Sabtu, 19 Juli 2014


Judul Buku              : Cinta dan Harapan di Masa Tua – Tips dan Panduan
                                  Untuk Anak yang Tinggal Serumah dengan Orang Tua/
                                   Mertua Agar Menyenangkan dan Penuh Berkah
Penulis                    : Indah I.P., Haya Aliya Zaki, dkk
Editor                      : Naqiyyah Syam
Editor Penerbit         : Muhammad Ilyasa
Desain Sampul         : msfstudio7
Desain Isi                : Muhsinul Fajri
Penerbit                  : Jendela-Lini Zikrul Hakim, Juli 2013

    Masa bayi, kanak-kanak, remaja, dewasa, lalu tua. Itulah fase kehidupan yang harus dilalui setiap anak manusia yang terlahir ke dunia. Menjadi tua adalah sebuah keniscayaan. Mungkin kelak—atau sekarang pun sudah—kita akan menghadapi hidup bersama ayah-ibu, mertua, kakek-nenek, atau saudara yang telah beranjak lansia. Ini menjadi tantangan tersendiri yang lantas mengantarkan kita pada dua pilihan: membuka pintu surga atau menguak keburukan pada sifat dan sikap kita. Suka duka yang selalu menghampiri ketika hidup bersama para lansia terpampang lewat kisah-kisah nyata yang dituturkan oleh para penulis dalam buku ini.

Sinopsis
    Dunia lansia (lanjut usia) adalah dunia yang unik. Di dalamnya penuh tantangan yang menguji kesabaran, keharuan, keikhlasan, bahkan kelucuan yang menggelikan. Semuanya disebabkan perilaku lansia yang tak jarang kembali seperti anak kecil. Kondisi fisik pun telah jauh menurun sehingga menghambat gerak bebas lansia. Bagi mereka yang dekat dengan Allah, lansia bisa menjadi ladang amal yang tak pernah kering demi menggapai ridho Allah. Sebaliknya, bagi mereka yang kurang kuat kesabarannya, lansia bisa menjadi pintu pembuka keburukan diri. Kekurangpahaman atas dunia lansia pun dapat menjadi penyebab lain terkuaknya tabir kelemahan diri. Buku yang ditulis oleh 20 penulis wanita ini berisi pengalaman-pengalaman pribadi penulis maupun orang lain yang dituturkan lewat goresan pena penulis. Kisah-kisahnya mencoba menyingkap tabir dunia lansia, dengan harapan, kita tak salah bersikap dan tak berujung pada gagalnya meraih surga dan ridho-Nya.

Kisah-kisah Inspiratif dalam Buku
    “Sebelum meninggal di Mekah dulu, Opa berpesan, ‘Andaikata aku sudah tidak ada lagi, Bu, pergi dan tinggallah bersama anak kita, Tuti. Karena dia orang yang penyabar dan penyayang.’ Oma menatap saya sambil tersenyum lalu melanjutkan, “Kata-kata itu selalu Oma ingat. Sekarang terbukti benar. Hanya Mama kamu yang paling bisa merawat Oma dengan sabar dan penuh kasih sayang. Di sini hati Oma tenang dan bahagia.” (hal. 9)
    Cuplikan dialog di atas merupakan bagian dari sebuah kisah mengharukan yang dituturkan oleh Indah I.P., salah seorang tim penulis buku ini.  Kisah berjudul Mencintaimu Sepanjang Usiaku ini mengangkat tokoh seorang anak perempuan yang begitu sabar dan telatennya mengurus sang ibu yang telah renta. Sang ibu yang semasa mudanya adalah sosok yang aktif dan berprestasi, berubah menjadi sosok lemah di usianya yang menginjak 82 tahun. Dia menggantungkan setiap jengkal aktivitasnya pada bantuan sang anak perempuan. Berbekal keikhlasan dan kasih sayang tiada batas pada ibunya, sang anak perempuan mengatur jadwal kegiatan ibunya sedemikian rupa sehingga sang ibu selalu tampak segar, sehat dan bahagia. Kelelahan fisik yang mendera karena ketiadaan asisten, sempat membayangi. Namun berkat kesabaran dan kerja sama yang baik dengan anggota keluarga lainnya, rintangan itu berhasil ditepis.
    “Hari-Hari Senja Ayahku” merupakan tulisan di lembar-lembar akhir buku yang ditulis oleh Wylvera W. Tulisan ini menarik, mengambil kisah sosok seorang ayah yang sempat kecanduan rokok sehingga berdampak buruk pada kesehatannya di masa tua. “Kalau kalian bilang, gara-gara rokok umur seseorang lebih pendek dari yang tidak merokok, kelirulah itu! Lihat, teman-teman Papa yang tak pernah menghisap rokok. Mereka malah terjangkit macam-macam penyakit. Sementara Papa? Alhamdulillah sampai setua ini masih sehat-sehat saja.” (hal. 201)
    Sikap keras kepala yang digambarkan lewat penggalan dialog di atas menyiratkan sulitnya menangani sang ayah yang berupaya dijaga kesehatannya oleh anak-anaknya. Pada saat penyakit paru-paru benar-benar mendera, barulah kesadaran yang terlambat itu menghampiri. Hari-hari yang kemudian dijalani menjadi lebih berat, dihantui rasa pesimis dari sang ayah. Berbagai suntikan kalimat penyemangat, pendampingan, pengobatan, diupayakan demi kesembuhan sang ayah.
    Satu kisah terakhir yang ingin saya nukilkan di sini adalah kisah seorang Mbah Suli yang terlantar. Kisah memiriskan hati ini dituturkan oleh Nunik Utami. Kisah ini mengambil sudut pandang orang luar, tetangga dekat Mbah Suli. Mbah Suli mendapat perlakuan kasar dan sewenang-wenang dari sang anak perempuan. Perlakuan tak manusiawi ini dilatarbelakangi himpitan ekonomi dari sang anak yang tak lagi bekerja, hanya mengandalkan uang bulanan suami yang tak seberapa dan anggapan bahwa usianya yang telah senja menjadi beban bagi hidup sang anak. Yang menyedihkan adalah ketika Mbah Suli tidak bersedia pindah ke rumah anaknya yang lain yang notabene jauh di luar kota, semata karena keengganannya berpisah dengan kampung halaman. Mbah Suli menghembuskan nafas terakhirnya di sebuah gubuk tak layak huni setelah diusir dari rumah anak perempuannya.

    Keunggulan Buku
    Perwajahan buku ini memang tak glamor, lebih kepada kesan sederhana dengan balutan warna hijau pupus dan putih pada sampulnya. Gambar kursi roda menjadi simbol kelemahan lansia, namun diimbangi dengan gambar dan tulisan cinta di sampingnya. Buku ini adalah buku sarat hikmah yang jauh dari kesan menggurui. Kisah-kisahnya ditulis dengan hati, mencurahkan segenap cinta pada orang-orang terkasih ataupun empati pada para lansia di seputaran hidup penulisnya. Gaya penuturan yang tak seragam, kisah yang berwarna-warni, menjadi kekayaan yang dapat digali dari buku inspiratif ini. Selain itu, poin plus juga disajikan lewat tips-tips sederhana dan aplikatif yang dirangkum di bagian akhir buku. Tips-tips ini berisi aneka panduan seputar pendampingan dan perawatan para lansia. Terlepas dari aneka teknik perawatan yang disarankan, inti dari semuanya tetaplah terletak pada keikhlasan dan kesabaran tiada bertepi. Karena semua yang datang dari hati yang tulus akan menciptakan detak-detak kasih sayang yang mampu tertangkap oleh hati si penerima. Saya memberikan 4,5/5 bintang untuk buku ini, terlepas dari setitik kesalahan ejaan yang sudah lumrah ada di buku manapun. Buku istimewa ini tak mudah dijumpai mengingat topik yang diangkat dan gaya penuturan yang khas.



Reaksi:

2 komentar:

  1. Makasih ya, Mak. Semoga kisah-kisah di buku ini terus menginspirasi. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. kembali kasih.. aamiin. saya termasuk yang mendapatkannya :)

      Hapus

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube