Kamis, 28 Agustus 2014

Gadget: Antara Kebutuhan dan Gengsi

Posted by Melani Ivi | 8:33:00 PM Categories:
Di era globalisasi,  kemajuan teknologi informasi turut menjadi penanda. Manusia sebagai makhluk yang dianugerahi akal dan kecerdasan, mampu menggali ilmu pengetahuan yang akhirnya menghasilkan aneka ragam produk teknologi yang tujuan utama penciptaannya adalah demi kemaslahatan manusia itu sendiri. Produk-produk tersebut juga tidak mandeg, namun sebaliknya, mengalami pertumbuhan dan perkembangan sejalan dengan kemajuan tingkat hidup manusia yang bersinergi dengan hubungan sosial kemasyarakatan dan alam lingkungannya.

foto dari sini

Salah satu produk teknologi di era digital (yang secara harfiah bermakna gambar, grafis yang mendeskripsikan dalam bentuk numeris melalui piranti komputer) masa kini adalah kemunculan aneka gadget mutakhir dengan segala persaingan yang melingkupinya. Gadget (bahasa Indonesia: gawai) adalah suatu piranti atau instrumen yang memiliki tujuan dan fungsi praktis yang secara spesifik dirancang lebih canggih dibandingkan dengan teknologi yang diciptakan sebelumnya. Perbedaan gawai dengan teknologi yang lainnya adalah ukurannya yang selalu dirancang lebih kecil. Sebagai contoh: laptop, notebook, netbook, adalah gadget (gawai) dari komputer. Telepon rumah memiliki kebaruan lewat gawainya, telepon selular. Dan kini, telepon selular pun memiliki gawai berupa telepon selular pintar atau yang biasa disebut smartphone. Pun, banyak perusahaan digital yang menyediakan konten-konten menarik yang bisa diunduh dan dimanfaatkan pengguna gadget. Konten atau bahara (bahasa Inggris: content) adalah informasi yang tersedia melalui media atau produk elektronik. Fenomena gadget versus konten ini paling jelas terlihat di ranah teknologi informasi, seperti ponsel pintar. Terutama, sejak kemunculan sistem operasi android. Android adalah sistem operasi berbasis kernel Linux yang pada awalnya dikembangkan oleh Android Inc, yang didukung Google finansial dan kemudian dibeli pada tahun 2005. Android diresmikan pada tahun 2007 seiring dengan berdirinya Open Handset Alliance-konsorsium hardware, software, dan perusahaan telekomunikasi yang ditujukan untuk memajukan standar perangkat selular. Peminat sistem operasi ini meningkat tajam ditandai perkembangan android sendiri hingga telah mencapai kurang lebih 19 kali pergantian (dari 2.1 Android 1.0 sampai 2.19 Android 4.4 KitKat). Kesuksesan ini tak lepas dari keunggulan android yang mudah pengoperasiannya, menarik tampilannya, dan memakai sistem open source yang memungkinkan penggunanya mengunduh jutaan aplikasi (mayoritas adalah gratis) di luar sana. Program aplikasi merupakan perangkat lunak siap pakai yang nantinya akan digunakan untuk membantu melaksanakan pekerjaan penggunanya. Aplikasi ini disiapkan untuk disesuaikan dengan kebutuhan pengguna.

foto dari sini

Iming-iming kemudahan penggunaan dan bertaburannya jutaan aplikasi inilah yang kemudian memicu tren pemilikan gadget semacam ponsel pintar, sekaligus digunakan sebagai simbol prestise atau gengsi. Pemakainya pun menjangkau kalangan luas, dari kanak-kanak hingga usia senja. Bahkan, bisa dikatakan, kalangan kanak-kanak dan remaja lebih banyak ketimbang kaum tua (di atas 50-60 tahun). Mengapa? Karena sesuai pengamatan dan pengalaman saya sendiri pun, anak-anak dan remaja lebih mudah belajar, menyerap informasi baru, termasuk perkembangan teknologi dibandingkan dengan kaum tua yang lebih mengedepankan fungsi dasar. Dominasi konsumsi gadget, terutama ponsel pintar (termasuk komputer tablet) oleh kalangan muda usia ini membawa dampak positif maupun negatif. Postifnya, tentu saja, anak-anak mampu mengikuti perkembangan zaman, meraup informasi berguna untuk tugas-tugas sekolah, keperluan pembelajaran lain dari gadget ini tanpa kesulitan tinggi seperti di masa-masa tahun sebelumnya. Negatifnya, pemakaian gadget yang terlampau sering, apa lagi dengan ketiadaan orangtua sebagai pendamping akibat kesibukan, dapat menjadi bumerang. Informasi dari konten-konten dan aplikasi yang tidak ramah anak, misalnya berisi pornografi dan pornoaksi, kekerasan, dan isu-isu SARA, dapat menjadi penghantar kemerosotan akhlak dan kecerdasan. Hasil penelitian menunjukan bahwa anak tidak belajar yang substansi seperti bahasa, dari layar TV, tablet, atau PC sampai usia mereka 30 bulan. Hingga disarankan orangtua harus menunda pemberian gadget seperti tablet dan atau komputer sampai usia mereka paling cepat 2 tahun. Yang tak boleh juga dilupakan, sebisa mungkin jadilah orangtua yang lebih dulu memahami gadget itu sendiri, termasuk aplikasi di dalamnya. Sehingga saat anak main gadget, orangtua sudah faham betul seluk beluk gadget yang dipakai anak. Jangan sampai ibunya sendiri tidak tahu apa saja aplikasi yang terdapat dalam gadget yang dipegang anak. Singkatnya, jangan jadi orangtua gaptek.

foto dari sini
Dari pemaparan di atas, saya berpendapat bahwa gadget memang sebuah kebutuhan di era digital sekarang ini. Sah-sah saja jika kita menghendaki gadget dengan kualitas top, meski harus merogoh kocek lebih dalam. Namun, tak perlu memaksakan diri pula untuk fanatik terhadap satu merk tertentu karena gengsi atau prestise, sedangkan di luaran bertebaran gadget dengan harga lebih terjangkau dan konten maupun aplikasi yang tak kalah bagus dan mampu memenuhi kebutuhan kita. Beredarnya aneka ponsel pintar berbasis android misalnya, memberikan kita ragam pilihan yang luas. Karena yang penting dari sebuah gadget, bagaimanapun, adalah kontennya. Di smartphone android milik saya pun, hanya diunduh aplikasi-aplikasi yang memang dibutuhkan via playstore, semacam facebook, tweetcaster for android, instagram, opera mini for android, BBM, whatsapp, LINE, kamera, personal diary (untuk mencatat hal-hal penting), Qur'android, Tafsir Jalalain dan Ibnu Katsir, antivirus, dan clean master. Sengaja tidak ada aplikasi games karena saya tidak terlalu menyukainya. Lantas bagaimana dengan strategi bundling yang marak diterapkan oleh perusahaan-perusahaan di industri selular? Dalam definisi ilmu pemasaran, bundling produk adalah strategi untuk menggabungkan penjualan dua produk menjadi satu paket penjualan dengan harga khusus. Tentu dalam industri selular ada dua kekuatan utama yang bermain, yakni operator dan vendor. Insiatif bundling umumnya dilakukan pihak operator dengan menggandeng vendor. Tapi vendor juga tak jarang menjadi inisatif bundling, semisal dalam menggandeng penyedia konten. Sebagai negara berkembang, Indonesia punya tantangan dan peluang pasar tersendiri dalam strategi ini. Dengan jumlah penduduk sekitar 250 juta, diperikirakan masih ada 160 – 180 juta orang yang belum mengakses telekomunikasi. Potensi ini hanya bisa dibuka bila akses ke perangkat semakin mudah, harga perangkat semakin murah, serta layanan sendiri lebih murah dari yang selama ini ditawarkan.

foto dari sini

Melihat kemajuan perkembangan dan persaingan strategi pemasaran di dunia telekomunikasi selular tersebut, kita sebagai konsumen sekaligus orangtua, mau tak mau harus pandai-pandai memilih dan memilah gadget dan konten yang bermanfaat dan menutup semua kebutuhan kita. Sebagai muslim, selain kebutuhan komunikasi yang lancar dan cepat, kita juga haus akan kebutuhan beragama terutama beribadah. Dari sini, sewajarnya jika kita lebih meilirik gadget dengan konten yang bagus, syukur-syukur sudah bundling konten dan built-in aplikasi sehingga harga lebih terjangkau. Sejauh pengamatan saya, salah satu contoh dari gadget ini telah diterapkan dan dilempar ke pasaran oleh Sygma Creative Media Corporation (Sygma CMC) sebagai perusahaan penerbit Al-Qur’an yang juga bergerak di industri kreatif, melalui produk terbarunya, Syaamil Tabz dan Syaamil Note. Syaamil Tabz merupakan tablet yang didalamnya dilengkapi aplikasi built in Islami paling lengkap. Penciptaan gadget yang didasarkan pada tujuan dakwah ini menghasilkan isi yang lengkap, termasuk game untuk anak dan tanya jawab tentang keislaman. Dengan keberadaan gadget ini di genggaman, kaum muslimin akan dimudahkan dalam belajar Islam, tak perlu membuka-buka banyak buku, terutama di kesempatan yang tidak memungkinkan, misal kala di perjalanan atau kantor. Syaamil Tabz dan Syaamil Note juga menjadi alternatif hiburan dan sumber informasi yang sehat untuk seluruh anggota keluarga. Built-in aplikasi yang terdapat dalam kedua gadget ini antara lain: Quran Miracle The Practice, Tafsir Ibnu Katsir 30 Juz, Aplikasi Haji dan Umrah, E Book “Pustaka Sains Populer Islami”, Game A Ba Ta, Syaamil Quran Terjemah per Kata, Ibadah Muslim Tafsir Ibnu Kosmopolitan, My First Question and Answer, E Book “It’s My World”, Bonus video animasi dan tambahan E-Book lainnya. Masya Allah, saya terpana membaca deretan aplikasi tersebut. Baru kali ini saya menemukan gadget yang benar-benar mendukung pendidikan agama, dakwah, dan hiburan positif sekaligus. Inilah sebuah inovasi teknologi yang dibutuhkan oleh umat muslim Indonesia saat ini, di tengah gempuran pengaruh negatif dari arus globalisasi dan dekadensi moral bangsa. Semoga upaya ini terus digalakkan dan dikembangkan, tak kalah dengan pesatnya perkembangan gadget lain yang begitu cepatnya. Dan, semoga saya sendiri diberikan rizki dan kemudahan untuk memiliki satu dari gadget keren ini hehe...

foto dari sini

 
Referensi:
www.syaamilquran.com





 Blogpost ini diikutsertakan dalam Lomba Parade Ngeblog #PameranBukuBandung2014


Reaksi:

12 komentar:

  1. jadi pengen juga mbak yang keq foto di atas itu. syaamil tab,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe.. nabung dulu yuk, buat beli. emang mantapp isinya :D

      Hapus
  2. mb melani aktif terus, semangat mb

    BalasHapus
  3. Syaamil Tabz memang keren ya Mbak... Pengen banget memilikinya...

    BalasHapus
  4. Jadi ikutan demam Syaamil Tabz ni kak Mel ane... hihihi

    BalasHapus
  5. Iyaa, bikin mupeng punya, nih. Tampilannya oke, kontennya lebih oke lagi :))

    BalasHapus
  6. Aiihhh keren mak... jd pengen. Slama ini saya memilih gadget krn faktor kebutuhan 😊

    BalasHapus
  7. iyaa, saya pun begitu. nggak terpikir akan ada inovasi canggih seperti ini. apa lagi ini kalau dihitung-hitung lebih murah lho karena bundling-nya itu, dibanding kalau aplikasi terpisah.. semoga bisa punya :D

    BalasHapus
  8. Yap langkah bijak menyesuaikan gadget dengan kebutuhan + budget hehe tapi akhir2 ini sudah banyak vendor smartphone yg mengeluarkan smartphone dengan spec tinggi harga low end tapi kualitas tinggi :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha... persaingan pun makin ketat, ya.. pokok ada duit memang mau beli yang mana aja bisa :D

      Hapus
  9. Aku punya .... 5 malah. :D

    BalasHapus
  10. waaa, lima gadget? hahaha... buat apa aja itu,Mbak? pantesan sibuk selalu :p

    BalasHapus

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube