Kamis, 08 Mei 2014

Jadi Penulis, Jadi Penulis, Jadi Penulis

Posted by Melani Ivi | 9:18:00 PM Categories:


foto: google
“Tanpa impian, apalagi yang kita punya dalam hidup ini?” Kalimat itu barangkali yang tepat menggambarkan urgent-nya sebuah impian bagi saya. Jatuh bangun dalam hidup yang tidak pernah mungkin sempurna dalam pandangan manusia, bisa mengantarkan seseorang ke satu titik kejenuhan bahkan keputusasaan. Saya sendiri pernah mengalami ini. Salah satu motivator penyelamat kala hari-hari berat itu menyergap adalah harapan untuk membumikan impian yang saya titipkan jauh hingga ke langit.
Berani bermimpi, berani pula menyusun rencana dan merealisasikannya. Itu harus terpatri kuat dalam dada. Semenjak kecil saya sudah tertarik dengan dunia kepenulisan dan sastra. Semasa SD, saya gemar menulis dan membaca puisi dan pernah juga mengikuti lomba menulis esai. Sayangnya,  minat itu terkubur dalam-dalam ketika saya menginjak remaja. Tuntutan dari orang tua akan prestasi akademis dan ketidaktersediaan kelas bahasa ketika SMA, menyisihkan impian saya menjadi seorang penulis. Ditambah lagi, tidak ada riwayat penulis dalam keluarga besar saya.
Ketertarikan dan gairah menulis kembali bersemi ketika saya memasuki periode akhir perkuliahan. Merasa jenuh dan tidak cocok dengan bidang yang saya ambil, membawa saya kembali pada dunia kepenulisan yang menjadi cinta pertama saya. Saya mengawali aktivitas tulis menulis lewat blogging. Beberapa event kecil di blog sempat saya ikuti dan menang di beberapa diantaranya. Malangnya, badai hidup selanjutnya kembali menghanyutkan impian saya. Saya tidak menyerah. Menulis tidak pernah mati dalam hati saya. Belum genap setahun belakangan ini saya kembali aktif menulis. Kali ini saya bertekad untuk berjuang lebih keras.  Saya nyalakan lagi semangat lewat berbagai event menulis yang saya ikuti. Bersyukur, kemampuan saya menulis masih lumayan sehingga saya berhasil lolos di beberapa event dan menghasilkan buku-buku antologi.
“Menulis bisa dilakukan sendirian, tetapi menjadi penulis butuh partner.” Itu sebuah kutipan dari sebuah akun kepenulisan yang saya pegang. Yap, untuk saat ini, belumlah pantas saya menyebut diri sebagai penulis yang sesungguhnya. Masih panjang jalan yang harus saya tapaki menuju ke sana.
Dan inilah deretan detil impian saya beserta rencana-rencananya. Saya bermimpi menyelesaikan tiga novel sekaligus tahun ini dan diikutsertakan dalam kompetisi bergengsi tingkat nasional. Saya juga harus tetap rutin berlatih dan mengukir prestasi dengan mengikuti event-event lain yang infonya banyak bertebaran di jejaring sosial dan grup kepenulisan yang saya ikuti. Saya masih harus mengejar ketertinggalan saya dalam mencetak proyek antologi. Saya harus mendapat pengakuan sebagai seorang penulis baru berbakat yang aktif menerbitkan karya setidaknya setahun ke depan. Kemampuan menulis saya harus terus diasah dan ditingkatkan selama setahun ke depan. Ide kreatif tak boleh henti digali. Apa ukurannya? Tentu saja dari komentar para penulis senior dan rekan-rekan penulis yang saya kenal lewat berbagai grup kepenulisan serta dari tanggapan penerbit. Hingga saat ini, saya telah aktif tergabung di keanggotaan lebih dari 10 grup kepenulisan, terutama secara online (mengingat domisili sementara saya sekarang di kota kecil). Saya harus meluangkan waktu khusus setiap hari untuk menulis dan membaca aneka buku. Saya sudah menganggarkan pembelian buku-buku baru setiap bulannya. Perbanyak membaca buku-buku inspiratif dan juara. Latihan menulis saya fokuskan dengan rutin meng-update postingan blog saya, menulis bebas opini-opini dalam otak, menulis review buku-buku yang sudah saya baca, dan tetap jadi “hantu” lomba-lomba kepenulisan. Saya tidak mau sekadar menjadi penulis yang mainstream dan terjebak dalam tren. Impian saya adalah menjadi penulis idealis yang karya-karyanya memorable dan menggerakkan perubahan sesuai idealisme dalam otak saya.

Impian lain adalah mengenyahkan fenomena cinta drama Korea dan sinetron-sinetron karya plagiator yang tidak mendidik. Mengapa tergila-gila pada budaya negeri lain sedangkan budaya sendiri yang tertuang dalam berbagai novel karya penulis-penulis inspiratif bertumpukan? Seorang penulis harus menjadi sutradara perubahan di negeri sendiri. Jika tidak, maka hendak dikemanakan idealisme yang dimiliki?
Target impian berikutnya adalah mengalihkan budaya “tonton dan dengar” di kalangan anak muda negeri ini ke budaya “baca dan tulis”. Saya bermimpi menyaksikan anak-anak muda (bahkan kanak-kanak dan manula) asyik membaca di manapun mereka berada. Di perpustakaan, di halte bus, di stasiun, di bandara, di angkutan-angkutan umum, dan tentu saja di rumah mereka. Saya bermimpi buku-buku saya menjadi bagian dari beralihnya budaya tersebut.
Impian lebih tinggi adalah diterjemahkannya buku-buku karya saya ke dalam berbagai bahasa asing  dan bertengger di rak-rak buku di seluruh nusantara, di luar negeri, dan dipamerkan di berbagai festival internasional. Diundang menjadi penulis tamu berkeliling negeri dan dunia adalah sebuah bayangan gila di benak saya. Siapa tahu, penulis-penulis henat semacam si jenius Malcolm Gladwell, J.K. Rowling, Dan Brown, dan John Grisham menawarkan proyek kolaborasi.
Jika saya punya anak nanti (sekarang saya sudah menikah), saya akan menularkan kecintaan baca tulis ini pada anak-anak saya. Harus ada perpustakaan pribadi dan segudang buku bacaan yang mengakomodir pembelajaran mereka nantinya. Mereka harus lebih hebat dari ibu mereka. Mereka boleh belajar bidang ilmu apapun, tapi menulis harus tetap dinomorsatukan. Semoga suatu saat nanti, kesuksesan yang saya raih mampu membukakan mata keluarga besar saya bahwa menjadi penulis adalah pilihan profesi lain yang membanggakan. Profesi tak cuma pegawai negeri, karyawan swasta, dokter, polisi, dan semacamnya. Semoga semua impian dan rencana saya didengar oleh Sang Maha Pengabul Mimpi dan Doa.

Kemungkinan terburuk, saya tidak memenangkan satu event-pun atau buku-buku saya tidak laku di pasaran, lalu saya bangkrut, itu tidak mengapa, senyampang saya masih bernafas, maka saya masih bisa menjumput ide lain. Biar nggak banyak uang, yang penting tetap kaya tulisan hehe.. jika saya dicemooh beberapa orang, saya akan bangkit lagi. Toh saya pernah melalui hal yang lebih buruk dari itu.
Jadi, sekarang saya berani bilang, “I DECLARE, I WILL ACCOMPLISH MY DREAMS”. Starts today, plan of achievement: next year and the following year until my time is up.





foto: google

tulisan ini diikutkan dalam GA Dare To Dream
Reaksi:

14 komentar:

  1. keren :D mirip impiannya satriadharma.com sang penggegas baca tulis. makasih udah ikutan GA'nya yaa. semoga usaha kita semua setinggi impian yang udah kita buat ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya kah? saya belum pernah baca hehe..sepertinya harus berkunjung ke web itu :D
      makasih sudah membaca ya Mbak Winda.. aamiiin,semoga nggak menyerah di tengah jalan :)

      Hapus
    2. ngomong2 mbak lani kena timpuk award di --> http://windamaki.wordpress.com/2014/05/16/the-liebster-award-dariku-untukmu/ monggo ikutan selagi masih bisa ngetik :D

      Hapus
    3. ngomong2 mbak lani kena timpuk award di sini –> http://windamaki.wordpress.com/2014/05/16/the-liebster-award-dariku-untukmu/ monggo mulai ngetik lagi yaah *ngerjain*

      Hapus
    4. makasih timpukannya :D
      sudah dikerjakan :)

      Hapus
  2. impianmu keren mbak, itulah penulis yang memiliki visi...semoga sukses dan tercapai deh

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin.. makasih ya.. semoga impian kita diijabah :)

      Hapus
  3. Wah, impiannya ditulis secara jelas di sini :) mudah-mudahan tercapai ya mak, aamiin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe.. biar selalu ingat.
      aamiin. makasih ya sudah mampir dan meninggalkan jejak :)

      Hapus
  4. Allahu Akbar, ana merinding membacanya kak, semoga Allah mengabulkan mimpi-mimpi mulia kakak, aamiin ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin... makasih udah meninggalkan jejak :)

      Hapus
    2. Sama-sama kak, terimakasih selalu menginspirasi kami ;)

      Hapus
  5. mimpi mbak bhkan lebih gila dri mimpi sy yang mau menyaingi JK. Rowling dan ahmed deedat haha :D semoga sukses mbak..

    BalasHapus
    Balasan
    1. eh, itu juga keren banget lho.. hayo kita berlari-lari mengejar-ngejar mimpi :D

      Hapus

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube