Minggu, 27 Maret 2022
[Resensi Buku] The Fountains of Silence: Sejarah Kelam Spanyol Masa Franco
Posted by Menukil Aksara | 6:25:00 AM Categories:Kamis, 24 Maret 2022
[Resensi Buku] Sepotong Hati di Angkringan: Memaknai Ulang Sepi di Masa Pandemi
Posted by Menukil Aksara | 12:18:00 PM Categories:📌Judul buku: Sepotong Hati di Angkringan • Penulis Joko Pinurbo • Kurator Tia Setiadi • Ilustrator Alfin Rizal • DIVA Press, 2020, 81 hlm. 📌
🏡 Buku kumpulan puisi ini terdiri atas dua bagian; bagian pertama Sepotong Hati di Angkringan, membidik tema kehidupan secara umum bersetting Yogyakarta dan hal-hal sederhana yang biasa ditemui namun bisa jadi luput dari pemaknaan mendalam, seperti puisi Bakso Sedap, Becak Santuy, dan Suara Drumben Dini Hari, lalu bagian kedua Ibadah Mandi menggugah permenungan atas pandemi yang terjadi, "memamerkan" kemahiran teknik Jokpin sebagai maestro sekaligus kearifan sebagai manusia dewasa, misal lewat puisi Jalan Korona, Elegi 2020, dan Sajak Semoga
🏡Ini buku ketiga beliau yang kubaca, tetap suka dan menikmati sekali tiap sajaknya. Menurutku lewat syair-syair yang bersahaja, pun selentingan sindiran yang tajam, ditemani humor segar yang bikin senyum-senyum, mampu menonjolkan ciri khas sang penyair. Dan tak lupa apresiasi tinggi juga kepada ilustrator yang menciptakan karya keren yang menyertai tiap puisi. Wow banget, sungguh. Wajib dimiliki buku fisiknya
•
📜Protokol Kewarasan
1. Menutup wajah dengan wajah
yang lebih tulen.
2. Menjaga jarak dengan kenangan.
3. Mencuci hati dengan harum hati.
(hal. 74) 📜
Senin, 21 Maret 2022
[Resensi Buku] Laut Bercerita: Jangan Biarkan Kekelaman Menguasai Indonesia
Posted by Menukil Aksara | 7:07:00 PM Categories:Kamis, 10 Maret 2022
[Resensi Buku] Membantah Tuanku Rao: Dongeng dengan Sentimen Pribadi (?)
Posted by Menukil Aksara | 2:09:00 PM Categories:📌Judul: Antara Fakta dan Khayal: Tuanku Rao; Penulis Prof. Dr. Hamka; Editor Muh. Iqbal Santosa, Jakarta; Republika Penerbit, 2017, viii + 479 hal.📌
📑"Bagi saya sejarah itu hanyalah fakta dan data, bukti dan catatan yang kita terima dari pada orang yang dahulu dari pada kita. Dan kita tidak melihat sendiri lagi kejadian itu karena ruang dan waktu yang sudah lampau. Oleh sebab itu untuk menilai, mempertautkan di sana sini, perlulah kita pakai pikiran kita: yaitu pikiran yang teratur. Pikiran teratur itulah yang mempunyai peralatan berpikir; premis I, premis II dan kesimpulan." (hal. 369)
•
📑Buku ini merupakan Bantahan Terhadap Tulisan-tulisan Ir. Mangaradja Onggang Parlindungan dalam Bukunya "Tuanku Rao”. Merupakan pengalaman pertamaku membaca buku bantahan atas suatu buku lain. Sedangkan dari sisi tokoh yang dijadikan judul buku sekaligus fokus (Tuanku Rao, oleh Ir. Mangardja Onggang Parlindungan), bisa dikatakan semasa di bangku sekolah yang lekat di ingatan tentang sosok pemimpin Padri justru Tuanku Imam Bonjol. Namun dalam buku bantahan ini dijelaskan bahwa ada banyak ulama Padri, meskipun yang menonjol ada lima: Haji Miskin, Tuanku Nan Renceh, Tuanku Lintau, Tuanku Imam Bonjol, dan Tuanku Tambusai (hal. 241). Lantas siapakah Tuanku Rao, dari mana asal usul dan apa kiprahnya dalam sejarah Islam di Indonesia? Mengapa pula Parlindungan begitu menonjolkan dan mengelu-elukannya?
•
📑Buku yang cukup tebal ini diawali dengan cerita perkenalan Buya Hamka dengan buku Tuanku Rao disusul dengan penulisnya, berlanjut dengan pertemuan keduanya dengan para sarjana Minang dalam sebuah seminar (termasuk dalam acaranya adalah pembahasan Tuanku Rao). Ditulis secara sistematis (ditunjukkan pada bagian mana pernyataan yang hendak dikupas, di halaman berapa), juga disertai wawancara dengan sejumlah narasumber dan menggali riset dengan referensi jelas (ada dalam Daftar Buku Bacaan). Buku Bantahan ini bahkan memaparkan sejarah Islam di dunia dan bangsa Arab, barulah mengupas sejarah Islam Indonesia, pendudukan Belanda dan Perang Padri. Mengapa hingga menyentuh sejarah Islam di dunia? Karena buku Tuanku Rao mengaitkan kiprah Tuanku Rao dalam lingkup tersebut, termasuk menyebutkan sejumlah tokoh Islam dunia. Selain itu sangat penting mengupas juga budaya Arab, letak strategis sejumlah wilayah di dunia, dan situasi politik suatu masa tertentu demi membantah sejumlah poin
•
📑Pengalaman membaca yang luar biasa. Selain menambah pengetahuan juga mengingatkan tentang urgensi berpikir kritis dan logis, tentang metode ilmiah dalam penulisan sejarah, dan tentang dampak publikasi tulisan seseorang apatah lagi jika isinya menyesatkan. Terakhir, buku Buya Hamka ini menjadi teguran; hendaknya umat muslim Indonesia memberikan penghormatan kepada setiap tokoh perjuangan dan pergerakan kemerdekaan dengan adil, tidak melebihkan satu atas yang lain hanya karena sentimen pribadi atau agenda terselubung lain
•
📑Berikut ini sejumlah kutipan dari buku Antara Fakta dan Khayal: Tuanku Rao yang menurutku penting digarisbawahi:
🖍️Parlindungan memberi judul bukunya dengan "Tuanku Rao" karena Tuanku Rao seorang yang penting sekali kedudukannya dalam kalangan Padri. Sebab dia berdua dengan Tuanku Tambusai adalah orang-orang yang berjasa di dalam menyebarkan Agama Islam ke daerah Tanah Batak, sampai ke Batak Utara, termasuk Tarutung, Balige, dan Porsea sekarang ini.
(hal. 279)
•
🖍️Saya memuji keahlian Parlindungan berkhayal. Sayang sekali ilmu pengetahuan tentang ilmu bahasa dan nasab Arab tidak ada sama sekali, sehingga apa yang dikarangnya ini menjadikan tertawa orang yang ada pengertian terhadap nama si Pokki Na Ngol-ngolan, alias Muhammad Faqih Amiruddin Sinambela, ditukar jadi 'Umar Khaththab! Dan menurut pengetahuan segala orang yang mengerti aturan nama orang Arab dan nama Sayidina 'Umar bin Al-Khaththab pada umumnya, sekali-kali tidaklah Khalifah Rasulullah Yang Kedua itu bernama 'Umar Khaththab, melainkan 'Umar bin Khaththab. (hal. 293)
•
🖍️Asrul Sani memberikan keterangan:
"Tuanku Rao adalah orang Padang Matinggi sendiri, Rao Padang Nunang. Kaum keluarga dan suku-saka yang terdekat masih dapat dicari sekarang di sana... "
(hal. 297)
•
🖍️Penulis Putra Batak sendiri, Alm. Sanusi Pane tidak ada membayangkan sama sekali bahwa Tuanku Rao itu orang Batak.
(hal. 299)
•
🖍️Sejarah adalah hasil penyelidikan pada bekas-bekas yang ditinggalkan oleh orang dahulu berupa kesan, tulisan, bangunan, dan lain-lain. Semuanya ini dikumpulkan dan disusun lalu dijadikan pegangan turun-temurun. Segala bahan, fakta dan datanya atau bahan dan masanya dipertahankan dengan memakai logika akal.
Bukanlah sejarah namanya apa yang disusun sendiri oleh orang seorang asal ganjil bunyinya didengar orang lain, atau berbeda dari yang ditulis oleh orang lain, lalu dipaksa orang menerima apa yang disusun itu. Atau dikarang cerita tapi tidak terang dari mana sumbernya.
(hal. 358-359)
•
🖍️Saya tidak sepaham dengan Parlindungan yang menyamakan sejarah dengan ilmu exact! Bagi Parlindungan yang penting ialah angka tahunan. Sedang bagi saya angka tahunan bukan exact, malahan barang mati kalau tidak diselesaikan dengan logika. Dalam Tuanku Rao terdapat berpuluh-puluh angka tahunan, tetapi menjadi hancur laksana bukit salju kena panas setelah diuji dengan logika atau peralatan premis.
(hal. 369)
•
🖍️Hal yang demikian dilakukan juga oleh Parlindungan kepada seluruh suku Minang yang selalu ditulisnya dalam bahasa Inggris "Brothers from Minang". Dengan tambahan S di ujung Brother jelaslah bahwa yang ditujunya sudah lebih dari satu orang! Apatah lagi banyak terdapat kata-kata ejekan yang tidak pantas, seperti 'membeo' saja atau 'dammit' dan lain-lain padahal tidak pula jelas orang Minangkabau mana yang dituju.
(hal.373)
•
🖍️Maka bertemulah beliau dengan "Brothers from Minang" di rantau yang berminat pada sejarah: seperti Dr. Deliar Noor, Dekan IKIP Jakarta, Dra. Asmaniar, Drs. Ibrahim Buchari, keduanya sarjana jurusan sejarah, Drs. D.M. Mansur, Drs. Amura, Drs. Sidi Gazalba, dan beberapa sarjana di Minang sendiri.
Ketika mulai terjadi pertukaran-pertukaran pikiran tidaklah ada orang yang membalas serang karena menyinggung-nyinggung nama Minang. Orang hanya meminta fakta dan data dari apa yang dia tulis.
Sayang! Tidak ada satu pun yang dapat dijawabnya dengan tegas to the point!
(hal. 375-376)
•
📙Sebagai penutup (usai menyampaikan sederet poin kesimpulan), Buya Hamka menyampaikan:
"Demikianlah beberapa kesimpulan yang sangat prinsipil di dalam buku kita ini, untuk membantah keterangan-keterangan yang sangat menyesatkan dalam buku "Tuanku Rao" karangan Parlindungan tersebut, di samping beratus, saya ulang; beratus keterangan lain yang juga menyesatkan, yang telah dapat memperdayakan pula beberapa sarjana, sehingga mengakibatkan timbul keraguan kita atas nilai kesarjanaan dalam bidang sejarah bagi sarjana-sarjana yang mempercayai buku tersebut." (hal. 394)
•
Wallahu a'lam bishawab.
Senin, 23 September 2019
Senjakala: Kisah-Kisah Mistis Ketika Senja dan Curahan Hati Risa Saraswati
Posted by Menukil Aksara | 6:23:00 PM Categories:Judul buku : Senjakala
Penulis : Risa Saraswati
Penyunting : Maria M. Lubis
Penerbit : PT Bukune Kreatif Cipta
Tebal buku : x+218 hlm; 14x20 cm
Cetakan/Tahun : Cet.1/November, 2018
ISBN : 978-602-220-294-3
Genre : novel misteri/horor
Senin, 01 Juli 2019
Kisah Mahapatih Gajah Mada dan Petualangan Si Bajak Laut yang Konyol
Posted by Menukil Aksara | 3:45:00 PM Categories:Senin, 10 Desember 2018
Minggu, 09 Desember 2018
REVIEW:
“Hati berhak mendapatkan ketenangan, bukan hanya gusar menunggu dengan harapan. Akan ada saatnya kita menemukan atau ditemukan. Sebelum waktu itu tiba, kita bisa fokus pada tujuan, pada masa depan.” (hlm. 267)
Ide tentang origami dan puisi terbilang segar bagi saya, terutama dalam novel romansa Indonesia. Otomatis membuat saya sangat ingin tahu apakah si pengirim akan berhasil menyatakan perasaan secara terang-terangan kepada sang pujaan hati dan mendapatkan respon sesuai harapan. Tapi ternyata Rezza Dwi berhasil menciptakan kejutan demi kejutan dan berbagai elemen cerita yang membuat saya mulai berpikir, cerita ternyata tak sesederhana kelihatannya.
Dua tokoh utama pria yang ternyata bersaudara kandung, misalnya, tidak saya bayangkan sebelumnya. Apa lagi pada akhirnya adik-kakak ini saling tak rela Ara dimiliki salah satu dari mereka. Biasanya sih saya menghindari cerita romansa yang melibatkan persaingan cinta antarsaudara, tapi di luar dugaan kisah ini patut dikecualikan. Ada unsur-unsur keluarga yang kental, di luar persaingan cinta Dio dan Ian, yang bagi saya cukup vital memengaruhi konflik dan logis bisa saya terima. Tentang posisi anak sulung dan bungsu dan berbagai prasangka pilih kasih dan dibanding-bandingkan. Tentang kakak yang selalu harus mengalah dari adik dan diharuskan bersikap lebih dewasa. Juga tentang komunikasi yang baik dalam keluarga agar tidak timbul kesalahpahaman dan dipendam menjadi kebencian. Saya selalu respek jika penulis berhasil menyisipkan pesan semacam ini dalam cerita, genre apa pun itu. Dialog-dialog dalam Origamiara juga realistis, mengena, sekaligus mampu membangkitkan emosi. Saya merasa ‘terhubung’ dengan tokoh Dio dan bisa merasakan beban yang dipikulnya.
Tentang tokoh Ara, saya cukup syok dengan kegundahan hatinya di akhir kisah, meskipun pada akhirnya saya bisa memahami latar belakang sikapnya ini. Perkembangan karakter Ara pun cukup lambat, tapi saya suka akhir kisah yang disuguhkan terkait kebimbangan Ara atas pilihan studinya. Demikian juga dengan Ian yang meskipun terkesan menyenangkan, tapi ada sisi-sisi menyebalkan yang bikin saya kurang respek. Kisah ini juga mengangkat tema ‘friendzone’. Bahwa bukan hal baru jika dalam persahabatan cowok-cewek akan ada risiko perubahan perasaan dan status. Dan pilihan siap tidaknya perubahan ada pada tokoh tersebut.
Chemistry antartokoh cukup bagus, terutama kedekatan Ara dan Ian sebagai teman baik yang suka saling mengolok dan mengusili, atau antara Ara dengan Alika sang sahabat karib yang saling mendukung, atau momen-momen ‘pedekate’ Ara ke Dio. Konyol dan mengharukan terasa silih berganti. Seting dan deskripsinya di kota Bandung, khususnya di sebuah kampus ternama, menyenangkan sekali bagi saya. Mengobati kerinduan akan aktivitas kampus dan kemahasiswaan, sekaligus menjadi semacam angin segar bagi saya yang tidak tinggal di Bandung. Terdapat banyak istilah terkait jurusan matematika yang diambil para tokoh, tapi telah disertai catatan kaki dan penjelasan lewat dialog antartokoh. Alur cerita yang dominan maju dan POV orang ketiga, mengasyikkan juga untuk diikuti.
Sebuah kisah romansa yang ringan, menghibur, tapi tetap berhasil mengaduk-aduk emosi saya. Terselip juga pesan kemandirian dan kegigihan meraih cita-cita selain cinta. Jika harus memilih, saya lebih suka Ara bersama Dio, karena karakter mereka saling melengkapi. Apakah Ara akan tetap memilih Dio atau berpaling kepada Ian? Kamu harus baca sendiri untuk tahu jawabannya. Awas baper, ya. Hehe. Novel yang recommended bagi para pencinta kisah romansa Indonesia, nih. Ditunggu karya-karya selanjutnya dari Rezza Dwi.
Selasa, 06 November 2018
Tujuh Puisi Cinta Sebelum Perpisahan: Kemelut Pernikahan dan Hikmah Rahasia Matematika yang Kamu Tidak Tahu
Posted by Menukil Aksara | 12:26:00 PM Categories:Selasa, 30 Oktober 2018
[BLOGTOUR – GIVEAWAY] Giveaway Novel Song for Alice
Posted by Menukil Aksara | 8:24:00 AM Categories:Dan satu orang yang beruntung mendapatkan novel Song For Alice di Blogtour & Giveaway sesi ini adalah...
Selamat kepada Rezza Dwi / Instagram: @wireawi
Silakan konfirmasi nama, alamat lengkap plus kodepos, dan nomor telepon untuk pengiriman hadiah. Konfirmasi via DM Instagram saya.
Terima kasih kepada teman-teman pembaca yang sudah berpartisipasi dalam giveaway ini. Masih berlangsung Blogtour & Giveaway sesuai jadwal di banner, ya. Silakan meramaikan dan coba lagi kesempatan untuk mendapatkan novel Kak Windry ini.
Terima kasih juga sudah meramaikan sesi blogtour di blog saya. Sampai jumpa di lain waktu ☺
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------






























