Selasa, 25 November 2014

[resensi] Keliling Dunia Bukan Lagi Sekadar Impian

Posted by Melani Ivi | 11:14:00 AM Categories:

Judul Buku     : The Jilbab Traveler
Penulis           : Asma Nadia, dkk
Editor             : Khairudin Endy, TheNita, Diyan Sudihardjo
Layout            : Novi Khansa
Desain Sampul: Tuarzuan AFC
Ilustrasi Isi      : Telia, Hilaga
Proofreader    : Ika Prasetya
Foto                : Asma Nadia
Cetakan          : Ketiga, Juni 2013
Jumlah Halaman: xvi & 344 hlm; 13 x 20,5 cm
ISBN               : 978-602-9055-13-9


Sinopsis:

    Jalan-jalan bagi muslimah, apalagi berjilbab tentu tidak sama seharusnya dengan perempuan lain. Miris membaca buku-buku traveling yang menyebarkan paham kebebasan, padahal seharusnya setiap perjalanan mendekatkan diri kita pada Allah. Membuat makin khusyu mengejar ridha-Nya, sebab kita telah diizinkan untuk melihat lebih banyak.

    Untuk menjawab kebutuhan muslimah maka sepenuh hati dan pemikiran dikerahkan tim penulis untuk membuat tulisan-tulisan berupa sederet pengalaman traveling di dalam buku ini, juga pernak-pernik seperti Pojok Tips (baca : for) The Jilbab Traveler, dan Secuil Kamus Survive di negeri orang.

Diharapkan buku ini mampu menjawab kebutuhan pembaca ketimbang buku lain dengan tema senada. Ada pula plus tambahan agar traveling mantap dan terhindar dari melakukan kesalahan yang bisa bikin seluruh rencana perjalanan yang sudah disusun buyar dan bubar.

Penyempurnaan lain dari buku sebelum adalah adanya tips agar traveling lebih aman, termasuk share dari komunitas The Jilbab Traveler, salah satu grup traveler muslimah terbesar di facebook. The Jilbab Traveler ini bukan hanya membekali muslimah yang melakukan perjalanan ke luar negeri, tapi tips-tips di dalamnya juga akan sangat membantu ketika muslimah melakukan perjalanan di tanah air. Edisi ini dilengkapi dengan tujuan wisata dalam negeri yang lebih terjangkau kantong dan keindahannya tak kalah dengan destinasi wisata manca negara.


Ulasan Buku:

    Buku yang isi utamanya berbagi pengalaman perjalanan para muslimah ke sejumlah negara di Asia, Eropa, dan Amerika ini diawali dengan tulisan dari Asma Nadia bertopik impian keliling dunia. Sebuah start yang manis, membagikan kisah Asma Nadia yang memimpikan jalan-jalan keliling dunia setelah kerap memandangi magnet suvenir yang bertaburan di pintu kulkas sang nenek, sanak saudara, hingga tetangga. Kondisi ekonomi yang tak melebihi rata-rata menyadarkan Asma Nadia bahwa impiannya bisa jadi terlampau tinggi. Tapi siapa sangka, bidang menulis yang kemudian digeluti secara serius justru yang mengantarkannya memenuhi mimpi keliling dunia.

    Kisah kemudian mengalir dari satu pengalaman ke pengalaman lain yang kesemuanya unik. Tak cuma unik dari segi kejadian, juga khas dalam penyampaian sesuai karakter masing-masing penulis. Inilah salah satu nilai plus buku semacam antologi. Isinya kaya rasa.

    Mayoritas gaya penuturan yang dipergunakan penulis memang santai, tak melulu menjagokan bahasa baku yang kaku. Banyak selingan bahasa percakapan, humor segar, meskipun tak dapat dielakkan dari istilah-istilah khas traveling. Pengalaman yang disuguhkan pun beraneka rupa. Dari yang versi lengkap nan detail, berisi destinasi, rute, biaya, objek wisata andalan, hingga yang umum namun tetap tak kalah seru. Seperti pengalaman berjudul Berlibur Hemat di Pusat Dunia yang menceritakan perjalanan mengelilingi sejumlah kota di Amerika Serikat (halaman 82-107).. Di sini Dede Mariyah memaparkan dengan detail bagaimana dia mengumpulkan dana untuk perjalanan, kota-kota apa saja yang dikunjungi lengkap dengan keunikan masing-masing, harga tiket, lokasi hiburan gratis, mencari makanan halal, hingga jenis transportasi yang digunakan. Sayangnya, karena mengutamakan detail informasi, kurang mengeksplor gaya bercerita yang menghibur, saya justru dihinggapi rasa bosan membaca penjelasannya.

    Berbeda dengan bab pengalaman di negeri Paman Sam, di kisah berjudul Jerman: Malu-maluin di Negeri Orang saya justru betah berlama-lama membuka lembar demi lembarnya di halaman 130-145. Mengapa? Karena Beby Haryanti Dewi seolah mengajak pembaca merasakan petualangan yang benar-benar seru. Menegangkan sekaligus lucu. Saya bahkan sempat tertawa beberapa kali selama menyimak tingkah polah penulis beserta teman dan kerabat yang diceritakannya. Simak saja:

    “Kalo nggak ngerti bahasa, pingin marahin orang kan susah juga. Ini kayak pengalaman temanku, Didin (lagi-lagi nama samaran).
    Didin baru aja naik tram dan sedang nyari tempat duduk. Tiba-tiba ada seorang cowok Jerman sedang duduk sambil selonjoran, otomatis menghalangi orang yang mau lewat. Tanpa sengaja Didin menyenggol kaki cowok itu. Eh, si bule marah-marah dengan bahasa Jerman yang cepeeet banget.
    Didin gondok berat. Pinginnya ngomelin balik si bule, tapi apa daya, modal bahasa Jerman-nya sekarat. Akhirnya Didin berbalik. Ditatapnya bule itu dalam-dalam sambil ngacungin jari telunjuk.
    “Noch mal. Bitte langsam!” (sekali lagi, tolong pelan-pelan!) kata Didin sangar. Bule itu langsung mingkem”
(Halaman 140)

    Pembaca juga dibekali pengetahuan tentang aneka modus tindak kriminalitas di negeri asing, semisal pencopetan, penipuan, dan pemalakan lengkap dengan kronologis di tempat kejadian (halaman 300-307).

    Terlepas typo, buku ini memang sangat membantu para muslimah yang bermimpi atau bahkan sudah berencana traveling ke berbagai kota di seluruh penjuru dunia. Di bagian akhir pun ditekankan kembali upaya agar perjalanan mendekatkan, bukan menjauhkan kita dengan Allah, salah satunya dengan tetap menjaga shalat dan bacaan Al-Qur’an. Semoga edisi terbaru berisi kisah-kisah seru lain segera terbit dan kian memperkaya khasanah acuan bacaan para penyuka traveling di Indonesia.





Reaksi:

8 komentar:

  1. wah lama2 ketagihan nih baca resensi melani, selalu bikin mupeng untuk baca buku yg diresensiin :) meski jarang travelling tapi punya keinginan besar juga bisa spt mbak asma yg bisa keliling dunia

    BalasHapus
  2. hehehe...semoga bermanfaat, Mbak. Kalau saya pingin banget bisa ke Eropa setelah baca buku ini :D

    BalasHapus
  3. Mbaaaaak....resensinya enak banget dibaca. setuju dengan komen mbak lyta.
    ini ada tulisan temanku mbak, itu yang namanya beby Haryanti dewi. beliau dulu memang tnggal di Jerman. sekarang udah balik ke aceh. Tulisan meanng lucu-lucuuuu, xixixiiiiii....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, temenan ya. Asyik banget. Iya, saya suka sense of humour-nya, kalau cerita mengalir hihi.. asli ngakak baca pengalaman di Eropa :D

      Hapus
  4. Ooh ini buku kumpulan penulis ya? Kirain tulisan Asma Nadia aja. Aku jg mau jadi Jilbab Traveler :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa, ini kayaknya tulisan para member grup the jilbab traveler, Mbak :)
      Bikin mupeng memang, buat mengikuti jejak mereka... :D

      Hapus
  5. Ha..ha..review Mbak Melani selalu nge-bahas buku yang belum saya baca dan masih ragu buat di lirik. Ok, review ini meyakinkan saya untuk mempertimbangkan buku ini untuk dimasukkan ke keranjang belanja :D

    BalasHapus

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube