Jumat, 27 Oktober 2017

[RESENSI] Project D: (Bukan) Detektif Cinta

Posted by Menukil Aksara | 7:17:00 AM Categories:
Judul buku                         : Project D
Penulis                                : Elsuya
Editor                                 : Risma Megawati
Desainer sampul & grafis: Jeanne
Penerbit                             : Penerbit Clover (M&C)
Cetakan                             : pertama, 2017
Tebal buku                        : 224 hlm

BLURB:
    Project D adalah sebuah grup detective SMA, yang misinya membantu cewek-cewek agar tak tertipu oleh cowok iseng!

    Kia berinisiatif membuat Project D setelah kisah LDR-nya kandas akibat sebuah pengkhianatan. Namun jika untuk menyelesaikan misi, Kia harus berhadapan dengan Devan—cowok antisosial yang hobinya menghabiskan waktu di depan komputer—masih bisakah Kia menyelesaikan misi Project D?

SINOPSIS:
    “Di dunia ini memang tidak ada yang selalu baik-baik saja selamanya. Barangkali, termasuk hubungan Kia dan Alan.” (hal. 14)
    “Melihat Inez dan teman-temannya, mendatangkan ide di kepala Devan. Ide brilian untuk membalas Arga.” (hal. 17)
    “Ia sangat membutuhkan bantuan Devan, karena Devan adalah harapan terakhir bagi Kia untuk menyelamatkan cinta pertama dan hatinya.” (hal. 37)
    “Lo punya teman, punya keluarga, kenapa lo sampai segininya cuma buat cowok lo? Kalaupun cowok lo pergi, dunia lo juga nggak bakal kiamat, kok!” (hal. 68)

    Azkiya Naura Rahman atau yang kerap disapa Kia sedang kelimpungan. Alan, pacarnya, mendadak memberitahukan mengenai kepindahannya ke Malang. Kia was-was, akankah cinta pertamanya itu bertahan dalam hubungan jarak jauh Jakarta-Malang? Dan, seolah menjawab kekhawatirannya, Alan mulai sulit dihubungi belakangan ini. Kia harus mencari cara untuk memastikan semua baik-baik saja dengan Alan dan hubungan mereka, tapi jarak memisahkan.

    Berawal dari keisengan Arga, satu-satunya sahabat SMA-nya, Devan memutuskan membalas dengan hal konyol lain. Menitipkan sepucuk surat pada Kia, ternyata keputusan yang salah, kia bahkan tak membaca surat tersebut. justru, sekarang Devan yang kesusahan ketika tiba-tiba Kia meminta bantuannya untuk memata-matai sang pacar di Malang.

    Kia sadar dia melakukan hal konyol dan berisiko. Meminta bantuan Devan, si Mister Freak yang antisosial, berpenampilan jadul, dan selalu sibuk dengan laptop dan headphone. Jika bukan karena saran Inez yang menyatakan bahwa kemampuan IT Devan di atas rata-rata, Kia tak sudi memohon-mohon pada Devan.

    Setelah tersentil oleh ucapan Arga, Devan memutuskan membantu Kia. Tapi tak disangka, hal itu akan berbuntut panjang. Merasa tak puas dengan hasil pengintaian Devan, Kia meminta bantuan lain yang lebih sulit dan berisiko. Ketika Devan menolak, Kia malah nekat pergi ke Malang sendirian. Hanya karena iba, Devan ‘tepaksa’ menemani Kia tanpa diminta. Perjalanan tersebut membuahkan hasil, meski pahit. Kia harus menerima kenyataan bahwa cinta pertamanya harus kandas oleh sebuah pengkhianatan. Patah hati, Kia justru tak langsung ingin pulang. Devan pun terpaksa menemani gadis itu di Jatim Park lantas bermalam di sekitar Bromo.

    Selama perjalanan di Malang dan Bromo itulah, Kia menemukan fakta lain tentang Devan dan Arga, yang selama ini tak diketahui teman-teman sekolah maupun guru-guru mereka. Tentang rumor kasus pemukulan, hobi mengoleksi video porno, bahkan aktivitas apa yang sebenarnya sedang Devan lakukan akhir-akhir ini sehingga tampak sibuk dengan laptop. Devan ternyata tak seburuk yang dia duga. Hal ini ditambah pengalaman patah hatinya, menerbitkan ide untuk membentuk grup detective di kepala Kia. Nahasnya, Devan adalah orang pertama yang ingin Kia rekrut. Setelah usaha yang tak mudah, Kia berhasil membujuk Devan.

    Sayangnya, misi mulia Project D atau grup detective bentukan Kia tak berjalan mulus. Ketika nyaris tak menemukan kasus untuk diselidiki, Kia mendapat saran untuk menyelidiki April—mantan Devan—dari Arga. Namun, rencana itu sempat teralihkan oleh jadwal tur liburan sekolah ke Bali. Di Bali, Kia bersama Karen dan Inez sahabatnya akan menjalankan misi mak comblang. Tak disangka, alih-alih berhasil mencomblangi Inez dengan Rio sang ketua OSIS, Kia justru mengalami insiden yang berujung saling curiga dengan Karen.

    Perang dingin Kia dan Karen berlanjut hingga usai liburan. Belum juga ketahuan dalang pemicu konflik ini, Kia menyaksikan fakta tak menyenangkan atas April dan sang pacar, Reymond. Bahkan, tak lama kemudian, Reymond dikabarkan terjatuh dari tangga dan terluka. Kali ini, Kia, Devan, dan kawan-kawan mau tak mau bersatu mengungkap satu per satu misteri dan menemukan siapa yang harus bertanggung jawab atas terjatuhnya Reymond, sekaligus menyelesaikan masalah antara Kia dan Karen, juga dilema hati yang dialami Kia dan Devan terkait perasaan masing-masing.

REVIEW:
    “Sekarang, Kia punya dua kasus yang menunggu untuk diselesaikan. Kia tersenyum puas karena sepertinya menjadi detective mulai membuatnya sibuk! Kesibukan yang menyenangkan.” (hal. 117)
    “Semua orang berubah, kan? Sama seperti perasaan kamu.” (hal. 205)
    “Itulah yang membuat gue iri sama persahabatan cowok... Bahkan setelah sederet kejadian mengerikan, mereka bisa tiba-tiba bersahabat tanpa ada kata-kata manis penuh penyesalan, maaf, dan lain sebagainya layaknya cewek.” (hal. 206)
    “Kali ini, tanpa perlu bantuan Devan, tanpa perlu membuat grup detective, tanpa perlu membawa embel-embel Project D, Kia sudah mampu membuat keputusan.” (hal. 208)

    Menggunakan sudut pandang orang ketiga, dengan alur maju, novel remaja yang didominasi setting Jakarta ini menawarkan format cerita yang cukup berbeda dari novel-novel remaja lain. Masih dengan ciri khas novel remaja yang ceria, gaya bercerita yang santai dan mengalir, kali ini saya diajak mengikuti kisah Kia dan Devan dengan pernak-pernik dunia remaja mereka, termasuk kenakalan remaja, dengan sentuhan gaya detektif. Kasus yang diangkat memang bukan kasus berat semacam pembunuhan, karena ini bukan novel misteri-thriller, tapi lebih kepada kasus yang melbatkan hubungan antar remaja di sebuah SMA, termasuk kisah cinta mereka. Alurnya cepat, plotnya cukup rapi, termasuk teka-teki dan petunjuk yang disebar sepanjang cerita. Saya merasa tergelitik untuk ikut berspekulasi atau sekadar menebak-nebak ‘siapa dan kenapa’.

    Karakter para tokoh utama, terutama Kia dan Devan menarik, karena mereka bertolak belakang dan kerap menampilkan perselisihan dalam menetapkan sesuatu. Gaya interaksi ‘musuh tapi teman’ yang perlahan berubah menjadi ‘benci tapi cinta’ memang seringkali muncul dalam novel-novel temaja, diwarnai kekonyolan yang mengundang tawa atau senyum. Saya suka karakter Devan yang diagambarkan culun, antisosial, nggak goyah dengan konsep imej dan popularitas ala anak zaman sekarang, dan berkemampuan di atas rata-rata di bidang IT tapi tidak ngin menonjolkan diri di hadapan orang banyak tentang hal ini. Perkembangan karakter para tokoh utama juga terasa, sekaligus membawa pesan positif tentang pendewasaan diri.

    Salut juga dengan pesan moral lewat beberapa konflik antar tokoh, tentang kenakalan remaja,  menjadi sindiran halus tentang pergaulan remaja yang kerap melampaui batas. Menurut saya semuanya kekinian, mewakili kondisi sekarang. Penulis juga menyisipkan beberapa wawasan umum lewat adegan di Malang dan Bali, sekaligus menjadi deskripsi setting yang cukup cerdas.

    Jika ada hal yang agak mengganggu, bagi saya itu semata masalah deskripsi karakter yang agak terlalu diulang-ulang. Meskipun mungkin dimaksudkan sebagai penekanan, tapi menurut saya itu kurang perlu. Misalkan kalimat Devan yang freak dan geek, yang muncul cukup sering hingga saya merasa sedikit bosan. Selain itu, saya merasa puas dengan keseluruhan cerita, termasuk ending. Ketika saya mengira penulis telah menyudahi kisah Kia dan Devan, saya disuguhi kejutan lain. Kover buku juga cerah dan desainnya simpel, menurut saya sesuai dengan tema dan genre. Recommended untuk dibaca para remaja dan penyuka teenlit Indonesia.

“Kasus ini terjadi, (bukan) karena cinta.”

Sabtu, 21 Oktober 2017

[RESENSI] Jejak Cinta: Menelusuri Harapan Akan Cinta dan Kebahagiaan

Posted by Menukil Aksara | 11:54:00 AM Categories:
Judul Buku                : Jejak Cinta: 20 tahun berlalu
Penulis                       : Maya Lestari GF
Penyunting                : Nur Aini
Proofreader               : Hetty Dimayanti
Penyunting Ilustrasi : Kulniya Sally
Penerbit                      : Pastel Books
Cetakan                      : I, Agustus 2017
Tebal Buku                 : 292 hlm; ilust.; 20,5 cm

BLURB:
Semua keruwetan hidupku dimulai ketika pamanku, Bernard Hadison, terbangun dengan ingatan akan Rinjani.

Dua puluh tahun lalu ia mencintai perempuan berlesung pipit dengan senyum secerah bulan purnama. Apa daya, perempuan tersebut memutuskan menikah dengan laki-laki lain. Dengan hati hancur, pamanku pergi ke Leiden untuk melupakannya. Saat mendapat kabar bahwa cinta pertamanya kembali sendiri, pamanku yang tidak pernah menikah itu pun pulang ke Indonesia demi mempersunting cinta pertamanya. Parahnya, aku dan Keegan yang diminta Paman Ben untuk menemaninya. Awalnya aku tidak mengerti, bagaimana cinta mampu menggerakkannya untuk melakukan perjalanan melelahkan yang tidak jelas ujungnya begini. Namun, pada akhirnya aku mengerti bagaimana cinta bekerja, karena kini aku telah jatuh cinta.

“Kalian akan terkesan pada sepasang mata yang tidak bisa dibandingkan dengan apa pun. Tidak bisa dinilai dengan harga berapa pun. Sepasang mata yang di dalamnya ada ribuan bintang, sehingga ketika kalian melihatnya, kalian seakan berada di tengah alam semesta.”

SINOPSIS:
    “... jangan terlalu mengandalkan teknologi untuk hidupmu. Sekali teknologi berhenti, hidupmu pun bisa berhenti. Sebuah peta... adalah nyawa perjalanan.” (hal. 112-113)
    “Jatuh cinta itu seperti melukis, Abby. Sekali kamu menggoreskan cat ke kanvas, goresan itu takkan hilang selamanya. Kamu bisa menyamarkan goresan itu dengan goresan lain, menimpanya dengan warna lain sampai tak terlihat lagi, tapi kamu tahu goresan itu ada.” (hal. 166-167)
    “Masing-masing orang itu unik. Kamu bisa mengganti gantungan kuncimu yang hilang dengan yang baru, tapi apakah kamu bisa mengganti orang yang hilang dengan yang baru? Tidak.” (hal. 167)

    Adegan dimulai dengan kehebohan di keluarga besar Hadison di Bandung atas kabar kepulangan salah satu anggota keluarga yang telah lama tinggal di Leiden. Tak hanya itu, Bernard Hadison atau yang kerap disapa Paman Ben oleh para keponakan rumornya pulang ke Indonesia untuk mempersunting cinta pertamanya. Yang membuat para keponakan kebingungan adalah fakta bahwa Rinjani—wanita tersebut—tidak jelas di mana rimbanya. Dan naasnya. Abby ditunjuk oleh Paman Ben untuk menemani pencarian seorang Rinjani, bersama Keegan sepupu jauhnya. Berangkat dari Bandung, mereka bertiga lantas menjejakkan kaki di bandar udara Sumatra Barat untuk kemudian melanjutkan misi pencarian dengan mengendarai mobil. Keegan yang sudah hapal dan sering bolak-balik Jawa-Sumatra yang menjadi sopir merangkap ‘guide’.

    Abby yang sedari awal sama sekali tidak antusias, bahkan cenderung merasa terpaksa bepergian, seringkali mengeluh dan bertingkah. Hal ini kemudian menjadi pemicu cekcok mulut dan perang dingin antara Abby dengan Keegan, bahkan Paman Ben. Berbekal petunjuk yang samar, perjalanan mereka jauh dari mulus. Sempat terlunta-lunta, menginap di tenda dan mobil, serta berkeliling dari satu kota ke kota lain, Abby lambat-laun berusaha bersabar dan mengambil sisi positif dari perjalanan ini. Sesungguhnya, meskipun tak selalu menyenangkan, perjalanan tiga hari ini membawa Abby lebih mengenal adat budaya tanah kelahiran leluhurnya. Keindahan alam dan kelezatan kuliner berbalut filosofi tak pelak mengundang kekaguman. Perjalanan ini juga ternyata mengungkap banyak rahasia hati, tentang makna kebahagiaan yang hakiki, pentingnya keluarga, juga rahasia tentang jati diri Rinjani dan apa yang terjadi di masa lalu antara Rinjani dan Paman Ben. Momen-momen emosional pun terjadi hingga mereka pada akhirnya menyadari bahwa perjalanan ini lebih dari sekadar penelusuran jejak cinta pertama seseorang. Perjalanan ini menjadi pendewasaan diri.

REVIEW:
    “Orang Minang itu sabar-sabar kalau masak, sebab rasa dan aroma itu penting.” (hal. 177)
    “Keberhasilan tidak ada hubungannya dengan seberapa banyak isi rekeningmu. Keberhasilan ditentukan dari seberapa banyak kamu bahagia.” (hal. 220)
    “Seharusnya manusia yang diistimewakan, benda yang dimanfaatkan. Manusia jadi gila oleh sesuatu yang seharusnya melayani hidup mereka.” (hal. 221)
    “Tak ada bedanya kamu pakai baju seharga sepuluh juta dengan seratus ribu. Toh kamu tetap manusia. Sifatmu juga akan tetap sama.” (hal. 222)
    “Kita tidak bisa mendapatkan semua yang kita mau. Itu betul, dan inilah yang membuat orang berpikir Tuhan tidak adil.” (hal. 223)
    “Kamu kaya lalu memberi, itu tidak istimewa. Tapi kamu miskin, lalu kamu memberi, itu baru luar biasa.” (hal. 224)   
    “Bekerja keras adalah tradisi keluarga kita.” (hal. 261)

Dikisahkan menggunakan sudut pandang orang pertama, Abby, dan alur maju, Kak Maya Lestari GF menurut saya mengambil pilihan yang tepat. Awalnya saya berpikir kisah ini akan dikemas dengan gaya yang agak berat, karena dari blurb saya menangkap topik filosofi hidup dan nilai kearifan lokal. Ternyata perkiraan saya meleset. Karena menggunakan sudut pandang Abby yang notabene gadis sembilan belas tahun yang ceria, ceplas-ceplos, dan cerdas, kisah ini penuh humor segar dan aura kehangatan sebuah keluarga besar, keluarga besar Hadison. Karakter para sepupu, paman, dan bibi Abby pun tak kalah lucu dan mengundang tawa. Dari sini saja pesan tentang adat ketimuran yang masih kental akan nilai kekeluargaan terasa sekali. Keluarga besar Hadison juga digambarkan sebagai orang-orang pribumi yang sukses di bidang masing-masing, terutama dalam berwira usaha. Perasaan Abby tentang pesona alam dan budaya tanah Minangkabau selama perjalanan pun membuat pembaca ‘awam’ seperti saya merasa terwakili.

Sedangkan karakter Keegan, sebagai pemuda dua puluh tiga tahun yang secara fisik dan gaya penampilan bisa dibilang menawan (digambarkan sedikit menyerupai aktor Hollywood Tom Hiddleston—yang mana membuat saya senyum-senyum senang), berpikiran dewasa dan sukses berbisnis di usianya yang masih muda. Keegan merintis usaha tour and travel dari nol, sebagai buah kecintaannya terhadap traveling dan kegiatan di alam bebas. Visi dan misi usahanya pun jelas. Sosok Keegan bisa menjadi inspirasi bagi banyak pembaca muda.

Paman Ben yang merupakan pelukis sukses di Eropa, nyentrik, cuek, namun diam-diam doyan menyantap kuliner Minang. Dari obrolan seputar masakan Minang ini pula terselip filosofi kesabaran. Meskipun terkesan ceria dan cuek, sesungguhnya Paman Ben menyimpan kesedihan dan kesepian. Momen di mana dia mengungkapkan segala uneg-uneg hatinya kepada Abby merupakan salah satu adegan emosional favorit saya. Saya pun merasa tertohok dan saya yakin banyak pembaca yang juga akan merasa tersindir dengan deretan pernyataan Paman Ben.

Secara keseluruhan, saya sangat menyukai karya Kak Maya Lestari yang satu ini. Alurnya relatif cepat, dialog-dialognya bernas, plot dan ending logis dan memuaskan.Terdapat ilustrasi menarik juga di dalam buku, menggambarkan beberapa adegan dalam cerita. Kisah cintanya pun manis dan tidak berlebihan, serta menarget pembaca muda hingga dewasa. Karena ini merupakan perkenalan saya dengan karya Kak Maya, maka bisa dibilang ini merupakan perkenalan yang mengesankan dan memantik rasa ingin tahu akan karyanya yang lain. Bagi kalian yang menyukai kisah romansa yang kental nilai budaya lokal dan religi, saya sangat merekomendasikan novel ‘Jejak Cinta” ini. Kisah yang bikin baper dan laper :)

“Perjalanan adalah seni menemukan hal-hal yang tak terduga.” (hal. 290)

Rabu, 18 Oktober 2017

[RESENSI] Peony’s World: Tempat Teraman, Sekaligus Paling Tak Aman

Posted by Menukil Aksara | 7:13:00 AM Categories:
Judul Buku         : Peony’s World
Penulis               : Kezia Evi Wiadji
Ilustrasi              : Sierra Aine
Penyunting        : Jia Effendi
Penerbit             : Bhuana Ilmu Populer
Cetakan             : pertama, 2017
Tebal                  : 236 hlm

BLURB:

    Sejak kecil, Peony memiliki ‘bakat istimewa’ yang membuatnya mampu menginjak di dua dunia, dunia nyata dan dunia ciptaannya. Bakat istimewa yang awalnya menimbulkan kesulitan ini, lambat laun membuat hidup Peony lebih berwarna.

    Jovan, laki-laki yang membuat hidup Peony bukan hanya berwarna, tetapi terasa sempurna. Hingga sebuah kecelakaan maut merenggut Jovan dari sisinya.

    Secara mengejutkan, Jovan muncul di dunia ciptaan Peony. Sejak saat itu, hidup Peony tak lagi sama. Keberadaan Jovan di dunia ciptaannya menuntun Peony ke sebuah buku tua, kisah keramat, dan sosok mengerikan yang mengincar nyawanya. Mengetahui hal itu, Jovan mati-matian melindungi, bahkan rela terpenjara di dunia ciptaan Peony hanya untuk menyelamatkan gadis itu.

SINOPSIS:
    “Aku pikir bakat istimewamu itu seperti Zafrina, si vampir Amazon di novel Breaking Dawn.” (hal. 16)
    “Roh itu mendekatimu melalui mimpi dan sewaktu kamu menciptakan dunia ciptaanmu ini, roh itu tahu dan ikut masuk.” (hal. 104)

    Peony atau yang akrab disapa Ony, memiliki bakat istimewa semenjak kecil. Dia mampu menciptakan dunia ciptaan lantas berpindah tempat ke dunia tersebut hanya dengan berkonsentrasi, bahkan mampu mengajak serta orang yang dikehendakinya. Kemampuan tersebut berkembang seiring bertambahnya usia. Papa, mama, tante, dan sahabatnya Lola mengetahui hal tersebut. meskipun awalnya menyulitkan, Ony yang kini sudah duduk di bangku SMA menikmati hari-harinya. Terlebih lagi ketika Jovan hadir. Cowok baik yang kemudian diberitahu mengenai rahasianya itu. Hingga suatu hari, dalam sebuah perjalanan bersama Jovan, Lola, dan Justin pacar Lola, sebuah kecelakaan maut terjadi dan merenggut Jovan dari sisi Ony.

Merasa bersalah dan kehilangan, Ony sempat terpuruk dan mengurung diri. Hingga kerinduan pada Jovan membangkitkan keinginan untuk menciptakan dunia khusus untuk mengenang Jovan. Tak disangka, ketika Ony memasuki dunia ciptaan itu, ia bertemu sosok Jovan. Anehnya, Jovan terlihat baik-baik saja. Merahasiakan hal tersebut dari sang mama dan Lola, Ony kerap menemui Jovan di dunia ciptaannya diam-diam. Namun, suatu hari, karena penasaran dan tak sanggup menahan rindu, Ony nekat menjumpai Jovan di jam-jam yang sudah dilarang Jovan. Betapa terkejutnya Ony ketika di dalam dunia ciptaannya kali itu tak hanya Jovan yang dijumpai, tapi juga sesosok bertudung hitam yang mengerikan. Beruntung, Jovan berhasil mendorongnya keluar dari dunia ciptaan. Semenjak itu, Ony tak bisa lagi menyimpan rahasia pertemuan dengan Jovan dari mamanya. Demikian pula mamanya, Sandra, yang juga mengungkapkan rahasia keluarga mereka. Dari Jovan, Ony dan Sandra menyadari bahwa sosok misterius bertudung itu mengincar nyawa Ony. Sandra lantas memutuskan melindungi putrinya dengan berbagai cara, terutama dengan menelusuri ingatan akan peristiwa di masa lalunya. Suatu hari, Ony menemukan sebuah benda yang biasa disebut dreamcatcher, yang lantas disadari mirip dengan tanda lahir miliknya. Dari sinilah, Sandra menelusuri petunjuk yang dianggap bisa membantu yang kemudian membawanya pada sebuah buku tua dan kisah keramat di dalamnya.

Bersama-sama, Ony, Sandra, Lola, dibantu Jovan dan Justin, memecahkan teka-teki tentang buku tua dan kisahnya. Mereka kemudian berhasil menemukan fakta tentang dua gadis kembar, Lisafera dan Lucifera dari masa lalu dan apa yang sebenarnya terjadi. Rencana demi rencana dan upaya dilakukan demi mengusir sosok roh mengerikan bertudung hitam dari dunia ciptaan Ony, atau Jovan akan terpenjara selamanya di sana, tak bisa berada di tempat yang semestinya.

REVIEW:
    “Aku nggak percaya ada orang yang dilahirkan menjadi si baik dan si jahat. Menjadi baik atau jahat adalah pilihan orang itu sendiri.” (hal. 189)
    “Mimpi buruk akan tertahan dan hilang seiring munculnya sinar fajar pertama. Sedangkan mimpi baik akan lolos melalui lubang di tengah-tengah lingkaran.” (hal. 226)

    Mengangkat genre fantasi dan misteri dengan nuansa magis, novel remaja ini menawarkan sesuatu yang berbeda. Apa lagi, baru kali ini memang saya membaca novel karya penulis Indonesia yang berani mengusung tema kemampuan ‘berpindah tempat’ dan kaitannya dengan dreamcatcher. Di halaman awal, terdapat ilustrasi cantik yang mengajak saya berkenalan dengan keempat tokoh utama: Peony, Jovan, Lola, dan Justin. Menggunakan POV orang ketiga dan alur maju yang sesekali dipadukan alur mundur lewat kilas balik kenangan yang ditandai dengan huruf yang dicetak miring, saya diajak bertualang ke dunia Peony yang magis namun tetap dekat dengan dunia remaja pada umumnya. Alurnya relatif cepat, gaya bahasanya ringan dengan pemilihan bahasa yang tergolong baku alih-alih bahasa gaul dengan gue-elu. Plotnya logis, dengan penyajian teka-teki, rahasia, dan petunjuk yang diungkap satu demi satu sehingga saya betah membaca hingga akhir.

    Berbicara tentang penokohan, karakter Peony sebagai pusat kisah cukup kuat. Dia digambarkan tak berbeda dari gadis remaja pada umumnya dalam keseharian, dengan sahabat dan kekasih yang menyayanginya dengan tulus. Secara fisik, saya suka penggambaran ciri khas Peony dengan sejumput rambut peach-nya. Demikian juga dengan sosok Jovan, remaja laki-laki cerdas, baik, dan bersikap melindungi. Mereka berdua ini pasangan yang serasi dan kompak. Lola di lain pihak, ceria, selalu ingin tahu. Setia kawan dan suportif, meskipun di cukup banyak kesempatan dia bisa menjengkelkan juga dengan sikap sok pemberani dan keras kepalanya yang merepotkan dan ‘merusak’ suasana. Justin kekasih Lola menjadi penyeimbang, apa lagi dia adalah yang tertua dari empat sekawan ini. Sikap Justin walaupun kadang jail, lebih dewasa dan menjadi pendukung yang selalu ada saat dibutuhkan. Saya suka dengan kisah persahabatan dan kekompakan mereka, juga fakta bahwa meskipun tak dikaruniai bakat istimewa, Lola, Justin, dan Jovan diberikan peran penting dalam alur cerita. Sosok Sandra sebagai mama yang penyayang sekaligus misterius dengan rahasia keluarganya juga berhasil menyedot perhatian saya.

    Hal lain yang saya sukai dari novel ini adalah momen-momen kemunculan sang sosok bertudung hitam dalam dunia ciptaan Peony, yang meskipun tak banyak ‘drama’ tapi entah mengapa selalu sukses membuat saya merinding. Kak Kezia berhasil menciptakan aura mencekam dalam setiap kemunculan sosok ini. Dan bagian jelang akhir yang menegangkan, bersamaan dengan dibukanya petunjuk demi petunjuk menjadi bagian paling favorit saya. Saya juga puas dengan akhir yang disuguhkan, meskipun tidak menampik bahwa saya ingin ada kelanjutan kisah, dengan petualangan baru dari Peony dan kawan-kawannya. Saya rasa, kisah ini masih dapat dikembangkan lagi menjadi jauh lebih menarik dan menantang, terutama dengan kehadiran satu tokoh baru. Apakah kira-kira Kak Kezia bersedia mempertimbangkan hal ini? 

Bagi pembaca remaja, novel ini menawarkan pengalaman membaca yang baru dan seru dengan pesan moral yang disisipkan dengan apik. Very recommended.

“Perbuatan adalah cerminan isi hati. Perasaan iri dan mementingkan diri sendiri, menyebabkan kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.”






Jumat, 13 Oktober 2017

[RESENSI] Jodoh Untuk Mira: Manusia Tak Bisa Sempurna Namun Cinta Bisa

Posted by Menukil Aksara | 9:57:00 AM Categories:
Judul Buku  : Jodoh Untuk Mira
Penulis         : Alnira
Penyunting  : Suci Amanda
Penerbit       : Penerbit Ikon
Cetakan       : pertama, September 2017
Tebal           : 269 hlm

BLURB:
  
 Almira—gadis yang bercita-cita menjadi dokter, lalu banting setir menjadi guru bimbingan konseling—pernah merasakan cinta monyet pada usia empat belas tahun. Namun kala itu, Mira harus patah hati karena pujaannya hanya menganggapnya adik. Kesedihan Mira bertambah saat Akradani Lawardi, cinta pertamanya, menghilang tanpa jejak sehari setelah ulang tahunnya yang ketujuh belas.

    Tujuh tahun sesudah itu, Mira berusaha untuk melupakan perasaannya pada Akradani. Namun, di saat tekadnya sudah bulat, Akradani kembali hadir. Dan, kali ini, pria itu tidak datang seorang diri, tetapi membawa anak kecil, yang memanggil Akradani dengan sapaan ‘Ayah’.

SINOPSIS:

    “Seseorang pernah berkata, lebih baik dicintai lebih dulu daripada mencintai.” (hal. 24)
    “A real man trusts you and advises you. He doesn’t try to invade your personal space or inquire you about everything you do.” (hal. 70)
    “Pria gentle itu tidak banyak bicara, apalagi membicarakan hal yang tidak penting. Honesty is his middle name and he will make it obvious through his actions.” (hal. 71)

    Bagaimana rasanya jika cinta pertamamu adalah pria yang sekaligus teman akrab dan rekan kerja kakak laki-lakimu? Lebih parah lagi jika cinta itu tak berbalas dan dia menghilang tanpa mengucap perpisahan. Itulah yang dialami Almira Wiratama. Mencintai Akradani Lawardi sejak usianya masih belia, merasakan penolakan, lalu kehilangan jejak selama bertahun-tahun. Tujuh tahun kemudian, ketika Almira atau Mira telah dewasa, Akradani mendadak muncul. Namun, pria yang berprofesi sebagai polisi itu kini menggandeng seorang gadis cilik cantik yang dinamai Almira Kania Azzahra dan menyapanya ‘Ayah’. Mira tentu syok dan berspekulasi bahwa sang cinta pertama yang diam-diam masih diharapkannya itu telah menikah dan bahagia. Namun, setelah tak kunjung bertemu istri Akradani, bahkan tak menjumpai sepucuk pun potret pernikahan, Mira mulai bertanya-tanya. Rasa penasaran itu pun terjawab ketika dalam sebuah kunjungan, ibu dari Akradani sendiri yang menjelaskan bahwa Akradani belum menikah dan Kania bukan anak kandungnya. Mira jelas lega, meskipun lantas bermunculan pertanyaan-pertanyaan lain terkait Kania dan keluarga Akradani.

    Setelah pertemuan demi pertemuan kembali mendekatkan Mira dengan Dani, Mira tak lagi mampu memendam perasaan. Dia memilih berterus terang tentang cinta yang masih disimpannya untuk Dani. Sesuai karakternya yang tak banyak bicara, Dani lebih memilih menunjukkan perasaan lewat tindakan. Kedekatan mereka ini lantas diketahui oleh kakak laki-laki Mira, Bang Andra. Dari gelagat yang ditunjukkan, Mira merasa ada rahasia besar yang masih ditutup-tutupi oleh Dani dan Bang Andra. Mira tak ingin mendesak, tapi dia menunggu saat Dani sendiri yang mengungkapkannya. Ketika saat itu tiba, Mira diberi pilihan, apakah akan tetap bertahan pada cintanya atau mundur setelah mengetahui sisi gelap seorang Akradani dan konflik keluarganya di masa lalu. Tak hanya itu, agaknya Dani masih tak mampu memaafkan atas apa yang terjadi di masa lalu. Di lain sisi, Mira sudah bisa membangun kedekatan dengan Kania.  Akankah Dani mampu berdamai dengan masa lalu dan membangun masa depan bahagia bersama Mira dan Kania?

REVIEW:

    “Aku nggak nyari pasangan yang sempurna. Menikah bukan Cuma buat seneng-seneng aja, kan?” (hal. 170)
    “Kita nggak akan pernah bisa memilih lahir dari orang tua seperti apa, tapi kita bisa memilih untuk menjadi orang tua seperti apa.” (hal. 251)
    “Menikah bukan hanya tentang cinta, tapi juga tentang saling memahami dan berbagi.” (hal. 268)

    Kisah tentang cinta pertama dan jodoh memang sangat populer dan disukai ketika diangkat dalam sebuah novel romance. Demikian pula dengan kisah cinta Almira dan Akradani ini. Yang menjadi daya tarik lain dari novel ini adalah profesi para tokoh utama yang terbilang jarang diangkat dalam novel romance. Mira yang seorang guru bimbingan konseling dan Akradani yang seorang polisi sekaligus penyidik di BNN. Dilan Andra Wiratama, kakak laki-laki Almira, beserta teman-temannya: Wira, Tora, dan Roy juga anggota kepolisian. Kisah masing-masing tokoh tersebut bersama pasangan masing-masing yang nggak jarang dibumbui kelucuandan keseruan juga menambah daya pikat novel ini. Saya juga salut dengan kepiawaian Kak Alnira dalam menulis alur dan plot sehingga dua profesi yang sekilas jauh bertentangan ini menjumpai keterkaitan dalam keseharian para tokoh tanpa ada kesan dipaksakan.

    Karakter Almira yang sedikit tomboi dengan kemampuan bela dirinya namun perlahan berproses menjadi lebih feminin, plus sifat perhatian dan cerewetnya juga kuat dan konsisten dari awal hingga akhir cerita. Sedangkan Akradani yang secara tabiat sedikit bicara, agak terkesan misterius, namun penyayang dan perhatian pada orang-orang terdekat, digambarkan tetap menyisakan ketidaksempurnaan lewat insiden masa lalu. Saya suka penggambaran karakter-karakter yang manusiawi dan dekat dengan kehidupan nyata seperti ini. Kita jadi bisa bercermin dari mereka. Almira dan Akradani pun menjadi saling melengkapi dan chemistry yang terbangun antara keduanya sangat terasa.

Cerita yang dikisahkan menggunakan sudut pandang orang pertama—Almira—ini memiliki alur yang relatif cepat. Penulis juga menyisipkan nuansa lokalitas berupa kuliner dan adat budaya Jambi dan Palembang. Hal ini sesuai penggambaran kedua tokoh utama yang meskipun tinggal di Jakarta tapi berasal dari daerah. Banyak dialog dan adegan romantis sekaligus lucu sehingga saya tak kuasa menahan diri untuk tertawa mengikuti kisah Mira dan Dani. Selain mengundang tawa dan baper dengan keromantisan Mira-Dani, saya juga merasakan kesedihan dan kekecewaan ketika sampai pada konflik keluarga Akradani. Mengingatkan kita akan makna sebuah keluarga dan berdamai dengan takdir dan masa lalu. Pada akhirnya, tak ada manusia yang sempurna, pun dalam mencari pasangan hidup tak mungkin mencari kesempurnaan. Semua berproses, termasuk dalam sebuah pernikahan. Adanya saling memahami dan melengkapilah yang kemudian menjadikan pernikahan bahagia dan cinta yang dibangunlah yang sempurna. Sebuah novel yang sarat pesan kehidupan dan cinta, disampaikan dengan cara yang manis, ringan, dan menghibur. Surely recommended.
 
“Hidup tanpamu itu bagaikan burung yang kehilangan satu sayapnya, bisa hidup tapi tak bisa terbang.”

Senin, 25 September 2017

[RESENSI] Aftertaste: Tentang Rindu Yang Menanti Bertemu

Posted by Menukil Aksara | 9:10:00 AM Categories:

Judul       : Aftertaste
Penulis    : Sefryana Khairil
Editor       : Tesara Rafiantika
Penerbit  : Gagasmedia
Cetakan   : pertama, 2017
Tebal        : viii + 364 hlm; 13 x 19 cm


BLURB:

Narend
    Buatku, memberikan kesempatan kedua hampir tak mungkin. Untuk apa membuka kemungkinan bagi kekecewaan yang lain? Hati yang benar-benar patah tak perlu berulang-ulang, bukan? Namun, kali ini rasanya berbeda. Hanya saja, aku bahkan tak lagi percaya cinta dan kisah romansa itu nyata.

Farra
    Aku tak pernah merencanakan menjatuhkan hati kepadanya. Tidak juga pada sikapnya yang sedingin es itu. Setiap saat bersamanya membuatku selalu bertanya-tanya juga berangan-angan tentang cinta. Lalu, tiba-tiba ketakutan akan harapan kosong melandaku, lagi dan lagi. Sudah kucoba untuk menepikan segala rasa. Namun, terkadang, hati dan keinginan tak selalu sejalan.
   
    Aftertaste mengisahkan dua orang chef yang saling jatuh cinta, tetapi tak tahu bagaimana cara mengungkapkannya. Masa lalu membuat mereka enggan membiarkan hati berbicara, meskipun mereka tahu tak akan sanggup untuk saling melepaskan.

SINOPSIS:

    “Kamu tahu, apa yang susah saat memasak?” Narend menatap Farra.
    “Mmm... membuat makanan itu enak?” sahut Farra.
    Narend menggelengkan kepala. “Bukan itu. Tetapi, gimana kita mencampur bumbu-bumbu. Kadang rasa itu bisa berbenturan, sulit disatukan, tapi kalo kita bisa, rasanya pasti enak banget.”
(hal. 216-217)

    “Seseorang yang mencintai dengan tulus, pasti mengikhlaskan apa pun untuk kebahagiaan orang yang dicintainya.” (hal. 337)

    Farra memasukkan lamaran sebagai cook assistant ke restoran Bellaria usai berhenti bekerja di kafe Delicio—lebih tepatnya terpaksa berhenti karena kafe bangkrut dan tutup. Bellaria merupakan restoran masakan Italia ternama sejak Chef Windu Mahardika mendirikannya enam belas tahun lalu. Setelah Chef Windu meninggal dua tahun lalu, Bellaria diteruskan oleh kedua putranya, Chef Narendra Mahardika sebagai kepala koki dan adiknya Prayata Mahardika yang mengelola manajemen restoran.

    Chef Narend pernah menjadi celebrity chef dan memiliki hubungan asmara dengan Chef Cindy Endria yang menjadi rekan di acara televisi. Namun, hubungan mereka kandas dan semenjak itu Chef Narend bersikap dingin, kasar, dan cenderung kejam di dapur terhadap para bawahannya. Sikapnya inilah yang memicu kekhawatiran Farra saat memutuskan melamar ke Bellaria. Tak seorang pun tahu bahwa Chef Cindy mencampakkan Chef Narend sesudah Chef Narend divonis mengidap suatu penyakit parah. Chef Narend yang sakit hati dan putus asa akhirnya tak lagi memercayai orang lain, menganggap pada akhirnya mereka akan meninggalkannya, sama seperti Chef Cindy. Hubungan Chef Narend dengan Prayata adiknya sendiri pun tak dekat. Mereka sempat bertahun-tahun hidup terpisah akibat perceraian orangtua mereka. Chef Narend ikut Chef Windu, sedangkan Prayata hidup bersama sang ibu. Prayata pun menjaga jarak dengan kakaknya karena Narend terlihat tak ingin dicampuri urusan pribadinya. Prayata memiliki karakter yang cukup jauh berbeda dari sang kakak. Praya lebih memilih mengejar passion dalam bermusik ketimbang mengikuti jejak sang ayah menjadi koki profesional. Praya memiliki sebuah band dan kerap mendapat tawaran manggung di kafe, klub, maupun acara-acara pribadi. Praya juga lebih ramah dan hangat, bahkan pada para pegawai Bellaria.

    Di awal, Narend sempat menolak keras saat tahu Farra yang notabene perempuan diterima bekerja di dapurnya. Semenjak putus dengan Cindy, Narend membuat peraturan tak tertulis yang melarang pegawai perempuan masuk dapurnya. Namun, berkat negosiasi dari Praya, Farra tetap diterima, apa lagi melihat potensi yang dimilikinya. Insiden-insiden tak menyenangkan juga sempat terjadi di dapur Bellaria, tapi berkat kegigihan, Farra berhasil melalui. Hingga suatu hari, sebuah insiden kecelakaan membuat Farra harus dibawa ke rumah sakit dan Narend tak disangka langsung turun tangan. Perhatian Narend ini sontak membuat Farra senang. Di sini juga mulai tumbuh benih cinta yang diawali dari kekaguman. Sedangkan di lain pihak, Praya ternyata juga menaruh hati pada Farra. Praya acapkali tak segan menunjukkan perhatian khusus pada Farra.

    Suatu saat, tanpa disengaja, Farra yang mencemaskan Narend karena tak masuk kerja lantas mengunjungi apartemen, menemukan rekam data medis Narend dan mengetahui penyakit yang Narend tutup-tutupi. Semenjak itulah, Farra makin peduli dan berusaha membangkitkan semangat Narend. Farra juga akhirnya mengetahui penyebab merenggangnya hubungan Narend dan Praya dan bertekad membantu mereka kembali dekat. Sayang, pada kenyataannya, Farra teralihkan oleh perasaan cintanya dan menjadi terfokus pada Narend saja. Praya yang mulai menangkap sinyal kedekatan spesial anatara kakaknya dan Farra merasa cemburu. Praya pun terang-terangan menyatakan perasaannya pada Narend dan mengultimatum agar Narend tak mempermainkan Farra.

    Narend sendiri perlahan-lahan mulai merasa nyaman dengan kehadiran Farra. Sifat Farra yang ceria, selalu bersemangat, dan perhatian membuatnya tergugah. Hingga saat dia menyadari rasa sayangnya, Narend tak rela Praya memiliki Farra. Narend kemudian menemukan cara untuk membantu Farra mewujudkan mimpi. Narend menawari Farra mengikuti sebuah kompetisi memasak bergengsi untuk para koki muda, dengan hadiah utama beasiswa ke luar negeri. Dengan membawa nama Bellaria, jadilah Farra setuju mengikuti ajang tersebut. Tak diduga, Cindy yang sempat menyaksikan kedekatan Narend dan Farra tersulut cemburu dan mendadak memutuskan ikut berkompetisi di ajang yang sama. Padahal, kalaupun mau, dia bisa saja sekolah dengan biaya sendiri. Selain itu, Cindy sudah bertunangan dan sedang merencanakan pernikahan.

    Di saat kompetisi memasuki babak yang paling menentukan, mendadak Narend menghilang. Dia tak memenuhi janji untuk menghadiri kompetisi dan memberikan dukungan. Praya juga bertanya-tanya tentang keberadaan kakaknya. Hingga saat itu, dia sama sekali tak diberitahu mengenai kondisi kesehatan Narend. Barulah saat Hari yang merupakan sahabat dekat Narend mengabari keberadaan Narend, Praya tahu segalanya.

REVIEW:

Menggunakan POV orang ketiga, novel yang kental dengan nuansa kuliner Italia dan kehidupan para chef profesional ini hendak mengajak kita menyelami emosi dan konflik antar tokohnya. Kak Sefryana Khairil menurut saya sukses menggambarkan tentang kuliner Italia, membuat saya terpancing rasa lapar setiap kali ada adegan memasak. Bagaimana kedisiplinan di dapur restoran diterapkan juga tergambarkan dengan baik. Ditambah lagi, judul-judul bab yang menggunakan istilah bahasa Italia dan ilustrasi foto monokromnya yang cantik. Juga ada selipan lagu-lagu dari Sia dan The Script—yang mana merupakan musisi favorit saya—yang juga menjadi daya tarik tersendiri.

 Cinta, mimpi, dan harapan merupakan jiwa dari cerita ini. Karakter dari Chef Narend menurut saya cukup menantang. Dihadapkan pada vonis sakit, dicampakkan kekasih, tanggung jawab pekerjaan, sekaligus hubungan tak dekat dengan satu-satunya adik adalah konflik batin yang menurut saya memang rumit. Tak heran, bagi saya, sosok Narend ini antara mengundang simpati tapi juga benci. Simpati karena dia merasa kesepian tapi tak sudi mengakui, sekaligus benci karena dia bersikap egois pada akhirnya, berdalih kondisi kesehatan dan perasaan sayang. Sedangkan sosok Farra yang ceria dan berbakat menjadi semacam daya tarik bagi Narend dan Praya. Latar belakang keluarga Farra yang hangat dan harmonis juga turut mendukung cerita. Praya sendiri, sebenarnya memendam kesedihan dan bayangan kekecewaan akan masa lalu keluarganya, namun dia bersikap tegar dan menyimpan semuanya sendiri. Yang saya sukai dari Praya adalah sikapnya yang dewasa dan penyayang. Kelihatan sekali dia menyayangi kakaknya, meskipun hubungan mereka tak dekat.

Yang saya sayangkan dari cerita ini adalah minimnya interaksi antara Narend dan Praya. Mereka kerap hanya mengobrol tentang pekerjaan. Padahal banyak hal yang ingin disampaikan keduanya, semacam rekonsialiasi dan mencurahkan perasaan atas apa yang tejadi di masa lalu. Saya mengharapkan ada satu-dua adegan emosional terkait perasaan keduanya sebagai kakak-adik, bukan cuma sebatas memperebutkan cinta Farra, dan tidak hanya di bagian akhir. Pada akhirnya saya justru merasa lebih memihak Praya ketimbang Narend dan Farra, yang di mata saya bersikap egois. Farra sendiri tahu tentang rahasia Narend dan tahu juga bagaimana rasa sayang Praya terhadap sang kakak, tapi dia justru ‘dibutakan’ oleh cinta dan pada akhirnya melupakan keinginannya membantu memperbaiki hubungan kakak-beradik tersebut. Meski demikian, ada beberapa adegan di bab akhir yang memang sukses menguras emosi dan membuat saya menitikkan air mata. Masih terdapat typo dan kekurangtelitian sepanjang cerita yang cukup saya sayangkan juga. Dan, meski terlihat sepele, menurut saya kutipan-kutipan kalimat yang dicetak tebal dan bertaburan di sepanjang peralihan paragraf dalam satu chapter itu kurang perlu. Bagi saya, kutipan di awal bab atau chapter saja sudah cukup.

Secara keseluruhan, Aftertaste digarap dengan apik dan menyajikan topik yang menarik. Kalian yang suka membaca kisah romansa sekaligus menyukai dunia kuliner Italia, akan dimanjakan oleh  berbagai resep menggiurkan sekaligus kisah yang mengaduk-aduk emosi dan meninggalkan kesan mendalam jika membaca novel yang satu ini.

“Bukankah mencintai adalah merelakan orang yang kita cintai itu bahagia, tanpa rasa sakit?”

Jumat, 15 September 2017

[RESENSI] Sayap-Sayap Kecil: Remaja dan Kekerasan Domestik

Posted by Menukil Aksara | 6:49:00 AM Categories:

Judul               : Sayap-Sayap Kecil
Penulis            : Andry Setiawan
Penyunting     : Yooki
Penerbit          : Inari
Cetakan          : pertama, Oktober 2015
Tebal               : 124 hlm; 19 cm


BLURB:  
       
Para pembaca. Berikut fakta singkat tentang diriku:
1.    Namaku Lana Wijaya
2.    Ibuku suka memukul dan menyiksaku, bahkan dengan kesalahan sekecil apa pun. Seperti ketika aku lupa membeli obat nyamuk
3.    Aku punya tetangga baru, cowok cakep yang tinggal di sebelah rumah
4.    Kehadiran cowok cakep tidak mengubah kenyataan bahwa aku sering pergi ke sekolah dengan bekas memar di sekujur tubuhku
5.    Doakan aku supaya bisa lulus SMA secepat mungkin dan pergi dari rumah sialan ini.

Buku ini adalah buku harianku. Aku tidak akan merahasiakannya dan membiarkan kalian untuk membaca kisah hidupku yang tidak terlalu sederhana ini. Mungkin sedikit aneh, tapi aku harap kalian bisa belajar dari aku.


SINOPSIS: 

“Dia ibuku, orang yang melahirkan diriku. Walaupun aku tidak bisa menghormatinya, atau menganggapnya sebagai panutan, aku tidak bisa membencinya. Dia hanyalah... dia. Mungkin bagiku dia hanyalah orang lain, seperti orang yang kau temui di pinggir jalan dan kemudian kau lupakan wajahnya begitu saja.” (hal. 33)

“Aku harus memikirkan definisi normal bagi diriku, karena kata itu terlalu abstrak untuk direalisasikan. Aku masih belum tahu kehidupan normal seperti apa yang aku inginkan.” (hal. 72)

 “Jadi menurutmu aku harus bahagia dengan Ayah yang datang lagi dalam kehidupanku?” “Karena kau bakal punya keluarga selain ibumu.” (hal. 79)

Lana, gadis 16 tahun, tinggal bersama ibunya semenjak perceraian sang ibu dengan ayahnya lima tahun lalu. Ibunya bekerja di klub malam, pulang pagi dan tidur selama Lana bersekolah. Lana lah yang mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga, termasuk memasak sebelum ke sekolah. Tapi, serajin dan sepatuh apa pun Lana, ibunya tetap gemar memaki bahkan memukulinya. Alhasil, Lana harus pintar menyembunyikan bekas pukulan yang diperolehnya agar tak seorang pun di sekolah mengetahui. Lana tak memiliki sahabat dekat tapi dia selalu berusaha tampil normal dan ceria di hadapan teman-temannya. Lana tak pernah menceritakan kehidupannya yang suram kepada siapa pun, kecuali ditulis di buku harian. Cita-citanya hanya satu: lekas lulus sekolah dan mencari kerja sehingga bisa hidup mandiri terlepas dari ibunya. Dan meskipun menderita, Lana tetap jadi gadis baik dan hobi memetik gitar sambil menciptakan lagu.

Suatu hari, di atas aula, di bawah tangki air sekolah, yang menjadi tempat kesukaannya, Lana berkenalan dengan seorang pemuda yang mengaku sebagai kakak kelasnya bernama Surya. Surya tinggal sendirian dengan orangtua di luar kota. Ajaibnya, rumah yang ditempati Surya ada di sebelah rumah Lana. Semenjak itulah Lana sering mengobrol dan pulang bersama Surya. Kepada Surya, Lana akhirnya berani mengungkapkan kisah hidupnya.

Sayangnya, kebahagiaan memiliki teman baru yang tampan dan baik itu tak serta merta membuat kehidupannya lebih baik. Sang ibu masih tetap temperamental, bahkan kemudian Lana ketahui perangai itu diperburuk konsumsi obat terlarang yang didapatkan di tempat kerjanya. Suatu hari, seseorang yang mendengar tindakan kekerasan ibu Lana, melaporkan hal itu kepada KPAI. Pelaporan itu ditindaklanjuti dengan penelusuran keberadaan ayah Lana. Ternyata, sang ayah yang selama ini mencari Lana telah memiliki keluarga baru yang bahagia dan dia bekerja sebagai editor sebuah penerbitan. Ayahnya bahkan sempat menghubungi Lana dan meminta bertemu. Sang ayah berencana mengambil alih hak asuh dan membawa Lana tinggal bersamanya. Namun, tak disangka, Lana menolak dan meminta waktu beberapa tahun lagi sampai bisa mandiri dan membalas budi pada sang ibu yang bagaimanapun telah bersusah payah membesarkannya selama ini.

Ketika keputusan itu telah diambil, Lana ingin menceritakannya pada Surya, tapi alangkah terkejut Lana ketika menemukan fakta bahwa Surya tak seperti pengakuannya. Dia bahkan tak menjumpai Surya di mana pun, bahkan di sekolah dan di rumah sebelah. Di lain sisi, Lana juga sempat menemui Bos Rudi, bos klub malam di mana ibunya bekerja dan meminta agar ibunya tidak lagi diberi kesempatan mengonsumsi obat-obatan terkutuk. Tindakan ini langsung memantik kemarahan sang ibu usai mendengar pengakuan bosnya. Lana lagi-lagi dipukuli, kali ini bahkan jauh lebih buruk dari biasanya. Ketika itulah Surya muncul dengan membuat pengakuan mencengangkan. Surya menawarkan dua pilihan sulit untuk Lana.


REVIEW:

“Dunia malam merusakmu. Karena itulah aku ingin keluar. Dunia itu penuh iri hati dan kekerasan. Aku rasa dunia itu memang cocok untukmu.” (hal. 121)

“Beberapa orang diciptakan untuk menjadi jahat. Mungkin Ibu salah satunya. Setidaknya aku sudah punya keberanian untuk mengambil sebuah keputusan, untuk memberinya kesempatan belajar.” (hal. 122)

Sudah banyak novel remaja beredar yang umumnya berlatar kehidupan sekolah, kisah cinta pertama, dan tak jarang disisipi konflik keluarga dan persahabatan. Namun, saya tidak mendapati tipikal kisah tersebut dalam novel ini. Kehidupan sekolahnya sengaja tidak dijadikan fokus cerita, pun kisah persahabatan dan kenakalan masa remaja. Tema utama yang diangkat justru konflik keluarga yang diwarnai kekerasan fisik dan verbal pada anak.

Karakter Lana sebagai tokoh utama, dengan penggunaan sudut pandang orang pertama, menjadi tereksplor dan mampu mengaduk-aduk emosi pembaca. Yang saya salut, penulis tidak menampilkan Lana sebagai sosok gadis remaja cengeng yang gemar mengeluh dan mengasihani diri sendiri. Bahkan di tengah aksi kekerasan ibunya, digambarkan Lana tetap berusaha sabar, mengubahnya menjadi lelucon dan menertawai diri sendiri. Gaya tulisannya—yang cenderung sarkastis dan ironis—dalam buku harian menggambarkan hal ini dengan cukup baik.

Sedangkan kehadiran Surya, menjadi semacam twist yang menyuguhkan kejutan bernuansa fantasi di akhir cerita. Sosoknya sempurna, sekaligus misterius, menggiring pembaca untuk menebak bahwa kisah Lana akan dibumbui nuansa kisah cinta ala remaja. Tokoh ibu dan ayah Lana sendiri, meskipun hanya digambarkan lewat pandangan Lana, menurut saya sudah cukup bisa mewakili karakter yang hendak disampaikan penulis. Suram dan kerasnya kehidupan malam menjadi alasan di balik perpisahan keduanya sekaligus buruknya karakter sang ibu. Kisah ini seakan mengingatkan kita bahwa gemerlap materi sekaligus kerasnya kehidupan memaksa seseorang berubah tanpa mereka sadari dan berdampak negatif pada hubungan dengan orang-orang terdekat. Juga bahwa setiap orang berhak memilih dan memiliki kehidupan layak, siapa pun dia, dan agar kita lebih peduli akan tindak kekerasan domestik, yang bisa saja terjadi di dekat kita. Jika kamu ingin bacaan remaja yang berbeda, novel mengharukan ini sangat tepat dipilih.
   






[RESENSI] Purple Eyes: Cinta dan Harapan Bahkan Setelah Kematian

Posted by Menukil Aksara | 6:43:00 AM Categories:


Judul            : Purple Eyes
Penulis         : Prisca Primasari
Penyunting  : Cerberus404
Penerbit       : Inari
Cetakan       : pertama, Mei 2016
Tebal            : 144 hlm; 19 cm


BLURB:

Karena terkadang tidak merasakan itu lebih baik daripada menanggung rasa sakit yang bertubi-tubi.

Ivarr Amundsen kehilangan kemampuannya untuk merasa. Orang yang sangat dia sayangi meninggal dengan cara yang keji dan dia memilih untuk tidak merasakan apa-apa lagi, menjadi seperti sebongkah patung lilin.

Namun, saat Ivarr bertemu Solveig, perlahan dia bisa merasakan lagi percikan-percikan emosi dalam dirinya. Solveig, gadis yang misterius dan aneh.

Berlatar di Trondheim, Norwegia, kisah ini akan membawamu ke suatu masa yang muram dan bersalju.

Namun, cinta akan selalu ada, bahkan di saat-saat tergelap sekalipun.


SINOPSIS:

“Lyre pikir urusan itu akan berjalan lancar,tenang, dan baik-baik saja seperti misi-misi yang dulu dijalani Hades seorang diri. Rupanya Lyre salah. Urusan itu sedikit terhambat, membuat Hades uring-uringan, kesal, dan luar biasa jengkel. Karena selagi menjalankan misi tersebut, Lyre jatuh cinta. Kepada manusia.” (hal. 6)

“Pergi ke bumi dan menghabisi nyawa pendosa tidak segampang kedengarannya... Kematian harus dirancang dengan selogis mungkin, dan itu jugalah yang akan Hades lakukan sekarang.” (hal. 13)

“Orang menangis karena kehilangan itu wajar,” ujar Halstein lagi. “Yang tidak wajar adalah kalau dia tidak menangis. Lebih tidak wajar lagi kalau tidak merasa sedih.” (hal. 50)

Lyre sudah lupa nama aslinya. Semenjak 120 tahun lalu, setelah kematiannya di usia muda, Lyre ditugasi menjadi asisten Hades, sang dewa kematian bersayap dan menjalani rutinitas yang monoton. Hingga suatu masa, turun perintah agar Hades turun ke bumi membereskan sebuah masalah. Masalah itu disebabkan oleh satu manusia bodoh yang membunuhi banyak manusia lain dan mengambili lever para korbannya. Kali ini Hades meminta Lyre menemaninya. Tujuan mereka adalah kota Trondheim, Norwegia, yang kala itu sedang sangat dingin dan bersalju. Hades mengubah namanya menjadi Herr Halstein, dan Lyre menjadi Solveig. Mereka mengunjungi rumah Ivarr Amundsen. Adik Ivarr, Nikolai, adalah salah satu dari korban pembunuhan. Awalnya Solveig bingung apa tujuan Halstein menarget Ivarr dan bagaimana rencana misi mereka akan dijalankan. Agaknya Halstein sengaja memancing keluar segala emosi yang sengaja ‘disembunyikan’ oleh Ivarr dengan membuatnya jatuh cinta kepada Solveig. Barulah rencana membereskan sang pembunuh akan berhasil.

Sayangnya, membuat Ivarr kembali ‘merasa’ bukanlah perkara gampang. Ivarr yang juga sedang berjuang menghadapi penyakitnya ibarat patung lilin, seolah tak memiliki perasaan dan tak menunjukkan ekspresi. Namun berkat kegigihan Solveig, perlahan Ivarr mulai tertarik pada Solveig yang tampak tak seperti gadis-gadis yang pernah dikenalnya. Ketika Ivarr mulai percaya pada Solveig, Halstein sengaja megungkap rahasia tentang identitas pembunuh adiknya dan mendorong Ivarr untuk membalaskan kematian Nikolai. Halstein ingin segera mengakhiri misi dan membuat skenario kematian sang pembunuh selogis mungkin.

Begitu misi dianggap selesai, Halstein dan Solveig harus kembali. Ivarr yang ditinggalkan berusaha mencari tahu kebenaran tentang sosok Solveig hingga rela terbang ke Inggris, yang diyakininya merupakan tanah kelahiran Solveig. Bahkan jika kenyataan yang akan dijumpainya pahit, Ivarr ingin mengenang Solveig.


REVIEW:

“Membenci itu sangat melelahkan, bahkan lebih menguras emosi daripada merasa sedih.” (hal.117)

“Tidak ada salahnya memiliki harapan, baik ketika hidup maupun setelah mati.” (hal. 123)

“Umur 22 tahun atau 200 tahun tidak ada bedanya. Kalau kau sudah meraih semua yang kau inginkan, yang tersisa bagimu hanyalah beristirahat dengan tenang. Dan menjalani kehidupan yang lebih baik setelah kematian.” (hal. 124)

Siapa mengira novel tipis ini tidak sekadar cerita roman biasa? Memadukan tema mitologi dan cinta adalah sesuatu yang memang disukai penulis. Hades, sang dewa kematian yang menjadi tokoh utama kisah ini berhasil mencuri perhatian saya sejak awal cerita. Penggambaran Hades yang sangat rupawan, dengan aura yang gelap dan mengintimidasi, sepasang sayap yang luar biasa indah, dan sikapnya yang dingin sekaligus nyentrik tentu saja mudah disukai pembaca. Saya tertawa di bagian adegan ketika Hades bersiap menyamar dan turun ke bumi. Alih-alih mengenakan pakaian ‘membaur’, dia justru memilih tuksedo putih bak pengantin pria. Dan dia sangat percaya diri. Tepat sekali sebagai gambaran sosok dewa kematian. Sedangkan Lyre sendiri yang dikisahkan berasal dari Inggris, berwajah cantik aristokratis, bermata cokelat indah, dan berambut pendek disertai sifat penurutnya meskipun tak sampai menjadi favorit atau heroine, tapi saya akui pas dengan perannya dalam cerita. Tak lupa sosok Ivarr Amundsen yang tampan, bermata biru gelap nyaris ungu, sangat pendiam dan tertutup, menggelitik rasa ingin tahu dan membuat cukup gemas dengan sikapnya. Penggambaran karakter Nikolai dan kedekatan kakak-beradik ini lewat cerita-cerita Ivarr membuat saya akhirnya bisa memahami Ivarr.

Setting kota bernuansa Skandinavia yang futuristik, yang suram dengan salju, cuaca dingin dan berbadainya memang sebuah pilihan yang tepat. Apa lagi penulis menyisipkan topik mitos, sejarah, sastra dan seni lewat adegan jalan-jalan singkat dan obrolan antara Ivarr dan Solveig yang terkesan mengalir.

Meskipun saya ingin lebih lagi dari penulis (mengingat bukunya terlalu tipis), tapi saya cukup puas dengan keseluruhan eksekusinya. Tak banyak penulis tanah air yang memiliki kecenderungan gaya bercerita seperti ini. Sebuah kisah yang ironis, menghangatkan hati dalam suasana kota yang beku dan muram. Saya sangat menantikan karya keren lain dari Kak Prisca. Akankah ada kisah lain tentang Hades?


Selasa, 12 September 2017

[RESENSI] Attachments: Jatuh Cinta Sebelum Pandangan Pertama

Posted by Menukil Aksara | 5:26:00 AM Categories:

Judul              : Attachments
Penulis          : Rainbow Rowell
Penerjemah: Airien Kusumawardani
Penyunting  : Novianita
Penerbit       : Spring
Cetakan       : pertama, Desember 2015
Tebal            : 436 hlm; 20 cm


BLURB:

    Lincoln masih belum percaya bahwa pekerjaannya sekarang adalah membaca E-mail orang lain. Saat ia melamar pekerjaan sebagai petugas keamanan Internet, pemuda itu mengira ia akan membangun firewall dan melawan hacker, bukannya memberi peringatan pada karyawan yang mengirim E-mail berisi lelucon jorok seperti sekarang.

    Beth dan Jennifer tahu bahwa ada seseorang di kantor yang memonitor E-mail mereka. Hal itu adalah kebijakan kantor. Namun, mereka tidak menganggapnya serius. Mereka bertukar E-mail tentang hal-hal paling pribadi.

    Saat Lincoln menemukan E-mail Beth dan Jennifer, pemuda itu tahu ia harus melaporkan mereka berdua. Namun ia tidak bisa. E-mail mereka terlalu menarik untuk dilewatkan.

    Hanya saja, saat Lincoln sadar ia mulai jatuh hati pada salah satunya, sudah terlalu terlambat untuk memulai perkenalan.

    Lagi pula, apa yang bisa ia katakan...?

SINOPSIS:

    “Sebagai catatan—catatan pribadi—Lincoln tidak akan pernah melamar untuk pekerjaan ini kalau iklan lowongannya berbunyi,”Dicari seseorang untuk membaca E-mail orang lain. Sif malam.”
    “Pada iklan The Courier tertera: “Kesempatan bekerja penuh waktu sebagai petugas keamanan Internet. $40K + Tunjangan kesehatan dan gigi.”
(hal. 16)

    “Hal paling buruk tentang akses Internet, sejauh yang dipedulikan atasan Greg, adalah bahwa saat ini mustahil untuk membedakan satu ruangan berisi orang-orang yang benar-benar tekun bekerja, dengan ruangan berisi orang-orang yang hanya sibuk mengisi kuis kepribadian online ‘Anjing-Jenis-Apakah-Aku?’” (hal. 17)

    “Ia tidak akan pernah mengirimkan peringatan kepada mereka. Karena dia menyukai mereka. Karena menurutnya mereka baik dan pintar dan lucu. Benar-benar lucu—kadang mereka membuatnya tertawa terbahak-bahak di meja kerjanya. Ia menyukai saat mereka saling menggoda dan saling peduli terhadap satu sama lain. Ia berharap bisa memiliki teman di tempat kerja yang bisa diajak mengobrol seperti itu.” (hal. 86)

    Lincoln, seorang lelaki muda 28 tahun, bekerja sebagai petugas keamanan Internet di surat kabar The Courier. Dia menghabiskan sebagian besar waktu kerjanya di ruangan kantor Teknologi Informasi di lantai bawah. Nyaris tak seorang pun reporter, copy editor, atau karyawan lain yang mengenalnya, karena ruang kantornya yang terpisah itu dan sif malamnya selama bekerja. Di malam kerja pertamanya, Lincoln membantu Greg, atasannya, memasang program baru bernama WebShark ke jaringan komputer. WebShark akan mengawasi yang dilakukan semua karyawan di Internet dan jaringan Intranet. Setiap E-mail. Setiap website. Setiap kata. Lalu Lincoln yang mengawasi Webshark dan setiap E-mail yang diberi bendera merah oleh WebShark seharusnya dikirimi peringatan, bahkan Lincoln diperbolehkan mengecek isinya. Program komputer ini dilatarbelakangi kegelisahan para petinggi surat kabar akan penyalahgunaan fasilitas Internet oleh karyawan. Tahun 1999 akhir memang menandai akan datangnya era milenium di mana kehadiran Internet bagaikan pisau bermata dua, tak terelakkan namun bisa berdampak negatif. Tugas yang tampak remeh dan tak sesuai dengan bayangan Lincoln ini sempat membuatnya merasa jenuh, seakan makan gaji buta, bahkan pola hidupnya terganggu. Lincoln yang masih tinggal serumah dengan ibunya kerap mendapat teguran gara-gara penampilannya yang berantakan dan seolah tak punya waktu bersosialisasi layaknya orang normal.

    Lincoln lantas memutuskan menemui kembali Justin, kenalan lamanya semasa kuliah, agar bisa menghabiskan malam, bersenang-senang di bar mana pun. Sayangnya, rencana itu berantakan. Kemampuan bersosialisasi Lincoln yang memang payah, plus karakternya yang canggung dan pemalu membuatnya kehilangan kesempatan berkenalan dengan seorang gadis. Sebenarnya Lincoln bukannya tak memiliki teman. Dia biasa menghabiskan Sabtu malam bermain Dungeons & Dragons bersama Dave, Christine, Larry, Rick, Troy, dan Teddy, yang merupakan kawan-kawan karibnya.

    Hingga E-mail rutin berisi percakapan-percakapan bersifat pribadi antara Beth dan Jennifer terjaring bendera merah WebShark. Anehnya, Lincoln yang sempat membaca isinya justru enggan mengirimi mereka peringatan. Sebaliknya, dia ketagihan membaca setiap E-mail yang saling mereka kirimkan. Beth bekerja di bagian resensi film dan menulis artikel atau isu-isu terkait perfilman, sedangkan Jennifer adalah seorang copy editor. Dari percakapan-percakapan keduanya, Lincoln perlahan mengetahui banyak hal pribadi tentang kedua wanita itu. Beth memiliki kekasih seorang gitaris band Sacajawea dan mereka telah menjalin hubungan selama bertahun-tahun semenjak kuliah, juga naik-turun hubungan Beth dan kekasihnya. Jennifer telah menikah dan kerap mengungkapkan ketakutannya tentang hamil dan memiliki anak akibat latar belakang perceraian orangtuanya yang diwarnai perselingkuhan. Entah mengapa, Lincoln menganggap Beth dan Jennifer lucu dan baik, terutama Beth yang menarik perhatiannya. Bahkan Lincoln suatu hari memuaskan keingintahuannya tentang Chris kekasih Beth, menyempatkan diri menonton pertunjukan band Chris bersama Justin. Ketertarikan Lincoln terhadap Beth ini semakin kuat hingga dia mulai mencuri lihat meja kerja Beth, bertanya-tanya seperti apakah wajah Beth. Sayangnya, Lincoln tak kunjung menemukan momen yang mempertemukannya dengan Beth.

    Tanpa disangka, suatu hari Lincoln menemukan fakta bahwa Beth telah melihatnya dan bahkan terang-terangan menunjukkan rasa suka. Beth menjuluki Lincoln ‘cowok manis’, memuji fisiknya yang tinggi, dan wajahnya yang dianggap mirip beberapa aktor Hollywood.. Tentu saja hal ini membuat Lincoln melambung, walaupun di lain sisi dia menyadari status Beth yang telah memiliki kekasih. Di hari-hari lain, dalam E-mail percakapannya dengan Jennifer, Beth bahkan sempat melihat lagi Lincoln, berusaha membuntutinya, dan juga pernah tanpa sengaja melihat Lincoln di luar kantor. Lincoln yang makin penasaran bertanya-tanya seperti apa paras Beth dan selalu berdebar menantikan pertemuan tak sengaja dengan Beth di kantor. Perkenalan dan pertemanannya dengan Doris, wanita tua petugas mesin makanan lah yang ternyata membuat Lincoln berkesempatan menatap wajah Beth sekilas, tanpa disadari. Disusul perjumpaan tak disengaja Lincoln dengan Jennifer yang langsung menjadi topik percakapan Jennifer dan Beth di E-mail.

    Puncaknya, Beth putus hubungan dengan Chris. Sayangnya, Lincoln tak kunjung menemukan keberanian untuk menyapa Beth, hingga Beth justru berkencan dengan pria lain. Lincoln yang pada akhirnya merasa muak dengan apa yang dikerjakannya memutuskan mengundurkan diri secara mendadak dan meninggalkan sepucuk surat permintaan maaf tanpa nama di meja kerja Beth.

    Di antara momen-momen manis Lincoln dan Beth, dikisahkan secara kilas balik juga tentang cinta pertama Lincoln: Sam. Lincoln dan Sam saling jatuh cinta semasa SMA. Awalnya Lincoln mengira hubungan mereka akan langgeng hingga kuliah bahkan lulus. Sayangnya, suatu hari di masa kuliah, Sam mencampakkan Lincoln. Semenjak itulah, Lincoln yang patah hati, tak pandai bergaul, lebih memilih terobsesi dengan pendidikan. Dia dikenal gemar sekali belajar formal dan cerdas. Lincoln memiliki seorang kakak perempuan bernama Eve yang telah menikah dan dibesarkan ibu mereka seorang diri. Eve sangat bersemangat mendorong Lincoln pindah dan tinggal sendiri di apartemen. Eve menganggap Lincoln kehilangan kesempatan memiliki kehidupan pribadi dan menjalin hubungan dengan seorang wanita jika tetap bertahan di rumah ibu mereka.


REVIEW:

    “Selama Lincoln bekerja di The Courier, membaca E-mail Beth, memikirkan gadis itu, ia tidak pernah benar-benar percaya bahwa ada alur peristiwa, jalur yang membentang di hadapannya, atau rute menembus ruang dan waktu yang akan membawanya pada hari ini.” (hal. 417)

    “Aku terus memikirkan bagaimana kelanjutan semua ini di dalam cerita sebuah buku atau film. Kalau ini adalah kisah dalam novel Jane Austen, keadaannya tidak akan terlalu buruk. Kalau kau membaca surat-suratku, dan aku mengintip melalui pagar tanaman rumahmu... Komputer membuat segalanya jadi lebih buruk.” (hal. 422)

    “Kupikir cinta itu lebih sering tidur.” “Atau berkedip. Aku tidak tahu cinta bisa terus-menerus berjalan seperti ini tanpa terjatuh di jurang. Seperti pi.” (hal. 431)
   
Membaca blurb novel ini memang menggelitik rasa ingin tahu. Saya sempat membayangkan, pekerjaan macam apa yang membolehkan seseorang membaca E-mail pribadi orang lain di kantor. Juga bagaimana dinamika kisah cinta dua tokohnya secara ini jelas adalah sebuah novel roman dewasa. Ini merupakan pengalaman kedua saya membaca karya Rainbow Rowell. Dan seakan mengingatkan saya pada tokoh Park dalam “Eleanor & Park”, sosok Lincoln di sini juga tipikal lelaki manis berhati baik. Kedekatan Lincoln dengan ibunya juga sedikit mirip dengan Park, walaupun Lincoln tidak mengenal ayahnya karena perpisahan, sedangkan orangtua Park pasangan yang harmonis. Bagaimana Lincoln jatuh cinta pada Beth, hanya lewat 'mencuri' baca percakapan-percakapan E-mail, juga menarik dan menyenangkan. Sosok tokoh pria yang menurut saya akan mudah disukai pembaca wanita. Bahkan karakter pemalu Lincoln membuat saya gemas dan tertawa. Sosok Beth sendiri memiliki karakter kuat. Cantik, pintar, lucu, baik, dengan keluarga besar yang hangat, dan seorang teman baik sekaligus rekan kerja yang perhatian. Karakter-karakter pendukung dalam novel ini juga tak kalah menarik dan menghibur. Rainbow Rowell cukup berhasil membuat saya menyukai mereka, bahkan tokoh yang paling aneh atau menjengkelkan sekalipun. Tokoh-tokoh ini mewakili karakter-karakter yang cukup familiar, tipikal orang-orang yang bisa kita jumpai di sekitar. Sudut pandang orang ketiga yang digunakan juga pas dan menjangkau lebih luas. Percakapan-percakapan via E-mail antara Beth dan Jennifer yang mendominasi, membuat gaya penulisan novel ini juga cukup unik dan menjadi bagian yang saya nanti-nantikan. Membuat saya membayangkan asyiknya menggosipkan cowok manis yang kita taksir atau mencurahkan keluh-kesah dengan sahabat perempuan sekantor, hehe...

Setting akhir tahun 1999 dengan fenomena kehebohan Y2K (Year 2000 Problem) pun sangat tepat diambil. Perpindahan tahun yang dikhawatirkan dapat menimbulkan masalah karena penggunaan singkatan dua digit untuk tahun dalam dokumentasi baik digital maupun non-digital, yang menimbulkan kekacauan sistem. Rowell cukup memberikan ruang pemaparan dan keterkaitan hal ini dengan beberapa adegan dan alur cerita. Juga isu perobohan gedung-gedung bioskop tua, judul-judul film yang sedang hits, mendukung latar belakang profesi Beth. Suasana kerja di surat kabar pun tergambarkan dengan cukup baik. Secara keseluruhan, saya suka bagaimana Rowell membangun chemistry antara Lincoln dan Beth dan menuliskan kisah cinta mereka secara mengalir, tak disesaki kebetulan-kebetulan fiksi yang klise.
   






Senin, 11 September 2017

[RESENSI] Sophismata: Politik dan Kisah Cinta Anak Muda dalam Satu Cerita

Posted by Menukil Aksara | 8:52:00 AM Categories:

Judul                   : Sophismata
Penulis               : Alanda Kariza
Editor                 : Anastasia Aemilia
Proofreader        : Claudia Von Nasution
Desain Sampul   : Martin Dima
Penerbit              : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan               : pertama, 2017
Tebal                  : 272 hlm.; 20 cm

BLURB:

Sigi sudah tiga tahun bekerja sebagai staf anggota DPR, tapi tidak juga bisa menyukai politik. Ia bertahan hanya karena ingin belajar dari atasannya—mantan aktivis 1998—yang sejak lama ia idolakan, dan berharap bisa dipromosikan menjadi tenaga ahli. Tetapi, semakin hari ia justru dipaksa menghadapi berbagai intrik yang baginya menggelikan.
    Semua itu berubah ketika ia bertemu lagi dengan Timur, seniornya di SMA yang begitu bersemangat mendirikan partai politik. Cara pria itu membicarakan ambisinya menarik perhatian Sigi. Perlahan Sigi menyadari bahwa tidak semua politisi seburuk yang ia pikir.

SINOPSIS:

    “Politik adalah tempat kepentingan yang berbeda-beda diakomodir. Seperti memiliki satu piza yang hendak dimakan banyak orang. Potongan-potongannya dibagikan ke sana-sini. Berapa besarannya? Tergantung proporsi kontribusi mereka terhadap kemakmuran masyarakat. Contoh nyatanya bisa kamu lihat sehari-hari. Misalnya, ketika Presiden bagi-bagi jatah kursi di kabinet untuk birokrat, teknokrat, dan tentunya orang partai.” (hal. 10)

    “Ada seorang dokter yang pernah jadi perdana menteri Indonesia keenam. Tidak banyak orang yang tahu namanya. Gue juga kalau nggak baca buku itu mungkin nggak tahu. Namanya dr. Soekiman Wirjosandjojo. Beliau berpendapat bahwa hukum tanpa kekuasaan akan menimbulkan anarki. Sebaliknya, kekuasaan tanpa hukum akan meninggalkan tirani.” (hal. 62)

    “Terkadang, kita memang harus terpuruk dulu untuk bisa bangkit,” tambah Timur. “Dessert wine dari Australia, namanya Noble One, adalah salah satu wine terbaik di dunia—sering sekali dapat penghargaan. Gue pernah coba. Rasanya seperti madu, Gi. Ternyata, dibuatnya dari anggur-anggur busuk, atau yang sengaja dibuat busuk. Terkadang mungkin kita memang harus bekerja sampai busuk dulu untuk bisa mencapai sesuatu.” (hal. 109)

    Cita-cita Sigi tidak muluk. Dia hanya ingin kenaikan jabatan dari posisinya sebagai staf administrasi. Sayangnya, menurut Johar Sancoyo, atasannya, itu cita-cita yang belum pantas Sigi raih, bahkan setelah tiga tahun bekerja tanpa cela. Berdalih peraturan yang mengharuskan Sigi harus terlebih dulu menempuh pendidikan S2 dan pandangan yang bernada misoginis, Johar Sancoyo selalu menampik permintaan Sigi. Jadwal, e-mail, pemantauan media adalah tiga hal yang harus Sigi lakukan tiap pagi, sebelum atasannya datang. Sigi ingin berbuat lebih banyak, dengan menjabat sebagai tenaga ahli. Dia juga tidak ingin dipandang remeh sebagai wanita oleh kedua rekan prianya: Catra dan Gilbert. Awalnya, Sigi yang berlatar belakang pendidikan ilmu administrasi negara hanya ingin bekerja di lembaga pemerintah. Dia tidak menyukai politik. Sigi mengidolakan Johar Sancoyo (JS) karena satu almamater dan pernah mengenali sepak terjang JS selama masa reformasi.

    Hingga suatu hari, ketika menemani JS dalam sebuah pertemuan non-formal di sebuah restoran, Sigi dipertemukan kembali dengan Timur, mantan kakak kelas semasa SMA di Bandung. Agaknya Timur ingin berbincang santai sekaligus belajar dari pengalaman JS dalam berpolitik. Timur dan kedua teman karibnya sedang bersiap mendeklarasikan sebuah partai politik baru. Pertemuan itu lantas berlanjut menjadi obrolan ringan dan pertemuan-pertemuan berikutnya antara Sigi dan Timur. Timur agaknya telah menaruh ketertarikan pada Sigi semenjak mereka masih di SMA, namun ketika lulus mereka berpisah arah. Sigi berkuliah di Yogyakarta, sedangkan Timur mengambil pendidikan ilmu hukum di Jakarta. Timur yang seorang pengacara dan kini bekerja di organisasi pemantau peradilan memandang Sigi sebagai seorang wanita cerdas, tak ragu berterus terang, asertif, dingin, menarik. Sigi pun menyukai Timur yang setiap kali berbicara masalah politik dan idealismenya tampak berapi-api. Di mata Sigi, pria cerdas lebih menarik. Dari kedekatan ini, keduanya saling memahami dan berbagi pandangan masing-masing terkait politik. Pelan tapi pasti, Sigi bisa melihat bahwa tak semua politisi itu buruk. Masih ada politisi-politisi muda yang idealis dan bersih. Meskipun itu tak serta merta membuat Sigi berencana ikut mencemplungkan diri dalam dunia politik.

    Di lain sisi, usaha JS untuk bisa memperoleh jabatan menteri, sedang menemukan peluang besar. Ketika Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah yang sedang menjabat terancam menjadi tersangka dalam kasus penggelapan dana. JS memang selalu menggembar-gemborkan dirinya sebagai pendukung koperasi, bahkan sedang menggulirkan sebuah rancangan program aplikasi untuk menghubungkan semua koperasi di Indonesia. Sigi sendiri melihat ini sebagai peluang untuk menyumbang ide. JS pun menjanjikan peluang kenaikan jabatan jika Sigi berhasil membuatkan janji temu dengan Pak Cipta, Kepala Staf Presiden. JS merencanakan pertemuan itu sebagai upaya agar ‘terlihat’ sebagai kandidat potensial di mata Presiden. Sayangnya, pertemuan yang akhirnya berhasil terjadi dengan Pak Cipta tak membuahkan hasil persis seperti yang diharapkan JS. Janji pada Sigi pun diingkari oleh JS. Justru Pak Cipta secara terpisah menawarkan posisi jabatan dalam tim Staf Kepresidenan pada Sigi. Di sinilah dilema Sigi bermula.

    Selain kegagalan target pertemuan dengan Pak Cipta, JS juga tersandung kasus. Seorang wanita muda bernama Megara mendadak muncul dan meneror. Megara bahkan sempat mengirimi Sigi sebuah file yang isinya membuat Sigi ketar-ketir. Hal tersebut berlanjut dengan kemunculan desas-desus di media massa terkait JS dan Megara. Naasnya, justru Sigi yang dituduh berkhianat dan membocorkan rahasia JS, sampai-sampai dia diperintahkan cuti selama beberapa hari dan pulang ke Bandung. Ketika masalah sudah selesai dan diluruskan, Sigi kembali disambut hangat di kantor, bahkan dipastikan akan dikabulkan permintaan kenaikan jabatannya. Sayangnya, kali ini Sigi tak terlalu bersemangat sebab mempertanyakan motif JS. Sigi juga telah kehilangan respek terhadap JS dan kedua rekannya di kantor. Kasus tersebut juga membukakan mata Sigi bahwa pekerjaannya—sebagai tenaga ahli sekalipun—mau tidak mau mengharuskannya terlibat dalam politik. Di masa-masa inilah Timur kembali berperan memberikan dukungan maupun pertimbangan sudut pandang. Hingga pada akhirnya Sigi harus memilih, apakah tetap bertahan di gedung dewan ataukah menerima tawaran Pak Cipta.

   
REVIEW:

    “Tapi, menurut lo, apa memang harus begitu? Harus menggunakan cara yang ‘kotor’ untuk bisa mencapai apa yang kita mau?”
    “Nggak harus. Itu semua kan hanya jalan pintas. Tentu saja kita bisa mencapai apa yang kita mau tanpa kehilangan integritas, tapi butuh usaha yang lebih keras.” (hal. 180)

    “Kalau boleh jujur, aku nggak terlalu percaya passion. Buatku, bikin kue itu semacam rekreasi. Aku takut kalau itu aku jadikan pekerjaan, nanti malah jadi nggak fun. Lagi pula, perkara do what you love itu terlalu utopis. Semua kerjaan, semenyenangkan apa pun, pasti pada satu titik akan melelahkan. Mending cari kerjaan yang aku sedikit suka, tapi sekaligus menantang. Biar aku juga bisa berkembang, ya kan?” (hal. 201)

    “Nggak bisa ya, semua orang jadi teknokrat saja seperti Pak Cipta begitu? Bantu Indonesia tanpa harus melalui partai politik.”
“Negara ini butuh keduanya, dan kamu bebas memilih.”
(hal. 265)

Sebuah novel kontemporer yang hendak mengawinkan ide bahasan politik dengan roman ini memang menarik. Secara tampilan, baik kover, judul, dan blurb dikemas apik dan menurut yang saya dengar mengalami berkali-kali penyesuaian dan editing. Endorser juga bertaburan di kover belakang maupun halaman awal buku. Saya setuju dengan beberapa pernyataan yang dikutip. Politik, anak muda, mimpi, dan kisah cinta. Kurang lebih keempat hal tersebutlah yang mewakili isi novel “Sophismata” ini. Bahasanya ringan, disisipi banyak istilah asing maupun dunia politik. Kutipan, dialog, hingga deskripsinya juga cerdas dan berbobot. Cukup banyak pemikiran tokoh-tokoh ternama terkait politik yang bisa dijumpai. Saya juga suka filosofi-filosofi kehidupan yang disajikan penulis yang dikaitkan dengan karakter Sigi, misalnya tentang stress baking, teknik pembuatan kue, hingga kesukaannya terhadap warna hitam-putih. Yang saya sayangkan adalah ketiadaan catatan kaki berisi penjelasan untuk cukup banyak istilah perpolitikan, misalnya konstituen, masa reses dan sidang. Catatan kaki hanya diberikan sebagai penjelasan untuk beberapa singkatan istilah. Saya menerima keluhan serupa dari teman-teman pembaca lain. Padahal novel ini justru ingin menggaet para pembaca yang awam tentang perpolitikan. Selain itu, terkait dua judul buku George Orwell: “Animal Farm” dan “1984” yang sempat muncul sekilas dalam dua adegan, saya rasa kurang dieksplor. Padahal menurut saya buku ini erat kaitannya dengan cikal bakal ketertarikan Timur pada dunia politik. Mengapa tak dimunculkan dialog pendapat Timur dan Sigi tentang dua buku tersebut, sehingga tidak terkesan tempelan?

Terkait karakter Sigi yang anomali, awalnya memang terkesan secara logis sulit dipahami. Tapi, seiring proses menuntaskan membaca, penulis berhasil membuat saya paham akan karakter Sigi dan segala hal yang melatarbelakangi pandangannya. Salah satu yang saya sukai adalah keluarganya. Sang ayah yang notabene kaum akademisi, seorang dosen, yang lebih mengharapkan anaknya berkecimpung di dunia yang sama dan menempuh pendidikan setinggi mungkin. Dan meskipun kurang sependapat dengan keinginan ayahnya, saya rasa ketidaktertarikan Sigi akan dunia politik secara tidak langsung dipengaruhi juga latar belakang ayahnya ini. Beda hal dengan Timur, yang gemar melahap buku-buku lama peninggalan sang kakek dan mengidolakannya, pada akhirnya memengaruhi pola pikirnya terkait hukum dan perpolitikan. Karakter menarik dan unik lain yang saya sukai dari Sigi adalah kegemarannya membuat kue dan memasak, yang diwarisi dari sang ibu. Hal ini menjadikan sosok Sigi tampak feminin, meskipun di lain sisi dia digambarkan sebagai wanita karir yang punya idealisme dan keinginan besar berperan nyata dalam masyarakat. Chemistry antara Sigi dengan Timur berhasil dibangun cukup baik, apa lagi karakter Timur yang dewasa digambarkan cukup berbeda secara pemikiran, seolah mereka saling melengkapi. Kisah romansa yang porsinya tak mendominasi menurut saya sudah pas dan berkesesuaian dengan karakter Sigi-Timur. Saya suka momen-momen pertemuan yang tak sekadar mengumbar adegan romantis ala roman kontemporer umumnya, tapi banyak disisipi dialog saling bertukar pikiran.

Sedangkan dari sisi tokoh Johar Sancoyo, memang karakternya sesuai bayangan saya akan sosok politisi yang flamboyan, pandai berdiplomasi, dan supel, sekaligus memiliki sisi lemah jika berhubungan dengan wanita. Tapi menurut saya kisah kiprah Johar Sancoyo di masa awal reformasi seharusnya bisa lebih banyak dipaparkan, secara dikatakan bahwa dia sempat menjadi tokoh panutan dari Sigi dan Timur. Selain itu, agar pertemuan awal Sigi dan Timur ketika bersama Johar Sancoyo tidak terkesan terlalu kebetulan, jika mengingat Timur ingin belajar tentang masa awal JS berpolitik, bukan sepak terjangnya di masa kini setelah menjabat anggota dewan. Konflik JS dan Megara pun kurang memuaskan bagi saya. Terasa tidak gereget apa lagi dengan penyelesaian konflik yang ‘begitu’ saja. Padahal ketika mencapai klimaks konflik, saya sempat ikut tegang dan mengharapkan sesuatu yang lebih dari penulis.

Secara keseluruhan, bagaimanapun, saya mengapresiasi terobosan baru ini. Ini kali pertama saya membaca novel roman populer dengan nuansa beda. Di sini pembaca diajak membuka mata bahwa dunia politik yang abu-abu memang bukan untuk semua orang dan kita bebas memilh, apakah hendak menjadi politisi, teknokrat atau birokrat. Tapi pada dasarnya negara membutuhkan semua elemen tersebut, terutama sumbangsih nyata bagi kemakmuran rakyat. Jika Anda tertantang untuk mengintip sedikit seluk-beluk dunia politik, ingin berbagi mimpi dengan anak muda seperti Sigi dan Timur, maka novel ini sangat layak dibaca. Dan sebagai penulis, saya menantikan karya berbobot selanjutnya dari seorang Alanda Kariza.

"What happens when you dislike politicians so much, yet you fall in love with one?"
   







Minggu, 10 September 2017

[RESENSI] Listen To My Heartbeat: Remaja, Cinta, dan Cita-Cita

Posted by Menukil Aksara | 7:53:00 AM Categories:


Judul            : Listen To My Heartbeat
Penulis        : Arumi E.
Editor          : Essa Putra & Dila Maretihaqsari
Cetakan       : pertama, Juli 2017
Tebal           : viii + 416 hlm; 20,8 cm
Penerbit       : Bentang Belia

BLURB:

 Gara-gara sebuah kecurangan yang dilakukannya saat ujian praktik Olahraga, Trinity jadi dekat dengan dua cowok populer di sekolah. Mimpi apa Trinity mendapatkan perlakuan yang tidak biasa dari Neo dan Zaki?
    Neo Andromeda dikenal Trin sebagai saingannya karena selalu menduduki peringkat pertama di sekolah. Apesnya, Neo sepertinya tahu kecurangan yang dilakukan cewek itu. Meski dijuluki ice prince, nyatanya Neo sering kali menghangatkan hati Trin.
    Zaki River adalah kebalikan Neo, suka bicara ceplas-ceplos, kadang juga menjengkelkan. Meski dikenal sebagai bad boy, di mata Trin, Zaki punya sisi menyenangkan yang mungkin tak semua orang tahu.
    Pelan tapi pasti, dua cowok unik itu mencuri perhatian Trin. Jika disuruh memilih, rasanya Trin ingin kabur saja, karena sepertinya ia menginginkan keduanya.

SINOPSIS:

 “Pak Sam menawarkan ujian ulang, dengan syarat mereka harus mengakui kesalahan di depan kelas, di hadapan teman-teman. Untuk menjadi pelajaran bagi siswa lain supaya jangan pernah ada lagi yang mencoba berniat curang.” (hal. 27)

    “Gue pengin berubah, nggak bolos dan berantem lagi. Tapi, gue nggak bisa ngubah reputasi gue yang udah telanjur jelek.”
    “Yang penting, orang-orang terdekat lo tahu gimana lo yang sebenarnya.”
(hal. 163)

    “Sebenarnya aku nggak pernah memikirkan itu. Maksudku, aku nggak pernah berambisi menjadi murid teladan. Aku hanya belajar sebaik-baiknya, mengerjakan tugas sebagus mungkin. Predikat itu bukan hal yang penting.” (hal. 169)

I know what you did. Demikian isi secarik kertas yang diterima Trin, entah dari siapa, usai pelajaran Olahraga. Trin pun spontan teringat kecurangan yang dilakukannya selama ujian lari berlangsung. Trin yang terbawa emosi, sempat salah tuduh, bahkan melabrak Neo, sang juara kelas sekaligus murid teladan sekolah dan menuduhnya sok sempurna. Namun, belakangan ia baru tahu bahwa Nina-lah yang mengiriminya surat kaleng, bahkan mengancam akan melaporkan kecuali Trin bersedia memenuhi syarat-syarat yang dia ajukan. Trin tak sudi diperas, dan lebih memilih mengakui kesalahannya pada Pak Sam guru Olahraga. Sebenarnya Trin siswi yang jujur dan berprestasi, namun karena dia memiliki kekurangan fisik—yang dirahasiakan dari semua orang—nilai Olahraganya terancam jelek bahkan merah. Sebab itulah Trin sempat tergoda ketika Zaki yang hari itu membolos muncul membawa mobil dan mengajak teman-teman akrabnya menumpang hingga jarak tempuh lari terpotong banyak. Usai pengakuan di depan kelas, semua teman sekelas termasuk teman sebangkunya, Reyana, berubah mencemooh dan membenci Trin. Sedangkan Trin, Zaki dan teman-teman gank-nya harus melakukan ujian lari ulang dan membersihkan halaman sekolah setiap hari.

Di balik insiden memalukan itu, tak disangka, Trin justru mendapatkan perhatian dari Neo, rival sekaligus cowok yang dikaguminya. Neo yang terkenal pendiam, menjaga jarak dengan teman-teman sehingga dijuluki ice prince mendadak berbaik hati menawari Trin mendaftar di eskul Karate di mana Neo bergabung sejak lama dengan dalih untuk melatih fisik Trin. Tak hanya itu, Neo bahkan mengawasi selama ujian lari ulang dan menyodorkan sebotol minuman pada Trin. Lain halnya dengan Zaki, yang saat ujian ulang sengaja memperlambat lari dan selalu menemani Trin yang tertinggal di belakang. Dari sinilah kedekatan Trinity, Neo, dan Zaki bermula yang kemudian menumbuhkan pula benih-benih cinta.

Ketika Trin mulai akrab dengan Neo, seorang gadis cantik blasteran Spanyol-Indonesia sekaligus siswi baru di kelas mereka muncul. Gadis bernama Estela itu bahkan tak sungkan memperlihatkan kedekatan dengan Neo, dan diminta guru untuk duduk sebangku dengan Zaki. Lantas muncul pula rumor bahwa Neo dan Estela adalah sepasang kekasih bahkan dijodohkan kedua orangtua dan Estela tinggal serumah dengan Neo. Neo yang menyadari perubahan sikap Trin, berusaha meluruskan dan meyakinkan Trin bahwa tidak ada apa-apa antara dia dengan Estela. Sesungguhnya, Estela adalah anak tiri ayahnya yang kini sebatang kara selepas meninggalnya ayah tiri dan ibu kandungnya dalam sebuah kecelakaan. Ayah Neo yang memang telah berpisah dengan ibu Neo sempat menikahi seorang janda berkebangsaan Spanyol dan tinggal di Spanyol cukup lama. Trin tentu saja kaget mengetahui fakta tersebut, apa lagi Neo memang tertutup dan tak pernah menceritakan kondisi keluarganya pada teman-teman. Trin pun suatu hari bersedia berbagi rahasia kekurangan fisiknya pada Neo, ketika terjadi ‘kecelakaan’ kecil selama latihan karate. Yang tak diduga Neo adalah Estela yang ternyata tak keberatan dijodohkan dan memang menyukai Neo.

Zaki, yang bermula dari terkesan dengan sikap Trin, juga mulai melakukan pendekatan. Mulai dari acara kerja kelompok, hingga momen-momen kecil makan siang bersama di kantin. Zaki juga telah bertekad berubah, tak lagi cuek dengan urusan sekolah, selain untuk membuat Trin terkesan juga demi membuat bangga mamanya, yang sempat sakit namun tak mendapatkan kepedulian dari suaminya. Trin yang sempat mengunjungi rumah Zaki bersama Bobby dan Nina terkesan dengan sikap penyayang Zaki pada dua adik perempuannya yang masih kecil. Dari sinilah Trin mulai mengubah pandangan terhadap Zaki yang selama ini dikenal sebagai bad boy.

Tak hanya disibukkan dengan kisah cinta, Trin, Neo, dan Zaki yang telah memasuki tahun terakhir sekolah juga bersaing meraih prestasi akademik terbaik, apa lagi menjelang kelulusan dan pendaftaran ke universitas. Trin yang aktif di eskul Mading juga mendapat amanah menjadi penanggung jawab Buku Tahunan Siswa di mana profil siswa berprestasi dan semua siswa senior dicantumkan. Momen-momen manis kembali tercipta, lewat kesempatan wawancara Trin dengan Neo sebagai murid teladan dan dengan Zaki selaku Kapten Tim Futsal. Neo dan Zaki pun terang-terangan bersaing secara sportif untuk mendapatkan hati Trin. Hingga suatu hari, Zaki menyatakan langsung pada Trin akan perasaan sukanya. Trin yang menyukai Zaki dan Neo, bingung dan tak bisa memilih. Dia memberi harapan tapi juga tak memberi kepastian pada Zaki. Di lain pihak, Neo seolah mengulur-ulur waktu untuk menyatakan langsung perasaannya. Diawali dengan ajakan menonton pertunjukan biolanya bersama beberapa pemain musik lain, Neo mulai memberikan sinyal. Zaki yang tak sengaja mengetahui hal ini, sempat kecewa dan mendiamkan Trin, meskipun tak bertahan lama. Puncaknya, di acara malam perpisahan murid senior, Neo khusus memainkan lagu untuk Trin dan terang-terangan mempersembahkannya di hadapan semua hadirin. Trin terkejut, senang, sekaligus malu. Neo juga menyatakan perasaannya di luar panggung dan sekali lagi memberi kejutan manis untuk Trin. Sayangnya, di hari lain selepas malam itu, Neo memberi kabar tak menyenangkan terkait pilihannya melanjutkan pendidikan ke tempat yang jauh. Di sinilah Trin akhirnya harus menjatuhkan pilihan, di antara dua lelaki yang menanti jawaban. Siapa pun yang akan dipilih, apakah Zaki yang bersedia selalu ada di sampingnya atau Neo yang akan berjauhan untuk sementara tapi tetap mengharapkannya, Trin harus mengakhiri dilema hati mereka.

REVIEW:

 “Kamu pernah dengar nasihat, kalau kamu mencintai dua orang di waktu bersamaan, pilihlah yang kedua. Karena kalau sungguh-sungguh mencintai yang pertama, kamu nggak akan tertarik dengan yang kedua.” (hal. 361)

    “Terkadang cinta pertamamu belum tentu menjadi jodohmu. Dia hanya menjadi kenangan indah yang terukir abadi di hati.” (hal. 384)

    Novel remaja ini merupakan salah satu judul—dari sebelas judul—seri Belia Writing Marathon yang merupakan rangkaian program dari Bentang Belia. Awalnya, kisah cinta segitiga remaja Trin, Neo, Zaki ditulis secara berkala di Wattpad dan berhasil mendapatkan kurang lebih 4,5 juta perhatian dari pembaca Wattpad. Untuk ukuran novel remaja, jumlah halamannya tergolong tebal. Hal ini akhirnya memberikan banyak ruang bagi penulis untuk mengembangkan alur, plot, dan karakter tokoh. Setelah saya membaca keseluruhan cerita, memang jelas terlihat hal tersebut.

    Bisa dibilang, ketiga tokoh utama cerita berhasil ditonjolkan dengan perkembangan karakter yang cukup signifikan dan bertahap. Terutama saya melihat adalah perkembangan karakter Neo dan Zaki. Neo yang penyendiri, tak lepas dari latar belakang keluarga di mana dia hidup bersama ibunya yang merupakan orangtua tunggal sekaligus tulang punggung keluarga. Kesibukan luar biasa ibunya selain membuat Neo kesepian, di sisi baiknya menjadikannya anak mandiri. Di sinilah karakter positif Neo tampak. Dia tidak melampiaskan kurangnya kasih sayang ortu ini lewat hal-hal negatif. Justru waktunya dipergunakan untuk belajar dan belajar, selain aktif di eskul Karate dan mengasah kemampuan bermain biola. Neo yang kidal juga diceritakan sempat kecewa dengan sikap orang-orang sekitarnya yang meremehkan dan menganggap aneh kondisi fisik bawaannya itu. Namun, seiring bergulirnya cerita, Neo perlahan lebih terbuka, peduli dengan orang-orang terdekat seperti Trin dan Estela, dan merasakan cinta pertama. Zaki di lain pihak, yang awalnya dilabeli sebagai anak badung, pernah berkasus dengan perkelahian, tidak segan membolos, dan cuek dengan prestasi akademik, pelan tapi pasti berubah ke arah yang lebih baik. Kedekatannya dengan Trin pun memberikan efek positif. Saya peribadi sangat suka dengan sifat easy going, ceplas-ceplos, over pede, namun penyayang dan setia kawan dari Zaki. Menurut saya, kehadiran Zaki memberikan nuansa ceria sekaligus menjadi pelengkap bagi Neo. Logis jika kemudian dilema tercipta dalam kisah cinta segitiga ini. Pembaca pun saya yakin merasa terlibat secara emosional, entah mendukung Neo atau Zaki. Satu hal positif lain dalam novel ini menurut saya dari segi penciptaan karakter adalah ketiadaan imej bad boy yang diiringi adegan kekerasan atau kenakalan ala remaja yang biasa saya jumpai dalam novel remaja lain, bahkan yang bernuansa religi sekalipun.

    Kisah tak melulu berfokus pada kisah cinta pertama ketiga tokohnya. Penulis juga menyoroti kepedulian remaja pada sekitar—lewat adegan kunjungan Neo dan kawan-kawan ke rumah sakit, masalah keluarga, kasih sayang antara anak-orangtua, ajakan untuk berlaku hormat pada yang lebih tua, persahabatan, dan tentu saja tentang meraih prestasi dan cita-cita setinggi mungkin. Saya suka bagian akhir di mana Neo bersikap dewasa atas pilihan pendidikannya, juga Zaki dan Trin yang mampu menetapkan pilihan untuk pendidikan dan masa depan mereka, menyadari masa depan mereka masih terbentang luas.

    Saya rasa novel ini terbilang berani tampil beda. Tak menonjolkan konflik cinta dramatis ala cinta segitiga umumnya, juga tidak mengumbar tipikal drama keluarga broken home dengan anak-anak nakal yang mudah dijumpai di novel lain. Salut dengan keberanian penulis dan saya mengapresiasi nilai-nilai positif yang hendak ditularkan lewat kisah ini. Ini wajib dibaca oleh para pembaca belia Indonesia.
 
 "Nggak boleh, ya, suka sama kamu dan dia?"


  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube