Jumat, 20 Juni 2014

[Resensi Novel] Kisah Inspiratif yang Dikemas Humoris dan Imajinatif

Posted by Melani Ivi | 3:09:00 PM Categories:

Judul Buku      : Tangguh Perkasa
Penulis            : Superival
Penyunting      : Rival
Penerbit           : Rasibook (CV. Rasi Terbit), 2014
Saya mendapatkan buku ini dari fanspage Rasibook, sebagai hadiah pemenang kuis buku gratis. Membaca sekilas judul buku dan ulasan singkat di bawah judul—sebuah kisah inspiratif perjuangan seorang anak untuk menjadi tangguh dan menyelamatkan desanya—awalnya saya mengira alur cerita akan berjalan dramatis melankolis. Di luar perkiraan, setelah membaca lembar-lembar awal buku dan menyudahi petualangan membaca saya di halaman terakhir, ternyata buku ini jauh dari kesan melankolis dan kisah sedih menyayat hati. Penulis—Superival—memilih gaya penceritaan yang kocak mengundang tawa atau senyum serta imajinasi yang tak berbatas, tak melulu mengedepankan teknik menulis sebuah novel dan aturan-aturan terkait kelogisan cerita.
Buku ini terdiri dari 50 bab kisah yang berputar sekeliling kisah hidup seorang anak—diberi nama Tangguh Perkasa, sejak menjelang kelahirannya hingga dewasa. Tangguh bukanlah anak istimewa yang diberkahi banyak kelebihan semenjak lahirnya. Berorangtuakan seorang ayah buruh pabrik dan ibu yang bekerja serabutan, ketika lahir Tangguh bertubuh mungil. Kedua orang tuanya menamai Tangguh Perkasa sebagai sebuah doa agar dia tumbuh menjadi lelaki yang tangguh, yang mampu membangun benteng dari batu yang dilemparkan padanya serta menjadi kebanggaan keluarga. Semasa kecilnya, Tangguh mengalami tindak bullying yang bertubi-tubi dilakukan oleh teman masa sekolahnya, Badrun, Jamal, dan Tohir. Meski kerapkali kalah oleh ulah keroyokan licik tiga sekawan itu, Tangguh masih berupaya tegar dan memfokuskan diri belajar giat di bidang sains yang digemarinya, terutama Matematika. Di sekolah, dia berteman baik dengan Lica, Cahyo, dan Solihin. 

Suatu hari, ulah nakal ketiga musuhnya menyebabkan Tangguh dikeluarkan dari sekolah. Dikarenakan sedih, malu pada kedua orang tuanya, tanpa disadari Tangguh berdiri lama di tepian pantai tempat dia tinggal dan terjatuh mengapung terbawa arus laut ke sebuah pulau terpencil. Ayahnya beserta penduduk desa dan tim pencari berjuang menemukan keberadaannya sehingga mengakibatkan ayahnya dan seorang pemuda—Joko—terpisah dan terdampar setelah badai menghantam perahu mereka. Di lain sisi, Tangguh bertemu seorang perempuan—yang belakangan diketahui gila sekaligus mantan dukun beranak yang menolong proses kelahiran Tangguh dulu—yang akhirnya dipanggil guru dan mengikuti ke manapun Tangguh pergi. 

Singkat cerita, sepuluh tahun kemudian Tangguh dan sang guru kembali ke pemukiman penduduk dan menemukan bahwa desa tempat tinggal Tangguh terancam musnah akibat keserakahan perusahaan minyak milik ketiga musuh bebuyutannya semasa sekolah. Lika-liku perjuangan Tangguh bertemu kembali dengan ayah ibunya serta membebaskan desanya dari cengkeraman ketiga pemuda kaya yang culas tersebut dikisahkan dalam lembar-lembar novel ini.
Sebagai penikmat novel, tak dapat saya pungkiri banyak kekurangan yang saya dapati di sana-sini, terutama terkait EYD, kelogisan cerita, dan lay out

Sebagai contoh, kata tau—seharusnya tahu—yang sering muncul di dalam penuturan. Juga kata motifasi—seharusnya motivasi, ilmuan—seharusnya ilmuwan, rajia—seharusnya razia, yang menurut saya cukup penting untuk diperbaiki, selain juga kata-kata dan kalimat lain yang masih perlu revisi dari segi tanda baca, pemenggalan, dan sebagainya. Dari segi kelogisan cerita, beberapa kali saya temukan hal yang kurang logis—meskipun penulis ingin membawa imajinasinya ke dalam penceritaan, seperti ketika terdampar di pulau, Tangguh dan sang dukun beranak Parti bisa memiliki alat-alat pertukangan semacam kapak, gergaji, yang selaiknya dibawa oleh orang yang memang berencana tinggal di suatu tempat. 

Selanjutnya ketika Pak Karyo, seorang warga desa yang awalnya disebutkan seorang petani, mendadak berlagak pahlawan dan mampu menyetir mobil. Hal ini juga serupa dengan adegan kebut-kebutan dengan Tangguh sebagai pembalap dadakan, sedangkan sebelumnya dia tak pernah dikisahkan memiliki riwayat menyetir mobil, bahkan baru pulang setelah terjebak di sebuah pulau terpencil. Kalimat Tangguh yang menyitir lagu dangdut fenomenal “Kucing Garong” saat adegan dengan Pak Karyo pun kurang masuk akal, sedangkan dia baru kembali dari pulau tanpa komunikasi dengan dunia luar. Apakah iya dia mungkin hafal dengan lagu terkini? Akhir bahagia di mana Badrun menceraikan istrinya Lica begitu saja, membatalkan proyek di desanya, bahkan insyaf hanya dengan digantung di tiang, menurut saya kurang dramatis sekaligus logis, sedangkan sebelumnya dia begitu gampangnya mengeluarkan uang dan akal culas memenjarakan Tangguh dan kawan-kawannya. 
Dari sisi lay out, ada dua judul dalam bab buku yang menurut saya perlu diubah, karena mengulang kata-kata, yaitu di untaian 27 “Bukan Fatamorgana, Bukan Mimpi” dengan untaian 49, kembali mengulang “Bukan Fatamorgana”. Andaipun ini berkaitan, lebih baik jika diganti sehingga tidak terkesan monoton. Selain itu, format margin pengetikan mungkin tidak sesuai dengan pencetakan sehingga posisi atas buku tidak seimbang dan tidak rapi (terkesan terlalu mepet dengan pemotongan kertas saat penjilidan). 
Di luar kekurangannya, buku ini memang menyimpan pesan inspiratif tentang semangat hidup. Bisa disimak penggalan kutipan-kutipan dalam buku yang diberi penanda khusus. Salah satu contoh kutipan yang berkesan bagi saya adalah “Ia berusaha meyakinkan diri bahwa satu-satunya cara mengalahkan ketakutan adalah dengan menghadapinya.” (hal. 30)
Buku ini juga memuat sindiran-sindiran atas berbagai fenomena sosial di masyarakat kita dan diolah menjadi bumbu-bumbu komedi dalam cerita ini.
Bagi Anda yang menginginkan bacaan alternatif yang ringan namun tetap menyimpan pesan inspiratif, buku ini bisa menjadi pilihan. Selamat membaca dan semoga penulis bisa terus menghasilkan karya-karya inspiratif yang berkualitas ke depannya.



Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube