Selasa, 04 November 2014

[resensi] Menginsafkan Penulis Pemula

Posted by Melani Ivi | 8:54:00 PM Categories:


Judul Buku : 101 Dosa Penulis Pemula
Penulis    : Isa Alamsyah
Co writer   : Asma Nadia
Coach Editor: Asma Nadia
Editor      : Armiadi Asamat
Desain Sampul: Wasi Kendedes
Ilustrasi Isi : Wasi Kendedes
Layout     : Isa Alamsyah
Proofreader : Armiadi Asamat, Alie Isfah, Ika Prasetya
Penerbit    : AsmaNadia Publishing House, 2014
Jumlah Halaman: ___ + 350 hlm.; 20,5
ISBN       : 978-602-9055-24-5

Blurb:


Ada dua cara belajar kepenulisan.
Cara pertama adalah memberi tahu bagaimana menulis yang baik dengan berbagai teori. Metode ini lazim dilakukan di sekolah dan lembaga pendidikan.
Cara kedua adalah belajar dari kesalahan sendiri atau orang lain sehingga terhindar dari kesalahan yang sama. Metode diterapkan secara alamiah dalam kehidupan.
Dari jatuh, seorang anak belajar berdiri, berjalan, dan berlari.
Dari gagal, kita belajar untuk sukses.
Dari masalah, kita berpikir mencari solusi.
Dari mengetahui dosa-dosa dalam menulis, kita mengerti bagaimana menulis dengan benar dan menarik.

 
Sinopsis:


Tidak ada penulis yang sempurna. Setiap penulis pasti pernah melakukan "dosa" kepenulisan dalam proses kreatifnya. Di antara dosa-dosa kepenulisan, banyak dosa sejenis yang pernah dilanggar hampir semua penulis.
Buku ini mengumpulkan daftar dosa kepenulisan yang paling sering dilanggar penulis pemula, bahkan penulis profesional.
Daftar dosa disusun berdasarkan pengamatan atas ribuan tulisan yang berasal dari peserta lomba atau peserta workshop kepenulisan yang digawangi Asma Nadia, peserta privat/coaching buku, posting-an di Komunitas Bisa Menulis dan juga karya tulis yang sudah beredar di tengah masyarakat.
Dari sinilah terkumpul daftar 101 dosa penulis pemula, yang bisa dibilang daftar dosa standar yang wajib diinsafi untuk bisa masuk ke dalam surga para penulis.
Ke-101 dosa dipilah ke dalam 12 bagian dengan sub judul bagian, sesuai kategori dosa. Diawali dengan bagian Lima Dosa Utama dan diakhiri dengan Lima Dosa Terkait Mental dan Sikap Penulis.
Pemilihan kata "dosa" memang terkesan kontroversial sekaligus menohok. Untuk itu, di bagian awal buku sudah dicantumkan simbol ralat agar dapat menempatkan makna dosa sebagai kesalahan.

Review:


Buku yang cukup tebal ini didominasi warna hitam di bagian sampulnya dengan foto sang penulis--yang adalah motivator sekaligus editor--sedang mencermati tulisan menggunakan kaca pembesar. Desain ini cukup menarik dan menggambarkan isi buku sendiri, yang mengupas inti sari workshop menulis Asma Nadia. Dengan adanya endorsement dari Asma Nadia selaku penulis sekaligus CEO penerbit buku 101 Dosa Penulis Pemula ini, buku ini juga bisa dibilang recommended dan menarik perhatian pembaca di toko buku.


Pemilihan judul cukup menggelitik, unik, dan memicu kontroversi. Ini menjadi salah satu ciri khas Asma Nadia Publishing House, di mana beberapa judul bukunya memang dipilih sedemikian rupa sehingga menarik perhatian pembaca tanpa melupakan gambaran isi buku yang sesungguhnya. Simak saja judul buku motivasi Agung Pribadi berjudul “Gara-Gara Indonesia”, atau karya laris Asma Nadia, “Salon Kepribadian, Jangan Jadi Muslimah Nyebelin”. Saya sendiri memutuskan membeli buku 101 Dosa Penulis Pemula ini karena tergoda membaca judulnya, apalagi setelah mengetahui bocoran ringkas isi buku. Terkait pemilihan judul buku yang tepat ini juga dibahas dalam bab IV-Delapan Dosa dalam Judul, terutama di bagian dosa ke-15 dan ke-16. 


Dikatakan, “Banyak karya penulis pemula yang tidak dilirik penerbit karena judulnya tidak greget.” (halaman 47)


“Judul menggebrak berarti ada keunikan, punya daya dobrak, greget, atau provokatif. Memilih judul yang menggerakkan akan mengundang pembaca ingin tahu isi tulisannya.” (halaman 47)


Mengapa penulis pemula? Sesungguhnya seperti disinggung di depan, tidak hanya penulis pemula saja yang mungkin melakukan kesalahan dalam proses kreatifnya. Penulis senior yang sudah mengantongi jam terbang tinggi pun tak luput dari cela. Bisa kita buktikan dari novel-novel atau buku-buku nonfiksi karya mereka yang biasanya masih menyelipkan typo (kesalahan ketik atau ejaan). Namun, logisnya, penulis pemula memang rentan melakukan lebih banyak kesalahan mendasar. 


Alur dosa yang dipaparkan disusun berdasarkan bagian dalam sebuah karya fiksi, meskipun tidak menutup kemungkinan bisa juga diterapkan dalam menulis nonfiksi. Contoh-contoh paragraf yang dicantumkan pun nyaris seluruhnya diambil dari karya fiksi anggota grup Komunitas Bisa Menulis. Antara lain, pengulangan kata, kalimat tidak efektif, ide yang klise, judul tidak menarik, opening tulisan yang tidak menggebrak, terlalu banyak konflik, ending yang tidak logis, tidak ada lanjaran, narasi bertele-tele, pembaca tidak terikat secara emosional dengan karakter, miskin kosa kata, setting tempelan, dialog tidak cerdas, POV tidak konsisten, tidak paham konsep alur-plot, nihil pesan, hingga kepribadian sebagai penulis yang malas dan cepat puas.


Pemaparan yang gamblang disertai contoh konkrit menjadi daya tarik buku ini, apalagi jika mengingat target utama pembacanya yang merupakan penulis pemula. Coba kita simak kutipan berikut:


“Seharusnya sejak awal seorang penulis berpikir untuk menemukan ide yang unik dan tidak biasa. Menyajikan hal baru dalam karyanya. Pertanyaan yang muncul dalam benak seorang penulis harusnya bermula dari: apa yang akan saya tulis? Apa yang membedakannya dari tulisan yang telah ada? Bagaimana membuat tulisan saya berbeda atau lebih baik dari tulisan yang telah ada? Apa hal unik yang bisa saya gagas?” (halaman 31)


“Opening bertele-tele juga bisa terjadi karena penulis menceritakan banyak aktivitas secara kronologis atau berurutan, tapi informasinya tidak terlalu penting. Misalnya; Sepulang sekolah, setelah berganti pakaian, makan siang, lalu sholat zhuhur, dst (opening karya H. Mahfuzhoh).” (hal. 77)


Banyak pula tips dan catatan khusus yang disisipkan di satu halaman tersendiri dengan font berbeda. Misalnya tips menulis Aku dan Ku dalam tulisan (halaman 8). Hal ini tentunya makin memudahkan pembaca untuk memahami materi.


Keunggulan lain buku ini adalah dicantumkannya rekomendasi buku-buku maupun film yang mendukung pemahaman pembaca terkait materi di beberapa babnya.
Contohnya di halaman 97 penulis menyebutkan buku No Excuse! Dan menyatakan bahwa pembaca bilang seperti ditampar-tampar ketika membaca, sebagai contoh nyata buku yang membekas di hati dan benak pembaca. Juga dimunculkannya novel motivasi Mengejar-ngejar Mimpi sebagai penegas bahwa baik dalam karya fiksi maupun non fiksi, juga tulisan ringan, sangat perlu memasukkan konflik, peristiwa, atau masalah, hingga sebuah karya menjadi lebih kuat. (halaman 98) 


    Simak juga penjabaran mengenai alur bertingkat waktu dan alur lintas waktu. Penulis menyertakan sederet novel dan film sebagai rekomendasi bahan belajar dan memperkaya imajinasi serta kreativitas sebagai penulis (hal. 264).


    Selama menyimak penjelasan demi penjelasan dalam buku ini saya acapkali tersindir, mengangguk setuju atau tersenyum-senyum membaca contoh-contoh yang disodorkan, karena saya pun pernah melakukan kesalahan serupa. Artinya buku ini berhasil mengikat saya secara emosional dan membuat saya betah membuka lembar demi lembarnya, yang mana ini merupakan salah satu ciri buku non fiksi yang bagus.


    Ilustrasi di tiap halaman turut mempercantik penampilan dan menghibur mata yang cukup ‘lelah’ memelototi kalimat demi kalimat penjelasan materi yang cukup serius dan berat.
   
Penutup;


    Secara keseluruhan, saya sangat terbantu dengan hadirnya buku ini. Penjabaran di dalamnya tidak hanya menekankan teori yang rumit, namun juga bersifat aplikatif. Sebagai pembaca sekaligus peminat dunia kepenulisan, kita diharapkan mempraktikkan isinya, tidak sekadar mengangguk-angguk paham lalu menguap begitu saja sejalan berlalunya waktu. Saya berikan 5/5 bintang untuk buku inspiratif ini.
Reaksi:

2 komentar:

  1. Menarik review bukunya ya. Saya juga punya hobi mereview buku, yuk silaturahmi di blog saya ya :

    www.cahayapena.com

    BalasHapus

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube