Kamis, 30 November 2017

Menemani Setiap Detik Rasa Sepi: Kisah Cinta Dua Remaja Beda Dunia

Posted by Melani Ivi | 9:51:00 AM Categories:
Judul buku          : Menemani Setiap Detik Rasa Sepi
Penulis                : Adrindia Ryandisza
Penyunting          : Jason Abdul
Penerbit              : PT Falcon
Tebal buku          : 342 hlm.; 14 x 20.5 cm
Cetakan              : pertama, November, 2017

BLURB:
Naomi cantik dan anggota pemandu sorak terbaik di sekolahnya. Tapi setiap latihan dan pertandingan dia merasa kesepian dalam keramaian.

Dia punya teman-teman, dulu. Dia punya keluarga sangat bahagia, dulu. Semua berubah setelah setiap detik rasa sepi menemaninya selalu.

Suatu kali, Naomi meminta kepada Tuhan agar dikirimkan teman sejati. Dan dari miliaran manusia di bumi ini, hadirlah seorang cowok tampan sekali.

Hanya saja sosok cowok ini berbeda, bahkan Naomi bisa tembus melewati tubuhnya. Satu hal lagi, cowok ini mengaku sebagai “jodoh” Naomi.

Oh.
Lalu hidup Naomi tidak sama lagi setelah itu...

SINOPSIS:
“Naomi juga tidak begitu peduli tentang pandangan orang lain kepadanya. Hanya karena mereka melabeli Naomi dengan hal-hal yang jelek, dia tidak akan sakit-sakitan atau mati karenanya.” (hal. 11)

“Dari segala yang ada di dunia, apa sulitnya ngasih yang enggak akan biarin menusuk dari belakang? Tinggal ngasih yang enggak akan biarin aku ngerasa sepi? Yang selalu siap ada di mana dan kapan pun yang aku mau?” (hal. 21)

Naomi, seorang siswi kelas XI sekolah elit Cikal Bangsa di Jakarta, cantik, anggota terbaik tim pemandu sorak, tapi terkenal jutek, tak segan mengutarakan isi pikirannya, dan tidak mau berteman dengan siapa pun. Naomi sengaja menutup diri karena pengalaman buruk pertemanan di masa lalu. Tak ayal, Naomi selalu merasa kesepian, baik di sekolah maupun di rumah. Apa lagi, kedua orang tuanya kini lebih memilih sibuk dengan urusan bisnis dan tak lagi meluangkan waktu untuk anak mereka. Naomi merasa dilupakan dan marah dengan kondisinya. Hal inilah yang suatu hari memicunya ‘menantang’ Tuhan, menuntut dikirimi seseorang yang sedia dan setia menemani setiap waktu. Tak disangka, Tuhan seolah mengabulkan ‘tuntutannya’ dengan munculnya sesosok cowok tampan seusianya secara mendadak. Tak hanya mendadak, cowok ini bahkan muncul di kamar Naomi dan segala benda tembus padanya. Sosok ini mengaku bernama Rayhan dan menyatakan diri sebagai jodoh Naomi.

Naomi yang awalnya sangat syok mendapati sesosok roh gentayangan alias hantu menyebutnya ‘jodoh’ dan bersikap ramah, pada akhirnya terpaksa menerima. Mulai saat itulah Rayhan selalu ‘menguntit’ ke mana pun Naomi pergi. Hingga Naomi terpaksa membuat ‘nota kesepakatan’ berisi aturan untuk Rayhan. Meskipun bukan manusia, ternyata perlahan Naomi merasakan kenyamanan dengan keberadaan Rayhan yang cerewet, selalu ingin tahu, dan bahkan takut menonton film horor. Rayhan mampu membuat Naomi melupakan kesepian dan bahkan tertawa lepas. Tanpa disadari, rasa nyaman ini perlahan berubah menjadi rasa suka.
Di sekolah dan klub pemandu sorak, Naomi memiliki rival sekaligus musuh bebuyutan bernama Nicky, yang memiliki kembaran cowok bernama Nick. Duo kembar ini tak bosan membuat masalah dengan Naomi. Puncaknya, ketika di pesta dansa sekolah, Nicky bersekongkol dengan beberapa kakak kelas cewek menyekap Naomi. Beruntung, Rayhan datang menolong. Kejadian ini mengungkap satu fakta mengejutkan tentang Rayhan dan membuat konflik dengan Nicky bertambah runyam. Percekcokan besar kembali terjadi, hingga Nicky dan Naomi dipanggil kepala sekolah. Sayangnya, ketika orangtua Naomi dihubungi, mereka tak hadir. Naomi merasa muak dan meratapi nasibnya yang dilupakan orangtua.

Final pertandingan basket yang mampu mengalihkan kesedihan Naomi. Di sekolah lawan ini pulalah Naomi Rayhan menemukan sekeping ingatan masa lalunya. Kembalinya ingatan Rayhan tentang kehidupan lalunya sedikit demi sedikit inilah yang lantas membuat Naomi bertekad untuk mencari tahu siapa sebenarnya Rayhan, mengapa rohnya sampai bergentayangan, dan ia lupa akan jati dirinya? Tapi, Naomi juga takut jika suatu saat, Rayhan tak lagi ‘menghantuinya’ dan pergi begitu saja jika sudah mengingat jati dirinya. Di sinilah Naomi diharuskan membuat pilihan yang tepat.
REVIEW:
Membaca blurb novel di kover belakang, saya sempat mengira ini novel remaja dengan kemasan misteri horor. Sebuah tema yang tak biasa untuk bacaan remaja. Tapi ternyata penulis mengemas cerita dengan ringan, sehingga cerita tetap bernuansa teenlit yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari remaja, terutama di kota besar Indonesia. Sama sekali tidak menyeramkan ala novel horor. Penggambaran sosok hantu Rayhan pun justru ramah, baik, ceria, dan berwajah tampan. Ditambah rasa suka yang tumbuh di antara keduanya, membuat kisah menjadi asyik dengan teka-teki akan nasib cinta mereka. Kover pun menarik dan menggambarkan judul.

Ada beberapa hal yang menjadi catatan saya. Ini bersifat subjektif, saya rasa. Bisa jadi, pembaca lain memiliki opini yang berbeda dari saya. Pertama, tentang pemilihan POV atau sudut pandang penceritaan. Menurut saya, akan lebih pas jika digunakan POV orang pertama (aku, Naomi) ketimbang POV orang ketiga. Karena, fokus cerita dari awal hingga akhir adalah Naomi, jadi feel akan lebih terasa jika pembaca diajak menelusuri kisah dari sudut emosi dan isi pemikiran Naomi. Selain itu, saya mendapati di beberapa bagian, terdapat pernyataan yang agak kurang meyakinkan tentang apa yang dipikirkan tokoh lain, padahal digunakan POV orang ketiga, yang menurut saya seharusnya berperan sebagai ‘dia’ yang maha tahu. Kedua, konflik keluarga antara Naomi dan orangtuanya, kurang dieksplor. Saya mengharapkan kemunculan adegan—sedikit sekalipun—yang melibatkan kehadiran orangtua Naomi dan membuat cerita lebih mengaduk-aduk emosi serta menegaskan kesepian yang dirasakan Naomi. Ketiga, terkait penyelesaian masing-masing konflik yang agak kurang menohok, terkesan terburu-buru. Baik itu konflik antara Naomi dengan Nicky – Nick, Naomi dengan orangtuanya, maupun Naomi dengan Rayhan.

Secara keseluruhan, teenlit yang satu ini menawarkan ide segar yang menarik dan menghibur. Fenomena merenggangnya hubungan antara anak-orangtua pun memang tak asing lagi di era sekarang dan layak diangkat. Juga persaingan tak sehat dan aksi yang menjurus ke arah bullying di kalangan remaja. Kisah Naomi ini bisa menjadi cerminan bagi pembaca remaja. Bahwa hal-hal buruk tak lantas dicontoh hanya demi dianggap populer atau diterima dalam lingkaran pertemanan.

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube