Malam ini, semua cerita harus usai.” (halaman 7)
Dalam deskripsi usia, Tere Liye acapkali mengulang-ulang hitungan umur Tania, Dede, dan Danar. Menurut saya, meski terlhat membosankan, ini menjadi sebuah penekanan tentang jarak umur yang terentang yang menjadi tembok penghalang cinta Tania.
Eksplorasi karakter ketiga tokoh utama juga apik, disematkan dalam narasi, deskripsi, maupun dialog. Tania yang cantik, cerdas, pemberani. Danar yang dewasa, bertanggung jawab, dan sangat pandai menyembunyikan perasaan. Dede yang gemar bermain Lego hingga memiliki photographic memory yang bagus. Uniknya, jika pembaca jeli, Tere Liye menyelipkan identitas dan karakter dirinya dalam diri Danar. Seperti nama pena (maibelopah, yang merupakan alamat surel Tere Liye) dan profesi kedua Danar sebagai penulis.
Dua kutipan favorit saya dalam novel ini adalah:
“Kebaikan itu seperti pesawat terbang, Tania. Jendela-jendela bergetar, layar teve bergoyang, telepon genggam terinduksi saat pesawat itu lewat. Kebaikan merambat tanpa mengenal batas. Bagai garpu tala yang beresonansi, kebaikan menyebar dengan cepat.” (halaman 184)
“Tak ada yang sempurna dalam kehidupan ini. Dia memang amat sempurna. Tabiatnya, kebaikannya, semuanya. Tetapi dia tidak sempurna.” (halaman 256)
Selain itu, di halaman-halaman awal bab pertama, penulis menyisipkan kritikan ,sindiran atas fenomena kehidupan lewat deskripsi yang apik.
Secara keseluruhan, novel ini menarik, indah, dengan cara yang tak biasa. Saya cukup terpukau dan terhanyut dengan cerita yang mengalir hingga di halaman terakhir. Kisah cinta terlarang yang diangkat cukup berbeda dari kisah-kisah yang pernah ada dan ending yang dipilih logis sekaligus memuaskan pembaca seperti saya. Kisah Tania dan Danar menuturkan makna cinta yang sempurna dari orang-orang yang tak sempurna.
Posted by Menukil Aksara | 3:01:00 PM
Categories:
Judul Novel : Bintang Jindo
Penulis : Susanti Hara
Ilustrasi Isi : Syarifah Tika
Ilustrasi Sampul : JJ Wind
Penyunting Naskah : Huda Wahid dan Dian Hartati
Penyunting Ilustrasi : Kulniya Sally
Proofreader : May May Maysarah
Desain Isi : Nisa Nafisah
Desain Sampul : Kulniya Sally
Penerbit : DAR! Mizan
Cetakan : I, September 2014
Jumlah Halaman : 132 hlm.; ilust.: 21 cm –(Novel)
ISBN : 978-602-242-443-7
Blurb:
“Hyo Ra, apa kamu tidak mau menjadi artis?”
“Tidak,” geleng Hyo Ra. “Impianku hanya ingin membuat Ayah dan Ibu bahagia.”
Hyo Ra adalah gadis kecil berusia sepuluh tahun yang sederhana. Impiannya hanyalah membahagiakan orangtuanya. Berbeda dengan Youra si Gadis Centil manja dan ceriwis yang ingin menjadi bintang film terkenal. Bahkan Youra mengaku kalau wajahnya mirip artis tenar di Korea. Youra sering bergaya narsis saat difoto. Lalu dia mengirimkan foto-fotonya ke majalah atau mengunggahnya ke internet. Siapa tahu Youra mendadak jadi artis tenar.
Perjalanan hidup memang tak pernah bisa ditebak. Seorang sutradara sekaligus pencari bakat berkunjung ke kampung nelayan. Dia sedang mencari bintang baru untuk bermain di film terbarunya. Nah, siapa pemeran utamanya? Kenapa Youra mendorong Hyo Ra sampai ambruk dan tak sadarkan diri? Siapa yang merusak kamera kesayangan sang sutradara?
Sinopsis:
K-novel (Korean Novel) yang diperuntukkan khusus bagi pembaca belia ini berlatar belakang di sebuah pulau bernama Pulau Jindo, di Korea Selatan. Tiga gadis cilik yang bersahabat menjadi tokoh utama cerita. Ada Hyo Ra, gadis pendiam, sederhana, nan baik hati. Ada pula Eun Hee, gadis yang setahun lebih tua dari Hyo Ra yang bercita-cita menjadi guru. Terakhir, gadis sebaya Eun Hee, berpenampilan paling “wah”, akibat terobsesi menjadi artis ternama seperti seorang idolanya, yang bernama Youra.
Ketiga gadis kecil itu hidup berdampingan dengan warga lain di sebuah kampung nelayan yang damai. Festival tahunan yang biasa dijuluki Pesta Laut Terbelah Jindo, Jindo Yengdeung Festival, menjadi ajang bersukacita bagi seluruh penduduk asli maupun wisatawan yang berkunjung. Pesta ini pun tak luput dari perhatian Hyo Ra dan kedua sahabatnya.
Momen langka ini sekaligus menjadi kesempatan berfoto ria dan mengabadikan pose-pose terbaik bagi Youra. Dalam pemikirannya, foto-fotonya nanti akan diunggah ke internet dan dia bermimpi akan ada seorang produser atau pencari bakat yang melihat dan mengorbitkannya menjadi artis. Eun Hee yang kurang menyukai ambisi Youra ini kerap menjaili.
Tak lama berselang, seorang pria asing berpenampilan nyentrik tanpa sengaja melihat Hyo Ra dan ayahnya yang begitu akrab. Pria tersebut juga diam-diam mengambil foto-foto Hyo Ra. Hingga sebuah insiden menyebabkan Hyo Ra harus berurusan dengan pria itu. Tanpa sepengetahuan Hyo Ra, Eun Hee yang penasaran mencari tahu lewat internet tentang jati diri pria aneh ini dan tiada disangka, pria ini ternyata orang penting dalam dunia hiburan di Seoul.
Ketika Hyo Ra sedang kebingungan bagaimana menyelesaikan masalahnya dengan pria yang biasa dipanggil Yong Gun tersebut, Paman Yong Gun justru menawarkan penyelesaian yang mengejutkan. Kesepakatan yang terjadi kemudianlah yang membawa perubahan cukup drastis pada kehidupan Hyo Ra. Bagaimana kisah petualangan Hyo Ra bersama kedua sahabatnya selanjutnya? Apa pula rahasia besar yang selama ini disimpan Hyo Ra dengan baik? Baca saja novel manis karya Kak Susanti Hara ini dan temukan hikmah-hikmah menarik di dalamnya.
Ulasan Novel:
Novel yang berdesain sampul manis ini memang terbilang unik. Terlahir dari sebuah ide menarik seiring booming-nya dunia hiburan Korea Selatan di banyak negara, termasuk Indonesia, novel ini dikemas dalam nuansa Korea yang khas. Judulnya saja akan mengundang tanya, apa Jindo itu? Apakah itu sebuah nama tempat, budaya, atau bahkan nama seorang tokoh? Judul dilengkapi pula dengan teks huruf Hangul. Di dalamnya nanti pun kita akan cukup banyak menemukan istilah-istilah khas Korea Selatan, termasuk bahasa gaul di sana.
Uniknya lagi, meskipun terinspirasi dari dunia hiburan yang sedang bersinar terang di Korea Selatan, kisahnya justru berpusat di sebuah pulau, yang bahkan nyaris luput dari publikasi gencar secara mendunia. Dibandingkan Pulau Jeju atau Pulau Nami, misalnya, yang melejit berkat beberapa serial drama yang mengambil adegan di kedua pulau tersebut. Di sini, Kak Susanti Hara cerdik dan kreatif dengan mengunggulkan sesuatu yang baru namun tak kalah menarik. Coba simak narasi berikut yang menjelaskan alasan dipilihnya Pulau Jindo sebagai latar belakang cerita.
“Lautan yang sebelumnya masih ditutupi air, secara tiba-tiba terbagi menjadi dua. Dalam sekejap, air laut surut. Dasarnya mengering dan terbelah, membentuk jalur daratan sementara. Jalur penghubung antara Pulau Jindo dan Pulau Modo.” (halaman 13)
Karakter ketiga tokoh cilik yang menjadi pusat cerita juga cukup kuat. Ketiga gadis dalam kisah Bintang Jindo ini mewakili tiga karakter yang biasa kita jumpai di kehidupan nyata. Tengok saja karakter Youra yang terobsesi menjadi artis terkenal. Bukankah fenomena riuhnya ajang-ajang pencarian bakat, terutama di televisi telah mempengaruhi banyak anak-anak di negeri kita juga? Begitu derasnya gempuran ini hingga banyak anak yang rela meninggalkan sementara bangku sekolah, bersibuk-sibuk mengunggah aneka foto diri dan video penampilan mereka lewat situs-situs gratis di internet. Dalam kisah Youra, dilukiskan lewat penggalan adegan berikut:
“...Menyeberangi Pulau Jindo. Meraih impianku menjadi artis.”
“Apa?” Eun Hee terbelalak. “Pulau Modo bukan tempat pemilihan artis.”
“Ya, aku tahu. Tapi, setelah aku kirim ceritaku menyeberangi Laut Jindo ke majalah-majalah, memasukkannya ke internet, bisa saja tiba-tiba aku terkenal,” bela Youra sambil menyisir poninya dengan jari. (hal. 16-17)
Untuk mengimbangi karakter Youra, dimunculkanlah sosok Hyo Ra yang sederhana, khas pribadi anak kampung nelayan yang begitu mencintai pantai dan kehidupan bersama kedua orangtuanya. Maka, pemilihan Pulau Jindo menjadi berdasar kuat dalam kisah ini., selain sebagai gambaran bahwa daerah pinggiran atau pedalaman pun tak luput dari pengaruh modernitas.
“Hyo Ra duduk di pasir tepian pantai. Kedua lututnya menopang dagu. Dia menunggu matahari terbenam. Bagaimanapun keadaannya, menyaksikan langsung matahari merah dan kuning keemasan berpadu merupakan hal menyenangkan.” (hal. 28)
Sedangkan karakter Eun Hee yang sangat menyukai dunia blogging di usianya yang masih dini, menjadi gambaran lain dunia anak masa kini. Tak dapat disanggah, pesatnya perkembangan teknologi turut berimbas pada melek teknologi di kalangan anak-anak maupun remaja. Tak jarang, maraknya media sosial disalahgunakan oleh kaum muda untuk mengumbar hal-hal pribadi yang kurang layak. Di dalam kisah novel ini, hal tersebut kemudian diarahkan dengan menyelipkan adegan Eun Hee bersama seorang guru.
“Bu Guru menyarankan Y untuk menuliskan ceritanya di blog pribadi dengan cara berbeda. Misalnya, mengganti nama menjadi huruf atau angka.” (hal. 44)
Kak Susanti Hara juga cerdik menyisipkan himbauan pada adik-adik yang terlampau asyik dengan dunia maya agar lebih banyak meluangkan waktu bersama keluarga atau teman-teman di dunia nyata.
“Aku juga berharap temanku menyukai memasak dan akrab dengan neneknya, bukan hanya akrab dengan komputer. Apalagi, menulis terus di blog-nya. Kasihan, kan, neneknya?” (hal. 48)
Kebiasaan Hyo Ra menabung di celengan Piggy Bank bisa menjadi contoh baik pula bagi anak-anak. Kak Susanti Hara pun mengisahkan hal ini dengan cara yang menarik lewat kisah pengalaman Hyo Ra.
“Kenangan paling menyenangkan di Seoul adalah ketika Paman Ji Woo mengajak Hyo Ra ke bank... Waktu itu, Hyo Ra menertawakan seorang pembawa celengan yang mau menukarkan uang. Lelaki pembawa celengan itu membuka celengan di depan kasir.” (hal. 25)
Ketika sebuah tawaran bermain film datang dari seorang sutradara ternama, tanpa kesengajaan, tanpa perencanaan, apalagi obsesi untuk menjadi terkenal, hal ini seakan hendak mengingatkan anak-anak bahwa menjadi anak yang tulus, baik dan rendah hati itu lebih terpuji daripada melakukan segala cara demi sebuah ketenaran. Ketulusan secara otomatis akan menarik orang-orang ke dekat kita tanpa kita harus bersusah-payah mengupayakan agar mereka ‘menoleh’.
Dan ketika ketenaran itu diraih, hendaknya seseorang tidak melupakan keluarga, sahabat, dan asal-usulnya. Kejutan manis akan menanti jika tetap bersikap rendah hati.
“Paman sudah berjanji kalau aku tidak akan bermain film jauh dari tempat ini.”
“Kamu tidak akan ikut ke Seoul, Hyo Ra. Kamu tunggu saja kedatangan kami setelah shooting Shin Mi di Seoul selesai.”
Hyo Ra lega sekali. Dia bisa merasakan kebebasannya kembali. (halaman 117)
Adik-adik akan dihadiahi kejutan manis lain di akhir cerita yang menyematkan pelajaran berarti sekaligus mengungkapkan satu rahasia besar Hyo Ra dan alasan mengapa dia rajin menabung di celengan Piggy Bank.
Satu catatan dari saya, di awal buku, terdapat ruang khusus bagi pengenalan tokoh. Di bagian tokoh Paman Park Yong Gun, ada baiknya tetap menjaga kejutan dengan tidak mengungkap secara gamblang apa hubungannya dengan Hyo Ra. Mungkin kalimatnya bisa diubah menjadi: “Produser, sutradara, sekaligus pencari bakat yang telah mengorbitkan banyak artis.”
Penutup:
Sesudah membaca tuntas, saya memuji kemahiran Kak Susanti Hara dalam menuturkan kisah dengan setting luar negeri ini. Riset yang cukup baik tergambar dari deskripsi yang apik, sisipan dialog-dialog bernuansa lokal, dan gaya hidup penduduk asli Korea Selatan. Gaya bahasa, alur-plot yang diterapkan saya rasa sudah cukup mudah dipahami anak-anak usia sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama. Semoga novel ini menjadi bacaan yang menginspirasi bagi anak-anak Indonesia di tengah gempuran arus modernitas yang dahsyat.
Posted by Menukil Aksara | 12:09:00 PM
Categories:
Judul Novel : Confessions of a Shopaholic
Penulis : Sophie Kinsella
Alih Bahasa : Ade Dina Sigarlaki
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan Ketujuh : Januari 2011
Jumlah Halaman : 472 hlm.; 18 cm
ISBN : 978-979-22-0236
Blurb:
Rebecca Bloomwood adalah seorang jurnalis. Pekerjaannya menulis artikel tentang cara mengatur keuangan. Ia menghabiskan waktu luangnya dengan... berbelanja.
Terapi belanja adalah jawaban untuk semua masalahnya. Namun belakangan Becky dikejar-kejar surat-surat tagihan. Ia tahu ia harus berhenti, namun ia tidak bisa melakukannya. Ia mencoba mengurangi pengeluaran, mencoba memperbesar penghasilan, tapi tak ada yang berhasil. Satu-satunya penghiburan adalah membeli sesuatu... sesuatu untuk dirinya sendiri...
Akhirnya sebuah kisah mengusik hatinya dan menggugah rasa tanggung jawabnya, dan artikelnya di halaman depan menggulirkan rangkaian kejadian yang akan mengubah hidupnya—selamanya.
Sinopsis:
Rebecca Bloomwood, seorang jurnalis dari sebuah majalah keuangan Successful Saving di London, sedang dilanda kegalauan hebat. Tagihan-tagihan mulai menumpuk dan menghantui hari-hari yang sebelumnya tenang. Sesungguhnya hari-hari tenang yang semu, yang menunggu sebuah bom meledak di waktu yang tepat. Kegilaaannya berbelanja—terutama menggunakan fasilitas kartu kredit—yang menyeretnya pada onggokan tagihan pembayaran tersebut. Sebelum benar-benar menyadari kekeliruannya, otak kreatif dan imajinatif Rebecca selalu siap sedia dengan segudang alasan pembenaran atas kelakuannya. Angan-angan semu tentang mendadak kaya, kejatuhan rezeki entah dari mana, investasi masa depan lewat penampilan, semakin menyurukkannya ke kubangan masalah.
Di lain pihak, Luke Brandon, seorang pengusaha muda sukses bersama perusahaan jasa public relation-nya acapkali berjumpa dengan Rebecca baik disengaja maupun kebetulan karena Brandon Communications mewakili banyak klien yang bergerak di dunia keuangan. Rebecca yang kurang suka dengan karakter Luke yang sinis, dingin, dan kaku sempat terlibat insiden kurang menyenangkan dengannya suatu hari.
Di saat bersamaan. seorang penagih dari sebuah bank bernama Derek Smeath gigih meminta pertemuan dengan Rebecca demi menyelesaikan tunggakan pembayaran kartu kredit. Rebecca yang lihai berulang kali selamat dari pertemuan yang tak dikehendaki itu, apalagi mengingat kondisi keuangannya yang belum memungkinkan melunasi utang. Ironisnya, alih-alih menekan kegilaan belanja, Rebecca tetap berkali-kali jatuh di lubang kekhilafan yang sama. Dua upaya besar dengan mengurangi pengeluaran dan memperbesar penghasilan gagal dijalaninya. Rebecca pun memilih jalan pintas dengan membeli tiket lotere. Naas, itu pun berujung pada hasil nol.
Suatu hari, di ujung keputusasaannya, Rebecca melarikan diri ke rumah orangtuanya di luar kota. Di saat itulah, pasangan tetangganya bercerita bahwa mereka baru saja tertimpa kemalangan, yang salah satunya diakibatkan saran menjerumuskan Rebecca. Demi menebus kesalahan itu, Rebecca bertekad menulis artikel yang berisi analisis terkait pengalaman nyata pasangan tersebut. Artikel inilah yang lantas membawanya ke pintu kehidupan baru. Akankah Rebecca berhasil mengenyahkan kegilaan belanjanya? Bagaimana nasib hubungannya dengan Luke, yang belakangan diketahui menaruh hati padanya? Anda bisa membaca utuh kisah menggelitik ini dalam novel terjemahan penulis Sophie Kinsela bergenre comedy romance ini.
Review:
Tak banyak menurut saya novel comedy romance bersetting Inggris dan mengangkat tema keuangan dikaitkan dengan kegilaan belanja. Penulis cukup cerdik membidik area yang belum banyak dijamah dan mengemasnya secara apik. Terbukti, novel ini telah diadaptasi ke layar lebar, dan meskipun ada beberapa perubahan dalam alur-plot kisahnya dalam versi film, ide asli tetap tak kalah menarik.
Karakter tokoh wanita utama, Rebecca Bloomwood pun terbilang unik. Secara profesi, dia bisa dikatakan beruntung dalam arti menekuni suatu bidang yang tak terlalu dikuasai dan diminati tapi orang-orang sekitar menganggap dia seorang pakar. Simak saja penuturan sang tokoh dalam novel:
“Aku sendiri mengawali karierku dengan menulis untuk Personal Investment Periodical. Aku belajar mencontek berita press release dan terkantuk-kantuk dalam konferensi pers, melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang menunjukkan seolah-olah aku tahu apa yang kubicarakan. Sesudah satu setengah tahun—percaya atau tidak—aku diminta bekerja di Successful Saving.” (halaman 21)
Sayangnya, keberuntungan ini bukannya disyukuri dan dimanfaatkan sebaik mungkin, malah justru menjadikannya ogah-ogahan dan lupa diri. Rebecca bahkan meliarkan kegemarannya berbelanja, terutama barang-barang terkait fashion.
“Aku memang punya kebiasaan merinci seluruh pakaian yang kukenakan, seolah untuk ditulis di halaman majalah mode. Aku sudah melakukannya selama bertahun-tahun—sejak getol membaca Just Seventeen.” (halaman 25)
Obsesinya terkait fashion ini berimbas pada kegilaannya yang akan mendadak muncul setiap kali melewati toko busana bermerk terkenal yang sedang mengadakan program promo, cuci gudang, atau kerap disebut SALE.
“Di jendela Denny and George tampaklah tanda kecil yang tak begitu mencolok. Dasarnya hijau tua dengan huruf-huruf krem, bertuliskan: SALE. Aku terpaku menatap tulisan itu, jantungku berdegup keras.” (hal. 26)
Cuplikan di atas menggambarkan betapa godaan itu demikian dahsyat bagi seorang penggila belanja seperti Rebecca. Dan fenomena semacam ini bisa jadi menimpa kita atau orang-orang terdekat kita. Bukankah begitu? Juga kebiasaannya yang merasa tidak bisa hidup tanpa mengunjungi toko dalam jangka waktu lama.
“... aku hampir saja mengintip untuk mencari label harga ketika teringat di mana aku berada. Tentu saja. Ini bukan toko.” (hal. 140)
“Dan aneh sekali, sepertinya aku terus menerus mendengar denting mesin kasir. Pasti aku berkhayal.” (hal. 141)
“Ya Tuhan, tak salah lagi! Itu sebuah toko! Ada toko, persis di hadapanku! Tiba-tiba langkahku menjadi ringan; tenagaku pulih dengan ajaib.” (halaman 142)
Ironisnya lagi, bukan sekali-dua kali Rebecca tertipu dengan program promo atau sale besar-besaran demi mengincar produk bermerk tertentu. Ia acapkali berakhir menyesali pilihannya dan berujung pada alibi yang diciptakan otak kreatifnya sebagai pembelaan diri.
“Jadi, aku beli sebotol besar parfum Samsara untukku sendiri dan itu menambah 150 poin ekstra pada kartuku—lalu aku mendapat alat pengeriting rambut itu gratis! Satu-satunya yang kusayangkan, aku tidak begitu suka parfum Samsara—tapi itu tak kusadari sampai aku tiba di rumah.” (hal, 94)
“Ya Tuhan. Kau tahu, persoalannya, sudah lama sekali aku mencari kardigan warna abu-abu yang bagus. Sungguh... Dan harganya hanya 45 pound. Dan aku bisa membayarnya dengan VISA... Betul, ini adalah sebuah investasi.” (halaman 95)
Lucunya lagi, Rebecca juga dengan loyalnya menghadiahi diri sendiri untuk sebuah pencapaian yang tak bisa dibilang signifikan. Ujung-ujungnya, sebagai pembenaran atas hasrat berbelanjanya.
“Sesudah begitu berbudaya sepagian, aku pantas mendapat sedikit hadiah di siang harinya, jadi aku membeli majalah Vogue dan sekantong Minstrel.” (hal. 145)
Digambarkan pula bahwa obsesi belanja Rebecca ini sebenarnya tak lain adalah pelarian dari setiap masalah yang menekan.
“Setiap kali aku menambah sesuatu ke atas tumpukan belanjaanku, ada semburan perasaan senang, seperti kembang api yang memancar. Dan untuk sejenak, semuanya teasa beres.” (hal. 319)
Ketika sudah terjepit dengan kejaran penagih utang kartu kredit, kegagalan menekan pengeluaran ataupun memperbesar penghasilan, Rebecca pun dengan lihainya berkelit. Sebuah tindakan pengecut untuk lari dari masalah nyata yang terhampar di depan mata. Atau mencari jalan pintas untuk mengakhiri masalah.
“Dan begitulah, dalam perjalanan menuju rumah orangtuaku aku mampir di pompa bensin untuk membeli dua tiket lotere.” (hal. 59)
“Pilihan pertama: menemui mereka dan berterus terang. Aku tak bisa. Pokoknya tak bisa... Pilihan kedua: menemui mereka dan berbohong... Pilihan ketiga: jangan temui mereka... Pilihan keempat: temui mereka dengan cek sebesar seribu pound... Pilihan kelima: melarikan diri.” (hal. 275-277)
Tentu saja, jalan pintas yang ditempuh dan pelarian yang dijalani tak membuahkan hasil memuaskan. Akhirnya, Rebecca menemukan suatu jalan keluar yang tak diduga-duga berkat kepeduliannya pada sepasang suami-istri kenalan keluarga yang merasa ditipu oleh program promo asuransi. Pengetahuannya, kreativitasnya, yang selama ini dibiarkan tersembunyi di dasar benak, tenggelam oleh obsesi belanja, terkuak sudah.
Penutup:
Secara keseluruhan, kisah ini menarik. Di banyak halaman, kita akan disuguhi pemandangan surat-menyurat tagihan pembayaran untuk Rebecca, istilah-istilah dunia keuangan, kelihaian Rebecca berkelit, imajinasinya yang kelewatan dan menggelikan, sehingga menjadi sebuah lelucon yang sebenarnya memprihatinkan. Karakter sang tokoh kuat dan meskipun dia adalah tokoh utama pembaca justru seringkali dibuat kesal oleh ulahnya, namun secara bersamaan menginginkan dia berubah dan bisa menyelesaikan masalah. Sebuah penokohan yang tak biasa. Yang mungkin cukup disayangkan adalah karakter Luke Brandon, yang kurang dieksplor, terutama terkait interaksinya dengan Rebecca. Tak mengherankan jika di layar lebar, terjadi perubahan total di bagian ini.
Penerjemahan novel berbahasa asli Inggris ini juga bagus, kosa katanya mudah dipahami dan menarik, membantu pembaca terlarut dengan alur cerita. Desain sampulnya yang didominasi warna pink dengan ilustrasi kantong-kantong belanja sangat pas dengan isi cerita dan tokoh utamanya.
Walaupun tetap ada typo di beberapa kata dan kalimat, novel ini cukup mengasyikkan untuk dibaca, terutama oleh kaum wanita sebagai hiburan maupun penyadaran akan fenomena yang cukup familier dan banyak pekajaran menarik lain. Saya berikan 3,5 bintang dari 5 bintang untuk novel terjemahan ini.
Posted by Menukil Aksara | 10:02:00 PM
Categories:
Judul Buku : La Rangku (kumpulan cerpen)
Penulis : Niduparas Erlang
Editor : F. Aziz Manna
Desain Sampul: Design @rtbook
Tata Letak : Metta Fauziyah
Penerbit : Yayasan Seni Surabaya, November 2011
ISBN : 978-979-25-9420-1
Jumlah Halaman: viii+128 hal.
Pengantar:
Inti kerja sastra dan tentu saja seluruh bentuk seni lainnya termasuk kerja festival kesenian adalah dokumentasi. Dengan dokumentasi yang apik dan bermutu, kerja sastra dan seluruh bentuk seni lainnya termasuk ajang festival kesenian bisa dipanggil ulang, didiskusikan, dicari kelemahan dan kelebihan sehingga langgenglah sastra dan seni itu.
Buku sehimpun cerita pendek ini merupakan wakil dari FSS 2011 yang mampu membaca kondisi sastra dan kesenian pada umumnya yang sedang mengalami proses anomali. Anomali adalah keganjilan, hal yang tidak normal, penyimpangan dari tata umum, tidak lazim, tidak konsisten, kontradiksi, tidak pantas. Anomali adalah ‘dunia’sehari-hari yang sedang kita hadapi sebagai pengarang.
Sinopsis:
Sepuluh cerpen yang dihimpun dalam satu buku berjudul La Rangku ini merupakan manuskrip pemenang kompetisi pada Festival Seni Surabaya 2011 sekaligus sekumpulan cerpen milik penulis yang pernah menghiasi media cetak lokal maupun nasional.
Judul-judul di dalam kumpulan cerpen ini antara lain: Api Terus Menggelora Dalam Matanya, La Rangku, Tarawengkal, Pernikahan Itu, Balon Itu Menyimpan Sisa Napasnya, Re, Sayap Malaikat Ini Untukmu, Sesuatu Retak di Senja Itu, Aku Harus Tidur, Purna, Gaco, dan Sula. Kesepuluhnya memiliki kadar kualitas yang berimbang, ide yang setara cerlangnya, dan ending yang serupa tak terduga. Kisah-kisah yang terangkum di dalamnya mengangkat realitas yang biasa kita jumpai, namun dengan penyampaian dan bentuk cerita yang tidak realis murni.
Cerpen La Rangku sendiri yang dijadikan judul buku terinspirasi dari sebuah legenda yang dikisahkan dari mulut ke mulut tentang Kaghati dari Muna. Berkisah tentang seorang raja bernama La Pasindaedaeno yang mengorbankan anaknya, La Rangku. Di makam La Rangku kemudian konon ditumbuhi gadung, lantas dibuatlah layang-layang dari daun gadung tersebut dan benang dari serat nanas. Layang-layang itu disebut Kaghati yang diterbangkan selama tujuh hari tujuh malam lalu benangnya diputus pada malam terakhir. Suku Muna memercayai bahwa Kaghati terbang mencapai matahari dan memberkati mereka. Legenda ini lantas dipadukan dengan kisah lain masa kini tentang seorang anak yang kehilangan seorang ibu. Anak ini memiliki mimpi menjadi La Rangku, menjadi layang-layang, namun alih-alih menuju matahari ia berharap bisa mencapai rumah sang ibunda di surga.
Kisah-kisah dalam kesembilan cerpen lain tak kalah menawannya. Ada kisah tentang perselingkuhan, fenomena ketidakadilan yang dialamai kalangan menengah ke bawah, tentang cinta dan trauma hebat.
Review:
Tema “Anomali” yang diusung pada festival menghendaki keutuhan tema serta representasi kode bahasa, kode sastra, dan kode budaya dalam setiap manuskrip yang diikutsertakan. La Rangku mampu mewadahi persoalan anomali ke dalam sastra tanpa harus membuat teks sastra secara sadar disusun secara anomali. Manuskrip karya Niduparas Erlang ini memiliki landasan atau pijakan pada cerita rakyat atau tradisi yang menjadi subjek utama. Menjadi ambang antara tradisi dan modernisme, ambang antara agama dan kepercayaan, ambang antara rasionalitas dan irasionalitas-magis, lokal dan global.
“Ia tak tahu, mengapa ia bersikeras ingin mengetahui sejarah kelam perempuan itu, yang konon pernah terjebak dalam tragedi kemanusiaan semacam kasus trafiking yang mengakibatkannya diekspoitasi secara seksual.” (halaman 1-2)
“Apalagi ketika perempuan bergincu merah darah itu, berkata dengan nada ketus, “Yang tak membawa ‘kartu sehat’ daftar belakangan.” (hal. 42)
“Tetapi sayang, Sodik, anak semata wayang, dianggap sesepuh desa telah meracuni penduduk kampung dengan madzhab yang berbeda yang dibawanya dari pesantren. Hingga pengusiran secara halus pun dilancarkan para tetua kampung...” (halaman 46-47)
Anomali yang terdapat di dalam tema cerita juga ditemukan dalam penyajian yang tidak realis murni alias ada cerpen yang mengusung aliran surealis, seperti dalam judul Pernikahan Itu dan Sula.
“Lalu, sebuah pertanyaan muncul ke permukaan, seperti telah lama terpendam di kedalaman entah, dan menguap dengan bau kebusukan yang menyengat: “Siapakah aku?” Yang kemudian susul-menyusul dengan pertanyaan-pertanyaan berikutnya, dan berikutnya lagi. “Apakah si perempuan adalah Ibu? Si Lelaki adalah Ayah?” “Tapi mengapa?” “Adakah aku merupakan bukti mereka pernah saling bercinta?” (halaman 39)
“... Taya seperti tersedot-terbetot sesuatu yang tak gampang dicerna. Sesuatu yang kasat mata, tak pernah nyata, tak pernah terjawab oleh fisika atau matematika yang telah lama ditinggalkannya di bangku sekolah. Sesuatu, yang barangkali sebentuk tangan-tangan malam yang mengendalikan kedua lengannya, juga sebentuk kepala yang menggantikan kepalanya. Dan di bawah kesadarannya, tanpa dimauinya, Taya melakukan segala yang diminta.” (hal. 101)
Sebuah cerpen narasi yang apik membuat saya terkesan berjudul Aku Harus Tidur, Purna. Sang aktor utama bermonolog dengan dirinya, berkonflik dengan batinnya di tengah kesakitan.
Ending yang tak terduga di keseluruhan cerpen pun menjadi daya pikat tersendiri sekaligus menunjukkan kepiawaian sang penulis. Penulis menyadari betul bahwa karya sastra tidak dapat dilepaskan dari cara pandang, nilai-nilai, konstruksi, dan ideologinya sebagai pengarang. Namun juga tidak abai akan kesadaran berbahasa, pernak-pernik dan detail, rincian cerita, serta kesabaran berkisah. Penulis mampu menyuguhkan pesan yang padu dalam unsur-unsur intrinsik pembangun sebuah karya sastra.
Ciri khas lain dari gaya menulis Niduparas Erlang yang buat saya merupakan anomali itu sendiri adalah kegemarannya membentuk kata ulang yang tak biasa. Simak saja: berjalin-kelindan, menari-tari, berpeluk-cium, memukul-pukul, bepercik-mencelat, terbengong-melompong, menimpa-menusuk, dan masih banyak lagi. Juga sekelompok kosa kata yang jarang digunakan, semisal: menyenyum, terpiuh-piuh, mendusin,bersirobok, lamur, lelatu, dan sederet lainnya. Narasi-deskripsi yang khas, unik, pun berhasil disajikan penulis sehingga menambah cita rasa tinggi pada karyanya.
“Merekam setiap gerak tubuhmu, menikmati gigil, memerhatikan sepi yang semakin beku di punggungmu, dan sesekali menikmati sejuring pipimu, sesudut matamu, ketika kamu menoleh.” (halaman 21)
“Katamu: “Senja adalah sugesti semesta; menenangkan sekaligus mengerikan. Sebuah nuansa di antara. Muram tetapi menyenangkan.” (hal. 57)
Kita juga akan memahami beberapa kecenderungan gaya penulis dari beberapa catatan kaki yang menjelaskan puisi-puisi yang sengaja diambil dengan gubahan dan dimasukkan ke dalam beberapa cerpen. Catatan kaki juga membantu menerangkan sejumlah istilah daerah yang digunakan dalam cerita. Di bagian akhir buku, pembaca mendapat bonus pemaparan juri dan panitia Festival Seni Surabaya terkait tema dan alasan mengapa manuskrip La Rangku ini terpilih sebagai pemenang.
Penutup:
Tak dapat dipungkiri, masih saja ada celah kekurangan dalam manuskrip ini, terutama terkait kesalahan ketik, tanda baca, dan sejenisnya. Yang paling teringat di benak saya adalah pemakaian elipsis yang berlebihan. Walaupun begitu, secara keseluruhan, manuskrip ini bagus, pesan dan pendalaman karakter di dalamnya kuat, unsur-unsur pembangun ceritanya pun kokoh. Saya menikmati proses membaca setiap cerpen, terbetot oleh alur-plot yang brilian, memendam rasa penasaran, untuk kemudian dihadiahi kejutan di akhir cerita. Saya berikan 4 bintang dari lima bintang bagi kumpulan cerpen ini.
Posted by Menukil Aksara | 7:01:00 AM
Categories:
Judul Novel : Rain and Tears – until the last day in my life
Penulis : Faisal Oddang
Editor : Vita Brevis
Desainer Cover : Ann_Retiree
Layouter : Fitri Raharjo
Pracetak : Endang
Cetakan I : Maret 2014
Penerbit : PING!!!
Jumlah Hal. : 315 hal.
Blurb:
Percayalah, demi cinta, tak sekadar rindu yang membawamu kembali. Sebab luka juga adalah jalan pulang. Dan air mata akan setia membuka pintu masa lalu. Setiap rindu punya alamatnya masing-masing tapi tak semua alamat dapat ditempuh dengan selamat.
Sinopsis:
Kisah seorang pemuda bernama Faisal Oddang di Wajo, Sulawesi Selatan yang sedang dalam pencarian akan cinta sejati. Dia sempat melabuhkan cinta pada seorang gadis bernama Naf, teman sebaya masa sekolah. Hubungan cinta dua remaja ini sempat tidak direstui orangtua Naf, namun dengan kegigihan akhirnya mereka luluh juga. Sayang, definisi cinta Faisal dan Naf ternyata bertolak belakang. Faisal yang mulanya mengira Naf akan mengikuti gaya percintaan ala anak muda yang cukup bebas, pacaran intim, kecewa sesudah menyadari bahwa Naf menginginkan cinta dalam makna lain, cinta yang suci, yang menanti hingga waktu yang tepat tiba.
Dibebat kekecewaan, Faisal memutuskan hubungan, meski tetap berpura-pura baik di depan kedua orangtua. Di masa-masa akhir sekolah, petualangannya sejenak di kota rantau membawa pada perkenalan dengan seorang gadis lebih tua dengan gaya hidup bebasnya bernama Zha. Perkenalan yang terus berlanjut hingga masa kuliah. Faisal menemukan cinta yang disangka dicari selama ini. ironisnya, mereka terjerumus kepada pergaulan yang melampaui batas hingga Zha hamil. Mereka pun menikah. Tak dinyana, suatu hari, Faisal menjumpai satu rahasia besar yang membuatnya harus kehilangan Zha, dan terancam akan kehilangan diri sendiri dan anak mereka. Di masa-masa pahit inilah Naf kembali hadir dan menyadarkan Faisal akan cinta sejati yang selama ini dia cari namun terlambat disadari.
Review:
“Kamu temui aku dalam ringkih paling perih. Lebat duka amat suram di sekujur tubuhku. Cinta pernah terjatuh di tempat yang salah, hingga cinta pun terluka, karenaku—oleh takdir. Juga, cinta pernah menjelma dingin yang salah, di musim hujan yang menandaskan retak-retak rindu. Cinta juga pernah, menjadi panas yang salah, di kemarau parau yang merindui dingin aminkan ingin.” (halaman 7-8)
Sepenggal paragraf di atas menjadi prolog, pembuka fragmen cerita novel remaja karya perdana Faisal Oddang, penulis muda kelahiran tahun 1993 ini. Sebuah prolog yang manis puitis sekaligus disisipi perih. Sebagai sebuah novel percintaan remaja, karya yang satu ini cukup unik dari gaya bahasa dan sudut pandang dalam menilai kehidupan. Jika biasanya sebuah novel remaja yang dihasilkan penulis muda memakai bahasa yang sederhana, banyak sisipan bahasa gaul dalam dialognya, tapi tidak dengan novel ini. Secara keseluruhan, novel ini dihiasi diksi yang indah, yang lekat kaitannya dengan penulis yang seorang penyair. Pun, dalam cerpen-cerpennya di media, penulis potensial ini memiliki karakter pada pengulangan diksi-sinonim. Deskripsi latar dan penokohan kadang-kadang dinarasikan secara puitis sehingga lebih ‘padat’ (tapi penafsirannya melampaui batas makna denotatifnya). Karakter tulisan ini juga disorot oleh Basri, redaktur budaya harian “Fajar”, di bagian belakang sebagai sebuah endorsement. Simak penggalan berikut:
“Tak ada gundah segaduh ini. Tak pernah ada bimbang segamang ini. Tak pernah ada rasa, serasa ini. Senyum Naf membayang—melayang-layang—di sekitar mata yang remang—mata yang penuh kenang—mata yang mulai tak tenang—menggenang rasa paling bimbang.” (hal. 103)
“Sungguh aku selalu berdoa agar musim tak pernah menanggalkan dan meninggalkan hujan sebagai tamu bagi hangat pagut pelukku... Cinta macam apa yang hanya menukar tatap, menakar senyum...” (hal. 160)
Novelis muda ini juga piawai dalam deskripsi. Saya ambil beberapa cuplikan di sini:
“Semua berubah setelah aku membacakan puisi cintaku buat Naf. Aku mulai menyimpulkan bahwa Salim juga cinta kepada gadis pemilik senyum penjara itu. Ya, senyum penjara, dan akulah tahanan yang telah divonis hukuman seumur hidup di dalamnya.” (hal. 61)
“Waktu bergulir amat lamban, sama halnya matahari yang tak jemu menegaki ubun-ubun. Jarum gendut pada jam kelasku yang berwarna putih gading melata sangat lambat. Jarum itu tersuruk dan menanjak bak siput yang sedang berpuasa. Sangat lelet. Peluhku berceceran hingga memburamkan tulisan model cakar ayam di bukuku. Jam terakhir yang sangat menyiksa” (hal. 128-129)
Kita juga akan tersenyum-senyum kala disuguhi untaian puisi cinta di beberapa halamannya.
Mengenai gaya menulisnya ini, bahkan Faisal Oddang tak ragu menyatakannya dalam sebuah deskripsi:
“Aku memiliki kebiasaan yang sangat suka menulis cerita beraliran ekspresionisme—menguntit Gustave Flaubert—dengan tulisannya yang timbul dari gejolak jiwa dari kenyataan yang ia lihat... Sekarang entah kenapa gaya menulisku berubah... Barangkali jika menulis sebuah novel akan lahir karya yang menyerupai gaya novel Romeo and Juiet karya William Shakespeare atau Les Miserables karya Victor Hugo.” (hal. 165)
Untuk memperkuat deskripsi setting lokal, penulis menyelipkan beberapa kekhasan daerahnya:
“Aku memang sangat suka makan jangkalote, gorengan khas daerahku—isinya: macam-macam potongan ubi dan aneka jenis sayuran.” (hal. 119)
“Gendang ditabuh dengan irama yang memukul-mukul relungku. Enam orang penari dengan baju bodo berwarna biru—pakaian khas suku Bugis-Makasar—sedang menarikan tari lipa’ sabbe’. Lipa’ sabbe’ merupakan sarung hasil tenunan sutra masyarakat Wajo yang terkenal sampai mancanegara.” (hal. 225)
Cerita menggunakan sudut pandang orang pertama “aku” yang diawali dengan masa orientasi siswa di sebuah sekolah di Majauleng, Sulawesi Selatan dan setting cerita keseluruhan, ditambah nama tokoh utama yang mengingatkan pada nama penulis sendiri, mulanya membuat saya berpikir bahwa kisah ini diambil dari kisah nyata Faisal Oddang. Bahkan bertebaran banyak deskripsi dan narasi yang menyiratkan pengalaman pribadi, minat literasi, tokoh panutan yang sesuai dengan biodata penulis. Akibatnya, di awal hingga pertengahan cerita, saya sempat dihampiri bosan, karena menganggap ini kisah nyata percintaan remaja yang paling-paling tidak beda dengan cerita kebanyakan. Alur-plot cerita pun agak lambat bagi saya hingga mulai nampak konflik utama yang benar-benar menyulut emosi. Namun, penantian saya akhirnya tertebus di bagian menuju penghujung kisah dan asumsi itu musnah sudah. Di banyak bagian, penulis memang mengambil karakter pribadinya, namun kisah ini telah dibumbui penyedap fiksi yang nyata dan akhir tak terduga.
“Aku selalu ingat kamu mengibaratkan cinta sebagai bunga mawar... Bunga yang tumbuh di tubuh tangkainya adalah cinta. Ketika hendak kamu petiki ia, itulah nafsu. Lantas bunga dalam genggammu—dalam genggam nafsu, membiarkan waktu tanggal begitu cepat. Layulah ia. Layulah cinta... Kamu tidak boleh memetik bunga. Bunga mawar. Sebab pada waktunya, ia kan gugur juga. Di sanalah cinta telah berhasil menuntun dirinya. Di waktu nafsu telah sah. Setelah menikah.” (hal. 10)
Petikan di atas kiranya cukup menggambarkan bagaimana penulis memahami cinta sejati dan arah tulisan yang dibuatnya dalam novel ini.
Penutup:
Masih ada beberapa typo dan kekuranglogisan adegan di beberapa halamannya, juga judul yang menurut saya kurang menggambarkan isi dan ilustrasi bunga mawar yang terlampau banyak di halaman demi halamannya. Namun, secara keseluruhan novel ini cukup bagus untuk dibaca oleh kaum muda yang sedang terbelenggu dalam definisi pencarian jati diri. Kisah di dalamnya merupakan cermin hidup generasi muda masa sekarang, terutama bagaimana mereka menyalahartikan cinta dalam pacaran, HTS, Valentine’s Day, dan pernikahan. Faisal Oddang juga punya masa depan cerah sebagai penulis kuat. Saya berikan 3,5 bintang dari 5 bintang untuk novel terbitan PING!!! Ini.
Posted by Menukil Aksara | 6:20:00 AM
Categories:
Judul Buku : Sayap-Sayap Sakinah
Penulis : Afifah Afra dan Riawani Elyta
Penyunting Bahasa: Mastris Radyamas
Penata Letak: Puji Lestari
Desain Sampul: Andhi Rasydan
Cetakan : Pertama, Ramadhan 1435 H/ Juli 2014
Penerbit : Indiva
Jumlah Halaman: 248 hlm.; 19 cm
ISBN : 978-602-1614-22-8
Blurb:
Salah satu misteri terbesar dalam kehidupan ini adalah jodoh dan perjodohan. Nikah dan pernikahan. Kisah-kisah sejati yang menakjubkan seputar perjodohan tergores begitu giras, tercetak begitu rancak, terlukis begitu manis. Masing-masing Bani Adam memiliki cerita sendiri. Dan biasanya, cerita-cerita itu terbingkai dalam sebuah keistimewaan yang mengesankan. Bagaimana dengan Anda? Pasti Anda memiliki kisah sendiri.
Dan ibarat sebuah rajutan, jodoh dan nikah tentunya membutuhkan seperangkat peralatan dan bahan. Ilmu, pengalaman, berbagai persiapan, perlu digali sedalam-dalamnya. Terlebih, rajutan kehidupan pra dan pascapernikahan tak selalu berupa sulaman indah. Adakalanya membutuhkan perjuangan yang luar biasa.
Buku di tangan Anda ini bertutur lancar dalam bahasa indah, tentang berbagai hal yang perlu Anda persiapkan seputar awal, saat, dan pascapernikahan. Sangat cocok untuk Anda yang hendak, sedang, atau telah menikah. Ditulis dengan gaya bercerita yang khas, membuat Anda tak harus mengerutkan jidat saat mencoba memahami manik-manik hikmahnya.
Sinopsis:
Masa pernikahan dengan segala pernak-perniknya tiada pernah menjemukan untuk diperbincangkan. Entah dalam obrolan ringan sesama jombloers, para istri/suami, ataupun perbincangan cukup serius dalam sebuah seminar misalnya.
Suasana jelang pernikahan bisa jadi penuh ingar-bingar kesibukan. Juga dibarengi segala campur-baur perasaan. Cemas, khawatir, bahagia, tak sabar, menyatu dalam juice-blender emosi. Jika dihidangkan, rasanya bisa saja memunculkan aneka reaksi. Namun logisnya, jelang pernikahan didominasi oleh rasa bahagia. Bahagia akan digelarnya walimah, sesuai anjuran Rasulullah sekaligus detik-detik jelang berubahnya status.
Meski demikian, kebahagiaan bergantinya status tersebut tak serta merta terlabeli dari sekadar kemeriahan pesta walimah. Walimah hanya sebagian kecil dari proses panjang yang akan dilewati pasangan yang telah dihalalkan. Jika diibaratkan buku, walimah hanyalah cover. Isi buku, yakni substansi dari pernikahan, jauh lebih rumit dan butuh waktu panjang, energi besar, serta segudang timbunan kesabaran untuk ‘menuliskannya’. Jadi, istilah ‘don’t judge a book by its cover’ dapatlah dimaknai ‘jangan menghakimi/menilai sebuah pernikahan dari ‘cuma’ pesta walimahnya.
Salah satu sabda Rasulullah SAW yang termahsyur menyebutkan bahwa “Jika seseorang menikah maka dia telah menyempurnakan separuh dien-nya. Karenanya, bertakwalah kepada Allah pada separuh lainnya.” Dien di sini berat maknanya. Sesuai penjelasan para ulama bahwa makna dien meliputi kekuasaan, ketundukan, peraturan, dan balasan. Maka dapatlah kita bayangkan bobot sebuah pernikahan yang dikatakan sebagai separuh dien tersebut.
Meskipun pernikahan merupakan sebuah perjalanan nan berat, seorang muslim/ah memilih jalan ini sebab janji hadiah dari Allah, salah satunya terwujudnya rasa damai, ketenangan, ketenteraman, juga kebahagiaan, atau yang disebut sakinah (termaktub dalam QS. Ar-Ruum:21). Selain itu, pernikahan yang berhasil membentuk keluarga Islami akan menjadi batu bata unggul yang akan membentuk masyarakat yang rabbaniyyah. Bagaimana merealisasikan sakinah inilah yang akan menjadi sorot utama buku ini.
Membedakan dengan karya-karya nonfiksi penulis sebelumnya, kali ini penulis sengaja meniadakan sistematika. Tulisan-tulisan di dalam buku ini diibaratkan kumpulan benda-benda kecil yang bisa dinikmati terpisah. Namun, jikalau pun dikumpulkan, akan mewujud sebuah bentuk yang lebih besar dan utuh. Penulis juga menghindari bahasan-bahasan yang terlampau rumit, sesuai sebuah prinsip yang diambil, “Orang hebat menulis masalah berat dengan bahasa sederhana. Orang yang ingin dianggap hebat menulis masalah sederhana dengan bahasa yang berat.”
Kolaborasi yang dihasilkan oleh duo penulis yang telah banyak melahirkan karya fiksi dan nonfiksi ini pun menuai hasil yang cantik. Perbincangan dalam buku ini sebagian besarnya bukanlah teori hasil comot sana-sini semata, namun buah dari pengalaman pribadi dua penulisnya. Maka topik Misteri Jodoh, Menikah karena ingin Sakinah, hingga Sepasang Sendal Menuju Surga dan Cinta hingga Ujung Usia menjadi terasa manis dan hangat dibaca.
Review:
Kita adalah sepasang sayap
Diciptakan-Nya tuk mengangkasa
Susuri hidup penuh dinamika
Beri aku kuatmu saat ku lelah
Kuberi akasku saat kau lemah
Beri aku sinarmu saat ku redup
Kuberi hangatku saat kau kuyup
Kita adalah sepasang sayap
Sayap-sayap sakinah
Yang tak pernah lelah
Melangkah bersama menuju jannah
(cuplikan puisi di halaman 5 karya Afifah Afra)
Opening berupa seuntai puisi indah merupakan hal yang tak biasa bagi sebuah buku nonfiksi, pun yang membahas pernikahan. Sesuai salah satu baris puisi di atas, buku ini pun dilabeli sebagai seri sayap sakinah, di mana akan ada buku kedua seri sayap mawaddah, dan kemungkinan besar buku ketiga seri sayap rahmah. Simbol sepasang burung yang sedang mengepakkan sayap di atas bunga-bunga pun mengesankan kesesuaian dengan judul dan isi buku. Warna biru yang dipilih sebagai warna cover cukup tepat, beserta ilustrasi dalam yang mirip ilustrasi di sampul luar.
Mengawali perbincangan dengan kisah-kisah perjodohan legendaris sepanjang zaman, penulis ingin menghadirkan nuansa romantis yang realistis, bukan seperti romantisnya kisah-kisah cinta picisan anak manusia. Kisah pertemuan dramatis Ratu Bilqis dengan Nabi Sulaiman, kisah jatuh cinta diam-diamnya Fatimah binti Muhammad dengan Ali bin Abi Thalib, kisah kebesaran hati seorang Salman Al-Farisi merelakan pernikahan sahabat dengan wanita yang mulanya hendak dikhitbahnya, menjadi sederet bukti betapa jodoh itu rahasia besar Allah.
“Terkadang misteri diciptakan justru untuk memeriahkan alur hidup kita. Untuk menjadikan kehidupan kita penuh gairah. Mencoba-coba menyibak misteri seringkali melelahkan dan mementahkan harapan. Jadi, sikap terbaik dalam memandang sebuah perjodohan, menurut saya adalah tawakal.” (hal. 36)
Perbincangan pun mengalir ke topik-topik lebih ‘berat’, dalam rangka mengayunkan langkah dalam pernikahan. Tentu saja, penulis banyak mencantumkan dalil-dalil syar’i berasal dari nash Al-Qur’an, Al-hadits, pendapat para ulama, hingga kisah-kisah para salafush shalih sebagai penjelas topik. Namun, sebagai bahan pertimbangan lain, penulis pun tak ragu memberi bonus pendapat pakar atau petikan hikmah ilmuwan masa lampau terkait cinta, komunikasi, psikologi, dan hubungan antarmanusia.
“Ada sebuah teori yang bisa membantu kita memahamkan tentang apa dan bagaimana cinta bisa terjadi antarmanusia. Teori tersebut adalah Triangular Theory of Love alias teori segi tiga cinta. Teori ini diungkapkan oleh psikolog Robert Stenberg...” (halaman 52-53)
“...Hikmah terpenting dari dialog Plato dengan Socrates adalah bahwa kepastian ternyata justru membuat seseorang merasa cukup dengan yang ada.” (halaman 58-60)
Bonus lain yang kita dapatkan adalah pengalaman pribadi kedua penulis yang dibagi demi menyarikan hikmah yang terkandung. Semisal pengalaman ketika penulis Afifah Afra bertemu jodoh, memutuskan berikhtiar menjemput jodoh, saat-saat mengharukan usai ijab qabul, atau kisah penulis Riawani Elyta dalam berkomunikasi dengan suami. Kisah-kisah mereka pun dituturkan dengan santai, lancar, indah, laiknya obrolan antarsesama perempuan, dengan selingan-selingan humor yang menyegarkan.
Di setiap permulaan bab, kita juga akan ‘dihibur’ dengan untaian-untaian indah sarat hikmah yang dipetik dari syair, nash, atau kalimat motivasi.
“Bukankah sakinah itu hadiah dari-Nya? Tak perlu kau mencarinya. Pada setiap jejak di savana hingga balik gerumbul semak. Karena, dia mungkin turun saat kau menjadikan-Nya pusat pusaran cintamu.” (halaman 79)
“Jika cinta adalah tumbuhan. Penerimaan nan utuh ibarat tanah gembur. Dan kesetiaan adalah bagaikan air yang mengucur.” (halaman 171)
Penulis juga mahir menggunakan analogi-analogi demi menyuguhkan penjelasan yang gamblang.
“Dalam berbagai kesempatan, untuk menyemangati anak-anak muda agar menjaga kesucian diri sampai saatnya tiba, saya memang sering menganalogikan dengan ‘berpuasa’... Nah, setelah berkali-kali melewati godaan, ketika beduk tiba dan saatnya kita berbuka, pastilah akan menjadi saat paling membahagiakan... Ini berbeda dengan saat kita tidak berpuasa...” (hal. 156)
Tips-tips aplikatif yang ditawarkan sebagai solusi atau langkah riil disarikan dari pengalaman nyata kedua penulis dan dijabarkan dengan bahasa yang mudah dimengerti, ringan, dalam bentuk poin-poin yang diselipi istilah-istilah sehari-hari yang up-to-date.
“Dan jika ditelusuri lebh jauh, ternyata pangkal penyebabnya justru sesuatu yang semula dianggap nothing wrong tersebut; memiliki TTM dan atau CLBK serta melakukan komunikasi dengan mereka secara intens. Maka untuk mengantisipasinya, berikut beberapa tips yang dapat kita lakukan demi menjaga keutuhan rumah tangga dari ‘virus’ pengacau yang satu ini...” (hal. 177-179)
Bonus yang tak kalah manis dijumpai di penghujung bagian, di mana penulis Afifah Afra yang memang piawai menggubah syair menuliskan beberapa syair cinta nan romantis. Tentu saja, isinya jauh dari sekadar puitis, berisi penggalan-penggalan hikmah pernikahan dan kehidupan.
Penutup:
Sayap-Sayap Sakinah bisa dikatakan sebuah karya nonfiksi yang unik, khas, cocok dihadiahkan pada kerabat, sahabat, atau diri sendiri. Baik itu mereka yang belum menikah maupun sudah menikah. Karena, baris demi baris dalamnya penting kita resapi dan praktikkan; sebagaimana sebagai manusia sekaligus suami/istri yang tak boleh lekas berpuas diri dari belajar, kita membutuhkan kucuran pelajaran dari segenap penjuru. Semoga semakin banyak pasangan atau calon pasangan, muda-mudi yang bersedia meluangkan waktu untuk memperbaiki diri sehingga sakinah teraih. Saya berikan 4,5 dari 5 bintang untuk buku yang inspiratif ini.