Kamis, 08 Mei 2014

Si Perak Ramping Yang Tahan Banting dan Setia

Posted by Melani Ivi | 4:09:00 PM Categories:


        
foto koleksi pribadi
 

         Bicara mengenai ponsel pertama; saya termasuk orang yang terlambat memiliki ponsel. Saya ingat dengan jelas, di awal tahun 2000, seorang teman baik saya telah menggenggam ponsel Nokia monokrom berukuran besar yang merupakan ponsel keduanya, sedangkan saya belum memiliki satu ponsel pun. Baru pada akhir tahun 2004 saya membeli ponsel perdana saya.
Saya membeli si ponsel di sebuah pusat pertokoan yang cukup terkenal di Bogor. Saya pergi ke sana ditemani seorang teman. Entah mengapa, pada saat itu (sampai sekarang juga sih hehe…) saya kurang sreg dengan ponsel Nokia yang banyak bertaburan. Saya ingin mempunyai ponsel yang jarang disamai. Pilihan saya akhirnya jatuh pada ponsel Samsung tipe SGH-X120. Saya membelinya dengan uang pemberian ibu seharga sejuta lebih sedikit. Itu harga yang terbilang mahal pada saat itu. Tapi memang dimaklumi, berhubung pada saat itu si ponsel termasuk model terbaru. Dari segi tampilan fisik, si ponsel berwarna silver (perak) ini termasuk ramping dan ringan. Layarnya cukup lebar dengan model memanjang ke atas. Meski tak berkamera, ponsel ini sudah bisa menerima dan mengirim MMS dalam format sederhana (bukan JPEG yang besar). Yang paling saya sukai dari si perak ini adalah kualitas gambar dan warnanya yang jernih, tajam, dan kinclong, dengan layar OLED. Kekurangannya hanya satu bagi saya; tombol keypad-nya cukup keras dan butuh tenaga ekstra untuk memencetnya apalagi jika ingin ber-SMS ria. Saya baru menyadarinya setelah beberapa lama menggunakannya. Namun pada kenyataannya saya nyaman saja dan terbiasa dengan kondisi ini. Ponsel ini juga mudah dioperasikan dan saya suka dengan desain baterainya yang dibuat menyatu dengan tutup belakang ponsel.
Si perak ini juga tahan banting lho. Tidak sekali dua kali saya menjatuhkannya secara tidak sengaja dari atas tempat tidur. Pada akhir-akhir umurnya, si perak  pernah hang meski tidak parah. Yang lebih parah justru baterainya yang cepat aus dan butuh waktu lebih lama dari biasanya ketika di-charge. Saya bangga memiliki ponsel perak ini. Pada saat saya baru membelinya, teman-teman yang melihat pun jatuh hati dan memuji kualitas gambar dan warnanya. Tampilannya juga dikatakan elegan dan slim. Bahkan setelah bertahun-tahun, masih saja ada yang memuji, di tengah maraknya ponsel berkamera. Saya jarang sekali menemukan orang lain yang memiliki ponsel yang sama persis dengan si perak ini.
Selama masa hidupnya menyertai hari-hari saya, si perak nan elegan ini pernah hampir hilang hingga beberapa kali. Yang paling saya ingat adalah ketika saya membawanya ke rental komputer di dekat kampus. Karena terburu-buru, saya meninggalkannya di meja komputer. Untung saja, baru beberapa meter dari rental saya tiba-tiba mengingatnya dan bersyukur dia masih berada di tempat semula. Kali lainnya, saya secara tidak sadar menjatuhkannya di angkutan kota dalam perjalanan pulang ke rumah kost. Tak biasanya, waktu itu saya menyimpannya di saku baju, bukan di dalam tas sehingga mudah terjatuh. Sekali lagi saya beruntung. Ketika turun dan baru beberapa saat membayarkan ongkos, sekilas mata saya menangkap ponsel yang berada di bawah tempat yang saya duduki tadi. Dengan sigap saya naik lagi dan menyambar ponsel saya. Masih ingin membersamai saya sepertinya si perak ini hihihi…
Banyak jasa yang telah ditorehkan oleh si perak. Berbagai keperluan komunikasi jarak jauh dengan ibu dan keluarga, juga komunikasi dengan teman-teman kampus dan para dosen, berjalan mulus berkat si perak. Terkadang dia juga meladeni keisengin oknum-oknum jahil yang menelepon tanpa maksud jelas. Eh, si perak ini juga pembawa rejeki lho. Saya pernah memenangkan pulsa 100K sesudah iseng ikut kuis di sebuah radio swasta di Jakarta. Bahkan di lain hari penyiar radio yang sama menelepon saya untuk diwawancara santai on air karena saya mengirim opini by sms di sebuah acaranya hehehe…Uniknya lagi, si perak pernah saya gunakan untuk sebuah panggilan internasional ke Korea Selatan. Ceritanya, saya pernah sekali mendapat kehormatan mendampingi rombongan mahasiswa dari Hongik University yang sedang melakukan study tour ke Bogor. Sebelum berpisah, saya sempat bertukar nomor ponsel dan alamat e-mail dengan beberapa dari mereka. Saking penasarannya, saya memberanikan diri menelepon salah satu dari mereka yang ternyata sedang berada di sebuah kafe yang gaduh. Terpaksa saya hanya bisa menyapa dan mengucapkan “how are you” saja kala itu, mengingat situasinya tidak kondusif hehehe…
foto koleksi pribadi
Hingga sekarang, saya masih menyimpan si perak ini bersama ponsel kedua saya yang masih ber-merk Samsung. Si perak sendiri sudah lama tidak saya nyalakan dan di-charge, sehingga entah apa dia masih hidup atau tidak saya tidak yakin. yang unik, saya baru menyadari bahwa sim card Indosat saya yang lama masih menyelip rapi di bagian belakang si perak. Oya, sebagai tambahan, si perak ini dipensiunkan sewaktu adik saya menikah dan menghadiahkan sebuah ponsel Samsung hitam ramping bertipe M-3510 pada tahun 2010. Si hitam ini berkamera 2.0 megapiksel dan sudah bisa digunakan untuk akses internet. Akhir hidup si hitam ini justru lebih mengenaskan. Kondisi keypad di bagian tengah atas mengelupas dan terlepas dari badan ponsel serta pinggiran tutup belakang ponsel patah sehingga saya mengikatnya dengan karet gelang untuk mencegah baterainya terbuka hehe…
Baik si perak dan si hitam sekarang menjadi barang antik yang dimuseumkan namun menyimpan sejarah dan kenangan tak tergantikan.

Tulisan ini diikutkan dalam GA Cerita HaPe Pertama 

Reaksi:

6 komentar:

  1. Tinggal di Bogor mak?

    Samsung tuh modelnya gak gampang di tiru yahh, tapi itu dulu sih, skg mah di-copy muluu hihi
    Asik banget yah hp kamera dulu, biarpun vga gambarnya bagus :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. sekarang udah pulang kampung hihi.. di Bogor sempat lama.
      iya, sekarang si Samsung banyak saingannya sih, zamannya juga udah beda :D
      makasih ya komennya :)

      Hapus
  2. waaa masih disimpen hpnya. iya, ya, sejuta jaman itu udah mahal bingit hape. :))

    Makasih ya udah ikutan GA saya :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihi, iya, masih, bingung mau dikemanain juga :D
      sama-sama :)

      Hapus
  3. cerita hape pertama selalu seru yaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. yap, apalagi ada sejarah berkesannya :))
      salam kenal :)

      Hapus

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube