Selasa, 07 November 2017

Unforgettable Sunset: Love in Santorini

Posted by Melani Ivi | 10:45:00 AM Categories:
Judul buku                    : Unforgettable Sunset
Penulis                          : Indah Hanaco
Desain sampul               :  Orkha Creative
Desain isi                      : Nur Wulan
Penerbit                        : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan                        : pertama, 2017
Tebal buku                    : 252 hlm.

BLURB:
    “Kau sendirian, Miss? Kalau boleh tahu, siapa namamu? Atau... haruskah kupanggil ‘Milikku’?”

    Sapaan lancang yang awalnya dilontarkan sambil lalu oleh Terry Sinclair itu mengubah hidup Masha Sedgwick. Kegeramannya pada pria hidung belang itu malah mengantarkan Masha pada petualangan hati yang menyusahkan.

    Terry tidak punya niat ambisius apa pun saat menggoda Masha yang ditemuinya saat berlibur di Santorini. Tapi Tuhan malah membuatnya menahan tinju seorang model mabuk untuk melindungi Masha. Dan berakhir dengan perasaan cinta yang meluap-luap dan tak bisa dikendalikan.

    Masalahnya, meski akhirnya terbelit cinta, Masha dan Terry adalah dua orang yang tak berani mengambil risiko untuk berkomitmen. Terry penderita cedera otak yang mungkin tak pernah sembuh. Sementara Masha selalu bergidik jika diajak menikah karena terlalu takut dikhianati.

    Namun, suara hati tak bisa dikekang lebih lama. Masha dan Terry, suka atau tidak, sudah saling jatuh cinta.

    Pertanyaannya, bagaimana mereka bisa bertahan?

SINOPSIS:
    “Aku pria bijak, Graeme. Hanya saja, orang cenderung memberi penilaian yang keliru.” (hal. 19)
    “Itu namanya takdir, Terry. Aku percaya, semua terjadi karena izin-Nya.” (hal. 79)

Usai pertunangan yang putus, Masha Sedgwick memutuskan rehat dari rutinitas kerja di perusahaan mode milik keluarganya. Dia memilih berlibur ke Santorini. Di sanalah, ia mengenal Terry Sinclair, pria tampan bermata hijau yang di kesan pertama membuat Masha menganggapnya playboy karir yang hobi menggoda wanita-wanita cantik. Tapi, di pertemuan kedua, Terry yang berada di sebuah tempat yang sama justru menolongnya dari ancaman insiden yang melibatkan kekerasan fisik. Merasa ingin melindungi, Terry berinisiatif mengajak Masha menikmati keindahan tanah Zeus dengan berpelesiran bersama sebagai kenalan baru.

    Dari kebersamaan di perjalanan selama beberapa hari di Santorini, Masha dan Terry saling mengenal sekilas tentang kehidupan satu sama lain dan meninggalkan kesan yang lebih dalam bagi Terry. Meski berusaha mengelak, Terry pada akhirnya menyerah dan memilih menemui Masha  ketika mereka sudah kembali ke London, berbulan-bulan kemudian. Terry juga berutang penjelasan atas batalnya rencana kepulangan bersama semasa di Santorini. Masha tentu saja kaget dengan kemunculan mendadak Terry. Lebih terkejut lagi ketika Terry terang-terangan mengakui perasaan sukanya dan meminta kesempatan pada Masha untuk mengenal lebih dekat. Meski tak sepenuhnya yakin, akhirnya Masha mengiakan permintaan tersebut.

    Masha sebenarnya juga tertarik pada Terry, namun kesan luar yang ditampilkan Terry yang tak meyakinkan dan traumanya pada hubungan romantis, apa lagi yang melibatkan komitmen serius masih besar. Hal ini ada kaitannya dengan kisah orangtuanya dan perasaan takut akan dikhianati. Sedangkan Terry, juga menyimpan luka dan kisah sendiri terkait pernikahan dan keluarga. Selain itu, sebagai veteran, Terry merupakan penderita cedera otak dengan risiko tak pernah sembuh. Dua orang ini memutuskan menjalani hubungan tanpa tekanan komitmen dan tanpa masa depan menuju pernikahan. Namun, seiring berjalannya waktu, mereka tak mampu memungkiri perasaan cinta yang kian kuat. Sempat mengalami naik-turun hubungan, kesalalahpahaman dan percekcokan, Terry menetapkan hati melamar Masha. Sayangnya, tindakan ini menuai petaka dan penolakan. Di sinilah keduanya lantas dihadapkan pada pilihan, apakah akan terus memperjuangkan cinta ataukah menyerah dan menyudahi perasaan masing-masing.


REVIEW:
    “Ah, cinta adalah sesuatu yang tidak bisa diprediksi kapan datang dan perginya. Juga sebesar apa yang bisa dikecap seseorang.” (hal. 200)
“Itulah gunanya teman, melengkapi kita. Teman dan pasangan punya fungsi yang kurang-lebih sama.” (hal. 207)

Awalnya saya mengira kisah Terry dan Masha ini cukup sederhana. Nyatanya perkiraan saya cukup meleset. Selain cinta, kisah ini mengangkat banyak isu penting. Ada isu seputar veteran perang, korban perang, dan fakta kasus-kasus trauma mereka yang mencengangkan. Juga terselip isu toleransi agama, terutama di Inggris, dan konflik rumah tangga terutama perceraian yang disebabkan perselingkuhan dan kekerasan domestik. Kak Indah Hanaco agaknya cukup berani dengan pilihan ini sekaligus menambah poin plus untuk novel romance ini.

    Setting Santorini yang dipilih pun sangat indah dan memukau, dipaparkan lewat deskripsi yang apik dan luwes, bahkan sudah tergambar sekilas melalui ilustrasi kover yang cantik. Wawasan seputar sejarah Santorini pun dapat kita temui dalam buku. Memilih penggunaan POV orang ketiga juga tepat, sehingga penulis lebih leluasa mengeksplorasi setting dan deskripsi karakter tokoh.

    Penokohannya juga kuat, menampilkan sosok veteran yang rupawan, tapi di luar dugaan memiliki pengalaman hidup yang tak sederhana di usia yang masih terbilang muda. Saya sangat suka karakter Terry, dengan sisi ceria maupun suramnya. Sosok tokoh fiksi yang tak akan mudah dilupakan pembaca, sekaligus ‘menantang’ bagi penulis. Sedangkan Masha dengan segala trauma dan kerapuhannya memang amat menggemaskan. Dia juga mewakili sosok perempuan konservatif di tengah negara yang sekuler dan lingkungan kerja yang dekat dengan para model. Cara masha bertindak dalam hubungan romantis pun seolah menyentil para kaum wanita, termasuk saya, sehingga kerap memicu salah paham dengan pasangan. Banyak momen konyol dan lucu yang menghibur sekaligus menjadi cerminan kaum hawa umumnya. Chemistry antara Masha dan Terry pun bagus, sangat terasa, sehingga bikin saya baper dan tersenyum-senyum. Kak Indah pun menyelipkan detail-detail yang mampu membuat pembaca baper.

    Tokoh-tokoh lain, seperti keluarga Masha dan dua sahabat Terry pun sukses menarik perhatian saya. Prilly yang kerap menjengkelkan dengan hobi ikut campurnya dan Noel yang misterius. Juga Miles dan Graeme, dua sahabat Terry yang punya karakter bertolak belakang dan saling melengkapi. Persahabatan mereka mengundang simpati. Saya pribadi bisa dibilang jatuh suka dan penasaran dengan sosok Miles, yang sempat disebut Terry sebagai Masha versi pria. Saya berharap Kak Indah akan menuliskan kisah spesial sendiri tentang Miles, di novel selanjutnya.

    Novel yang tak terlalu tebal ini alurnya relatif cepat, dengan konflik yang disajikan dengan apik, dan kilas balik kisah yang disampaikan mampu menyampaikan pesan maupun mengungkap satu per satu konflik dan rahasia masa lalu secara bertahap. Penyelesaian ceritanya memuaskan dan manis, sesuai ekspektasi saya. Saya merekomendasika novel ini sebagai bacaan ringan berbobot yang layak dikoleksi bersama seri ‘Around The World With Love’ lainnya. Sebuah petualangan bacaan yang berkesan bagi saya.


Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube