Rabu, 18 April 2018

Judul buku            : Truly Yours
Penulis                  : Fathnisah Hasna
Editor                   : Prisca Primasari
Proofreader          : Christian Simamora
Tebal buku           : iv + 256 hlm; 14 x 20 cm
Penerbit               : Roro Raya Sejahtera (imprint Twigora)
Cetakan               : pertama, 2017
ISBN                    : 978-602-61138-4-9

BLURB:
    Namanya Aleva. Nggak suka dandan dan nggak bisa masak juga. Jutek dan hobi menonton film thriller—tapi anehnya, selalu parno kalau ditinggal sendirian terlalu lama di apartemennya. Daripada perasaannya terus-terusan nggak tenang, jemarinya langsung mencari nomor satu orang spesifik di handphone. Yang selalu siap sedia untuk dijadikan tempat bersandar. Yang keberadaannya senyaman selimut hangat. Orang itu... Reggy Rahadian.

    Namanya Reggy. Selama enam tahun, Reggy selalu jadi pendengar yang baik untuk semua curhatan dan keluh kesah Alev. Selama enam tahun itu juga Reggy menyimpan rahasia klise: dia jatuh cinta diam-diam pada adik sahabatnya.

    Kau tak bisa menyangkal ada kenikmatan tersendiri mencintai seseorang yang belum tentu akan balas mencintaimu. Mungkin kau pernah melakukan sesuatu supaya dia menyadari perasaanmu—mungkin juga tidak. Tak ada bedanya juga. Toh dalam mimpi-mimpimu dia sudah jadi milikmu.

    Itu sebabnya kau selalu betah berada di sisinya. Menjaganya, jadi sandaran baginya... hingga suatu saat kau tak bisa menyangkal jeritan hatimu sendiri.

    Ternyata, bermimpi saja tak akan pernah cukup...

SINOPSIS:
    Aleva Astari alias Alev atau Levy duduk di bangku kelas terakhir SMA. Dia tinggal di sebuah apartemen di kota Bandung, berdua dengan kakak laki-laki satu-satunya, Diaz Erlangga atau yang akrab disapa Diaz. Pilihan tinggal hanya berdua ini diambil pascaperceraian ayah dan ibu mereka. Ibu mereka yang selingkuh memilih hidup bersama pasangan baru tanpa mempedulikan nasib kedua anaknya. Hal ini jugalah yang menanamkan bibit kebencian di hati Alev dan Diaz. Sedangkan ayah mereka memilih mengalihkan kesedihan pada pekerjaan dan jarang berada di rumah. Alev akhirnya tumbuh menjadi sosok gadis yang cenderung insecure, overprotective dan possesive terhadap orang-orang terdekatnya, jutek, tak memiliki sahabat perempuan, dan hidup dalam dunianya sendiri yang sempit. Meskipun demikian, Levy ini terbilang cerdas. Sedangkan Diaz disibukkan dengan kegiatan perkuliahan dan keorganisasian di kampus, serta cenderung lebih easy going ketimbang Alev.

    Di dalam dunia Alev, ada juga sosok Reggy Rahadian alias Reggy sebagai orang terdekat kedua setelah Diaz. Reggy dan Alev bersahabat semenjak SMP, meski beda umur setahun. Reggy juga berteman baik dengan Diaz dan jadi sosok ‘pengganti’ Diaz kapan pun dibutuhkan. Berbeda dengan kedua sahabatnya, Reggy tumbuh besar dalam keluarga harmonis dengan satu orang adik perempuan. Tidak mengherankan jika tempat tinggalnya menjadi rumah kedua bagi Alev dan keluarganya pun sudah menganggap Alev sebagai bagian dari mereka. Tiga tahun terakhir ini Reggy menyadari perasaan khusus terhadap Alev. Antara ingin menyatakan dengan takut kehilangan persahabatan menjadi dilema hati Reggy, yang lantas juga diketahui Diaz.

    Hingga suatu hari, tanpa sengaja Reggy melontarkan pernyataan bahwa Alev seharusnya lebih toleran dan memahami dunia Reggy dan Diaz sehingga tak terlalu mengekang dan posesif. Bahkan Reggy menyarankan Alev membangun dunianya sendiri bersama teman-teman perempuan seumuran. Sakit hati dengan pernyataan ini, Aleva sempat marah, walaupun pada akhirnya memutuskan menerima saran. Maka Alev pun mulai mengakrabkan diri dengan Chiya, Azka, dan Demmy yang sekelas lewat berbagai kegiatan belajar bersama. Kedekatan ini ternyata menyenangkan dan mengubah dunia Alev. 

    Di lain sisi, dengan dukungan Diaz, Reggy memutuskan menyatakan perasaan pada Alev. Apalagi sebelumnya dia telah cukup yakin dengan perasaan Aleva padanya. Ketika Alev dan Reggy sedang berbunga-bunga, konflik baru muncul. Diaz sedang bermasalah dengan kekasihnya, Farah. Bahkan belakangan diketahui bahwa Farah menduakan Diaz. Hal ini sontak memicu kemarahan Alev. Baginya, tak ada ampun bagi pengkhianatan. Trauma atas perbuatan ibunya membuat Aleva lantas berubah membenci Farah. Namun tak hanya itu, sikap sang kakak yang lebih memilih memaafkan dan memberikan kesempatan kedua pada Farah makin menyulut emosinya. Peristiwa ini diperkeruh peristiwa lain yang jauh lebih mencengangkan. Ayah dan ibu Levy didapati sedang bersama di rumah sang ayah dalam situasi yang terlihat intim. Rupanya rumah tangga baru sang ibu tak berjalan mulus. Ketika tak lama kemudian sang ayah kolaps dan harus dirawat intensif di rumah sakit, sang ibu muncul dan memperjelas keinginan untuk rujuk dengan mantan suaminya. Jelas saja, hal ini membuat amarah Levy berada di puncaknya.

    Sayangnya, sikap keberatan Levy ini tak sejalan dengan Diaz dan Reggy. Meski awalnya menentang, Diaz pada akhirnya luluh dengan sikap ibunya, kemudian belajar menerima kembali dan memaafkan. Reggy pun bersikap netral dan tak menentang demi kebaikan keluarga Diaz. Jadilah Levy satu-satunya pihak yang kukuh tak menyetujui. Hingga suatu hari muncul ide untuk berpartisipasi dalam program pertukaran pelajar ke Singapura, sekaligus merencanakan membawa serta sang ayah untuk perawatan. Niat untuk menjauhkan sang ayah dari mantan istrinya ini pada akhirnya ditolak tapi Levy tetap bersikeras ke Singapura. Di saat inilah hubungan Levy dan Reggy mengalami masa sulit. Menjalani hubungan jarak jauh dalam rentang waktu cukup lama memang tak diinginkan Reggy. Sedangkan Levy yang belum bisa menerima rujuknya kedua orangtua memilih menjauh.

REVIEW:
    “Gue percaya Tuhan emang udah ngerangkai segala sesuatunya dengan sempurna. Mungkin nggak sempurna di mata kita, tapi sempurna di mata-Nya. Terutama tentang jodoh.” (hlm. 184)

    Kesan pertama saya terhadap novel ini adalah menarik. Pemilihan kover yang cantik, pembatas buku yang terkesan eksklusif karena dicetak bolak-balik, dan blurb yang menjanjikan meski temanya terdengar umum—tentang cinta yang tak diungkapkan. Ketika membuka halaman demi halaman, saya juga disuguhi ilustrasi cantik per bab. Prolog-nya sukses mengundang tanya; siapakah dua tokoh yang berjumpa kembali tersebut dan ada kisah apa di antara keduanya.

Novel ini diceritakan menggunakan sudut pandang dua orang berbeda, tapi sama-sama sebagai POV orang pertama. Untuk menandai peralihan tokoh, selalu dicantumkan nama si pencerita di pembuka paragraf—apakah itu Aleva atau Reggy. Selain itu, pembeda gaya bahasa juga diciptakan. Jika dikisahkan lewat sudut pandang Aleva, maka digunakan sapaan ‘aku’ dan gaya bahasa narasinya cenderung formal. Sedangkan jika menggunakan sudut pandang Reggy, menyebut diri sebagai ‘gue’ dan gaya bahasa narasinya tidak formal—persis seperti gaya bahasa percakapan sehari-hari remaja perkotaan. Sebuah pilihan yang berani, menurut saya. Terutama pilihan untuk POV Reggy dengan bahasa gaulnya, karena tidak umum dan bisa jadi tidak semua pembaca bisa menerima. Di lain sisi, penulis juga ditantang untuk memberikan penekanan yang berbeda, antara gaya bercerita tokoh perempuan dengan tokoh laki-laki. Dari sisi ini, saya berpendapat penulis muda ini cukup berhasil mengeksekusi. Perbedaan tampak menonjol ketika konflik menuju klimaks, di mana emosi dan cara berpikir antara Aleva dan Reggy tampak bertentangan. Di sini pula pembaca diajak mengenal karakter para tokoh utama, yang mewakili karakter orang kebanyakan yang bisa kita temui di sekitar. Sosok-sosok dengan kelebihan dan kekurangan, berlatar belakang keluarga berantakan maupun harmonis. Tokoh-tokoh pendukung tak terlampau berkesan bagi saya, meskipun sosok tiga sahabat Aleva cukup mewakili tema persahabatan, pun sosok ibu dari Reggy yang penyayang. Ada juga satu-dua tokoh yang tak terlalu berpengaruh signifikan bagi jalinan cerita.

Alur maju menjadi pilihan, dan sebagai pembaca saya menyukainya, karena alur maju itu lebih tidak melelahkan ketimbang alur campuran. Alurnya cukup rapi, dipadukan plot dengan konflik yang berlapis dan makin mengerucut. Dari tagline judul dan blurb, saya mengira kisah ini akan berkutat seputar bagaimana perjuangan seorang Reggy dalam mengungkapkan dan membuktikan cintanya pada Aleva. Namun usai membaca, saya menyadari ternyata itu tak sepenuhnya tepat. 

Kisah Aleva, Reggy, dan Diaz ini secara garis besar mencakup dua konflik utama. Pertama, tentu saja sudah bisa tertebak dari blurb; tentang Reggy yang memendam rasa pada Aleva dan bagaimana dia bimbang memilih mengutarakan di saat yang tepat atau menyimpan selamanya. Konflik ini ternyata jauh lebih ringan dan tak berbelit-belit seperti sangkaan saya. Bahkan bisa dibilang terlalu mudah penyelesaiannya. Konflik kedua—yang ternyata lebih kompleks—datang dari keluarga Aleva, khususnya ayah dan ibunya yang sudah bercerai tapi lantas rujuk kembali. Di sini jelas sekali emosi dan pertentangan yang terjadi antara Aleva, Diaz, ayah dan ibu mereka, yang mau tak mau melibatkan Reggy sebagai penengah. Saya sendiri geregetan dan tersulut emosi justru di bagian konflik ini. Penyelesaiannya cukup memuaskan dan logis. Meski demikian, yang menjadi nilai plus dari plot novel ini adalah cukup suksesnya penulis (dan proses penyuntingan) dalam menyatukan kesemua elemen tersebut menjadi cerita utuh dengan muatan pesan moral yang bagus.
Pada akhirnya pesan tentang makna mencintai yang sesungguhnya menjadi fokus utama cerita. Mencintai seseorang tak hanya bagian indahnya saja, tapi ada sisi pahit tatkala kita dihadapkan pada pilihan memaafkan kesalahan pasangan dan bersedia memberikan kesempatan kedua. Mencintai adalah tentang membuat pasangan bahagia, seberat apa pun itu kelihatannya.

Gambaran permasalahan keluarga dalam kisah ini juga umum kita jumpai di masyarakat. Seting kota Bandung mendukung tema cerita dan meskipun tak banyak dieksplorasi mendetail dari sisi spot menarik Bandung, namun aura kota besarnya cukup terasa. Deskripsi spot istimewa yang menjadi tempat rahasia Aleva dan Reggy menghabiskan waktu juga jadi poin plus, meskipun sederhana. Selain itu, sisipan lirik-lirik lagu favorit Reggy dan Aleva juga cukup menyatu dengan penokohan maupun alur kisah. Saya selalu suka penulis yang memerhatikan detail-detail semacam ini.

Jika kamu suka novel young-adult Indonesia dengan nuansa kisah romansa sekaligus keluarga, bacaan satu ini bisa jadi pilihan tepat. Kisah yang menghibur sekaligus mengingatkan akan banyak kebaikan dalam hidup.

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube