Selasa, 26 Agustus 2014

Buku Cerita Anak: Masa Silam dan Masa Kini

Posted by Melani Ivi | 3:04:00 PM Categories:
    Hampir semua orang akan setuju bahwa masa kanak-kanak adalah masa yang paling menyenangkan, paling seru dan asyik dari semua fase kehidupan yang dilalui insan. Mengapa? Sudah jelas bahwa tabiat masa kanak-kanak yang tak menanggung beban masalah hidup, polos, penuh rasa ingin tahu, keinginan besar untuk mengalami petualangan, dan persahabatan dengan kawan-kawan sebaya yang sportif, merupakan kekhasan masa emas ini sekaligus pembawa aura kesenangan itu. Saya sendiri pernah mengalami masa-masa menyenangkan menjadi kanak-kanak, di mana nyaris setiap saat adalah waktu bermain dan berpetualang di dunia kecil saya. Belajar mengayuh sepeda, bermain aneka permainan tradisional, belajar membaca menulis dan berhitung, bahkan membaca buku dan majalah anak adalah keseruan.
foto gugling
foto gugling

Mengingat buku-buku dan majalah-majalah anak yang saya baca di masa kecil, secara otomatis pikiran saya akan melayang pada majalah Bobo, Kuncup, dan serial Lima Sekawan karya penulis Inggris, Enid Blyton. Saya akui, keluarga saya bukanlah keluarga yang membiasakan anak-anaknya gemar membaca dan mencintai buku. Ibu saya tidak menganggarkan dana khusus untuk membeli, apa lagi mengoleksi aneka buku dan majalah anak. Kecintaan saya pada membacalah yang mengantarkan pada kegemaran meminjam buku-buku bacaan. Seingat saya, majalah Kuncup sajalah yang rutin datang ke rumah kami, itu pun semacam kewajiban dari pihak sekolah tempat Ibu mengajar. Majalah Bobo saya pinjam dari teman dan tetangga yang berlangganan. Pun, serial Lima Sekawan saya peroleh dari hasil meminjam (betapa beruntungnya saya punya teman-teman yang menyukai buku dan bermurah hati meminjamkan, dan saya bersyukur untuk itu hehe..). Cukup banyak judul yang pernah saya baca dari serial Lima Sekawan edisi terjemahan. Tapi yang paling berkesan adalah Mencari Jejak Rahasia dan Di Pulau Harta Karun—ada 21 judul serial yang telah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia. Bagi penggemar Lima Sekawan, tentu tak asing dengan nama-nama tokohnya, Georgina, Dick, Julian, Anne, Dick, dan anjing mereka Timmy. Serial ini melegenda hingga masa sekarang, jauh setelah meninggalnya sang penulis sendiri. Bagi saya, serial ini tak pernah membosankan dibaca karena kisahnya yang sangat menarik, penuh petualangan seru, membangkitkan keingintahuan, mengasah kejelian dan naluri detektif, dan settingnya yang asing (di luar Indonesia) sehingga memancing imajinasi saya sebagai pembaca kanak-kanak. Karakter-karakter tokohnya pun bervariasi, menjadikan cerita ini tidak membosankan.

foto dongenganakindonesia.blogspot.com

Bagaimana dengan buku-buku cerita anak di masa kini? Menurut pengamatan saya, sejauh ini buku bacaan anak cukup berkembang secara positif. Sebut saja dari segi varian. Di masa saya kanak-kanak, di tahun 90-an, sejauh ingatan saya, hanya ada buku-buku cerita terjemahan semacam Lima Sekawan tersebut, beberapa majalah anak—termasuk Bobo yang masih ada hingga kini, dan buku-buku kumpulan dongeng nusantara. Pada masa itu, penulis cerita anak dan penerbitan buku tak sebanyak dan sepesat sekarang. Di era sekarang, kita masih bisa menemukan majalah anak-anak dan remaja, buku kumpulan dongeng nusantara dan dunia, ditambah lagi buku-buku dongeng kontemporer/modern, kisah fabel dan dongeng tumbuhan baru, kumpulan cerita anak religi, buku tuntunan shalat khusus anak, ensiklopedia anak muslim, bahkan komik religi buah karya penulis-penulis baru yang berkualitas. Saya pernah meresensi dua buku bacaan anak religi di sini dan di sini. Saya pun pernah berkontribusi langsung dalam penulisan buku kumpulan puisi anak religi dan kumpulan cerita anak religi melalui event yang diselenggarakan oleh penerbit indie.  Tren menerbitkan buku religi agaknya tak hanya menggaet pasar remaja dan dewasa—dengan menjamurnya novel-novel religi, tapi juga menyasar target kanak-kanak. Dan ini merupakan perkembangan yang patut disyukuri karena anak-anak memerlukan pondasi agama kuat, dan buku menjadi salah satu sumber mereka meraup ilmu agama.
foto dianonasis.com

foto gramediaonline.com
Meski demikian, sangat disayangkan, masih saja ada penyimpangan dalam hal ini. Tengok saja kasus yang mencuat baru-baru ini mengenai terbitnya buku panduan pengetahuan seks dini bagi remaja yang di dalamnya ternyata memuat isu-isu terlarang dalam agama dan tabu di masyarakat, seperti penyimpangan seksual dengan kecenderungan pembenaran. Menanggapi hal ini, menurut saya pemerintah sebagai pemilik kebijaksanaan semestinya turut andil dalam mengawasi dan memperketat peraturan. Di lain pihak, penulis dan penerbit sebagai pihak yang secara langsung terlibat harus memiliki kesadaran dan tanggung jawab moral pada generasi muda bangsa. Dan sebagai orangtua maupun calon orangtua, kita wajib menyeleksi ketat setiap buku bacaan yang akan disodorkan kepada anak-anak kita. Semoga ke depannya kasus seperti ini tidak terulang dan semaraknya buku-buku anak religi dan dongeng mendidik yang kreatif dan inovatif tidak meredup, tergilas arus perubahan zaman.

foto facebook/raditeens publisher



Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Parade NgeBlog #PameranBukuBandung2014


Reaksi:

16 komentar:

  1. Balasan
    1. makasih ya udah berkunjung. jangan kapok :D

      Hapus
  2. wah bagus banget kak artikelnya, jadi nyesel dulu waktu kecil menyia2kan masa untuk membaca hiks hiks

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah, yang bener? trus ngapain tuh dulunya? haha... kalau aku suka baca dari dulu sih ya, lebih "pintar" baca daripada main gobak sodor atau lompat tali :)))

      Hapus
    2. ngapain ya dulu, haha baru ingat, maennya ma anak laki, kerjaannya nonton kartun, entar uang tabungan di ambil buat beli mainan ngelawan cwo, paling di ingat itu, maen gasing kyad tv, gayanya sok kya d tv keluar hewan dari gasing, padahal nggak hahaa

      Hapus
    3. wihh, jagoan main di lapangan ternyata.. :))

      Hapus
    4. haha kalo mainan jago, tapi kalo sudah bagian olahraga paling nggak bisa hahaha ... malang sungguh malang ...

      Hapus
    5. kok bisa ya :)))

      bagus tapi, masa kecilnya jadi menyenangkan :D

      Hapus
  3. Sejak kecil aku sudah menjadi penikmat buku... tempat favorit yang aku tuju ketika jam istirahat adalah perpustakaan.. aku lebih nyaman mencari buku2 kegemaranku untuk dipinjam lalu membawanya ke rumah untuk dibaca... bagiku lebih asyik ke perpustakaan ketimbang jajan di kantin sekolah... Kala itu memang bacaan top yang menjadi favorit ya itu tadi...buku2 petualangan sejenis buku Lima Sekawan...

    BalasHapus
  4. samaa, Mbak.. saya juga dulu karena nggak ada dana buat beli, bela-belain pinjam ke perpustakaan, terutama perpustakaan guru di sekolah Ibu haha.. jadi "makanannya" novel-novel lama angkatan Balai Pustaka waktu SD sampai SMP :))

    BalasHapus
  5. Pengalamanmu jadi peminjam buku perpustakaan sama tuh, Mbak Melani.

    BalasHapus
  6. Di satu sisi, senang begitu melihat perkembangan buku anak di Indonesia, di sisi lain menyedihkan juga ya mak dengan sisipan pesan negatif di beberapa buku anak yang baru-baru ini mencuat :( semoga lebih baik dan selektif lagi ke depan dan kita pun berusaha juga mengimbanginya dengan berkarya lagi untuk bahan bacaan anak-anak kita, begitu ya kan Mak, ^_^ kereen euy tulisan pengalaman Mak Melani

    -----
    bit.ly/VPzE5v

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, meski katanya itu buat remaja dengan bimbingan ortu, tapi pesan negatif tetaplah pesan negatif. makasih kunjungannya, Mak Nufa Zee :)

      Hapus
  7. kalo sekarang buku bacan anak dah banyak dan variatif ya mak...
    salam kenal :)

    BalasHapus
  8. Mbak HM Zwan dan Mbak Rosiana, makasih ya, udah berkunjung... Mbak Rosi, haha, iya, tukang minjem dulu ceritanya.. Buku sekarang full ilustrasi berwarna juga, Mbak HM Zwan, lebih menarik..

    BalasHapus

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube