Jumat, 13 April 2018

The Other Einstein: Sosok Wanita di Balik Ketenaran Albert Einstein

Posted by Melani Ivi | 9:11:00 AM Categories:
Judul buku             : The Other Einstein
Penulis                   : Marie Benedict
Pengalih bahasa    : Lulu Fitri Rahman
Penyunting             : Deesis Edith Mesiani
Penerbit                : Bhuana Sastra (imprint Penerbit Bhuana Ilmu Populer)
ISBN                     : 978-602-455-253-4
Tebal buku            : ix + 373 hlm.
Tahun terbit           : cetakan pertama, 2018

BLURB:
    Mitza Maric berbeda dengan perempuan kebanyakan. Sebagian besar gadis berusia dua puluh tahun menjalani takdir atau perannya sebagai istri atau ibu rumah tangga. Sebaliknya Mitza, dengan dukungan penuh ayahnya, belajar fisika di universitas elite Zurich bersama para mahasiswa laki-laki. Tapi Mitza cukup pintar untuk mengetahui bahwa, baginya, matematika atau sains adalah jalur yang lebih mudah daripada menikah.

    Seiring berjalannya waktu, Albert Einstein, teman kuliahnya, menaruh perhatian padanya, dan pilihan Mitza berubah. Mereka pun menikah, menjalin kemitraan pikiran dan hati. Tetapi sepertinya tidak ada ruang untuk lebih dari satu genius dalam sebuah pernikahan...

SINOPSIS:
    “Mitza, kau mirip benda-benda dalam salah satu penelitian Newton. Tanpa kenal lelah kau mempertahankan kecepatan, kecuali ada gaya luar yang memengaruhimu. Kuharap tak ada gaya luar yang bisa mengubah kecepatanmu.” (hlm. 50)

    Mileva ‘Mitza’ Maric adalah gadis sangat cerdas yang berasal dari keluarga Kristen-Ortodoks taat di Zagreb, Kroasia. Sebenarnya dia adalah anak ketiga orangtuanya, tapi kedua kakaknya telah tiada. Jadilah kemudian Mileva anak tertua yang sangat diharapkan papa mamanya. Namun karena kondisi fisiknya yang tak sempurna (pincang), Mileva menghapus keinginan untuk menikah layaknya perempuan muda pada umumnya. Sudah telanjur muncul persepsi bahwa perempuan dengan fisik sepertinya tak mungkin menikah. Oleh sebab itu, Mileva yang semenjak kanak-kanak sudah menunjukkan kecerdasan di atas rata-rata—terutama di bidang matematika dan fisika—menaruh harapan pada pendidikan. Dia didukung papanya menetapkan pilihan untuk mengejar ilmu dan pendidikan setinggi mungkin sebagai bekal berkarir di masa depan. Sang papa sendiri telah menjadi partner bertukar pikiran mengenai keilmuan semenjak Mileva kecil dan sangat menyayangi putrinya. Berbeda dengan sang mama yang cenderung keras dan kolot. Hingga tiba saatnya Mileva berkuliah di Jurusan Matematika dan Fisika, Politeknik Federal Swiss di Zurich. Diantar papanya, Mileva menapakkan kaki di negara yang terkenal modern dan berpandangan terbuka mengenai pendidikan untuk semua orang dengan membawa semangat sekaligus kegugupan. Di masa itu (sekitar tahun 1890-an), memang masih kental sentimen ras, etnis, agama, dan gender dalam banyak hal. Di asrama tempat tinggalnya (mirip rumah kontrakan dengan induk semang), Mileva diperkenalkan dengan tiga gadis seusianya yang juga perantauan dari negara-negara di luar Swiss untuk berkuliah. Meski awalnya ragu dan menjaga jarak karena berbagai kekhawatiran, Mileva pada akhirnya merasa diterima oleh ketiga kawan barunya. Bahkan, Helene menjadi yang paling akrab dan merasa sevisi mengenai rencana masa depan.

    Di kampus, tantangan yang sesungguhnya datang. Salah satu profesor sekaligus dosen utama terang-terangan memandang rendah pada Mileva karena gender dan asal negaranya. Selain itu, di kelas yang hanya berisi enam orang mahasiswa—yang kemudian biasa disebut Kelompok Enam, Mileva adalah satu-satunya mahasiswa perempuan. Meski demikian, Mileva bertekad akan gigih menunjukkan bahwa dirinya mampu dan layak berada di kelas yang sama dengan kelima mahasiswa pria tersebut.

    Seiring berjalannya waktu, Albert Einstein salah satu teman sekelas Mileva yang sedari awal menunjukkan sikap ramah ternyata menaruh perhatian lebih. Einstein terang-terangan memuji kecerdasan Mileva. Mereka lantas terlibat diskusi keilmuan yang makin memancing ketertarikan Einstein. Aksi pendekatan lain dilakukan Einstein dengan berkunjung tanpa diundang ke asrama Mileva. Hal ini tentu saja sempat mengundang keterkejutan, termasuk dari induk semang dan kawan-kawan seasrama Mileva. Tapi Einstein tak ambil peduli dan tetap rajin berkunjung dengan berbagai alasan. Selain itu, Einstein juga berusaha mengundang Mileva dalam diskusi santai rutin di Cafe Metropole bersama kawan-kawan mahasiswa pria. Sebuah undangan menggiurkan bagi Mileva, karena di masa itu menjadi pemandangan langka sekaligus sebuah kehormatan bagi mahasiswa perempuan sepertinya untuk terlibat dalam diskusi semacam itu. Hingga di suatu kesempatan piknik bersama ketiga kawan Mileva dan seorang kawan Einstein, Albert menyatakan perasaan sukanya pada Mileva. Tentu saja Mileva menolak, meski jauh di lubuk hatinya dia juga menyukai Albert. Untuk menenangkan pikiran, Mileva menghabiskan masa liburan musim panas di Kac, Serbia, menjauhi Albert. Bahkan Mileva memutuskan cuti kuliah dan justru berkuliah sementara di Universitas Heidelberg, Jerman dengan risiko ketinggalan banyak mata kuliah. Ketika akhirnya merasa siap kembali ke Zurich, ternyata keadaan telah banyak berubah.

    Helene yang disangkanya sevisi mengenai masa depan berkarir, ternyata memiliki kekasih yang agaknya serius. Sedangkan Milana dan Ruzica seolah menjauh dan kerap menghabiskan waktu di luar asrama, melewatkan berbagai kebersamaan mereka seperti dulu. Hal ini menjadi jalan bagi Einstein untuk kembali dekat dengan Mileva. Hingga Mileva pada akhirnya luluh dan mengubah sedikit rencana masa depannya. Dia dan Albert kerap menyatakan akan bahagia bersama dan menjadi pasangan bohemian yang bermitra dalam pemikiran dan hati. Di suatu kesempatan, Mileva diperkenalkan pada keluarga Einstein yang sedang berkunjung. Sayangnya, mama Albert terang-terangan tak merestui hubungan Mileva dengan putranya. Albert yang merupakan putra kesayangan berasal dari keluarga Yahudi Jerman, diharapkan memiliki pasangan dengan latar belakang sama dan bukan tipikal perempuan berpendidikan tinggi seperti Mileva. Namun Albert berhasil membesarkan hati Mileva. Hubungan dua sejoli yang sedang dimabuk cinta ini makin dekat hingga di kemudian hari Mileva diketahui hamil. Kabar ini menghancurkan hati sang papa, apalagi kala itu seharusnya Mileva fokus pada sidang skripsinya. Sedangkan Albert yang sudah lulus, masih sibuk mendapatkan pekerjaan tetap sehingga kabar ini tak mendapat respon sesuai harapan Mileva. Keduanya pun bahkan sempat terpisah karena keadaan. Mileva kembali ke kotanya dan melahirkan tanpa kehadiran Albert.

    Albert akhirnya mendapatkan kepastian mengenai pekerjaan tetap di Bern. Terpaksa menitipkan bayinya kepada sang mama, Mileva menyusul Albert ke Swiss untuk menikah sesuai kesepakatan bersama, itu pun setelah ketidakpastian yang panjang. Meskipun kecewa atas fakta tak bisa segera membawa serta bayinya, Mileva berusaha berpikir positif. Malangnya, sang putri kecil tak berumur panjang karena sakit. Kesedihan mendalam berbaur kekecewaan atas sikap tak peduli Albert sempat dirasakan Mileva, tapi kehadiran calon bayi kedua membuat Mileva bertahan dan memutuskan melanjutkan hidup. Pernikahan Mileva dan Albert pun dikaruniai dua anak. Kemitraan pikiran tetap terjalin, bahkan Mileva memberikan sumbangan pemikiran dan ide yang besar bagi karir keilmuan Albert, di tengah tugasnya mengurus rumah tangga dan keluarga. Mileva menjadi sosok di balik layar atas segala pencapaian Albert di bidang sains, termasuk ketika meraih Hadiah Nobel. Namun, prestasi tersebut berbanding terbalik dengan keharmonisan rumah tangga mereka. Sikap Albert yang tak menghargai istri dan tak segan melakukan kekerasan domestik pun memicu kehancuran. Bahkan Helene yang masih berhubungan baik dengan Mileva setelah sama-sama menikah, sempat terang-terangan membukakan mata Mileva atas sikap suaminya yang tak patut. Di titik inilah Mileva harus mengambil sikap; apakah akan bertahan dan berusaha memperbaiki keadaan atau menyerah atas pernikahannya setelah bertahun-tahun berjuang.

REVIEW:
    “Teori baruku tentang relativitas mengungkap bahwa waktu mungkin tidak memiliki kualitas tetap yang dipercayai Newton serta hampir setiap ahli fisika dan matematika generasi berikutnya. Tetapi filsuf yang bahkan lebih kuno, Seneca, jelas memahami satu aspek waktu dengan sempurna: “Waktu menyembuhkan apa yang tak bisa disembuhkan akal sehat.”” (hlm. 254)

    Sebelumnya, saya ingin membahas sedikit catatan penulis yang terdapat di bagian akhir buku. Rupanya tak hanya saya yang tak mengenal sosok Mileva Maric sebelum ini. Penulis sendiri baru mengenal sosok perempuan luar biasa ini ketika membantu tugas laporan anaknya. Dan secara mengejutkan, penulis menemukan fakta bahwa sebenarnya sosok Mileva telah lama menjadi fokus perdebatan di kalangan komunitas fisika terkait perannya dalam peletakan dasar teori Einstein yang fenomenal. Ditemukan juga surat-surat antara Einstein dan Miss Maric semenjak mereka masih mahasiswa. Novel/memoir ini pun akhirnya ditulis lewat riset panjang berdasarkan sumber-sumber yang digali penulis terkait kehidupan keduanya. Sedapat mungkin penulis mengisahkan sesuai keadaan sebenarnya. Rekaan hanya diciptakan seperlunya, termasuk jika tidak terdapat sumber terpercaya mengenai peristiwa atau detail fakta tertentu.
    Penulis yang berprofesi sebagai pengacara memang cukup jauh berbeda latar belakang keilmuan dengan Mileva Maric, namun keduanya sama-sama sosok wanita cerdas, memiliki dedikasi terhadap bidang keilmuan masing-masing, dan pernah mengalami dilema antara menjadi istri dan ibu dengan mengejar impian pribadi. Menurut saya, hal tersebut cukup memengaruhi keberhasilan Marie Benedict dalam menulis kisah Mileva ini menggunakan POV orang pertama. Terkait bahasan berbagai teori fisika dan matematika sepanjang buku ini, karena menggunakan format novel, akhirnya tidak terkesan ‘berat’ dan membosankan. Porsinya pas untuk menggambarkan karakter Mileva sekaligus menyatu dengan alur dan plot cerita.

    Riset yang baik pun tercermin dari kepiawaian penulis menggali latar belakang keluarga Mileva, bagaimana sosok papa dan mamanya, juga lingkungan tempat dia dilahirkan dan dibesarkan. Seting Swiss di tahun 1890-an hingga 1900-an yang mendominasi cerita pun terdeskripsikan dengan baik. Tentang bagaimana dunia pendidikan di sana, gaya hidup para mahasiswa, pandangan umum masyarakatnya tentang berbagai isu sosial kala itu, hingga deskripsi keindahan alam dan arsitekturnya. Saya diajak menyelami kehidupan di era yang berbeda dengan era modern sekarang tanpa merasa kesulitan.

    Karakter Albert Einstein sendiri tergambar jelas disertai detail-detail penting terkait keluarganya, kewarganegaraannya, idealismenya mengenai sains, sosok-sosok idolanya, ambisinya, hingga karakter personal yang nyatanya cukup banyak yang mengejutkan. Selama ini saya hanya mengenal Einstein sebagai sosok yang disegani di dunia sains hingga banyak yang mengidolakan. Usai membaca buku ini, saya memandangnya secara lebih manusiawi, dalam artian sebagai manusia biasa Einstein pun tak lepas dari kekurangan dalam karakter personal. Dia juga pria biasa yang bisa jatuh cinta berawal dari kekaguman akan kecerdasan lawan jenis, juga bisa labil dan egois karena pengaruh bagaimana orangtua membesarkan dan posisinya dalam keluarga. Terlepas dari kelebihannya dalam mencintai sains, Einstein juga bisa menunjukkan kurangnya rasa penghargaan dan cinta terhadap wanita yang menjadi istri dan ibu dari anak-anaknya. Hal ini diperparah oleh sikap Mileva yang seolah sukarela mengorbankan diri demi memenuhi ambisi sang suami. Tanpa mengecilkan kiprah Albert Einstein di dunia sains, Marie Benedict berhasil membukakan mata saya akan sisi lain dari tokoh fenomenal ini, sekaligus mengenalkan pada saya sosok wanita hebat yang selama ini tertutupi bayang-bayang besar Einstein.

    Buku dibagi menjadi tiga bab besar yang mewakili tiga fase utama kehidupan Mileva. di tiap pembuka bab dituliskan teori-teori sains dari Isaac Newton, tokoh yang diidolakan Mileva Maric dan Albert Einstein. Alur maju yang mendominasi—dengan sesekali kilas balik yang dituturkan Mileva—mampu merunutkan kisah dengan apik. Plotnya rapi dan logis, mengungkap lapis demi lapis konflik, satu per satu peristiwa yang memengaruhi jalan hidup seorang Mileva Maric. Konflik yang kompleks berkaitan dengan latar sosial dan politik kala itu, perbedaan pandangan antarpersonal dan antarkeluarga, pergulatan batin tokoh utama, hingga pertentangan kepentingan antartokoh. Berkat penuturan yang luwes sekaligus mampu menyentuh emosi pembaca, saya bisa turut merasakan bahagia, antusias, hingga sakit hati, sedih, dan kecewa, seperti yang dirasakan Mileva sebagai pencerita. Penuturan Mileva di bagian epilog pun menjadi penutup yang sangat berkesan bagi saya. Narasinya bernada ilmiah sekaligus indah dan benar-benar mewakili segala emosi yang dirasakan Mileva sepanjang kehidupannya bersama Albert Einstein. Sebuah penutup yang sempurna.

    Jika kamu mendambakan pengalaman baca yang beda sekaligus menginspirasi, saya sangat merekomendasikan buku ini. Buku yang ditulis tak hanya dengan pemikiran mendalam tapi juga dengan hati. Lewat buku ini saya juga diajak memahami bahwa cinta dan kesamaan minat saja tak cukup untuk membangun sebuah rumah tangga. Butuh komitmen untuk saling menghargai dan tetap memberikan ruang bagi pasangan untuk menjadi diri sendiri dan mencintai dirinya sendiri. 

"Setiap benda akan tetap diam, atau bergerak dalam garis lurus dengan kecepatan tetap, kecuali dipaksa berubah dengan gaya luar yang diberikan kepada benda tersebut."
--Sir Isaac Newton

   
   
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube