Selasa, 25 November 2014

[resensi] Mesin Waktu dan Petualang Masa Depan

Posted by Melani Ivi | 11:07:00 AM Categories:


Judul Novel  : Past and Curious – Saat Hidup Punya Tombol Rewind
Penulis         : Agung Satriawan
Editor           : Nurul Hikmah dan Elly Afriani
Proofreader  : Elly Afriani
Penata Letak: Irene Yuniar
Desain Sampul: Gita Mariana
Penerbit       : Bukune
Cetakan       : Pertama, November 2013
Jumlah Halaman: iv + 276 hlm; 13 x 19 cm
ISBN            : 602-220-118-7


    Hidup tidak seperti remote DVD yang memiliki tombol rewind. Waktu tidak bisa diputar ulang. Tapi, lain dengan kisah Kafi. Mahasiswa kadaluwarsa yang baru ditinggal kekasih ini tersesat ke masa lalu. Tepatnya dua puluh tahun silam, saat seporsi sate kambing masih dua ribu rupiah dan selembar uang lima ratus dihiasi pose orang utan.

    Keanehan demi keanehan ditemui Kafi; uang di kantongnya tidak laku, ponselnya tidak bisa digunakan, Justin Bieber bahkan belum lahir, dan Ksatria Baja Hitam masih membela kebenaran. Dia dibuat bingung dan hampir putus asa. Apa yang sebenarnya terjadi?

    Dalam usaha keluar dari era jadul dan kembali ke masanya, Kafi bertemu dengan sesama petualang waktu; Ardhi—seorang ilmuwan pembuat mesin waktu—dan Soyan yang menginginkan kesempatan kedua. Bersama, mereka mengemban misi untuk kembali ke mas depan. Berhasilkan mereka?


Ulasan Novel:

    Ini kali pertama saya membaca novel karya Agung Satriawan, yang selain menulis juga menjadi crew creative program televisi dan menggeluti bisnis kuliner. Novel berkategori fiksi komedi ini mengetengahkan ide yang cukup lazim, yaitu cerita fantasi mengenai mesin waktu dan lubang hitam yang mampu melemparkan seseorang ke masa lalu maupun masa depan. Meski demikian, humor menggelitik yang disuguhkan dalam tiap lembarnya cukup menghibur, apalagi jika dibaca saat kita sedang jenuh atau suntuk.

    Agung Satriawan memulai kisah novel dengan adegan pertandingan sepak bola kesebelasan Persija sekaligus mengenalkan sang tokoh utama, Kafi, lewat deskripsi kocaknya. Nuansa komedi langsung terasa di sini.

    “Oke. Itulah Kafi. Pria berperawakan sedang, tetapi memiliki perut yang sedikit membuncit. Dialah pemeran utama dalam cerita ini. Pemuda yang hampir tidak muda lagi. Wajahnya cukup tampan sebagai syarat pemeran utama, tetapi tidak cukup tampan untuk masuk televisi; yang ada malah membuat pemirsanya sakit mata. Rambut lurusnya nemplok di wajahnya yang lonjong dengan dagu terbelah. Usianya 26 tahun. Usia pas bagi seorang sarjana..., yang banyak mengulang mata kuliah.” (halaman 2)

    Adegan-adegan selanjutnya mengisahkan Kafi yang hendak berangkat melancong sebelum dipusingkan dengan urusan melamar pekerjaan dan sekaligus demi melupakan kisah cintanya yang kandas. Di rentang alur ini, penulis sesungguhnya sudah menyelipkan petunjuk-petunjuk kecil signifikan dalam pemecahan konflik di bagian pertengahan hingga akhir dengan cukup cerdik. Begitu juga pemilihan kereta barang sebagai alat transportasi yang ditumpangi Kafi pada akhirnya menuju Surabaya, merupakan kunci utama dari misteri tersesatnya Kafi ke masa lalu.

    Selain humor nyeleneh yang bertaburan di sepanjang cerita, penulis pun tak lupa menyisipkan sindiran-sindirannya dalam berbagai adegan. Salah satu yang membuat saya tertawa adalah tatkala Kafi kebingungan harus mencari kerja di masa lalu demi bertahan hidup. Pekerjaan yang langsung mendapatkan upah:
    “Mau jadi penulis, belum punya naskahnya. Kalaupun punya, belum tentu diterima. Kalaupun diterima, proses terbitnya bisa berbulan-bulan. Belum editing, belum desain cover, belum layout. Keburu meninggal karena kelaparan juga.” (halaman 96)

    Ada juga beberapa pernyataan yang diulang-ulang dari tokoh cerita, terkait jawaban ketika ditanyai jauh-tidaknya suatu tempat. Namun, penulis rupanya mahir menempatkan sehingga selalu menjadi kejutan yang masih tetap lucu bagi saya.
    “Mas, Simpang Enam masih jauh?” tanya Kafi kepada pedagang minuman di dekat gerbang terminal.
    “Jauh, Dek. Kayak dari Simpang Enam ke sini.”
(halaman 162)

    Secara keseluruhan, penulis memang patut mendapat acungan jempol untuk tiap kreativitasnya menyajikan cerita yang penuh humor. Mencungkil tiap detail deskripsi, narasi, hingga dialog, dikait-kaitkan dengan banyak hal yang mengundang senyum maupun tawa. Deskripsi setting tahun 1993 pun terasa hidup dengan detail yang tak main-main.

    Kekonsistenan penulis dalam menerapkan logika yang telah diciptakannya dalam cerita fantasi komedi ini pun cukup bagus. Meski selalu kocak, ada pula saat-saat penulis memaparkan teori mesin waktu dengan serius sehingga pembaca memahami logika cerita. Ending yang tak terduga pun memberikan nilai tambah bagi novel ini.

    Meskipun dituturkan secara humoris abis, pesan yang ingin disampaikan Agung Satriawan dalam kisah mesin waktu ini tetap jelas tertangkap. Manusia acapkali meratapi keadaan diri atau kejadian yang menimpa, yang dipandang tidak baik, tidak menguntungkan. Namun, otak terbatas manusia tidak bisa menjangkau kebaikan yang lebih besar yang bisa jadi tersembunyi di balik keburukan tersebut hingga terungkap di masa depan. Karena itulah, kisah ini mengajak kita untuk lebih bersyukur dan bersabar atas tiap kejadian dalam hidup.
   
Reaksi:

6 komentar:

  1. haha, jadi pingin baca buku ini, baca cuplikan humornya aja udah bikin ketawa :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. asli kocak ini,Mbak. Khas guyonan cowok :D

      Hapus
  2. wkwkwkwk.... mbaaaaak..lucu banget dah. walau cuma sepenggal humor diselipkan ke resensi, sumpah, aku ngakak, hahahahaaa....
    Aiiih... berarti pintar mbak Ika bikin resensinya mah. feel humornya tetap dapet meski dalam dalam resensi. pengen baca bukunyaaa....ciyus, hahaa...
    Btw, mbak, ijin kopas kalimat ini ya mbak
    “Mau jadi penulis, belum punya naskahnya. Kalaupun punya, belum tentu diterima. Kalaupun diterima, proses terbitnya bisa berbulan-bulan. Belum editing, belum desain cover, belum layout. Keburu meninggal karena kelaparan juga.”
    Mau simpen dalam catatan quote-ku. dengag tetap buku ini sebagai sumbernya. tengkiuu mbak

    BalasHapus
  3. wuih.. bukunya keren yaa..
    yg ngeresensinya pinter nih..

    BalasHapus
  4. Humornya nyentil banget tuh buat yang "mau jadi penulis" :P
    Bukune sekarang nerbitin buku-buku komedi yaa...

    BalasHapus
  5. hm..humor gak pernah jadi my cup of tea sih. dulu ngeliat covernya mikirnya itu buku serius..ha..ha..
    sekarang jadi lebih tahu tentang isi buku ini. Trus gak nyesal waktu ngebatalin niat beli #eh
    he..he..

    BalasHapus

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube