Kamis, 24 April 2014

[Flash True Story] Diary Sang Zombigaret

Posted by Melani Ivi | 10:32:00 PM Categories:


Menghitung Mundur*
(Diary Sang Zombigaret)

            Namaku Kisno. Orang-orang menjulukiku Zombi. Julukan itu adalah sarkasme atas hidupku yang laksana mayat hidup. Mayat hidup yang menghitung mundur bom waktu yang nantinya meledak dan tiada menyisakan apapun, kecuali nama.

            Menjelang separuh abad lebih umurku ini, penyakit-penyakit serius menghinggapiku tiada ampun. Dulu aku lelaki gagah dan cerdas. Meskipun aku tergolong siswa nakal semasa di sekolah, otakku tetaplah encer. Kala sekolah menengah, aku bergaul dengan kawan-kawan berpengaruh buruk. Kami mulai mengenal rokok dan menghisapnya sembunyi-sembunyi di warung dekat sekolah. Aku juga lelaki yang gemar berjudi. Main kartu atau bertaruh dalam adu ayam adalah kesenanganku. Selain itu, segelas besar kopi hitam kental merupakan sobat pendamping batangan-batangan rokok filterku. Setamat sekolah menengah, aku bekerja sebagai sopir truk. Angin malam yang dingin, kujadikan dalih dan pembenaran atas kebiasaan merokokku. Sesekali bahkan aku sempat menenggak minuman keras. Ah, kalian tahulah, kehidupan jalanan membuat orang-orang seperti kami ini sulit berpaling dari godaan-godaan duniawi. Masih beruntung aku sempat mencicipi manisnya kehidupan berumah tangga. 

            Kehidupan rumah tanggaku tak pernah sempurna. Batangan-batangan rokok yang kubakar setiap hari—hingga tak terhitung lagi jumlahnya—menjadikanku pria dengan peluang menghasilkan keturunan yang nyaris nol. Apalagi istriku juga bukan wanita yang subur. Alhasil, hingga usia perkawinan yang jelang tiga puluh tahun ini, kami tak jua dikaruniai anak. Aku dan istriku hanya sanggup memandang iri sanak saudara yang kerap memamerkan  kelincahan dan kepintaran anak-anaknya. Acapkali aku mengajak anak-anak mereka bermain sejenak. Secara ekonomi, rumah tanggaku tak bisa dibilang mapan. Aku dan istriku menempati sebuah rumah sangat sederhana yang berdiri di atas sepetak tanah milik saudaraku. Ajaibnya, semua ketidaksempurnaan ini tak mampu menggugahku untuk mengubah hidup. Barangkali hatiku telah mati. Ia mati semenjak barang-barang haram itu kuijinkan masuk dalam tubuhku.

            Titik klimaks dari hidupku terjadi beberapa tahun silam. Aku menceraikan istriku. Wanita yang telah kunikahi selama berpuluh tahun itu ternyata mengkhianatiku. Selepas perceraian, malapetaka datang silih berganti. Bermula dari vonis dokter atas penyakitku: kanker paru-paru stadium awal. Badanku mendadak kurus kering. Pengobatan rutin kuperlukan demi memperpanjang umurku. Di saat aku tergolek lemah digerogoti penyakit, hanya adik perempuanku yang bisa kumintai tolong untuk merawatku. Aku sempat dirawat di rumah sakit untuk jangka waktu yang tak bisa dikatakan sebentar. Adikku sebenarnya bukanlah sosok lembut nan baik hati. Pertolongannya padaku tak lebih karena masih memandang hubungan darah di antara kami. Ia dan suaminya tak jarang mengeluh dan bersikap kasar padaku. Terkadang aku pasrah jika Tuhan memerintahkan malaikat maut-Nya untuk menjemputku kapanpun. Bukan karena aku percaya diri atas amalanku. Sama sekali bukan. Aku adalah Muslim KTP yang selalu alpa sholat lima waktu dan puasa. Aku laksana pungguk merindukan bulan; pendosa yang memimpikan surga. 

 
            Penyakitku ini tak mungkin sembuh total. Ibarat organ tubuh yang telah cacat permanen, dia mustahil normal seperti sediakala. Yang bisa kulakukan hanyalah menghentikan kebiasaan merokokku dan hidup lebih sehat. Syukurlah, benih kesadaran akibat himpitan keadaan telah tumbuh dalam diriku. Rokok telah kujauhkan dari jangkauanku. Kopi kukurangi porsi seduhannya setiap hari. Lagipula, aku cukup kere untuk sanggup membeli barang-barang tersebut. Hidupku sekarang kembang-kempis. Meski demikian, kala kesehatanku telah membaik, aku tetap berikhtiar mengais rejeki. Usaha apapun kujalani, senyampang itu bisa menghasilkan lembar-lembar rupiah. Terkadang penyakitku kambuh dan aku harus menjalani perawatan kembali. Itu menjadi saat-saat menyedihkan dan memalukan. Memalukan karena aku kembali mengemis belas kasihan saudaraku.

            Kisah ini bukan kisah inspiratif apalagi romantis. Kisah ini adalah kisah nyata pahit yang dilarang untuk ditiru. Siapapun kalian yang membaca kisah ini, ambillah hikmahnya. Buang dan jauhilah bagian buruknya. Jangan bunuh diri kalian dengan rokok dan kawan-kawannya. Tuhan menciptakan kita untuk menjadi makhluk berguna dan untuk beribadah kepada-Nya; bukan untuk menjadi zombigaret. Insaflah sebelum terlambat.





*Tulisan ini diikutsertakan dalam event menulis “Diary Sang Zombigaret” yang diadakan oleh @zombigaret
Penulis : Aii Vitri ( @aii_vitri)



Reaksi:

3 komentar:

  1. Orang yang tidk mrokok saja bisa terkena penyakit kanker paru2 ya, apalagi yang doyan merkok, subhanallah! sukses GA nya ya!

    BalasHapus
  2. yap, semoga terus bertambah kesadaran akan ruginya merokok. terima kasih :)

    BalasHapus

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube