Senin, 30 Juli 2018

Kirana and Happy Little World: Sahabat Kecil yang Berbagi Cinta

Posted by Menukil Aksara | 11:54:00 AM Categories:
Judul buku      : Kirana & Happy Little World
Cerita             : Retno Hening Palupi
Ilustrator dan desain sampul : Isnina Aryani Hasanah
Editor             : Tesara Rafiantika
Penerbit          : GagasMedia
Cetakan          : pertama, 2018
Tebal buku      : iv + 172 hlm; 13 x 19 cm
ISBN               : 978-979-780-916

BLURB:
    Dari sekian banyak tingkah ajaib anak, pasti akan selalu ada yang terkenang di hati. Entah terlalu jenaka atau mengurut dada. Namun, kita sering kali lupa bahwa dari mereka jugalah banyak pelajaran hidup yang bisa kita dapatkan.

    Kirana & Happy Little World bukan hanya potongan adegan kehidupan seorang anak jenaka, tetapi juga “sahabat kecil” semua orang yang sedang belajar mensyukuri hidup dan berbagi dengan orang lain. “Sahabat Kecil” yang bercerita bagaimana orangtua dan anak tumbuh bersama dalam cinta.

SINOPSIS dan REVIEW:
    “Kelak ketika Kirana dewasa, Kirana akan tahu banyak hal tentang berbagi. Berbagi cerita atau kabar baik kepada orang-orang yang menyayangi Kirana, misalnya. Sampai saai itu tiba, biar kita nikmati keindahan berbagi dari hal-hal sederhana... “

    Buku kedua dari Ibuk Retno Hening ini masih mengambil tema pengasuhan anak, lewat berbagi kisah keseharian bersama sang putri, Kirana. Tapi alih-alih berbentuk buku dengan narasi seperti di buku pertama, kali ini cerita berwujud komik lengkap dengan ilustrasi berwarna-warni. Berisi sejumlah judul cerita, ada berbagai sisi kehidupan sehari-hari Kirana dan Ibuk yang seru diceritakan, meskipun terkesan sederhana dan tak beda dengan keseharian keluarga lain.

    Ada kisah kebersamaan Ibuk dan Kirana di dapur ketika menyiapkan masakan dan membuat kue. Dikisahkan bagaimana Ibuk tetap bisa menyelesaikan tugas rumah tangga tanpa melupakan pengawasan terhadap Kirana, dengan cara melibatkan si cilik dalam aktivitas—meski hanya tugas ringan—lantas memberikan kesibukan positif lain yang tetap dapat dipantau. Ibuk juga mengajarkan lewat tindakan nyata mengenai pentingnya berbagi, meskipun hanya sepotong kue atau sekotak jus. Alhasil, Kirana lebih peka terhadap orang sekitar. Teladan menyayangi sesama juga tampak lewat pergaulan baik Kirana dengan teman-teman sebaya, juga rasa sayang terhadap binatang peliharaan. Kirana bahkan paham tentang pentingnya menjaga kebersihan, tak hanya di rumah tapi juga di tempat umum. Juga mengenal adab bersepatu dan berdoa menjelang tidur. Tapi sebagai anak-anak, tetap terkadang tak lepas dari tingkah ‘ajaib’ yang butuh perhatian lebih Ibuk, terlebih lagi menjelang kehadiran adik baru. Sisi kekanakan juga ditunjukkan dalam kisah bersama teman yang awalnya sedikit cekcok tapi dengan mudah berubah ceria kembali.

    Maka memang benarlah bahwa anak adalah sosok manusia paling naif, paling jujur, dan paling tulus. Dalam dunia anak, rasanya sungguh sederhana memandang berbagai hal, sehingga tak ada waktu untuk berlama-lama meratapi ketidakberuntungan atau menyimpan amarah. Dunia yang masih menyenangkan seperti sedang bermain. Karena itulah, Ibuk memberi contoh nyata bahwa mengasuh dan mendidik anak, meskipun tidaklah mudah tapi tetap bisa dibawa ‘fun’. Yang paling penting dalam pendidikan anak adalah keteladanan. Agar anak tumbuh menjadi pribadi yang baik, maka orangtua wajib memberi contoh nyata kebaikan dalam segala hal, tak melulu perkataan. Teori parenting memang penting, tapi aplikasinya jauh lebih utama. Kurang lebih itu yang dapat saya ambil dari kisah-kisah dalam buku ini.

    Buku yang menarik, pun tetap mengandung sederet pesan kebaikan, baik untuk anak, orangtua, maupun yang belum menjadi orangtua. Benar-benar ‘sahabat kecil’ yang berbagi cinta dan kebaikan bersama. Recommended. 

    “Ibu, kadang kita sulit menemukan waktu untuk melakukan hal yang kita senangi. Kadang jenuh dengan rutinitas sehari-hari. Namun, jalanilah semuanya dengan sabar dan ikhlas. Bersyukurlah Allah menitipkan kepada kita sebidang pahala bernama keluarga.” 


   



Happy Little Soul: Belajar Memahami Anak dengan Penuh Cinta

Posted by Menukil Aksara | 11:51:00 AM Categories:
Judul buku     : Happy Little Soul
Penulis          : Retno Hening Palupi
Editor           : Tesara Rafiantika
Ilustrasi isi    : Isnina Aryani Hasanah dan Alzaena Ulya Rusdimi
Desainer dan ilustrasi sampul : Isnina Aryani Hasanah
Penerbit        : GagasMedia
Cetakan        : keenam, 2017
Tebal buku    : xiv + 202 hlm; 13 x 19 cm
ISBN              : 978-979-780-886-0

BLURB:     
    “Ndak apa-apa, itu namanya be-la-jar.” Atau, “Sorry... ,” seru Kirana sambil tersenyum dengan tatapan mata teduhnya yang siapa pun pasti tak bisa menolaknya.

    Please... sorry... thank you... adalah kata-kata tulus nan menggemaskan yang kerap disampaikan oleh Kirana ketika bermain. Baginya, belajar dari kesalahan is okay. Dan bagi Ibuk, dia justru banyak belajar tentang sabar dari sang anak, Mayesa Hafsah Kirana.

    Life is an adventure. Cerita petualangan Ibuk dan Kirana di Happy Little Soul ini mengajak kita semua—kakak, adik, orangtua, calon ayah atau ibu, dan sebagai apa pun perannya—untuk belajar hal-hal sederhana mengenai kasih sayang dan bersama mewarnai kehidupan dengan lebih baik.

SINOPSIS dan REVIEW:
    “Your children will become who you are, so be who you want them to be.” – David Bly

    Buku ini memang merupakan buku parenting, namun konsep yang ditawarkan bukan ‘how to...’ yang kaku seperti buku-buku nonfiksi biasanya. Penulis yang menyatakan diri ‘hanya’ ibu rumah tangga biasa yang masih harus banyak belajar lagi ini lebih menggunakan pendekatan ‘sharing’ ketimbang ‘menggurui’.

    Disajikan dalam bab-bab yang runut, diawali dengan kisah selama masa kehamilan, melahirkan, menyambut sang bayi mungil, hingga menjalani keseharian hingga usia Kirana menginjak tiga tahun. Disisipi juga beberapa foto, surat tulisan tangan penulis, corat-coret hasil kreativitas Kirana, dan ilustrasi khusus dari tim ilustrator yang berwarna dan menggemaskan di sepanjang buku. Selain itu, kertas buku berwarna-warni sehingga tampilan lebih menarik. Ada tip berupa poin-poin dalam beberapa babnya, tapi tetap dengan gaya bahasa bercerita yang ringan. Bahkan ada resep makanan favorit dan cara membuat mainan kreasi sendiri yang mudah. Diceritakan juga perjuangan Ibuk merawat Kirana yang istimewa dengan dermatitis atopi-nya, yang selalu menjadi perhatian orang-orang terdekat dan bagaimana Ibuk menyikapi.

    Buku ini mungkin memang tidak setebal dan sedetail buku parenting lain dalam memerinci referensi dan informasi pengasuhan anak, tapi tetap saja saya mendapatkan banyak pelajaran, hikmah, dan pesan yang bagus darinya. Karena didasarkan pengalaman nyata seorang ibu muda yang belajar mengasuh dan mendidik anaknya dari nol, saya bisa turut merasakan suka-dukanya dan merasa lebih terkoneksi. Mempersiapkan kehadiran seorang anak nyatanya tak semata perkara kesiapan materi, namun yang lebih utama dan ‘berat’ justru perkara kesiapan mental dan ilmu. Setiap langkah dan usaha harus senantiasa dibarengi dengan niat ikhlas dan doa. Setiap anak pun unik, sehingga tak mungkin apa yang dialami setiap ibu akan sama persis. Oleh sebab itu, kesabaran tiada batas harus selalu ditanamkan dan dipahamkan, baik pada sang ibu maupun ayah. Kerja sama tim ‘ayah-ibu’ dalam pengasuhan juga tidak kalah penting. Sebagai pasangan, harus memiliki kesadaran untuk saling membantu memikul tanggung jawab bersama. Dan dari yang saya ketahui, bantuan sekecil apa pun dan dukungan dari pasangan berdampak besar bagi kebahagiaan seorang ibu. Dan tentu saja jika ibunya bahagia, anaknya pun bisa merasakan dan tumbuh dengan bahagia juga. Poin penting lain yang saya catat dari buku ini adalah dalam hal membangun komunikasi aktif antara ibu dan anak. Ibuk Retno membiasakan diri selalu mengajak Kirana berbicara, bahkan semenjak si kecil belum paham dan atau belum bisa menanggapi balik. Nyatanya, upaya konsisten ini menunjukkan hasil positif di kemudian hari. Selain tumbuh sebagai anak yang cepat perkembangan bahasanya, Kirana juga pintar merespon emosi dan tumbuh menjadi pribadi yang empatik.

    Secara keseluruhan, buku parenting yang satu ini sangat direkomendasikan bagi para ibu muda, calon ibu maupun ayah, dan pembaca umum yang membutuhkan ‘sahabat’ dalam mencari ilmu tentang pola pengasuhan anak. Gaya bahasanya yang ringan mudah dipahami dan tidak membosankan. Mungkin ilustrasi hanya perlu diperjelas lagi di bagian resep dan tip, selebihnya tidak masalah. Saya juga sangat suka dengan cover dan bookmark-nya.

    “Berbahagialah, Ibu. Anak yang bahagia pasti dibesarkan oleh seorang ibu yang tidak lupa berusaha membahagiakan dirinya juga.” (hlm.194)


Selasa, 24 Juli 2018

Aku Bukan Dia: Jika Cinta Mengucap dan Takdir Berkata

Posted by Menukil Aksara | 7:17:00 AM Categories:
Judul buku     : Aku Bukan Dia
Penulis           : Arleen A.
Editor             : Mutiara Arum & Herlina P Dewi
Penerbit         : Stiletto Book
Cetakan         : pertama, Mei 2018
ISBN              : 978-602-6648-52-5
Tebal buku     : 274 hlm

BLURB:
Andy
Tahu bahwa tidak ada jalan hidup manusia yang sempurna, yang ada hanya satu guci abu yang tak juga dapat ditaburnya ke laut lepas.

Linda
Tahu bahwa tidak ada jaminan atas kata-kata selamanya, yang ada hanya janji serapuh tisu yang dengan mudah dapat dikoyak.

Berdua
Tahu bahwa tidak ada hubungan yang sempurna, yang ada hanya sebuah pertemuan kebetulan.

Berdua
Tahu bahwa tidak ada jalan yang bebas dari kerikil, yang ada justru dinding-dinding yang muncul entah dari mana.

Tapi jika cinta mengucap dan takdir berkata, apakah hati justru akan jadi penghalang?

SINOPSIS:
    “Mungkin setiap orang punya definisi berbeda tentang kata “terbaik”. Atau mungkin orang yang sama punya definisi berbeda pada waktu yang berbeda.” (hlm. 262)

Andy Charleston adalah seorang profesor muda dan dosen pengajar di Santa Clara University (SCU). Duda beranak satu ini telah ditinggalkan istrinya, yang meninggal setelah melahirkan putri mereka, Chloe. Meski sudah lewat beberapa tahun, Andy belum mampu melupakan Lina, mendiang istrinya, apalagi terpikir untuk menikah lagi. Oleh karena itu, sang mama berusaha mengenalkannya pada beberapa wanita, termasuk pada Rebecca, anak dari teman baiknya. Andy tak kuasa menolak dan mencoba dekat dengan Rebecca. Hingga suatu hari, Andy bertemu seorang mahasiswi di kampusnya yang berparas mirip dengan Lina. Namun mahasiswi yang sempat disangkanya foreign student tersebut jelas memiliki karakter yang berbeda jauh. Linda, demikian namanya, tak dimungkiri mulai merebut perhatian Andy.

    Linda Dirgajaya, gadis sembilan belas tahun yang berketurunan Indonesia merupakan mahasiswi baru di SCU. Ia pernah tak sengaja bertemu Andy di kampus dan tak menyangka bahwa pria tersebut adalah dosen pengajar di salah satu mata kuliah yang diambilnya. Kekaguman pada paras Andy dan cara mengajarnya lantas berubah menjadi rasa suka yang disimpan diam-diam. Usia mereka jelas terpaut jauh dan status sebagai mahasiswi tentu tak membolehkannya berandai-andai menjalin kedekatan dengan sang profesor.

    Di sisi lain, Robert teman sekampus Linda gencar melancarkan pendekatan. Perlahan usahanya membuahkan hasil karena Linda mulai akrab dengannya. Ada pula Jack, mantan kekasih Linda semasa sekolah yang awalnya memutuskan hubungan dengan alasan yang tak Linda pahami yang kemudian hadir lagi. Agaknya Jack ingin kembali pada Linda.

    Ketika Andy dan Linda sama-sama telah memahami kejelasan perasaan masing-masing, takdir seolah memihak pada mereka. Andy berkesempatan mengajak Linda menghabiskan waktu bersama dengan putrinya. Berawal dari sinilah, mereka semakin akrab dan saling mengungkapkan perasaan. Namun hubungan beda usia jauh ini masih harus melewati berbagai rintangan. Baik restu dari masing-masing orangtua, gangguan pihak ketiga, hingga yang terbesar adalah rahasia yang masih disembunyikan Andy dari Linda terkait mendiang istrinya.

REVIEW:
    “Bahwa kau menyayangiku, itu saja sudah cukup bagiku.” (hlm. 270)
    “Ada begitu banyak kebetulan... Tapi bukankah memang tidak ada kebetulan di dalam hidup ini?” (hlm. 273)

    Bagaimana rasanya merasa dicintai semata karena kemiripan fisik dengan seseorang yang lain yang pernah dekat dengan orang yang kita cintai? Tentu saja manusiawi jika lantas kita meragukan cinta itu sendiri. Dan apakah mungkin dua orang berbeda yang bahkan tak saling kenal memiliki paras yang mirip? Novel romansa ini mengangkat kisah cinta yang dibalut topik ‘kebetulan-kebetulan’ dalam hidup dan kesempatan kedua. Apa definisi dari mencintai dan dicintai. Bukan tema baru memang, tapi penulis menyelipkan detail selain romansa dan mengemas dengan baik sehingga kisah ini tetap menyenangkan untuk dibaca.

    Penggunaan POV orang ketiga secara bergantian—Andy dan Linda—cukup menarik. Sebagai pembaca, saya cukup dimudahkan dengan gaya ini. Karakter Andy dan Linda yang sama-sama kalem dan manis membuat pembaca mudah jatuh suka dengan mereka. Kehadiran Chloe, gadis cilik yang manis dan santun juga menambah daya tarik. Pengalaman pribadi Mbak Arleen sebagai seorang ibu maupun penulis buku anak menurut saya berperan besar dalam mengeksplorasi interaksi antara Chloe dengan Andy maupun Linda. Adegan-adegan manis yang melibatkan Chloe juga menjadi nilai plus dan membuat saya jatuh cinta dengan kisah ini. Sedangkan tokoh-tokoh pendukung lain memiliki porsi yang pas tanpa terkesan terlalu ‘drama’. Nuansa keluarga besar Andy dan Linda cukup kental juga dalam cerita ini.

    Terkait plot, novel ini memang bisa dibilang minim konflik rumit. Kisah hubungan Andy dan Linda mengalir, digambarkan manis dan romantis. Konflik utama meruncing di bagian akhir, eksekusi penyelesaiannya logis tak terkesan dipaksakan, disertai twist ending yang cukup mengejutkan. Meskipun minim konflik, saya tetap menikmati karena seperti yang saya sebutkan tadi, ada poin plus yang melibatkan hubungan ayah-anak-ibu di sini. Ada momen-momen yang menyentuh, juga pesan-pesan moral yang diselipkan dengan apik.

    Berseting di Amerika Serikat dengan para tokoh warga setempat memang seakan menjadi salah satu ciri khas tulisan Mbak Arleen. Secara keseluruhan penggambaran keseharian dan gaya hidup warga Amerika sudah bagus. Hanya ada satu hal yang agak mengganjal. Mengenai sapaan yang digunakan, sepertinya penulis masih mencampuradukkan gaya sapaan kultur timur dengan barat, seperti pemakaian sapaan ‘Tante’ dan ‘Nak’ untuk yang lebih tua dan yang lebih muda tapi tak memiliki hubungan darah (kekerabatan). Padahal setahu saya, di kultur barat cukup memanggil nama depan jika bukan kerabat tapi sudah akrab. Menurut saya lebih baik sepenuhnya mengadaptasi kultur barat sesuai seting dan penokohan, tidak masalah jika akhirnya feel terasa seperti novel luar atau terjemahan. Typo sangat minim, seingat saya hanya sedikit kesalahan POV di halaman tertentu.

    Overall, kamu pencinta novel romance tak hanya akan jatuh cinta dengan kisah manis Andy dan Linda tapi juga dengan si cilik Chloe. Gadis kecil ini justru tokoh paling favorit saya di sini. Baca novel ini bikin kita merasakan lagi jatuh cinta, juga memaknai kembali kata ‘mencintai’. What a sweet story!

“Terkadang cinta terlalu cepat pergi. Tapi bukankah selalu ada kesempatan kedua untuk segalanya... bahkan untuk cinta juga?”

Parade Para Monster: There’s a Monster inside Me

Posted by Menukil Aksara | 7:10:00 AM Categories:
Judul buku  : Parade Para Moster
Penulis        : Eva Sri Rahayu
Editor         : Vivekananda Gitandjali TD
Ilustrasi      : Grace Djiauw
Penerbit      : M&C (Penerbit Clover)
Cetakan      : pertama, 2017
Tebal buku  : 309 hlm

BLURB:
    Semenjak kekuatan misterius dalam dirinya bangkit, Weena jadi sangat terobsesi pada Festival Halloween yang diadakan di Greenwich Village di Manhattan. Bagi Weena yang dianggap monster, tidak ada tempat yang lebh cocok selain Festival Halloween: paradenya para monster!

    Bersama dengan sahabatnya, Jack, Weena mendaftar sebagai volunteer di Festival itu. Sayangnya, pengajuan mereka ditolak. Tapi tiba-tiba, muncul undangan misterius untuk datang ke Festival Halloween “yang lain”.

    Sebuah undangan yang membuka pintu ke dunia para monster... yang akan membahayakan nyawa mereka berdua!

    “I’m never afraid, never sad, and never cry. I will destroy those who hurt me. I am a monster.”

SINOPSIS:
    “Kekuatan yang kau miliki bisa menjadi anugerah dan kutukan. Kaulah yang harus memilih, pada sisi mana kau berdiri.” (hlm. 211)

    Weena menyadari kekuatan misterius dalam dirinya di usia belia. Reaksi ketakutan yang diperlihatkan teman-temannya diiringi julukan monster yang ditujukan padanya membuat Weena membenci diri sendiri. Dia pun tumbuh menjadi remaja penyendiri. Satu-satunya teman baik yang Weena miliki adalah Jack. Mereka memiliki kesamaan minat, terutama menyangkut obsesi terhadap segala hal terkait Halloween. Ketika berturut-turut pengajuan diri mereka sebagai volunteer dalam Festival Halloween Manhattan ditolak, datang undangan misterius lain. Meskipun sempat ragu, Weena dan Jack tetap tak ingin menyia-nyiakan kesempatan langka menghadiri Festival Halloween, apalagi jika ditilik dari lokasi yang disertakan ternyata tidak jauh dari Festival yang awalnya hendak mereka kunjungi.

    Meskipun sempat nyaris tak mendapat izin mamanya, Jack akhirnya bisa pergi bersama Weena. Ternyata obsesinya mengunjungi Festival tersebut ada kaitannya dengan papa kandungnya yang disebut-sebut menghilang bertahun-tahun lalu. Setibanya di Manhattan, Weena dan Jack sempat kebingungan menemukan lokasi yang ditunjukkan undangan, yang anehnya lagi disertai petunjuk dan mantera. Hingga mereka bertemu gadis setempat bernama Anne yang lantas mengenalkan mereka kepada Dyllan dan Frank yang ternyata juga diundang ke Festival misterius. Selain itu, ada juga Pieter, teman baik Anne yang ramah namun terkadang tampak misterius. Berkat kejelian, akhirnya Weena, Jack, Anne, Dyllan, dan Frank berhasil menemukan lokasi lalu masuk ke sebuah tempat ajaib bernama Far-Far Away, sesuai yang diarahkan undangan.

    Di Far-Far Away, kelimanya disambut penduduk yang misterius dan ajaib. Ada keluarga Drakula, para Dwarf, Mr. Edward, Miss Fairy, para Zombie, Mr. Merlin, hingga Mr. Maple yang misterius. Segala hal dalam Far-Far Away benar-benar bagaikan dongeng fantasi. Melalui sebuah upacara penyambutan disertai sumpah, kelima undangan memulai petualangan. Tak disangka, mereka juga diajak berpartisipasi dan berbaur dengan parade Festival Halloween di Green Village. Namun, menjelang parade mulai muncul kejadian-kejadian aneh, dan puncaknya teror mengerikan yang terjadi di malam parade.

    Weena bahkan mencurigai teman-temannya sendiri. Hingga dia diharuskan menggunakan kekuatan demi menyelamatkan nyawanya dan menguak misteri akan dalang di balik teror. Di sini pulalah dia dihadapkan pada pilihan apakah akan menjadi monster mengerikan ataukah berdiri di sisi kebaikan.

REVIEW:
    “Tidak masalah menjadi monster atau pahlawan, itu hanyalah sebutan. Tapi yang penting adalah bagaimana menerima diri apa adanya.” (hlm. 304)

    Mengangkat tema Halloween, novel fantasi dengan aura misteri dan thriller yang kental ini berseting Amerika Serikat dan Indonesia. Deskripsi seting cukup mendetail, terutama bagaimana membangun dunia fantasi Far-Far Away dan situasi Festival Halloween. Di dalam buku juga disertakan ilustrasi di beberapa halaman yang mendukung deskripsi dan memudahkan saya membayangkan cerita.

Tokoh-tokoh utamanya remaja yang memiliki kekuatan dan bakat unik yang membuat mereka berbeda dan dalam keseharian dijauhi teman-teman sebaya. Menggunakan POV orang pertama—aku sebagai Weena, novel ini ingin membuat pembaca merasakan bagaimana menjadi remaja yang dicap sebagai monster ‘hanya’ karena berbeda. Dan menurut saya hal ini cukup berhasil. Saya bisa merasakan konflik batin Weena terkait jati diri dan peran keluarga serta teman baiknya dalam mendorongnya membuat keputusan di saat-saat kritis. Karakter Weena sendiri meskipun terkadang masih terkesan labil dan gamang dengan jati diri, tapi tetap mempunyai sisi-sisi positif, semisal kesetiakawanan, kasih sayang, kecerdasan, dan keberanian. Demikian juga dengan sosok Jack yang sering tampak acuh tapi sebenarnya perhatian dan pemberani. Tokoh-tokoh remaja lain juga memiliki kekuatan karakter masing-masing. Penokohan secara keseluruhan kuat, juga tetap logis dan manusiawi.

    Alurnya dominan maju dan plotnya terbilang rapi. Petunjuk demi petunjuk yang mengarahkan pembaca pada rahasia masa lalu serta mengerucut pada konflik utama disuguhkan dengan apik. Saya diajak menebak apa kekuatan dari masing-masing tokoh dan kaitannya dengan teror, siapa yang baik atau jahat. Sisipan wawasan terkait Halloween dan teori psikologis untuk menunjang cerita dan penokohan pun disuguhkan dengan cukup luwes. Saya sebagai pembaca merasa mendapat asupan informasi yang relevan dengan cerita. Twist dan ending-nya pun logis dan dapat saya terima. Memuaskan, dengan pesan moral yang jelas. Meskipun terpancing untuk ikut menerka-nerka teka-teki teror, saya tetap dapat menikmati keseluruhan cerita.

    Bagi pembaca remaja, novel ini layak sekali dibaca. Gaya bahasanya yang ringan akan membuat nyaman meskipun ini merupakan novel remaja bertema fantasi. Saya menantikan karya penulis selanjutnya, tentunya dengan ide baru lainnya.

Sabtu, 30 Juni 2018

Kilovegram: Cinta Bukan Soal Ukuran Tapi Soal Perasaan

Posted by Menukil Aksara | 8:07:00 AM Categories:
Judul                : Kilovegram
Penulis             : Mega Shofani
Desain sampul  : Orkha Creative
Penerbit           : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit     : 2018, cetakan pertama
Tebal buku       : 272 hlm; 20 cm
ISBN                : 978-602-03-7915

BLURB:
    Kata orang, Aruna itu sebenarnya cantik, tapi... gendut.

    Iya, Aruna tahu ia gemuk. Ia pun kenyang dan tidak mempan lagi diejek. Habisnya bagaimana? Ia paling sulit menolak makanan, apalagi yang enak. Masakan Mama, misalnya. Atau traktiran Raka, sahabatnya.

    Tetapi sikap cuek Aruna mulai berubah setelah Nada, sepupunya yang cantik dan serbabisa, masuk ke SMA yang sama dengannya. Bukan itu saja, Raka terang-terangan memuja dan mendekati Nada sehingga membuat Aruna merasa tersisih dan minder. Apa yang harus ia lakukan agar bisa seperti Nada?

    Aruna pun memutuskan mulai berdiet. Bagaimanapun caranya, ia harus langsing , langsing, langsing! Ia tidak akan kalah dengan cewek-cewek lain di sekolah dan akan mendapatkan kembali perhatian Raka.

    Diet dimulai dari... sekarang!

SINOPSIS:
    “Gimana mau punya cowok kalo badan aja pipi semua? Gimana mau ada yang naksir, betis aja kayak tabung gas begini? Jatuh cinta sih jatuh cinta... Yang nangkep cintanya ada nggak?” (hlm. 21)

    Aruna Mega yang akrab disapa Runa memasuki sekolah baru, SMA Angkasa Jakarta. Di SMA ini ada sahabat baiknya semenjak kecil, Raka Gheoputra alias Raka yang sudah jadi siswa senior. Sebagai pengurus OSIS, Raka terlibat dalam kepanitiaan masa orientasi siswa baru. Dan pagi itu, Raka sedang berlagak serius menghukum Runa melakukan push-up. Awalnya hukuman berjalan semestinya dengan diselingi adu mulut setengah bercanda di antara Raka dan Runa, tapi mendadak terhenti karena Runa jatuh pingsan. Ternyata pagi itu Runa melewatkan sarapan karena kesiangan bangun. Di rumah kemudian, Mama mengabarkan bahwa sepupu Runa yang bernama Nada Aurelia atau Nada akan pindah sekolah ke Jakarta dari Tasikmalaya. Tak hanya itu, Nada memilih bersekolah di SMA yang sama dan tinggal serumah dengan Runa. Tentu saja Runa antusias karena selama ini dia hanya tinggal berdua dengan mamanya sepeninggal sang papa. Dan lebih senang lagi ketika mengetahui bahwa Nada sekelas bahkan sebangku dengannya.

    Secara fisik dan karakter, Runa dan Nada sangat jauh berbeda. Aruna gemuk, doyan makan, cuek, dan tidak punya sahabat selain Raka. Sedangkan Nada selain cantik alami nan langsing, juga berprestasi di luar mata pelajaran, supel, dan modis meskipun tidak berlebihan. Di hari pertama Nada masuk sekolah, nyaris seluruh siswa terpukau dan tak menyadari bahwa dia dan Aruna adalah sepupu. Demikian pula dengan Raka yang ikut terpikat dan tak menyangka bahwa Runa memiliki sepupu secantik Nada. Dimulailah aksi pendekatan Raka terhadap Nada. Apalagi dalam waktu dekat akan diadakan pentas seni sekolah, dengan menggelar aneka lomba. Nada yang ikut serta dalam lomba puisi diiringi petikan gitar akustik dan rajin berlatih di ruang musik kerap disambangi Raka. Perlahan Raka seolah tak punya waktu lagi untuk Runa. Hal ini membuat Runa merasa tersisih. Selain itu, teman-teman di sekolah pun menyanjung Nada sehingga sontak membuat Runa membanding-bandingkan dirinya dengan sang sepupu hingga terbitlah rasa minder. Di lain pihak, dua teman perempuan Runa sejak SD, Diana dan Imey yang terkenal suka bergosip juga bersekolah di SMA Angkasa. Mereka berdua semenjak dulu gemar mengganggu Runa. Dua cewek itu bahkan punya nama sapaan khusus untuk Aruna: Arundut. Walaupun sebagian besar waktu Runa tak menanggapi cemoohan mereka, tapi sesekali dia juga membela diri dengan melontarkan balik perkataan pedas.

Ketika tawaran Raka agar Runa mendaftar di ajang lomba pagelaran busana datang, Runa akhirnya menerima. Runa bertekad ingin menunjukkan pada semua orang bahwa dia pun berani berekspresi dan tidak akan kalah dengan cewek-cewek lain di sekolah. Sayangnya, ketika hari diadakannya pagelaran busana datang, Raka yang menyaksikan penampilan Runa yang berubah drastis justru menertawakan dan mengolok-olok di depan teman-teman mereka. Ditambah lagi, gaun yang dikenakan Runa kembaran dengan Nada. Tapi Raka tak menyadari kesalahannya dan menganggap itu sekadar candaan antarsahabat. Walaupun sempat jatuh mental, Runa pada akhirnya memilih tetap maju ke perlombaan. Dia tak sudi menyerah. Dan tak dinyana, justru dalam perlombaan tersebut Runa menyabet dua gelar juara sekaligus. Momen ini memacu semangat Runa untuk berubah. Selain itu, dia juga ingin merebut kembali perhatian Raka. Maka Runa memutuskan mengonsumsi obat pelangsing yang dijual bebas di pasaran lewat toko daring. Dia juga ngotot mengurangi porsi makan dan rajin berolahraga sendiri.

    Selama proses mencapai bobot tubuh ideal tersebut, hubungan persahabatan Runa dan Raka makin merenggang. Bahkan, sebuah insiden kesalahpahaman yang diwarnai adu mulut dan emosi yang memuncak membuat hubungan dua sahabat ini memburuk. Suatu hari, ketika seorang senior laki-laki bernama Valen mengganggu Runa tepat di depan mata Raka, ia bahkan tak membela bahkan pura-pura tak mengenal Runa. Tapi Runa tak gentar dan justru menunjukkan sikap perlawanan dengan kata-kata menohok yang membuat Valen dan yang menyaksikan tercengang. Di lain sisi, efek ‘program’ diet ketat yang dijalani Runa diam-diam mulai menampakkan hasil. Banyak teman sekolah yang nyaris tak mengenali lagi Runa dengan ‘penampilan’ barunya dan tak sedikit yang memuji. Termasuk Raka, yang pada sebuah kesempatan acara makan malam bersama keluarga, tak menyangka akan menyaksikan Runa yang cantik dalam balutan gaun yang terasa familier. Namun kecanggungan di antara mereka belum reda, apalagi Runa teringat bahwa Raka semakin dekat dengan Nada akhir-akhir ini.

Hingga suatu waktu, Mama mendorong Runa untuk berpartisipasi dalam sebuah lomba pagelaran busana berskala lebih besar daripada yang diselenggarakan di sekolah. Runa pun mengiakan saran sang mama. Yang mengejutkan, ketika berada di area kompetisi, Runa bertemu dengan Diana. Rupanya Diana juga ikut berkompetisi. Sesudah diselingi adu mulut, dua gadis ini bersaing di panggung. Dan betapa tercengangnya Diana ketika di momen pengumuman, gelar juara yang direbutnya masih kalah level dibanding yang berhasil diraih Runa. Dilontarkanlah pernyataan menusuk kepada Runa sebagai aksi pelampiasan atas kekesalannya.

Selang beberapa waktu kemudian, ketika Runa bersiap meninggalkan area sekolah di sore hari, tak sengaja dia memergoki seorang cowok tak dikenal hendak berbuat tak senonoh terhadap Diana. Beruntunglah Runa berhasil membuat cowok itu pergi berkat keberaniannya. Diana yang merasa berterima kasih lantas mengenalkan Runa pada kakak laki-lakinya, yang ternyata adalah Valen. Semenjak itulah hubungan Runa, Diana, dan Valen berubah baik. Ketika suatu hari Runa dirawat di rumah sakit, Diana dan Valen bahkan juga datang membesuk. Raka yang pada saat itu juga berada di ruangan yang sama, merasa terkejut dengan kedekatan mereka. Diam-diam, tebersit rasa cemburu. Ditambah lagi, di hari-hari selanjutnya, Valen kerap bersikap manis pada Runa. Puncaknya, Raka mengultimatum Valen agar menjaga jarak dengan Runa yang berubah menjadi petaka. Tak lama kemudian Raka mengumumkan bahwa dia dan Nada telah resmi berpacaran. Runa yang tak bisa membohongi diri sendiri, berkeluh kesah dan menceritakan isi hatinya pada Diana. Diana menyarankan agar Runa mengakui perasaaannya secara langsung pada Raka.

Apakah Raka lebih memilih sahabat yang ternyata berubah suka padanya, atau sepupu sahabatnya yang nyaris sempurna dan juga menyukainya?

REVIEW:
    “... cinta bukan sekadar mementingkan fisik. Melainkan melibatkan lebih dari itu... perasaan. Dan kelak akan ada saatnya seseorang yang mebuktikan semua itu.” (hlm. 118)

    “Ketika keadaan menekan seseorang, dia dituntut berubah agar bisa keluar dari tekanan. Itu yang gue lakukan.” (hlm. 151)

    Tema yang diangkat oleh teenlit satu ini memang tidak asing lagi di kalangan remaja. Tentang penilaian seseorang berdasarkan penampilan fisik semata serta konflik bullying yang mengiringi, juga kisah persahabatan yang berubah cinta. Tapi penulis menurut saya sukses mengeksekusi tema tersebut menjadi kisah segar yang menarik dan tetap relevan. Penggunaan POV orang ketiganya pas, membuat saya tetap merasa ‘dekat’ dengan masing-masing tokoh. Walaupun Aruna menjadi tokoh sentral, POV ini menjadikan tokoh lain terasa sama penting dan berperannya dalam keseluruhan kisah. Seting Jakarta, terutama di sebuah SMA, dengan segala pernik kehidupan siswa menjadikan novel ini tak kehilangan nuansa kehidupan remaja. Ditambah lagi kisah persaingan dalam kompetisi luar sekolah, masalah kenakalan remaja yang ada kaitannya dengan keluarga, menjadi ‘bumbu’ yang membuat kisah lebih menarik sekaligus tak kehilangan arah. Alur maju yang mendominasi juga nyaman untuk diikuti.

    Tentang penokohan, selain Aruna sebagai tokoh sentral, kehadiran Raka dan Nada cukup menyita perhatian. Meskipun tidak memfavoritkan Raka (yang dengan segala ucapan pedas, keegoisan dan sikap plinplannya bikin saya geregetan setengah mati), saya tetap mengapresiasi perannya yang secara tidak langsung memicu semangat Runa untuk berani berekspresi dan mengusahakan perubahan. Nada pun menjadi tokoh penengah yang terkesan netral, walaupun tetap disisipkan sifat manusiawi di mana dia juga senang diperhatikan dan ingin memiliki seseorang yang disukai. Selain itu, Diana, Imey, dan Valen yang pada dasarnya menjadi antagonis, menambah keseruan cerita. Saya paling suka adegan ketika Runa berkonfrontasi dengan Diana dan Valen sebelum mereka berubah menjadi teman baik. Emosinya sangat terasa. Juga disisipkan kata khas ala Runa yang membuat saya senyum-senyum. Yang sedikit saya sayangkan adalah sosok Vio, seorang senior baik hati yang perannya terasa hanya secuil. Padahal sosok ini cukup menarik dan membuat saya penasaran dengan latar belakangnya. Sedangkan mama dari Aruna berperan cukup penting sebagai sosok dewasa pengayom dan panutan para tokoh remaja di sini.

    Mengenai deskripsi, nuansa kehidupan sekolah dan remaja pada umumnya cukup sukses digambarkan. Hanya sedikit catatan mengenai fashion style para tokoh dalam beberapa kesempatan. Terutama momen ketika Runa, Nada, dan Diana terlibat kompetisi pagelaran busana. Saya merasakan detail pemaparan penulis tentang istilah-istilah khusus jenis busana dan aksesoris yang dikenakan masih kurang terperinci. Seharusnya riset bisa lebih mendalam lagi agar terasa ‘feel’ kompetisinya. Detail ini juga bisa mempertajam karakter tiap tokoh tersebut.

    Secara keseluruhan, saya suka sekali dengan teenlit ini. Kovernya 'remaja banget', dengan paduan warna yang menarik, juga ilustrasi tokoh Aruna yang kece sekaligus menggambarkan isi buku. Emosi saya campur-aduk selama membaca. Ada kalanya tertawa dan senyum geli, gemas, kesal, dan tersentuh. Salut dengan sikap pantang menyerah Runa, dengan keberaniannya, dengan sikapnya yang terkesan cuek tapi baik hati dan mudah memaafkan, serta sikap hormatnya pada yang lebih tua. Runa mewakili pesan cerita tentang menjadi sosok remaja yang berkarakter, tidak mudah terpengaruh efek buruk pergaulan masa kini. Novel yang menghibur sekaligus patut dibaca oleh para pembaca belia masa kini, terutama yang sedang gamang mencari jati diri.
   

Senin, 21 Mei 2018

Arterio: Sebab Cinta Sejati Mengalir Sampai ke Jantung

Posted by Menukil Aksara | 11:15:00 AM Categories:
Judul buku             : Arterio
Penulis                   : Sangaji  Munkian
Editor                    : Auliya Milatina Fajwah
Penerbit                 : BITREAD Publishing
Tahun terbit           : 2018
Tebal buku             : XII + 410 hlm.
ISBN                      : 978–602–5634–1-6

BLURB:
    Seseorang yang menekuni bidang medis umumnya berperangai ramah, penyabar, dan punya kepedulian yang tinggi untuk menolong mereka yang terluka, tetapi itu tidak berlaku bagi Zag Waringga, dia tipikal pemarah, emosian, juga pendendam. Alih-alih menciptakan ramuan yang dapat menyembuhkan, Zag justru menciptakan racun paling mematikan. Lain halnya dengan Nawacita, dia adalah sosok yang begitu perhatian, penuh belas kasihan, tetapi terlampau naif, padahal dia memiliki potensi istimewa yang selangka bintang jatuh, yakni merasakan detak jantung beserta aliran darah secara terperinci.

    Arteri(o) akan mendenyutkan sebuah kisah yang berangkat dari pertanyaan: apakah tempat yang kini kau tempati sudah tepat? Bagaimana jika itu tidak sesuai dengan karakter dan tujuan hidupmu? Apakah petuah di mana pun kau ditempatkan Tuhan selalu punya alasan, perlu direvisi?

    Arteri(o) sebagai pembuluh yang mengalirkan darah dari jantung ke seluruh bagian tubuh, akan mengajakmu ke dunia yang lain dari pada yang lain, kisah yang meletupkan fantasi, aksi, konspirasi, dan tentu saja romansa yang tepat menghujam jantungmu.

    Aku ingin menjadi arteri sang pembuluh, yang bersama degup terjujurmu mengarungi setiap ruas jaringan tanpa sekalipun berpikir melewatkannya.
SINOPSIS:
    “Kita tidak dianjurkan berambisi melewati batas kuota.” (hlm. 35)

    “... tiap manusia diberi kemampuan tersendiri oleh Tuhan, kemampuan yang istimewa dan jarang ada pada yang lainnya.” (hlm. 35)

    Di sebuah negara bernama Kartanaraya di mana sistem pendidikannya unik, terdapat Akademi yang membagi siswa-siswanya ke dalam lima jurusan. Tiap siswa yang telah melewati masa inisiasi akan menjalani pendidikan di salah satu jurusan tersebut, yang juga akan menjadi status sosial permanen yang melekat pada dirinya. Hanya kejadian luar biasa yang memungkinkan siswa berpindah jurusan. Kelima jurusan tersebut adalah Lazuar, Vitaera, Pragma, Arterio, dan Zewira. Lazuar adalah mereka yang mencintai ilmu hayati. Vitaera adalah mereka yang mendalami ilmu tentang manusia, seluk beluk terkait sejarah, bahasa, perilaku, dan seluruh budaya. Arterio adalah mereka yang menggandrungi ilmu tentang kesehatan dan penyembuhan. Pragma adalah mereka yang menekuni ilmu praktis yang dapat dilihat, dihitung, dan dilakukan secara teknis. Sedangkan Zewira adalah mereka yang memaknai tentang kedalaman pikiran, kekuatan, struktur pemerintahan, perjuangan, dan ketertiban. Zewira acapkali dipandang spesial. Letak gedung jurusan dan asrama pun terpisah dari yang lain.

    Zag Waringga adalah Arterio strata muda berusia 18 tahun. Tak seperti murid lainnya, Zag tidak bisa menerima jurusannya. Dia sesungguhnya berharap masuk Zewira. Bukanlah tanpa alasan, hal ini ada kaitannya dengan dendam atas kematian ayahnya oleh pimpinan pasukan musuh Jaharu bertahun-tahun silam. Menjadi Arterio dianggap Zag tak mendukung rencana balas dendamnya. Oleh sebab itu, alih-alih bersemangat mempelajari ramuan penyembuhan, Zag justru diam-diam belajar meracik racun mematikan, bahkan yang sangat sulit. Dia kerap menyambangi Laboratorium Tumbuhan Kuno dan Racun tanpa izin demi mendapatkan catatan rahasia terkait racun yang diincarnya. Bahkan di malam Soir atau semacam pesta dansa, Zag lebih memilih menghabiskan waktu di Laboratorium tersebut. Di masa kunjungan tak berizinnya inilah Zag berjumpa salah seorang anggota keluarga Nayef. Anak bungsu keluarga bangsawan tersebut yang bernama Kiastra justru membantunya secara tak langsung dalam meracik racun. Tapi kemudian Kiastra menggunakan ‘bakatnya’ demi membuat Zag lupa akan identitas dirinya dan pertemuan mereka.

    Di lain pihak, ada Nawacita Lumie, gadis penyayang yang mencintai Zag. Cita satu angkatan dan satu jurusan dengan Zag. Bertiga bersama Datroit, mereka adalah kawan karib. Cita dan Datroit mengetahui ambisi Zag dan tak bosan mengingatkan bahwa Zag seharusnya menerima penempatannya di Arterio. Hingga suatu hari, diumumkan sebuah kabar menggemparkan tentang penyerangan Jaharu ke kota Purwa. Di ibukota Karta, Anggota Dewan dan keluarga Nayef membuat kebijakan dengan membentuk Laskar Patriot, di mana para pemuda bisa mengajukan diri untuk menjadi bagiannya. Zag tak melewatkan peluang ini. Ketika diumumkan siapa saja yang lolos seleksi, Zag sangat kecewa mengetahui bahwa dia lolos tapi ditempatkan di pasukan cadangan paling belakang, itu pun bersama para Arterio muda, termasuk Cita dan Datroit.

    Namun tak diduga semua orang, pasukan cadangan paling bontot ini justru menjadi sasaran empuk pasukan Jaharu. Mereka disekap di kota bawah tanah, ironisnya bersama sepasukan Zewira yang sudah babak belur. Hingga di sebuah momen krusial, Zag berhasil menantang Jou Ozlem sang pemimpin untuk berduel satu lawan satu. Berkat latihan fisik bersama sahabat Zewiranya bernama Lankurt, Zag mampu mengimbangi adu fisik. Selain itu, siasat liciknya menggunakan ramuan racun mematikan yang sudah dipersiapkan berhasil menewaskan Jou Ozlem. Cita lantas membantu di saat kritis menggunakan ‘bakatnya’. Dia melumpuhkan pasukan Jaharu tanpa kendala hanya dengan menguasai detak jantung dan aliran darah mereka. Arterio dan Zewira yang disekap pun berhasil lolos. Atas jasa mereka, Zag, Datroit, dan Cita mendapat penghargaan. Khusus untuk Cita, tak hanya penghargaan dan hadiah, keluarga Nayef melalui Madame menawarinya pindah jurusan ke Zewira. Permintaan yang sesungguhnya disertai ancaman dan perintah ini pun lantas membuat Cita terpojok. Demi memudahkan perpisahan, dia berbohong pada Zag di pertemuan terakhir. Zag yang belum lama menyatakan perasaan pada Cita pun sontak terkejut dan sangat kecewa. Zag juga telah mampu menerima keberadaannya di Arterio, tapi kabar dari Cita menyulut amarahnya.

    Cita kemudian memulai hari-harinya di asrama Zewira. Ternyata tak sendirian, ada tiga murid lain yang pindah ke Zewira bersamanya, masing-masing memiliki ‘bakat’ yang unik. Di asrama, Cita juga berkawan baik dengan Lanina. Masa adaptasi yang berat, disertai pola pendidikan yang jauh lebih keras daripada di Arterio, memaksa Cita fokus dan melupakan perpisahandengan keluarga dan Zag. Selain itu, seorang senior bernama Rafidan kerap menyusahkannya. Rafidan seolah membenci dan sengaja memplonconya. Namun, suatu hari sikap Rafidan melunak dan puncaknya beberapa waktu kemudian bahkan mengajak Cita berkencan. Rafidan bahkan berani menyatakan cinta. Cita tentu saja terkejut dan gamang, apakah dia juga mulai memiliki perasaan pada Rafidan.

    Beberapa waktu kemudian, di acara simbolisasi pembangunan kembali Kota Purwa, sebuah tragedi penyerangan Jaharu kembali terjadi. Cita yang hadir bersama para Zewira turut melakukan perlawanan dan penyelamatan. Di momen inilah kedok Rafidan terkuak. Fakta ini jelas mengejutkan Cita. Di saat kritis, datanglah teman-teman Zewiranya, juga Zag dan Datroit. Bersama-sama mereka lantas berupaya menggagalkan rencana besar busuk Jaharu dan menyelamatkan bangsa.

REVIEW:
    “Aku sadar bahwa balas dendam dan keadilan adalah hal yang berbeda.” (hlm. 384)

    “... balada yang paling menyedihkan adalah dia yang mengetahui sesungguhnya dia memperoleh cinta dengan teramat, tetapi ia terlambat menyadarinya.” (hlm. 391)

    Novel bergenre fantasi karya penulis Indonesia ini mengusung tema menarik tentang impian, cinta, dan pencarian jati diri. Premisnya juga menjanjikan. Tak ada mythical creatures dan penyihir ala fantasi umumnya. Seting negara Kartanaraya tidak dijelaskan detail, di bagian dunia mana tepatnya. Meskipun demikian, sempat terselip keterangan musim semi dan dari gaya hidup maupun penampilan rakyatnya, seolah menyiratkan era di masa lampau. Saya cukup puas dengan detail seting dan pembelajaran di jurusan Arterio maupun Zewira yang lebih disorot di buku ini ketimbang jurusan lain. Juga dengan ide dan penjabaran aneka ‘bakat’ beberapa tokohnya. Ide yang segar dan cerdas. Alurnya campuran, tapi tetap didominasi alur maju.

Gaya bahasa menggunakan diksi yang dijalin indah dan berima. Taste-nya jadi berbeda dengan novel kontemporer atau novel fantasi terjemahan dan novel fantasi Indonesia lain yang pernah saya baca. Salut dengan kepiawaian penulis bermain diksi. Sayangnya ini kurang klop dengan selera saya sehingga cukup mempengaruhi feel baca. Tambahan lagi, beberapa kali saya menemukan paragraf narasi yang agak bertele-tele, yang menurut saya kalaupun dibuang tak akan mempengaruhi jalan cerita. Sejumlah typo juga masih dijumpai. Diantaranya ada yang terulang: bias (:bisa), dating (:datang), lancer (:lancar). Juga kata-kata yang hilang sehingga saya harus mengira-ngira apa yang coba disampaikan penulis. Penggunaan tanda baca koma juga kerap tak tepat. Kalimat jadi terlalu panjang, yang seharusnya bisa dipenggal dengan titik.

Pemilihan POV orang pertama bergantian Zag dan Cita pun menarik. Saya suka karakter Zag yang sinis, blakblakan, tangguh, dan cerdas, meskipun dia sempat terbelenggu ambisi balas dendam. Kisah dalam sudut pandang Zag jadi lebih menarik bagi saya. Berbeda dengan ketika kisah berganti sudut pandang Cita. Saya merasa cukup bosan apalagi saya kurang suka dengan karakter Cita. Dia terlampau naif dan kerap kali terkesan lemah dan plinplan, walaupun penuh belas kasih. Chemistry dan romansa antara Zag dan Cita pun kurang bisa saya rasakan. Paling mengherankan ketika Zag tak menunjukkan rasa cinta sama sekali kepada Cita tapi lantas mengakui perasaan, tak lama usai tragedi penyekapan di Kota Purwa. Saya merasa ini terlalu dipaksakan dan tiba-tiba. Demikian juga dengan Cita yang terkesan terlalu mudah melupakan Zag dan menerima Rafidan—meskipun ada pengungkapan fakta alasan di balik ini. Padahal dikisahkan sebelumnya bahwa Cita sangat mencintai Zag, bahkan ketika cintanya masih bertepuk sebelah tangan. Keganjilan lain adalah perihal fakta ramuan cinta Kaias yang digunakan Rafidan. Padahal Rafidan bukan murid Arterio sedangkan bahkan murid Arterio pun sering kali gagal meracik karena syarat yang pelik. Penjelasan tentang perjanjian gelap pertukaran jiwa pun kurang. Interaksi antara Rafidan, Cita, dan Zag juga belum mampu menggugah saya. Sepanjang cerita bisa dibilang saya hanya mengikuti saja sampai tamat tanpa benar-benar merasakan teraduk-aduk emosi. Sesungguhnya plot, twist, dan ending cukup bagus. Hanya saja eksekusi di beberapa bagian masih kurang mulus.

Selain Zag, cukup suka kehadiran tokoh-tokoh pendukung:Datroit, Lankurt, Lanina, Parame, Oktavio, dan Bara. Mereka memberi kontribusi peran yang cukup penting. Sedangkan tokoh yang paling memantik rasa ingin tahu adalah Kiastra. Di buku ini kesan misteriusnya sangat kental. Selain itu dia punya andil dalam peran Zag di masa kecamuk. Jika benar penulis berencana menyoroti keluarga Nayef lebih jauh di buku kedua, saya berharap teka-teki Kiastra digali mendalam. Overall, novel yang rencananya akan menjadi saga ini menjanjikan dan bisa jadi pilihan bacaan para penikmat novel fantasi bercita rasa Indonesia. Ditunggu kelanjutannya.



Senin, 14 Mei 2018

False Beat: Hubungan Persaudaraan yang Terputus oleh Ego

Posted by Menukil Aksara | 10:17:00 AM Categories:
Judul buku             : False Beat
Penulis                   : Vieasano
Editor                    : Kavi Aldrich
Desain sampul       : Orkha Creative
Penerbit                 : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit           : 2018, cetakan pertama
Tebal buku             : 296 hlm; 20 cm
ISBN                      : 978-602-03-8226-5

BLURB:
“Nggak usah lihat-lihat. Gawat kalau lo nanti suka sama gue.”

Gara-gara terlilit utang dengan om-nya, Aya harus rela menjadi manajer Keanu & the Squad. Sebenarnya pekerjaan itu tak seburuk yang dia bayangkan, kalau saja bukan Keanu yang harus dihadapinya. Vokalis sekaligus pentolan band itu mungkin punya banyak fans. Dan harus dicatat, Keanu tuh punya wajah ganteng, bibir seksi, penampilannya keren, dan suara yang bagus banget. Tapi, Keanu punya segudang kelakuan ajaib yang membuat Aya tak bisa berkutik, juga membuat jadwal roadshow band itu berantakan!

Aya pun mencari cara untuk mengendalikan Keanu agar roadshow berjalan lancar. Baru saja merasa menemukan jawaban, Aya malah terjerumus dalam masalah baru: mengetahui rahasia besar Keanu yang membuatnya terperangkap dalam drama tak berujung.

SINOPSIS:
    “Eh, lo tahu kan istilah ‘benci jadi cinta’? Atau teori ‘batas benci dan cinta hanya setipis kertas’? Nah, maksud gue, lo harus bersyukur paling nggak Keanu keren... Jadi kalau lo sama dia akhirnya saling tertarik, paling nggak lo nggak zonk-zonk banget deh!” (hlm. 67)

    Kanaya Talitha atau yang biasa disapa Aya belum lama menyudahi masa kerja magangnya di Jepang. Belum lagi dia mampu menemukan pekerjaan tetap di Bandung, om-nya ‘menjebak’ dengan mengatasnamakan pelunasan utang dan menjadikan Aya manajer band yang berada di bawah naungan manajemen artisnya. Keanu & the Squad, demikian nama band tersebut, yang sedang berada di puncak popularitas dan digadang-gadang akan makin sukses di masa mendatang oleh Om Putra. Aya yang tak memiliki pengalaman maupun latar belakang profesi sebagai manajer mengajukan keberatan. Selain itu, dia merasa tak akan cocok dengan Keanu sang vokalis sekaligus pentolan band tersebut, setelah menyaksikan kelakuan lelaki itu di layar kaca. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Aya tak hanya gagal membujuk Om Putra, bahkan ‘terjebak’ kontrak perjanjian untuk kali kedua.

    Nahas bagi Aya, ketika bertemu secara langsung dengan Keanu untuk pertama kalinya, dia justru langsung dicap mesum akibat kecerobohannya sendiri. Insiden memalukan itu juga sempat disaksikan oleh Randy, Jonas, Adrian, dan Regan, yang merupakan personel band. Meskipun sudah diklarifikasi dibantu oleh om-nya, Keanu tetap menunjukkan sikap tak bersahabat dan ketidaksetujuan atas posisi Aya sebagai road manager sekaligus personal manager-nya.

Maka neraka yang sesungguhnya pun dimulai. Band yang memiliki fanbase kuat tersebut dijadwalkan menjalani roadshow keliling Indonesia dalam rangka hari jadi band yang ketiga. Selama roadshow, seperti yang dibayangkan Aya sebelumnya, Keanu kerap berkelakuan ajaib alias tak disiplin dengan jadwal tur dan promo. Vokalis ini kerap menghilang tanpa pemberitahuan, pulang ke Bandung di tengah-tengah jadwal syuting promo, dan amat jarang berperjalanan bersama personel band-nya dalam sleeper bus. Jelas saja Aya dibuat pusing dan terkena dampaknya. Banyak pihak yang dikecewakan dan berimbas permohonan maaf yang harus dilontarkan Aya sebagai manajer. Menuruti saran Audy sahabatnya, Aya berinisiatif mengajak Keanu bicara empat mata baik-baik. Tapi lagi-lagi, pemilihan waktu yang tidak tepat dan nada bicara yang gampang tersulut emosi membuat rencana ini gagal dan menambah aura permusuhan antara keduanya.

Tak sanggup lagi, Aya pun mengeluhkan penderitaannya kepada Audy, Fauzan, dan Bobby, sahabat-sahabatnya semenjak SMA. Ketika sesi curhat masih berlangsung, mereka menyaksikan konferensi pers di televisi mengenai sebuah kasus hukum yang melibatkan seorang figur publik. Betapa terkejutnya Aya dan para sahabatnya ketika melihat sosok pengacara yang menangani kasus tersebut yang sangat mirip dengan Keanu. Usut punya usut, ternyata pengacara muda tersebut merupakan saudara kembar Keanu. Kevin Ekaputra Pradipta, demikian nama kakak kembar Keanu tersebut, sontak menarik perhatian dan menerbitkan ide sebagai jalan keluar persoalan Aya. Bermaksud meminta dukungan dan bantuan Kevin untuk ‘mendisiplinkan’ adiknya, Aya berangkat ke kantor Pradipta & Assosiates untuk menemui langsung Kevin. Di sana Aya juga bertemu dengan seorang wanita muda yang disapa Key. Wanita yang langsung mengundang kekaguman Aya berkat kecantikan dan keanggunannya. Dan betapa kecewa Aya ketika pada akhirnya menyadari kedatangannya ke sana sia-sia. Kevin tak hanya menolak mentah-mentah permohonan bantuan dari Aya tapi juga bersikap menyebalkan sehingga memicu amarah Aya.

Di lain pihak, dalam sebuah promo dan wawancara live radio, Keanu bersikap tak sopan ketika sang penyiar meminta komentarnya terkait Kevin. Agaknya rumor mengenai hubungan mereka yang tak harmonis benar adanya, demikian asumsi Aya. Karena itulah dia lantas tak mempersoalkan lebih jauh. Apalagi selama beberapa waktu ke depan, Keanu bersikap lebih disiplin daripada biasanya. Hingga suatu hari, ketika sedang menengok keadaan mamanya yang masuk rumah sakit, Aya tak sengaja melihat sesosok pria mirip Keanu. Merasa penasaran, dia pun menguntit hingga terkuaklah sebuah rahasia besar yang mengubah segalanya. Mau tak mau, Aya kemudian terlibat dalam drama pelik keluarga Keanu. Tak hanya itu, kasus yang sempat menjadi skandal Keanu di masa lalu yang melibatkan mantan manajernya belum benar-benar usai. Aya pun terjebak di tengah labirin kehidupan Keanu dan mulai melibatkan perasaannya. Ketika mantan bosnya menawarkan kesempatan langka di Jepang, Aya merasakan dilema. Haruskah dia memperpanjang kontrak perjanjian sebagai manajer band dengan Om Putra atau menerima tawaran menjanjikan di Jepang.

REVIEW:
    “Sebuah hubungan darah tidak seharusnya terputus oleh ego. Hubungan antara orangtua dan anak, hubungan antarsaudara, tidak seharusnya terputus oleh apa pun.” (hlm. 271)

    Tidak umum dijumpai novel metropop yang mengambil latar musik, apalagi kehidupan anak band. Dan saya cukup berekspektasi dengan latar musik ini. Ternyata nuansa musiknya dipersempit menjadi seting tur konser ke berbagai daerah di Indonesia, sehingga memang tak akan ditemui adegan proses rekaman lagu atau syuting video musik, seperti yang sempat saya sangkakan. Meski demikian, tetap ada selipan proses kreatif sang vokalis dalam menciptakan lagu dan proses aransemen awal bersama personel band di sela-sela perjalanan tur. Selain itu, deskripsi kemegahan konser, atraksi panggung, lengkap dengan ritual unik jelang tampil cukup memuaskan. Penulis sendiri sempat menyebutkan dua band rock Jepang: One Ok Rock dan My First Story sebagai sumber inspirasi, sehingga mudah bagi saya membayangkan gambaran adegan selama Keanu & the Squad beraksi di atas panggung. Di jelang akhir, saya bahkan sempat ‘merinding’ dan emosional membaca sebuah adegan yang menggambarkan salah satu ritual sebelum manggung Keanu, yang ternyata berhubungan erat dengan konflik utama cerita. Seting di beberapa kota juga cukup berkesan, walaupun kebanyakan hanya sekilas, mengikuti alur dan plot cerita.

    Penulis menggunakan POV orang ketiga tapi tetap mampu membuat saya merasa dekat dengan para tokoh—terutama tokoh utama. Penokohannya menarik, mengambil sosok dua saudara kembar beda profesi dan beda karakter, serta tokoh perempuan yang unik. Keanu yang menganggap musik sebagai hidupnya, luwes bergaul, easy going, dan cenderung mudah disukai sangat berkebalikan dengan Kevin. Selain itu, bagaimana Kevin diposisikan sebagai anak tertua—meskipun mereka kembar, kisah masa kecil dan remaja, dan gambaran konflik batin mereka, pada akhirnya memperkuat simpati saya pada keduanya ketika inti konflik terkuak. Bagi saya, penulis piawai membuat pembaca terlibat secara emosional dengan kedua tokoh ini. Di klimaksnya, saya turut merasakan penderitaan tokoh yang dilatarbelakangi kondisi psikologis yang pelik. Di lain sisi, kehadiran Aya sebagai sosok lucu (tapi tak pernah merasa melucu) dengan sikapnya yang ekspresif, gampang terpancing, agak lemot tapi punya sisi baik, membuat saya gemas sekaligus kangen dengan tingkah konyolnya. Humornya pas untuk saya, mengingatkan akan tokoh wanita dalam drama komedi romantis Korea. Sosok satu ini juga cocok menjadi ‘penengah’ konflik dan membantu tokoh pria menemukan solusi. Chemistry antara Aya dan sang tokoh pria terasa; walaupun tak dibumbui adegan dewasa yang biasa dihadirkan dalam novel metropop, kisah romansa mereka tetap manis dan mengharukan. Sedangkan Key atau Keyzia mendapat porsi yang lumayan besar, terkait kedekatannya dengan Keanu dan Kevin yang cukup pelik. Alih-alih menonjolkan peran orangtua, penulis lebih mengeksplorasi peran Key, yang mana menurut saya sudah cukup tepat. Meskipun saya sebenarnya tetap mengharapkan orangtua si kembar sedikit lebih ditampilkan agar emosi makin gereget. Selain itu, Om Putra juga ternyata menjadi tokoh kunci dalam teka-teki alasan di balik peran Aya sebagai manajer, menyuguhkan twist ending yang lengkap. Yang cukup saya sayangkan terkait penokohan adalah kehadiran personel band yang tak berkesan. Kecuali Randy dan Jonas (saya suka dengan Jonas), saya nyaris melupakan sosok Adrian dan Regan. Bisa jadi dikarenakan format band yang ‘tak biasa’ (bisa diketahui mendetail jika kamu membaca sendiri), sehingga poros tetap pada Keanu. Tapi tetap saja, walaupun mereka hanya tokoh pendukung, seharusnya penulis bisa menciptakan keunikan, gimmick, atau adegan khusus sehingga pembaca tetap ‘ingat’ akan sosok keduanya usai membaca.

Alur dominan maju, dengan sedikit sisipan kilas balik. Plotnya rapi dan sempat membuat saya ikut menebak ke mana arah cerita dan apa konflik utama kedua tokohnya: Keanu dan Kevin. Meskipun ada yang sesuai, namun tetap ada bagian mendasar yang meleset dari perkiraan saya sehingga sukses membuat saya tercengang. Salut dengan ide penulis yang berani! Pada akhirnya, bisa dibilang cukup sulit mengulas novel ini tanpa membocorkan twist yang hendak digulirkan, tapi secara keseluruhan saya puas dengan eksekusi twist dan ending.

Sebuah novel yang ternyata tak sekadar mengangkat nuansa musik dibumbui kisah benci jadi cinta. Pesan moralnya mendalam. Memaknai arti penting keluarga, juga mengajak pembaca untuk lebih mencintai diri sendiri. Yakinlah bahwa tiap orang itu unik dan menarik dengan cara masing-masing sehingga seharusnya kita lebih bersyukur atas hidup dan cinta dari orang-orang terdekat. Terlepas dari sejumlah typo yang masih terselip, saya tetap merekomendasikan novel ini. Baca, deh dan rasakan sensasi terhanyut dengan kisah Keanu dan Kevin. Kamu akan dibuat tertawa lantas menitikkan air mata tak lama kemudian, atau bahkan di waktu bersamaaan.

Jumat, 04 Mei 2018

The Women in the Castle: Kisah Perlawanan Jerman dari Pandang Tiga Wanita

Posted by Menukil Aksara | 8:18:00 AM Categories:
Judul buku          : The Women in the Castle
Penulis                : Jessica Shattuck
Alih bahasa         : Endang Sulistyowati
Editor                  : Nina Siti Aminingsih
Penerbit              : PT Elex Media Komputindo
Tahun terbit        : 2018, cetakan pertama
ISBN                   : 978-602-04-5866-3
Tebal buku         : 441 hlm.

BLURB:
    Di tengah jatuhnya kekuasaan Jerman Nazi, Marianne von Lingenfels kembali ke puri keluarga suaminya yang dahulu kala berdiri tegak sebagai benteng kukuh tapi kini telah rusak seiring dengan berlangsungnya Perang Dunia Kedua.

    Sebagai janda dari anggota perlawanan yang dieksekusi setelah gagal melancarkan rencana pembunuhan Adolf Hitler pada tanggal 20 Juli 1940, Marianne bertekad untuk menepati janjinya kepada para anggota lainnya yang telah berjuang dengan gagah berani: mencari dan melindungi istri-istri mereka, sesama janda perjuangan perlawanan.

    Marianne yakin bahwa penderitaan dan nasib yang sama akan mempersatukan mereka sebagai satu keluarga. Namun dia segera menyadari bahwa kehidupan seusai perang nyatanya lebih rumit dan penuh dengan rahasia-rahasia gelap yang dapat mencerai-beraikan mereka...

SINOPSIS:
    “Pembunuhan adalah perbuatan iblis. Itu tak terbantahkan. Tapi jika itu bisa mengakhiri perang dan mencegah pembunuhan ribuan orang? Bahkan jutaan orang?” (hlm. 89)

    Pada tahun 1938, di tengah kemeriahan pesta di Burg Lingenfels, sekelompok pria dari berbagai latar belakang—yang kemudian menyebut diri gerakan perlawanan—diam-diam sedang membahas segala tindak tanduk Hitler kala itu. Mereka semua nyaris serempak setuju bahwa Hitler di balik karismanya adalah sesosok monster dengan ambisi kekuasaan yang mengorbankan sangat banyak nyawa tak bersalah. Namun apakah lantas membunuh diktator tersebut—dengan segala konsekuensinya—adalah satu-satunya jalan keluar demi mencegah perang dan tertumpahnya lebih banyak darah masih diperdebatkan. Hingga sebuah fakta mengerikan yang terbukti kebenarannya membulatkan kesepakatan kelompok ini untuk melancarkan aksi pembunuhan demi menggulingkan Hitler dari tampuk kekuasaan. Marianne von Lingenfels yang berada di satu tempat yang sama dengan diskusi dan tak sengaja terlibat perdebatan pun lantas mengikrarkan janji untuk menjadi ‘komandan istri dan anak’ dari para anggota gerakan perlawanan. Sebuah ikrar tanda dukungan penuh dan kesetiaan.

    Ketika rencana pembunuhan atas Hitler tersebut ternyata menemui kegagalan, para anggota gerakan perlawanan dieksekusi. Para janda mereka telantar dan mengalami masa kehidupan yang teramat sulit. Demikian halnya dengan Marianne von Lingenfels dan ketiga anaknya. Namun nasib Marianne terbilang masih jauh lebih beruntung ketimbang janda lain berkat nama baik sang suami—Albrecht yang memiliki jabatan dan latar belakang kebangsawanan yang terpandang. Ketika perang usai, di tahun 1945 sesudah usaha pencarian panjang, Marianne berhasil menemukan (sayangnya) hanya dua janda. Mereka adalah Benita Fledermann dan Ania Grabarek beserta anak-anak lelaki mereka yang ditemukan di beberapa tempat berbeda yang sama-sama mengenaskan. Benita jauh lebih muda dari Marianne dan pernah dikenalkan oleh mendiang suaminya, Connie, yang juga merupakan sahabat baik Marianne semenjak kecil. Janda Fledermann ini sosok perempuan yang cantik dari kota kecil Fruhlinghausen tapi rapuh dan sakit-sakitan ketika dibawa ke puri oleh Marianne. Sedangkan Ania terasa asing dan pembawaannya yang pendiam dan tertutup menambah jarak bagi Marianne. Namun, Marianne yang optimistis dan pembawaannya percaya diri layaknya seorang pemimpin telah bertekad bahwa mereka akan hidup sebagai satu keluarga di Burg Lingenfels—yang meski tak megah lagi tapi masih kukuh berdiri pascaperang.

    Masa-masa sulit lantas dijalani keluarga baru ini. Keterbatasan pasokan pangan dan kelayakan sarana tak menjadi halangan. Hingga seorang tawanan perang yang merupakan mantan Nazi bernama Franz Muller diperbantukan di puri seminggu sekali atas rekomendasi seorang kenalan perwira Amerika. Kehadiran Herr Muller disambut baik-baik saja oleh anak-anak lelaki, begitu juga Benita yang diam-diam menyukai keberadaannya. Tapi tidak demikian halnya dengan Marianne yang sangat enggan dengan riwayat keterlibatan Muller dengan Nazi. Bukan itu saja; suatu hari sekonyong-konyong sepeleton tentara Rusia yang kelaparan dan kelelahan singgah di puri demi meminta makanan. Berkat ketegaran Marianne yang didampingi Ania, momen menakutkan dan menegangkan ini mampu dilalui. Tapi satu tindakan ceroboh Benita menimbulkan tragedi yang melibatkan Franz Muller dan lantas ditutup-tutupi. 

    Kebersamaan tiga wanita beda generasi dan karakter ini berlanjut, hingga di tahun 1950 dikisahkan bahwa mereka tak lagi menetap di puri. Marianne dan Benita pindah ke sebuah flat di Tollingen bersama anak-anak mereka. Sedangkan Ania menikah dengan Carsten Kellerman setelah beberapa waktu menjadi penyewa di tanah milik duda tua tersebut. Marianne turut berbahagia karena menurutnya Carsten adalah pria baik dan telah dikenal sebagai tetangga puri selama bertahun-tahun. Kebahagiaan Ania usai menikah sayangnya tak berlangsung lama, karena seorang pria dari masa lalunya mendadak muncul dan menuntut sesuatu. Rahasia kelam kehidupan Ania ini tak pernah diungkapkannya kepada Marianne maupun Benita. Dan kini pun dia memilih menyembunyikannya, termasuk dari suami barunya. Tapi sebuah kejadian membuat Marianne mengetahui hal tersebut dan merasa sangat kecewa. Dari sinilah hubungan Marianne-Ania merenggang dan berubah. Di lain pihak, Benita juga mengejutkan Marianne dengan mengutarakan maksud untuk menikah dengan Franz Muller. Ternyata selama ini mereka menjalin kontak secara rutin di belakang semua orang. Marianne jelas-jelas menentang dan bahkan menemui Muller secara langsung. Satu tindakan yang lantas memicu konflik dengan Benita.

    Di sisi lain, situasi Jerman yang mulai membaik pascaperang, turut mendukung pendidikan anak-anak. Martin, anak tunggal Benita kemudian bersekolah di sekolah asrama terbaik pilihan Marianne, menyusul Fritz, Elizabeth, dan Katarina—anak-anak Marianne. Pascakepergian Martin, Benita merasa kehilangan tujuan hidup dan memutuskan pulang ke kota asalnya yang sebenarnya dibencinya. Sedangkan Ania melanjutkan hidup dengan menanggung beban rahasia dan dosa dari masa lalu. Waktu pun bergulir dan kisah berlanjut ke masa modern, jauh sesudah Perang Dunia Kedua. Di sini diungkapkan penutup kisah Marianne, Ania, Benita, dan anak-anak mereka.

REVIEW:
    “Terkadang lebih mudah untuk melihat lebih jelas dari kejauhan. Dan yang terlihat di depan mata... lebih sulit dipahami. Ada banyak sekali area abu-abu di antara hitam dan putih... dan di sanalah sebagian besar kita hidup, mencoba, tapi sering kali gagal, untuk berbelok ke arah cahaya.” (hlm. 425)

    Novel dengan seting utama Jerman—di sejumlah kotanya ini dikisahkan dengan alur campuran. Diberi keterangan kota dan penanda waktu yang jelas, ada kalanya kisah berjalan maju, lantas kilas balik menceritakan peristiwa-peristiwa yang dialami para tokohnya—juga Jerman pada umumnya. Secara umum, novel dibagi menjadi tiga bab, yang di dalamnya terdiri dari sejumlah ‘chapter’ kisah. Sudut pandang yang dipilih penulis adalah POV orang ketiga—dengan ‘taste’ seperti POV orang pertama. Saya rasa ini pilihan tepat, mengingat cukup banyaknya tokoh. Eksekusinya juga memuaskan. Saya merasa ‘terhubung’ dengan masing-masing karakter.

    Awalnya saya sempat salah mengira bahwa kisah ini hanya seputar masa Perang Dunia Kedua. Nyatanya, rentang waktu kisahnya panjang, antara tahun 1938 hingga tahun 1991. Dan fokus cerita bukanlah semata kekejaman perang yang juga memicu gerakan perlawanan, tapi justru masa transisi dan jauh sesudahnya. Shattuck ingin menekankan bagaimana dampak perang yang traumatis bisa mengubah segala aspek kehidupan, baik secara global maupun personal. Secara personal, dititikberatkan pada gambaran kisah hidup Marianne, Benita, Ania, anak-anak mereka, dan beberapa orang yang terkait dengan mereka.

    Narasi dan deskripsi Shattuck sendiri menurut saya cerdas, penuh sindiran, dan ada kalanya menyihir dengan perumpamaan yang indah tapi suram. Riset dan proses penulisan novel selama bertahun-tahun pun terbukti mendukung hasil terbaik. Konflik demi konflik terjalin rapi menyusun plot yang membuat saya betah ingin membaca hingga halaman terakhir.

    Konflik dalam novel ini kompleks; tak hanya tercipta dari situasi perang yang pelik dan mengerikan, tapi juga berasal dari pertentangan kepentingan dan perbedaan karakter sejumlah tokohnya. Terkait dengan ini, menurut saya penulis sukses menyajikan penokohan yang kuat. Saya diajak menelusuri dan memahami jalan pikiran masing-masing tokoh, pergolakan batin, hingga rahasia demi rahasia kehidupan mereka. Tiga tokoh utama wanitanya memikat hati saya. Marianne yang cerdas, berasal dari keluarga berpendidikan, bersuamikan pria bangsawan terhormat, berpembawaan optimis dan percaya diri, dan pola pikirnya terbentuk dari moralitas serta batas jelas antara benar dengan salah. Karakter Marianne ini lantas bertentangan dengan sosok Benita yang cenderung pemimpi, mengikuti kata hati ketimbang moral dan apa pandangan orang. Demikian pula dengan Ania yang pendiam dan tertutup, dan menyimpan misteri kelam yang setelah terbongkar bertentangan dengan ‘kompas moral’ Marianne. Ania—berbeda dengan Benita, bukanlah sosok wanita yang mengagung-agungkan cinta. Tapi Ania sama cerdasnya dengan Marianne, juga paling cekatan dalam urusan rumah tangga. Masih ada pula anak-anak mereka yang tak kalah menarik setiap karakternya meskipun tak menjadi fokus utama cerita. Menarik sekali mengikuti interaksi antartokoh yang jauh berbeda dengan pola interaksi antarwanita di masa modern. Membuka wawasan saya mengenai perbedaan budaya juga. 

    Sungguh sebuah pengalaman membaca yang luar biasa. Saya begidik ngeri, ikut melaknat, menitikkan air mata dan tersayat hati, sekaligus haru dan simpatik selama membaca novel ini. Kisah yang benar-benar ‘mempermainkan’ emosi. Saya salut dengan moralitas dan keteguhan Marianne, juga jatuh iba dan simpati pada Benita yang—meminjam istilah Marianne—tertawan oleh kecantikannya sendiri. Namun saya paling kagum pada sosok Ania. Kisah hidupnya begitu rumit, membawa saya pada pemahaman tentang wilayah abu-abu, berbagai pilihan dalam hidup, di mana tak selamanya orang bisa berjalan mudah menuju ‘cahaya’. Lewat Ania saya belajar tentang ketegaran menjadi wanita sekaligus ibu. Dan tokoh satu ini juga yang paling menguji kesabaran membaca, karena rahasianya diungkap hingga tuntas paling akhir dan menciptakan plot twist yang mencengangkan—saya gagal menangkap ‘clue’ yang sebenarnya sudah ada sejak awal. Ending yang disuguhkan Shattuck memuaskan, tuntas tak menyisakan tanya. Bagi para pencinta bacaan tentang sejarah dunia, historical novel terjemahan Elex Media terbaru ini wajib sekali dibaca!

Rabu, 18 April 2018

Strings Attached: Ketika Benci Jadi Cinta dan Cinta Menuai Petaka

Posted by Menukil Aksara | 7:42:00 AM Categories:
Judul buku              : Strings Attached
Penulis                    : Yoana Dianika
Editor                      : Yuliono
Proofreader             : Christian Simamora
Penerbit                  : Roro Raya Sejahtera (imprint Twigora)
Cetakan                  : cetakan pertama, 2017
Tebal buku              : iv + 308 hlm; 14 x 20 cm
ISBN                       : 978-602-61138-5-6

BLURB:
‘Let me tell you, I’ll make you mine, I’ll hug you tight. Stay beside me, stay beside me... ‘ [“I Want You So Bad” by I ROCK YOU]

    Arletta sangat bangga dengan talenta musiknya. Cewek itu mengawali dari nol: meng-cover lagu-lagu populer di Youtube hingga akhirnya bisa mengawali debutnya di dunia hiburan. Sayang, reaksi pasar nggak seperti harapannya. Album perdananya jeblok di pasaran. Kalau Arletta ingin kariernya mendapat kesempatan kedua, dia harus mendapat gebrakan besar. Arletta tentu saja setuju dengan usulan kakaknya itu... sampai dia mengetahui kalau gebrakan yang dimaksud adalah berduet dengan band rock yang musiknya cadas banget.

    Kazuki, lead vocalist I Rock You, terlihat intimidatif di kali pertama bertemu dengan Arletta. Penampilan seenaknya, lengan bertato, bersikap dingin—bahkan kasar, adalah peringatan yang lebih dari cukup bagi Arletta supaya menjaga jarak. Tapi kakaknya bilang, proyek duet untuk soundtrack film itu adalah kesempatan yang belum tentu akan datang dua kali. Arletta pun belajar menoleransi Kazuki. Berusaha meminimalisir konflik dengan cowok itu.

    Masalahnya, begitu dia menerima Kazuki masuk ke hidupnya, cowok itu seperti ada di mana-mana. Arletta stuck dengan Kazuki dan tak ada yang bisa dia lakukan untuk mengubahnya. Dan perlahan-lahan, meskipun ini tak sudi diakuinya ke siapa pun, Arletta sedikit berharap situasi ini terjadi sedikit lebih lama daripada seharusnya.

    Karena Arletta sudah terbiasa dengan kehadiran Kazuki. Yah, mungkin lebih dari sekadar ‘terbiasa’...



SINOPSIS:
‘Kau isi hatiku penuh cinta yang penuh kebohongan maya. Kau coba melambungkanku tinggi dan kau remukkan hati ini’ [“First Time I Saw You”—I Rock You]

“Nengok masa lalu orang tuh sama kayak gagak, makan sesuatu yang sudah kedaluwarsa dan jadi bangkai. Kasihan kalau orangnya sudah niat berubah, sementara bangkai yang dia coba buang malah dikais-kais sama orang lain.” (hlm. 64)

Arletta tidak pernah suka dengan genre musik rock, apalagi hard rock atau alternative rock. Perasaannya yang halus dan karakternya yang ceria, didukung pilihan penampilannya yang mirip china doll bahkan boneka barbie, lebih cocok dengan genre musik pop. Imej Letta di mata fans juga angelic, bak malaikat tanpa cela. Suaranya pun merdu. Sayangnya, hal ini tak serta-merta sejalan dengan kesuksesan penjualan mini albumnya via ITunes. Selain eksis sebagai penyanyi Youtube, Letta juga berprofesi sebagai guru seni di sebuah sekolah dan mengajar vokal di sekolah musik yang dikelola kakaknya. Kakak laki-lakinya, Jonathan atau Jo, berkebalikan dengan Letta. Jo sangat menggemari musik rock semenjak remaja. Bahkan dia pernah aktif tergabung dalam sebuah band rock meskipun hanya sejauh tampil sebagai band pembuka di konser-konser penyanyi ternama. Jo kini lebih sibuk mengelola sekaligus mengajar musik di sekolah musik yang didirikannya: Rising Star Musica.

Suatu hari, Jo memberikan tawaran yang sulit ditolak Letta: terlibat dalam sebuah proyek dengan label rekaman dan Production House (PH) ternama. Mereka ingin menggaet Letta dalam penggarapan album soundtrack sebuah film bertema kehidupan Presiden pertama RI bersama istri berdarah Jepangnya. Tawaran yang menggiurkan ini diterima Letta, walaupun ternyata merupakan proyek kolaborasi dengan sebuah band rock fenomenal. Bukan hanya genre musik rekan duetnya yang awalnya memberatkan Letta, tapi juga imej sang lead vocalist yang negatif, kerapkali tersandung skandal. Pertemuan pertama Letta dan Jo dengan Kazuki dan band rock-nya, I Rock You, di pelataran parkir Rumah Gitar Hear Me Label pun tak menyenangkan. Disusul aksi saling sindir di ruang pertemuan, di hadapan para petinggi label rekaman dan PH yang tak kalah sengit. Walaupun begitu, Letta berusaha optimis dan bertekad akan bersikap profesional menghadapi Kazuki yang intimidatif dan terkenal bermulut silet. Apalagi, Sasha sahabat baiknya sekaligus sesama penyanyi Youtube juga mendukung. Kekasih dari Dean, salah satu artis asuhan Hear Me Label ini menyatakan bahwa Letta harus bangga karena sudah terpilih dalam sebuah proyek berdana besar yang sudah pasti juga diincar artis lain.

Seiring berjalannya kerjasama, tak disangka Letta ada momen-momen tertentu manakala Kazuki menampilkan sisi baik meskipun tetap dibentengi sikap angkuh. Sayangnya, dalam proses rekaman, sebuah teknik bernyanyi yang sempat diusulkan Jo demi membantu fokus Letta justru menjadi sumber kemarahan Kazuki. Merasa diremehkan dan terganggu, Kazuki sempat mengonfrontasi Letta perihal teknik menyanyinya. Insiden ini diam-diam diabadikan kamera oleh oknum dan disebarluaskan di media sosial sekaligus memicu twitwar spekulasi terkait proyek kolaborasi yang sebenarnya masih dirahasiakan. Disusul lagi insiden Kazuki yang memanfaatkan Letta ketika terjebak serbuan fans di tempat umum. Demi menghindar sementara, Kazuki menginap di rumah Letta. Saat itulah mereka saling bertukar cerita tanpa direncana dan perlahan mengubah pandangan Letta mengenai Kazuki, demikian juga sebaliknya. Tapi tanpa sepengetahuan siapa pun, Kazuki mendapat ancaman dan pemerasan dari oknum semenjak saat itu.

Kedekatan Letta dengan I Rock You makin terjalin, seiring proses kolaborasi berjalan. Mereka sempat mengambil jeda dengan berpiknik sekaligus survei lokasi syuting video klip di Pulau Tidung. Di sini seorang jurnalis portal berita daring sekaligus seseorang dari masa lalu Kazuki mendadak muncul. Helena, demikian disapa, seolah berusaha mengintimidasi dan mengorek skandal antara Letta dan Kazuki. Sayangnya niat itu tak terkabul berkat kekompakan anggota band lainnya—Nath, Ardian, Rafa, dan manajer mereka Erlangga. Namun, sewaktu berlangsung pemotretan cover album sebuah insiden mengerikan terjadi. Ini mengakibatkan Kazuki terluka parah hingga harus menjalani operasi dan perawatan intensif. Tak hanya itu, alih-alih mengabarkan kebenaran, akun haters I Rock You justru memutarbalikkan fakta hingga menuduh Kazuki sebagai pihak bersalah, demikian juga sebuah tabloid dunia hiburan ternama. Mau tak mau Erlangga harus bertindak. Belum lagi usai masalah, beberapa selang waktu kemudian Letta dirundung bencana. Dia mengalami kecelakaan serius setelah sebelumnya menghadiri sebuah pesta. Tak hanya itu, Letta dituduh mengonsumsi narkoba berkat bukti yang menyudutkan. Ada pihak yang jelas-jelas menjebaknya.

Sesudah serangkaian penyelidikan independen, pihak manajemen, label, dan PH melangsungkan konferensi pers untuk mengumumkan ketidakbersalahan Letta dan Kazuki atas skandal yang menimpa mereka. Dalam momen tersebut juga diungkap siapa sesungguhnya dalang di balik tragedi yang terjadi. Di saat inilah, Letta yang tak tahu menahu sangat syok mengetahui fakta yang terungkap.

REVIEW:
    “... hanya orang dangkal yang terlalu peduli omongan orang di ‘dunia maya’. Kalau lo nggak ngefilter omongan orang yang masuk ke telinga, lo bisa sakit mental. Semua orang pengin kita perfect dan tanpa cela.” (hlm. 180)

    “Media saat ini menilai orang semau mereka. Kalau pengin orang jahat, mereka bisa dengan mudah bikin orang jadi jahat. Cara media ngehakimin orang lain bahkan lebih mahir dan lebih sadis daripada para hakim itu.” (hlm. 282)

    Sebuah novel bernuansa musik dan mengangkat tema hiruk-pikuk dunia hiburan di tanah air yang langsung menarik perhatian saya. Desain kover, konsep pembatas buku, pilihan judul, hingga layout dengan berbagai detail di dalam buku kesemuanya menarik dan sangat mewakili alur cerita. Pembaca bahkan dimanjakan dengan berbagai kutipan lirik lagu, baik dari band rock dunia kenamaan maupun dari lagu yang khusus diciptakan demi mendukung cerita. Keren! Nuansa musik langsung terasa. Selain itu, deskripsi seting, karakter para tokoh, proses rekaman dengan berbagai istilah musik dan vokal, dan pernak-pernik dunia band rock dengan fans fanatiknya juga memuaskan. Saya dibuat ternganga membaca penggambaran kenekatan aksi fans fanatik maupun reaksi tak bersahabat Kazuki pada mereka.

    Seting pendukung lain, seperti detail bangunan Rumah Gitar Hear Me Label beserta ruang latihan dan ruang rekaman, lokasi pemotretan dan syuting video klip juga apik. Detail momen blue hour di pantai Pulau Tidung dan momen kebersamaan di greenhouse pribadi Kazuki pun menjadi nilai tambah. Riset penulis terbukti tak main-main dan kejeliannya membuahkan hasil. Pembaca akan menemukan beberapa catatan kaki, menjelaskan beberapa istilah penting, antara lain istilah di bidang musik, kedokteran dan kepolisian yang terkait dengan alur cerita.

    Sudut pandang yang dipilih adalah orang ketiga, sehingga penulis leluasa menyoroti tokoh. Bagian menebak kira-kira siapa dalang di balik kasus Kazuki dan Arletta pun jadi seru. Saya turut menerka-nerka berdasarkan penggambaran para tokoh dan salah satunya tepat, meskipun ternyata tak sesederhana yang saya pikir. Ada plot twist yang sukses mengejutkan saya, tentunya.

    Alurnya maju. Diawali adegan ketika Arletta dan Jo masih remaja dan berburu CD musik di sebuah toko dan berlanjut beberapa tahun kemudian di sebuah konser musik. Ternyata dua momen ini menjadi elemen penting dan akan terkuak di akhir cerita. Jalinan cerita, konflik, penokohan, menjadi plot yang rapi. Karena mengusung topik ‘drama’ yang terjadi di dunia hiburan tanah air, maka nggak mengherankan jika pada akhirnya konflik rumit cerita terkesan ‘drama’ banget. Tapi, saya tetap suka dan menilainya logis. Tentu saja, ini tak terlepas dari kepiawaian penulis dan proses editing yang rapi.

    Mengenai penokohan, saya langsung jatuh suka dengan karakter Kazuki. Tipikal bad boy yang karismatik dan di akhir kisah mendapat tambahan kata ‘manis’ dari saya, hehe... latar belakang kehidupan pribadinya yang disembunyikan rapat-rapat dari orang lain pun mendukung karakternya. Perkembangan karakter Kazuki pun terasa sepanjang cerita. Bersama kehadiran sosok Arletta, karakter Kazuki memang mendapat ‘lawan main’ yang klop. Pasangan yang manis dan chemistry yang tercipta di antara mereka sangat terasa. Adegan favorit saya salah satunya adalah ketika Kazuki salah tingkah dan tersinggung dengan teknik menyanyi Letta selama proses rekaman. Itu lucu banget. Tokoh favorit saya yang lain adalah ketiga teman Kazuki sekaligus member band I Rock You. Saya suka Nath yang easy going, Rafa yang gondrong dan terkesan sangar tapi ternyata ramah, dan Ardian yang kaku dan kutu buku tapi baik. Menghibur sekali keberadaan mereka dalam cerita. Sosok Erlangga yang mengayomi dan tegas, juga Jo sebagai kakak yang penyayang dan sangat mendukung dengan rahasia kecil pribadinya juga menarik perhatian saya. Tokoh-tokoh antagonis pun ditampilkan dalam porsi yang pas, dengan penjelasan yang cukup dan logis sehingga tidak terkesan dipaksakan. Akhir kisah sangat memuaskan bagi saya.

 Pesan moral sendiri tersampaikan dengan baik. Tentang peran media, terutama media sosial dan portal berita digital dalam memengaruhi masa depan karier artis di masa sekarang. Juga pesan tentang cinta dan kebencian yang kerap menghancurkan seseorang jika tak bijak menyikapi. Ada tema keluarga dan persahabatan juga dalam kisah ini.

Kalau kamu mencari bacaan fiksi yang beda, menghibur sekaligus menginspirasikan kebaikan, saya merekomendasikan novel karya Yoana Dianika ini. Kisah romansanya manis, menyentuh sekaligus mengundang tawa.

    “Ada sesuatu pada diri lo yang bikin gue ngerasa klik. Lo pasti paham, bagaimana perasaan lo ketika nemu chord buat lirik nggak bernada yang lo tulis... Rasa nyaman yang nggak bisa lo jelasin dengan kata-kata karena nemu sesuatu yang sudah lama lo cari-cari.” (hlm. 216)
   


  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube