Sabtu, 19 April 2014

[Cerita Pendek #1] Cinta Sejati Tak Kenal Ukuran

Posted by Melani Ivi | 8:26:00 PM Categories:


Cinta Sejati Tak Kenal Ukuran

            Suara tangisan bayi dan jerit melengking balita memenuhi ruangan. Ibu si bayi berteriak memanggil seorang lelaki muda berperawakan tambun yang secepat kilat berlari tergopoh-gopoh ke arahnya. Dua balita berlarian ke segenap penjuru ruangan sambil tertawa histeris. Mereka tak peduli meski air dari pistol mainan mereka berceceran. Sejurus kemudian terdengar bunyi berdebum. Galon air roboh dan air tumpah menggenangi lantai dengan cepat.
            “Fauzan, Fauzi!” teriak seorang wanita muda bertubuh subur.
            Kedua balita yang awalnya terpaku serentak berlari menghindari cubitan maut si tante gemuk. Tubuh kecil mereka menyelinap di antara perut-perut buncit berkemeja.
           
“Tante, masakannya memang tiada dua. Ary sampai kalap,” seorang lelaki mengusap peluh. Wajahnya yang putih bersemu kemerahan. Agaknya ia merasa menjadi ayam kampung teroven dalam ruangan berjejal manusia itu.
            “Pulang dulu ya, Tante. Terima kasih jamuannya,” menyusul tamu berikutnya berpamitan sambil mengembangkan senyum termanisnya.
           
“Aduh capek sekali, Ma. Shifa nggak sanggup lagi,” keluh sang anak gadis sambil mendaratkan tubuh suburnya ke sofa empuk di sudut ruangan.
            “Ya sudahlah, kita istirahat sekarang. Besok, jangan lupa lanjutkan tugas kalian!” sahut sang mama pada akhirnya. Arisan keluarga yang menguras keringat.
           
            “Sayang nih makanan sisa arisan kemarin. Salman sikat habis ya, Ma!” seru Salman bersemangat. Ia sudah berancang-ancang menyendok sepotong ayam ketika sang kakak menyerobot.
            “Eit, ini bagian gue ya,” tukas Syla sambil nyengir kuda.
            “Asem, main serobot aja lu, Kak!” seru Salman protes.
            Dalam sekejap, setengah isi meja makan ludes oleh duo kakak beradik tersebut. Ayam panggang, rendang, telur balado, nasi setengah bakul, hingga roti kukus telah masuk ke dalam perut karet mereka.
           
            “Siapa yang barusan menelpon, Ma?” Shifa bertanya pada sang mama yang tampak gusar seusai menutup percakapan di telpon.
            “Om Hary dirawat di rumah sakit. Dia dinyatakan positif mengidap diabetes.”
            “Benarkah? Kapan Mama mau membesuk?”
            “Besok lusa saja. Kamu boleh ikut kalau mau.”

            “Kak, keluarga kita kok penyakitan ya?” celetuk Salman sepulang membesuk om Hary di rumah sakit.
            “Hush, ngawur aja lu!” seru Shifa sambil mendelik.
            Gue kan cuma menyimpulkan. Dalam rentang dua bulan ini, om, tante, kakek, semua drop karena divonis penyakit serius,” sanggah Salman.
            “Iya sih, gue juga mikir ke sana. Tapi omongan lu nggak bisa lebih sopan dikit apa?” sergah Shifa sengit.
            Gue kira kita ini gemuk dari turunan gen alias takdir gitu. Kalau tumbang satu persatu begini, gue jadi mikir buat diet,” cerocos Salman berlagak serius.

            “Shifa, Syla, makan siang dulu!” seru Mama ke arah kamar dua anak gadisnya.
            “Menunya apa, Ma?” tanya Syla yang bersiap mencuci tangannya.
            “Dendeng dan semur ayam. Mana Shifa?”
            “Dia bilang masih kenyang, nggak mau makan.”
            Beberapa hari ini Shifa berperilaku aneh. Dia kerap pulang malam, nyaris tak menyentuh jatah makannya di rumah. Cemilan di lemari juga tak disentuhnya.
            “Shifa sakit, bukan?” tanya Mama suatu hari.
            “Nggak, Ma. Shifa sehat-sehat saja. Masa’ muka segar berseri-seri begini dituduh sakit,” sanggah Shifa sambil tersenyum lebar.
            “Lalu kenapa nafsu makanmu berkurang? Tiap hari pulang malam, itu juga ke mana?”
            “Oh itu, hehe. Sebenarnya Shifa sedang mengatur pola makan, Ma.”
            “Maksudmu diet begitu? Tumben,” sahut Mama setengah tak percaya.
            “Iya, Ma. Jangan khawatir Ma, Shifa dietnya sesuai anjuran dokter gizi dan diimbangi dengan olah raga teratur,” papar Shifa meyakinkan.
            Mama hanya geleng-geleng kepala. Tak disangka anak gadisnya yang selama ini anti diet berubah haluan.
           
            “Apa, Fa? Lu sedang dalam program penurunan berat badan?” Fira tercengang mendengar pengakuan sahabatnya.
            “Itu sebabnya Fir, gue sering absen dari kegiatan komunitas.”
            “Sekarang lu udah turun berapa kilo? Ambil kelas Thai boxing di mana?” Fira mengejar Shifa dengan pertanyaannya.
            Obrolan berlanjut dan terus melebar ke gosip pelatih Thai boxing terkece versi Shifa. Mereka lupa bahwa hari ini adalah jadwal pertemuan rutin komunitas orang gemuk se-Jakarta.
           
            “Shifa, besok sepulang kerja gue mau bicara empat mata sama lu,” itu bunyi pesan singkat dari Dipta.
            Shifa menerka Dipta hendak mengonfirmasi sebab ketidak hadirannya beberapa waktu belakangan ini. Dipta ini seorang pemimpin yang berpembawaan supel dan perhatian pada anggota-anggotanya.
            “Kemarin lu mangkir karena apa, Fa?” tanya Dipta membuka pembicaraan.
            “Sorry ya Dip, gue ada urusan.”
            “Gue perhatikan lu jadi nggak seaktif dulu lagi. Apa ada kesibukan lain yang lebih penting?”
            “Sebenarnya memang gue sedang berkonsentrasi ke urusan lain. Kebetulan lu nanya hari ini, sekalian aja gue ijin.”
            “Ijin bagaimana maksud lu?”
            Gue mau mengundurkan diri dari kepengurusan.”
            Dipta terlihat kaget. Dia kikuk mengubah posisi duduknya.
            “Kok mundur sih, Fa? Gue nggak mengijinkan. Setidaknya tunggu sampai akhir masa jabatan.”
            Gue inginnya sekarang, Dip. Gue nggak enak sama teman-teman.”
            “Kalau memang lu merasa segan, justru harusnya lu nggak seenaknya gitu mundur!” tukas Dipta emosi. Dia berdiri dan bersiap pergi, ketika Shifa masih menegaskan kata-katanya.
            Gue itu suka sama lu, Shifa. Masa’ lu nggak ngerti sih?” sekonyong-konyong Dipta berucap. Matanya kini menatap Shifa tajam sambil menahan kekesalannya.
            Shifa ternganga, sejenak membisu. Kupingnya kah yang sudah salah dengar atau Dipta sedang mengada-ada untuk mencandainya?
            Gue serius, jadi tolong dipikirkan lagi,” tandas Dipta lalu melangkah pergi meninggalkan Shifa yang masih bingung. Bagian mana yang harus dipikirkan; pengunduran dirinya kah atau pernyataan sukanya barusan?

            Bulan demi bulan berganti. Shifa tetap kokoh pada pendiriannya untuk menon-aktifkan dirinya dari kegiatan komunitas anak-anak muda bertubuh tambun. Lagipula tidak lucu dong seseorang yang berniat kuat merampingkan badan masih aktif menjadi pengurus komunitas pro kegemukan? Dia memutus kontak dengan Dipta dan kroninya untuk sementara waktu. Tindakan kekanak-kanakan dan egois yang terpaksa ia pilih.

            “Kak, hari ini lu pilih diet yang mana?”
            Lu pikir menu, bisa dipilih-pilih?”
            “Lha kan lu sendiri yang mengubah-ubah menu diet. Awalnya diet karbohidrat, lalu beralih ke diet vegetarian. Belum lama ganti saluran lagi ke diet makanan mentah. Terakhir katanya menerapkan diet COD.”
            Shifa tak bisa menahan tawa mendengar penuturan Syla. Shifa memang menguji nyalinya sendiri dengan mengubah-ubah pola dietnya. Ia berprinsip, selama tubuhnya tak protes, kenapa tidak?
            Ponselnya berdering. Sebuah pesan masuk dari seorang Dipta. Agaknya Dipta belum mau menyerah. Shifa menganggap Dipta sebagai seorang teman. Ia mengagumi kelebihan-kelebihan Dipta, kecuali berat badannya. Ia sudah menolak perasaan Dipta secara baik-baik. Ia ingin sebuah hubungan serius mengingat targetnya menikah telah jatuh tempo. Hatinya kini sedang terpaut pada seseorang.

            “Siap-siap aja kalah lu, Dil. Gue yakin seratus persen kalau Shifa akan bertekuk lutut. Cewek mana yang mampu menolak kharisma dan ketampanan gue.
            “Masih ada waktu seminggu lagi. Lu jangan over pede, Fat!”
            Sore itu, ketika Shifa memutuskan berpindah jadwal latihan Thai boxing, tak disangka ia mendengar percakapan yang tak diinginkannya. Fatih dan Fadil, saudara kembar pemilik pusat kebugaran ternyata mempermainkannya, menjadikan perasaannya objek taruhan.
            Shifa urung berlatih. Ia berlari menuju mobilnya dan memutar arah. Marah dan malu tengah merambati hatinya.

            Berhari-hari Shifa mengurung diri di kamar. Ia menutup-nutupi kesedihannya. Nafsu makannya lenyap tanpa harus ia kendalikan susah payah.
            “Shifa, ada tamu. Dia bilang namanya Fadil,” tiba-tiba mamanya masuk kamar dan memberitahukan kedatangan seseorang yang dibencinya.
            “Ada perlu apa ke sini?” tanya Shifa ketus.
            Gue ke sini mau minta maaf. Hari itu gue lihat sekilas lu udah di mobil di tempat parkir.”
            Shifa terkejut. Ia menangkap kegelisahan dalam nada bicara Fadil.
            Gue juga ingin meluruskan sesuatu. Sebenarnya gue menaruh hati sama lu. Tapi niat gue terhalang keinginan egois Fatih. Hari ini gue punya nyali untuk datang ke sini.”
            Belum lepas kekagetan Shifa, ia dikejutkan lagi oleh pernyataan lain.
            Gue serius, Shifa. Jika lu mau, gue siap mengenalkan lu ke keluarga, sebagai bukti kesungguhan ucapan gue.
            Shifa hendak angkat bicara, ketika terdengar bunyi bel. Ia berdiri menengok tamu yang datang. Betapa terkejutnya ia saat mendapati Fatih dan Dipta sedang berdiri di balik pintu dengan wajah tak sabar.
            Kejutan apalagi ini? Apa mereka sedang mengujinya? Apa mereka ingin serentak mengajukan diri? Lalu siapa yang harus Shifa pilih?

            Sebuah kamar bercat dinding serba putih yang lengang. Seorang gadis duduk dengan selimut dan baju rumah sakit membalut tubuhnya.
            “Shifa, ayo dong sedikit lagi makannya.”
            “Sudah kenyang, Ma. Shifa ingin berbaring sebentar.”
            “Baiklah, tidurlah saja kalau begitu.”
            Beberapa menit kemudian seorang dokter dan perawat masuk. Mereka melakukan pemeriksaan dan menanyakan beberapa hal pada Shifa.
            “Kondisi Anda sudah jauh lebih baik. Jika kondisi ini stabil, lusa Anda boleh pulang.”
            Shifa dan mamanya tersenyum lega. Seminggu lebih sudah Shifa dirawat, thypus menyerang tubuhnya. Ia rindu dengan kamarnya, ia rindu dengan suara gaduh kedua adiknya. Terlebih lagi, Shifa rindu masakan sang mama.

            “Shifa, ikut yuk ke seminar ini!” ajakan seorang teman kantor, Yuni, mengalihkan perhatian Shifa dari layar komputer.
            “Seminar tentang apa, kapan?”
            “Seminar bertema jodoh impian. Pelaksanaannya kurang dari sebulan lagi. Ini posternya,” Yuni menjawab lalu memperlihatkan poster dari sebuah tweet.
           
            Hari Sabtu itu Shifa tampil berbeda. Berulang kali ia mematut diri di depan cermin besar, namun kepercayaan dirinya masih di titik terkecil.
            “Sudah cantik, Kak. Gue aja pangling lihat lu. Elegan, jauh dari kesan jilbaber baru,” puji Syla meyakinkan kakaknya.
            “Shifa, temanmu sudah menunggu di ruang tamu.”
            “Iya Ma, Shifa datang.”
            Hari itu benar-benar menjadi hari baru bagi Shifa. Berkat Yuni, ia mantap untuk berjilbab dan merombak habis tampilannya. Shifa yang dulunya tomboy, telah bermetamorfosis menjadi kupu-kupu anggun.

            Sebulan berlalu dengan cepat. Semua kawan lama Shifa telah mengetahui perubahannya. Ada yang mencibir, tapi tak sedikit pula yang mendukung.
            “Shifa, ada seseorang yang ingin bertemu.”
            “Siapa, Yun?”
            “Aku, Shifa. Kamu nggak sibuk kan?”
            Shifa terperanjat mendapati seorang lelaki tinggi putih, berwajah indo berdiri di hadapannya. Begitu terkejutnya hingga ia tak menyadari bahwa Fadil sedang tersenyum manis padanya.
            “Apa kabar, Shifa? Lama tidak bertemu.”
            “Baik. Iya. Eh, kamu sedang apa di sini?” Shifa gugup, tiba-tiba jantungnya berdetak amat kencang.
            “Sedang ada urusan di sekitar sini saja, jadi sekalian mampir. Kalau boleh, sepulang kerja nanti, aku ingin main ke rumahmu.”
            “Apa? Eh, boleh saja,” Shifa tergagap. Dia tak bisa menutupi kegugupannya, terutama ketika mendengar kunjungan ke rumah.

            Rencana Allah memang tak bisa diprediksi. Shifa dan Fadil kembali dipertemukan dalam suasana yang berbeda. Waktu telah mengobati luka, membukakan kesempatan kedua. Tiga bulan setelah pertemuan kembali sore itu, Shifa dan Fadil mengikat janji setia di hadapan Allah dan keluarga tercinta.

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube