Sabtu, 15 November 2014

[resensi] Cinta, Pohon Linden, dan Rumah Kardus

Posted by Melani Ika Savitri | 11:10:00 PM Categories:


Judul Novel : Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin
Penulis        : Tere Liye
Desain dan Ilustrasi Sampul : eMTe
Penerbit      : Gramedia Pustaka Utama, Juni 2010
Jumlah Halaman : 264 hlm.; 20 cm
ISBN          : 978-979-22-5780-9

Sinopsis:


Dia bagai malaikat bagi keluarga kami. Merengkuh aku, adikku, dan Ibu dari kehidupan jalanan yang miskin dan nestapa. Memberikan makan, tempat berteduh, sekolah, dan janji masa depan yang lebih baik.


    Dia sungguh bagai malaikat bagi keluarga kami. Memberikan kasih sayang, perhatian, dan teladan tanpa mengharap budi sekali pun. Dan lihatlah, aku membalas itu semua dengan membiarkan mekar perasaan ini.


    Ibu benar, tak layak aku mencintai malaikat keluarga kami. Tak pantas. Maafkan aku, Ibu. Perasaan kagum, terpesona, atau entahlah itu muncul tak tertahankan bahkan sejak rambutku masih dikepang dua.


    Sekarang, ketika aku tahu dia boleh jadi tidak pernah menganggapku lebih dari seorang adik yang tidak tahu diri, biarlah... Biarlah aku luruh ke bumi seperti sehelai daun... Daun yang tak pernah membenci angin meski harus terenggutkan dari tangkai pohonnya.
   

    Cuplikan di atas diculik dari sampul belakang dan halaman depan novel berdesain sederhana ini. gambar sehelai daun pohon linden menjadi ilustrasi sampul sekaligus sebuah simbol yang terkait dengan kisah.


    Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin bercerita tentang sebuah keluarga kecil yang terdiri atas Ibu, Tania, dan Dede. Sang ayah telah lebih dulu berpulang pada Sang Khaliq. Semenjak kepergian sang ayah, kehidupan menjadi sulit sehingga dua kakak-beradik Tania dan Dede harus berhenti sekolah. Sang ibu juga sakit-sakitan. Kedua bocah itu mengamen dari satu bus ke bus yang lain demi menyambung hidup di rumah kardus. Hingga suatu hari, mereka dipertemukan dengan Danar oleh takdir. Danar, laki-laki muda berusia dua puluh lima tahun tergerak hati membantu keluarga kecil Tania. Pelan namun pasti, kehidupan mulai bersinar di tengah keluarga Tania. Tania dan Dede kembali ke bangku sekolah, mereka pindah ke rumah yang layak, sang ibu mendapat pekerjaan yang lumayan. Tania yang beranjak remaja di usianya yang kedua belas diam-diam menanam benih cinta, kagum kepada Danar, lantas menyiraminya tanpa bisa dicegah. Suatu hari yang kelam, sebuah musibah memporak-porandakan kebahagiaan itu. Sang ibu jatuh sakit hingga meninggal. Danarlah yang sekali lagi mengulurkan tangan menggantikan posisi Ibu. Tania yang sedari dulu telah menampakkan kecerdasan, berhasil lolos dalam tes beasiswa ke sebuah sekolah unggulan di Singapura. Dengan bujukan halus Danar, Tania menerima tawaran tersebut. Sayangnya, perpisahan dan jarak yang terentang tak mampu mengikis rasa kagum dan cinta Tania. Akankah cinta itu berbalas, meskipun jelas-jelas Danar memutuskan menikahi perempuan lain? Cari tahu lengkapnya dalam novel ini.

Ulasan:


    Novel yang tak terlampau tebal ini berkisah dari sudut pandang orang pertama/aku (Tania). Pemilihan ini saya rasa tepat, mengingat kisah cinta yang diangkat, yang bisa terbilang sebagai cinta ‘terlarang’ dan menimbulkan dugaan-dugaan, ketidakpastian, terutama dari pihak sang lelaki. Dari pemilihan sudut pandang ini pun Tere Liye seolah ingin menunjukkan kemampuan sebagai seorang novelis pria yang mampu memainkan peran sebagai tokoh wanita.


    Alur maju-mundur yang diterapkan mencoba mengaduk-aduk rasa penasaran dan perasaan pembaca. Dan meski setting toko buku berarsitektur avant-garde yang dipakai paling banyak dalam keseluruhan adegan terkesan sederhana, namun penulis mampu menebarkan aura keindahan sekaligus misteri dari penggalan-penggalan kenangan sang tokoh utama. Setting yang tak kalah menarik adalah di sepetak tanah dengan pohon linden di mana keluarga kecil Tania awalnya tinggal dalam rumah kardus. Mungkin ketika membaca di awal kisah, setting ini tak kentara keutamaannya, namun di ujung cerita, latar ini digunakan sebagai sebuah twist yang cukup menarik. Tere Liye juga mengambil Singapura sebagai setting lain dan menurut saya ini cukup unik sekaligus relevan dengan alur-plot cerita.


    Saya terkesan dengan dua alinea pembuka bab pertama. Cukup terkesan, hingga mampu ‘menyihir’ saya sehingga menggerakkan jemari membuka lembar berikutnya karena disergap rasa ingin tahu.


    “Malam ini hujan turun lagi. Seperti malam-malam yang lalu. Menyenangkan. Membuat suasana di luar terlihat damai menentramkan. Tidak deras benar. Hanya gerimis. Itu pun jarang-jarang, tetapi cukup untuk membuat indah kerlip lampu.
    Aku menghela napas panjang. Tanganku pelan menyentuh kaca yang berembun. Dingin seketika menyergap ujung jari, mengalir ke telapak tangan, melalui pergelangan, menerobos siku, bahu, kemudian tiba di hatiku.
    Membekukan seluruh perasaan.
    Mengkristalkan semua keinginan.
    Malam ini, semua cerita harus usai.”
(halaman 7)

    Dalam deskripsi usia, Tere Liye acapkali mengulang-ulang hitungan umur Tania, Dede, dan Danar. Menurut saya, meski terlhat membosankan, ini menjadi sebuah penekanan tentang jarak umur yang terentang yang menjadi tembok penghalang cinta Tania.


    Eksplorasi karakter ketiga tokoh utama juga apik, disematkan dalam narasi, deskripsi, maupun dialog. Tania yang cantik, cerdas, pemberani. Danar yang dewasa, bertanggung jawab, dan sangat pandai menyembunyikan perasaan. Dede yang gemar bermain Lego hingga memiliki photographic memory yang bagus. Uniknya, jika pembaca jeli, Tere Liye menyelipkan identitas dan karakter dirinya dalam diri Danar. Seperti nama pena (maibelopah, yang merupakan alamat surel Tere Liye) dan profesi kedua Danar sebagai penulis.


    Dua kutipan favorit saya dalam novel ini adalah:
    “Kebaikan itu seperti pesawat terbang, Tania. Jendela-jendela bergetar, layar teve bergoyang, telepon genggam terinduksi saat pesawat itu lewat. Kebaikan merambat tanpa mengenal batas. Bagai garpu tala yang beresonansi, kebaikan menyebar dengan cepat.” (halaman 184)


    “Tak ada yang sempurna dalam kehidupan ini. Dia memang amat sempurna. Tabiatnya, kebaikannya, semuanya. Tetapi dia tidak sempurna.” (halaman 256)


Selain itu, di halaman-halaman awal bab pertama, penulis menyisipkan kritikan ,sindiran atas fenomena kehidupan lewat deskripsi yang apik.


Secara keseluruhan, novel ini menarik, indah, dengan cara yang tak biasa. Saya cukup terpukau dan terhanyut dengan cerita yang mengalir hingga di halaman terakhir. Kisah cinta terlarang yang diangkat cukup berbeda dari kisah-kisah yang pernah ada dan ending yang dipilih logis sekaligus memuaskan pembaca seperti saya. Kisah Tania dan Danar menuturkan makna cinta yang sempurna dari orang-orang yang tak sempurna.
Reaksi:

1 komentar:

  1. Saya baru kelar baca novel ini. Oh, God.... This novel is the best. Saya sukaaa banget cara Tere Liye mendeskripsikan perasaan Tania. Endingnya emang berasa gantung, karena saya pengen banget Danar tuh ditunjukkan balik ke Ratna. Tapi overall, kisah mereka kereeeeennn.....

    Btw, salam kenal ya ^_^

    BalasHapus

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube