Kamis, 01 Mei 2014

[Resensi] Pendakian Panjang Menempuh Kesabaran dan Menjumpai Ketundukan*

Posted by Melani Ivi | 7:40:00 PM Categories:



Judul Buku          : Altitude 3676 – Takhta Mahameru
Penulis                : Azzura Dayana
Penyunting          : Mastris Radyamas
Penerbit               : Indiva, 2013

Allah telah menghamparkan bumi dengan langit sebagai atapnya dan gunung sebagai tiang pasaknya. Mendaki puncak tertinggi gunung merupakan sebuah perjalanan penuh hikmah bagi mereka yang berfikir. Pernahkah Anda mendaki gunung hingga puncak? Apa yang Anda rasakan ketika telah berada di atas? Atau Anda pernah menjelajah bumi nusantara hanya dengan berbekal ransel dan persiapan seadanya? Novel ini melatarbelakangi kisahnya dengan petualangan alam dan budaya. Tidak hanya itu, novel ini menyuguhkan pula kisah kehidupan anak manusia yang dramatis dan akan membuat Anda jatuh hati dengannya.

Ranu Pane, desa tertinggi di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, adalah titik akhir perjalanan sebelum memulai pendakian ke Gunung Semeru. Di desa inilah dua tokoh utama cerita pertama kali bertemu. Faras, seorang gadis penduduk asli desa Ranu Pane, memiliki hati yang tulus, ramah, dan gemar menyitir pernyataan Kahlil Gibran. Ia hanya seorang gadis tamatan SMA, namun pemikirannya yang bijak dan tutur bahasanya yang apik mengesankan latar belakang pendidikan yang tinggi. Lain halnya dengan Raja Ikhsan. Pemuda sinis yang mencintai gunung ini menjuluki dirinya “Monster”. Julukan yang sebenarnya disematkan oleh ibu tiri dan saudara-saudara tirinya. Kehidupannya yang rumit dan sulit akibat posisi sang ibu sebagai istri kedua seorang pengusaha kaya, meletupkan bara dendam dalam dadanya. Perjumpaan Ikhsan dan Faras yang hanya beberapa kali rupanya menjejakkan kenangan tersendiri bagi keduanya. Faras menyebutnya sebagai sebuah jalinan pertemanan yang tak biasa. Perjumpaan terakhir mereka menyisakan sesal yang membelit hati Faras. Kala itu, Ikhsan menyiratkan kekalutan hatinya atas kematian sang ibu yang tragis, yang dipicu oleh rongrongan sang ibu tiri. Berbekal pesan-pesan dan foto-foto dalam e-mail yang dikirimkan Ikhsan, Faras bertekad menemukan keberadaan Ikhsan demi menenangkan hatinya. Dalam pencarian inilah, tak sengaja Faras bertemu dengan Mareta—adik tiri Ikhsan—dan menjumpai berbagai fakta baru mengenai Ikhsan yang membuatnya terperangah.

“Kamu bisa buktikan? Siapa yang bertakhta di Mahameru,” katanya (hal.68). 

Kamu bisa jelaskan padaku sebelas alasan kenapa aku harus shalat?” “Kenapa aku meminta sebelas, Faras?” tanyanya. “Karena aku bisa menjawab sepuluh alasan kenapa aku naik gunung dan sepuluh alasan kenapa aku ingin membunuh ayahku. Jadi, kalau kamu mengharuskanku shalat, kamu setidaknya harus punya lebih dari sepuluh alasan yang masuk akal dan berguna.” (hal.58). 

Kutipan pertanyaan-pertanyaan dari Raja Ikhsan yang menyentil di atas adalah salah satu daya tarik dari novel ini. Karakter Ikhsan tergambar apik di sini. Begitu selesai membaca novel ini, karakter Ikhsan masih melekat kuat dalam benak saya. Saat ia menjumpai hidayah untuk shalat di penjara, atau saat ia dihantam rasa bersalah atas kematian sang sahabat, adalah momen-momen menghanyutkan dalam novel ini. Daya tarik lain dari novel ini tentulah setting-nya. Mulai dari Ranu Pane, Semeru, Borobudur, hingga Tanjung Bira. Kita akan diajak menyelami filosofi adat istiadat di beberapa daerah di tanah air. Oleh sang penulis—Azzura Dayana—yang juga seorang pecinta petualangan sejati, kita seakan dipancing untuk turut berpetualang ala backpackers sejati.

Selain kesalahan cetak dan ejaan yang nyaris nihil, saya sulit menemukan kekurangan dari novel ini. Bahkan akhir ceritanya dieksekusi dengan sempurna. Mengambil lokasi di ketinggian 3676 meter di atas permukaan laut dan taddabur atas surat Al-A’raf (Tempat Tertinggi), seorang “Monster” Raja Ikhsan menjumpai makna ketundukan. Penggunaan sudut pandang orang pertama secara bergantian (aku melalui mata Faras, Ikhsan, dan Mareta) dan alur maju mundur, menjadi petualangan bagi pembaca.

Novel ini dapat dibaca oleh kalangan usia remaja hingga dewasa, dengan tutur bahasanya yang mudah dipahami dan kisah menginspirasi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.


Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube