Minggu, 21 September 2014

[resensi] Hidayah Lewat Rangkulan Tulus

Posted by Melani Ivi | 8:27:00 PM Categories:



Judul Novel: Ku Melangkah dengan Bismillah
Penulis       : Safira Khansa
Penyunting : Radindra Rahman
Desain&Ilustrator Sampul: Adam S. Muhsinin
Penata Letak : Tri Indah Marty
Penerbit : Wahyu Qolbu, 2014
Halaman : xvi + 320 hlm
ISBN : 979-795-875-2

Blurb:

Gadis berkaus oblong, berompi tentara, dan bercelana gunung . Kepiawaiannya dalam berkelahi menobatkan dia sebagai pemimpin sindikat pencopetan. Itulah sosok Luna si preman jalanan.

Di saat dia mulai jenuh dengan hidup yang dijalani, Allah mempertemukan dia dengan seorang muslimah bernama Ani. Ibarat padang nan gersang, taman hati Luna mulai merasakan siraman yang menyejukkan. Islam yang menurut dia aneh dan menakutkan, tanpa disadari telah mengalirkan kedamaian dalam hati.

Namun, ujian demi ujian hadir dan seolah meruntuhkan benteng keimanan. Lantas, masihkah ada iman dalam hati Luna?

Sinopsis:

Luna, si gadis preman tengah muak dengan perubahan sikap sang ayah. Ayah yang mantan preman mendadak alim, rajin shalat berjamaah di masjid, bahkan gemar menceramahi Luna. Masih tertinggal kebencian pada sang ayah atas kelakuan di masa lampau dan kematian sang ibu. Di tengah kegusaran ini, Luna berjumpa dengan Ani, seorang mahasiswi berjilbab yang lembut hati dan halus tutur bahasanya. Ani yang ceria padahal mengidap penyakit serius menyentuh nurani Luna. Perkenalan mereka pun terjadi lewat cara yang tak biasa. Semakin mengenal Ani, semakin Luna merasa betah dan perlahan Luna menjemput hidayah. Saat inilah Allah menyapa lewat ujian keimanan bertubi-tubi. Didampingi Ani dan kakaknya, Luna berupaya tegar dan memilih sabar. Pernak-pernik romansa juga mewarnai liku hidup Luna. Akankah Luna tetap istiqamah menetapi jalan hidayah? Siapakah jodoh yang Allah takdirkan untuk menemani kesendiriannya? Kisah Ku Melangkah dengan Bismillah ini akan menjawabnya.

Review:

Novel karya penulis muda, Safira Khansa ini kental akan muatan religi. Dari judulnya saja kita sudah bisa menangkap aura relijius itu. Dengan kutipan "Bila Selangkah kudatang pada-Mu, seribu langkah Kau datang padaku" yang tertulis di pojok kanan bawah sampul, judul kian bermakna. Desain sampulnya manis, bernuansa girly dengan balutan warna putih dan shocking pink, namun tetap agamis. Gambar sosok muslimah berjilbab (Ani) dan gadis berambut pendek bercelana gunung (Luna) tengah memandang dari kejauhan menjadi sorot utama.

Keeenam belas bab di dalam perjalanan kisah Luna dan Ani menggunakan sudut pandang orang ketiga. Saya pribadi merasa, somehow, akan lebih akrab dan mengena jika saja digunakan sudut pandang orang pertama (entah Luna, Ani, atau keduanya bergantian).

Di lembar-lembar halamannya, kita akan kerap menjumpai nasihat agama, baik yang dikutip langsung maupun diucapkan oleh karakter dalam cerita.
"Ah, uang bisa dicari, Mbak! Rezeki ada yang mengatur. Mungkin saya kurang sedekah." (halaman 66)
"Sesungguhnya dunia itu perhiasan-perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita salihah." (HR. Muslim)-kutipan di halaman 81
Dan masih banyak nukilan-nukilan ayat maupun hadits serta dialog bermuatan dakwah di tiap bab.

Selain itu, kita juga bisa menimba hikmah dari beberapa potongan narasi.
"Ah, betul! Tidak ada istilah keabadian untuk sebuah kesedihan. Seperti hidup yang tidak abadi, seperti itulah potongan kisah dalam hidup yang juga tak akan abadi." (halaman 169)
"Betul kata orang, jika ingin hati terasa 'hidup', maka berkumpullah dengan orang-orang yang hatinya hidup." (halaman 210)

Dari sisi keberhasilan membuat pembaca terikat secara emosional dengan karakter, saya bisa katakan novelis ini cukup sukses. Bagi saya, adegan-adegannya menggelitik manis sekaligus mengeruk air mata. Beberapa adegan favorit saya, diantaranya:
"Masih di tempat wudhu, ia merogoh celana gunungnya. Diraihnya secarik kertas kumal, dibacanya isi kertas itu sambil menengadahkan tangan tinggi-tinggi. Di kertas itu ada tulisan Ani; doa setelah berwudhu..." (halaman 139)
"Lengkap sudah. Kini Luna telah memohon. Bertahun-tahun ia telah berhenti menjalankan ritual paling manjur untuk menolak takdir: berdoa." (halaman 188)

Untuk narasi yang disertai perumpamaan, meski ada yang kurang pas di beberapa bagian, namun ada juga yang mengena. Contohnya:
"...Wajahnya pucat bagai mi rebus basi... Kakinya bagai tertancap di muka jalan, kaku dan kehilangan persendian." (halaman 179-180)
"Amarah yang berminggu-minggu ini memenuhi rongga dada Luna, kini tersihir menjadi pedang pencipta rasa sakit yang mengoyak-ngoyak jantungnya." (halaman 189)

Satu-satunya yang cukup saya sayangkan dari novel ini adalah keberadaan onomatope (tiruan bunyi-bunyian) yang terserak di banyak halaman. Ambil saja contoh, grek-grek, kreek, bruum, tok-tok, tis-tis, tuk, glek, dan sebagainya.

Mengutip pendapat seorang Dee Lestari yang dicantumkan dalam buku 101 Dosa Penulis Pemula (Isa Alamsyah), onomatope ini tidak perlu atau dihindari karena mengganggu, membatasi ruang imajinasi pembaca, sekaligus multitafsir.
"We're writers, but don't write 'em all down. Trust our readers' ability to imagine things. And give them some inspiring and convincing description. A person laughs, okay, but we don't need to read the "hahaha"... A phone rings, please save the "Kring! Kring! Kring!"

Menurut hemat saya, setidaknya onomatope ini diminimalisir atau diganti dengan onomatope yang tercantum dalam KBBI.

Rekomendasi:

Secara keseluruhan, novel ini inspiratif. Pesan kuat di dalamnya menegur kita untuk tak memandang sebelah mata pada saudara/i seiman yang masih jauh dari agama dan belum tersentuh oleh tangan hidayah. Hidayah tak saja datang lewat rengkuhan orang-orang terdekat, namun bisa jadi hadir lewat sapaan orang asing. Dan sesudah hidayah menyapa, masih terbentang jalan panjang untuk menetapi keistiqomahan.

Kisah ini sesuai dibaca para remaja maupun orang dewasa. Semoga sang novelis, Safira Khansa, akan melahirkan karya-karya lain yang sama atau lebih menggugah ke depannya. Masukan saya di review atas diharapkan bisa menjadi perbaikan, meski itu sebatas ilmu yang saya tahu.
posted from Bloggeroid
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube