Minggu, 11 Mei 2014

Ikhlas dan Sabar yang Menyempurnakan Hidup

Posted by Melani Ivi | 11:17:00 PM Categories:


foto google.com


           “Tiap amalan kita harus memenuhi dua syarat agar diterima oleh Allah. Pertama ikhlas; niatnya hanya karena Allah. Bukan karena ingin dipuji, ingin populer, atau ingin mendapat harta semata. Kedua ittiba; sesuai yang dituntunkan Rasulullah. Kita tahu tidaknya berarti harus belajar agama.” Tausiyah singkat yang disampaikan dalam pengajian rutin di masjid kampus yang kuhadiri siang itu. Seusai menghadiri kajian, aku berniat mampir ke perpustakaan untuk mengembalikan buku. Kulihat sosok temanku—Dian—di sana.
                “Kok nggak kelihatan tadi, Di? Udah nggak pernah ikut pengajian, ya?” tanyaku hati-hati.
                Dian tampak sedikit terkejut. “Oh, iya, akhir-akhir ini banyak kegiatan di pesantren. Aku nggak bisa seaktif dulu lagi di kegiatan kampus,” dalihnya.
                Aku hanya ber-oh lalu mengangguk, mencoba memahami. Di awal tahun perkuliahan, Dian bersemangat mengikuti kegiatan lembaga dakwah kampus Asy Syifa. Meski belum bisa masuk di kepengurusan tetap, ia rajin berpartisipasi dalam kepanitiaan di berbagai kegiatan.
                Masya Allah… makin terlihat cantik aja, Di!” seru seorang teman laki-laki pada Dian, suatu hari. Hari itu ia memakai kerudung yang lebih lebar dari biasanya dipadankan dengan baju panjang dan rok dengan warna-warna kalem. Parasnya yang memang elok dengan pipi agak tembem, mata bulat, dan kulit bersih, tampak kian menawan.
                “Hei, ada apa denganku? Nggak boleh iri dengan kecantikan teman!” rutukku membatin. Dian tersenyum simpul mendengar pujian tadi.
                “Ran, nanti di acara pelatihan, kira-kira ada kak Yusuf, nggak, ya?” bisik Dian pada Rani—teman kami—yang juga aktif di kegiatan.
                “Pasti ada, ‘kan dia ketua umum. Memangnya kenapa?” sahut Rani sambil tersenyum menyeringai.
                “Nggak apa-apa, ingin tahu saja,” jawab Dian pendek dengan ekspresi datar.
          Dian memang pernah menyatakan rasa sukanya pada kak Yusuf—senior kami—secara sepintas lalu. Apakah hanya karena itu dia rajin mengikuti kegiatan. Tapi, hati manusia siapa yang tahu. Aku tidak boleh berprasangka buruk.
                Hingga di akhir semester berikutnya, dugaanku dan Rani itu seakan diiyakan sendiri oleh Dian. Ia tak lagi terlihat muncul di masjid—kecuali sesekali untuk shalat—termasuk saat jadwal kajian, seperti saat aku bertemu dengannya di perpustakaan. Ironisnya, kerudungnya pun turut memendek seiring keabsenannya.
                “Dian itu beruntung sekali, ya. Ayahnya seorang ustadz cukup terpandang. Mamanya cantik dan baik. Saudara-saudaranya banyak dan akrab satu sama lain. pasti rumahnya tak pernah lengang,” ungkap Rani padaku sore itu, di rumah kost kami. Aku tak berkomentar. Sebagian besar diriku membenarkan perkataannya. Sebagian kecil lagi mencoba menolak.

                Siang tadi kami berkunjung ke rumah Dian, untuk kesekian kalinya. Kami diundang untuk menghadiri resepsi pernikahan kakak sulung Dian—kak Dini. Kak Dini juga berparas cantik, dengan kulit lebih gelap dari Dian. Ia baru setahun lulus kuliah. Rumah mungil keluarga Dian disulap menjadi area resepsi sederhana dengan suguhan prasmanan lezat, hasil kreasi mama Dian sendiri. Semenjak kakaknya resmi dilamar, Dian acapkali memuji calon kakak iparnya. Seorang lelaki muda berwajah rupawan yang agak pemalu.
              Aku teringat akan keluargaku di kota lain. Aku tinggal bersama ibu dan adik perempuanku satu-satunya. Beberapa tahun lalu, bapak dan ibu memutuskan bercerai secara resmi. Mereka toh tak pernah cocok sejak awal. Terekam jelas di pelupuk mataku, sejak aku kanak-kanak, bapak dan ibu kerap bertengkar hebat atau sekadar beradu argumen. Perbedaan karakter tampak nyata. Bapak itu baik dalam banyak hal, kecuali dalam hal tanggung jawab. Sedangkan ibu adalah sosok perfeksionis yang keras. Tidak salah jika mengingat bagaimana beliau tumbuh dan dibesarkan. Menjadi yatim semenjak kecil, dengan enam orang saudara, menjadi tempaan hidup yang keras bagi ibu. Beliau terbiasa bekerja keras dan merencanakan masa depan, tidak bisa hidup semaunya.
                Hari itu, tatkala bapak mengemasi barang-barangnya sesudah pertengkaran hebat di hari-hari sebelumnya, hatiku menangis sekaligus meradang. Namun mataku bersikeras melawan air mata yang ingin tumpah. Yang paling menyedihkan adalah bapak pergi bersama seorang anak kecil, yang bahkan bukan darah dagingnya. Keinginannya menolong seorang janda dan anaknya ditentang keras oleh ibu.
                “Hah, kebiasaanmu selalu kambuh, layaknya penyakit! Bapak anak itu ‘kan masih ada, bukannya sudah mati!” seru ibu meradang kala itu.
                Tak heran ibu berkata demikian. Sewaktu adikku baru saja dilahirkan, bapak pernah tidak pulang cukup lama; kabarnya ke rumah wanita lain. Sewaktu aku di bangku SMA, ibu kembali mencari-cari bapak yang tak kunjung pulang. Itupun kabarnya sedang dengan wanita lain. pernah suatu hari seorang wanita datang bersama anak gadisnya, yang kemungkinan besar saudara tiriku--melihat gelagat ibu waktu itu. Barangkali aku dan adikku memang punya saudara tiri di luar sana. Entahlah.

             “Aku hendak menikah dengan pak Ardi. Ayah dan mama sudah setuju,” kata Dian suatu hari. Kabar ini tak terlalu mengejutkan bagiku dan Rani.
              “Kamu sering bertemu dan pulang bareng pak Ardi, Di?” celetuk Rani kala awal hubungan Dian dan pak Ardi tercium.
                “Iya, ‘kan nggak sampai deketan. Ada tas besar pak Ardi yang membatasi kami,” kilah Dian malu-malu. Pak Ardi adalah kepala sekolah di pesantren milik keluarga Dian, sekaligus tempat Dian mengajar jika kosong dari kelas kuliah. Kekaguman Dian pada kak Yusuf sudah benar-benar musnah agaknya.
        Maka tak berselang lama sesudah itu, Dian dan pak Ardi—sang kepala sekolah muda—menikah.
                “Lagi-lagi Dian beruntung,” pikirku. Mungkin benar apa yang dikatakan Rani. Jalan hidup Dian laiknya jalan tol bebas hambatan dan minus tikungan tajam. Sebelum lulus kuliah, ia sudah bertemu jodohnya.
                “Hei, apa yang kau pikirkan? Mengapa selalu membandingkan hidupmu dengan hidup orang lain dan sedikit sekali bersyukur?” sentakku pada diri sendiri.
                Ikhlaslah. Semua yang kita jalani haruslah selalu dikembalikan kepada Allah. Bersabar dan bersyukur, menerima dengan lapang dada tiap ujian dan jalan hidup—sesulit apapun—yang kita lalui. Nasehatku pada diri sendiri. Sikap sinisku yang mulai mendarah daging harus segera kuobati.
                “Bersabar dan bersyukur adalah keindahan dari seorang Muslim. Tatkala ia mendapat musibah, ia bersabar. Tatkala ia diberi nikmat, ia bersyukur. Sabar juga berlaku ketika menaati perintah Allah dan menjauhi yang dilarang.” Lagi-lagi sebuah tausiyah yang sangat mengena menyapa hari kelabuku.
                Aku tercenung. Aku tak boleh membenci dari orang tua mana aku dilahirkan. Ketetapan Allah pasti yang terbaik. Ikhlas dan sabar atas semua yang telah menimpaku dan syukuri tiap cuil nikmat tak terhingga yang kudapatkan akan lebih terasa meringankan. Ikhlas, sabar, syukur; ilmu yang belajarnya seumur hidup.



          Bertahun-tahun sesudah peristiwa tersebut, aku bertemu dengan lelaki yang menjadi jodohku. Di momen istimewa, saat ijab qabul selesai dibacakan, aku, bapak, dan ibu bersatu dalam satu ruang dan waktu. Momen itu menjadi semacam prasasti bagi kami. Momen di mana tiga hati yang pernah saling membenci dan melukai, menetralkannya dengan sebuah penawar ajaib bernama keikhlasan dan meleburnya bersama air mata.
 


*Tulisan ini terinspirasi dari sebuah kisah nyata.
Tulisan ini diikut sertakan dalam GIVE AWAY TENTANG IKHLAS 


Reaksi:

6 komentar:

  1. tidak mudah memang ya maaak...tapi ikhlas memang kunci banyak hal baik..semoga aku juga bisa...

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaaa.. aamiin.. selagi masih hidup memang harus terus belajar. saya juga :)

      Hapus
  2. ikhlas dan sabar adalah kunci hidup tenang ya mak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mak, betul sekali.. meski praktiknya tak segampang teori :)

      Hapus
  3. suka dengan kalimat ini: ketetapan Allah itu pasti. Ikhlas, sabar dan syukur adalah ilmu yang belajarnya seumur hidup. bener banget. makasih ya sudah ikut give awayku.

    BalasHapus

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube